Silakan di baca.
~•~
Chapter 2 - Great Way of Buddha
###
-Pinggiran ten thousand spirit beast mountain, goa di pinggir sungai, malam hari-
Tubuh lemah tidak sadarkan diri milik Naruto mulai bergerak gerak pertanda akan segera sadar. Pelan namun pasti kelopak mata yang awalnya terkatup terbuka, menunjukan manik gelap sekelam malam.
"Bagaimana perasaanmu?"
"Kurang lebih cukup baik." Naruto menjawab tanpa melihat pada Ashura, ia masih berusaha untuk mencoba mendudukkan diri. "Apa semua berjalan lancar, dan tunggu! berapa lama aku tidak sadarkan diri." untuk sebuah alasan akhirnya Naruto teringat apa yang barusan terjadi, ia baru saja mengalami pengalaman seolah berjalan di neraka hingga akhirnya jatuh dan tak sadarkan diri.
"Hmm... Mungkin sekitar sebelas sampai dua belas jam. Untuk sukses dan tidaknya proses pembukaan lebih baik kau sendiri yang memeriksanya karena hanya dirimulah yang mengerti anatomi pada tubuhmu itu."
Ashura yang duduk sambil melayang hanya menjawab dengan santai. Untuk sekarang lebih baik untuk si empu pemilik tubuhlah yang mencari tau keadaannya dan bukan dirinya.
Tanpa kembali bersuara Naruto duduk bersila dan menutup mata. Ia berkonsentrasi memeriksa jejak-jejak apa saja yang telah terjadi di dalam tubuhnya, dengan teliti dia memeriksa setiap bagian dan meneliti apa saja perubahan yang telah terjadi di dalan tubuhnya. Naruto terus berkonsenterasi dan memeriksa semua bagian dan menemukan semua kondisi tubuhnya normal selain beberapa tulang yang masih patah. Hingga didetik berikutnya... fokusnya terkunci pada ke-54 titik meridiannya.
Naruto mengalami kondisi dimana ia hanya diam mematung seakan menemukan sesuatu yang luar biasa di hidupnya. Terkejut, shock dan tentu saja gembira. Semua ke-54 titik meridiannya berhasil terbuka. Ini... ini benar-benar sudah di luar pemahamannya selama ini. Di awal Naruto mengira kalau Ashura akan bisa membuka paling banyak hanya 11 sampai 17 titik meridian, itu sudah paling banyak di dalam harapannya.
"Apakan ini benar-benar terjadi." tubuh Naruto bergetar tak kuasa membendung perasaan gembira yang ia alami. Senyum kebahagiaan terpancar di mulutnya mengetahui kini ia yang tidak lagi seorang tanpa bakat bawaan.
"..." sementara Ashura hanya terus menatap diam akan apa yang tengah Naruto lakukan sekarang. Sebelumnya ia sudah mengira hasilnya akan seperti ini jadi tak perlu lagi baginya untuk mengucapkan apapun.
Bagi seorang macam Naruto yang selama ini hidup di bawah olok-olok, sangat.., sangat menggembirakan untuk mengetahui semua ini. Ia kini tidak akan lagi menjadi seorang pecundang yang hanya bisa di pandang remeh oleh siapapun.
Perlu di ketahui bahwa untuk orang dengan bakat bawaan rata-rata hanya akan memiliki titik meridian terbuka di kisar 10 sampai 17, dan bila di temukan seseorang yang dimana di dalam tubuhnya ada 17 sampai 26 titik meridian terbuka maka orang itu akan bisa di sebut seorang jenius. Dan bila mana di temukan ada yang melebihi 26 itu bisa di sebut anak ajaib seseorang bisa menyebutnya jenius di antara jenius. Namun orang seperti itu sangat amat jarang bahkan di 5 kekaisaran besar mungkin hanya ada satu dua orang yang akan lahir dengan bakat bawaan macam itu tiap seratus tahun sekali.
Tapi dari sekian banyak catatan selama ribuan tahun belum ada anak yang di lahirkan dengan titik meridian terbuka melebihi angka 34, dan selama ini hanya dua orang yang di ketahui memiliki 34 titik meridian terbuka dalam tubuh. Pertama adalah sang legenda dari kekaisaran konoha yaitu sang kaisar pertama sekaligus pendiri kekaisaran konoha itu sendiri, Hashirama Senju. Dan yang kedua adalah sang rival sekaligus sahabat dari Hashirama itu sendirilah yang memilikinya, yang tak lain dan tak bukan adalah Uchiha Madara.
Catatan sejarah mengatakan keduanya dengan bakat bawaan di tingkat itu, mereka bisa mendaki ke alam kultivasi yang tak terbayang tinggi selama masa hidup yang mereka jalani dan di cap sebagai orang yang setengah langkah menuju alam para dewa. Nama keduanya berkumandang selama beberapa abat karena pencapaiannya di ha kultivasi. Hingga kini pun setelah hampir ribuan tahun berlalu dan keduanya tidak lagi ada di dunia. Nama besar mereka masih tetap berkumandang dengan penuh perasan hormat dari siapapun yang mendengarnya.
