~It's All Because Of You!~

Kuroko no Basket

Pair: AoKaga

Genre : Romance, Hurt / Comfort

Warning:
BL,Yaoi

Disclameir:

Kuroko no Basket milik Tadatoshi Fujimaki-sensei. Saya hanya meminjam tokoh dan alurnya saja.

Summary:

Kagami berulangtahun tanggal 2 Agustus. Semua merayakan dan mengucapkan selamat kepadanya,termasuk Kiseki no Sedai. Namun,ada satu orang yang tak memberikannya ucapan yang membuatnya senang,melainkan rasa kecewa. Apa kalian tahu siapa dia ...?

For Kagami and Aomine Birthday! 2 August and 31 August

#AokagaFF

[Semua ini saya buat langsung terlintas di otak saya. Ini karya saya sendiri, jika ada kesamaan cerita atau yang lain, itu hanya kebetulan belaka]

Chapter 3 ...

20 Juli ...

"Yo! Minnacchi! Ohisahiburi desuuu!" Kise berlari ke arah segerombolan dengan surai berbeda setiap orangnya yang sedang duduk satu meja di Maji Burger.

"Hoiy,Kise. Kau sendiri yang menyuruh kami datang,tapi kau sendiri telat!" Aomine langsung menjitak Kise yang baru saja sampai. "He he, aku tak mau menunggu kalian-ssu! Jadi aku datang sedikit telat-ssu. Tapi,aku cuma telat 5 menit kan!?"

"Tidak,Kise-kun. Kau sudah telat 6 menit."

"Cuma beda 1 menit doang,Kurokocchi! Jangan marah,lha~"

"Kau membuat kami menunggu-nanodayo." Midorima dengan sebuah boneka burung kecil berwarna kuning menaikkan kacamatanya. "Ano,Midorimacchi, kau tampak seperti anak kecil-ssu." Kise menyahut. Midorima meliriknya tajam. "Kau yang seperti anak kecil karena suka menangis dan bersikap manja-nanodayo!"

"Kise-chin telat~ Kraus,kraus ... Traktir aku." Murasakibara berbicara dengan maibou di tangannya. "Ano,Murasakibaracchi. Jangan makan sambil bicara-ssu."

"Ki-chan lama!" Momoi akhirnya bersuara. "Gomenne,Momocchi!" Kise sekali lagi meminta maaf, jika dia meminta maaf sekali lagi,dia sudah bisa menjadi Sakurai dari Touhou Gakuen.

"Kau terlalu lama,Ryouta." Bahkan,sang kapten bersuara! "Maafkan saya,Akashicchi. Saya tak akan mengulanginya lagi." Sembah sujud.

"Untuk apa kau meminta kami berkumpul di sini,Kise? Kau tahu bukan kalau kami masing-masing memiliki banyak pekerjaan. Apalagi kau yang memiliki jadwal sibuk penerbangan." Aomine bersuara menanyakan tujuan Kise.

"Hehehe ... Kita sudah lama tak kumpul-kumpul-ssu! Jadi,setidaknya kita berkumpul bersama sebelum pekerjaan kita semakin menumpuk-ssu!"

"Aku setuju dengan Kise-kun. Berkumpul seperti ini menyenangkan ..." Kuroko menyeruput vanila shakenya.

"Sou deshou! Ne,nee!" Kise tampak bersemangat. Senang karena mereka berkumpul lagi, walau bukan dengan seragam Teiko, namun seragam pekerjaan mereka masing-masing ...

"Tapi,Kise,ngapain kita disini?" Pertanyaan Midorima sukses membuat Kise bungkam. "Sou desu yo,Ki-chan! Kita ngapain?"

Kise terdiam, tak tahu mau menjawab apa. Yang ada dipikirannya hanyalah membawa temannya berkumpul-kumpul. Dia tak berpikir tentang apa yang akan mereka lakukan saat mereka mengobrol nanti.

"Gimana kalau ... berbincang-bincang?"

"Jangan bercanda-nanodayo. Kita sudah berkumpul di sini ..." Perdebatan terjadi di meja makan yang ada di Majiba tersebut. Kuroko tersenyum melihat keributan dari mantan tim SMPnya tersebut. Karena biasanya dia berkumpul dengan tim SMAnya dengan Kagami ...

Tunggu,Kagami?

"Ano,Akashi-kun ..." Kuroko menyapa Akashi. Akashi meliriknya tajam,tanpa mengatakan sepatah kata pun seolah-olah berkata 'Ada apa?'

"Sekarang tanggal berapa?" tanya Kuroko yang mendapat lirikan dari Aomine, Kise dan Midorima yang sedang berdebat.

"Memangnya kenapa,Kuro-chin? Kau ada pekerjaan?"

"Tidak,aku hanya teringat sesuatu ..." Kuroko membalas pertanyaan Murasakibara dengan wajah datar. Akashi melirik Kuroko heran,namun pertanyaan yang dilontarkannya dijawab juga olehnya.

