4 hari yang lalu…

"Hah.." Minseok menghela nafasnya entah yang keberapa kalinya untuk hari ini. Jam dinding di kamarnya baru saja menunjukkan pukul 10 pagi tapi Minseok sudah merasa bosan.

"Tanggal 16 yaa.." Ucap Minseok dan kembali menghela nafasnya. Jujur ia merasakan kesepian sekarang. Jika kalian memikirkan ia kesepian karena tidak adanya WuFan di sekelilingnya, jelas saja jawabannya Tidak. Ia hanya sedang bosan karena tak ada kegiatan yang bisa ia lakukan selama WuFan berada di China, dan ia cukup pintar untuk tidak keluar rumah karena tak mau berakhir tersesat seperti orang idiot karena belum terlalu hapal jalanan Seoul.

"…..Selama aku tidak ada disini kau harus mempelajari buku itu. Aku ingin saat aku kembali kau sudah mengerti inti cerita dalam buku itu, mengerti?"

Tiba-tiba pesan yang di sampaikan WuFan sebelum berangkat ke China kembali mengema di pikiran Minseok.

"Benar juga!" Minseok langsung menengakkan tubuhnya, mendudukkan tubuhnya di atas kasur.

"Dimana aku menyimpan buku itu?" Minseok menjelajahi setiap sudut kamarnya, mencoba mengingat-ngingat dimana ia menyimpan buku dan album photo itu.

"Ah!" Minseok sedikit mecondongkan tubuhnya kedepan, tangannya kini terlihat sibuk membuka laci meja nakas yang berada di samping tempat tidurnya.

"Baiklah, Kita Mulai.." Dengan perlahan Minseok membuka Buku bersampul hitam itu.


KropiL Present

:: Reincarnation ::

T

(Ingat ini bersetting pada tahun 2114 yaaa)

Typo's

.

.

.

Enjoy


"Min! Minseok!" WuFan terus saja menguncang tubuh Minseok yang masih tetap diam dengan pandangan kosong kearahnya.

"Minseok!"

"WuFan.." Minseok akhirnya mengeluarkan suaranya, matanya yang tadinya menatap kosong WuFan perlahan-lahan kembali menampilkan warna kehidupan.

"Kau kenapa Min-ah.." Ucap WuFan khawatir, kedua tangannya kini menangkup wajah Minseok, mengelus pipi chubby Minseok pelan.

"Kim Minseok.." WuFan mengerutkan alisnya bingung, kenapa Minseok menyebutkan namanya sendiri.

"Apa maksudmu?"

"Kim Minseok, kakek ku.." Ah! WuFan mengerti sekarang.

"Kau membaca buku itu?" Tanyanya hati-hati yang di jawab anggukan lemah Minseok.

"Semuanya?" WuFan kembali bertanya, tapi bukan angukkan lagi yang di dapatnya sebagai jawaban. Melainkan Minseok yang malah menangis di hadapannya.

"Min.." Dan WuFan hanya bisa membawa Minseok ke pelukkannya saat tangisan Minseok semakin menjadi.

.

.

.

.

.

WuFan mengerut pelipisnya pelan, kepalanya terasa mau meledak di karenakan ketidak siapan otak minimalisnya menerima semua informasi yang baru saja di dapatnya. Perlahan ia tolehkan kepalanya kearah Minseok yang terlihat damai dengan alam mimpinya.

"Pantas saja kau terlihat sangat kacau min.." Ucap WuFan pelan saat ia telah mendudukkan dirinya di pinggiran kasur tempat Minseok tidur.

"Aku berjanji akan membantumu Min-ah.. Pasti!" WuFan mengecup pelan dahi Minseok, membelai pipi Chuby Minseok dan menatap sedih kantung mata Minseok yang menghitam.

:: Reincarnation ::

3 hari kemudian..

WuFan menghela nafasnya lelah. "Min.." Panggilnya lagi.

"Apa kau yakin?" WuFan memandang tak yakin Minseok yang kini duduk di sebuah kursi salon di depannya.

"Aku yakin WuFan jangan tanyakan lagi oke" Jawab Minseok mantap.

"Tapi.." WuFan mengantungkan ucapannya, matanya kini melihat stylist rambutnya yang terlihat tak yakin dengan peralatan yang sedang di pengannya.

