Andai saja kita tidak terlalu menekannya, mungkin saat ini aku bisa melihatnya tersenyum lepas bahagia tanpa beban, walau senyuman itu bukan aku yang menciptakannya, setidaknya aku bisa melihat senyumannya seperti dulu lagi, sebelum saat dia mengenal apa itu cinta yang rumit, sebelum dia terjun ke dunia yang penuh dengan problema, sebelum dia terperangkap dalam kandang singa. . . sebelum dia menangis karena tekanan.
Andai waktu bisa terulang kembali. . .
Lalu apa?
Apa yang akan kulakukan apabila waktu terulang kembali?
Pada kenyataannya akan sama saja, dia akan tetap terperangkap dengan kami. . .
.
.
Sacrifice
Naruto belong Masashi Kishimoto
Rated M
Genre : romance, drama, hurt/comfort, angst
Warning for OOC, AU
.
.
Terdengar suara tangisan yang menyelimuti kesunyian di kamar tempat Uchiha sulung berada, kesadaran yang datang tiba-tiba membuat Mikoto menjerit lega dan bersyukur karena Tuhan mendengarkan doanya sebagai seorang ibu. Mikoto memeluk Itachi namun Uchiha sulung itu hanya terdiam dengan tatapan hampa saat ibunya memeluk dirinya.
"Itachiiiii, Itachiiii syukurlaaaaah~"
Itachi berusaha bangkit, namun Ino mencegahnya, "Maaf, anda belum boleh bangkit dulu, cukup tiduran saja anda masih diperbolehkan untuk berkomunikasi."
Itachi melirik sosok Ino dengan tatapan yang sangat dingin, hal itu sedikit membuat Ino takut dan memundurkan satu langkah ke belakang, belum perna dia bertemu dengan pasien yang sangat dingin seperti ini sebelumnya. "Memang bukan aku yang bertugas mengurus anda, sampai Shizune-senpai kembali, aku yang mengambil alih."
Itachi tidak menanggapinya, dia masih berusaha mengumpulkan ingatannya yang kacau di dalam otak. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia bisa berada di rumah sakit? Kenapa rasanya ngilu sekali? Kenapa rasanya – sedih sekali?
"Aku akan memeriksa Haruno Sakura, aku akan memanggilkan perawat untuk mengurusnya," pamit Ino.
Mendengar nama Sakura disebut, Itachi bereaksi. Kedua matanya terbelalak lebih lebar dan tubuhnya seketika mengejang dan berusaha untuk bangkit.
"Tidak! Jangan Itachi, kau harus istirahat!" tentu saja Mikoto mencegahnya.
"Sa—" saat Itachi akan berbicara, suaranya tertahan oleh alat bantu oksigen, dan hal itu membuatnya risih sehingga Itachi memaksa melepaskan alat itu, "aarrrgghh!"
"Heiiii!" Ino yang melihatnya langsung mendekati Itachi dan memaksanya untuk tidur.
"Tidak! Sakura! Dia. . . aku mohon, aku—"
"Aku akan mengurusnya, dia baik-baik saja, kau harus tenang!" ucap Ino.
"Dia. . . baik-baik saj—aakhh!" Itachi menggerang dan meremas kepalanya.
"Kondisimu belum stabil, tolong jangan mencoba untuk mengingat apa yang terjadi, kau harus istirahat dulu," perintah Ino.
Namun otak Itachi tidak menuruti saran yang Ino ucapkan, dirinya terus menerus memaksa untuk megingat apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa dia begitu khawatir dengan Sakura? Kenapa Sakura juga bisa berada di rumah sakit? Kenapa ada dokter yang menangani Sakura?
Seketika, Itachi terdiam, tubuhnya mulai tenang dan pandangannya mulai kembali pada kenyataan. Perlahan dia tatap kedua orang tuanya lalu pada Ino, "Kami—mengalami kecelakaan hebat?"
"Hhh, sudah kukatakan jangan memaksa untuk mengi—"
"Aku yang tahu kondisiku, kau diam saja!" bentak Itachi yang membuat Ino bergidik.
"Itachi!" kini Fugaku yang menegurnya, "berterima kasihlah pada nona ini karena kalau tidak Sakura akan—"
"Fugaku," potong Mikoto sambil menggelengkan kepalanya.