"20. Juli,tepatnya." Kuroko tersentak kaget. Dia memainkan jari. "Wa,sebentar lagi..." Setelah bergumam begitu,dia melirik Aomine.

"Ada apa,Tetsu?" tanya Aomine yang merasa diperhatikan. Kuroko tersenyum tipis. "Aomine-kun satu bulan lagi ulangtahun."

"Eh?" Semuanya menjawab perkataan yang sama. "Benar juga ..." Akashi yang merespon duluan. "Benar juga, bukannya aku mengingatnya-nanodayo,aku hanya tahu!" Kalian pasti tahu siapa yang berbicara ini.

"Memangnya Aominecchi mau ulangtahun?"

"Mine-chin ada tanggal lahir,toh."

Dua orang ini memang kurang ajar,mohon dilupakan. "Kan belum bulan Agustus ... Masih lama ..." Aomine tiba-tiba terdiam,sedangkan Kuroko tersenyum tipis. Akashi yang menyadari itu melirik Kuroko yang senyam-senyum sendiri. "Kau kenapa,Tetsuya?"

"Tidak ada apa-apa,Akashi-kun..." Kuroko menundukan kepalanya pelan,kemudian melirik Aomine. "Aku lupa ... Sebentar lagi tanggal 2, iya bukan,Aomine-kun?"

Aomine mengerutkan dahi dengan semburat tipis di wajahnya. "Apaan sih,Tetsu!? Memangnya kenapa dengan tanggal 2?!" Kise melirik Kuroko. "Memangnya kenapa,Kurokocchi? Ada apa dengan tanggal 2?"

"Gebetannya ulangtahun,Ryouta."

Aomine langsung berdiri sambil menggebrak meja. "Tidak kok! Apaan sih!? Jangan sembarangan ngomong!" Aomine menundukan kepalanya.

"Berani membantahku,Daiki? Aku masih menyimpan banyak gunting kok."

Aomine meneguk ludah. Dia baru sadar jika yang mengucapkannya tadi adalah seorang Akashi Seijuuro. "Tidak! Kau salah,Akashi! Aku tak suka dengan Kagami!"

"Memangnya Akashicchi ada mengatakan bahwa Kagamicchi itu gebetan Aominecchi?" Skakmat,Aomine. Aomine terdiam sejenak. "Aku tak menyangka bahwa kau sudah belok,Dai-chan."

"Apa yang kau bilang,Satsuki!? Siapa juga yang bilang aku suka dengan Bakagami!?"

"Kuroko/Kurokocchi/Kuro-chin/Tetsuya/Tetsu-kun."

"Tetsu ..." Aomine melirik Kuroko tajam. Kuroko yang meminum shakenya memandangnya datar. "Kenapa,Aomine-kun?" tanyanya dengan tampang anak polos. "Apa yang kau beritahu kepada merekaa!?"

"Aku hanya berkata, 'Sepertinya Aomine-kun menyukai Kagami-kun. Karena Aomine-kun selalu meminta menceritakan Kagami-kun ketika aku dan dia bertemu.' Hanya itu kok." Kata Kuroko masih dengan tampang datarnya. "Ukh, aku meminta hal itu bukan berarti aku menyukainya!"

"Mine-chin,menikah saja. Umur kalian sudah cukup kok ..."

"Damare,Murasakibara!"

"Sebenarnya, Aominecchi ingin, 'kan?" Kise ikut menggoda Aomine. "Bukan kok! Apaan sih kalian ini!?"

"Sudahlah. Kita disini bukan untuk membahas masalah Aomine dan Kagami." Midorima bersuara. "Benar,aku lapar lagi~" Murasakibara berdiri untuk membeli makanan lagi. "Benar itu,Dai-chan. Kalau ingin membahas itu,lebih baik aku tak usah ikut. Aku masih banyak pekerjaan!" Protes Momoi. "Argh,sudahlah! Siapa juga yang mau membahas ini!?"

~Because Of You!~

Hari sudah semakin gelap. Satu per satu dari mantan dari Kiseki no Sedai ini pulang ke rumah masing-masing. Mulai dari Akashi yang tinggal di Kyoto, Murasakibara di Akita, Midorima karena ada pekerjaan dadakan dan Momoi yang masih memiliki pekerjaan lain.

"Jadi ... tinggal kita bertiga?" tanya Aomine melihat meja yang semulanya ricuh menjadi sedikit sepi. Tinggal dirinya, Kuroko dan Kise.

"Hari ini aku tak memiliki jadwal penerbangan."

"Murid-muridku libur hari ini."

"Ng, aku sedang tak bertugas hari ini."

Keheningan terjadi di meja tersebut. Kuroko masih sibuk meminum shakenya dan Kise pun hanya memainkan minuman es yang sudah selesai dia minum. Aomine terdiam. Dia ingin bicara. Dengan anggota ini tak apa-apa, 'kan?

"T-Tetsu!" Aomine memanggil. Kuroko menaikan kepalanya dan menatap Aomine. "Ya,Aomine-kun?"