"Kita sudah sepakat dengan ini WuFan.." Minseok memutar bola matanya malas.

"Itu bahan pewarna Minseok, rambutmu akan rusak"

"Aku tidak peduli"

"Kau pasti akan selalu menjadi pusat perhatian karena rambutmu"

"Bukankah itu bagus? Aku menjadi terkenal"

"Kau akan terlihat aneh"

"WuFan!" Minseok menjerit, kesabaran seseorang ada batasnya juga kan.

"Mian.." Cicit WuFan pada akhirnya. Matanya kini menatap sang Hair Stylist yang terlihat mematung di tempatnya dengan tampang bodoh melihat perdebatan kecil antara dirinya dan Minseok tadi.

"Lakukan saja MinKyoung.." Perintahnya yang langsung membuat MinKyoung alias Hair Stylistnya berjalan mendekati Minseok yang memang sendri tadi sudah duduk menunggunya.

.

.

.

"Bagaimana?" Tanya Minseok pada WuFan yang masih mencoba membiasakan matanya untuk menatap Minseok dan rambut barunya.

"Bagus" WuFan menunjukkan ibu jarinya pada Minseok, bibirnya membentuk sebuah senyuman. Tapi senyuman itu langsung berubah menjadi ringisan kecil ketika Minseok berbalik membelakanginya.

"Ini cocok untukku, tapi jangan seperti ini" Minseok mengacak asal rambut barunya, membuat poni yang sudah ditata susah payah oleh MinKyoung kembali jatuh menutupi dahinya.

"Style tadi membuat dahiku tampak lebar" Ucapnya pelan.

"Kalau begini bagaimana?" Minseok kembali menghadap WuFan.

"Ini lebih baik!" WuFan menjawab mantap, di matanya Minseok terlihat jauh lebih imut di banding ketika rambutnya berwarna hitam.

Ya, Minseok mewarnai rambutnya. Rambut hitam khas orang Asia kini sudah tak menghiasi kepala Minseok, melainkan surai Soft pink yang kini mengantikan rambut hitamnya. WuFan bukannya tidak setuju ketika Minseok ingin menganti warna rambutnya, tapi ia hanya takut jika suatu saat nanti minseok menyesali keputusannya.

Di tahun 2114 orang-orang lebih menghargai apa yang Tuhan ciptakan untuk mereka, lebih memilih merawatnya di banding merubahnya. Dan menganti warna rambut merupakan suatu hal yang sudah di tinggalkan selama puluhan tahun yang lalu. Semua orang yang hidup di tahun 2114 yakin jika rambut merupakan ciri dimana ia berasal, rambut hitam dari Asia dan rambut pirang dari benua Eropa. WuFan sendiri mempunyai rambut pirang karena ini memang asli rambutnya sejak ia lahir, ibunya berdarah Eropa, dan sepertinya itu cukup berpengahruh besar baginya.

"Min.. Ayo kita pulang" WuFan menarik tangan Minseok, membawa si pemilik rambut Pink itu untuk berjalan lebih cepat.

"Lihat Min-ah, mereka memperhatikan mu" Ucap WuFan saat ia menyadari jika dirinya dan Minseok tengah menjadi pusat perhatian orang-orang yang sedang berada di Salon.

"Aku tidak peduli" Ucap Minseok dan malah berjalan lebih cepat untuk mendahului WuFan.

"Ya Minseok tunggu dulu!"

.

.

.

:: Reincarnation ::

Jangan membayangkan jika pada tahun 2114 ituh banyak teknologi cangih. Seperti robot yang bisa berbicara dan berprilaku seperti manusia, mobil yang bisa terbang ataupun kapsul yang jika di tetesi air akan berubah menjadi makanan. Nyatanya di tahun 2114 semuanya terlihat normal, teknologi memang berkembang dengan pesat, tapi semua itu sangat di batasi pemakaiannya oleh pemerintah. Cukup Jepang yang mengalami kehancuran akibat Teknologi yang di ciptakannya sendiri, Dunia bahkan sudah mencatat kehancuran Jepang karena Teknologi sebagai peristiwa kelam yang sangat harus di hindari.