Namun di sini, di dalam tubuh seseorang yang kerap kali di pandang sebagai pecundang muncul sesuatu yang mungkin membuat para kaisar dari ke-5 kekaisaran akan gaduh bila menemukannya. Ke-54 titik meridian terbuka, jelas nenandakan bakan yang akan ia miliki sangatlah berlebihan. Dan bagi Naruto, orang yang memiliki itu bahkan bila di beri sepuluh kali masa hidup ia tidak akan sekalipun membayangkan bisa menjadi seperti sekarang ini.
"A.. aku tidak akan lagi menjadi seorang pecundang, haha...hahahaha!" tak ada kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaan senangnya sekarang ini. Tapi detik berikutnya tawanya langsung berhenti dan menggunakan kedua bola matanya memandang Ashura dengan wajah yang amat heran.
Wajah milik Ashura hanya santai seperti biasanya. Apakah ia tidak menyadari hal yang baru saja terjadi adalah hal yang sudah bertentangan dengan hukum langit dan bumi. Membuka satu titik saja sudah amat melawan hukum alam dan sekarang ia, pecahan roh yang selama ini menempel pada diri Naruto sedari kecil atau mungkin sedari Naruto lahir bisa dengan mudah membuka ke-54 titik meridian pada tubuh secara bersamaan. Dan yang membuat paling tidak bisa di percaya adalah wajah itu tetap sama, cuek dan santai ke titik di mana Naruto sama sekali tidak bisa merasakan kesombongan atau berbangga diri karena telah melakukan sesuatu yang menentang hukum alam. Ekspresi Ashura teramat biasa bagaikan menyaksikan sesuatu yang sudah umum ia lihat dan hal itu lah yang membuat Naruto terheran heran.
"Err..."
"Jangan katakan apapun!" sebelum Naruto berkata-kata Ashura telah lebih dulu menghentikannya, "Dan jangan terlalu senang..., apa kau tidak sadar jika kau sekarang masih lah belum mencapai apapun. Jika di banding orang seusiamu kau sudah tertinggal sangat jauh dari mereka, heh." ucap Ashura dengan wajah mengejek yang ia tunjukan pada pemuda di depannya ini.
Naruto tidak membantah dan sama sekali tidak merasa tersinggung atau berkecil hati mendengar apa yang Ashura katakan, yah memang karena semua itu benar. Meski ke-54 meridiannya terbuaka ia masihlah sama dengan Naruto sebelumnya, ia masih belum mencapai apapun bahkan belum melangkah ke ranah terdasar yaitu elementary realm kultivasi.
Memang di usianya kini ia baru akan bisa memulai perjalanan kultivasi, layaknya sebuah cangkir kosong yang belum terisi. Namun dengan begini, dengan ke-54 meridian terbuka itu akan lebih membuka jalan dan tidak lagi mustahil untuk mulai mengisi sebuah cangkirnya yang kosong. Dengan ke-54 meridian terbuka tidak akan lagi sesulit mendaki langit di banding ia yang sebelumnya yang bahkan tidak akan bisa bersentukan dengan konsep kultivasi energi spirit dengan semua meridiannya yang tertutup.
Dengan begini sudah sepatutnya Nruto merasa senang, merasa bahagia meski ini baru langkah awal di jalan cerita yang mulai ia ingin buat.
"Yah aku tidak menyangkal apa yang kau ucapkan... Tapi dengan begini sebuah harapan muncul, meski aku belum bisa melihat melalui harapan yang sudah kau berikan ini namun sudah sepantasnya aku senang dan harus berterima kasih padamu... Aku, aku benar benar berhutang sesuatu hal besar padamu, aku janji suatu hari aku akan membayarnya."
Binar ketulusan jelas memancar di mata Naruto. Ia tidak ragu akan apa yang ia ucapkan sebelumnya, jika suatu hari tiba Ashura membutuhkan sesuatu darinya bahkan bila itu mungkin akan mengancam jiwanya. Ia bahkan tidak akan mengeluh atau mengerutkan kening sedikitpun, ia pasti.., pasti akan melakukannya, apapun itu. Pernah Naruto berpikir Ashura membantunya karena ingin memanfatkan dirinya, tapi sekarang ia tidak pedili pikiran yang pernah terbesit di otaknya itu. Naruto tidak perduli, bahkan bila benar bantuan yang Ashura berikan hanya untuk membuatnya di manfaatkan nantinya, Ia tidak perduli. Yang jelas Ashura sudah membantunya untuk semua ini.
"Aku tidak butuh ucapan terima kasih darimu atau apapun itu aku tidak butuh..., aku lakukan ini hanya karena aku ingin." terjadi sedikit perubahan pada nada saat Ashura berbicara setelah mendengar ucapan Naruto tadi. Namun ia sama sekali tidak membiarkan Naruto tau perubahan nada yang ia gunakan tadi, "Sebelum ini aku sudah berjanji padamu akan membuka meridianmu dan mengajari beberapa hal tentang kultivasi, tapi semua itu masih dengan syarat dan syarat ku tetap sama..."