"G-Gimana kalau kita merayakan ulang tahun Kagami?" tanya Aomine membuat Kuroko tersenyum tipis. "Boleh saja, Aomine-kun. Kise-kun mau ikut?" tanya Kuroko melirik Kise yang berada di sampingnya.

"Boleh kok-ssu! Kita akan merayakannya gimana-ssu!?" Kise tampak bersemangat. Aomine sedikit lega. Tampaknya mereka berdua tak tahu maksud sebenarnya dari merayakan ulangtahun Kagami tersebut.

"Boleh. Bagaimana kalau kita mengajak tim Seirin?" tanya Kuroko. "Ukh,Kurokocchi. Itu urusan kalian-ssu. Tapi,boleh saja-ssu! Ajak keluarga Kagamicchi sekalian!"

"Keluarga Kagami berada di Amerika bukan,sih?" kata Aomine menimpali. "Eto, Alex-san dan Himuro-san saja ..."

Mereka mulai membicarakan rencana perayaan ulangtahun Kagami. Jujur,Aomine senang karena Kise dan Kuroko tak terlalu menyorakinya tentang dia menyukai Kagami. Dia mengutuk Akashi karena telah memprovokasikan Kiseki no Sedai lainnya sehingga tadi menjadi ricuh. Saking seriusnya merencanakan perayaan tersebut, Aomine sampai lupa bahwa biang keroknya adalah 'dia' ...

Kuroko Tetsuya yang kini sedang tersenyum tipis melihat Aomine begitu semangatnya merayakan hal tersebut.

~Because Of You!~

"Semuanya sudah siap,Aomine-kun."

"Gomen,Tetsu. Tiba-tiba pekerjaanku menumpuk hari ini. Aku janji aku akan datang ke sana besok!" Aomine menutup telponnya. Dia menghela napas panjang. Sudah tanggal 1 Agustus, namun tiba-tiba saja ada kasus pembunuhan terjadi di daerah Tokyo.

"Bagaimana dengan mayatnya,Aomine-san? Apa bisa dipindahkan sekarang?"

"Tidak. Kita belum mendapat perintah. Awasi saja terus, jangan sampai ada yang mengacau." Aomine meneguk ludah melihat mayat yang bersimbah darah di depannya. "Kejam sekali ..." Pikirnya ketika tidak sengaja menginjak darah dari mayat tersebut.

"Aomine-san,jangan sembarangan bergerak!"

"Aku tahu,aku tahu!" Aomine segera mengelap sepatunya yang berjejak bercak darah. "Merepotkan ... Bau." Aomine menahan napas. Bau besi sangat terasa di dekatnya,membuat tubuhnya merinding.

"Aomine-san, kita diminta untuk mengawasi penyelidikan."

"Baiklah,aku akan segera kesana." Aomine melirik jam. Sudah jam 10 malam,namun pekerjaan ini belum selesai juga. "Semoga saja aku bisa menyelesaikannya sebelum besok..."

Kini,dia berdiri di depan seorang detektif dan beberapa orang lainnya. "Aomine-san, aku memintamu untuk menyelidiki anak dari korban tersebut." Perintah dari sang atasan tak bisa dia tolak. Dengan berat hati, dia membawa mobilnya menuju sebuah apartemen,dimana dia harus mencari anak dari sang korban.

"Apartemennya ... dekat dengan cafe Bakagami..." Aomine sempat melewati cafe Kagami yang dimana baru saja pemiliknya menutup cafenya. Aomine terkejut dan segera membawa mobilnya ke tempat tujuan.

"Apa yang kulakukan!? Fokus ke pekerjaan! Fokus!" Aomine berteriak kencang sebelum dia menginjakan kakinya menuju ke apartemen dari targetnya.

"Permisi! Kami dari kepolisiann!" Aomine berteriak kencang. Sang pemilik pintu belum juga mengeluarkan suara atau sepatah kata pun. Aomine kembali berteriak dan membuka kenop pintu. Terbuka.

"Saya masuk." Aomine memasuki kamar apartemen yang begitu berantakan. Pakaian di sana sini, bungkus makanan yang berserakan dan tempat tidur yang acak-acakan. "Permisi! Apa tak ada orang!?" Aomine berteriak dengan tegas sebelum akhirnya dia mendapati sesuatu ...

"Apa ini?" tanya Aomine kepada dirinya sendiri. Dia mengambil bungkus tersebut. Butuh waktu lama untuk otaknya berjalan sampai dia tersadar bahwa dia sudah terjerumus ke dalam maut. "N-Narkoba,ya!?"

Buak! Untung respon Aomine cepat. Dia bisa menghindari pukulan keras dari tongkat baseball itu. Dia mendapat serangan dari belakangnya dan mendapati seorang remaja yang nyaris beranjak dewasa kira-kira berusia 20-an tahun dengan pakaian penuh darah.

"A-A-Apa yang kau lakukan!? S-Siapa kau!? Beraninya memasuki kamar orang!"

"Kami dari kepolisian! Anda diminta untuk ―" Belum selesai Aomine berbicara, dia mendapat serangan lagi. "Sialan!" Aomine berteriak dan mencoba menghentikan gerakan pemuda tersebut.

