Level Up

.

Characters belong to Masashi Kishimoto.

.

This Is SasuHina Story!

Alternative Universe! Out Of Character! Typical Errors!

You've been warned!

.

This is the 2nd installment of Game On. You might need to read that one first to follow the plot of this installment.

.

.

.

Either You're Down For It or Done For It.

.

.

"Kau bilang dia tahu?"

Hinata tak terlihat tertarik untuk meladeni pertanyaan berulang Ryuzaki dan lebih memberikan perhatiannya pada tiap langkah menuju ruangan Kakashi sambil berharap seluruh anggota timnya juga sudah hadir di sana.

"Memang apa sebenarnya masa lalumu dengan psiko itu?" tanya Ryuzaki lagi dengan nada yang sama menyebalkannya di telinga Hinata. Dan untuk kali ini, Hinata menghentikan langkahnya kemudian memutar tubuh agar ia bisa berhadapan dengan rekan barunya itu.

"Aku mencintai psiko itu! Dengan sangat, dengan butanya, dengan gilanya, dengan salahnya! Saat itu aku bahkan tidak peduli jika dia memang seorang sosiopat bersertifikat! Kau puas dengan jawabanku?!" jawabnya panjang dan tajam sebelum kembali membalikkan tubuh, melanjutkan niatnya menuju ruangan Kakashi.

Setelahnya Hinata tak lagi mendengar satu suku katapun keluar dari mulut Ryuzaki, tapi ia tahu bahwa rekannya itu masih berjalan mengikutinya. Sebenarnya Hinata merasa ia sudah terlalu ketus dalam memperlakukan Ryuzaki. Ia merasa belum bisa menerima keberadaan pria itu. Mungkin nantinya ia akan lebih terbiasa, tapi jelas bukan sekarang.

Setidaknya Hinata memiliki alasannya sendiri. Pertama karena ia memiliki masalah dalam segala hal yang menyangkut kepercayaan. Dan lagi karena menurutnya Ryuzaki begitu... entahlah, ia hanya merasa ada hal yang aneh dalam diri pria itu.

Hinata menerobos pintu ruangan Kakashi tanpa mengawalinya dengan ketukan terlebih dahulu. Ia menyapu pandangannya sekali dan mendapati Konan dan Yahiko sudah berada di sana memerhatikan Kakashi yang tengah terlibat diskusi bersama Sakura dan juga Marsekal Hyuuga.

Hinata berkedip dua kali melihat kehadiran ayahnya, menimbang apa kiranya yang pria paruh baya itu perlukan hingga berada di ruangan itu. Pasalnya ia tahu ayahnya cukup sibuk dengan jabatan barunya. Ia sendiri hampir melupakan kapan terakhir kali mereka berpapasan. Dua, tiga bulan lalu? Ironis mengingat bagaimana mereka kini bekerja di gedung yang sama.

"Oi, Hinata. Kau sudah di sini." Yahiko memberi sapaan pertama untuk Hinata. "Jadi... ada apa? Kuharap kau punya alasan bagus sampai harus mengumpulkan kami sekarang."

Hinata memang menghubungi Kakashi untuk mengumpulkan timnya segera saat ia tengah dalam perjalanan kembali ke gedung Anbu. Ia menghela napas samar setelah mendengar pintu di belakangnya ditutup—pasti oleh Ryuzaki—sebelum mendaratkan pandangannya ke arah Hiashi.

"Apapun yang kau rencanakan, itu tidak akan berhasil," ujar Hinata tenang namun terdengar dingin.

Kakashi menatap marsekal dan Hinata bergantian, menunggu detail yang bisa menjelaskan apa yang Hinata katakan. "Apa yang terjadi, Hinata?" tanyanya.

"Tidak peduli apapun yang kau rencanakan, Sasuke akan bisa menebaknya!" Hinata tak peduli jika kini suaranya terdengar menyedihkan karena amarah.

"Apa yang terjadi, Agen L?" Menyadari tak ada tanggapan dari Hinata, Sakura kini melimpahkan pertanyaan itu pada pria yang berdiri di dekat pintu.

"Sasuke sudah bekerja untuk agensi ini selama bertahun-tahun!" Nada suara Hinata meninggi, menyela Ryuzaki yang bahkan belum sempat membuka mulut untuk menjawab. "Apa kalian benar-benar tidak berpikir bahwa ia mungkin mampu menebak segala langkah kalian selanjutnya?! Suka atau tidak, dia pernah menjadi pemain terbaik yang kalian miliki. Bukan hanya karena kemampuannya, tapi juga karena kenekatannya! Dia selalu selangkah di depan kita, dan akan selalu begitu!" jelasnya panjang dengan nada mengumpat.

Tidak ada yang merespons secara langsung. Setiap kepala di ruangan itu terlihat seperti tengah menelaah apa yang Hinata katakan. Hingga Yahiko berdiri dari kursinya dan bergerak beberapa langkah mendekati Hinata.

"Apa yang barusan kau katakan, Hinata?" tanya pria dengan surai jingga itu dengan nada yang lebih tenang. Untuk beberapa saat Hinata memandang balik pria itu sambil perlahan menenangkan dirinya.

"Dia tahu," ujar Hinata setelah dapat menguasai dirinya lagi. "Dia tahu apa yang kita lakukan dan apa yang akan kita lakukan," singkatnya kemudian menghela napas.

"Apa yang membuatmu menyimpulkan itu?" Hiashi membuka mulut, bertanya dengan nada yang masih begitu tenang di pendengaran siapapun.

"Dia tahu kami di sana mengikuti Izumi," jawab Hinata rendah.