Negara yang di anggap Maju dan hebat di tahun 2114 itu adalah Negara yang melestarikan kebudayaannya, memelihara wawarisan leluhur mereka dengan baik. Maka dari itu pula lah setiap Negara pada abad ini terus melestarikan Kebudayaan masing-masing, mencintai Budaya negri sendiri adalah hal yang wajib dilakukan di banding mengagung-agungkan Kebudayaan Negara lain.

:: Reincarnation ::

.

.

.

"Min.." WuFan menusuk pipi Chuby Minseok dengan telunjuknya.

"Berhenti mengangguku WuFan!" Ucap Minseok kesal. Pasalnya selama lebih dari 20 menit ini WuFan terus menusuk-nusuk pipinya.

"Habisnya kau lucu sih jika sedang serius" Ucap WuFan.

Bugh!

"Aw! Kenapa kau memukulku?"

"Berhenti bercanda!"

"Baiklah.." Ucap WuFan pada akhirnya dan memilih menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Sedikit info saja, mereka sedang berada di ruag tengah Mansion Kim.

"Bagaimana jika kita mulai dari Suho.." Ucap Minseok dengan tangan yang masih sibuk membuka buku hitamnya.

"Tidak, Suho sedang berada di Jepang untuk beberapa minggu ke depan" Minseok menganggukkan kepalanya mengerti.

"Baiklah, bagaimana jika Tao.." Minseok tersenyum lebar pada WuFan.

"Sekali lagi tidak" WuFan mengelengkan kepalanya mantap.

"Lalu kita harus memulainya dari mana?" Minseok menatap WuFan bingung, pasalnya untuk saat ini hanya Suho dan Tao lah yang menjadi titik terang mereka, sedang kan ke delapan sosok lainnya itu masih Blank.

"Kau ingin Tao ketakutan dan menganggap kita gila karena menceritakan hal ini padanya?" Ucap WuFan yang mau tak mau di benarkan Minseok.

Tao itu memiliki sebuah Imanjinasi berlebihan tentang sesuatu hal berbau Magic ataupun Mistis. Pernah suatu hari ia bercerita jika ia mandi seorang diri akan ada sesosok wanita berambut panjang yang menatapnya tajam di pojok kamar mandi, karena alasan itulah ia tak pernah mau mandi seorang diri. Berlebihan memang, tapi Tao memang seperti itu. Minseok sedikit menyesali antusiasnya kemarin saat ia menyadari jika Tao ada dari kesembilan orang yang tak di kenalnya pada Photo di album itu. (Liat di chp 1, nama Tao udah disebutkan. Berarti pada jaman ini juga Minseok udah kenal sama Tao)

"Lalu kita harus bagaimana?" Minseok menutup Buku hitam itu, dan sekarang ikut mengikuti jejak WuFan dengan menyadarkan punggungnya pada Sofa.

"Min-ah sepertinya aku memikirkan sesuatu"

"Apa itu?"

"Kita seharusnya tak perlu memberitahukan ini pada Tao ataupun Suho, cukup kita saja yang tahu akan hal ini"

"Bagaimana bisa?! Kita membutuhkan mereka WuFan, mungkin mereka tahu salah satu dari mereka berdelapan" Ucap Minseok tak terima.

"Minseok apa kau tak menyadarinya.."

"Apa maksudmu?"

"Ini takdir kita Minseok, takdir yang menunjuk kita untuk mengetahui ini. Suho dan Tao adalah sedikit petunjuk untuk menyadarkan kita jika mereka ada di sekeliling kita"

"Di sekeliling kita? Kau lupa jika kita sama sekali tak kenal pada delapan orang lainnya"

"Ya memang kita belum mengetahuinya, tapi aku percaya cepat atau lambat takdir itu sendiri yang akan membawa kita kepada mereka" Ucap WuFan yakin.

"Baiklah… Untuk saat ini aku percaya padamu WuFan"

"HYUUUNG~" Tiba-tiba sebuah teriakan terdengar dari arah pintu depan.

"Nugu?" Tanya WuFan pada Minseok.

"Itu Tao WuFan, bocah itu tadi menelepon ku. Katanya ingin berkunjung kemari"

"Oh.." Ucap WuFan dan langsung melangkahkan kakinya untuk kearah pintu depan.

.

.

.

.

1 Jam kemudian…

Tao mengerucutkan bibirnya, kedua tangannya ia lipatkan di depan dadanya.

