Pairing : KaiSoo & HanSoo

Cast : EXO Members

Genre : Romance & Drama

Warning : YAOI, Typo, AU, Fashion Story

.

By HopeIce

.

.

- Perfect Catwalk -

.

Kyungsoo benci akan berlari, dimana tubuh akan memproduksi lebih banyak cairan bernama keringat keluar dari pori-pori lalu menempel pada pakaian yang dikenakannya. Seperti saat ini, kemeja kotak-kotaknya terasa melekat pada tubuhnya yang basah. Jam tangan Dior warna hitam miliknya baru saja menunjukan pukul enam pagi. Matahari saja, masih entah bersembunyi dimana dan saat ini langit masih gelap untuk Seoul. Ia harus memaksa kakinya yang tidak terlalu panjang itu untuk berlari menuju halte bus terdekat.

Dengan berkas bercover biru di tangan kiri serta sepotong sandwich keju hasil karya seorang Kim Jongdae di tangan kanan, Kyungsoo berjalan sambil mengunyah. Bukannya Kyungsoo tidak bisa membuat sarapannya sendiri. Hanya saja, Ia sedang menyelesaikan beberapa berkas yang diminta oleh Baekhyun tepat jam empat pagi tadi. Entah berapa banyak sumpah serapah, makian, serta pukulan meja yang terdengar dari Kyungsoo. Disaat dirinya tengah bersatu dengan indahnya mimpi. Sang designer menelponnya untuk mencari tahu beberapa design yang sedang menjadi trend di Eropa untuk musim panas kali ini.

Hal ini tentu saja, langsung membuat Kyungsoo membuka matanya paksa dan mengakhiri ketenangannya. Ia memasang matanya untuk berselancar di depan laptopnya dan menyusun artikel-artikel itu menjadi satu. Jika Kyungsoo sibuk maka Jongdae pun mau tak mau harus ikut menjadi korban. Maka sebelum Kyungsoo mulai menyerangnya dengan tindakan halus seperti membangunkannya paksa. Jongdae sudah siap dan mulai menyiapkan sarapannya untuknya.

Suasana pagi yang cukup awal membuat bus tidak terlalu ramai oleh para penumpang. Kyungsoo sedikit bersyukur dan segera mencari tempat duduk. Ia menormalkan kembali nafasnya lalu berkutat dengan ponsel berwana hitam metalik miliknya sambil menyandarkan tubuhnya pada bangku bus.

Baru beberapa menit menghadapi ketenangan. Kyungsoo harus kembali menarik nafas panjang ketika membaca pesan singkat yang ada di dalam kotak masuknya.

Dari : Sehun

15 menit lagi atau kau akan dihujani bom atom!

Kyungsoo menaruh kembali ponselnya ke dalam tasnya dan segera turun dari bus. Letak halte yang memang tidak langsung berada tepat di depan Ice Mode membuat Kyungsoo kembali harus berlari. Lari dan lari. Kyungsoo mendekap berkasnya sambil terus berlari. Nafasnya yang tersengal dan buliran keringat kembali membasahi.

Kyungsoo hampir saja menabrak seorang pegawai kebersihan yang saat itu sedang mengepel lantai lobby Ice Mode. Beruntung Kyungsoo sempat berhenti dan akhirnya Ia membungkuk seraya meminta maaf dan segera kembali berlari menuju lift. Ia kembali mengambil ponselnya ketika mendengar suara pesan masuk.

Dari : Sehun

Cepat! Lantai 7 ruang design.

Kyungsoo melihat beberapa lift yang berada di depannya masih berada di lantai atas. Akhirnya, Ia berlari menuju tangga darurat. Kyungsoo memilih menaiki tangga menuju lantai tujuh. Dengan nafas yang terputus-putus, Kyungsoo sampai di lantai tujuh. Ia segera menuju ruangan berpintu kaca itu. Ia membukanya dan mendapati tim design sudah berada di sana. Baekhyun, dengan turtleneck shirt warna hijau tua dan celana panjang hitam. Wajahnya nampak pucat, rambutnya agak acak, dan matanya berkantung. Kyungsoo menduga bahwa sang designer sepertinya tidak tidur semalaman.

Baekhyun tengah berdiri berkacak pinggang sambil memperhatikan lembaran kertas lebar yang dipasang di atas meja. Lalu Chanyeol, yang setidaknya lebih terlihat manusiawi dengan kemeja lengan panjang, vest, dan celana panjang berwarna abu-abu nampak lebih rapih. Disebelahnya Minseok dengan sweater cokelat dan tambahan scarf berwarna merah. Lalu sang peneror yang sejak tadi membuat Kyungsoo seperti atlet marathon, Sehun. Pagi ini, Ia hanya memakai kemeja putih bercorak bulat-bulat hitam dan celana bahan panjang.

Kyungsoo segera menghampiri Baekhyun dan memberikan berkasnya. Baekhyun menerimanya tanpa berkomentar dan langsung membuka berkas yang diberikan Kyungsoo. Kyungsoo memilih berdiri di samping Sehun dan memperhatikan Baekhyun, Chanyeol, dan Minseok yang sedang berdiskusi.

"Aku akan membunuhmu, Sehun." Desis Kyungsoo sambil menyandarkan tubuhnya di tembok.