"Duduklah dulu," ujar Kakashi, dan tanpa perintah kedua semua yang masih berdiri mengambil kursi masing-masing. "Thunder... maksudku Sasuke, ada di sana?" tanya Kakashi setelah memastikan kondisinya cukup kondusif untuk memulai diskusi.

"Ya," singkat Hinata.

"Apa yang dilakukannya?"

Hinata tak menjawab, tatapannya menerawang meski terarah ke permukaan meja kaca di hadapannya.

"Dia mencumbu gadis yang kami ikuti. Di tengah-tengah gang," jawab Ryuzaki pada akhirnya.

Untuk beberapa saat, situasinya terasa begitu mati. Kakashi sendiri sempat terdiam sebelum berdeham untuk memecah geming setiap orang di sana. "Itu terdengar sangat... sesuatu," gumamnya.

"Jika dia mengetahui misi tadi, Hinata bisa jadi benar. Dia mungkin akan mengetahui kartu apa yang selanjutnya akan kita mainkan." Sakura berpendapat. "Apa dia sengaja melakukannya?! Sial! Kenapa tidak kita bunuh saja dia secepatnya?"

"Bergerak cepat untuk mengeksekusinya tidak akan mudah, kalian pasti tahu jelas tentang itu," respons Kakashi.

"Bahkan jika kita bisa melakukannya, hal itu bukan pilihan bijak saat ini," sambung Hiashi. "Membunuh pemimpin yang sekarang hanya akan mengundang pemimpin baru untuk naik. Mengetahui Uchiha Sasuke sebagai pemimpin Akatsuki sekarang sedikitnya memberi keuntungan bagi kita. Kita tidak perlu lagi mengulur lebih banyak waktu untuk mencari tahu siapa penggerak mereka dan bisa memfokuskan diri untuk misi utama yaitu menghentikan Akatsuki langsung melalui pemimpinnya."

"Kenapa pemerintah tidak menindak langsung mereka?" Konan menanyakan apa yang terlintas di kepalanya. "Aku yakin pasukan mereka masih jauh jika dibanding pasukan negara."

"Opinimu tidak bisa dibenarkan. Mereka memiliki pasukan yang setara dengan pembunuh terlatih, Konan. Yah, di samping kebanyakan dari mereka memang pembunuh bayaran terlatih sebelum direkrut oleh Akatsuki," jelas Kakashi.

"Selain itu kita tidak tahu berapa banyak anggota pemerintahan yang diam-diam bekerja untuk melindungi Akatsuki," sambung Hiashi kembali. " Membunuh Uchiha Sasuke hanya akan menjadi penyulut amarah kelompok itu. Kita harus bisa bermain lebih cerdas di sini," tutupnya.

"Ya, tapi nyatanya kita tidak tidak lebih saat ini," gumam Hinata rendah, separuh mencibir. "Sasuke mungkin sudah menebak apapun rencana kalian bahkan untuk seminggu ke depan."

"Kalau begitu mari kita coba berpikir berdasarkan teori dari Hinata," sela Ryuzaki yang sebelumnya hanya menjadi pendengar setia. Ia menaikkan kedua kakinya ke atas kursi dan menekuk lututnya hingga mendekati dada. "Sasuke ini... sudah mengira apa yang akan kita lakukan karena dia sudah paham betul seluk-beluk agensi ini? Bahkan jika kita mengubah cara bermain kita untuk mengejutkannya, bukankah kemungkinan dia juga sudah menyiapkan skenario untuk kemungkinan itu?"

"Jadi singkatnya solusi apa yang kau miliki?" tanya Yahiko gusar dan tak sabar.

"Dia tahu setiap pergerakan kita dan mungkin sudah mengekspektasikan setiap kemungkinan langkah kita selanjutnya. Bagaimana, di mana, kapan. Dia sangat cerdik." Ryuzaki mengangkat wajahnya, matanya terfokus memandang lurus dinding di seberangnya. "Dia sengaja membuat terlalu banyak drama, membuat semua perhatian teralih hanya kepadanya."

"Intinya," sela Hinata yang kemudian membuat Ryuzaki berkedip dan menengok ke arahnya. Pria itu menatap Hinata beberapa detik sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Kakashi.

"Berikan apa yang dia inginkan," ujarnya serius, maniknya menatap lekat Kakashi.

"Apa?" beberapa mulut menyuarakan kata yang sama.

"Seperti yang kukatakan tadi, dia sangat cerdik. Dia membuat sebuah permainan, dan untuk mengalahkannya, dia tidak memberi kita pilihan lain selain bermain dalam permainannya itu." Ryuzaki mulai menjelaskan alasannya. "Dari yang kubaca dan kudengar, Sasuke ini sepertinya memiliki kepribadian yang menyulitkan. Seorang diva. Dia senang berlakon dan memamerkan segala kelebihannya. Oh ayolah... kita semua tahu sebagian besar pembesar kelompok reformis adalah ratu drama."

Belum ada yang berniat untuk menyela pendapat Ryuzaki.

"Dia ingin semua orang tahu kehebatannya. Itulah kepada dia tidak menghancurkan agensi ini dan hanya sebatas melemahkan agensi beberapa tahun silam," papar Ryuzaki. "Mengikuti permainannya memang seperti berjudi. Menang atau kalah. Tapi bukankah pertaruhan itu lebih baik ketimbang melakukan hal yang kita tahu akan dia patahkan?"