Itachi mengatur napasnya dan kembali menatap Ino, "Maafkan aku, aku baik-baik saja."
Ino tersenyum, namun senyum itu terlihat sangat palsu. Berterima kasihlah pada Sai yang mengajarinya bagaimana memperlihatkan senyum palsu pada lawan bicara. "Aku akan memeriksa Haruno."
Saat Ino sudah keluar dari kamar itu, Itachi kembali menatap kedua orang tuanya. Sebelum Itachi melontarkan kata-kata, Fugaku lebih dahulu berbicara, "Apa yang sebenarnya terjadi?"
Itachi terdiam dan memejamkan kedua matanya, "tinggalkan aku sendiri, aku mohon."
Seolah saling melempar tanya, Mikoto dan Fugaku saling pandang kemudian mengangguk, sampai akhirnya Fugaku yang membuka suara, "Kami ada untukmu, kami akan memberimu kabar tentang Sasuke nanti."
Saat kedua orang tuanya pergi, Itachi kembali mengingat kejadian sebelum mereka beradu kecepatan di tengah jalan. Dia memejamkan kedua matanya dengan raut wajah yang terlihat cemas, terbayang wajah wanita yang sanga ia cintai itu meneriaki namanya sebelum wanita itu dibawah pergi dengan paksa oleh adik kandungnya.
"ITACHII!"
Wajah Sakura saat itu terus terngiang, Itachi menggertakan giginya dan mencengkram selimut dengan sangat keras.
"Apa yang harus kulakukan sekarang," gumamnya tanpa membuka kelopak mata.
.
.
Hari berganti, kondisi Itachi semakin membaik, walau belum bisa diizinkan untuk pulang, namun Itachi sudah bisa bangkit dan pergi keluar memakai kursi roda. Sudah seminggu mereka berada di rumah sakit, Shizune datang untuk memeriksa kondisi laki-laki yag sangat pendiam sejak tersadarnya pada hari itu.
"Kondisimu semakin membaik," ucap Shizune, "diantara kalian bertiga, kondisimu yang tidak terlalu parah dibandingkan dengan adikmu dan nona Haruno."
"..."
Itachi tidak menjawab ataupun merespon ucapan Shizune, dia hanya terdiam menunggu Shizune menyelesaikan pemeriksaannya. Shizune melirik Itachi yang seolah kehilangan cahayanya, melihat laki-laki malang itu membuat Shizune merasa iba, "Kau tahu, sebenarnya kau sudah boleh mengunjungi salah satu antara Uchiha Sasuke atau Haruno Sakura."
Mendengar kalimat Shizune yang satu itu membuat Itachi bereaksi, dia menoleh dengan tatapan seolah bertanya apakah yang diucapan Shizune itu benar atau tidak. "Selesai pemeriksaan ini, akan kuantar kau ke salah satu kamar mereka, mana dulu yang ingin kau kunjungi?"
"Sakura," jawab Itachi dengan cepat.
Mendengar Itachi merespon membuat Shizune senang karena berhasil berkomunikasi dengan pasiennya, "Baiklah," jawab Shizune sambil mencatat laporan kesehatan Itachi, "sudah selesai, mari kubantu duduk di kursi roda. Nona Haruno masih dalam keadaan koma, namun dia sudah keluar dari ruang ICU."
"Bagaimana kondisinya?" tanya Itachi.
"Nona Haruno mengalami operasi dua kali karena tulang belakang dan bagian belakang kepalanya sangat kritis, operasi berhasil dan nona Haruno sekarang dipindahkan di ruang pribadi," jawab Shizune.
"Sasuke?"
"Kondisi Sasuke tidak separah nona Haruno, tidak perlu mengalami operasi seperti nona Haruno, namun kondisinya masih dalam keadaan koma."
Sambil mereka berhasil berbincang-bincang. Shizune membantu Itachi bangki dan duduk di kursi rodanya, begitu Itachi sudah duduk, Shizune mendorongnya keluar kamar. Beberapa perawat melihat sosok Itachi langsung terpesona dan menyapanya dengan ramah, namun Itachi mengabaikan semuanya, dirinya hanya fokus pada satu tujuan yang kini sudah berada di hadapannya. Sebuah kamar dengan pintu yang bertuliska 'Haruno Sakura.'
