Hai minnaaa… X3
Gomen, Natsu telat update! TERKUTUKLAH KAU PARA TUGAS DAN PR SIALAN!
Yah, PR dan tugas Natsu emank bertumpuk banget menjelang ulangan! Sebel deh! Selain itu, Natsu gak ada ide! *halah…*
Ohya, sekedar info doang, chapter ini adalah chapter terakhir. Jadi, moga aja Natsu bisa nyelesein fic ini dengan sebaik-baiknya! X3
Ohya, makasih buat para readers yang telah me-review chapter sebelumya. Yang login, Natsu udah balas lewat PM! Dan buat yang gak login, balasannya ada di akhir cerita yah… ^^
Ya sudah, tanpa basa basi lagi, langsung baca aja! XD
.
Cerita sebelumnya :
Mulai gelap…
Kurasakan tangan kekar dan besar langsung meraihku. Dan membawaku kepelukannya. Aku terkejut bukan main. Tapi… rasanya hangat sekali…
Entah sadar atau tidak, kubalas pelukan orang yang memelukku itu. Kurasakan air mataku menetes di dadanya yang kekar. Semakin lama air mataku semakin banyak. Aku pun semakin menanamkan wajahku di dada orang itu. Dan…
Menangis…
Malam itu, adalah malam dimana dua insan merasakan kasih sayang satu sama lain. Kasih sayang itu menyatu dalam sebuah pelukan hangat, yang mengalahkan dinginnya malam…
*o*o*o*
"Ungghh…" suara lenguhan dari seseorang mulai terdengar, menyadarkaku dari kepanikanku. Maka kumenoleh ke arah sumber suara.
Mataku membulat, jantungku berdegup kencang, wajahku langsung memerah, keringat dingin mulai menetes di pelipisku, ketika melihat KURORO saat ini sedang tertidur dengan pulasnya di ranjang yang sama denganku! Selain itu, kulihat di bertelanjang dada, dan aku tidak tahu bagaimana kondisi tubuhnya yang lain, karena tertutup oleh selimut.
"G—GYAAAAAAAAA!"
.
Chapter 2 : S I C K
.
.
Disclaimer : Togashi Yoshihiro
Tittle : My Lovely Kuruta Girl
Story by : Natsu Hiru chan
Rated : T semi M special buat chapter ini… X3
Genre : Romance
Pairing : KuroKura (atau KUROPIKA mungkin?)
Warning : abal, gaje, OOC, norak, jelek, typo bertebaran bagai debu di kamar author, pokoknya ancur deh!
Summary : Rahasia terbesar Kurapika diketahui oleh Kuroro karena suatu kejadian di suatu malam. Apa yang akan Kuroro lakukan? Apakah dia akan membalas dendam pada Kurapika yang telah melilitkan rantai di jantungnya?
.
.
.
.
Don't like, don't read…
.
PLAKKKK!
BRUUUKKK!
Tamparan keras langsung saja mendarat di wajah tampan Kuroro, sukses membuatnya terlempar ke belakang, hingga dinding hotel yang ditabraknya menjadi retak. "Akh!"
"APA YANG KAU LAKUKAN PADAKU!" bentak Kurapika dengan wajah yang merona merah.
"Kau sendiri tidak menolaknya, jadi aku lanjutkan saja! Lagipula tadi malam, kau bilang 'suka' padaku!" protes Kuroro.
Wajah Kurapika semakin memerah. "S—suka? Kapan?"
"Semalam!"
"Aku tidak pernah ingat!"
"Hm? Kalau begitu aku beruntung…" ucap Kuroro menyeringai.
"Jangan bicara bodoh!" Kurapika mulai mengambil bajunya yang tergeletak dilantai, dan memakainya. "Jangan ganggu aku lagi, atau kau akan mati…" ucap Kurapika menatap Kuroro dengan begitu tajam, dan berlalu meninggalkannya.
"Mati?" gumam Kuroro tersenyum kecil. "Apa kau sanggup?" gumamnya lagi.
~MY LOVELY KURUTA GIRL~
"Kurapika…"
"Hoi Kurapika…!"
"KURAPIKA!"