Untuk beberapa menit, tak ada sahutan apapun mengenai tanggapan dari apa yang dikatakan oleh Ryuzaki. Seperti masing-masing tengah mencerna pertaruhan itu di kepala masing-masing. Hingga beberapa menit berikutnya, Kakashi buka suara.

"Dengan kata lain kau mengatakan agar kita masuk ke rencananya?" kata Kakashi datar.

"Betul."

"Tidak. Itu ide konyol," sela Sakura, jelas menolak rencana yang menurutnya sama saja seperti menjatuhkan diri ke dalam jebakan musuh mereka itu.

"Tidak juga." Suara Hiashi bergabung dalam diskusi. "Memang sangat berisiko, tapi ini cukup pintar. Meski dapat menebaknya, yang Sasuke percaya adalah bahwa kita tidak akan jatuh pada plot yang disiapkannya. Dia begitu terang-terangan memaparkan setiap rencananya, dengan ekspektasi bahwa kita akan melakukan sesuatu. Yang terlambat kita sadari adalah, seperti yang Agen L katakan, Uchiha Sasuke sengaja melakukannya untuk menarik perhatian kita menjadi kepadanya, bukan kepada Akatsuki itu sendiri. Dan setiap kali kita memutuskan untuk menghindari perangkapnya, dia tahu dia telah berhasil menghambat langkah kita."

"Itu masuk akal," gumam Yahiko, masih dengan kening berkerut, tanda ia masih memikirkan segala sesuatunya.

Kakashi mengangguk pelan. "Jadi... ada ide menarik lain, Agen L?" tanyanya dengan suara rendah.

"Hmmm..." Ryuzaki terlihat berpikir, ia kemudian melirik ringan Hinata sekilas sebelum perhatiannya ia tujukan pada Kakashi dan Hiashi. "Dia telah melemparkan Uchiha Izumi sebagai umpan. Kenapa tidak kita coba ambil umpan itu? Apalagi setelah kemunculannya malam ini, dia pasti memiliki ekspektasi bahwa kita akan semakin mengejarnya."

"Uchiha Izumi... apalagi sekarang? Menculiknya?" cetus Sakura.

"Tidak juga. Tapi mungkin kita bisa mengatur narasinya menjadi seperti demikian." Senyum tipis terbentuk di bibir Ryuzaki.

Semua kepala di ruangan itu kini menjadi pendengar setia. Ryuzaki benar-benar menjadi pusat perhatian mereka saat ini. Hinata harus mengakui, kemampuan intelektual pria itu memang jauh dari kesan yang ditunjukkan penampilannya.

"Kita atur seolah kita menyerang Uchiha Izumi untuk menyekapnya dan kita ulur waktu hingga Akatsuki datang. Kemudian kita biarkan mereka menangkap kita," ujarnya masih dengan nada datar yang sama.

"Lalu apa setelahnya?" tanya Yahiko.

"Aku memperkirakan delapan puluh persen mereka akan membawa kita ke markas utama," lanjut Ryuzaki.

"Kau seyakin itu? Bagaimana bisa?" Sakura menyela tak yakin.

"Karena di sanalah Uchiha Sasuke berada. Dan aku yakin dia menantikan untuk berhadapan dengan mantan rekan-rekannya."

"Kita belum mengetahui secara pasti letak markas Akatsuki. Dan membuntuti kalian jelas bukan tindakan pencegahan yang efektif." Kakashi mulai bergabung kembali.

"Aku bisa menyediakan transmitter, tapi aku khawatir mereka juga akan menangkap sinyalnya jika kita membawa terlalu banyak," ujar Konan.

"Cukup satu kalau begitu," sela Yahiko. "Lagipula rencana ini tidak menuntut kita untuk bergerak secara terpisah, bukan?" tambahnya yang kemudian direspons anggukan oleh beberapa kepala lain.

"Ada satu masalah." Suara Sakura membuka babak baru. "Bagaimana jika mereka memutuskan untuk tidak menangkap kita. Bagaimana jika mereka langsung menyerang kita karena telah mengancam Izumi?"

"Uchiha Sasuke ini tidak akan menurunkan perintah itu," jawab Ryuzaki yakin, kini senyum lebar yang terlihat menyebalkan muncul menghiasi wajahnya.

"Tidak akan?" tanya Hinata, jujur ia meragukannya mengingat Sasuke merupakan pribadi yang tak mengenal ampun.

Ryuzaki menengok ke arah Hinata dan mengangguk, masih mempertahankan senyuman itu. "Karena Hinata sendiri yang akan menyerang Uchiha Izumi," ujarnya dengan begitu entengnya.

Seketika itu juga, rasanya Hinata tidak pernah merasa sebernafsu itu untuk menghajar seseorang. Agen bodoh, pikirnya. Kenapa juga semua orang mendengarkan rencananya yang terdengar begitu meragukan itu?

"Maksudmu kita menumbalkan Hinata?" Yahiko mengerutkan keningnya.

"Kita akan bersiap di belakangnya, melindunginya jika sesuatu terjadi. Kita akan tertangkap bersama dan ikut diseret ke markas utama. Misi selanjutnya tentu akan lebih terarah jika kita sudah mengetahui lokasi markas Akatsuki," jelas Ryuzaki lagi.

"Lalu bagaimana cara kita melarikan diri, huh?" tanya Yahiko dengan nada separuh mencibir. "Dan bagaimana jika ternyata mereka tidak membawa kita ke markas utama?"

"Tidak masalah." Hiashi menyela. "Kami akan tetap mengawasi pergerakan transmitter kalian. Kami akan mengetahui lokasi kalian meskipun mereka tidak membawa kalian ke markas utama. Dan aku akan menurunkan para agen yang bebas untuk melepaskan kalian. Aku juga yakin Agensi Wammy akan menurunkan bantuan."