"Sebelum kau membunuhku. Aku sudah tergeletak tak bernyawa, Kyungsoo." Bisik Sehun dengan suara yang sangat lirih sehingga hanya Kyungsoo yang dapat mendengarnya. Bagai suatu koor yang kompak. Sehun dan Kyungsoo menghela nafas panjang bersamaan.

"Jam satu, Baekhyun menelponku untuk mengambil gambar design di apartemennya. Tiga puluh menit setelah itu, Ia memintaku untuk mengirimkannya langsung ke apartemen Minseok. Jam tiga lewat sepuluh, Ia kembali menelponku untuk mengambil design Chanyeol. Jam lima, aku kembali ke kantor untuk membantu mereka. Aku berterima kasih jika kau membunuhku, Kyungsoo." Sehun mengakhirinya dengan tarikan nafas panjang. Ya, Kyungsoo melihat jika temannya itu kini lebih menyerupai pucatnya mayat.

Perdebatan antara Baekhyun, Chanyeol, dan juga Minseok hanya dijadikan tontonan baik oleh Kyungsoo dan Sehun. Keduanya hanya memperhatikan dalam diam bagaimana ketiga orang tim design itu saling beragumen tentang design pengganti yang sesuai dengan keinginan pemilik Ice Mode yang baru. Akhirnya setelah hampir empat puluh menit, mereka mengakhirinya. Baekhyun kembali menggulung lembaran designnya dan memberikan kepada Minseok. Minseok segera menerimanya dan berjalan keluar dari ruangan diikuti Chanyeol.

"Sepertinya, design sudah selesai diputuskan." Bisik Kyungsoo lagi dan dibalas Sehun hanya dengan "yap".

Baekhyun nampak menghela nafas dan mengusap matanya kemudian Ia berjalan mendekat kearah Sehun dan Kyungsoo.

"Sehun, sebaiknya kau pergi ke kantin. Tiga puluh menit untuk sarapan dan kemudian kembali lagi ke lantai 6. Lalu kau, Kyungsoo. Aku menelponmu jam empat, itu berarti kau sudah melewatkan waktu sarapan dengan sangat bijak. Jadi, sekarang kau ke ruang penyimpanan dan infokan pada bagian itu bahwa design yang kemarin kita buat batal dan suruh mereka membumi hanguskannya. Oke. Kita bertemu di lantai enam, setengah jam lagi." Baekhyun segera pergi keluar ruangan setelah mengakhiri ucapannya.

Sehun hanya tersenyum singkat sambil memijat pundaknya. Ia berjalan keluar ruangan menuju kantin kantor diikuti Kyungsoo di belakangnya meski dengan tujuan berbeda.

Kyungsoo memilih menggunakan lift dan berjalan dengan sesantai mungkin. Ya, tiga puluh menit waktu yang cukup beruntung untuknya sebelum menghadapi kegilaan yang akan terjadi dilantai enam nanti. Ya, saat design yang mereka rundingkan tadi akan dibuat menjadi pakaian yang akan dikenakan oleh para model.

Kyungsoo menggeser pintu putih pada satu-satunya ruangan yang ada di lantai empat itu. Ruangan yang sangat besar berisi berpuluh-puluh pakaian, sepatu, aksesoris, tas, dan seluruh atributnya. Hasil karya para designer Ice Mode yang di simpan dalam ruangan itu. Semuanya tertata rapi dalam tiap-tiap bagian. Ia menghampiri seorang pegawai yang merupakan manager yang bertugas dalam ruang penyimpanan itu, Junmyeon. Pria dua puluh empat tahun itu nampak tengah memeriksa berkas pada clipboardnya.

"Pagi, Junmyeon." Sapa Kyungsoo dan Ia langsung memilih duduk pada salah satu bangku yang ada disana.

"Sepertinya pagimu cukup berat." Ledek Junmyeon dan langsung dihadiahkan tarikan nafas panjang oleh Kyungsoo.

"Aku tidak ingin membahasnya. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa design tuan Byun yang dipamerkan kemarin, Batal." Kyungsoo memijat pelipisnya saat melihat wajah Junmyeon yang menatapnya horor. Junmyeon segera duduk di samping Kyungsoo.

"Serius kau, Kyungsoo? Memangnya nyonya Xi sudah mengadakan rapat dan menolak designnya?" Junmyeon hampir saja berteriak dan masih mempertahankan eskpresi tidak percaya.

"Aku tidak berbohong, Junmyeon. Dan lagi yang menolak design bukan Nyonya Xi tapi tuan muda Kim." Kyungsoo menekankan suaranya.

"Ini gila." Tiba-tiba suara terdengar dari balik lemari sepatu.

Kyungsoo melihat Tao –timnya yang bertugas mengurus para model- muncul sambil menenteng high heels Jimmy Choo warna ungu ditangannya yang akan digunakan oleh para modelnya nanti. Tao menghampiri Junmyeon dan Kyungsoo. Ia langsung mendudukkan dirinya ditengah-tengah.

"Jadi gosip yang kudengar itu benar?" Dengan ekspresi yang sama terkejutnya seperti Junmyeon. Tao meminta penjelasan dari Kyungsoo.

"Itu bukan gosip. Kemarin, tuan muda Kim datang dan meminta tuan Byun mengulang designnya. Untuk itu, sekarang tim design seperti sedang berperang melawan Rusia. Penuh nuklir dan serangan bom atom." Kyungsoo sedikit agak melebihkan. Ia menyukai ekspresi kedua temannya itu yang mendadak menjadi seram.