"Eh, ada apa Gon?" teriakan Gon yang barusan menyadarkan Kurapika dari lamunannya.
"Kau kenapa melamun?"
"Ah, tidak… aku hanya memikirkan sesuatu…"
"Sesuatu?"
"Itu tidak penting,"
Gon memilih untuk diam dan tidak menanyai Kurapika lebih lanjut lagi. Ia tahu, bahwa saat ini beban kepala Kurapika sudah sangat menumpuk.
"Oh ya, semalam kau kemana dengan Kuroro, Kurapika?" tanya Killua.
Wajah Kurapika langsung dibuat merona olehnya. "Ehm, tidak… di―dia hanya mengajakku ke markas Ryodan…" dusta Kurapika.
"Ke Ryodan?" kali ini Leorio yang kebingungan.
"Sudahlah! Jangan tanya-tanya lagi! Itu rahasia!"
"Yaaahh! Kau pelit sekali, Kurapika!" protes Killua.
"Terserah…"
"Kurapika, bagaimana kalau minggu depan nanti kita jalan-jalan?" usul Gon bersemangat.
"Yah! benar juga! Sudah lama kita bertiga tidak pernah jalan-jalan bersama," sambung Killua.
"Itu ide bagus! Bagaimana menurutmu, Kurapika?" tanya Leorio.
"Ah, aku sih mau-mau saja…"
"Horeeee!" girang Gon dan Killua. Kurapika hanya tersenyum manis melihat tingkah kedua sahabatnya ini. Sedangkan Leorio hanya menyengir lebar. Yah, sudah lama Kurapika tidak merasa sehangat ini, bersama ketiga sahabatnya.
Meskipun berbeda jenis, tapi Kurapika sudah terbiasa hidup dengan laki-laki. Dia bahkan sudah membuang jauh-jauh harga dirinya sebagai perempuan, dan menganggap dirinya sebagai laki-laki. Ia ingin membuang segala kenangan buruknya, 'sebagai perempuan' ketika dulu, penyerangan suku Kuruta, oleh Gen'ei Ryodan.
Namun,
Sejak Kuroro menyatakan perasaannya, dan memperlakukan Kurapika sebagai seorang gadis, gadis pirang itu merasa bahwa dirinya benar-benar seorang 'gadis'. Ditambah lagi kejadian semalam.
Wajah Kurapika langsung memerah membayangkan apa yang ia lakukan dan Kuroro semalam. 'Apa yang sebenarnya Kuroro lakukan padaku semalam? Apa benar aku mengatakan suka padanya?' pikir Kurapika. Dia mencoba untuk tetap tenang, namun rona merah di wajahnya tidak bisa berbohong.
"Kau kenapa sih Kurapika? Dari tadi mukamu merah terus! Kau sakit yah?" tanya Leorio.
"Hm, tidak… mungkin aku kepanasan…" dusta Kurapika berusaha untuk mengembalikan kembali 'warna' wajahnya seperti semula.
"Kau benar! Di sini panas sekali! Padahal AC-nya berfungsi!" keluh Killua langsung membuka bajunya, sehingga ia bertelanjang dada. Gon pun ikutan membuka baju, disusul oleh Leorio.
"GYAAAAAA!" histeris Kurapika ketika melihat ketiga temannya membuka baju mereka di depan Kurapika.
"Kau kenapa Kurapika?" tanya Killua terlihat sedikit lega.
"B—bukan apa-apa! Aku akan beli es krim untuk kita…" ucap Kurapika seraya meninggalkan ruangan itu, dengan wajah yang sedikit merona. 'Dasar tidak sopan! Dan juga, ini semua gara-gara laba-laba terkutuk itu! Dia membawa pengaruh buruk padaku!' maki Kurapika dalam hati.
"Akhir-akhir ini Kurapika aneh!" pendapat Gon.
"Yah, dia jadi lebih sensitif." Sambung Leorio. Killua hanya mengangguk setuju.
~MY LOVELY KURUTA GIRL~
Terlihat kini Kurapika, Leorio, Killua, dan Gon sedang terduduk dengan santai di bawah pohon sakura yang cukup besar, yang di lapisi dengan karpet bermotif bunga-bunga. Terlihat keranjang piknik yang berada di pangkuan Kurapika.