"Kita benar-benar berjudi." Konan menghela napas panjang sebelum gumamannya. "Ini bukan bagaimana kita bekerja. Kita harusnya menyerang diam-diam."

"Pekerjaan kita menuntut kita untuk siap berjalan di jalur apapun," balas Kakashi. "Menyerahkan diri kepada Akatsuki mungkin bukan rencana yang paling aku sukai, tapi aku juga tidak menolaknya Kuharap kalian berempat siap," ujarnya sebelum menghela napas. "Cukup untuk hari ini. Aku akan segera menginformasikan rapat selanjutnya."

..

...

..

Hinata duduk sendirian di salah satu meja kafetaria, netranya menatap kehampaan, menyeimbangkan benaknya yang terus berpikir bisa jadi seberapa buruk lagi jalan hidupnya.

Baru beberapa tahun silam ia kembali merasakan memiliki segalanya, saat Sasuke bersamanya. Semua kenangan manis yang terjadi seakan baru kemarin berakhir, meninggalkan gambaran yang masih begitu baru di benaknya.

Hinata mencintai Sasuke, itu sangat jelas disadarinya. Kini Hinata merasa benaknya perlahan melepaskan perasaan-perasaan itu, bekerja sama dengan waktu untuk pelan-pelan mengikisnya. Tapi jika harus jujur, Hinata berharap ia dapat terus memerangkap cinta itu di dalam hatinya. Karena ia masih memegang satu harapan.

Jika Sasuke bergerak di atas sebuah alasan yang baik, jelas Hinata akan mengejarnya, kembali bersamanya dengan perasaan yang tak berpindah. Sebesar itulah cintanya hingga ia bisa melupakan semua kepahitan yang dilemparkan padanya. Namun jika Sasuke memang monster seperti apa yang orang-orang katakan, Hinata bertekad bahwa belas kasih yang dimilikinya itu tak akan terlibat. Karena jika memang begitu, artinya Sasuke tak pantas atas pengampunan apapun.

"Sedang melamun?"

Sebuah suara membuat Hinata berkedip, keluar dari benaknya sendiri. Ia mengarahkan manik ametisnya ke sumber suara kemudian mendapati Ryuzaki sudah mengambil tempat duduk tepat di seberangnya.

"Uchiha Sasuke, ya?" tebaknya. Hinata meruncingkan tatapan matanya meskipun dalam hati ikut menebak-nebak apakah dirinya begitu mudah terbaca. "Ada dua puluh empat kerutan di wajah Hinata. Artinya Hinata memikirkan sesuatu yang serius, dan kalau kulihat lagi, Hinata berpikir tidak ada masalah yang lebih serius ketimbang segala hal yang berhubungan dengan Uchiha Sasuke," jelasnya dengan senyum kecil.

Hinata masih tak menyahut, malah kini ia memalingkan pandangannya.

Ryuzaki menghela napas berat. "Kenapa Hinata tidak menyukaiku?"

"Memangnya harus? Kau bukan temanku dan aku tidak percaya padamu," jawab Hinata tanpa aling-aling.

Ryuzaki mengangguk jelas. "Masuk akal juga."

Keduanya kemudian kembali dikuasai keheningan. Hinata yang dalam benaknya terus menerus mengusir pria di depannya itu. Dan Ryuzaki yang masih duduk santai mengamati seisi kafetaria, dan Hinata bukanlah pengecualian.

"Hinata," Ryuzaki kembali berbicara setelah lebih dari lima menit pasrah tenggelam dalam diam. "Di Wammy... ibuku yang menjadi marsekal," bukanya, membuat kening Hinata berkerut heran. "Hinata tahu tidak, kelahiranku sebenarnya tidak direncanakan. Aku lahir di luar pernikahan. Saat aku kecil orang-orang sering memanggilku anak haram."

Baiklah, Hinata semakin tak mengerti arah pembicaraan pria aneh di hadapannya itu. Apa yang membuat rekan barunya itu tiba-tiba membuka sesi curhat padanya?

"Ibuku... sedang dalam misi saat aku tercipta. Tapi ibu memutuskan untuk tidak menyingkirkanku, mungkin ibu berpikir dia membutuhkan penerus di masa mendatang. Aku dibesarkan di lingkungan agensi sepanjang hidupku. Aku tidak pernah tahu siapa ayahku dan aku belum juga memiliki keberanian untuk menanyakannya pada ibu," jelasnya lagi dengan suara yang lebih mengambang. "Aku tidak pernah memiliki waktu atau kesempatan untuk jatuh cinta. Tapi Hinata pernah merasakannya. Walaupun hanya sebentar dan bisa dibilang tidak berakhir baik, setidaknya Hinata sempat memiliki seseorang."

Tanpa sadar, raut keras Hinata luntur, namun keningnya tetap berkerut. Diliriknya Ryuzaki, mencoba meneliti. "Kenapa kau menceritakan semua itu padaku?"

Ryuzaki mengedikan bahunya ringan. "Aku hanya ingin mencoba mengobrol dengan Hinata. Naluriku bilang Hinata adalah orang yang baik, itu cukup untuk membuatku mempercayakan ceritaku kepada Hinata. Selain itu, aku ingin Hinata tahu kalau aku tidak keberatan menjadi teman mengobrol. Aku mungkin bukan orang bijak yang bisa memberikan nasihat, tapi aku pendengar yang baik," tutupnya dengan lekungan bibir yang menawarkan senyum ramah.