Shizune membuka pintu dan mendorong Itachi masuk, Itachi melihat sosok Sakura yang masih dalam keadaan koma. Rambutnya yang panjang dan berwarna pink terlihat sedikit kusam, wajahnya penuh dengan bekas luka dan memar yang mulai menghilang. Shizune mendekatkan Itachi pada sosok Sakura, "Kutinggal ya, kalau mau kembali ke kamarmu, tinggal tekan tombol merah di samping tembok ini."
Itachi tidak menjawab namun Shizune tahu kalau Itachi mengerti perkataannya, maka dari itu Shizune keluar dan menutup pintunya.
Itachi menatap wajah Sakura, memandangi sosok wanita yang sangat dia cintai itu. Sorot matanya melembut dan digenggam tangan Sakura dengan sangat pelan. Itachi berdoa agar Sakura secepat mungkin membuka matanya, karena begitu wanita itu tersadar... Itachi akan membawanya pergi dari rumah sakit itu, dari lingkungan mereka, dari negara mereka.
Itachi menginat, pertama kali mereka bertemu saat masih kecil dulu. Saat dimana Itachi mulai merasakan perasaan spesial pada Sakura, dan tiba-tiba Itachi mulai mengingat kejadian yang sangat membuatnya terpuruk... membuat hubungan mereka bertiga—Sasuke, Itachi dan Sakura—menjadi buruk.
"Sakura mengkhianatimu, tunanganmu ini sudah melakukan sex denganku."
"Sasuke hentikan! Itachi, aku mohon percaya padaku, aku tidak melakukan apa-apa dengan Sasuke!"
"Kau pasti tidak pernah tahu bahwa tunanganmu ini memilik teknik yang sangat luar biasa di atas ranjang."
"Sasuke, apa yang membuatmu begitu membenciku, sehingga kau meghancurkan hubunganku dengan Sakura?"
"Jadi kau mau tahu? Kau mau tahu betapa muaknya aku melihat kalian berdua?! HAH?! Betapa aku sangat jijik melihat kemesraan kalian berdua di hadapanku, seolah tidak mengetahui bagaimana perasaanku, dan ketika kau meminta izinku untuk menyatakan cintamu pada Sakura, saat Sakura dengan bahagianya menerima cintamu dan kalian berbahagia di atas kesedihanku!"
"Sasuke kau berlebihan~"
"DIAM SAKURA! KAU TIDAK ADAHAK BICARA DI SINI!"
"Ini menyangkut kehidupanku juga, aku—"
"Jadi apa maumu?"
"Aku ingin Sakura dan perusahaan Uchiha menjadi milikku, aku ingin kau pergi dari sini, aku ignin kau lenyap!"
PLAK!
"Aku benci padamu,S asuke. Sangat benci! Itulah mengapa aku lebih mencintai Itachi dari pada dirimu, sejak kecil kau selalu memaksakan kehendakmu, kau tidak pernah memikirkan perasaan orang lain, kau egois!"
"Kau benci padaku? Maka aku akan membuatmu membenciku, sehingga kau tidak akan pernah melupakanku, ikut aku!"
"Tidak! Itachii! Tolong aku!"
"SASUKE LEPASKAN DIA!"
"Coba hentikan aku kalau kau bisa."
"ITACHIIII!"
Itachi kembali pada kenyataan dan menatap wajah Sakura, dibelai pipinya dengan lembut, "Andai saja kami tidak egois," gumam Itachi pelan, "kau pasti bisa bahagia bersama orang lain."
Ruangan itu sangat sepi. Hanya terdengar bunyi beberapa alat dari mesin yang membantu perawatan tubuh Sakura. Melihat wajah cantik Sakura penuh dengan bekas luka, walaupun sudah hampir hilang namun tetap saja membuat Itachi merasa sangat miris. Andai saja saat itu Itachi langsung menarik Sakura, mencegah Sasuke untuk membawanya pergi dari sisinya. Hanya saja semua sudah terlambat, percuma menyesali hal yang sudah terjadi. Sekarang, Itachi hanya bisa berdoa agar Sakura sadar. Dan melupakan semua hal yang sudah terjadi, kemudian membangun hidup yang baru... berdua.