Saat ini, pakaian mereka berbeda dari biasanya. Leorio, terlihat memakai kemeja putih, dan celana pendek di bawah lutut berwarna kuning. Ia tidak memakai kacamata bundarnya. Sedangkan Gon, terlihat memakai kaos singlet berwarna putih, dan celana pendek biru. Killua, memakai T-shirt merah, yang dipasangkan dengan celana longgar setengah betis, yang bermotif tentara.
Kurapika, dia terlihat cukup berbeda dari biasanya. Dia memakai baju lengan panjang berwarna biru laut polos, dengan dua kancing hiasan di bagian dada. Bawahan, dia memakai celana jeans biru, dan sepatu kets kuning. Buasan Kurapika saat ini, bisa dibilang cocok untuk perempuan, maupun laki-laki.
"Kalian mau berapa potong?" tanya Kurapika mulai mengeluarkan sosis dari keranjang pikniknya.
"Aku satu saja," singkat Killua.
"Aku juga," ucap Leorio menyandarkan kepalanya di batang pohon Sakura.
"Hm, aku lapar, jadi aku mau tiga potong! Tolong yah Kurapika…" ujar Gon senang.
"Tentu," Kurapika mulai memotong sosis tersebut, dan menyusunnya di atas potongan roti, yang dilapisi dengan beberapa bahan lain seperti, keju, sayuran, dan tomat. Yah, saat ini mereka sedang membuat sandwicth (tulisannya gini yah?) untuk acara piknik mereka yang telah direncanakan minggu lalu.
Acara mereka pun berlangsung dengan tenang, tanpa kekacauan. Pertengkaran kecil, antara Killua dan Gon menjadi pengecualian. Hal itu hanya membuat Kurapika dan Leorio terkikik geli.
"Bukannya kau yang menendangku semalam?" protes Killua.
"Tidak mungkin! Kau yang menendangku! Buktinya, aku terjatuh dari tempat tidur!" ucap Gon tak mau kalah.
"Kau jatuh dari tempat tidur, karena kau banyak bergerak saat tidur! Makannya kau juga menendangku!"
"Aku tidak banyak bergerak! Justru kau yang banyak bergerak, sehingga semalam kau menendangku!"
"Huh! Pokoknya aku tak mau sekamar denganmu!" kesal Killua melipat kedua tangannya di dadanya.
"Aku juga!"
"Tapi, di apartemen kita cuma ada tiga kamar," kata Leorio santai.
"Ya sudah! Aku mau tidur dengan Kurapika saja! Kurapika 'kan tidurnya tenang!" ujar Gon, langsung memeluk tangan Kurapika, membuat Kurapika sedikit tersentak. "Aku?" ucapnya heran.
"Kau tidak mau yah?" tanya Gon menunjukkan puppy eyes yang tidak ia sengajai, membuat Kurapika menjadi gemas saja.
"Bukan begitu, tapi, apa tidak apa-apa?" tanya Kurapika.
"Tentu saja!"
"Kalau begitu, baiklah,"
"Horeeee!" Gon langsung melompat kegirangan. Sedangkan Killua, dia langsung menyeringai seperti orang dewasa. 'Asyik! Malam ini aku bisa menonton 'itu'!' pikir Killua senang.
~MY LOVELY KURUTA GIRL~
"Malam…"
"Malam…"
Akhirnya Kurapika menarik selimutnya, dan mematikan lampu kamarnya. Terlihat Gon yang sedang mulai terlelap di sampingnya. Kurapika menatap Gon lembut. Betapa beruntungnya dia, memiliki sahabat, seperti sahabatnya sekarang. Kurapika lalu mengenang masa lalunya, ketika ia pertama kali ia bertemu Gon dan Leorio di kapal. Badai besar yang terjadi di tengah lautan pada saat itu, menjadi saksi awalnya persahabatan mereka.
Senyuman Kurapika semakin melembut, ketika ia mengenang saat-saat ujian Hunter, bersama tiga sahabatnya. Mereka berempat saling bekerja sama dan membantu pada saat itu.
