Take Me, Knot Me

oOo

Part 3 : Tzuyu

oOo

Jongin merasa begitu lelah dan juga mengantuk selama perjalanan menuju tempat tinggalnya. Ia memutuskan untuk turun dari bis dan berjalan kaki sembari membeli segelas kopi untuk membuatnya sedikit terjaga.

Hyera menelpon dirinya menggunakan telepon umum, mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja, mengharap agar Jongin bisa cepat pulang karena gadis kecil itu tidak ingin sang kakak membiarkannya terlalu lama sendirian. Jongin meminta maaf, mengatakan kepadanya bahwa sebentar lagi dirinya akan pulang, juga untuk tidak menunggu dirinya karena waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, ia harus tidur karena besok masih merupakan hari aktif sekolah. Pembicaraan keduanya terputus karena baterai ponsel Jongin habis.

Jongin berjalan sedikit lebih cepat saat kedai kopi terlihat dari tempatnya sekarang, namun secara tidak sengaja ia menabrak bahu seorang lelaki yang mengakibatkannya hampir terjatuh. "Maafkan aku."

"Kai?"

Jongin merutuk di dalam hati setelah mengetahui bahwa pria yang ditabraknya merupakan seorang alpha yang pernah mencicipi tubuhnya, salah satu dari sekian orang yang menjadi klien favorit di klub milik Park.

"Ah, Mr. Dongwoon." Jongin berpura-pura seolah dirinya terkejut dan senang karena secara tidak sengaja telah bertemu dengan pria itu. Keduanya berbincang sebentar, sampai Dongwoon memutuskan untuk pergi karena memiliki sebuah janji dengan seseorang. Jongin menunjukkan wajah kecewanya, "Kita akan segera bertemu lagi, bukankah begitu?"

"Tentu. Aku akan mengunjungimu besok malam. Aku juga merindukanmu, sayangku."

Pria itu mencium bibirnya singkat, Jongin menutup matanya saat merasakan tangan Dongwoon menyentuh bagian belakang tubuhnya dan menyelipkan sesuatu pada saku celananya.

"Aku akan menunggumu, Mr. Dongwoon. Sudah lama kita tidak melakukannya bersama." ujar Jongin setelah ciuman keduanya selesai. "Tidakkah kau merindukan tubuhku?"

"Jangan membuatku nekad menyetubuhimu disini, sayang. Aku harus pergi."

Jongin tertawa dan melambaikan tangannya singkat, "Sampai jumpa besok." kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam kedai kopi.

Setelah memastikan bahwa pria itu telah benar-benar pergi, Jongin mengusap bibirnya dengan kasar, mencoba untuk menghilangkan rasa sepat cairan cinta yang terasa di ujung bibirnya. "Aku harap pria itu cepat mati. Sungguh mengesalkan."

Jongin memesan segelas kopi hitam, dicampur dengan sedikit susu demi menyamarkan rasa kopi agar tidak terlalu pahit untuk diminumnya. Melangkahkan kakinya keluar, ia mendapati sepasang muda mudi tengah makan malam di sebuah restoran cepat saji. Keduanya tampak berbincang dengan serius, Jongin terlihat sedang memperhatikan kedua pasangan muda itu, namun jauh di dalam pikirannya ia tengah membayangkan hal lain. Membayangkan bagaimana rasanya jika dirinyalah yang berada di dalam posisi salah satu dari mereka. Memiliki seorang pasangan untuk memadu kasih, seseorang untuk diperhatikan dan memperhatikannya. Seseorang untuk dicintai. Mate-nya.

Menyadari bahwa hal tersebut mustahil baginya, Jongin mencoba untuk membuang segala pemikiran bodoh itu. Namun ia tidak dapat menghalangi dirinya sendiri untuk menatap kembali pada dua orang yang berada dibalik kaca itu karena merasa tertarik akan hal yang dibicarakan oleh sepasang kekasih saat sedang bersama. Dan saat itu pula, terlihat sang gadis menggerakkan tubuhnya untuk pergi, meninggalkan pasangannya yang hanya berdiam diri tidak melakukan sesuatu untuk menghalanginya pergi.

Ia lantas berpikir bahwa tidak semua kisah cinta seindah bayangannya. Ia tidak membutuhkan hal lain jika itu hanya akan berakhir menyakiti dirinya. Dia sudah cukup menyedihkan.

