Jika biasanya yoongi membuat hanya satu makanan untuk sarapan. Sekarang yoongi membuat satu makanan lagi untuk seorang pria yang menghuni rumahnya.
Yoongi telah selesai menyajikan sarapan dan menunggu jungkook selesai dengan acara mandinya.
"Yoongi, kau tak memiliki pakaian lain? Aku telah mengobrak abrik lemarimu dan semua pakaianmu itu tak cocok di tubuhku" jungkook menghampiri yoongi dengan handuk yang melingkar di pinggangnya.
"Apa? Kau mengobrak abrik lemari ku? Apa kau merapikannya kembali?" jungkook menggeleng sebagai jawaban. "Ugh dasar" yoongi segera melangkah menuju kamarnya sedangkan jungkook duduk di kursi meja makan dan mencicipi masakan yoongi.
Yoongi melihat tumpukan pakaian diatas kasurnya seperti gunung. "Dasar jungkook sialan"
Yoongi menggaruk tengkuknya, "dan jika semua pakaian ini tak cocok untuk jungkook, dia akan memakai apa? Tak mungkin aku membiarkannya memakai handuk terus"
Tunggu, sekarang adalah hari libur kan? Iya, sekarang hari minggu. Mungkin dahyun akan pergi keluar hari ini, dan dengan segera yoongi mengambil handphonenya untuk menelfon dahyun.
"Ah hallo dahyun-ah? Kau, apa kau akan pergi hari ini?"
'Ya, apa kau ingin menitipkan sesuatu lagi?' yoongi terkekeh pelan mendengar sindiran halus dari sebrang sana. Dia memang sering menitip sesuatu untuk dibeli pada dahyun jika dia sedang malas keluar rumah.
"Hehe- maaf merepotkanmu. Tolong belikan satu set pakaian dengan ukuran yang lebih besar dariku, tolong"
'Lebih besar darimu? Apa kau mau memberikan ini untuk kekasihmu? Kau berbalikan dengan Namjoon?' yoongi meringis pelan.
"Bukan! Pokoknya kau bawa saja satu set pakaian yang lebih besar dariku, aku akan menceritakan semuanya jika kau sudah sampai dirumahku"
Saat itu pula sambungan telfon terputus, yoongi memutuskan untuk membiarkan pakaiannya seperti itu dulu. Dia harus mengisi perutnya dulu.
Yoongi dibuat jawdrop lagi melihat satu piring yang sudah kosong. "Kau bahkan makan tanpa menunggu ku?" yoongi duduk dihadapan jungkook.
"Apa harus?"
"*Hidoi! Aku bahkan menunggumu dulu tadi ck"
Dengan mulut yang mengerucut yoongi mengambil sendok dan menyantap makanannya. Sementara jungkook terus melihat kearah yoongi.
"Pakaian?"
"Temanku sedang membawakan nya. Kau tunggu saja" jungkook mengangguk mengerti lalu pergi dari area dapur dan ruang makan.
Jungkook merebahkan tubuhnya diatas sofa. Entah terlalu terbiasa atau apa rasanya luka yang dia dapat bahkan tak dapat ia rasakan lagi.
Yoongi melihat jungkook yang tengah berbaring dengan tenang. "Kau terlihat biasa saja untuk seorang manusia dengan penuh luka seperti itu. Aku penasaran bagaimana kau bisa mendapat luka sebanyak itu dan masih bertahan hidup."
"Aku hidup untuk ini" yoongi mengerjap mendengar jawaban jungkook, "k-kau.. Benar benar maso?"
"*Baka, pergilah jangan banyak bicara. Aku ingin tidur" memangnya ini rumah siapa?-
Yoongi kembali memasuki kamarnya dan membereskan kekacauan yang dibuat jungkook. Dia benar benar manusia aneh yang pernah yoongi temui setelah namjoon.
Omong omong dengan namjoon. Yoongi tak pernah menemukan pria itu lagi, setidaknya tidak di seoul.
Namjoon adalah pria dengan penuh kelembutan dihadapan yoongi. Namun entah mengapa dia meninggalkan yoongi bahkan tanpa menoleh kebelakang. Dan yoongi tau itu artinya akhir dari hubungan mereka berdua.