Kurapika lalu teringat, pada saat perpisahan mereka berempat. Pada saat itulah, senyuman manis Kurapika, mulai berkurang. Mata bulatnya, menjadi tajam dan penuh kebencian.
Gen'ei Ryodan…
Itulah penyebabnya, Kurapika kehilangan cahayanya. Namun, setelah semuanya selesai, kenapa Kuroro malah berbuat masalah lagi? "Bisa dibilang, ini semua salahnya!" gumam Kurapika menggenggam erat selimutnya. Amarahnya mulai memuncak.
Namun amarah itu menghilang seketika ketika ia melihat wajah polos Gon, yang sedang tidur, terlihat begitu tenang, tanpa beban sedikitpun. "Entah mengapa kau sangat menggemaskan, Gon," gumam Kurapika, lalu berbaring di samping Gon. Detik selanjutnya, matanya pun terpejam, menutupi bola Kristal sapphire yang ada di sana. "Beda dengan si Killua," gumamnya lagi.
Sementar itu, di kamar Killua.
Terlihat Killua sedang menonton 'sesuatu' di TV. Wajahnya nampak fokus, dengan wajah yang bersemu merah. "Waah, Leorio! Hidungmu mimisan tuh!" tegur Killua pada Leorio, yang kini sedang duduk di sampingnya, ikut menonton.
"Ah benarkah?" ucap Leorio mengusap darahnya. "Kenapa kau peka sekali? Padahal umurmu baru 13 tahun!" tanya Leorio.
"Itu bukan urusanmu!"
"Wah lihat dia!"
"Waaahh…"
Entah apa yang Killua dan Leorio nonton di kamar itu, namun author harus memperingatkan, fic ini masih ber-rated T!
Jam dinding di kamar Kurapika menunjukkan pukul 01.00 subuh. Kurapika yang tidur menyamping, membelakangi Gon di ranjang king size-nya, , merasakan ada yang memeluknya dari belakang. Gadis yang sensitif itu tentu saja terbangun.
"Nghh… Gon…" lenguh Kurapika memegang tangan yang memelukanya, hendak melepaskannya. Kurapika terkejut setengah mati. Rasa kantuknya tadi segera menghilang, ketika menyadari tangan yang memelukanya terasa kekar dan besar. Beda dengan tangan Gon yang kurus dan kecil.
Kurapika langsung terbangun. Matanya membulat sempurna ketika melihat KURORO, saat ini sedang memelukanya dari belakang, dengan sangat erat. Rambutnya turun, dan sedikit berantakan. Namun itu membuatnya terlihat sangat keren. Ia memakai T-shirt biru, dan jeans yang serupa.
Kurapika lalu melihat Gon, yang ternyata tergeletak tidur di lantai. "Apa yang kau…" perkataan Kurapika terpotong ketika Kuroro menempelkan jari telunjuknya di bibir mungil Kurapika. "Ssstt…"
"Apa maksudmu! Sedang apa kau di sini?" bentak Kurapika dengan nada berbisik, takut Gon terbangun dan melihat apa yang sedang ia lakukan dan Kuroro saat ini. Yah, tanpa sadar Kurapika saat ini masih berada di pelukan Kuroro.
Posisi mereka saat ini, Kuroro memeluk pinggang Kurapika dari belakang, sambil duduk bersila, sedangkan Kurapika terlihat berada di pangkuan Kuroro. Kepalanya lurus ke depan, namun matanya yang suda berwarna merah melirik tajam ke arah Kuroro.
"Lepaskan aku Kuroro!" perintah Kurapika.
"Kau harum sekali, Kurapika…" lirih Kuroro menanamkan wajahnya di leher mulus Kurapika, membuat Kurapika merinding, dengan wajah yang super merah.
"Lepaskan aku!"
"Malam ini saja… kumohon tetaplah di sisiku…"
Wajah Kurapika semakin merona saja. Namun mata merahnya membulat, ketika menyadari suhu badan Kuroro menjadi semakin panas. Pelukannya juga semakin melemah.
Langsung saja Kuroro terjatuh begitu saja. Kurapika tersentak kaget melihat Kuroro langsung ambruk di ranjangnya. "Ku―kuroro!" ucap Kurapika berusaha untuk mengecilkan suaranya.
