Minae: Ah, yah, sekarang yang bikin ceritaini bukan diriku seorang, tapi juga Zuerna dan Sawase, tapi chapter ini yang bikin Zuerna sebagai hukuman kalah tebak-tebakan! Ohohoho~~ Tapi lama banget yah, dan sekarang dia lagi pergi dan cuma ngomong buat di edit & publish segera.
Sawase: Dia lagi galau gara-gara NEM + nilai Matematikanya kalah darimu Minae-chan
Minae: Saatnya bales Review~~! *cuekin Sawase*
Hasegawa Michiyo Gled
Err yah, gomen kalau pendek, sekarang gak tau deh sama Zuerna dibikin panjang ato gak,
KaiMik mungkin enggak tapi Len, entahlah
Dan gomen sekali lagi karna enggak update kilat, Zuerna lelet sih (Sawase: Dibilang galau gara-gara NEM mu lebih tinggi dari Zuerna)
Arigato Reviewnya~~~!
nijihanaoichi
Benarkah? Arigato~~~!
Ahahaha. Gak papa kok kalo baru review, Sawase-nee juga sering gitu *dideathglare Sawase*
Romance sepertinya dikabulkan, Zuerna bilang lebih gampang Romance dari pada Friendship sih, (Aneh? Memang)
Arigato Reviewnya~~~!
Shiroi Karen
Ini udah lanjut kok Shiroi-san~~!
Fufufufu~~ Kami bertiga, ralat berdua (Minae & Zuerna) kan penggemar KaiMik, jadi bakal ada moment KaiMiknya
Fufu~ Silakan baca untuk mengetahuinya
Arigato Reviewnya~~~!
akanemori
Silahkan baca~ Jawabannya ada di chapter ini
Eh, benarkah? Len polos? Soalnya say juga polos sih *pasang wajah sepolos mungkin*
Mungkin, soalnya saya lagi kena virus GakuLuka sih *WaTaDos*
Arigato Reviewnya~~~!
Disclaimer: Yamaha dan Crypton Future media
Warning:Typo bertebaran, Abal, Aneh, GaJe, bloody scene, tidak memenuhi syarat EYD dll
Genre:Mistery/Horror/Friendship(GaJe)/Romance(Aneh)
Happy Reading Mina~~~
DellHaku side
"Suaranya berasal dari sana," Haku menunjuk pohon besar di dekat mereka dan mendekatinya.
"Huhuhuhu..." suara tangisan itu semakin jelas sejelas kulit hitam Minae (*Zuerna ditimpuk kotak tisu sama Minae* / Mi: Kulitku. Putih.) Ralat, suara tangisan itu semakin jelas saat Haku mendekati pohon besar itu.
"Hey! Haku! Hati-hati baka!" Dell menahan pergelangan tangan Haku.
" . . . " seolah tersihir Haku terdiam dan menepis pergelangan tangan Dell.
"?!" Dell kaget, baru pertama kalinya Haku menepis tangannya. "Apa yang kau lakukan?!" Dell memegang bahu Haku dan melihat tatapan kosong dari mata Haku.
"Hey! Kau baik-bai saja Haku?! Haku!" Dell menggoncang-goncang bahu Haku khawatir.
" . . . " Haku tak merespon, diam tak bergeming sebelum tangannya menepis tangan Dell dari bahunya.
"Huhuhuhu..." suara itu terdengar lagi. Haku segera menuju sumber tangisan tanpa mengatakan apapun pada Dell yang kebingungan akan sikap Haku.
Miku dkk side
"D-dimana sebenarnya Haku dan Dell?" Miki berucap sembari mengelap keringatnya karna berlari mencari Haku dan Dell.
"Hosh... Hosh... Aku cape..." Rin mengeluh diikuti anggukan dari semuanya.
"Sangat cape..." Len bersender di pohon terdekat. Di sebelahnya ada Gakupo yang akan memberikan air minum (yang entah didapat dari mana) pada Luka.
"Aku juga mau Gakupo," Neru menjambret(?) air minum yang akan diberikan pada Gakupo untuk Luka.
"Aku juga mau," Nero mengambil air minum yang dipegang Neru.
"Miki juga mau," Miki menyabet(?) air minum yang dipegang Nero. Dan terjadilah perebutan air minum yang entah di dapat darimana milik Gakupo.
". . . " Miku terdiam melihat teman-temannya berebut air minum tanpa menyadari Kaito yang terus memandanginya.
"Miku-chan..." terdengan suara halus tepat di telinga Miku.
"!" kaget, otomatis Miku menengok ke kanan dan kiri dirinya melihat apa ada orang di sekitarya.
Nihil.
Tak ada seorang pun yang berdiri di dekatnya. Miku hanya melihat Kaito yang bersender di pohon sebelah kirinya. Tapi tak mungkin kaito, karna jaraknya dengan Miku beberapa meter. Sedangkan suara yang di dengar Miku tepat di kedua telinganya.
Miku merasa suara itu familiar di telinganya. Sangat familiar.