"Minseok Hyung!"

"Nde Tao, Waeyo?"

"Kenapa hyung mengacuhkan ku? Apa buku jelek itu lebih menarik dibandingkan aku?" Minseok memutar bola matanya malas, tangannya yang sendari tadi sibuk membuka buku bersampul hitam itu kini bergerak untuk menutupnya.

"Ne, buku ini jauh lebih menarik di banding dirimu Tao.." Ucap Minseok yang langsung mendapatkan protesan tak terima dari Tao.

"Hyung jahat! Hyung tak menyayangi Tao lagi" Tao menghentakkan kakinya, kembali bertingkah Aegyo meskipun sudah berapa kali Minseok dan WuFan mengatakan jika ia tak cocok melakukannya.

"Ada apa ini?" WuFan yang baru saja datang dari kamarnya langsung mengernyitkan dahitnya bingung melihat tingkah Tao.

"Ada apa dengan Tao, Minseok?" Tanya Kris yang di jawab gesture tak peduli dari Minseok.

"Tao kau kenapa?" WuFan Beralih bertanya pada Tao yang masih saja melakukan Aegyonya.

"Minseok hyung jahat, WuFan hyung. Minseok sudah tak menyayangi Tao lagi, ia lebih memilih buku jelek itu daripada Tao" Dan WuFan hanya memutar bola matanya malas.

"Minseok nanti malam temani aku ya" Ucap WuFan dan lebih memilih mengabaikan Tao yang kini menatap sebal kearahnya.

"Nanti malam? Untuk apa?"

"Ada acara di Agensi baruku, bagaimana? Kau ikut ya"

"Bukankah Tao satu Agensi denganmu? Pergi saja dengan Tao"

"Tidak mau, Aku tidak mau di repotkan olehnya" Ucap WuFan santai.

"YA! WuFan hyung kau menyebalkan! Dan kau Minseok hyung, aku marah padamu!" Teriak Tao sebelum pergi meninggalkan Mansion Kim.

"Apa katanya? Marah?" WuFan menaikkan sebelah alisnya.

"Ah paling sebentar lagi Tao akan menelepon dan bertanya kenapa kita membiarkannya pergi. Dan ujung-ujungnya, bocah itu minta di antarkan pulang" Ucap Minseok acuh.

.

.

.

:: Reincarnation ::

At L-Entertainment, 21.00

Minseok sedikit merapikan kemeja Baby Blue yang sedang di pakainya, sedikit mengacak surai pink-nya dan sempurna.

"Bagaimana?" Minseok tersenyum pada WuFan yang sendari tadi terus memperhatikan tingkahnya.

"Kau cantik" Ucap WuFan dan langsung keluar dari mobilnya setelah menepuk pipi chubby Minseok dengan kedua tanganya.

"Mati kau Wu Yi Fan.." Minseok mendesis, ia jadi menyesal mau membantu WuFan jika pada akhirnya ia menerima penghinaan. Oh ayolah.. Namja mana di dunia ini yang suka di bilang cantik.

"Ya Minseok, sampai kapan kau akan berada di dalam mobil?" WuFan yang sudah berada di luar mengetuk jendela mobil yang berada di sebelah Minseok.

"Pergi saja duluan! Aku malas berjalan berdampingan dengan tiang listrik sepertimu" Ucap Minseok kesal.

"Kau marah Min-ah?"

"Tidak! Cepat pergi sana, aku akan segera menyusulmu"

"Ya ya ya, tapi jangan salahkan jika nanti kau tersesat" Minseok langsung mendelik kearah WuFan. Apa WuFan berpikir ia bodoh? Lalu apa gunanya Receptionist.

.

.

.

"Aku berjanji akan membakar semua koleksi pandamu Tao.." Minseok tersenyum dengan lebar, melihat wajah Tao yang menderita ketika ia membakar semua koleksi pandanya itu pasti akan menjadi hal yang sangat menyenangkan.

"Tapi aku harus kemana?" Minseok menghentikan langkahnya, imajinasi liarnya langsung buyar seketika ketika ia berhadapan dengan sebuah lift.

"Kau bodoh Kim Minseok, kenapa kau tak menanyakan lantai berapa pesta itu di adakan pada WuFan. Idiot!" Minseok menepuk dahinya keras, meruntukki kebodohonnya sendiri.