"Bukan aku! Bukan aku yang membunuhnya!" Teriaknya tak jelas. Dia memberontak dari tangkapan tangan Aomine. "Kau hanya diminta penjelasan,Baka! Tapi,karena kami menemukanmu dengan narkoba, kau harus ditangkap! Penampilanmu terlalu mencurigakan dan kau terlalu ceroboh!" Aomine mulai berkhotbah. "Ukh ..." Pergerakan dari target melemah. Ini kesempatan, Aomine segera mengambil borgol yang biasa dia bawa. Namun ...

Dor!

Aomine terkejut. Semua itu terjadi dengan cepat. Dia bahkan tak sadar bahwa targetnya tersebut sangatlah lincah. Dengan cepat dia memberontak dan mengeluarkan senjata api dari sakunya dan menembak nyaris tepat di jantung Aomine.

"Argh!" Aomine merintih kesakitan. "Kurang ajar ..." Darah mulai keluar dari tubuh Aomine. Pemuda itu terlihat ketakutan, kemudian berlari menjauhi apartemen. Aomine terus berusaha bergerak dan mengejar pemuda tadi. "Hoiy,tunggu!" Aomine berlari tertatih. Dia cukup kesakitan. Bahkan langkah kaki yang dia lewati membuat bekas jejak dengan darahnya.

Pemuda itu berlari dan terus berlari. Sampai panik ketika menemukan sebuah mobil polisi dan seorang polisi lain di sana. "A-Aku ... Bodoh! Argh!" Dia berlari ketakutan.

"Ada apa dengan pemuda tadi?" ujar sang polisi sampai akhirnya dia terkejut dengan Aomine yang muncul dengan pakaian bersimbah darah. "A-Aomine-san!?"

"K-Kejar dia! Dia target kita! Dia menggunakan Narkoba dan senjata api!" Tanpa aba-aba lagi, sang polisi berlari mengejar pemuda tersebut. Sambil meminta bantuan dan menelpon ambulans untuk Aomine, dia terus berlari mengejar targetnya.

Aomine sudah tak sanggup bergerak. Dia terjatuh sambil memegangi lukanya yang berdarah. "Cih,sialan... Kenapa ... aku bodoh sekali?" gumamnya tak jelas. Pandangannya mulai kabur, entah apa lagi yang dia lihat.

"B-Bakagami ..."

~Because Of You!~

Saat dia membuka matanya, pandangan yang ia lihat pertama kali ialah langit-langit sebuah kamar yang berwarna putih. Hidungnya bisa merasakan aroma tak sedap di sekelilingnya. Seperti aroma obat-obatan. Dia melirik ke arah kanan dan menemukan teman semasa kecilnya berlinangan air mata melihatnya. "S-Satsu ... ki?"

"D-Dai-chan!? M-Minna! Dai-chan sudah sadar!" Teriaknya membuat gendang telinga Aomine berdengung. "Satsuki berisik!"

"Aominecchi! Kau tak apa-apa!?" Kise juga berlinangan air mata dengan pakaian pilotnya. Ah,dia cukup tampan ketika memakai itu. "Aomine-kun ..." Kuroko yang biasanya datar kini memancarkan ekspresi wajah sedih melihat sahabatnya sedang berbaring tak berdaya tersebut.

"Kau nyaris mati-nanodayo." Midorima berada di sisi kiri dengan pakaian dokter. "Peluru itu hampir saja mengenai jantungmu-nanodayo. Bagaimana keadaanmu? B-Bukannya aku peduli,tapi karena aku dokter yang menanganimu."

"Aku? Aku baik-baik saja,sih ..." gumamnya tak jelas.

"Mine-chin daijoubu? Mau snack?"

"Kau bodoh atau apa,Atsushi?" Akashi yang seharusnya berada di Kyoto pun ada di sana. "Apa yang ... kalian semua lakukan disini?" tanya Aomine memandang satu per satu teman-temannya. "Tentu saja untuk melihatmu,Aomine-kun. Keadaanmu parah sekali."

"Mungkin dia terlalu aho untuk melakukan pekerjaan menjadi seorang polisi."

"Damare!" Lagi-lagi,Aomine tak sadar jika yang mengatakannya adalah Sang Emperor Eye. "Shintaro, ada berapa gunting dan pisau operasi yang kau punya? Aku minta semuanya sekarang juga."

"M-Maafkan aku,Akashi! Sungguh,aku tak tahu yang bicara itu kau!" Aomine meneguk ludah ngeri. Momoi menghela napas. "Syukurlah Dai-chan tidak apa-apa~"

"Kalian ini ... cemas sekali. Aku tak apa-apa. Luka kecil ini tak ada apa-apanya bagiku. Ore ni kateru wa ore dake daa!" Dia masih dengan bangganya mengucapkan kata yang berarti:"Yang bisa mengalahkanku hanyalah diriku sendiri"

"Oh,begitu. Midorimacchi, lain kali kalau Aominecchi dalam keadaan kritis, tak usah serius mengobatinya-ssu. Pihak rumah sakit pasti tak akan marah-ssu."

