Ini dia chapter 2!!! Silahkan baca! Duh ni fanfic buatnya susah juga ya??? Ya udah deh, langsung aja


Chapter 2: Tears of Despair

"Kamu lebih baik pergi saja dari rumah ini!"

"Kamu itu yang seharusnya pergi!"

"Kamu itu tak pernah bersikap seperti selayaknya seorang ibu!"

"Coba lihat dirimu sendiri! Apakah kau pikir kau pantas menyandang status 'ayah'?!"

Sebuah pertengkaran memenuhi seluruh pelosok rumah, menciptakan suasana tegang dan tak nyaman. Kedua orang tua yang tengah berkelahi, pemandangan itu sama sekali tak asing di rumah ini. Rumah yang besar yang seharusnya ditinggali dengan perasaan nyaman hanya menciptakan perasaan tidak enakk setiap harinya.

"Ibu, ayah, aku berangkat dulu," kata Shikamaru menatap kedua orangtuanya yang sedang bertengkar dari luar ruang keluarga. Shikamaru pun pergi ketika sadar orangtuanya tak akan merespon kata-katanya. Atau mungkin saja orang tuanya tak sadar kalau ia berada di sana. Atau mungkin pada dasarnya orang tuanya tak peduli padanya.

Setelah keluar dari rumah Shikamaru mendesah. Orang tuanya selalu bertengkar seperti itu, entah untuk berapa tahun lamanya. Yang menempati rumah itu pun sebenarnya hanya Shikamaru seorang, orang tuanya hanya terkadang datang dan jarang sekali pulang. Dan bila mereka sudah bertemu, selalu akan jadi seperti itu. Shikamaru seharusnya sudah terbiasa dengan semua itu, tapi ia tidak bisa. Ia tak bisa membohongi dirinya sendiri kalau melihat kedua orang tuanya seperti itu membuat hatinya terasa sakit.

Shikamaru mendesah lagi, ia berusaha mengusir pikiran aneh yang hinggap di kepalanya. Ia pun melangkahkan kakinya menuju sekolah. Meskipun ia sama sekali tidak memiliki niat untuk sekolah namun sesekali Shikamaru harus pergi ke sana. Mungkin, setelah ia sampai di sekolah ia akan dimarahi guru karena terus-menerus bolos, tak pernah mengumpulkan tugas, selalu tidur pada jam pelajaran dan tak pernah ikut ujian. Ia seharusnya sudah dikeluarkan dari sekolah, namun entah bagaimana caranya ayahnya selalu berhasil membuat Shikamaru tidak dikeluarkan dari sekolah.

Dan, itulah yang terjadi saat ini. Meski dimarahi habis-hasbisan oleh kepala sekolah serta wali kelas, mereka berdua sama sekali tak menyebut soal Shikamaru akan dikeluarkan dari sekolah. Shikamaru yang sama sekali tidak mendengarkan ceramah mereka pun kadang bingung, apa yang sudah diperbuat ayahnya sampai Shikamaru tak pernah terancam untuk dikeluarkan dari sekolah?

Setelah puas menceramahi Shikamaru dan memberikan tugas luar biasa banyak, Shikamaru disuruh untuk kembali ke kelas. Tentu ia tidak kembali ke kelas, ia hanya mampir sebentar mengambil tasnya dan kabur dari sekolah. Dengan otak jeniusnya, mengelabui guru yang sedang belajar dan menghindar dari penjaga sekolah bukanlah suatu hal yang sulit.

Tak butuh waktu lama sampai Shikamaru sudah berada kembali di bukit yang sepi. "Bukit Kenangan" begitu gadis berkuncir empat aneh itu menamainya.

Shikamaru sedikit terkejut mendapati sang gadis aneh yang baru ia kenal kemarin sudah kembali berada di tempat yang sama dengan kemarin. Ia menatap pemandangan dengan handy cam merekam apa yang ia lihat. Pemandangan kota Konoha. Shikamaru tidak berjalan mendekat, ia hanya ikut mengikuti arah pandangan Temari. Menatap pemandangan kota yang damai dan tentram.

Bukit ini memang termasuk dataran tinggi, karena itu seluruh pemandangan kota terlihat jelas di sini. Konoha memiliki arsitektur yang sangat aneh. Meskipun ini di Jepang namun bangunan-bangunan Konoha terkesan seperti bangunan Eropa abad pertengahan. Jalan trotoar sepi yang diterangi lampu jalan yang terkesan kuno. Kota ini jadi terkesan seperti kota tua. Banyak jalanan sepi dibandingkan dengan jalan raya. Warganya pun lebih senang berpergian dengan berjalan kaki atau naik sepeda sehingga kota ini memiliki udara yang bersih.