Hinata menggigit pelan lidahnya, agak merasa bersalah atas tingkahnya. "Maaf. Aku tidak bermaksud mengabaikanmu atau apapun itu," akunya rendah.

"Aku tahu." Ryuzaki berdiri dari kursinya namun tetap menghadapkan tubuhnya ke arah Hinata. "Hinata tidak perlu mempercayaiku. Hanya jangan menghindariku, kita rekan, bukan?"

Hinata merasa de javu itu datang lagi. Ia ingat pernah terlibat dalam percakapan serupa bersama Sasuke. Yang berbeda saat itu adalah bahwa Hinata lah yang meminta Sasuke agak tak menghindarinya.

Hinata berkedip sekali guna membuyarkan bayangan instan itu. Ia kemudian menatap Ryuzaki yang masih berdiri dengan senyuman di wajahnya. "Akan kucoba," jawabnya.

..

...

..

"Ini pastinya bukan tugas yang mudah," desah Ryuzaki sambil menyiapkan amunisinya di dalam ruang persenjataan.

"Memang tidak mudah. Kalau kubilang, rencanamu ini sama saja dengan misi bunuh diri," desis Yahiko menyahut. Ia berdiri diam dengan tangan sedikit direnggangkan untuk mempermudah Konan yang tengah memasang transmitter di sabuk yang ia kenakan. "Oi, lihat-lihat apa yang kau sentuh," protesnya saat gerakan tangan Konan agak menggelitiknya.

"Diam saja kau!" balas Konan runcing sebelum mundur selangkah. "Sempurna. Hati-hati, jangan sampai kau menekan tombol ini atau pelacaknya akan mati," tunjuk Konan pada tombol hitam kecil yang sengaja diposisikan agak terbuka.

"Roger," cengirnya.

Konan masih berhadapan dengan Yahiko dengan tangan bersedekap. Ia menghela napas panjang. "Boleh aku memukulmu untuk yang terakhir kalinya?" tanyanya, separuh bercanda.

Yahiko tertawa ringan sebelum menjawab. "Aku akan berpura-pura tidak mendengarnya." Ia kemudian melangkah meninggalkan Konan.

Konan mengedarkan pandangannya dan mendapati Hinata masih berkutat dengan selongsong pistol yang coba diikatkan di pahanya, perlahan ia menghampiri rekannya itu. "Butuh bantuan?"

"Ya, terima kasih," jawab Hinata rendah kemudian membiarkan Konan menyesuaikan ikatan selongsong itu di pahanya.

"Kau yakin M9 dan USP45 cukup?"

Hinata mengangguk meski Konan masih terfokus pada ikatan selongsongnya. "Lagipula ini bukan misi penyerangan," jelasnya.

Konan bergumam sebagai respons atas ucapan Hinata. Ia memastikan ikatan di paha Hinaya yang ia buat cukup kencang namun nyaman sebelum kembali menegakkan tubuhnya.

"Harusnya kau katakan saja padanya kalau kau menyukainya," ujar Hinata ringan namun serius.

Konan menghela napas. "Jujur saja aku tidak berani menyatakannya saat yang kutahu tatapan matanya seperti ingin memakanmu hidup-hidup." Konan tak berniat berkata ketus, namun sepertinya nada bicaranya cukup tajam diterima oleh telinga Hinata.

"Tidak ada apapun di antara kami, sungguh." Hinata berusaha meyakinkan.

"Sudahlah," singkat Konan sebelum bergerak menjauh.

Hinata melirik kepergian Konan, ia menggigit bibir bawahnya, merasa tak nyaman dengan tensi yang dibaginya bersama Konan beberapa waktu ke belakang. Selama ini Hinata memang terkesan tak memedulikan apapun yang orang lain pikir. Memang benar. Namun tidak untuk Konan, ia menganggap Konan teman dekatnya dan ia peduli apa yang Konan pikirkan tentangnya.

"Baiklah, tim." Suara Kakashi tiba-tiba menyusup mencampuri situasi. "Semoga sukses dan... berhati-hatilah," ujarnya yang kemudian dibalas anggukan para anak buahnya. "Marsekal juga sudah menyiapkan delapan puluh tiga agen lain sebagai back up kalian."

Hinata mengedarkan pandangannya untuk sekedar melihat ekspresi rekan-rekannya. Entah bagaimana ia baru menyadari bahwa Naruto dan Tenten tak ambil bagian di misi ini padahal sebelumnya Kakashi sudah memberitahukan mereka bahwa Naruto dan Tenten sudah menjalankan misi lain.

"Dan ingat, apapun yang terjadi, jangan melawan."

..

...

..

"Bagaimana mereka tahu kalau dia akan muncul malam ini?" bisik Sakura di tempat persembunyian mereka, tangannya sudah siap dengan sebuah pistol.

"Kemunculannya agak terpola," jawab Ryuzaki.

Hinata menghela napas, ia memutuskan untuk tak terlibat dalam percakapan apapun, setidaknya sekarang. Maniknya kemudian berpindah memandang Yahiko yang sedang menatap jauh ke depan. Tanpa sadar rasa bersalah itu datang, membuatnya menelan paksa ludahnya sendiri.

Yahiko memang tidak bisa disebut pria baik, tapi setidaknya ia bukanlah seorang egomania. Hinata mengingat apa yang Tenten katakan tentang perselisihan Yahiko dengan Sasuke di luar agensi dan bagaimana Sasuke memperlakukannya. Tapi satu katapun Yahiko tak pernah mengungkit tentang hal itu di hadapan Hinata.

"Yahiko," panggil Hinata pelan.