"Astaga. Apa yang akan terjadi pada Ice Mode ke depan?" Desah Junmyeon frustasi.

"Bencana. Tsunami dan gempa bumi." Tambah Kyungsoo lagi.

"Oh, Tuhan. Sebaiknya mulai sekarang aku harus lebih rutin pergi ke gereja." Tao mengaitkan kedua tangannya dan menatap langit. Junmyeon dan Kyungsoo hanya menatap malas.

"Untuk apa?" Tanya Kyungsoo meledek

"Mendoakan tuan muda Kim agar ia tidak memberikan tsunami dan gempa bumi di Ice Mode." Jawab Tao dengan suara tawanya. Kyungsoo dan Junmyeon pun mau tak mau juga ikut tertawa lepas mendengar candaan pria yang menangani para model itu.

"Hei..hei.. Hentikan acara gosip kalian!" Yixing muncul dari balik pintu sambil membawa beberapa map tebal ditangannya. Ia terlihat juga sangat kelelahan dan kurang tidur.

Yixing memberikan satu map kepada Junmyeon dan Tao. "Nyonya Xi meminta kau mendata barang-barang yang tertulis di dalam map itu. Ia ingin mengambil beberapa pakaian lama dan meminta Baekhyun untuk merombaknya. Lalu kau, Tao. Nyonya Xi ingin kau mendata model-model yang selama ini dipakai Ice Mode. Aku punya firasat bahwa akan ada perombakan besar-besaran. Laporan itu harus sudah kau berikan padaku jam sembilan tepat."

"Mendadak sekali." Celetuk Tao dengan sedikit mengerutu.

"Ya, karena bencana akan segera datang. Rapat direksi dan seluruh kepala tim akan dimulai jam sepuluh nanti. Tidak hanya Nyonya Xi. Tuan muda Xi dan tuan muda Kim akan ada dirapat itu." Yixing menekankan suaranya dan langsung membuat baik Junmyeon serta Tao segera berdiri dari duduknya.

Junmyeon segera berlari sambil membaca map yang ada ditangannya. Ia sudah menghilang di balik lemari-lemari pakaian. Begitu juga dengan Tao, Ia menaruh mapnya itu di atas tumpukan empat kardus sepatu Jimmy Choo dan melesat keluar ruangan penyimpanan.

"Apa tuan Byun sudah tahu tentang rapat itu?" Kyungsoo menanyakan kepada Yixing dengan panik.

"Lima menit yang lalu." Jawab Yixing singkat dan saat itu juga suara ponsel Kyungsoo berbunyi. Kyungsoo membuka pesan yang masuk dan membacanya.

Dari : Sehun

Lantai 6. Cepat! Sebelum tuan Byun melemparkan granat.

Kyungsoo sekali lagi menatap horor ponselnya dan segera berlari keluar ruangan menuju lantai enam. Sungguh, jika ingin menjabarkan satu kata tentang hari Kyungsoo saat ini. Maka kata yang tepat adalah bencana. Ya, BENCANA.

000000000000

Jam sepuluh kurang lima belas menit. Ice Mode mendadak hening, bukan karena tenang tapi karena baik semua pegawai nampak panik dan gugup ketika melihat tiga orang penting Ice Mode memasuki lobby. Liyin nampak elegan dengan dress selutut yang dipadu padankan dengan jaket berbulu dan high heels berwarna gold. Di belakangnya berdiri berdampingan Luhan dan Jongin yang mengenakan setelan blazer lengkap, dasi, serta sepatu kulit yang mengkilap.

Mereka melangkah memasuki lift yang langsung membawa mereka menuju lantai dua, tempat yang akan digunakan sebagai ruangan meeting besar. Semua ketua tim yang berada di dalam ruangan langsung berdiri dan membungkuk hormat ketika ketiga orang itu masuk. Liyin duduk di bangku utama diikuti oleh Luhan dan Jongin.

Liyin segera membuka rapat tersebut dengan terlebih dulu mengenalkan Luhan dan Jongin. Luhan hanya tersenyum kaku ketika Liyin menyebutkan dirinya yang akan menjadi salah satu anggota dari tim seleksi. Tim yang bertugas untuk menyetujui atau tidak design yang dibuat oleh para designer Ice Mode. Sementara itu, Jongin hanya berdiri singkat kemudian kembali duduk ketika Liyin memperkenalkannya sebagai calon dari pemilik Ice Mode.

Rapat kemudian dilanjutkan dengan pemberian laporan dari masing-masing tim kreatif. Semua berjalan seperti biasa. Liyin menyetujui beberapa design dari tim yang bertanggung jawab dengan pembuatan aksesoris dan sepatu. Tidak ada bantahan juga baik dari Luhan ataupun Jongin. Kini giliran Baekhyun yang bertugas dalam pembuatan busana. Baekhyun nampak sedikit kikuk ketika Jongin mulai lebih serius memperhatikannya. Ya, orang yang dengan seenaknya memintanya membuat design baru. Baekhyun berjalan menuju papan board putih dan menaruh kertas designnya.

"Summer Soul. Gaun selutut dengan bagian bawah lebar dan tangan yang terbuka. Aku menambahkan dengan topi berdaun lebar serta high heels berwarna putih, sedikit diberikan hiasan manik-manik." Baekhyun memulai presentasinya di hadapan petinggi Ice Mode dan seluruh staf.