Naruto diam mendengarkan, ia tidak berniat untuk menyela ucapan Ashura. Benar! sebelum Naruto pergi Ashura sudah menjajikannya semua itu.
"Pertama mulai sekarang panggil aku Master, M-A-S-T-E-R... kau mengerti!" seperti mengajari cara bicara pada anak kecil, Ashura mengeja setiap huruf untuk Naruto. Dan untuk Naruto sendiri ia hanya menganguk patuh tidak barani memprotes, "Kedua jangan pernah lagi mengungkit-ungkit atau bertanya pertanyaan menyangkut siapa dan bagaimana diriku semasa hidup..., jika suatu hari kutemuka kau melanggar ini maka lupakan untuk aku mau mengajarimu lagi!"
Naruto sudah lama dan akrab bersama dengan Ashura jadi ia tau apa yang Ashura ucapkan sekarang adalah hal yang serius.
Untuk syarat pertama mungkin bagi Ashura hanya untuk formalitas karena secara tidak langsung Naruto akan menjadi muridnya jadi Naruto harus mulai memanggilnya dengan sebuatan master.
Tapi untuk syarat yang kedua Ashura punya alasan tersendiri. Ia tidak ingin semua hal yang bersangkutan dengan apapun semasa ia hidup diketahui Naruto, dan hanya dia sendiri yang tau alasan untik menyembunyikan semua tentang dirinya itu. Kerap kali Naruto bertanya tentang seperti apa saat ia hidup sebelumnya tapi selama ini ia sama sekali tidak pernah mau membuka mulutnya. Dengan di ajukannya syarat ini akan membuat naruto tidak aka bertanya lagi tentang dirinya, satu-satunya yang Ashura perbolehkan untuk Naruto tau adalah namanya. Hanya itu yang perlu Naruto tau..., untuk saat ini.
"baik Mas... ter."
Karena memang belum terbiasa, masih sedikit terasa aneh untuk menggunakan panggilan master pada Ashura. Selama ini Naruto sudah terlalu nyaman menganggil Ashura langsung dengan namanya. Dan untuk dua syarat ini ia sama sekali tidak keberatan. Namun masih ada sedikit keinginan untuk mengetahui identitas asli yang Ashura miliki. Untuk bisa membuka meridian dengan santainya bisa di pastikan Ashura bukanlah orang sembarangan semasa ia hidup. Bisa jadi dia adalah seorang ahli yang sangat kuat tiada taranya semasa hidup, kuat ketitik dimana Naruto pun tidak bisa membayangkan bagaimana itu menjadi.
"ok sekarang mungkin waktu yang pass untumu mencoba berlatih mengolah energi spirit." sebuah gagasan tiba tiba muncul di kepala Ashura, "Sebelum itu aku ingin memberimu sebuah teknik dahulu..., Ini bukan Art atau kemampuan yang berhubungan dengan energi spirit itu sendiri. Teknik yang akan ku ajarkan ini berhubungan dengan ketrampilan penguatan fisik dan teknik ini tidak memiliki persyaratan tertentu dalam pencapaian kultivasi energi spirit. Namun dalam mempelajarinya di butuhkan tingkat pemahaman yang sangat tinggi..."
"Teknik macam apa itu?" Naruto tak kuasa membendung rasa penasarannya.
"Teknik ini di sebut dengan 'Great Way of Buddha' ini adalah sebuah ketrampilan tubuh yang kupikir akan cocok untukmu, ia tidak bergantung pada kekuatan yang kuat, dan hanya bergantung pada kekuatan jiwa dan alam. Kultivasinya sama sekali bukan dari pertempuran, tapi dari pemahaman. 'Great Way of Buddha' memiliki total dua belas tahap. Tiga alam pertama bisa dianggap sebagai tahap awal, tapi dari alam keempat dan seterusnya, ia menjadi tahap peralihan. Tahap pertama memberi kekuatan seribu lima ratus kilo. Tahap kedua, akan mampu meningkatkan kekuatan lengan sebesar empat ribu kilo. Tahap ketiga dari Great Way of Buddha memberikan kekuatan sepuluh ribu kilogram, tubuh yang sekuat baja murni, dan kemampuan penyembuhan yang tidak mungkin dipahami oleh orang biasa. Tahap keempat akan memberikan kekuatan tubuh lima puluh ribu kilogram." jelas Ashura panjang lebar.
Ashura kemudian mengangkat tangan kanannya. Dari ujung jari telunjuk yang ia arahkan pada Naruto keluar sebuah benang aura berwarna ungu setipis benang. Aura tipir itu pun berangkak ke daerah di antara alis Naruto lalu kemudian masuk ke kepala Naruto.
"ini?" heran Naruto saat muncul beberapa informasi asing yang tiba tiba muncul di kepalanya.
"itu adalah cara untuk menguasai teknik 'Great way of Buddha'."