Ia lalu melirik ke arah Gon. Kurapika langsung menuju ke arah Gon, dan mengangkatnya dengan hati-hati kembali naik ke ranjangnya. Setelah itu, Kurapika kembali ka Kuroro yang tengkurap tak sadarkan diri di samping Gon.
Kurapika lalu melingkarkan tangan kekar Kuroro di lehernya, dan mulai mengangkatnya. "Uggh!" lenguh Kurapika ketika mengangkat tubuh Kuroro. Wajahnya langsung memerah, ketika menyadari dada Kuroro menyentuh penggungnya. Namun itu tak diubris oleh Kurapika. Ia pun meninggalkan tempat itu, dengan Kuroro di punggungnya.
~MY LOVELY KURUTA GIRL~
Kurapika meremas erat-erat sapu tangan, yang tadi sudah ia celupkan di ember yang berisi air, hingga sapu tangan itu setengah kering. Ia lalu meletakkan sapu tangan itu di dahi Kuroro.
Yah, saat ini Kurapika dan Kuroro sedang berada di sebuah hotel keci yang ada di tengah kota. Saat ini Kuroro sedang terbaring lemas di atas ranjang king size yang berada di kamar hotel itu. Sebenarnya tadi Kurapika berniat untuk meninggalkan Kuroro di jalanan, namun rasanya ia tak tega.
Ketika sampai di kamar hotel, Kurapika hendak meninggalkan Kuroro, namun rasanya ia tak tega lagi. Ia pun memutuskan untuk merawat Kuroro, sampai dia sadar.
'Suhu badannya semakin naik. Kenapa laba-laba terkutuk ini bisa sakit yah?' pikir Kurapika melihat thermometer yang tadi ia berikan pada Kuroro.
Kurapika sedikit tidak peduli, 'ini 'kan cuma demam biasa! Masa' dia KO dengan demam sih?' pikir Kurapika. Yang, kalau memang dilihat sekilas, Kuoro hanya terkena demam biasa. Namun semakin lama, suhu badannya semakin naik saja.
Keringat mulai bercucuran di wajah tampan Kuroro, membuat Kurapika sedikit khawatir.
'Bagaiman sadarnya? Sakitnya saja semakin parah begini! Lebih baik aku pulang saja!' pikir Kurapika seraya berdiri, hendak meninggalkan Kuroro.
"Kurapika…"
Yang di sebut namanya terkejut dan langsung menoleh ke belakang. Namun yang ia dapati, hanyanlah Kuroro yang terkulai lemas di atas kasur. "Kurapika…" ucapnya lagi, sukses menimbulkan rona merah di pipi sang pirang ini.
"Bodoh… kenapa mengigaukankan namaku?" ucap Kurapika tersenyum miris. Mata birunya terlihat sedikit berkaca-kaca. "Kita akan menjadi musuh bebuyutan seumur hidup…" ucap Kurapika pada Kuroro yang saat ini tak sadarkan diri.
"JADI BERHENTILAH MEMBUATKU BERDEBAR-DEBAR SEPERTI INI!" bentak Kurapika emosi.
"Kurapika…" suara itu membuat Kurapika semakin frustasi saja. "Hentikan!"
"Air…" gumam Kuroro menggeliat di atas tempat tidurnya. "Air…"
Meskipun perasaan benci dan dendam menyelimutinya ketika ia melihat Kuroro, namun perasaan itu lenyap seketika ketika ia melihat Kuroro yang seperti ini. Kuroro yang terlihat lemah tak berdaya, dengan keringat yang sedari tadi bercucuran. Terlihat sedikit garis hitam di bawah matanya. Kuroro yang seperti ini terlihat seperti 'bukan Kuroro' pembunuh berdarah dingin yang Kurapika ketahui. Kuroro terlihat begitu lemah saat ini.
Kesempatan yang bagus untuk membunuhnya. Begitulah yang seharusnya dipikirkan Kurapika saat ini. Namun hati kecilnya berkata lain…
"Air…"
Kurapika lalu mengambil gelas berisi air, dan meminumnya, tanpa ia masukkan ke tenggorokannya. Setelah itu, Kurapika mendekatkan wajahnya pada Kuroro.