Tiba-tiba saja, Liyin mengangkat tangan dan memotong presentasi Baekhyun. Baekhyun terdiam.

"Ini design yang berbeda dari yang kau tampilkan kemarin. Ada apa?" Tanya Liyin sambil memandang heran Baekhyun. Baekhyun menghela nafas panjang sebelum mengeluarkan pembelaannya.

"Tuan muda Kim menyuruh mengganti design yang saya pamerkan sebelumnya dan memberi tenggat waktu seminggu. Ini beberapa design kasar yang baru saya rundingkan dengan tim." Suara Baekhyun terdengar menahan emosi. Ia tidak akan melupakan bagaimana hari-harinya yang seharusnya tenang karena designnya akan diproduksi, mendadak kacau karena harus kembali mengulang.

Liyin semakin terkejut sementara Luhan yang sudah tahu sebelumnya hanya terdiam. Semua yang ada di rapat tersebut juga menatap heran, dikarenakan Liyin yang notabennya masih menjadi pemilik Ice Mode terlihat tidak mengetahui apa yang telah dilakukan Jongin.

Jongin sendiri yang menyadari hal itu segera mengeluarkan suara batuk kecil dan menegakkan posisi duduknya. Ia memperhatikan seluruh anggota rapat.

"Design tuan Byun tidak memiliki karakter dari musim panas, seperti apa yang ia konsepkan. Jadi, aku hanya meminta ia untuk keluar dari zona amannya, Mom." Ucap Jongin setenang mungkin dan saat mengucapkan kata mom, Jongin tersenyum singkat sambil memandang Liyin.

"Kita masih punya beberapa waktu sebelum memulai produksi musim panas Ice Mode." Lagi Jongin menambahkan.

Liyin tak berkomentar apapun dan hanya mengangguk singkat lalu menyuruh Baekhyun kembali meneruskan presentasinya. Seluruh anggota rapat pun juga kembali fokus pada rapat. Tapi tidak termasuk Luhan. Ia menatap Jongin dengan tatapan yang sangat tajam. Jongin menyadari hal itu dan ia tidak berniat untuk meresponnya. Jongin memilih untuk mengacuhkan Luhan.

Rapat berakhir dua jam setelahnya dan design Baekhyun yang sudah dibuat disetujui beberapa oleh Jongin yang hanya merespon dengan -"Oke"-.

"Baiklah, Baekhyun. Aku dan Luhan juga setuju dengan Jongin. Kau bisa melanjutkan kembali designmu sampai selesai dan bersiap untuk enam hari lagi. Musim panas akan segera masuk jadi kita harus segera melaunching ke pasaran." Liyin mengakhiri ucapannya dengan menghela nafas panjang.

Liyin, Luhan, dan Jongin segera keluar dari ruangan menuju lantai sepuluh. Anggota tim yang lain pun akhirnya juga keluar setelahnya. Tidak ada pembicaraan selama di dalam lift hingga akhirnya mereka bertiga –Liyin, Luhan, dan Jongin- tiba diruangan tempat Liyin.

"Jongin, kenapa kau tidak membahasnya dulu padaku dan juga Luhan? Kita adalah tim saat ini." Tanya Liyin sambil menatap Jongin yang saat itu memilih duduk di sofa.

"Aku calon pemilik Ice Mode. Jadi aku berhak melakukan apapun demi kelangsungan Ice Mode. Kau memang masih menjadi pemilik saat ini dan anakmu adalah anggota tim, tapi tetap aku yang menjadi penentunya." Jongin menjawab dengan dingin.

"Jongin. Aku tahu itu. Aku dan Luhan tak pernah berniat memiliki Ice Mode. Aku hanya ingin kita menjadi tim. Demi Ice Mode, Jongin. Ini cita-cita tuan dan nyonya Kim." Liyin mendekat kearah Jongin. Jongin hanya membalas dengan mendengus dan berdiri dari duduknya.

"Aku tahu kau membenciku karena kau menganggap bahwa diriku berniat menggantikan posisi nyonya Kim. Tapi kau salah, Jongin. Aku selalu menghormati mendiang nyonya Kim meski aku juga mencintai tuan Kim. Aku menganggap nyonya Kim adalah sosok wanita sempurna yang tak akan pernah tergantikan dan disamakan oleh siapapun. Hakmu untuk membenciku tapi demi Ice Mode, bisakah kita bekerja sama? Ku mohon Jongin." Liyin berniat untuk mengenggam tangan Jongin tapi Jongin terlebih dulu menolaknya.

Jongin melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Liyin dengan sorotan mata yang penuh kebencian.

"Asal kau tahu aku membencimu, brengsek. Tapi demi Mom yang sangat mencintaimu dan menganggapmu seperti anak kandungnya. Aku mengalah. Aku akan membantu Mom dan itu berarti aku bersedia satu tim denganmu, Jongin. Demi Mom dan demi Ice Mode." Kali ini Luhan yang sebelumnya diam, melangkah mendekati Liyin dan Jongin. Ia juga menatap Jongin dengan sorotan mata marah.

Jongin menampilkan seringainya dan mendengus pelan. Ia menatap Liyin dan Luhan bergantian.