2 tahun bukan waktu yang singkat dalam menjalani hubungan. Selama dia berhubungan dengan namjoon, dia tak pernah merasa bosan dan namjoon bahkan tak pernah melihat pada orang lain yang lebih baik darinya.
Tak ada masalah berarti diantara mereka, namun namjoon meninggalkannya begitu saja. Yoongi masih tak mengerti hingga sekarang, yoongi tak pernah mengerti kenapa.
Yoongi terus merenung dengan lengan yang merapikan pakaiannya/? Hingga suara jeritan melengking membuatnya tersadar pada dunia. Itu jeritan dahyun. Tunggu- mengapa dahyun menjerit? Apa- jungkook?!
Benar saja, apa yang ia lihat sekarang adalah- dahyun dengan telinga yang memerah dan wajah yang ia tutupi. Yoongi sangat yakin jika wajahnya sangat merah.
Dan jungkook yang tengah mencoba bangkit dengan malas dan mengusak rambutnya. "Berisik sekali" gumamnya malas.
"D-dahyun-ah?" dahyun segera membuka tangannya dan melihat kearah yoongi.
"Yoongi!" dahyun segera berlari kearah yoongi, "siapa itu yoongi? Mengapa ada pria cabul dirumahmu?!" yoongi mengeryit. P-pria cabul?
"Ng.. Omong omong mana pakaiannya?" dahyun menyerahkan kantung belanjaannya pada yoongi. Dan yoongi melemparkannya pada jungkook, "nah, segera pakai"
Jungkook mengambil pakaiannya dan segera pergi kekamar yoongi dengan melewati yoongi dan dahyun. Dahyun sedikit mengubah posisi berdirinya memunggungi jungkook saat pria itu melewatinya.
Dahyun hendak membuka suaranya, "aku tau, mari aku ceritakan" yoongi menarik pelan tangan dahyun untuk duduk di sofa bersamanya.
"Sebenarnya, aku tak benar mengetahui siapa pria itu. Yang aku tau hanya namanya dan-"
"Jadi kau membawa pria asing kerumah mu?! Bagaimana kalau dia itu-" yoongi membekap mulut kecil dahyun dengan tangannya.
"Dengarkan aku dulu, kau ini cerewet sekali. Aku menemukannya terkapar karena dipukuli oleh sekumpulan pria dengan badan besar. Mana mungkin aku membiarkan orang yang rasanya hendak mati itu sendirian? Maka dari itu aku membawanya kerumahku dan mengobatinya. Kau mengerti?" Yoongi menurunkan tangannya dan dahyun mengangguk anggukan kepalanya pelan.
"Apa kau tau penyebab dia di pukuli? Tak mungkin dia dipukuli tanpa sebab 'kan?" Yoongi menggeleng gelengkan kepalanya.
"Aku tidak tau, tapi saat aku mengobati lukanya.. Aku melihat sebuah tatto yang entah mengapa menurutku itu memiliki arti tersendiri"
"Seperti apa?" Yoongi berpikir sejenak dan menjetikkan jarinya.
"Sangat rumit! Itu seperti-"
"Yoongi" yoongi menolehkan kepalanya kearah pemilik suara berat yang memanggilnya. "Ya?"
"Bisakah kau buatkan aku teh manis?" Yoongi mengeryit tak suka, "yak! Aku ini pemilik rumah, bukan pesuruhmu, jeon jungkook"
"Sudahlah buatkan saja" setelahnya jungkook kembali memasuki kamar yoongi.
"Baiklah kalau begitu, yoongi. Aku pulang dulu ya, ada sesuatu yang harus aku lakukan" Yoongi menganggukan kepalanya, dan dahyun berdiri sembari menenteng tasnya.
"Eh tunggu- uang nya?"
"Besok saja, bye~" dahyun tersenyum dan menghilang dibalik pintu utama rumah yoongi, sebelum yoongi sempat mengucapkan "hati hati"
"Ah! Teh manis" yoongi bergumam pelan lalu berlari kecil kearah dapurnya dan membuatkan dua gelas teh manis.
.
.
Jungkook melihat keluar dari balkon kamar yoongi. Dengan tangan yang bertumpu pada besi pembatas balkon.