"Aku juga setuju denganmu,Kise. Lain kali aku tak akan menangani pasien yang bernama 'Aomine Daiki' lagi." Midorima menaikan kacamatanya. "Mine-chin,mau maibou?" Abaikan titan yang satu ini.

Aomine tersenyum tipis, senang melihat teman-temannya menjenguknya. Tapi,dia teringat satu hal.

"Bagaimana dengan kasusnya?"

"Sudah selesai. Pemuda yang kau tangkap itulah pelakunya. Dia mengaku." Akashi berkata singkat. Aomine ber-oh ria. "Sudah kuduga. Dia pasti akan dihukum berat karena juga menggunakan narkoba."

"Ck,ck,ck. Aominecchi memakannya-ssu!?"

"Tentu tidak lah,Baka!" Aomine langsung menjitak kepala Kise. Tenaganya cukup kuat untuk menjitak kepala seorang Kise Ryouta. "Hidoi-ssu yo,Aominecchi~"

"Saa,Midorima-sensei~ Dai-chan sudah tak apa-apa, 'kan? Aku pulang dulu,ah~" Momoi mengambil tasnya. "Hoiy,Satsuki. Kau mau kemana?" tanya Aomine. Momoi menjulurkan lidah. "Sudah 4 hari Aomine-kun tak sadarkan diri. Momoi-san lah yang menjagamu. Tentu saja pekerjaannya sudah menumpuk." Kuroko menjelaskan alasan Momoi. "Jaa ne,Dai-chan~ Tetsu-kun~ Minna~"

Bruk! Belum lagi Momoi membuka pintu, seorang suster sudah mendobrak pintu kamar Aomine. "M-Midorima-sensei! Pasien darurat!" Tanpa basa basi lagi, Midorima langsung melesap keluar bersama Momoi. Begitu juga yang lainnya, satu per satu mulai meninggalkan kamar Aomine,kecuali ...

Kuroko Tetsuya.

"Kau tak ada pekerjaan,Tetsu?" tanya Aomine mendapati Kuroko masih setia duduk di sampingnya. "Aku meminta izin khusus hari ini untuk cuti,Aomine-kun. Lagipula,hari ini hanya ada kegiatan bermain dan kerja bakti di taman kanak-kanak."

"Oh,begitu. Maaf merepotkanmu,Tetsu."

"Tak masalah,Aomine-kun." Kuroko mengambil beberapa botol air dan meneguknya. "Kau tidak lapar,Aomine-kun? Aku sampai lupa bertanya kepada Midorima-kun ..."

"Tentu saja aku sangat lapar,Tetsu!" Aomine memegang perutnya. Sampai dia teringat satu hal yang sangat penting yang terlewatkan ...

"Tetsu."

"Ya,Aomine-kun?" tanya Kuroko masih fokus dengan minumannya. "Tanggal berapa sekarang?"

Kuroko hampir menjatuhkan botol yang dia pegang. Tenggorokannya tiba-tiba mengering. Ragu untuk mengucapkannya. "Kau yakin ingin tahu,Aomine-kun. Ah,setidaknya kau sudah tahu dengan clue bahwa Momoi-san menjagamu selama 4 hari ..."

Glek. Aomine meneguk ludah. "Jadi ... tanggal berapa sekarang?"

"5. 5 Agustus."

.

.

.

.

Aomine menyesal, sangatlah menyesal. Dia sangat ingin memutar ulang waktu. Mengapa? Mengapa ini terjadi padanya? Kenapa ...? Seharusnya,pada tanggal 2 Agustus,dia mengucapkan selamat kepada Bakagami, dan merayakannya bersama. Tapi,kenapa ...?

"Tuhan memang tak adil,ya,Tetsu ...?" Aomine bergumam, namun sang mantan bayangan masih bisa mendengar itu dengan jelas. "Tuhan adil,Aomine-kun. Kepada semuanya ..." Dia tersenyum tipis.

~Because of You!~

16 Agustus ...

Kuroko menghela napas bosan. Dia sangat bosan hari ini. Novel yang sangat ingin dia baca membuatnya harus menunggu lagi karena jadwal terbitnya yang sedikit terlambat. Biasanya novel terbaru terbit tiap minggu. Kuroko menguap tak jelas. Dia sudah berkeliling berbagai tempat untuk menuangkan rasa bosannya, namun yang dia dapati adalah ...

Cafe milik Kagami.

"Daripada Bakagami cemas,lebih baik aku tidak diperhatikan karena aku sudah melewatkan hari spesialnya. Karena setelah ini,aku ingin bertemu dengannya dan memakan makanan buatannya. Aku ingin menebus kesalahanku padanya"

Kata-kata Aomine saat itu terus muncul di otak Kuroko. Dia menggelengkan kepala. Dia ragu untuk bertemu dengan Kagami. Dia takut jika dia akan mengingar janjinya kepada Aomine.