Jongin telah bersiap untuk pergi, namun sepasang mata menghalanginya untuk berbuat demikian. Ia merasa kakinya membeku tidak bisa digerakkan, seiring dengan tatapan mata bewarna silver menyala yang kini mengamati dirinya dengan seksama. Jongin melakukan hal yang sama. Dan diluar dari perkiraan Jongin, pemuda yang memiliki mata bewarna silver itu tersenyum kepadanya. Hampir membuat sudut bibir Jongin berkedut dan secara tidak sadar melakukan hal yang sama. Namun sebelum itu terjadi, Jongin telah mengambil langkah untuk pergi. Menghiraukan perasaan hangat yang menjalar pada hatinya.

Ada apa denganku?

oOo

Sehun melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas, saat itu pula ia melihat sosok Tzuyu yang kini juga menatapnya.

"Hai."

"Hai, Sehun." balas gadis cantik itu dengan senyuman yang bertengger di bibirnya. Ia tampak lebih baik dari malam sebelumnya, dan hal tersebut membuat Sehun merasa senang juga lega.

"Sudah merasa lebih baik?"

"Ya, tentu." senyumnya sedikit pudar, "Sehun, soal tadi malam. Aku benar-benar minta maaf."

"Tzu, sudah aku bilang tidak apa. Jika kau menginginkan aku untuk tidak membahasnya, akan aku lakukan asalkan kau juga melakukan hal sama. Kita bisa pergi bersama lagi lain waktu, jika itu yang kau inginkan."

"Tentu saja!" Tzuyu memeluk Sehun dan mencium pipinya singkat, "Terkadang kau sangat pendiam dan acuh, namun ternyata kau juga sangat perhatian dan manis kepadaku. Hal itu yang membuatku begitu menyukaimu."

"Nah, terimakasih karena telah mengakuinya."

Tzuyu tersenyum penuh maksud, "Jadi, malam ini?" tanyanya. Sehun menggumam sembari berpikir, "Karena kemarin tidak bisa dikatakan berhasil, maka ya. Aku akan menjemputmu, jam tujuh malam seperti biasanya."

"Aku mencintaimu," Tzuyu mengacak rambut Sehun dengan gemas. Sedetik kemudian ia teringat akan sesuatu, "Ah, benar. Kemarin malam aku melihatmu, hmm."

"Ada apa?"

Tzuyu menatap mata Sehun yang bewarna hitam pekat. Ia menggeleng, "Tidak ada. Mungkin aku hanya salah lihat."

oOo

Jam tujuh malam. Sama seperti malam sebelumnya, Sehun telah berdiri di samping mobil merah milik ayahnya. Akhir-akhir ini sang ayah selalu pulang terlambat, beliau tidak akan tahu jika Sehun meminjamnya secara diam-diam. Ia menunggu Tzuyu untuk keluar dari rumahnya, namun sampai waktu menunjukkan pukul tujuh lebih empat puluh delapan menit, gadis itu tidak kunjung keluar.

Sehun menimbang-nimbang apakah dirinya harus mengetuk pintu rumah gadis itu atau menunggunya sedikit lebih lama lagi. Namun mengingat pesan Tzuyu yang meminta kepadanya untuk selalu menunggu di luar, akhirnya Sehun memilih keputusan yang kedua.

Delapan lebih dua menit, gadis itu masih tidak keluar dari dalam rumahnya, atau sekedar menunjukkan tanda-tanda kehadirannya. Sehun mulai merasa tidak sabar dan juga khawatir, ia melangkahkan kakinya menuju pagar rumah gadis itu yang hanya sebatas dada, kemudian membukanya. Pemuda itu mengetuk pintu rumah Tzuyu beberapa kali, namun tidak ada sahutan di dalam sana. Ia mencobanya lagi dan akhirnya mendengar suara derap kaki yang diikuti dengan rentetan umpatan seorang lelaki dari dalam rumah sang gadis.

Pintu terbuka menampakkan seorang lelaki yang wajahnya hampir sama dengan Tzuyu. Zoulin, adalah kakak laki-laki satu-satunya yang dimiliki oleh gadis itu. Berbeda dengannya, Zoulin memiliki watak yang keras dan juga pemarah, terkadang membuat Sehun khawatir pada Tzuyu karena sang kakak kabarnya suka bermain tangan dan tidak segan memukul adiknya jika ia berbuat salah barang sedikitpun.