Dia lalu menghembuskan nafasnya. Dia ingin pergi, namun keadaan diluar tak memungkinkan. Apalagi sekarang keberadaan dirinya berhasil diendus oleh musuh.
"Apa kau tidak kedinginan diam diluar?" Jungkook melirik yoongi dari sudut matanya. Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.
"Ini, teh manis yang hangat"
Yoongi menyodorkan segelas teh padanya, dan jungkook menerimanya lalu menggenggam gelas tersebut dengan kedua tangannya. Hangat.
Yoongi menyeruput tehnya dan ikut melihat keluar, "sudah mulai memasuki musim dingin" dan bergumam pelan. Jungkook hanya berdehem pelan dan menyeruput tehnya.
"Yoongi" yoongi menoleh pada jungkook, "hm?"
"Tolong rahasiakan apa yang kau lihat ditubuhku. Pada siapapun" yoongi mengerjapkan matanya.
"Memangnya kenapa?"
"Pokoknya kau rahasiakan saja."
"Tapi dahyun-"
"Tak ada orang yang bisa kau percayai di dunia ini. Bahkan keluargamu sekalipun"
Yoongi membeku. Lalu jungkook, apakah pria ini berpikiran buruk juga padanya? Bahkan setelah yoongi membantunya?
"Apa kau sebegitu tak berperasaannya?" Yoongi menggumamkan apa yang sedang dia pikirkan.
"Yoon-" yoongi melangkahkan kakinya menjauh dari jungkook.
Jungkook menggeleng gelengkan kepalanya, dia merasa tak enak pada yoongi entah kenapa. Tenanglah jeon jungkook, kau sudah mengalami kehidupan dengan kejceroboh-
merasa nyaman pada orang yang baru kau temui? Aku memang tak berperasaan, pada siapapun. Bahkan yoongi sekalipun.
Dia tak boleh seperti kucing liar yang langsung merasa nyaman saat diberikan elusan kecil oleh manusia.
Yoongi mendengus dan menghentakkan tubuhnya untuk duduk di sofa. Dia lalu menyalakan televisi dengan menekan remote kontrol penuh nafsu/?
"Si jeon jungkook itu, apa dia tak ada rasa terima kasihnya? Cih." Yoongi meneguk tehnya dengan cepat.
"Ssh- sial panas" dasar ceroboh-
.
.
.
Hari mulai malam, bulan menggantikan matahari untuk memancarkan cahayanya.
Yoongi menyiapkan benang wol dan jarumnya, dia sedang ingin merajut syal untuk persiapan musim dinginnya. Salju juga sudah mulai turun malam ini.
Yoongi tiba tiba dikejutkan oleh suara bersin yang sangat keras. Apakah itu jungkook? Yoongi menyimpan semua barang rajutnya di atas sofa dan menghampiri jungkook dikamarnya.
Dia melihat jungkook duduk dibawah kasurnya sembari memeluk tubuhnya. "Apa yang kau lakukan disana?" Yoongi menghampiri jungkook dan memegang tangannya. Dingin sekali.
"Kau kedinginan? Bahkan salju diluar masih sangat sedikit" yoongi mengambil selimut tebal dan hangatnya. Dia lalu menyelimut tubuh jungkook.
"Kau tak tahan dengan cuaca dingin ya?" Jungkook tak menjawabnya, tapi dia memegangi tangan yoongi.
Yoongi hendak melepaskan genggaman tangan jungkook pada tangannya. Namun jungkook menolak dan menarik yoongi dalam pelukannya hingga kedua tubuh mereka terselimuti.
"Kau hangat, tetaplah disini" jungkook menumpukan dagunya pada bahu yoongi dan merapatkan pelukannya.
Bola mata yoongi melebar dengan sempurna, belum lagi jantungnya berdebar dengan cepat. "J-jungkook" gumamnya pelan.
Jungkook membenamkan wajahnya pada ceruk leher yoongi. Rasanya benar benar nyaman, dia merasa sangat nyaman berada dekat dengan yoongi seperti ini.
Yoongi semakin tak berkutik saat merasakan hembusan nafas halus dilehernya.
.
.
.
Tbc
Maaf pendek(;ω;)