"Ya?" Yahiko seketika memberikan perhatiannya ke si pemanggil.

"Kenapa kau tidak pernah mengatakan padaku tentang... apa yang Sasuke lakukan padamu?"

Yahiko diam beberapa saat dengan kening berkerut, hanya memandang Hinata. "Siapa yang... ugh, pasti Tenten yang mengatakannya padamu," sungutnya.

"Kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku?" ulang Hinata.

"Yah... kupikir sudah cukup banyak yang terjadi padamu," jawabnya enteng. "Anggap saja aku sedang mengurangi beban masalahmu."

Hinata memalingkan wajahnya kemudian menggigit bibir. Lucu rasanya mengetahui bagaimana emosi manusia bisa berubah begitu mudahnya. Beberapa tahun yang lalu, Hinata begitu mengutuk Yahiko karena segala tingkah pria itu, tapi sekarang akal sehatnya malah memihaknya.

"Shhh..." Sakura berdesis saat Hinata baru akan mengatakan sesuatu. "Dia datang."

Rekan-rekannya memberikan Hinata tatapan berarti sebelum bergerak saling berpindah posisi. Hinata sendiri sudah mencengkeram USP45 di tangan kanannya. Tak diperhatikannya pergerakan rekan-rekannya, fokusnya hanya kepada pendatang yang memang mereka nantikan.

Tepat saat Hinata mendengar langkah kaki Izumi mendekat, ia keluar dari persembunyiannya dan dengan cepat menyerang kerah Izumi untuk kemudian ia desak gadis itu ke dinding terdekat.

"Satu kata keluar dan kuledakkan kepalamu," ancam Hinata saat Izumi masih tertegun dengan penyerangan dadakan itu.

Hinata mengarahkan mulut pistolnya di kening Izumi, menekannya dalam. Untuk sesaat, sekelebat pemikiran untuk menarik pelatuk pistol yang digenggamnya muncul, namun Hinata segera tersadar saat suara rekan-rekannya mendekat.

"Baiklah. Tidak ada jalan keluar. Sekarang jawab, apa yang sedang kau lakukan, atau tepatnya rencanakan di sini?" tanya Sakura tanpa basa-basi.

Izumi tak bereaksi banyak, ia malah tak menampakkan ekspresi berarti.

"Jawab!" tekan Sakura yang kemudian dibalas dengan decihan remeh.

Melihatnya, Hinata mengambil tindakan lebih. Ia lepaskan cengkeramannya hanya untuk memberikan kesempatan bagi tangannya untuk menampar gadis muda bersurai hitam itu. Setelahnya Hinata desak lagi tubuh Izumi, bedanya, kali ini cengkeramannya tak lagi ia tempatkan di kerah, namun tepat di leher.

"Kau pikir kau punya pilihan?" tanya Hinata, todongan pistolnya berpindah ke pipi gadis itu.

Manik hitam Izumi berkilat, tak menerima perlakuan yang diberikan padanya. Hinata dapat merasakan gadis itu hampir saja akan melawan, namun urung karena selanjutnya cahaya dari beberapa lampu mobil menembak tepat ke arah mereka.

Semuanya membatu saat pria-pria dengan dominasi pakaian hitam tiba-tiba mengepung mereka, lengkap dengan senjata api yang langsung diarahkan kepada Hinata. Hinata melepaskan cekikannya di leher Izumi dan membalik posisi mereka, menjadikan Izumi sebagai tamengnya.

Sejujurnya, hal ini agak tak diprediksi oleh Hinata. Ia berpikir mungkin hanya empat atau lima anak buah Sasuke yang akan datang, bukan sepasukan teroris seperti ini.

"Wah wah... lihat apa yang kita dapat malam ini."

Sebuah suara yang cukup familier pecah di antara kerumunan itu. Hinata masih menodongkan mulut pistolnya di pelipis Izumi yang kini ia posisikan menjadi membelakanginya.

Seorang pria bermasker maju membelah barisan, ia tertawa singkat sebelum melepaskan penutup wajahnya itu. Dalam beberapa detik, Hinata dibuat membeku setelah sosok itu menampakkan seringai tajamnya.

Itu Caligo.

Dan ya Tuhan... dia benar-benar masih hidup?

"Sulit dipercaya kita terus dipertemukan dalam situasi seperti ini, Cantik."

"Hinata mengenalnya?" tanya Ryuzaki langsung kepada Hinata.

"Ya." Dan jawaban mendesis penuh amarah itu datangnya dari Sakura.

"Kau tahu, Sasuke sudah menunggumu sejak lama. Dan akhirnya..." ujarnya dengan nada mencibir. "Kau juga pasti tidak sabar untuk bertemu dengannya, bukan?"

Hinata tak menjawab, ia mengeratkan rahangnya menahan amarah.

"Jadi apa lagi yang kita tunggu? Tangkap mereka," perintahnya kepada orang-orang di belakangnya. "Dan satu lagi, Cantik... lepaskan Izumi. Sasuke tidak menyukai jika orang lain menyentuh adik kesayangannya," tambahnya saat Hinata masih saja mempertahankan ancamannya terhadap Izumi.

Hinata mendorong kasar, melepaskan Izumi dari cengkeramannya. Dan seperti rekan-rekannya, ia membiarkan orang-orang Sasuke mengambil persenjataannya sebelum mengunci gerak tangan dengan borgol dan menyeretnya masuk ke dalam mobil van.

"Sejauh ini sesuai rencana," gumam Ryuzaki rendah sebelum mereka menutup pengelihatannya juga para agen lain.