"Baiklah." Respon Jongin singkat. Jongin segera keluar dari ruangan, meninggalkan Liyin dan Luhan. Liyin segera kembali ke meja kerjanya dalam diam.

"Mom, kau baik-baik saja?" Tanya Luhan dengan lembut dan dibalas anggukan singkat oleh Liyin.

Liyin segera menyibukkan dirinya dengan map-map yang berada di atas mejanya. Sementara Luhan, Ia menghela nafas panjang dan kemudian memilih ikut ke luar ruangan. Ia menghampiri meja Yixing.

"Jika ada hal buruk yang terjadi pada Mom. Hubungi aku secepatnya." Perintah Luhan sambil menulis nomor ponselnya pada memo putih yang ada di atas meja Yixing. Yixing mengangguk singkat.

00000000000

Kyungsoo baru saja turun dari bus dan berjalan ditrotoar menuju apartemennya yang berjarak beberapa meter. Ia mengenggam sebuah paperbag besar di tangan kanannya. Ia melirik singkat jam tangannya yang kali ini menunjukkan pukul delapan malam. Hari yang cukup melelahkan baginya. Tubuhnya terasa semakin terbagi menjadi kepingan kecil.

Beruntung, rapat selesai dengan menghasilkan keputusan yang baik. Beberapa design disetujui dan mereka hanya perlu menambahkan sisanya. Pekerjaannya menjadi sedikit lebih teratur sehingga Kyungsoo dapat pulang dan beristirahat.

Kyungsoo berbelok ke kiri menuju sebuah tikungan jalan yang mengarahkan dirinya pada sebuah lapangan sedang yang digunakan anak-anak bermain bola basket. Ia melihat seorang gadis berumur sepuluh tahun yang duduk pada sebuah bangku besi panjang. Gadis itu serius memperhatikan beberapa temannya yang sedang bermain basket sehingga tidak menyadari kedatangan Kyungsoo.

Kyungsoo menepuk bahu gadis itu sehingga membuat sang gadis terkejut dan pada akhirnya tersenyum lebar.

"Malam, Seulgi." Ucap Kyungsoo dan memilih duduk di samping gadis bernama Seulgi itu. Seulgi adalah anak yang tinggal bersebelahan dengan Kyungsoo. Kyungsoo sudah menganggap Seulgi sebagai adik kecilnya karena Kyungsoo memang hanya anak semata wayang dan kedua orang tuanya tinggal di Jepang.

"Malam, paman Kyungsoo." Gadis itu tertawa lebar hingga deretan giginya yang putih terlihat dan mata yang kecil itu menghilang. Kyungsoo memberengut dan Seulgi kembali tertawa lepas. Ia tahu jika Kyungsoo tidak suka jika dirinya dipanggil paman.

"Jika kau masih memanggilku paman, maka aku tidak akan memberikan apa yang ada di dalam paperbag ini." Ancam Kyungsoo dan seketika itu juga Seulgi segera melirik paperbag besar yang ada di tangan Kyungsoo.

Seulgi otomatis berhenti tertawa dan menempelkan telapak tangannya seraya hendak menampilkan gesture permohonan maaf. Kyungsoo yang kali ini tersenyum. Ia mengusak rambut hitam panjang Seulgi.

"Ini designku. Tidak sepenuhnya aku yang membuat, aku hanya mengambarnya. Tuan Byun dan tuan Park yang membuatnya." Kyungsoo segera memberikan paperbag itu pada Seulgi. Seulgi nampak sangat antusias dan segera mengambilnya. Matanya terbuka lebar dan wajahnya tampak berbinar ketika sebuah gaun biru muda terpampang di depannya.

"Gaun itu tidak jadi dipasarkan tapi aku tidak kecewa. Setidaknya gaun ini sempat dipamerkan di depan Nyonya Xi. Saat aku tanyakan pada tuan Byun, Ia mengijinkan aku untuk menyimpannya. Jadi aku langsung mengambil dan meminta bantuan pada Minseok untuk mengecilkannya seukuranmu. Aku ingat kau butuh sebuah gaun untuk pesta ulang tahunmu nanti." Jelas Kyungsoo dan membuat Seulgi segera memeluk Kyungsoo erat.

"Terima kasih, Kyungsoo." Suara Seulgi nampak terisak. Ya, Seulgi menangis karena terlalu bahagia.

"Hei, jangan menangis. Sebaiknya kau pulang dan segera beritahu orang tuamu."

Seulgi segera menaruh gaunnya di dalam paperbagnya dan berdiri dari duduknya. Ia kembali memeluk Kyungsoo singkat dan tersenyum lebar. Tiba-tiba Seulgi teringat sesuatu dan mengeluarkan sebuah kertas. Ia memberikannya kepada Kyungsoo. Kyungsoo menerima dan memperhatikan kertas itu. Sebuah gambar seorang gadis yang setelah Kyungsoo perhatikan bahwa gadis itu adalah Seulgi yang mengenakan gaun cantik ditengah-tengah pesta. Keterkejutannya bertambah ketika gaun yang dikenakan gadis digambar itu adalah gaun serupa dengan gaun Kyungsoo.

"Siapa yang membuatnya, Seulgi? Ini cantik."

"Kau tahu lahan kosong di bawah jembatan? Aku dan teman-teman suka bermain disana. Akhir-akhir ini aku bertemu dengan seorang pria. Kurang lebih seusiamu hanya saja ia lebih tinggi, lebih keren, dan lebih tampan darimu." Seulgi menceritakan dengan antusias. Ia mendadak terhenti ketika Kyungsoo mengusak rambutnya.