"Ohh...," respon singkat Naruto, ia tidak memiliki lagi sesuatu yang ing ia tanyakan. ia lalu mengambil nafas dalam-dalam, "Yosh! akan ku mulai latihan ku sekarang... Mulai dari saat ini akan ku tunjukan pada mereka bahwa aku bukan pecundang yang bisa mereka ijak seenaknya. Akan ku balas siapapun yang pernah berbuat hal-hal menyulitkan padaku sebelumnya dan akan ku buktikan bahwa aku bukan lagi orang lemah!" ucap Naruto sambil mengepalkan tangannya di udara.
Groooooowl
Sebuah suara yang datang dari perutnya membubarkan semua momen keren yang ingin Naruto bangun di depan Ashura. Ia lupa seauatu, terhitung sejak ia pergi meninggalkan konoha hingga sekarang sudah sehari semalam waktu terlewat. Dan di jangka waktu itu belum sama sekali perutnya mendapat asupan makanan.
Ashura hanya memandang Naruto bosan, " tentang cara bagaimana menerobos ke alam elementary ku rasa tidak perlu bagiku untuk menjelaskannya. Aku tau jika kau selalu membaca banyak buku tentang teori terobosan sebelumnya. Setelah ini terserah padamu, aku ingin istirahat dan jangan ganggu istirahatku apapun yang terjadi..." tubuh transpasan Ashura berubah menjadi kabut mutih, kabut itu kemudian melayang dan masik ke sebuah gelang giok hijau di tangan kiri Naruto.
Segera setelah menghilangnya Ashura dengan cepat Naruto menggosok cicin ungu yang terselip di jari telunjuk nya. Dua buah roti gandum serta sekantung kecil air muncul di depannya dan tidak lupa sebuah baju ganti untuk mengganti pakaian hiyam yang ktelah ia robek sebelumnya. Tanpa menunggu lebih lama lagi ia langsung melahap roti gandum tersebut.
Setelah selesai makan Naruto langsung memakai pakaian sederhana berwarna gelap tanpa motif yang terlihat sama seperti pakaian yang ia pakai sebelumnya. Ia kemudian duduk bersila di tanah berbatu untuk bermeditasi, Naruto ingin coba menerobos ke alan elementary sekarang juga. Ia mengosongkan semua pikiran, detak jantungnya tumbuh semakin tenang dan palan. Sekarang Naruto benar-benar memasuki kondisi dimana semua indra nya terisolasi dari dunia di sekitarnya. Ia menjatuhkan semua fokusnya dan berkonsentrasi penuh untuk mencoba menerobos ke alam elementry.
Dua jam berlalu dengan cepat. Di sekitar tubuh Naruto sejumlah kecil energi spirit mengembun ke permukaan, warna putih tranparan itu tumbuh semakin kerap dan tebal. Hingga pada akhirnya Naruto bisa merasakan sesuatu dalam dirinya yang berbeda dari sebelumnya. Ia sekarang bisa merasakan keberadaan energi asing yang sebelumnya belum pernah berkontakan sebelumnya. Energi yang masih tergolong lembut itu mengalir pelan melewati ke-54 titik meridiannya.
"Apa ini yang di namakan sebuah trobosan?" Naruto membuka mata sambil mengernyit heran, "Aku tidak pernah mengira melakukan sebuah trobosan akan semudah ini."
Bagi Naruto yang sebelumnya belum pernah engalami menerobos sebelumnya adalah hal yang wajar jika dia sedikit ragu. Tapi apa yang sudah terjadi adalah benar, ia dalam dua jam ini sudah resmi menerobos ke elementary realm pringkat satu. Naruto lalu berpikir mungkin ini disebabkan oleh ke-54 meridiannya yang telah terbuka, jadi itu mempermudahnya untuk melakukan sebuah trobosan.
Namun apa yang Naruto pikirkan tidak sepenuhnya benar. Memang benar terbukanya semua meridiannya juga berpengaruh pada kecepatan trobosannya, tapi alasan terbesar untuk kecepatan trobosannya adalah karena tingkat pemahamannya yang sudah masuk ke tingkat yang amat mengerikan. Tingkat pemahaman yang Naruto miliki adalah kunci sebenarnya dari kecepatan trobosannya.
Bagi orang denangn bakat normal dan tingkat pemahaman rata-rata akan memakan waktu paling tidak 6 bulan untuk melakukan terobosan ketika pertamakali mencoba. Dan bagi orang-orang dengan bakat dan tikat pemahaman di atas rata-rata paling cepat akan memerlukan 3 minggu. Tapi di sini kondisi Naruto berbeda, ia memiliki titik meridian yang semuanya telah di buka dan di tambah pemahamannya tentang energi spirit adalah pada tingkat paling mengerikan jadi sudah wajar jika dia hanya memerlukan dua jam untuk menerobos pertama kali.
Tidak ingin menyianyiakan waktu Naruto kembali membuat dirinya fokua dan berkonsentrai. Ia mengingat langkah-langkah yang Ashura berikan sbelumnya untuk bia menguasai teknik Great Way of Buddha. Naruto mengingat ketika Ashura menjelaskan tentang 'Great Way of Buddha', teknik ini tidak hanya akan memperkuat fisik tapi juga di lengkapi dengan mempercepat pemulihan untuk luka fisik luar dan internal.