"Ah, lihatlah. Siapa yang datang sekarang." Zoulin menyambutnya dengan tatapan tajam. Pertemuan keduanya selalu berakhir dengan pertengkaran, Sehun tidak ingin membuat masalah dan memilih untuk mengalah.

"Apa Tzuyu ada di dalam?" tanyanya secara baik-baik. Terlihat wajah Zoulin sedikit mengeras, ia juga memaksakan tawanya.

"Gadis itu tidak berada di rumah." Tanpa menunggu jawaban dari Sehun, Zoulin mencoba untuk menutup pintunya. Namun sedikit kalah cepat dari Sehun yang mengahalanginya untuk berbuat demikian.

"Apa maksudnya? Kemana Tzuyu pergi?"

"Aku tidak tahu! Pergilah!" bentak yang lebih tua, Sehun mulai curiga atas sikapnya yang aneh.

"Tidak sebelum kau mengatakan padaku kemana Tzuyu pergi." Sehun mengeluarkan sisi alphanya. Namun Zoulin sama sekali tidak merasa ketakutan, justru alpha yang sebenarnya lebih lemah daripada Sehun itu membalas tatapannya dengan seringaian.

"Apa? Kau bersikap seolah-olah dia adalah mate-mu. Ini sedikit lucu melihat ada seorang alpha yang menyukai gadis gila itu. Apa jangan-jangan kau juga gila sama sepertinya?"

Amarah Sehun tersulut. Kedua irisnya berubah warna menjadi merah, tangannya sudah bersiap untuk memukul Zoulin kapanpun jika alpha itu berani untuk melanjutkan ucapannya.

"Kau."

Belum sempat melanjutkan ucapannya, Sehun mendengar bunyi benda bergeser tidak jauh dari tempatnya sekarang. Ia menatap Zoulin tidak kalah tajam, "Apa-"

"Itu bukan dia!" potong Zoulin, memberontak dari jangkauan Sehun dan berusaha untuk mendorongnya keluar. "Aku bilang pergi!"

Sehun menampik tangannya, berganti mendorong Zoulin dengan seluruh tenaganya hingga Zoulin terjungkal ke belakang dan menabrak gantungan baju yang berada di dekat dinding. Sehun berlari menuju sumber suara. Dan benar saja, aroma samar Tzuyu tercium saat Sehun melewati tangga menuju lantai atas. Ia membuka pintu kamar gadis itu dan terkejut setelah mendapati Tzuyu terikat di ranjang dengan mulut yang dililit lakban.

"Tzuyu!"

Gadis itu menangis dan meronta, terlihat beberapa benda berserakan disekelilingnya, terjatuh akibat tendangan kakinya yang bebas. Sehun mencari gunting, kemudian memotong lilitan tebal lakban yang menutupi hampir separuh wajah Tzuyu kecuali hidung juga matanya yang sembab.

"Sehun, tolong aku. Sehun, tolong aku."

"Tidak apa. Aku mendapatkanmu. Tenanglah. Aku disini." Sehun memeluk gadis itu dengan erat setelah membebaskan tangannya yang terikat. Tzuyu menangis semakin keras saat Zoulin muncul dari balik pintu dengan wajah yang memerah.

"Kau."

"Aku akan membunuhmu!" Sehun menghempaskan tubuh yang lebih pendek darinya itu ke tembok, kemudian menghajarnya secara membabi buta tidak memperdulikan teriakan Tzuyu yang memintanya untuk berhenti.

oOo

"Kau tidak gila. Zoulin adalah orang yang lebih pantas disebut gila. Aku masih tidak bisa mempercayai perbuatannya mengikatmu hanya karena kau memintanya untuk berhenti menggunakan obat."