Tak ada satupun dari para agen yang mengetahui ke mana mereka akan dibawa, namun Hinata mereka akan ke tempat di mana Sasuke berada.

Sepanjang van membawa mereka entah ke mana, yang dapat Hinata dengar di samping deru mobil hanyalah keluhan-keluhan receh dari Yahiko dan Ryuzaki juga sentakan Sakura yang merasa terganggu dengan ocehan keduanya.

Hinata sendiri memilih diam menemani benaknya sendiri. Tadi ia berharap Sasuke lah yang akan muncul. Tapi nyatanya ia harus berhadapan dengan Caligo, orang yang pernah menculiknya. Orang yang dulu membuat Sasuke dengan heroiknya mencoba menyelamatkan Hinata. Dan ternyata merupakan orang yang bekerja untuk Sasuke.

Sial. Sasuke benar-benar tahu caranya berakting.

Saat kendaraan akhirnya berhenti, Hinata merasakan dirinya ditarik kasar keluar dari mobil. Angin dingin seketika menyapa indera perabanya. Pijakan di bawah sepatunya terasa tak rata, terasa seperti dataran yang berkerikil. Hinata tak yakin di mana tepatnya rekan-rekannya terposisikan, namun samar-samar ia dapat mendengar desisan Sakura, itu membuatnya yakin bahwa mereka tak dipencar.

Kerikil yang Hinata rasakan menghilang. Ia kemudian dipaksa berhenti sebelum kain yang menutup netranya dibuka. Hinata berkedip cepat untuk menyesuaikan pandangannya yang kabur akibat cahaya mendadak yang diterima retinanya.

Hinata melirikkan matanya ke kanan dan ke kiri, dalam hati merasa lega bahwa rekan-rekannya juga di bawa ke tempat yang sama. Mereka kini berdiri di sebuah ruangan dengan banyak dekorasi antik yang menghiasinya. Suasananya terlihat kelam dengan dominasi warna cokelat dan merah gelap ditambah sinar jingga ringan lampu pijar dari lampu hias besar di langit-langit ruangan. Lentera berisi lampu pijar dengan gradasi warna yang sama berjejer konstan di dinding-dindingnya sebagai penerangan tambahan.

Satu kata untuk deskripsi dangkal mengenai tempat ini. Kuno.

"Wow... tempat ini terlihat seperti rumah bordil yang pernah aku kunjungi," komentar Ryuzaki terang-terangan, tanpa menurunkan volume suaranya.

Hinata melirik ke arah rekan barunya itu dan menyadari bagaimana Ryuzaki terlihat tak terpengaruh dengan keadaan ini. Bisa dibilang, di antara mereka berempat, Ryuzaki terlihat paling tenang.

"Kalian sangat bodoh hingga dengan mudahnya melompat ke dalam perangkapku." Izumi mengatakannya sambil berjalan memasuki ruangan, di belakangnya ada dua orang bodyguard dengan wajah tertutup masker.

"Di mana kakakmu yang sinting itu?" tanya Hinata tajam.

"Sebentar lagi dia juga muncul," balas Izumi santai. "Tunggu... kau Hinata, bukan? Orang yang membuat kakakku tertarik?" tanyanya sinis dengan kelopak mata menyipit. "Yah, seleranya tidak terlalu buruk, sih," tambahnya dengan nada mencibir.

"Ohh... ada apa dengan ekspresi itu? Cemburu, huh?" Ryuzaki tergelak menggoda Izumi yang otomatis dibalas dengan delikan runcing oniks gadis itu.

Sakura hanya diam dengan sorot mata yang seakan tengah mencabik-cabik gadis itu sedangkan Yahiko terlihat tertunduk pasif.

"Malam yang menyenangkan. Akhirnya..." Suara lain datang dari pintu utama, dan Hinata tahu jelas siapa pemiliknya. "Selamat datang di rumahku, pecundang!"

Sasuke semakin mendekat, memperlihatkan sosoknya. Tubuhnya yang penuh keringat berbalut celana hitam panjang dan kaus biru tua. Hinata ingat jelas kaus itu, ia ingat itu adalah salah satu kaus yang dipilihnya saat mereka berbelanja bersama. Lalu apa maksud pria brengsek itu memakainya sekarang?

Oniks mata Sasuke tertuju langsung ke arah sosok Hinata. Hinata sendiri merasakan detak jantungnya menggila, namun ia tetap menampilkan ekspresi yang netral di wajahnya.

"Lama tidak jumpa... Hinata," sapanya.

Raut datar Hinata masih tertunduk, ia belum bisa membawa dirinya untuk meluruskan pandangan, netranya lekat menatap lantai. Sasuke diam untuk beberapa menit, namun Hinata dapat merasakan tatapan pria itu menusuk jiwanya.

"Kau terlihat... seksi. Seperti biasa." Sasuke berkomentar ringan.

Komentar itu membuat Hinata menegakkan kepalanya untuk melemparkan bilah tajam tatapannya, namun kemudian ia sudah mendapat Sasuke memunggunginya. Ametis Hinata menangkap potongan gambar di lengan kiri Sasuke. Tato baru? Hinata juga menyadari beberapa tindikan yang pria itu kenakan.

Entah bagaimana hatinya mendadak mencelos. Bahkan dalam tiga detik tatapan, Sasuke bukanlah pria yang Hinata kenali. Pria itu benar-benar orang yang berbeda.

Hinata menyadarinya, berkali-kali ia memikirkan tentang hal yang sama. Sasuke selalu hebat dalam segala yang ia kerjakan. Termasuk dalam berperan. Tapi kenapa hati Hinata masih kesulitan menerimanya?