"Kau ingin bercerita atau menghinaku?" Tanya Kyungsoo dengan pura-pura jengkel dan Seulgi tertawa kecil.

"Pria itu suka mengambar di tembok-tembok polos yang ada di sana. Gambarnya bagus meski aku tidak tahu apa yang ia gambar. Suatu hari aku mendekatinya dan ternyata Ia baik. Ia menceritakan bahwa apa yang ia gambar disebut seni mural. Lalu aku bercerita bahwa aku sebentar lagi akan berulang tahun. Tiba-tiba, Ia mengambar ini dan memberikannya padaku. Ia bilang bahwa aku adalah gadis kecil yang cantik." Kembali Seulgi berbinar dan berlonjak-lonjak kegirangan.

"Kau harus berhati-hati terhadap orang asing, Seulgi. Bagaimana jika pria itu adalah orang jahat dan kau diculik?" Kyungsoo nampak khawatir dan mengelus rambut Seulgi dengan perlahan. Seulgi pun mengangguk singkat.

"Iya, aku tahu. Aku ingat apa yang kedua orang tuaku dan kau katakan. Hati-hati terhadap orang asing dan jika kau dalam bahaya, kau harus berlari dan berteriak sekencang mungkin." Ucap Seulgi polos dan Kyungsoo lagi-lagi tertawa. Ya, Seulgi memang selalu membuatnya merasa terhibur sehingga tubuhnya sedikit lebih rileks.

"Aku merasa bahwa pria itu baik. Ia tidak pernah merasa terganggu olehku bahkan saat pertama kali aku mendekatinya. Berbeda denganmu. Aku ingat, waktu pertama kali aku mendatangimu sebagai tetangga baru. Kau menyebutku sebagai tuan putri cerewet." Protes Seulgi jengkel sambil mengembungkan pipinya. Kyungsoo tertawa kecil dan menarik hidung Seulgi.

"Itu karena kau selalu bertanya ini dan itu. Beruntung saat itu Jongdae langsung mengajakmu membeli es krim."

Tiba-tiba, wajah Seulgi tersentak kaget dan segera menarik Kyungsoo untuk berlari. Astaga, tidak! Kyungsoo harus berlari lagi. Kyungsoo yang tidak tahu apa yang terjadi segera menghentikan langkah cepat Seulgi.

"Hei, ada apa?" Tanya Kyungsoo dengan nada setengah terputus.

"Aku lupa. Aku berjanji akan membelikan roti gandum pada paman Jongdae sore tadi karena Ia sudah membelikan boneka Barbie untukku. Ayo, Kyungsoo! Kita harus cepat ke toko nyonya Yoona. Kalau tidak, nanti paman Jongdae akan memakan barbieku." Seulgi kembali menarik tangan Kyungsoo. Kali inipun Kyungsoo kembali berlari sembari tertawa kecil melihat tingkah panik gadis kecil itu.

"Sepertinya aku harus mendaftar menjadi atlet lari." Gumam Kyungsoo sembari tertawa.

0000000000

Sehun memarkirkan hyundai putihnya di parkiran Seoul Departement Store. Ia dan Kyungsoo segera keluar dari mobil itu lalu berjalan masuk ke dalamnya. Siang itu, nampak ramai oleh para pengunjung yang saling berburu pakaian. Mereka langsung menuju ke bagian backoffice dan mengambil beberapa paperbag yang memang sudah disediakan untuk mereka.

Empat paperbag besar berisi beberapa potong gaun pendek, dua paperbag berisi high heels, dua paperbag berisi jas dan vest, lalu dua paperbag celana jeans pendek. Barang-barang tersebut adalah design Ice Mode yang diminta untuk kembali dirombak. Mereka kembali keluar dan hendak berjalan menuju parkiran. Namun, mereka mendadak berhenti ketika ponsel Sehun berbunyi. Sehun menerima panggilan itu sebentar dan setelah mengakhirinya, Ia melirik kearah Kyungsoo.

"Kau harus ke Nine West, Kyungsoo. Tuan Byun, meminta beberapa sepatu berwarna merah." Sehun menghela nafas panjang dan segera mengambil alih lima paperbag di tangan Kyungsoo. Kini sepuluh paperbag itu sudah berada di kedua tangan Sehun.

"Kadang aku benci insting fashion di dalam diriku, Sehun." Kyungsoo kali ini ingin berteriak frustasi. Hanya saja, ia tak mungkin membiarkan dirinya dicap kurang waras karena berteriak di keramaian. Sehun hanya tertawa kecil.

"Sudahlah, terima takdirmu. Tuan Byun sudah mempercayaimu dalam hal ini. Pilihanmu selalu tepat disaat-saat seperti ini. Setelah itu, kau berikan sepatu-sepatu itu pada Tao. Biar dia yang mengurus sisanya." Sehun mengakhiri ucapannya dan segera pergi meninggalkan Kyungsoo.

Kyungsoo menghembuskan nafas panjang dan kembali berjalan menuju salah satu toko sepatu yang berada di lantai empat. Ia masuk ke dalam toko itu dan langsung disapa oleh karyawan Nine West.

"Ada yang bisa saya bantu, tuan?" Sapa sang karyawan ramah dan Kyungsoo tersenyum.