Kring,kring. Pintu cafe terbuka bersamaan dengan bunyi lonceng. "Selamat datang,Kuroko-san!" Sepertinya dia sudah dikenal oleh karyawan di sini.

"Doumo. Dimana Kagami-kun?"

"Kagami-san berada di rumahnya. Dia sedang sakit."

"Apa? Sakit? Kenapa bisa?" tanya Kuroko penuh dengan cemas. Kenapa dua mantan cahaya bisa sakit dalam saat bersamaan? Mungkin mereka sudah ditakdirkan jodoh. Karyawan tersebut mengelengkan kepala. "Mungkin tak enak badan, atau yang lain ..."

"Ng ... Kalau begitu,aku memesan vanila shake saja."

"Baiklah,Kuroko-san. Pesanan seperti biasa,ya?" Kuroko tersenyum tipis mendengar perkataan karyawan Kagami itu. "Hm," Dia menganggukan kepalanya kecil.

Setelah menunggu beberapa lama,vanila shakenya datang juga. Dengan ukuran besar, padahal dia tak ada berkata 'ukuran besar' tadi. Kuroko tersenyum tipis. "Arigatou gozaimasu."

Kuroko melangkahkan kakinya menuju ke rumah Kagami. Rumah kecil nan simple yang hanya dihuni dirinya seorang. Sudah lama dia tak menginjakan kakinya ke sini, tetap saja tidak berubah.

Ting,tong~ Kuroko menekan bel, masih dengan shake di tangannya. Butuh waktu kira-kira 15 detik untuk Kuroko menunggu munculnya si Bakagami.

"Kuroko? Kenapa kau datang ke sini?" tanya Kagami terkejut melihat kedatangan dari mantan bayangannya. "Kudengar kau sakit,Kagami-kun ..."

"Tidak kok. Hanya tidak enak badan setelah pekerjaan mendadak. Ha haa..." Kagami tertawa, itu membuat Kuroko sedikit lega. "Boleh?"

"Ya,silahkan masuk!" Kagami mempersilahkan Kuroko masuk. Kuroko sweatdrop dengan isi rumah Kagami. Masih sama seperti dulu, terlalu simple karena dia tak terlalu sibuk.

"Ngomong-ngomong,kau mendapat pekerjaan dadakan,Kagami-kun? Kapan?" tanya Kuroko sedikit mencampuri urusan Kagami. "Eto ... Kira-kira 5 hari yang lalu, kebakaran di pusat perbelanjaan itu ..." Kuroko menganggukan kepalanya, dia tahu tentang kebakaran itu.

"Tapi,kau tidak terluka, 'kan?" Kagami menggeleng. "Hanya kecapekan saja." Kagami duduk di sofa. Kuroko pun duduk tepat di depannya,masih dengan shakenya.

"Naa,Kuroko..." Kagami menjeda kalimatnya. Kuroko menatap Kagami datar,menunggu lanjutan dari perkataan Kagami. "Kau ... tahu apa yang terjadi pada Aomine?"

Kuroko membelak terkejut. Dia menghentikan minumnya dan menatap Kagami dengan serius, walau ditutupi dengan wajah datarnya. "Apa ... terjadi sesuatu padanya?" tanya Kagami lagi menatap perubahan sikap Kuroko.

"Aku tak tahu,Kagami-kun." Kuroko melanjutkan minumnya. "Semenjak reunian waktu itu,kami jarang bertemu."

"Souka? Kapan terakhir kau menemuinya?" tanya Kagami lagi. Setidaknya, kata 'jarang' itu memastikan bahwa Kuroko pernah bertemu dengan Aomine sebulan ini walau hanya sekali.

"Tanpa sengaja bertemu saat dia membeli majalah dan aku membeli novel." Kuroko berbohong. Dia tahu ini salah,namun dia harus menepati janjinya kepada Aomine.

"Souka ... Kuso." Kagami bergumam pelan. Jika suasana kamar itu tidak hening,mungkin Kuroko tak bisa mendengarnya. Namun,Kuroko mendengarnya dengan jelas. Sampai dia tersadar ...

"Maafkan aku,Kagami-kun ..."

"Kenapa,Kuroko?" tanya Kagami melihat Kuroko berdiri dan melangkahkan kaki menuju pintu rumahnya. "Aku ... memiliki pekerjaan yang harus kuselesaikan. Maaf," Dia menghilang dari balik pintu. "O-Oh ... Jaa!" Kagami berteriak dari dalam, Kuroko tak menolehnya melainkan menundukan kepala.

Dia terasa berat. Hanya dialah yang mengetahui bahwa Kagami menyukai Aomine dan Aomine menyukai Kagami. Walau beberapa orang lagi, namun Kurokolah yang mengetahuinya dengan pasti. Dia tahu bahwa Aomine sudah membuat hati Kagami terluka. Dia tahu bahwa Aomine tak bisa mengucapkan selamat ulangtahun. Dia tahu bahwa Aomine sedang terluka.

Dan,dia mengatakan Aomine membeli majalah ...?