Dan akhirnya Kurapika menempelkan bibirnya pada bibir Kuroro, dan memaksa Kuroro membuka mulutnya, dengan mulut Kurapika. Kurapika pun memindahkan air yang ada di mulutnya, ke dalam mulut Kuroro. Kuroro hanya bisa meneguk air yang baru saja di terimanya, dengan mata yang masih terpejam.
Kurapika lalu kembali ke posisinya yang semula. Ia mengusap sekitar bibirnya dengan punggung tangannya secara kasar.
…
"Akkkhhhh…! Apa yang kulakukaaaannn?" frustasi Kurapika langsung berjongkok dan meremas rambut pirangnya. Wajahnya terlihat begitu merah.
Aku terhipnotis… dengan wajahnya yang terlihat lemah…
Kurapika ingin segera meninggalkan tempat itu. Namun tangannya langsung tertarik oleh Kuroro. Kuroro langsung menarik Kurapika, dan memeluknya dalam keadaan tertidur.
"Kyaaaaaa!"
…
Saat ini Kurapika sedang menindih Kuroro, dengan tangan Kuroro yang satunya melingkar di pinggang Kurapika, dan satunya melingkar di leher Kurapika. Namun anehnya ternyata Kuroro tak sadarkan diri sama sekali, dan Kurapika tahu itu.
'Panas…' gumam Kurapika mengomentari suhu tubuh Kuroro saat ini. Ia meletakkan tangannya di mulutnya, dengan wajah yang memerah.
Tak bisa ia pungiri bahwa…
Ia juga mencintai Kuroro…
Kurapika mengusap lembut dada bidang Kuroro yang ia tindih. Tak dapat ia percaya, orang yang paling ia benci, kenapa malah ia cintai?
Semakin lama, Kurapika menjadi semakin nyaman dengan hangatnya tubuh Kuroro. Ia pun memejamkan matanya, dan mulai terlelap, dalam pelukan sang Lucifer…
Pagi, 08.00
"Ngghh…" lenguh seorang pemuda berambut hitam yang baru saja terbangun. Ia mengerjap-kerjapkan matanya, agar kesadarannya pulih sepenuhnya. Mata onix-nya membulat sempurna ketika menyadari, seorang gadis berparas malaikat, tengah tertidur pulas di atasnya.
"Kurapika!" ucap pemuda itu terkejut. Terlihat sedikit rona merah tipis di pipinya.
"Ng?" Kurapika sedikit demi sedikit mulai sadar, sampai akhirnya kesadarannya pulih sepenuhnya. Matanya membulat sempurna, ketika ia baru menyadari sedang apa, dan dimana ia sekarang.
"K—KYAAAAAAAAAA !" teriak Kurapika langsung saja menjauh dari Kuroro. Wajahnya kini sudah sangat memerah.
"Kenapa kau di sini? Apa yang terjadi?" tanya Kuroro menaikkan sebelah alisnya.
"Kau yang malam-malam main datang saja ke apartemnku bodoh!"
"Ke apartemenmu? Tapi, kenapa aku ada di sini?"
"Kau pingsan! Lalu aku membawamu ke sini!" ucap Kurapika kesal, namun dengan wajah yang merona.
"Terus, kenapa tadi kau tertidur di atasku?"
BLUSSSSHH…
Kini jantung Kurapika berdetak 10x lebih cepat dari biasanya. "K―kau yang menarikku dan memelukku bodoh! Su—sudahlah… aku kembali…" ucap Kurapika seraya bergegas pergi, meninggalkan Kuroro.
Namun langkahnya terhenti ketika Kuroro langsung memeluk Kurapika dari belakang. Namun pelukan kali ini beda. Jika biasanya Kuroro melingkarkan tangannya di pinggang Kurapika, namun kali ini ia menyilangkan tangannya di dada Kurapika, dan menyentuhkan tangan kanannya di bahu kiri Kurapika, begitu pula sebalikanya. Ini membuat tangan Kuroro baik secara sengaja, maupun tidak, menyentuh dada Kurapika.