"Kenapa di gedung sebesar ini tak ada Receptionist? Apa Suho tak mampu membayar pengawai? Ah mana mungkin" Minseok malah sibuk berbicara sendiri di depan lift.

"Tapi ini juga gara-gara Tao!" Minseok menganggukan kepalanya yakin.

Minseok yakin jika saja Tao tidak melanjutkan aksi marahnya mungkin ia kini sudah berada di tempat yang seharusnya (Read: Pesta Agensi baru WuFan). Pasalnya tadi Minseok bertemu dengan Tao di Parkiran, tapi si Panda kurang ajar itu malah berjalan lurus melewatinya seolah-olah ia sosok yang tembus pandang. Meneruskan aksi marahnya dan melupakan kelakuannya tadi sore yang terus memohon untuk di antarkan pulang.

"Awas saja kau Zi Tao.."

:: Reincarnation ::

20 menit kemudian…

Ting!

Pintu lift perlahan terbuka, menampilkan sosok WuFan yang langsung berlari kecil ketika iris coklatnya menatap Minseok yang tengah duduk tak jauh di sebuah sofa di depan Lift.

"Min-ah, kenapa kau malah duduk di sini?" WuFan berdiri di hadapan Minseok yang sedang melipatkan tangannya di depan dada dengan kaki kirinya yang menompang kaki kananya.

"Tao tadi memberitahuku jika ia tadi bertemu denganmu di Parkiran, tapi kenapa kau tak juga datang? Sedangkan Tao sudah disana" Lanjut WuFan ketika Minseok tak merespon pertanyaannta tadi.

"Mana Tao?" Tanya Minseok tanpa menjawab pertanyaan WuFan.

"Ne?"

"Mana si Panda itu?" Ulang Minseok.

"Em…" WuFan tak menjawab, tapi matanya melirik pintu lift yang masih terbuka di depan sana.

Minseok tersenyum, ia langsung menegakkan tubuhnya dan berjalan dengan cepat kearah pintu lift yang masih saja terbuka.

"Hai Zi Tao" Ucap Minseok dengan sebuah senyuman ramah di wajahnya saat irisnya telah menemukan Tao yang tengah berdiri di sudut lift.

"Ha-hai Hyung.." Ringis Tao, ia sangat kenal Minseok, dan senyuman ramah berarti malapetaka.

Bugh!

"Aaaa~ Mian hyung.." Tao langsung berlutut di depan Minseok, meminta ampun pada hyung imut sekaligus mengerikannya ini. Pantatnya yang baru saja menerima tendangan dari Minseok mulai terasa nyut-nyutan(?).

"Kenapa kau pura-pura tak melihatku tadi Zi Tao? Apa matamu bermasalah hem?"

"Anni! Huwaa~ hyung maafkan aku" Tao mulai memasang wajah teraniyayanya, menghiraukan WuFan yang terlihat sibuk menahan tawanya di ambang pintu lift.

Pletak!

"Hyung~" Tao mengoyangkan tangan Minseok, pemandangan ini seperti seorang anak yang memohon pada ibunya agar tak di telantarkan di stasiun kereta.

"Ah Mian.."

Sebuah suara lembut yang berasal dari arah belakang WuFan otomatis membuat Tao yang tadinya berlutut langsung berdiri di samping Minseok dengan tangan yang masih memegang tangan Minseok. Sedangkan WuFan langsung mengeser tubuhnya untuk membiarkan pemilik suara itu untuk masuk kedalam lift.

"Apa aku menganggu?" Tanya sang pemilik suara yang ternyata seorang yeoja cantik bertubuh mungil.

"Ah Tidak, maaf karena menghalangi jalan Anda tadi.." WuFan menundukkan tubuhnya kikuk.

"Tidak apa-apa. Anda Yi Fan bukan? Saya Sandara, salah satu artis L-Entertainmen juga" Yeoja berwajah Baby face itu mengulurkan tangannya.

"Senang bertemu dengan anda Sandara.." WuFan tersenyum setelah tangannya membalas uluran tangan Sandara.

"Ya senang bisa bertemu dengan Aktor terkenal sepertimu.." Sandara tersenyum kepada WuFan yang juga ikut tersenyum mendengar pujian Sandara yang tertuju padanya.

