Title : Graduation

Main cast : Chanyeol dan Luhan – other pairing will up soon

Rated : T

Chapter : 3

Warning: BL, Romance, Sad, many typo(s)


Biar berusaha segigih apapun, Dia tetap tak bisa menang di bidang olahraga maupun percintaan. Ada seseorang yang tak pernah menang.

..

..

..

..

Seoul, 2016

Fajar merangkak naik secara perlahan walaupun masih terlihat begitu gelap diluar sana dan suara dering berisik saling bersahutan satu sama lain dari dua ponsel yang berbeda tapi di setting dengan alarm di waktu yang sama. Dua tubuh berbeda ukuran dalam satu ranjang yang luas saling menggeliat namun pemuda bertubuh tinggi harus rela menjadi korban akibat tendangan tidak sadar dari si mungil. Yang akhirnya berhasil membuat salah satu dari dua penghuni ranjang itu terbangun dengan tidak elit dalam posisi jatuh terguling di lantai, ini menyakitkan untuk sapaan pagi hari.

Chanyeol tidak habis pikir, apa kekasihnya bermain bola dalam tidurnya? Sebegitu cintanya pada sepak bola? Baru semalam dia terjungkal dan pagi ini pun harus merasakan kembali dari pemiliki kaki yang sama. Harusnya ia bisa terbangun dengan cara lebih baik seperti ciuman selamat pagi atas kesukarelaannya menginap disini semalam dan kesabarannya untuk menuruti keinginan Luhan yang tak ingin disentuh lebih dari sekedar foreplay dan membuatnya menuntaskan semuanya sendiri di kamar mandi.

Berdiri mengambil salah satu ponsel untuk dimatikan alarmnya, dan salah satu ponsel lainnya ia letakkan tepat di telinga sang kekasih. Mulai menanti si rusa terbangun, kekasihnya harus mendapat balasan setimpal. Dering begitu keras pada telinganya membuat si rusa terloncat dari tidurnya dengan cepat yang tak lama terjatuh akibat tersandung kakinya sendiri. Luhan menyadari bahwa ini perbuatan yang disengaja setelah sadar ada suara tawa menggema saat dirinya terjatuh dengan posisi kening membentur lantai dan kaki yang masih tergantung di atas tempat tidur. Ini memalukan, paginya buruk.

Chanyeol tahu ada tanda bahaya setelah lirikan mata mematikan sang kekasih, dan dirinya mulai mengambil langkah menuju kamar mandi dengan berlari keluar dari kamar Luhan, mengabaikan teriakan kekesalan sang kekasih. Melewati dapur dan melihat ibu kekasihnya sudah berkencan dengan peralatan dapur.

"Pagi ibu" memberi sapaan dengan ciuman pada pipi sang ibu, wanita paruh baya itu hanya tersenyum mengerti bahwa ada yang tidak beres. Dan selalu seperti itu jika Chanyeol menginap, paginya begitu ramai dengan teriakan Luhan akibat kenakalan Chanyeol.

"Apa yang kau lakukan pada anakku hm? Teriakannya bisa membuat ayahnya terkena serangan jantung" si ibu melempar guyonan sambil terus melakukan kegiatan menyiapkan sarapan.

"Balasan ucapan selamat pagi setelah menendangku terjatuh dari tempat tidur, bu. Dan kurasa, aku harus cepat atau dia akan menyusulku" Chanyeol berlari masuk kamar mandi dengan sebelumnya meneriakkan pesan pada sang ibu.

"Kalau Luhan ingin membalas, suruh ia masuk ke dalam untuk menyusulku, bu" ibu Luhan hanya menggeleng tertawa. Rumahnya sungguh ramai sekali di jam 6 pagi ini. Dan tak lama, anaknya muncul dengan wajah kebingungan.

"Chanyeol bilang, kau bisa membalasnya didalam sana" sambil menunjuk ke arah kamar mandi tempat Chanyeol berada. Luhan mendengus jengah.

"Yang ada aku tidak akan selamat didalam sana, bu" rengek Luhan.

..

..