Mengingat kondisi fisiknya kini yang mengalami banyak cidera luka bakar dan patah banyak tulang di tubuh mungkin akan sangat membantu jika ia bisa menguasai teknik 'Great Way of Buddha' ini. Ditambah lagi taknik ini tidak memerlukan syarat khusus dalam tingkatan kultivasi yang telah di capai.
Naruto membuat tubuhnya merasa serileks mungkin. Ia harus membuat tubuhnya senyaman munhkin untuk mempermudah ia saat ingin memahami teknik ini. Sebab dalam mempelajari teknik 'Great Way of Buddha' kuncinya adalah pemahaman yang kuat.
Kembali Naruto jatuh di kondisi yang terisilasi dengan dunia luar. Nafas dan detak jantungnya benar-benar pelan dan lembut. Ia sudah masuk ke proses pemahaman 'Great Way of Buddha'. Namun semakin ia mencoba memahami, Naruto mendapati jiwanya semakin tidak bisa tenang dan kacau, itu terasa eperti terombang ambing di lautan yang luas. Hingga sebuah suara yang terdenga seperti milik orang tua terdengar.
"Hmm? anak muda berusia 17, di pringkat satu elementary. Itu sangat buruk untuk kelompok seusiamu."
Suara itu tidak terdengar dari telinga. Namun sebaliknya suara itu berasal dari dasar jiwanya.
"Apakah kau benar benar ingin memahami apa itu 'Great Way of Buddha'."
Suara tua itu kembali bergema di alam bawah sadar Naruto.
"Ya!" jawab yakin Naruto.
"Lalu apa yang kau inginkan dalam hidup ini setelah berhasil menguasainya?" suara tua itu kembali bertanya.
"Aku ingin mendapat kekuatan. Kekuatan yang bisa membuatku memandang rendah pada seluruh dunia. Kekuatan yang bisa kugunakan untuk melindungi orang-orang yang berharga bagiku. Itulah keinginanku." Naruto menjawab jujur sambil mengingat kakeknya, Lee dan juga Kushina.
"Tidak buruk." ucap suara tua itu dengan tenang, "Untuk saat ini itu memang keinginan terbesarmu, ku akui kau cukup jujur. Tapi..., jika kau benar-benar ingin mempelajari 'Great Way of Buddha' sebelumnya kau harus bisa memahami apa itu Great way dan apa itu Buddha. Lalu, sebutkan apa yang kau pahami tentang keduanya padaku sekarang juga."
Naruto berusaha memutar otak, memikirkan bagai mana caranya menjelaskan tentang apa itu Great way dan apa itu Buddha dalam pemahamannya.
"Manusia lahir, tumbuh lalu kemudian mati. Itu semua adalah 'Great way'. semua peristiwa semasa hidup, baik dan buruk semua itu hal yang telah di garis sejak manusia lahir dan itu juga adalah 'Great way'. Great way adalah semacam hukum dasar yang mengatur manusia sejak lahirnya dia ke dunia hingga berakhirnya kehidupannya. Dan manusia tidak akan bisa lari dari hukum tersebut..," jawab Naruto tentang Great way menurutnya tanpa rasa ragu sedikitpun.
"Sementara Buddha adalah sang pencipta yang mengatur hukum dan segala sesuatu yang berhubungan dengan Great way. Ia juga adalah lambang dari kesalehan dan kebaikan."
"Hoho..." Suara tua itu tertawa pelan, "Anak muda, di usia mu sekarang pemahamanmu tentang sesuatu bisa di katakan sangat baik. Tapi apa yang kau sebutkan barusan adalah tidak salah namun juga tidak sepenuhnya benar. Jika kau menyebutnya seperti itu. Maka akan tidak berbeda jika kita juga akan bisa menyebutnya jalan takdir, benar kan? Itu berarti kau bilang berarti takdir tidak akan bisa di rubah kan. Oleh karenanya biarkan aku membawamu sebentar untuk melihat-lihat."
Alam bawah sadar Naruto yang semula putih kini bergoyang, ruang di sekitar berputar dan perlahan sebuah gambar berwarna muncul di depan Naruto.
Seorang anak kecil di kisar usia 5 tahun duduk nenekuk lutut di emperan sebuah bangunan. Anak itu amat kotor dan lusuh, pakaian yang ia kenakan tidak lagi bisa di sebuat layak. Di depannya ada seorang pria dengan ranbut hitam panjang sambil memegang sebuah payung karena sedang hujan. Tangan pria yang tudak ia gunakan untuk memegang payung terulur pada anak lima tahun itu. Bibir pria itu bergerak seperti mengucapkan sesuatu pada anak kecil itu.
"Kakek..." ekspresi Naruto berubah saat melihat hal itu. Kejadian ini adalah waktu jetika kakek angkatnya menjemputnya dari jalanan.