"Sehun," Tzuyu mencoba untuk menenangkan Sehun yang masih merasakan amarah kepada kakak gadis itu. Keduanya berada di halaman depan rumah ibu Tzuyu, Sehun baru mengetahui bahwa ternyata ibu Tzuyu tidak sedang berada di luar negeri melainkan sebuah kota kecil yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Kedua orang tua gadis itu telah bercerai sejak empat tahun yang lalu, kemudian ayah Tzuyu menikah dengan seorang omega yang selama ini menjabat sebeagai sekretarisnya sementara ibu Tzuyu memilih untuk tinggal di rumah orang tuanya. Sehun masih belum bisa percaya bagaimana Tzuyu bisa menutupi hal tersebut darinya, dan bagaimana bisa gadis itu tinggal dengan kakaknya seorang diri selama beberapa tahun terakhir. "Tidak semua yang dikatakan oleh Zoulin salah. Ini semua salahku. Aku kembali hilang kendali atas diriku sendiri. Aku mencoba untuk mendorongnya jatuh dari tangga, meskipun sebenarnya aku sama sekali tidak bermaksud untuk berbuat seperti itu. Seolah-olah ada sesuatu yang mengendalikan pikiranku, namun setelah aku mencoba untuk mengetahuinya, itu hanyalah aku. Semuanya karena aku." Tzuyu menangis terisak, dan sang alpha mendekap tubuhnya erat sembari mengucapkan kata penenang untuknya sampai gadis itu tenang.

"Tzuyu, dengarkan aku." Sehun meletakkan telapak tangannya pada kedua sisi wajah gadis itu, kemudian mencium dahinya lembut. "Kau sama sekali tidak berbuat kesalahan. Kita bisa mengatasi ini, aku akan membantumu. Aku selalu ada disini untuk membantumu."

"Bagaimana bisa kau- Sehun aku ini gila! Aku bahkan tidak bisa mengendalikan diriku sendiri!"

"Kau tidak gila! Apa kau mendengarku? Kau bukan orang yang seperti itu. Kau melakukan hal yang benar, jadi jangan mencoba untuk menyalahkan dirimu sendiri." Sehun mengusap lelehan air mata yang kembali mengalir pada wajah gadis itu. "Kita akan menghukumnya bersama karena dia pantas menerima itu. Sementara itu aku mohon padamu, Tzu. Jangan pernah menyerah, karena aku tidak akan melakukannya. Aku akan membantumu."

"Sehun."

"Apa kau akan baik-baik saja jika tinggal disini bersama ibumu?" Tzuyu mengangguk, menenggelamkan wajahnya pada dada Sehun yang dihiasi oleh darah yang mengering. Ia kembali menangis saat mengingat wajah Zoulin yang tampak kacau, dan bagaimana cara alpha itu menatapnya saat ia mencoba untuk melarikan diri dari jendela kamar Tzuyu.

"Aku akan baik-baik saja. Aku hanya membutuhkan ibuku untuk saat ini karena hanya dengan dirinyalah aku dapat merasa begitu aman."

"Baiklah. Kumohon hubungi aku disaat kau menbutuhkan apapun. Aku akan membantu sebisaku."

"Sehun. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk mengungkapkan rasa terimakasihku kepadamu. Aku sangat menyukaimu, kumohon jangan pernah meninggalkanku. Berjanjilah kepadaku."

"Aku berjanji." ucapnya, mencium bibir Tzuyu dengan lembut. Ia akan melindungi gadis ini sampai kapanpun.

oOo

"Kau pulang larut."

Sehun tertangkap basah oleh kedua orang tuanya disaat pemuda itu hampir berhasil menaiki tangga untuk pergi ke kamarnya. Ia menghela nafas, mendekati ayah dan juga ibunya yang masih terjaga di ruang bersantai. Sehun berusaha untuk tetap tersadar meskipun pandangannya mulai mengabur, yang ia inginkan hanyalah istirahat yang cukup setelah mengalami banyak hal dalam kurun waktu bersamaan. Namun tampaknya ayah Sehun tidak berpikir demikian.

"Kau berkelahi? Ada banyak darah pada bajumu." ayahnya tampak terkejut, begitupula dengan ibunya yang segera mendekati puteranya kemudian memeriksa seluruh bagian tubuhnya. "Apa kau baik-baik saja? Oh sayang, mengapa kau melakukan ini?"

"Aku baik-baik saja." jawab Sehun pelan.

"Tentu saja kau baik-baik saja. Jika tidak, akan aku pastikan akulah orang yang akan menghajarmu." Ibu Sehun mencoba untuk menghalangi sang suami yang hendak memukul Sehun. Sementara pemuda itu merasa sedikit muak akan sesuatu.