Itu seolah mengatakan bahwa Aomine tak peduli dengan ulangtahun Kagami. Kuroko menyesal karena telah berbohong. Dia menyakiti hati sahabatnya sendiri ...

"Ukh ..." Kuroko mengigit bibir bagian bawah. Sangat menyesal. Apa yang akan terjadi nanti? Dia tak tahu ...

Kuroko tersadar bahwa dia sudah berada di luar. Padahal dia berniat untuk berbincang-bincang dengan Kagami untuk menghilangkan rasa bosannya. Kini, dia tak tahu harus berbuat apa ...

"Lebih baik mengunjungi Aomine-kun ..."

~Because Of You!~

"Apa ... ?"

"Apa kau pekak-nanodayo? Aomine sudah pulang kemarin malam." Midorima menaikan kacamatanya yang sedikit melorot di depan Kuroko. Kuroko memandang datar kamar yang seharusnya dihuni oleh Aomine kini sudah kosong melompong. Tatapan datarnya tersirat rasa kaget dan cemas.

"Bukannya dia belum sembuh total,Midorima-kun? Kenapa kau mengizinkannya pulang?"

"Tubuhnya kuat-nanodayo. Dia tak perlu melakukan perawatan di rumah sakit lagi. Istirahat di rumah sudah cukup-nanodayo."

"Tapi,bagaimana jika dia pergi bekerja dan lukanya terbuka lagi?" Kuroko khawatir. "Memang-nanodayo. Tapi,aku sudah menasihatinya-nanodayo. Jika dia tetap melakukan pekerjaannya, maka dia adalah orang bodoh yang pernah kulihat selain Bakagami-nanodayo."

Kuroko cemas. Aomine itu keras kepala. Bisa saja dia sedang patroli atau sedang melakukan kegiatan kepolisian yang sama sekali dia tak mengerti.

"Arigatou gozaimasu,Midorima-kun. Aku ingin menyusul Aomine-kun." Kuroko berlalu meninggalkan Midorima. Setidaknya dia bisa menghabiskan rasa bosannya dengan merawat Aomine.

Cukup jauh untuk pergi ke rumah Aomine. Kuroko menghela napas ketika dia berjalan pelan menuju sebuah stasiun.

Kring,kring~ Ponselnya berdering. Kuroko segera mengambil ponselnya tersebut dan sedikit kaget dengan panggilan yang dia dapat dari Aomine

"Moshi-moshi,Tetsu?"

"Aomine-kun no baka! Kenapa kau tidak istirahat saja di rumah sakit? Dasar Ahomine!" Kuroko sedikit berteriak membuat yang diseberang sana terdiam. "Santailah,Tetsu. Aku sudah baik-baik saja kok!"

"Jadi ... apa yang ingin kau bicarakan? Padahal aku baru ingin mengunjungi rumahmu dan menumbuk matamu."

"Hidoi na,Tetsu. Jangan ke rumahku. Aku sedang tak ada di rumah. Aku sedang berada di toko buku. Untuk refreshing,aku ingin membeli majalah terbaru."

Twich. Perempatan siku muncul di kening Kuroko membuatnya terdiam. Yang diseberang sana meneguk ludah. "Ok,Tetsu. Setelah aku membelinya, aku segera pulang. Naa,Tetsu. Kau tak ingin membeli novel,ya? Bukannya kau bilang kau ingin membeli novel terbaru?"

"Minggu ini tak ada yang rilis,Aomine-kun."

"Ada,lho. Satu. Rasanya aku pernah melihatmu membeli yang ini. Covernya berwarna merah bercampur dengan warna biru muda."

"Kenapa kau tak menyebut judulnya,Aomine-kun? Aku sudah membacanya sampai jilid ke-empat."

"Yang disini lima."

Kuroko terdiam sejenak. "Tunggu aku disana,Aomine-kun."

~Because Of You!~

"Ahomine-kun,doumo."

"Huaaa!" Aomine berteriak ketika dia masih membaca sebuah majalah. Tidak sadar bahwa bayangannya sudah berada di sampingnya. "K-Kau ... Astaga,kau mengagetkanku! Masa kau masih menggunakan misdirection?!"

"Untuk apa aku menggunakannya,Aomine-kun? Dari awal sudah begini. Mana novel yang kau bilang?" ujar Kuroko to the point. Aomine menghela napas dan memberikan novel yang dia maksud. "Nih."

Mata Kuroko terbinar-binar. Dia lupa untuk mengecek jadwal rilis novel yang ini. Untunglah Aomine menemukannya. "Arigatou,Ahomine-kun."

"A-Ahomine ..." Aomine sweatdrop. Kuroko terdiam saking senangnya melihat novel tersebut, sampai dia tersadar akhirnya dia memukul lengan―bagian terluka― Aomine. "Ittai naa,Tetsu!"

"Kau masih belum sembuh total. Sekarang. Pulang." Kuroko menyebutnya dengan penuh penekanan. "Ok,ok!"

Kring,kringg,kringg... Ringtone yang sama dengan ponsel Kuroko,namun Kuroko tak merasakan ponselnya bergetar.