"K—Kuroro…"
"Biarkan aku memelukmu, untuk yang terakhir kalinya…" mata Kurapika membulat sempurna mendengar perkataan Kuroro. Matanya terlihat berkaca-kaca. Ia menggigit bibir bawahnya keras, membuatnya sedikit berdarah. Sedangkan Kuroro nampak menikmati pelukannya.
"Terserah kau saja…" ucap Kurapika lirih, memalingkan wajah merahnya.
Kurang lebih lima menit, Kuroro memeluk Kurapika. Kuroro pun melepaskan pelukannya. Terlihat sedikat mimik kekecewaan di wajah Kurapika, namun Kurapika berusaha untuk menutupinya.
"Pergilah… aku tak akan mengganggumu lagi…" ucap Kuroro dengan senyum yang dipaksakan.
Dengan langkah berat, Kurapika melangkahkan kakinya keluar, meninggalkan Kuroro yang menatapnya dari belakang.
Tess…
Air mata langsung menetes di pipi Kurapika. Perasaan apa ini? Sakit… sangat sakit…
Kurapika meremas dadanya erat-erat, karena sakit yang ia rasakan, berharap bisa menghilangkan rasa sakit itu. Namun hasilnya nihil. Rasa sakit itu semakin menjadi-jadi saja.
Tap,tap,tap…
"KURORO!"
Yang dipanggil langsung menoleh, ke arah orang yang memanggilnya.
DWAGGHHH!
Belum sempat Kuroro mengetahui siapa yang memanggilnya, meskipun ia tahu siapa pemilik suara itu, pukulan sang pemanggil langsung mendarat di pipi Kuroro, sukses membuatnya terlempar ke belakang hingga dirinya terbentur keras di dinding.
"Uggghh!" Kuroro merasakan sakit, di bagian belakang. Ia membuka matanya.
Cuppp…
Mata Kuroro membulat sempurna ketika menyadari saat ini seorang 'malaikat' berambut pirang, langsung duduk di pangkuannya dan langsung mencium bibirnya sambil memeluk leher Kuroro.
Malaikat, yang tidak lain adalah Kurapika itu, melepas ciumannya, dengan wajah yang memerah. Ia menatap Kuroro tajam. Dilihatnya Kuroro menatapnya tak percaya.
"Jangan menatapku seperti itu," ketus Kurapika memalingkan wajah cemberutnya.
Wajah Kurapika kembali berhadapan pada Kuroro, ketika Kuroro menyentuh pipinya. Ia lihat Kuroro menatapnya lembut. Sangat lembut.
"Malaikatku…" gumam Kuroro. Detik selanjutnya Kuroro menyentuhkan bibirnya pada bibir Kurapika dengan lembut. Kurapika hanya membalasnya dengan lembut pula.
Kurang lebih 30 detik mereka berciuman, mereka pun melepaskan ciuman mereka masing-masing. Hanya melalui ciuman lembut itu, perasaan mereka saling tersampaikan.
"Kenapa kau senyam-senyum begitu?" ketus Kurapika, meskipun saat ini jantungnya berdegup begitu cepat.
"Tidak, aku hanya tak menyangka, kau akan melakukan ini…" ucap Kuroro tersenyum senang.
Kurapika lalu menundukkan kepalanya, dan memukul pelan dada Kurapika. "Jangan bahas soal itu! Terus, kanapa tadi kau bilang kalau tadi itu pelukan terakhirmu? Cepat sekali kau menyerah!"
"Hm, karena aku tahu perasaanmu yang sesungguhnya,"
"A—apa maksudmu?"
"Aku tahu, kalau sebenarnya kau menyukaiku! Tapi aku tak menyangka bahwa kau akan langsung memukul, dan langsung menciumku! Kupikir kau akan memelukku dari belakang, dan meminta maaf. Ternyata aku salah…"
"Kau itu narsis sekali!"
"Tapi kau menyukaiku 'kan?" goda Kuroro.
Kurapika hanya menjawabnya dengan memeluk Kuroro.
Dalam ruangan itu, Kurapika yang berada di pangkuan Kuroro, memeluknya dengan begitu erat. Kuroro hanya mengusap lembut puncak kepala Kurapika.