"Kau masih marah padaku? Kau sudah menendangku tiga kali sebagai pembalasan. Berhentilah merajuk. Kau menggemaskan" Chanyeol tetap mengoceh tak karuan tanpa peduli jika sederet kalimatnya berdampak buruk pada wajah Luhan yang memerah malu sampai ke telinganya.

"Diamlah bodoh" Luhan merasa ini perjalanan terlama menuju sekolah. Harusnya ia menolak pergi ke sekolah saja hari ini, dia seperti orang tua yang mengantar anaknya untuk latihan atau les dan semacamnya. Dia tidak ada keperluan lain di sekolah selain menunggui kekasihnya selesai latihan berlari.

Bus berhenti pada pemberhentian di dekat sekolahnya, dan mereka harus berjalan sedikit untuk sampai. Mereka tidak hanya berdua, banyak siswa lainnya yang menempuh perjalan dengan cara yang sama. Chanyeol sudah mendapatkan maafnya setelah diberi pukulan sayang pada tempat favorit Luhan. Berjalan dengan beberapa sapaan dari siswa lainnya. Mereka berdua adalah dua dari tiga siswa favorit disekolahnya, jadi tidak heran jika mereka selalu mendapat sapaan disana-sini.

"Belajarlah yang benar, aku akan menunggumu ditempat biasa nanti" ucap Luhan sebelum Chanyeol meninggalkannya.

"Jangan khawatir. Aku kembali ke kelas dulu" Chanyeol berlalu menuju kelasnya sendiri yang terletak di lantai dua.

Setelah menuruni anak tangga yang tidak terlalu banyak, tangannya nyaris menggapai pintu kelas namun gagal akibat sebuah pelukan pada lehernya dari arah belakang yang cukup mengagetkannya. Badannya terhuyung ke belakang dan jatuh menindih seseorang yang memeluk lehernya tadi. Melepaskan pelukannya dan menoleh ke arah si pelaku.

"Kau ingin membunuhku?" pertanyaan jengkel itu hanya dijawab cengiran tak berdosa dari si pelaku.

"Hahaha maaf! Aku hanya ingin menyapamu, Yeol" suara itu merengek menggelikan di telinga Chanyeol.

"Berilah sapaan yang tidak seperti percobaan pembunuhan. Kau bukan memelukku tapi mencekik leherku" dan lagi-lagi yang diajak bicara hanya tertawa geli merasa berhasil merusak pagi orang di hadapannya ini.

Tetap saling menyalahkan dan disanggah dengan pembelaan sampai tidak sadar posisi mereka masihlah terduduk dilantai koridor yang terkadang mendapat tatapan heran dari setiap orang yang melewati mereka. Tapi mereka tidak peduli, seluruh penghuni sekolah tahu sebagaimana akrabnya mereka.

Chanyeol merasa ini sudah terlalu lama, dan dia harus benar-benar masuk ke dalam kelasnya. Lima menit lagi jam mengajar akan dimulai dan itu membuat Chanyeol berdiri lebih dulu dan merapihkan seragamnya. Dengan segala kebaikan hatinya, ia mengulurkan tangannya untuk membantu si perusak harinya berdiri. Namun tangan itu justru mengenggam tangan lain sebagai tumpuannya berdiri. Chanyeol menarik kembali tangannya setelah tahu siapa si pahlawan kesiangan didepannya ini.

"Aku kembali ke kelas dulu, Yeol"

"Ya, sampai bertemu nanti, Baek"

Chanyeol menatap punggung sempit milik Baekhyun –si pelaku yang nyaris mencekiknya- menjauh dengan seseorang yang membantunya berdiri tadi, yang tak lain adalah mantan kekasih Baekhyun. Tersenyum pahit melihat Baekhyun yang masih selalu tersipu tiap kali sang mantan kekasih berada disekitarnya.

'Jika masih saling membutuhkan, kenapa tidak kembali saja. Dasar pasangan bodoh'

..

..