"Tetsu,ponselmu."

"Bukan ponselku,Ahomine-kun. Cek saja sakumu yang bergetar." Aomine menepuk jidat. Dia segera mengambil ponselnya.

"Moshi-moshi ...?"

Kuroko memperhatikan Aomine yang tampak kaget dengan telpon barusan. "Baik! Saya segera kesana!" Aomine langsung melempar majalah yang dia baca kepada Kuroko.

"Gomen,Tetsu! Ada urusan mendadak! Bayarkan dulu majalah itu! Ntar kuganti!" Aomine langsung melesap kabur. "C-Chotto,Ahomine-kun!" Kuroko berteriak.

"Tunggu sebentar,Tuan. Bayar dulu baru keluar."

Kuroko berdecik kesal. Dia segera memberikan uangnya dan berlari mengejar Aomine. Namun,dia kehilangan jejak. Aomine tak ada lagi di sekitar sana ...

"Cih! Aho!"

.

.

.

Aomine berlari dengan pelan. Tak terlalu pelan,tak terlalu kencang. Dia mengingat kondisi kesehatannya. Dia belum sembuh total,namun masalah ini harus diselesaikan. Jika dia tak ada disana, akan banyak memakan korban jiwa!

"Hosh,hoshh ..."

Aomine menghentikan larinya sejenak dan menghela napas sebelum dia akhirnya berlari lagi.

Buak!

"Ittai naa! Jalan make mata,kenapa!?"

"Jangan menghalangi jalan,tahu! Aku sedang ... buru-buru ..." Aomine terdiam melihat siapa yang ia tabrak. Terkejut lebih tepatnya. Padahal dia tak ingin menemuinya sekarang ...

"Ahomine?!"

"B-Bakagami ..." Aomine terdiam melihat Kagami. "Jalan pake mata lah!" Kagami protes dan berusaha berdiri dari jatuhnya. "Ah,gomen." Aomine membantu Kagami berdiri. "Aku lagi buru-buru,soalnya."

"Buru-buru? Pekerjaan?"

"Yah,begitulah ..."

"Souka ..." Keadaan semakin mencekam. Tak ada yang bicara selama beberapa detik. Aomine meneguk ludah, dia benar-benar tak tahu ingin berbicara apa ...

"Bukannya kau buru-buru? Kenapa tak pergi sekarang?" kata Kagami membuyarkan lamunan Aomine. Aomine tersadar. "Oh,benar juga! Sore jaa!" Aomine berjalan melewati Kagami. Kagami sedikit kecewa ... Aomine melupakan hari spesialnya karena pekerjaannya ... ya? Sakit. Bagian dadanya terasa sangat sakit.

"Bakagami!" Kagami tersentak kaget. Kenapa ... dia memanggil namanya lagi ...? Cepatlah pergi! Kau menyakiti hati Kagami,Aomine!

"Apa lagi,Aho―" Kagami menoleh ke belakang dan tersentak kaget begitu melihat wajah Aomine tinggal beberapa centi meter lagi di depan wajahnya. Sekilas,bibir mereka berdua bersatu. Kagami kaget. Ciuman ini tiba-tiba terjadi. Dia tak bisa mengingat semuanya, semuanya terjadi begitu cepat.

"U-Ukh!" Kagami merasa sesak. Aomine begitu lama menciumnya, tak membiarkan dia menghirup oksigen sedikit pun. "Puah!" Kagami langsung menghirup napas dalam-dalam begitu ciuman itu selesai. "K-Kenapa ...?" gumamnya pelan. Dia sangat malu. Semburat merah sangat jelas tampak di bawah pipi Kagami. Ini di tengah jalan,coy. Tiba-tiba dicium begitu,apa tidak malu?

"Gomenne."

Kagami tersentak kaget dengan perkataan Aomine. Dia meminta maaf ...? "Aomine!" Sayang, Aomine sudah menghilang dari hadapannya.

"Ao ... mine?" ujar Kagami melihat ke arah sekelilingnya. Tak ada, dia menghilang. Tak sulit mencari sosok Aomine. Sangat mudah mencarinya karena kulitnya lebih hitam daripada yang lainnya. Tapi,tak ada. Semua yang di sekitarnya hanyalah orang yang berkulit putih.

Kagami memegang bibirnya. Sakit sekali. Bukan bibirnya,namun hatinya. Dia merasa kecewa karena Aomine melupakannya, namun dia merasa senang karena Aomine menciumnya. Kagami terlalu senang,sekaligus sedih. Campur aduk,sakit sekali. Entah apa mau Aomine ...

Mantan bayangan dari kedua cahaya tersebut tersenyum tipis melihat kedua sahabatnya itu. Dia lega sekali. Dia sangat senang. Setidaknya, perannya untuk diam dalam masalah percintaan mereka sudah mendekati akhir.

"Yokatta ..."

~TBC~

Apa panjang dari chapter tiga bisa menutupi panjang dari chapter dua~?

RnR please~

Ivy-chan9