"Di sini bisa di lihat jika takdirmu telah berubah. Kau yang awalnya hidup di jalanan bisa beruntung mendapat seseorang yang mau merawatmu." ucap suara tua itu.
Gambar di depan Naruto berputar berubah menjadi pemandangan lain.
Terlihat seorang pemuda yang sedang dalam keadaan memprihatinkan dengan luka cambuk dan lebam diseluruh tubuhnya. Dari mulut pemuda itu cairan kental merah keluar dan jatuh ke tanah. Di samping kanan dan kiri ada dua orang lain yang memaksa pemuda itu untuk bersujud di tanah. Hingga akhirnya dahi pemuda menyedihkan itu sukses menyentuh tanah dengan posisi bersujud karena di paksa.
Seorang pemuda lain dengan setelan pakaian mewah meggunakan kakinya untuk menginjak kepala pemuda yang sedang bersujud itu. Arigansi dan kesombongan tercetak jelas di wajah dengan setelan pakaian mewah itu. Seyum puas tercetak di bibir penuda itu kala ia menginjak ijak kepala pemuda yang bersujud di bawahnya itu.
"Ini adalah di konoha. Saat di mana kau mengalami sebuah penghinaan terbesar dalam hidupmu. Apa tanggapanmu tentang hal ini." suara tua bertanya kepada Naruto yang masih diam.
"Mungkin ini adalah ujian yang di berikan yang maha kuasa padaku untuk menjalaninya." jawab Naruto pelan dan tenang tanpa sedikitpun emosi terpancar di kata-katqnya.
Adengan di depan mataya kembali berubah. Di atap sebuah bangunan besar seorang pemuda dan seorang gadis yang berpelukan erat sambil di terangi cahaya sang purnama. Mulut keduanya bergerak melantunkan janji-janji.
"Itu adalah kau dan salah satu orang terpenting dalam hidupmu, Uzumaki Kushina sang putri dari kekaisaran Uzu." ucap suara tua yang terus bergema di dalam jiwanya.
Adegan lainnya pun muncul memperlihatkan seorang pemuda yang berdiri di ujung sebuah tebing yang dasarnya gelap tanpa bisa di lihat. Dan pada akhirnya pemuda itu melompat ke dalam gelapnya jurang di bawahnya.
"ini adalah saat kau memilih untuk menantang kematian karena tidak adanya pulihan lain yang bisa kau ambil..." suara tua itu melemah. "Setelah menyaksikan semua itu apa kau mendapatkan sesuatu yang baru. Baiklah aku akan memberimu waktu lebih lama untuk merwnung kembali."
Suara tua itu menghilang, menyisakan kekacauan kompleks yang terjadi di alam bawah sadar Naruto. Perasaan dan pikiran Naruto kini tengah mengalami kemelut yang saling tumpang tindih. Di mulai ketika ia lahir ke dunia hingga sekarang semua yang di alaminya berputar-putar menjadi gelombang yang keras menggulung di jiwanya.
Setelah diam untuk waktu yang lama sebuah tawa yang keras mengakhiri itu semua. Sebuah senyum tercetak di bibir Naruto.
"Kurasa kau sudah memahami sesuatu." suara tua itu kembali terdengar dari jiwa terdalamnya.
"Hahahaha..., semua, semuanya yang kukatakan sebelumnya hanya omong kosong... Kelahiranku, kehidupanku adalah sebuah jalan. Pertemuan yang sudah ku alami. Waktu, kejadian dan semua elemen yang mengikutinya semua itu karena keberadaanku. Semua itu terjadi karena keberadaanku, tidak ada siapapun yang menggaris jalan yang ku lewati serta semua kejadian yang ku alami. Dan buddha pencipta dari hukum kehidupan itu adalah diriku sendiri. Aku lah yang memilih, membuat dan menghancurkan jalan yang akan ku lewati sesudah, kini dan sebelumnya. Great Way of Buddha sebenaarnya adalah perwujudan dari diriku sendiri, itulah yang sudah ku pahami dari semua ini."
"Hehehe..." sebuah tawa puas terdengar, "Anak muda akhirnya kau memahami apa itu Great Way of Buddha. Mulai dari sekarang masa lalu, masa kini dan masa depan yang kau ketahui adalah semua yang sudah kau ciptakan sendiri. Berjalanlah di jalan yang sudah kau ciptakan itu dengan semua keyakinanmu..."
...
Di dunia nyata dari tubuh Naruto yang masih bermeditasi keluar sebuah aura perak ke abu-abuan yang membentuk miniatur pagoda kecil yang terng melayang di atas ke pala Naruto. Pagoda kecil itu memancarkan cahaya perak kusam yang menutupi seluruh tubuh Nruto. Mulai dari luka bakar melepuh terbakar perlahan diswmbuhkan, tulang-tulang yang sebelumnya patah perlahan di perbaiki.