Tidak ada siswa yang dapat duduk tenang menantikan jam mengajar berakhir setiap harinya sehingga mereka dapat segera meninggalkan sekolah dan memanjakan diri dengan ranjangnya. Bel sekolah berkali-kali lipat terdengar merdu jika berbunyi sebanyak empat kali yang menandakan jam sekolah telah berakhir, bahkan siswa teladan pun bisa menjadi nomor satu juga dalam hal meninggalkan kelas saat suara merdu itu terdengar di seluruh penjuru sekolah.

Chanyeol bukan seseorang yang teramat rajin untuk menjadi orang paling terakhir meninggalkan kelas, tetapi dirinya terlalu malas untuk berebut keluar melewati pintu yang sempit. Setelah merasa isi tasnya sudah terpenuhi, dan membaca pesan dari Luhan yang menyatakan bahwa dirinya sudah berada diatas untuk menemani Chanyeol latihan. Dirinya segera bergegas menuju ruang ganti untuk mengganti seragamnya dengan pakaian lebih santai.

Sekolahnya adalah salah satu sekolah terbaik di Korea Selatan, Hanyoung High School. Dengan memiliki fasilitas lengkap, sistem belajar–mengajar terbaik dan nyaman, menu makan terbaik pada kantinnya saat jam istirahat, dan pastinya memilki peraturan dan persyaratan yang cukup ketat untuk bersekolah disini. Dan sekolahnya ini selalu memiliki jadwal acara tahunan sehari menjelang kelulusan para siswa tingkat akhir, lomba marathon tahunan. Hanya beberapa siswa yang mengikuti kegiatan ini dan selebihnya memilih untuk duduk manis menjadi penonton. Tapi menjadi wajib untuk siswa yang memiliki catatan nilai terbaik untuk olahraga khususnya bidang lari.

Lapangan sudah dipenuhi beberapa siswa yang ikut berpartisipasi dalam acara marathon tahunan sekolah, salah satunya Chanyeol yang sedang melakukan sedikit pemanasan sambil terus menajamkan pendengarannya demi mendengar instruksi dari sang guru. Dan dirinya sudah harus bersiap pada lintasan lari di pinggir lapangan.

Ini hanya waktu latihan diluar jam sekolah tetapi beberapa siswa mengikuti bagaimana kegiatan ini berjalan, saling bertaruh siapa yang lebih unggul kali ini, apakah masih sama dengan tahun lalu? Atau kedudukan bisa terganti dengan yang lain? Walaupun terkadang hasil latihan dan hasil mutlak pemenang pada harinya mungkin bisa saja berbeda.

Cuaca panas sudah tidak dihiraukan lagi untuk tetap memacu kakinya berlari lebih dan lebih cepat lagi demi mendapat catatan waktu terbaik. Jantungnya berdegup diatas normal seiring langkah kakinya yang kian melaju cepat dengan peluh membasahi layaknya terguyur air hujan. Tidak peduli semua itu, garis finish sudah terlihat menanti di depan matanya dengan sang guru yang setia berdiri dengan stopwatchnya. Tidak ada siapapun di depan atau sisi kanan kirinya, dirinya akan menjadi nomor satu kali ini.

..

..

"48.24 detik! Catatan waktumu semakin baik. Pertahankan itu, Jongin"

Sang guru pergi begitu saja setelah dengan baiknya memuji sang nomor satu, Kim Jongin. Sedangkan Chanyeol harus rela menjadi si nomor dua lagi, dengan selisih detik. Ini sebuah kemajuan sebenarnya, dari menit menjadi detik, tidak seperti biasanya. Setiap kali ia yakin bahwa dirinyalah yang paling mendekati garis finish, tapi di detik itu juga ia selalu melihat Jongin menyusulnya dan mencapai garis kemenangan lebih awal.

"48.28 detik! Wah- kau berlatih dengan sangat giat Park Chanyeol, catatan waktumu menjadi lebih baik dari sebelumnya"

Harusnya Chanyeol cukup puas dengan hasilnya hari ini, dia semakin mendekati rekor si nomor satu. Dan memang selalu begitu sebenarnya. Tapi entah kenapa, dirinya terkadang lelah menjadi si nomor dua, seakan selalu menjadi bayangan dimana tempatnya adalah selalu di belakang bukan di depan Kim Jongin.