"Jadi..." Sasuke bergerak halus mendekati Izumi kemudian melingkarkan lengannya di pinggang gadis itu. Matanya menyipit meneliti ketika mendapati ruam merah di pipi adiknya itu. Detik berikutnya, ekspresi Sasuke mengeras. "Siapa yang melakukan ini?" tanyanya rendah dan mengancam.

Hinata menegang, ia dapat mendengar kemarahan dalam suara Sasuke. Sumpah jika terjadi apa-apa kepada dirinya, Ryuzaki akan menjadi orang pertama yang akan ia cabik-cabik karena telah mencetuskan ide untuk menjadikan Hinata sebagai eksekutor utama tim ini.

"Bekas pacarmu," adu Izumi dengan raut kesal sembari mendorong Sasuke agak menjauh.

Sasuke menengokkan kepalanya, atensinya kini penuh kepada Hinata yang terlebih dahulu menatapnya. Hinata tak merasakan letupan-letupan itu di dadanya. Perasaannya tak meledak-ledak seperti yang sebelumnya ia bayangkan akan terjadi.

Hinata mati rasa. Ia mencintai Sasuke hingga level di mana ia rela mati demi pria itu. Tapi mengetahui semua ini hanyalah kebohongan seperti mematikan segala inderanya.

"Kau ingin menenangkan kekasihmu..." Sasuke kembali bersuara, melemparkan sebuah pertanyaan yang menggantung.

Hinata berkedip bingung. Oniks itu masih menantang iris ametisnya. Tapi apa itu tadi? Apa yang sedang Sasuke bicarakan?

"... Yahiko?" lanjut Sasuke.

Caligo mengeluarkan kekehan singkat dan mendekati Yahiko kemudian melepaskan kekang borgol pria bersurai jingga itu. Sambil mengelus pelan pergelangannya yang baru terbebas, Yahiko menggeleng kecil dengan senyum puas di wajahnya. Ia berjalan ke hadapan Sasuke.

"Senang bisa kembali." Yahiko dan Sasuke saling beradu kepalan, salah satu gestur keakraban kemudian mendekati Izumi dan mendaratkan satu kecupan singkat di kening gadis itu.

Sakura menatap pemandangan itu dengan mulut ternganga tak percaya.

Tawa renyah Ryuzaki terdengar. "Apa setiap orang di agensi ini merupakan lulusan Akademi Generasi Pengkhianat Fredo Corleone," komentarnya meski ia sendiri cukup terkejut dengan penikungan alur ini.

Netra Hinata melebar memandang Yahiko yang juga menatapnya dengan sorot mata mengancam. Ia kemudian menggeleng kecil dan mengeluarkan tawa samar yang terdengar ironis. "Tentu saja..." ujar Hinata pada diri sendiri. "Harusnya aku tidak perlu terkejut."

Hinata melihat Yahiko melipat jarak dengannya. Ametisnya tetap tak menyerah, masih menantang pria itu meski emosi yang dirasakannya membuat matanya agak memanas. Dan hal selanjutnya yang Hinata sadari adalah sebuah tamparan keras dari Yahiko di pipi kanannya yang cukup membuatnya terhuyung.

"Cukup," potong Sasuke kepada Yahiko.

Tanpa penolakan apapun, Yahiko mundur. Ia terlihat tengah meraba bagian pinggangnya sendiri, melepaskan transmitter yang dikenakannya dan menyerahkannya kepada Sasuke. Dan saat itulah Hinata menyadari mungkin bantuan dari agensi tidak akan datang. Yahiko pasti sudah mematikan transmitter-nya tak lama setelah mereka tertangkap.

"Kurung mereka," titah Sasuke tak terbantahkan, tapi dari nada bicaranya, ia seperti belum selesai akan perintahnya itu. "Tapi bawa dia ke kamarku..." Sasuke tak menamai ataupun menunjuk siapapun, namun oniksnya yang terarah pada Hinata seorang cukup menjelaskan segalanya. "Kurasa kami masih memiliki hal yang belum terselesaikan," tambahnya sebelum berjalan keluar ruangan.

"Ini sungguh menarik," cetus Ryuzaki. "Agensimu kalah langkah bukan karena salah dalam bertindak, tapi karena makhluk-makhluk seperti dia berkeliaran di dalamnya." Ryuzaki berkata kepada Sakura yang masih belum keluar dari keterkejutannya. "Dan Yahiko..." panggilnya. "Kau mendapatkan kehormatan untuk menjadi orang pertama yang akan kubunuh dalam kasus ini."

Yahiko memulai responsnya dengan seringai mengejek. "Kita lihat saja nanti," cercanya. "Adios, pecundang," tutupnya sebelum berlalu meninggalkan ruangan dengan Izumi yang erat berpegangan di lengannya.

.

to be continued...

..

.

Finally update... dan lebih panjang dari sebelumnya *iyalah, secara lo mangkir sebulan ren* :"v
Semoga cukup untuk sekarang hhehe :3

Anyway, soal kenapa aku pilih nge-cross fic ini... simply bcs personal taste hhihi, soalnya aku ngerasa L satu-satunya karakter fav ku yang paling cocok untuk ngisi peran baru ini.

Oh ya, apa aku udah bilang kalo LU ini semacem ada theme song nya? It's Charlie Puth's Attention for Hinata's point and Maroon5's Animals for Sasuke's...
So if you guys enjoying to read while listening music, dua lagu itu recommended... soalnya aku sendiri suka dapet ilham tiap denger itu lagu wkwk

Thanks and see yowww :*