Cahaya perak yang terpancar dari miniatur pagoda itu merenovasi seluruh bagian dari tubuh Naruto. Kulit, daging, otot serta semua organ internalnya di perkuat berkali-kali lipat. Setelah selesai merenovasi fisik Naruto pagoda kecil itupun pelayang turun lalu kemudian masuk ke dalam tubuh Naruto.
Sebuah senyum samar terbentuk sebelum Naruto mulai membuka matanya kembali. Ia merasakan seluruh tubuhnya merasa sangat segar dan bertenaga. Ini terasa seperti ia mendapatkan satu set tubuh baru, kekuatan fisiknya jelas sangat meningkat. Naruto bisa merasakan itu. Visi penglihatannya di perjelas sampai berkali-kali lipat. Ini benar benar sebuah teknik yang luar biasa. Padahal ia baru melangkah ke tahap pertama dari ke-12 tingkatan yang ada di dalam teknik Great Way of Buddha ini, namun perubahan yang ia alami sudah seluar biasa ini.
Bayangkan jika dia bisa mengembangkan teknik ini ke tingkat tertinggi. Mungkin hanya dengan mengandalkan teknik ini saja tanpa menghiraukan pencapaiannya di kultivasi energi spirit ia akan bisa melawan orang dengan tingkat kultivasi yang berada di tingkat yang jauh berada di atasnya dengan sangat mudah.
Naruto memperpanjang tangannya dan memukul ke arah dinding goa.
Buk!
Tidak ada sedikitpun kerusakan yang terjadi di dinding batu keras itu, tapi Naruto juga sama sekali tidak merasakan sakit di tangannya yang sudah berbenturan keras dengan dinding batu. Itu berarti benar, ketahanan fisiknya sudah sangat meningkat. Naruto memandang kepalan tangannya, tidak ada luka lecet sedikitpun yang bisa ia temukan di sana.
"Jadi sekarang aku memiliki kekebalan tubuh macam ini?"
Mengalihkan perhatiannya dari kepalan tangan, Nruto melihat sinar jingga di luar goa yang berarti waktu sudah memasuki sore hari. Naruto bertanya tanya berapa lama waktu yang sudah ia lewati untuk bermeditasi. Terkadang orang yang bermeditasi akan tidak menyadari waktu yang sudah terlewat di sekitarnya. Naruto yakin tidak mungkin ia hanya bermeditasi sebentar.
Sebuah geraman lapar yang berasal dari perutnya membuatnya semakin yakin jika ia tidak hanya melewati sehari dua hari untuk meditasi. Karena jika mengukur dari rasa laparnya yang mungkin bisa menghabiskan setumpuk roti gandum dan satu guci besar air mungkin ia sudah bermeditasi selama tiga hari penuh.
Apa yang di pikirkan Naruto adalah benar ia sudah menghabiskan waktu tiga hari penuh untuk bermeditasi dalam proses menguasai Great Way of Budda. Tapi usahanya juga membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Di jangka tiga hari ia sudah masuk ke peringkat pertama elementary realm dan juga sukses menguasai tahap pertama dari 12 tingkatan dalam teknik Great way of Buddha.
Dengan menggosok cicin penyimpan Naruto mengeluarkan semua makan dan miniman. Ia berencana untuk meyantap semua itu untuk meredakan rasa laparnya. Di sela ia memakan sebuah eoti gandum ekspresi Naruto terlihat sedikit merenung. Pikirannya terbawa menuju ke ingin tauannya tentang keadaan Kushina sekarang ini, Naruto juga tengah memikirkan apa yang akan ia lakukan setelah ini. Mengingat di mana ia sekarang mungkin cukup menaantang jika ia nanti sedikit berkeliling sambil memilih caranya berlatih di sini ke kedepannya.
~•~
Ashura memang menyuruh Naruto agar tidak menggangginya saat ia ber istirahat. Namun ia juga tidak menyangka ia benar-benar menghabiskan waktu 7 hari penuh untuk beristirahat di gelang giok milik Naruto.
Saat ia memutuskan untuk keluar dan melihat-lihat mata miliknya harus di paksa sedikit melebar karena terkejut.
Dalam sebuah sungai dengan gulungan arus yang teramat sangat deras Ashura bisa melihat seorang pemuda yang hanya terlihat bagian kepalanya saja karena pemuda itu membenamkan dirinya di dalam sungai. Pemuda yang ternyata Naruto itu terlihat sekuat tenaga berusaha bertahan dari dorongan keras yang di berikan oleh arus air yang datang.
Namun baru dua detik berlalu Naruto terlihat kehilangan pijakannya pada dasar sungai yang berpasir. ia harus rela membiarkan tubuhnya digulung dan diseret oleh kuatnya arus air. Baru setelah terserat sejauh lima belas meter tubuh Naruto berhenti saat punggungnya membentur sebuah batu besar setinggi lima meter yang kokoh tegak di terjang arus sungai. Suara krak pertanda ada beberapa tulang yang remuk di punggungnya. Dari sudut mulutnya juga terlihat sedikit aliran kental berwarna merah yang terus mencoba untuk keluar dari mulutnya.