Chanyeol berjalan mendekati sang nomor satu saat dirasa sudah dapat bernafas dengan normal. Jongin masih tetap dalam posisinya yang membungkuk demi mendapatkan udara segarnya kembali, ia menyadari bahwa seseorang yang dikenalnya tengah mencoba mendekat atau mungkin akan membuka suara sebentar lagi. Jongin terlihat tidak peduli dan segera menegakkan tubuhnya, meraih botol minumnya dan meminumnya dengan tidak sabar. Mengacuhkan apapun yang ada di sekitarnya, itulah dirinya.

"Kai" Chanyeol memanggilnya dengan nama sapaan seperti yang lain. Tidak ada yang memanggilnya begitu lembut dengan nama kecilnya –Jongin- seperti keluarganya atau seseorang yang menjadi pengecualian untuknya. Kai masih sibuk dengan air minumnya, dan Chanyeol juga tidak peduli. Sudah terbiasa tak mendapat balasan baik dari lawan bicaranya ini.

"Aku rasa kau mendengar bahwa catatan waktuku semakin mendekatimu" tetap tidak ada tanggapan dan Chanyeol memutuskan untuk melanjutkannya. "Aku rasa tahun ini, kau akan melihatku mencapai garis finish jauh di depanmu" Kai tertawa remeh mendengarnya, sekali lagi ia terlihat tidak peduli sama sekali. Merapihkan isi tasnya dan bersiap pergi meninggalkan sekolah, dan berbalik sebelumnya untuk menanggapi omong kosong Chanyeol.

"Sebenarnya aku tidak peduli siapa dan kenapa orang lain ingin mengungguliku. Kau hanya akan terlihat menyedihkan dengan segala usahamu saat sadar bahwa dirimu hanya akan selalu menjadi si nomor dua, Park Chanyeol" Kai berjalan menjauh meninggalkan area lintasan lari dan semakin menjauh berbelok keluar dari lingkungan sekolah. Chanyeol terdiam di tempatnya, memikirkan segala perkataan Kai yang terasa begitu menjatuhkan harga dirinya.

Dirinya dan Kai memang sedari awal tidak dalam ikatan hubungan yang dapat dikatakan baik ataupun buruk. Mereka tidak saling mengenal, jadi bagaimana bisa mereka bermusuhan ataupun berteman? Dari hari pertama mereka menjadi sorotan akan gelar atlet sekolahpun, mereka tidak terlibat dalam pembicaraan ataupun saling bersaing satu sama lain. Kai bukanlah tipe orang yang ingin membuka diri sama sekali, dan Chanyeol pun cukup waras untuk tidak mendekati orang semacam itu. Tapi entah sejak kapan Kai mulai memandangnya dengan tatapan berbeda dan menganggapnya saingan secara kasat mata. Tidak peduli fakta bahwa Kai seharusnya bersikap baik pada sahabat kekasihnya saat itu.

"Chanyeol!" satu teriakan mendengung pada telinganya dan dapat menarik kesadarannya kembali. Sedikit menunduk untuk melihat mahluk kecil yang penuh keringat akibat kegiatan larinya, yang ia yakini pasti orang di hadapannya ini mendapat urutan paling terakhir.

"Bisakkah kau tidak selalu berteriak? Tadi pagi kau mencekikku dan sekarang kau ingin membuatku tuli?" mahluk kecil dihadapannya tidak peduli, dirinya merasa tidak bersalah kali ini.

"Aku minta maaf soal tadi pagi, tapi untuk kali ini kau memang tuli sebelum aku meneriakimu. Kau tidak menjawabku, kau hanya diam seperti patung sedari tadi" Oke, Chanyeol mengaku kalah untuk berdebat dengan mahluk cerewet satu ini.

"Ada apa?" Chanyeol tidak ingin memperpanjang debat konyolnya ini dan memutuskan untuk berbasa-basi menanyakan maksud si pendek meneriakinya tadi.