"Ada apa Miku?" Kaito yang melihat gelagat aneh Miku menghampirinya.
"Ng? T-tidak apa-apa kok, Kaito," tersenyum. Miku mencoba tersenyum. Tapi yang terlihat di mata Kaito adalah, Miku yang gelisah dan khawatir.
"Kalian tidak minum?" Rin menghampiri Kaito dan Miku seraya menyodorkan air minum pada mereka. "Lainnya sudah minum," lanjut Len yang ikut menghampiri mereka. Kaito mengambilnya dan meminum sedikit, lalu menyerahkannya pada Miku.
"Arigato," Miku tersenyum. Senyum gelisah dan khawatir di mata Kaito.
"Menurut Miku-san, Haku-san dan Dell-san ada dimana?" Piko mendekati Miku.
"Ehm..." Miku berfikir apa yang dditanyakan Piko.
"100 meter arah barat..." suara itu lagi. Suara yang familiar bagi Miku, tepat di telinganya. Bingung. Percaya? Atau tidak percaya?
"Percayalah..." suara itu terdengar lagi.
"Temanmu ada disana..." tak ada salahnya mencoba, pikir Miku.
"Ehm, b-bagaimana kalau kita coba ke arah barat?" Miku mencoba berbicara senormal mungkin. Tanpa disadari gelagat anehnya ditangkap oleh mata Kaito.
"Benar juga, mungkin saja mereka ada disana," Rin mengangguk-angguk.
"Ayo kita kesana!" Len mengajak mereka dengan tangan yang menunjuk arah barat.
"Tanpa berlari," ucap Neru yang kehabisan tenaga. Diikuti anggukan lainnya yang sudah kehilangan tenaga.
"Kau akan mendapat kejutan disana, Miku-chan..."
DEG
Khawatir, takut, gelisah, penasaran. Semua perasaan itu bercampur aduk di pikiran Miku.
Mereka berjalan menuju arah barat yang diucapkan Miku.
Tes. Tes. Tes. Gerimis mulai turun diiringi suara petir yang menyambar-nyambar.
"HAKU!" suara itu. Suara Dell. Miku, ah, tidak, semuanya merasa ada hal buruk, sangat buruk terjadi pada Haku. Entah mengapa Miku merasa akan ada yang terjadi sesuatu pada Dell.
"I-itu suara Dell," Neru berkata gemetar dan memeluk lengan Nero.
"Suara itu berasal dari sana," Kaito berjalan ke arah yang ia yakini.
"K-kau yakin Kaito?" Luka mengikuti Kaito walau takut ¾ mati diikuti lainnya. Kaito mengangguk pasti.
Srek Srek Srek
Kaito menyingkirkan semak-semak yang menghalangi jalannya.
"Dell-san! Haku-san!" Piko memanggil Dell dan Haku berkali-kali yang tidak mendapat respon dari siapapun.
"ARGHHHHHHHHHHHHHHH!" teriakan memilukan dan miris itu terdengar sangat dekat dari tempat Miku dkk.
"Itu, bukankah suara Dell?" pertanyaan bernada pernyataan berasal dari Gakupo yang dalam posisi siaga.
Tes. Cairan kental berwarna merah kehitaman menetes di depan Piko.
"Ng? Apa itu?" Piko menunjuk cairan itu.
"Mana?" Kaito melihat cairan itu. "Ini darah," ucap Kaito disertai latar hutan yang gelap dan suara petir yang menyambar membuat semua yang mendengarnya tegang. "Darah manusia," lanjutnya lagi membuat suasana semakin tegang dan gemuruh petir yang belum mereda.
"K-kau bercanda Kaito?" Luka bertanya dengan takut. Berharap Kaito hanya bercanda mengatakan cairan kental itu darah. Namun naas, Kaito menggelengkan kepala bahwa ia tak bercanda a serius. Pupus lah harapan yang menganggap Kaito hanya bercanda.
"Tapi, dari mana asal darah itu?" Neru angkat suara, dibalas kedikan bahu Kaito.
JDER. Suara petir makin menjadi.
"Aaaa-" Miki tiba-tiba terduduk lemas dengan suara yang gemetar dan telunjuk yang menunjuk sesuatu di atas pohon. Spontan semua melihat ke atas dan,
"JDGLARRRRRRRRRRR/KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!" suara ketakutan dan kekagetan anak-anak perempuan bercampur dengan suara petir. Dengan penerangan dari petir remang-remang di belakang sesuatu yang ditunjuk Miki diatas pohon.
Diatas pohon, terlihat sosok manusia dengan mata yang keluar memperlihatkan urat dan saraf mata, kulit wajahnya robek dari mata sampai mulut, tangan dan kaki menjuntai hampir putus, perut yang terbuka dan usus yang terpotong-potong menggantung di atas pohon.
Pluk. Lambung dari sosok manusia itu terjatuh. Spontan semua menutup mulut mereka dengan tangan. Menghindari bau yang menyengat dari organ tubuh manusia yang terjatuh.