Ashura memutuskan untuk mendekati Naruto yang sekarang berusaha merangkak mendaki naik ke atas batu besar itu. Dengan matanya Ashura juga bisa menyaksikan kejang yang terjadi di seluruh tubuh Nruto pertanda bahwa ia sudah benar-benar tidak memiliki tenaga untuk mencoba mendaki batu besar itu.
"Apakah ini yang kau lakukan untuk berlatih selama aku tidak ada?" Ashura bertanya tanpa memiliki niat sedikit pun untuk membantu Naruto yang berusaha mencapai puncak batu besar yang menjulang di depannya kini.
Naruto belum menjawab karena ia merasakan tubuhnya semakin keras kejang dan sulit untuk di kendalikan. Namun bermodalkan kemauannya yang amat kuat ia terus berusaha terus hingga akhirnya ia bisa mencapai puncak batu dan duduk bersila di sana.
"ya." Dengan suara serak dan berat Naruto menjawab pertanyaan dari Ashura yang belum sempat ia jawab tadi.
"ini mengejutkan hanya dalam tujuh hari kau benar-benar sudah di tingkat dua elementary realm..., Tapi apa kau sadar jika cara mu berlatih ini sudah sedikit melebih-lebihkan dirimu sendiri. Andai ada sebuah batang pohon besar yang terbawa arus dan batang pohon itu menabrakmu itu akan dengan mudah mengubah kepala kosongmu itu menjadi bubur daging hemm?"
Ashura berucap sambil mengamati kondisi Naruto sekarang. Tapi baru sebentar bola matanya seakan ingin keluar saat melihat sebuah pagoda kecil berwarna perak kusam yang melayang di atas kepala Naruto. Dan bagi Naruto ia sudah tidak bisa mendengar lagi apa yang Ashura katakan karena ia menjatuhkan semua konsentrasinya dalam mengaktifkan teknik Great Way of Buddha untuk memulihkan kondisi fisiknya.
"Anak ini... apa ia sebuah monster. hanya dalam waktu singkat tujuh hari dia tidak hanya melangkah ke pringkat dua elementary realm, ia juga sudah menguasai tahap pertama Greatway of Budhha... Ini benar-benar sesuatu yang menentang langit." Dengan ekspresi tidak percaya Ashura terus memperhatikan Naruto yang tengah merekosntruksi tubuhnya dengan teknik Great way of Buddha.
Bagi orang sepwrti Ashura yang semasa ia hidup dia juga mempelajari teknik Great Way of Buddha bagai mana ia tidak bisa terkejut. Ia tau betapa sulit untuk mencoba menguasai teknik ini. Butuh setengah tahun baginya untuk resmi mencapai tahap pertama dari Great Way of Buddha. Namun di sini ia seperti menyaksikan sebuah mahkluk aneh saat melihat Naruto.
Pemuda yang awalnya hanya manusia biasa tanpa sedikit pun bakat, benar-benar memiliki kemampuan untuk menguasai teknik Great Way of Buddha di waktu singkat tuju hari. Ia sungguh harus terjejut karena keanehan ini.
Namun bila Ashura mengetahui jika Naruto hanya membutuhkan tiga hari untuk menguasai tahap pertama Great Way of Buddha dan hanya dua jam untuk menembus alam elementary ia mingkin akan shock ke titik di mana ia tidak akan bisa melihat Naruto sebagai manusia lagi.
Disini dimulailailah perjalanan kultivasi Naruto
.
.
.
.
.
.
Hmm... bersambung..
Maaf jika banyak typo, saya mengupload tanpa mengedit jadi harap di maklumi. karena saya di awal sudah bilang ini hanya iseng-iseng jadi mungkin saya masih sedikit malas untuk mengedit atau membaca ulang sebelum menguplod nya.
Hmm.. Great Way of Buddha itu teknik yang hampir mirip-mirip dengan senjutsu..
terakhir saya hanya mau minta pendapat, lebih baik pakai bahasa inggris atau indo untuk menulis teknik dan alam-alam kultivasi ya..
Saya bertanya begini karena kalianlah yang membaca jadi gimana nyamannya kalian ntar yang tentukan...
NAMA - Naruto
UMUR - 17
Tingkat kultivasi - elementary pringkat dua (saat ini)
...
Tingkatan kultivasi (tingkat kekuatan).
- Tahap Elementry tingkat 1 -10 (alam dasar).
- Tahap Nascent tingkat 1 -10 (alam lahir)
- Tahap True tingkat 1 -10 (alam benar)
- Tahap Spirit tingkat 1 -10 (alam roh)
- Tahap Earth tingkat 1 -10 (alam bumi)
- Tahap Sky tingkat 1 -10 (alam langit)
- Tahap Emperor tingkat 1 -10 (alam kaisar)
- Tahap Tyran tingkat 1 -10 (alam tuan)
- Tahap Sovereign tingkat 1 -10 (alam surga)
- Tahap divine tingkat ? (alam dewa)
Makasih ya temen-temen udah nyempetin baca fic gak jelas ini.
Ok sekuan dulu.. See ya bro and sist..