"Biarkan ayah memukulku, ibu. Setidaknya hanya itu yang bisa aku terima sebagai hukuman karena tidak bisa menjadi anak yang sempurna baginya. Ini sedikit lucu, disaat aku tengah memperjuangkan sesuatu kalian berdua justru sibuk memikirkan cara untuk terus menyiksaku. Lakukanlah, ayah. Pukulah aku sampai ayah puas, karena aku tidak mempunyai banyak waktu, aku membutuhkan waktu tidur yang cukup agar aku tidak terlambat pergi ke sekolah besok pagi. Ayah dan ibu menginginkan aku agar menjadi murid yang teladan, bukankahkah begitu?"

Orang tua Sehun kehilangan kata-katanya. Keheningan melanda selama beberapa saat sebelum bunyi tamparan terdengar secara menyakitkan, ibu Sehun menampar puteranya dengan keras.

"Jaga sikapmu, Sehun!"

Ayah Sehun tertawa seolah menghina keberanian dirinya, "Apa kau mabuk?"

"Tidak."

"Kemudian, apa kau meminum obat-obatan terlarang?"

"Aku tidak." geram Sehun.

"Lalu mengapa sikapmu bisa seberani ini kepadaku? Kau mulai bertingkah diluar batas! Aku tidak pernah mengajarimu untuk melakukan hal seperti ini!"

"Sayang, cukup!" Ibu Sehun kembali mencoba mencegah suaminya yang berniat untuk menyakiti Sehun. "Sehun, cepat masuk ke dalam kamarmu!"

Sehun menatap tajam kedua orang tuanya, kemudian melangkah dengan cepat memasuki kamarnya yang berada di lantai atas.

"Aku belum selesai, Sehun! Besok aku akan benar-benar menghukummu atas perilakumu!" ucapan ayahnya hanya dianggap sebagai angin lalu oleh Sehun yang kini membanting pintu kamarnya.

Setelah kepergian Sehun, ibunya mencoba untuk menenangkan sang suami yang segera mendudukkan dirinya diatas sofa karena masih merasa terkejut atas pemberontakan pertama Sehun kepadanya.

"Sayang, apa kau baik-baik saja?"

"Ya." jawab suaminya singkat. "Apa kau melihat matanya?" tanyanya setelah beberapa saat terdiam dan memikirkan sesuatu.

Istrinya mengangguk pelan, "Waktunya sudah tiba. Mungkin hal itulah yang menjadi alasan utama mengapa Sehun bisa berbuat seperti ini."

"Hm. Jika memang begitu, aku akan mencoba untuk sedikit memakluminya. Lalu, bagaimana dengan omega yang telah kau pilih untuk mendampingi malam pertamanya? Apa ia tahu bahwa masa Sehun datang lebih cepat dari dugaan?"

"Aku akan memanggilnya."

"Lakukan dengan cepat. Aku rasa Sehun akan mengalaminya kurang dari satu jam mendatang."

"Ya, tentu."

oOo

Sehun merasa benar-benar marah. Atas perkelahiannya dengan Zoulin, atas kesedihan Tzuyu, atas kedua orang tuanya, juga atas dirinya sendiri. Seolah-olah dirinya ingin melampiaskannya kepada sesuatu, seperti melempar benda-benda disekitarnya atau bahkan menyakiti seseorang. Ini begitu menyiksa, kepalanya mulai terasa panas, menjalar pada seluruh tubuhnya.

Nafasnya mulai tersengal. Ia mengusap wajahnya frustasi, mendudukkan dirinya di pinggir ranjang dan menggeram kesal.

Dirinya berada pada posisi tersebut selama beberapa saat. Namun setelah bulir keringat mulai bermunculan di dahinya, kemudian nafasnya yang semakin lama juga semakin memberat. Sehun akhirnya menyadari sesuatu.

Pemuda itu mendongakkan kepalanya, menatap lurus pada pantulan dirinya di cermin. Nafasnya tercekat, ia bahkan tidak bisa lagi berpikir secara jernih setelah melihat bayangan dirinya sendiri.

"Tidak. Jangan sekarang. Tidak. Tidak."

Matanya bewarna silver. Sehun menggelengkan kepalanya tidak percaya. Sebelum berpikir panjang, pemuda itu memutuskan untuk melompat dari atas balkon kemudian berlari sejauh mungkin dan secepat yang ia bisa. Kemanapun asalkan jauh dari rumahnya, dari kedua orang tuanya yang pastinya telah merencanakan sesuatu tentang ini semua.

Ia berlari semakin cepat. Hanya satu nama yang singgah dipikirannya untuk saat ini, "Tzuyu."

oOo