"Harusnya aku yang bertanya, kau bertengkar lagi dengan kekasihku?" pertanyaan itu dihadiahi satu dorongan keras pada dahi si mungil dari jari panjang Chanyeol.

"Siapa yang kau maksud kekasih? Kai? Kim Jongin? Aku berbaik hati untuk mengingatkanmu, bahwa dia adalah mantan kekasihmu yang masih dapat membuatmu tersipu malu layaknya wanita, tapi bukan kekasihmu."

"Ya ya ya, terima kasih sudah mengingatkanku, Park Chanyeol. Tapi sungguh aku tidak peduli dengan kenyataan yang ada selama dia masih memperlakukanku seperti kekasihnya" Chanyeol mendengus geli mendengarnya.

"Terserah kau, Byun Baekhyun. Itu bukan urusanku"

"Jadi kalian kenapa?" tidak ada jawaban dan pembicaraan apapun. Chanyeol lelah dan tidak mau membahasnya lagi. Lebih baik ia menyusul Luhan yang pasti sudah kelelahan menunggunya sedari tadi.

"Jangan dipikirkan, okay? Kai mendapatkan piala nomor satunya disini, di lintasan lari ini. Tapi kau memiliki piala nomor satu sekolahan ini" Baekhyun mencoba menghibur sahabatnya walaupun ia sendiri tidak yakin dengan apa yang dikatakannya. Setidaknya ia berusaha memilah kalimat yang baik untuk diperdengarkan.

Tapi sepintar apapun Chanyeol, terkadang otaknya suka melambat saat berpikir. Atau mungkin Baekhyun harus pintar memilih kata yang lebih mudah dicerna dan tidak ambigu di telinga Chanyeol. Seperti sekarang muka bodohnya terpasang untuk menanyakan apa maksud Baekhyun barusan.

Baekhyun mendengus sebelum menjawabnya dengan gerakan jari menunjuk seseorang jauh di belakang tubuh tinggi sahabatnya. Chanyeol berbalik demi mendapatkan jawaban dan melihat seseorang berdiri di tempat tertinggi di sekolahnya, atap yang menjadi tempat favorit Luhan. Memandangnya balik dengan lambaian tangan mengarah pada mereka berdua.

Chanyeol melihat kekasihnya berdiri disana, menunggunya dengan setia tanpa menghiraukan rasa pegal pada kakinya yang akan berujung dengan rengekkan untuk minta digendong atau sebuah pijitan gratis pada kaki pendeknya dan traktiran satu bubble tea taro. Kali ini dirinya harus membenarkan perkataan sahabatnya, ia seharusnya merasa cukup untuk menjadi si nomor satu yang memenangkan hati seorang bintang sekolahnya sejak 2 tahun lalu. Luhan adalah pialanya, dirinya adalah pemenang nomor satu dan satu-satunya dari sekian banyak orang yang berharap lebih terhadap kekasihnya, si pria cantik yang menjadi incaran para penghuni sekolah, Luhan.

To be continue-

Muehehe hai!

Maaf maaf maaf maaf sekali. Maaf aku telat 2-3 minggu buat update chapter 3 ini karena aku lagi masuk malem, ada lomba 2 minggu ini jadi harus latihan dan ribet buat urus perpanjangan paspor. Maaf banget.

Oke, chapter sebelumnya penasaran sama surat. Nah klo sekarang penasaran sama apa lagi? Baekhyun? Kai? Atau gurunya? Kkk~ ntar semua kejawab kok ya, sabar yoms. Pokoknya semoga suka ya.

Aku mau ucapin terima kasih lagi dan lagi buat kalian yang dateng ke page ini buat baca ff aku, review, dan follow ataupun nge fav cerita ini. Dan semoga setiap chapter yang aku publish ga mengecewakan tapi malah bikin kalian terus mau baca dan penasaran hehe. Sebetulnya aku mau banget bales satu-satu review kalian Cuma belum sempet, nanti ya sekalian banyak aja muehehe.

Okay, see you on the next chapter^^