"Biar aku melihat sebentar."

"Baik. Jika tuan perlu bantuan, bisa panggil saya kembali." Jawab karyawan itu lagi dan Kyungsoo hanya mengangguk singkat.

Kyungsoo kembali melihat-lihat deretan sepatu-sepatu wanita yang ada dihadapannya itu. Semua tertata rapih sesuai jenisnya. Ia mengambil salah satu high heels sepuluh centi berwarna merah dengan tali dan taburan manik putih disekeliling talinya. Ia tersenyum singkat dan memberikannya kepada sang karyawan. Kyungsoo kembali melanjutkan pilihannya dan kali ini Ia berhenti pada sebuah flat shoes merah.

"Pilihan tepat untuk dipadu padankan dengan denim dan t-shirt. Tambahkan ikat pinggang dengan warna senada, tas selempang, dan topi."

Sebuah suara mengagetkan Kyungsoo. Ia menoleh dan mendapati seorang pria yang mengenakan pollo t-shirt dikombinasikan dengan blazer, celana jeans selutut, lalu sepatu sport merah. Pria itu tersenyum singkat dan kembali membuat Kyungsoo membuka matanya lebar ketika menyadari siapa pria di depannya itu.

"Tuan muda Xi." Refleks Kyungsoo hampir saja berteriak dan pria itu hanya mengangguk.

"Santai saja." Balas Luhan dan membuat Kyungsoo sedikit kikuk. Luhan pun akhirnya kembali berkutat dengan deretan sepatu-sepatu di depannya.

"Kau sedang membantu tuan Byun memilih sepatu yang akan dikenakan pada fashion show besok kan?" Tanya Luhan dan Kyungsoo hanya bisa mengangguk sebagai jawabannya. Kyungsoo seakan tak bisa bertingkah sewajarnya di depan anak dari petinggi Ice Mode itu.

"Bagaimana jika aku bantu? Kebetulan setelah ini aku juga akan ke Ice Mode. Aku hanya sedang berjalan-jalan untuk membeli blazer di Giorgio Armani tadi. Lalu saat melewati Nine West, aku melihatmu." Jelas Luhan lagi sambil memegang salah satu high heels lima belas centi dengan hak yang sangat kecil. Ia memberikan itu kepada Kyungsoo.

"Anda mengingat saya? Em, maksud saya. Anda tahu saya karyawan Ice Mode? Bukan-bukan. Maksudnya, saat pagelaran kemarin anda hanya melihat saya sekali. Haduh, bagaimana ya?" Ucapan Kyungsoo terbata-bata dan akhirnya Kyungsoo hanya menghela nafas panjang. Ia bingung harus merangkai kata-kata yang baik seperti apa untuk berbicara dengan Luhan. Luhan tertawa melihat wajah Kyungsoo yang kebingungan.

"Hei, sudah kubilang, santai saja. Aku sama sepertimu. Aku ini juga karyawan Ice Mode meski posisiku sedikit lebih tinggi karena Liyin adalah orang tuaku. Tentu saja aku ingat. Kau si penggemar Anne Hathaway itu kan?" Luhan kembali tersenyum dan menatap Kyungsoo.

Kyungsoo kembali mengangguk singkat merespon Luhan. Ia kembali terkejut dengan Luhan yang mengingatnya dan perilakunya yang ramah, sama seperti halnya dengan Liyin. Ya, meski Kyungsoo tidak pernah berhubungan langsung dengan Liyin tapi Kyungsoo sering mendengar dari beberapa pegawai terutama Baekhyun bahwa Liyin adalah wanita yang baik dan ramah. Kyungsoo akhirnya memilih menyibukkan diri dengan melihat beberapa sepatu.

Sepuluh menit kemudian, Kyungsoo berhasil mendapatkan tujuh pasang sepatu merah. Tentunya dibantu dengan Luhan. Keduanya keluar dari Nine West dan berjalan menuju pintu keluar. Kyungsoo hendak berjalan menuju tempat pemesanan taksi.

"Aku membawa mobil, Kyungsoo. Kenapa kau harus menggunakan taksi?" Tiba-tiba ucapan Luhan membuat Kyungsoo menatap bingung. Luhan menghela nafas.

"Kita bisa ke Ice Mode menggunakan mobilku." Jelas Luhan lagi dan semakin membuat Kyungsoo terkejut.

"Tidak, tuan muda Xi. Saya bisa menggunakan taksi." Tolak Kyungsoo dengan halus.

Kyungsoo pikir mereka akan beradu argumen dulu. Ya, sejujurnya Kyungsoo tidak menolak untuk ikut di mobil Luhan. Hanya saja, Ia harus menolak terlebih dulu. Ya, setidaknya Ia harus bersikap seperti tidak benar-benar memanfaatkan keadaan. Luhan memutar matanya malas kemudian mendekat kearah Kyungsoo. Luhan segera menarik lima paperbag di tangan Kyungsoo dan berjalan menuju parkiran. Kyungsoo yang terkejut kemudian menoleh.

"Ya, tuan muda Xi." Teriak Kyungsoo. Luhan tidak menoleh sedikitpun dan kembali berjalan cepat. Kyungsoo yang melihat itu menghembuskan nafas panjang dan kemudian berjalan cepat menyusul Luhan. Luhan yang menyadari bahwa Kyungsoo mengejarnya hanya tersenyum singkat.