Sementara itu,
"Kurapika!" panggil Gon di suatu jalanan yang cukup luas.
"Huuuhh! Dia dimana sih?" kesal Gon berkacak pinggang. Ia lalu melirik ke arah Killua dan Leorio yang sedang berada di belakangnya. Terlihat Leorio tak henti-hentinya mengeluarkan darah dari hidungnya.
"Waaa!~ Leorio! Kau kenapaaa?" tanya Gon khawatir.
"Biasa, dia 'kan bocah," ucap Killua sewot.
"Bocah?"
"Bocah sepertimu tak perlu tahu!" Gon hanya mendengus kesal.
Di hotel,
"Ng, Kuroro…" panggil Kurapika.
Yah saat ini, Kuroro sedang duduk sambil bersandar di sisi ranjang. Di pangkuannya, terlihat Kurapika yang bersandar di dada bidang Kuroro.
"Ada apa?" tanya Kuroro memegangi dagu Kurapika.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Aku? Aku akan mati…"
"Maksudmu?"
"Karena ada pencabut nyawa di sini!" canda Kuroro.
"Yang pencabut nyawa itu kau!" Kuroro hanya tersenyum kecil. "Aku baik-baik saja. Lagipula di sini ada malaikat yang siap merawatku…" ucap Kuroro melingkarkan tangannya di pinggang Kurapika.
"Dasar…" ucap Kurapika dengan wajah yang memerah.
"Lalu, bagaimana dengan status kita saat ini?"
Kurapika lalu mengelus leher Kuroro, dan menariknya, hingga Kurapika mengecup lembut rahang Kuroro. Kuroro hanya nampak menikmatinya. "Jangan beri tahu siapa pun!" meskipun Kurapika mencium Kuroro dengan lembut, namun Kuroro dapat merasakan aura hitam keluar dari Kurapika.
"Hahaha… tentu saja…" balas Kurapika mengecup lembut bibir Kurapika.
Apakah ini dosa?
Padahal aku bisa mendengarkan suara jeritan suku Kuruta memanggil namaku.
Mata merah ini… akan menjadi saksi, dosaku kepada saudara-saudaraku.
Tapi, yang terpenting saat ini, adalah…
Dia…
Kuroro Lucifer…
"Em, Kuroro, boleh aku bertanya?"
"Tentu saja,"
"Waktu dulu, aku dan ke-empat temanku, bertarung melawan Ryodan, lalu kau datang, dan mengatakan sesuatu pada temanmu. Apa yang kau katakana pada mereka?"
"Ah, itu, aku hanya bilang… anggota baru…"
"APA?"
.
.
.
.
~THE END~
NYAAAAAAANGGG! X3 *nyebur ke sumur*
Akhirnya end jugaaaa…
Natsu lega banget!
Gomen, kalau hasilnya tak memuaskan. Natsu udah berusaha sekeras mungkin untuk ngebuat kesan romance dan dramanya kerasa. Tapi maaf, kalau mengecewakan… DX
Natsu ngerjain fic ini, sejak pulang sekolah (12.45 pm), Natsu cuma ada di depan laptop sampai jam 17.15 pm! Itu artinya, Natsu ngetik selama, err… lima setengah jam! Yaaaa XD
Senangnyaaa… XD Natsu lega banget.
Ohya, ini balasan review buat yang gak login :
Flower scent :
Thanks for your review… I'm so glad when I read it…^^
Yeah… I also like My Aniki, Kuroro… he is so… euuwhh… gentle… XD
Nona-noni :
Makasih reviewnyaaa…
Ah, ini masuk kategori semi-M yah?
Ahahaha… gomen, Natsu gak tau… yupz! Natsu bakal buat semesrah mungkin, tapi gak bakal terjerumus ke rated M!
Yosh! sekali lagi makasih buat para reviewer… ^^
Sekarang, bolehkah author yang abal ini, meminta review para readers yang terhormat sekalian? :3
Baik saran, kritik, concrit, pujian, bahkam flame-pun, Natsu terima dengan senang hati… XDDD
Akhir kata, REVIEW PLEASE…
.
NATSU HIRU CHAN