"Uhk- bau sekali," Nero menutup hidungnya.
"Menurut kalian siapa yang ada di atas sana," Kaito berkata sembari menunjuk sosok manusia yang terbengkalai di atas pohon.
"Hem... Itu..." Nero memasang gaya berfikir.
"Haku..." Miku berbisik, tapi terdengar oleh semua. Sontak, semuanya memandang Miku .
"M-mungkin saja, itu Haku kan?" suara Miku terdengar gemetar, takut kalau tebakannya benar.
JEDERGLARRRRRR. Suara petir lebih keras dan memperlihatkan cahaya yang lebih terang melatar belakangi sosok manusia itu. Terlihat sosok manusia perempuan berambut putih panjang.
"I-itu," Rin kehabisan kata-kata tertuduk lemas di sebelah Len.
"R-rinny!" Len mengguncang-guncang bahu Rin.
"Benar-benar Haku," lanjut Rin gemetar dan menahan tangisnya.
"Kita harus segera pergi dari sini," Kaito berkata serius menatap semua teman-temannya. Diikuti anggukan dari semua laki-laki (yang perempuan masih pada gemetar). Len menopang Rin yang masih lemas. Gakupo menarik Luka. Piko menggenggam tangan Miki. Neru dan Nero yang bergandengan tangan. Mereka semua segera berjalan mencari jalan keluar.
"Kejutan yang menarikkan, Miku-chan~" suara itu lagi. Suara yang hanya bisa di dengar Miku tepat di telinganya.
Hangat. Tiba-tiba tangan Miku terasa hangat. Otomatis Miku menoleh dan mendapati Kaito yang menggenggam tangannya dengan semburat tipis di wajahnya.
"Cepat," ucap Kaito datar dan menarik tangan Miku menyusul teman-teman mereka yang berada di depan mereka.
Duk. Brug. Luka tersandung sesuatu dan terjatuh ke sekitar semak-semak yang untungnya berhasil diselamatkan Gakupo.
"Luka-sama, daijoubu?" tanya Gakupo yang mengkhawatirkan keadaan Luka.
"Uh... Aku tersandung sesuatu tadi," ucap Luka yang kembali berdiri. Gakupo memeriksa dan menemukan kaki yang terjulur dari semak-semak.
"Heiy! Kalo tidur jangan disini! Membahayakan Luka-sama!" Gakupo yang kesal menarik kaki itu.
"GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA/KYAAAAAAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
"Ada apa?" Kaito yang tertinggal dibelakang kaget akan teriakan teman-temannya.
"Aaaaa, i-itu," Rin menunjuk sosok yang kakinya ditarik Gakupo.
"Dell," lanjut Len. Kaito menengok ke arah yang ditunjuk Rin dan melihat Dell dengan pisau yang menikam jantung dan tenggorokannya.
"T-tidak mungkin," Miku bergumam lirih.
"Hihihi... Bagaimana kejutanku Miku-chan..? Hihihi..." suara itu lagi. Terbesit nada senang dalam kalimatnya. Dan, hanya Miku yang mendengarnya.
"Kita harus segera keluar dari hutan ini," Kaito memandang teman-temannya serius.
"Tapi kita tidak tau jalan keluarnya Kaito, kita sudah berkeliling dan masih belum menemukan jalan keluar," Len angkat suara.
"Tch!" Kaito berdecak kesal.
"Dimana Neru dan Nero?" Luka melihat sekeliling mencari kedua temannya.
"Ng? Bukankah mereka ada di dekat Piko?" Gakupo berkata seingat otaknya.
"Tidak. Neru-san dan Nero-san tidak berada di dekatku sejak Luka-san akan terjatuh,"
"Lalu kemana mere-"
"NERUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU!"
Haunted In Dark Forest Chapter 3 Finish
ToBeCotinued
Minae: Yang ngedit Sawase-nee, yang nulis Zuerna dan yang mempublish Minae. Kami lupa bilang kalau akhirnya memutuskan untuk membuat Bloody Scene. Iya, tadinya Minae enggak ada niatan bikin Bloody Scene. Tapi Zuerna tetep ngotot pengin bikin Bloody Scene! Dan setelah perdebatan yang agak (baca: Sangat) lama, diputuskan bahwa akan ada Bloody Scenennya. Tapi yang nulis Bloody Scenenya itu Zuerna dan Minae gak ikut-ikutan soal Bloody Scenennya.
Sawase: Udahlah Minae, daari pada kamu curhat ngabisin kertas mending aku bacain pesan Zuerna aja deh, Ekhem! 'Halo Readers sekalian! Zuerna cuma mau minta ma'af karena lama update~! Soalnya Zuerna galau gara-gara Minae dapet 10.00 di NEM mat, dan Zuerna dapet 9.50. Zuerna juga minta ma'af kalo readers sekalian kurang puas sama bloody scenenya~!'
Minae&Sawase: Pokoknya, 'BUDAYAKAN MEREVIEW SETELAH MEMBACA.' Jadi, MIND TO REVIEW PLISE?