Sepanjang perjalanan, Kyungsoo yang berada di samping Luhan hanya diam sambil melirik kearah jendela mobil sementara Luhan terlihat berkonsentrasi di balik kemudi. Tidak ada pembicaraan hingga akhirnya mereka sampai di parkiran Ice Mode. Kyungsoo segera keluar dari mobil dan mengambil paperbag yang berada di kursi belakang.

Kyungsoo melihat sebuah mercedez masuk dan terparkir tepat disebelah mobil Luhan. Ketika pintu kemudi terbuka, munculah Jongin dengan mengenakan coat hitam panjangnya. Seperti biasa, Jongin selalu nampak elegan dan berkelas. Jongin melirik sedikit kearah Kyungsoo lalu beralih ke Luhan.

"Baik hati sekali, tuan muda Xi." Ucap Jongin sinis sambil membanting pintu mobilnya.

"Apa pedulimu, tuan muda Kim?" Balas Luhan tidak kalah dinginnya. Sementara Kyungsoo yang menyadari aura tidak bersahabat diantara saudara tiri itu hanya membungkuk dan berniat meninggalkan parkiran.

"Saya permisi dulu, tuan muda Xi dan tuan muda Kim." Ucap Kyungsoo singkat dan langsung berlari meninggalkan Jongin dan Luhan. Jongin mendengus singkat melihat Kyungsoo dan kemudian menatap Luhan lagi.

"Ada yang ingin kau sampaikan?" Tanya Luhan sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana jeans selututnya itu. Jongin tidak menjawab pertanyaan Luhan. Ia memilih untuk segera meninggalkan parkiran dan menuju pintu masuk Ice Mode. Luhan pun hanya menggelengkan kepala singkat dan akhirnya mengikuti Jongin.

0000000000

Malam itu, Jongin kembali terduduk di depan sebuah tembok yang berada di bawah jembatan. Ia menatap gambar-gambar di depannya itu. Sebuah gambar coretan berliku-liku dan membentuk sebuah kotak, seperti labirin. Di sekitarnya beberapa campuran warna seakan menjadi pagar untuk labirin itu.

Kemudian, Ia hanya memainkan kaleng cat di tangannya. Ia nampak tidak begitu bersemangat untuk kembali beraksi dengan cat-catnya itu. Ia menoleh singkat ketika mendengar suara langkah yang mendekat kearahnya. Ia segera memakai maskernya dan menurunkan sedikit topi baseballnya sehingga wajahnya nampak tertutup. Orang itu menghentikan langkahnya ketika sudah berada dekat dengan Jongin. Jongin mendengar orang itu berdeham.

"Kau kah pria yang menggambar untuk Seulgi?" Tanya Suara itu dan Jongin hanya tertawa pelan.

"Aku tidak tahu siapa kau dan tujuanmu. Aku hanya ingin mengatakan, jika kau melukai Seulgi maka aku yang akan bertindak." Ancam pria itu lagi dan Jongin memilih untuk berdiri dari duduknya meski masih membelakangi pria itu.

Jongin tidak mengucapkan apa-apa sebagai respon jawaban dari pria itu. Ia justru mengambil semprotan kaleng catnya dan mulai berjalan mendekat kearah tembok yang masih kosong. Ia mengocok kaleng itu dan kembali menyemprotkan ke tembok tersebut.

Sementara pria yang memberikan peringatan kepada Jongin nampak terkejut. Ia terdiam sambil memperhatikan Jongin yang tidak peduli terhadapnya dan terus berkonsentrasi pada gambarnya. Sekitar lima belas menit dalam keheningan, dua pria itu saling diam ditemani udara malam yang sejuk bertiup disekitar bawah jembatan.

Jongin berkonsentrasi pada gambarnya sementara pria itu juga masih memperhatikan Jongin. Hingga akhirnya, Jongin melempar kaleng cat terakhirnya. Sebuah gambar anak lelaki yang terduduk lemah dengan satu sayap kiri yang terkoyak sementara sayap bagian kanannya lepas. Punggung anak lelaki itu juga berdarah dan kepalanya menunduk.

"Aku tidak berniat jahat pada adikmu." Jawab Jongin. Suaranya nampak semakin berat di balik maskernya. Ia sama sekali tidak berniat menatap pria itu. Jongin memilih untuk pergi.

Sementara pria itu, memperhatikan Jongin hingga Jongin menghilang dari pandangannya. Setelahnya, Ia kembali melihat gambar yang ada di tembok itu. Ia mendekat dan memperhatikan semua gambar itu dengan detail. Semprotan cat yang rapih dan kombinasi warna yang sesuai menandakan bahwa ini adalah seni dari seorang seniman yang memang berbakat. Hanya saja, Ia nampak kecewa ketika menyadari apa yang dipahami dari gambar-gambar itu.

"Ia kesepian dan terluka. Aku berharap dia bukan Kim Jongin." Ucapnya dengan nada yang lirih.

- TBC -

.

.

Note :

- Natal masih lama, kenapa harus rapat dan sibuknya dari sekarang? (okay, lupakan curhatan hope)

- Semoga suka dengan lanjutannya dan ditunggu chapter empatnya. Sabar ya teman-teman.

Thanks for read, review, follow and favorite this fic.

Enjoy & God Bless

-HopeIce-