"Ah, ada Tao juga rupanya.." Sandara lagi-lagi tersenyum, tapi sedetik kemudian matanya menatap bingung Tao yang sedang meringis dengan wajah kesakitannya.

"Gwenchana?" Tanya Sandara khawatir.

"A-ah.. Aku baik-baik saja Noona.." Ucap Tao sambil menunjukkan senyumnya, mencoba menyembunyikan aksi penganiyayaan yang tengah di lakukan Minseok di pinggangnya.

"Tapi.."

"NOONA!" Teriak seseorang memotong ucapan Sandara.

"Aish.." Sandara menghela nafasnya, mata cantiknya kini menatap seseorang yang baru saja memanggilnya dengan pandangan menyelidik.

"Kau mengikuti Noona lagi?" Tanya yang langsung mendapatkan cengiran lebar dari sosok yang kini berdiri di sebelahnya.

"Aku bosan di rumah Noona, Sangie hyung selalu mengusirku.." Ucap namja bertubuh tinggi itu dengan nada yang dibuat memelas.

"Tapi kau bisa bilang pada Noona jika ingin ikutkan Yeolli, tak usah diam-diam begini. Sekarang katakan pada Noona, naik apa kau kesini?"

"Hehehe.."

"Channie.."

"Noona sudah tau jawabannya, jangan membuat aku malu di depan teman-teman Noona.." Namja bertubuh tinggi yang di panggil Channie itu mengurutu sebal.

"Kau masuk kedalam bagasi mobil Noona lagi?" Tanya Sandar horror.

"Noona! Kau benar-benar membuat karisma ku hancur di depan mereka"

"HAHAHAHA.." Tao tiba-tiba tertawa dengan kerasnya, membuat Minseok yang sendari tadi mencubiti pingangnya dan WuFan yang berdiri di sebelahnya berjengit kaget.

"Lihat Noona! Kau membuat Panda jelek itu mentertawakanku"

"YA! Siapa yang kau maksud dengan panda jelek hah?!"

"Kau. Memangnya siapa lagi.."

"Beraninya kau.." Desis Tao dan mencoba melepaskan tangan WuFan dan Minseok yang entah sejak kapan menahan kedua tangannya.

"Apa? Apa?" Chanyeol malah menunjukkan wajah menyebalkannya.

:: Reincarnation ::

Ting!

Sebuah Lift perlahan terbuka di lantai 37 di gedung L-Entertainment ini, menampilkan 5 orang yang terdiri dari 4 laki-laki dan 1 orang perempuan dengan keadaan yang bisa di bilang cukup kacau.

"Panda jelek!"

"Monster gigi!"

"Kekanakan.."

"Kau bercanda! Kau juah lebih kekanakkan"

"AP-"

"Berhenti! Atau akan ku cingcang kalian berdua" Minseok akhirnya berteriak untuk menengahi aksi adu mulut antara kedua bocah bertubuh kelewat tinggi itu.

"Noona.. hyung imut itu menyeramkan" Adu Chanyeol yang kini bersembunyi di belakang punggung kecil Sandara dengan mata yang memandang takut kearah Minseok yang mencoba bersabar mendengar ucapan Chanyeol.

"Hyung aku tak mau menjadi korban mutilasi.." Kini giliran Tao yang mengadu pada WuFan.

"Sudahlah.." WuFan akhirnya mengeluarkan suaranya. Sebelah tangannya kini menarik Tao yang masih bersembunyi di belakangnya.

"Hentikan sampai disini. Tao minta maaf pada.." WuFan Mengantungkan ucapannya, matanya kini menatap bingung kearah Chanyeol yang masih berdiri di belakang Sandara.

"Chanyeol, namanya Park Chanyeol" Ucap Sandara ketika mengerti arti tatapan WuFan.

"Ah iya Chanyeol, Minta maaf pada Chanyeol Tao.." WuFan mengecilkan suaranya saat menyebutkan nama Tao, matanya tiba-tiba membulat. Sepertinya ia baru mengingat sesuatu. "Min.." Ucapnya dengan sangat pelan, matanya kini menatap Minseok yang juga sedang membulatkan matanya.

"Aku tidak mau!" Ucap Tao tak terima. Sepertinya bocah panda itu tak menyadari situasi.