Meskipun disebut kota, namun Konoha ini lebih pantas disebut desa. Meski indah, namun ada juga bagian tidak bagusnya. Dulu kota Konoha terkena gempa yang sangat parah sehingga di beberapa sudut kota masih terdapat puing-puing reruntuhan kota yang hancur. Sampai sekarang puing-puing itu tetap ada, seakan terisisa di sana untuk mengingatkan akan tragedy yang pernah menerpa kota yang damai ini.

Shikamaru menggelengkan kepalanya pelan, entah kenapa kepalanya jadi berpikiran melantur. Ia kembali menatap Temari yang tampaknya masih belum sadar akan kedatangannya.

Shikamaru melangkahkan kaki, mendekati sang gadis yang masih tenggelam dalam lamunannya. Saat hanya berjarak beberapa meter darinya, Temari akhirnya menoleh. Yang membuat Shikamaru sedikit terkejut adalah reaksi Temari yang tampaknya agak kelewat kaget bertemu dengannya.

Ekspresi takut, kaget dan bingung segera muncul di wajah Temari. Hal itu sempat membuat Shikamaru terpaku sejenak. Reaksi Temari agak ganjil baginya.

Namun, selang beberapa detik kemudian ekspresi lega dan senang menghapus semua ekspresi tegang tadi dari wajah sang gadis. Senyumnya kembali terpulas apik di mulutnya. Shikamaru kembali terpaku, sedikit heran betapa cepatnya suasana hati sang gadis berubah.

"Kamu....Shikamaru-kun ya?" tanya Temari, masih tersisa sedikit nada keraguan di sana.

Tanpa sadar, Shikamaru mengangguk polos, masih terkejut dengan reaksi Temari barusan. Betapa anehnya reaksi Temari, seakan ia telah lupa akan perkenalan mereka kemarin.

Shikamaru mengusir pikiran aneh itu dari kepalanya, ia pun kembali duduk di sebelah Temari. Temari masih tersenyum-senyum sendiri. Bibirnya yang tipis membentuk setengah lingkaran, pipinya sedikit merona dan matanya polos dan bening. Shikamaru mengalihkan perhatiannya pada awan, berusaha mengacuhkan pesona Temari yang sedikit memikatnya.

"Kau datang."

Shikamaru menoleh, sedikit kaget dengan perkataan Temari yang tiba-tiba. 'Datang?'

"Kita bertemu lagi hari ini," tambah Temari masih terlihat senang. Shikamaru kembali mengangguk bodoh.

Dalam benak Shikamaru, ia tidak bisa bilang kalau ia tidak heran dengan reaksi Temari yang agak aneh. Rasa senang ketika hanya melihatnya dan juga rasa kaget pada awal bertemu dengannya. Semua ekspresi berlalu begitu cepat di wajah Temari, meninggalkan kesan tersendiri untuk Shikamaru.

"Kau datang cepat," kata Shikamaru, mencoba untuk membuka topic baru. Meski ia tidak terlalu suka bicara, namun ia juga tak suka dengan keheningan yang menyelimuti mereka berdua.

"Karena aku tidak punya pekerjaan lain yang harus dilakukan," kata Temari kembali menampilkan senyum namun tak bisa menutupi sinar kesedihan yang memancar dari matanya.

Shikamaru memandangi Temari dengan tatapan menyelidik. Kalau ia tidak salah, seharusnya Temari usianya tidak berbeda jauh dengannya. Setidaknya seharusnya ia masih sekolah. 'Itu artinya ia tidak sekolah?' pikirnya sadar.

"Oh, begitu," akhirnya Shikamaru merespon setelah memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh. Ia tidak ingin ikut campur tangan dalam masalah orang lain.

"Kamu sendiri, datangnya selalu cepat," kata Temari, ia menaruh handy camnya yang masih menyala di rerumputan.

"Ya, aku bolos sekolah," jawab Shikamaru kemudian merebahkan dirinya di tanah. Matanya menatap malas awan yang bergerak perlahan.

"Bolos?" tanya Temari bingung. Shikamaru mendengus.

"Kenapa?" tanya Temari lagi. Shikamaru mendesah. "Karena aku tidak punya motivasi untuk sekolah," jawab Shikamaru sedikit merasa terganggu.

"Kenapa tidak punya motivasi?" tanya Temari lagi.

"Karena menurutku, aku masuk sekolah pun percuma, paling aku hanya tidur sepanjang jam pelajaran," jawab Shikamaru dengan nada cuek.