.
.
Ino memasuki kamar rawat dimana Sasuke sedang terbaring, kondisi Sasuke sebenarnya mulai membaik, namun Ino merasa heran kenapa laki-laki itu belum juga membuka matanya. Tsunade sedang meneliti organ-organ dalam milik Sakura sehingga tugas memeriksa kondisi Sasuke dierahkan pada Ino. Wanita yang sudah memiliki tunangan ini melihat sekeliling wajah Sasuke yang terdapat luka memar di kelopak mata kanannya.
"Waw, itu pasti sakit sekali," gumamnya pelan.
"Fisik bagus, detak jantung bagus, pernapasan bagus." Ino mencatat semua apa yang sudah dia periksa, sampai dia merasa ponselnya bergetar, Ino langsung bergegeas keluar dan mengangkatnya, "halo, Sai."
"Ino, apa salah satu diantara ketiga pasien kemarin sudah ada yang sadar?"
"Ya, sudah. Uchiha sulung sudah sadar sejak seminggu yang lalu, ada apa?"
"Aku mendapatkan tugas untuk menyelidiki kasus kecelakaan itu, apa Uchiha menyinggung masalah rem yang rusak?"
"Rem rusak?"
"Ya, setelah aku periksa ke lokasi dan memeriksa kedua mobil sport itu, kabel rem kedua mobil itu terputus, seperti ada yang memotongnya."
"Jadi kecelakaan itu direncanakan?"
"Sepertinya, aku masih harus mewawancarai salah satu diantara mereka, bisakah aku ke sana sekarang?"
"Ehm, ya... tentu saja, tapi mereka adalah tipe yang sangat susah diajak bicara, kau harus berusaha."
"Jangan lupakan aku ini adalah detektif, Ino."
"Hehehe, baiklah, sampai jumpa."
Ino menutup ponselnya dan kembali ke kamar untuk mengambil berkas-berkas yang sengaja ia tinggal. Namun saat dia memasuki kamar, kedua mata Ino terbelalak.
.
.
Suara langkah lari terdengar di lorong rumah sakit, seorang wanita pirang berlari menuju ruangan Tsunade namun tidak menemukan siapapun di sana, kemudian wanita itu beralih ke ruangan Shizune namun Shizune pun tidak ada. Akhirnya wanita bermata aquamarine itu memutuskan untuk pergi ke kamar Uchiha sulung, tapi tidak menemukan siapa-siapa.
"Kemana semua orang disaat genting seperti ini!" geram Ino.
Ino melanjutkan langkahnya, berlari menuju kamar yang dia pikir Uchiha sulung pasti ada di sana—di kamar Haruno Sakura.
Sreeeg.
"Uchiha," panggil Ino. Dan Itachi menoleh, "adikmu, Sasuke—dia sudah sadar."
~TBC~
A/N : abaikan beberapa typo nya hahahhaaa, aku lagi males cek2 lagi #plak
Qamara-chan Hyuuga : ehehehee, makasiihhh :3 happy end atau sad end ya? itu sih tergantung penanggapan kalian aja ._.
Uchiha-fitriyah : di chapter2 depan porsinya akan nambah kok, mereka kan lagi koma, jadi scenenya dikit :3
BLACK 'SS' PEARL : real pairnya ya hehehheee, ehm, kasih tau ngga ya... nanti ngga seru dong kalau dikasih tau hehehee...
gadisranti3251 : iyaaaa, hehheheee
Kumada Chiyu : hahahahaa, XD
aye-kun : saiIno ada orang ketiga kok XD
Luca Marvell : ngga ada paksaan nikah kok, cuma bentrok terpendam aja XD
Hime Hime Chan : Sasukenya udah mulai sadaaarr, tapi Sakuranya beyuummm :3
azurradeva : yeaaayy, hehehee, chapter ini Ino nya dikit, chapter depaan baru banyak lagi XD
Anka-Chan : iya, sasusaku dua chapter lagi banyak kok XD
untuk side stroy ketemunya Ino sama Sai pertama kalinya nanti aku buat ya, tapi ngga sekarang hehehehee
okee, sampai ketemu di chapter depan XD
XoXo
V3 Yagami