"Kau yang pertama mentertawakannya Tao, Minta maaflah" – WuFan

"Tapii hyung.." – Tao

"Tidak ada tapi-tapian Zi Tao" – Minseok

"Ah tak apa Tao.." Ucap Sandara menengahi perselisihan antara ketiga namja di depannya.

"Noona kenapa? Biarkan panda jelek itu meminta maaf padaku" Protes Chanyeol.

"Diam. Kau juga sama saja" Desis Sandara.

"Ish" Chanyeol membuang mukanya(?).

"Noona ayoo, kita hampir ketinggalan pestanya" Lanjutnya setelah berjalan mendahului Sandara menuju sebuah pintu tempat L-Entertainment mengadakan pesta.

"Ah maafkan Adik saya" Sandara menundukkan kepalanya, sebelum melangkah pergi menyusul Chanyeol yang sudah tak terlihat lagi.

Setelah kepergian Sandara dan Chanyeol, WuFan dan Minseok saling menatap satu sama lain dengan ekspresi yang tak bisa terjelaskan.

"Ya! Sampai kapan kalian akan diam di dalam Lift!" Teriak Tao di depan sana.

"Katakan sekali lagi Tao.." Ucap WuFan.

"A-apa? Anniyo, Aaaaaa~"

.

.

.

:: Reincarnation ::

Dulu, aku hanya menganggapnya bocah idiot dengan senyuman lebarnya.

Bocah idiot yang hanya tau cara tersenyum..

Tapi sekali lagi itu dulu, dulu sebelum aku betul-betul mengenalnya.

Senyuman itu, senyuma lebar yang kadang terlihat berlebihan itu ternyata hanyalah sebuah topeng sempurna yang selalu ia pakai.

Ia seorang yang hebat, seorang actor hebat yang mampu menipu semua orang.

Ya, Park chanyeol memang hebat.

:: Reincarnation ::

.

.

.

"WuFan.." WuFan langsung menoleh kearah Minseok yang berdiri di sampingnya.

"Kau benar, takdir itu sendiri yang membawa mereka kepada kita" Lanjut Minesok dengan senyuman lebar di wajahnya, mata almondnya kini terus menatap satu objek yang berada lumayan jauh dari tempatnya berada.

.

.

:: TBC ::

Sumpah aku sebenernya gak niat buat publish FF ini karena Mood lagi jelek karena Mama :( kalian taukan tadi Suju M tampi di R*TI dan aku yang bernasib sangat*coret* kurang beruntung yang Cuma bisa nonton di depan Tv T^T

Aku tadi histeris dong liat Kyuhyun di tv, aku nunjuk-nunjuk dia sambil teriak kalau itu pacar aku. Dan tiba-tiba Mama ku dateng, Aku PD dong langsung nunjuk Kyuhyun yang lagi kebagian part buat nyanyi sambil bilang 'Mah itu pacar Nisa' itu sekali, dan Mama gak respon. Aku terus ngulangin itu sampe ketiga kalinya Mama bilang kaya gini 'Gak Usah tinggi-tinggi, cukup cari yang Shaleh aja itu udah cukup' dan itu Jleb moment banget kawan T^T

Kenapa Mama gak ngertiiiiii hiks *usap ingus* iyaa Aku ngerti, aku cuma bisa miliki mereka di dunia fiksi, tapi gak usah di jelasin juga kalii.

Astagfirulloh.. Maafkan anakmu yang cantik ini Mama..

.

Baiklah tolong lupakan curhatan author gak guna ini.

Aku ngucapin makasiiiiihhhh banyak buat kalian yang udah review *Bow* semoga Chap ini gak ngecewain kalian.. dan gak buat kalian bingung kaya FF MTT hehe

Makasih banyak ya Chingudeul~

S Dian Savitri | Xiubaekhan | Xiuhan-Krisyeol | Feyy | Onlyxiuhan | AngAng13 | Ve Amillia | Park Ming | Enchris 727 | Deerbaozi | AquariisBlue | Zikyu | Lumin | SungMINseok | Xhml | Genieaaa | Ega s White | Misyel | Dn | Annkyu | Shinta Lang |SureaLive | Lulu Auren | Fallencia | Kim XiuXiu Hunnie | Frozenxius | Urikaihun | Kim Hyun Soo | El Volsysh | Vharizka