"Tapi, kau bisa mendapatkan kenangan yang berbeda," kata Temari. Shikamaru melirik gadis itu, merasa heran dengan kata-katanya yang aneh.

"Kenangan?"

"Ya, kalau di sini, kau hanya mendapatkan kenangan mengobrol denganku dan melihat awan saja. Tapi, kalau di sekolah, kau bisa mengobrol dengan teman-temanmu atau bahkan dimarahi guru, kadang juga mendapat tugas yang merepotkan namun semua kenangan itu sangat menyenangkan," terang Temari.

"Kalau aku tidur sepanjang waktu, aku tak akan mendapat kenangan apapun mengenai semua itu," balas Shikamaru. Ia melihat Temari sedikit kecewa. "Iya ya, benar juga. Maaf," kata Temari.

"Kau tidak perlu minta maaf," balas Shikamaru jadi ikutan merasa bersalah. Namun, ia sedikit sadar. Kenapa rasanya Temari berbeda dengan Temari yang kemarin? Rasanya kemarin ia terlihat lebih ceria dan bebas, namun sekarang berubah menjadi pemalu dan serba salah. Apakah ini hanya perasaannya saja? Apakah Shikamaru hanya terlalu berpikir berlebihan?

Keheningan kembali menerpa mereka berdua. Kini, Temari telah meraih buku catatannya dan kembali menulis sesuatu di sana. Shikamaru yang merasa bosan, mengambil tasnya dan mengeluarkan buku novel.

Ia sebenarnya tidak terlalu suka membaca novel, namun hal ini lebih baik daripada tidak ada kerjaan yang lain. Lagipula, Shikamaru cukup menyukai karya sastra.

"Anu......"

Shikamaru menoleh dan melihat mata Temari tertuju pada buku yang berada di tangannya. "Itu novel?" tanya Temari. Shikamaru mengangguk.

"Kau suka membaca?" tanya Temari. Shikamaru mengangguk malas.

"Aku juga," kata Temari. Shikamaru melirik buku catatan milik Temari yang sekarang terbaring di pangkuan gadis itu.

"Kau membuat cerita?' tanya Shikamaru, sedikit ingin tahu apa yang tertulis di buku catatan itu. Wajah Temari berubah panik dan menggeleng cepat.

"Tidak, ini hanya catatan kecil saja," jawab Temari.

"Semacam diary?" tanya Shikamaru memastikan. Temari menggeleng.

"Hanya seperti karangan yang membosankan," jawabnya. Shikamaru tidak mengerti namun tidak ingin bertanya lebih dalam.

Shikamaru mulai membaca novel yang baru saja ia beli minggu lalu. Kali ini, suasana sepi menyapu mereka berdua kembali, namun memberikan ketenangan tersendiri. Suara yang terdengar hanyalah bunyi lambaian angin serta gesekan pulpen dengan kertas yang berasal dari Temari.

"Anu....."

Shikamaru mengalihkan perhatiannya ke Temari. Gadis itu terlihat ragu dan sedikit malu. Shikamaru diam, menunggu sampai Temari melanjutkan perkataannya.

"Apakah kita bisa jadi teman?"

Pertanyaan itu segera membekas di benak Shikamaru. Rasa aneh dan ganjil kembali mencuat di kepalanya, namun kali ini diiringi dengan perasaan aneh lainnya yang tak bisa ia jelaskan. Mungkin mirip dengan semacam rasa simpati dan perhatian.

"Hal seperti itu bukanlah sesuatu yang perlu ditanyakan, 'kan?" balas Shikamaru. Reaksi Temari membuatnya sedikit terkejut. Dengan cepat – Shikamaru bahkan tidak menyadarinya – Temari sudah menerjang Shikamaru dan menenggelamkannya dalam sebuah pelukan yang kaku.

"Terima kasih banyak," kata Temari yang menerjemahkan perkataan Shikamaru barusan sebagai "ya".

Shikamaru pun tak bisa memungkiri kalau ia panik. Namun, ia mencoba menenangkan diri. Membiarkan gadis aneh itu memeluk dirinya. Sesuatu dalam diri Temari membuat kesan aneh tersendiri pada diri Shikamaru.

Dan Shikamaru terkejut saat merasa Temari menangis dipelukannya. Dimatanya sekarang rasanya......

Temari terlihat begitu.......

Kesepian.


Udah ya, chapter 2 segitu dulu ^^

Review!!!!

Asal tahu aja, ini fanfic buatnya suuusaaaaahhhh banget, jadi kalau yang mendukungnya sedikit atau pada gak berminat, bisa terancam hiastus