JAJAJAJA! Kami datang! Enggak deh gue Cuma sendirian! Hwahahah! Eh kalian semua., baca cerita abal aku yah., coalnya akucan macih pemula.., capi tolong calonin aku di IFA yaa.., *anak kecil modeon*
Ayo kita baca~!
Read Please
.
.
,
Dan aku mulai takut terbawa cinta
Menghirup rindu yang sesakkan dada
Roy berjalan menelusuri saluran bawah tanah bersama Riza. Mencari petunjuk apakah masih ada Homuculus atau tidak. Yang mereka lihat disana hanyalah puing-puing sisa pertempuran. Tak ada yang tahu tentang pertempuran itu, kecuali Militer.
"Hem., sudah lama ya.," ucap Roy dengan senyumnya dan terus melangkah.
"Maksud?" tanya Riza tak paham.
"Ah., maksudku.. sudah lama sejak kita bertemu dan bertempur disini!" jawab Roy kesal.
"Oh," tanggap Riza.
"Huh.., kau tak berubah," ucap Roy dengan bibir yang manyun-manyun ga jelas.
"Aku sudah berubah," ucap Riza.
"Kau tidak berubah!" ucap Roy ngotot.
"Aku sudah berubah dalam berbagai arti," ucap Riza sambil menutup kedua matanya dan tertidam.
"Contoh?" tanya Roy meminta sebuah contoh.
"Aku sudah berubah.., aku yang sekarang berwawasan lebih luas dari yang dulu.. aku sudah berubah, aku sudah mengerti apa arti kehilangan dan keputus asaan..," ucap Riza sambil mrmbuka kedua matanya dan mulai berjalan.
"Bagiku kau belum berubah," ucap Roy.
"Up Too You.," ucap Riza santai mengacuhkan atasannya itu.
.
.
"LETNAN!"
"Eh?"
"Kau jangan melamun! Kau mengambil arah yang berbeda denganku! Sudah ku bilangkan? Belok kanan! Bukan lurus!" bentak Roy sambil mencekram tangan Letnannya.
"Maaf., maafkan aku. Aku melamun karena memikirkan Hayate., maaf.." ucap Riza berbohong. Sebenarnya ia sangat lelah telah berjalan jauh.. tapi mana mungkin ia meninggalkan Kolonelnya dan pergi beristirahat.
"Hey Letnan., tetap berada disampingku! Jangan terpencar!" ucap Roy sambil mengganddeng tangan Riza.
"Tentu Kolonel., karena aku Letnanmu dan aku tak sebodoh kau," ucap Riza dengan senyum sinisnya.
"Hentikan senyuman ala Nerakamu itu Riza!," ucap Roy yang tak betah melihat Riza tersenyum sinis.
"Oh., kupikir kau suka Kolonel.," ucap Riza dengan nada menantang.
"Hentikan hal itu RI-ZA!" ucap Roy sambil memperkuat gandengannya.
"AUW! SAKIT ROY!" ucap Riza merasa kesakitan.
"Diam dan menurut., aku ini KOLONELmu!" ucap Roy kesal dan mempercepat langkahnya.
.
.
Mereka terus melangkah., Riza yang pada dasarnya memang lelah tak sanggup berjalan lagi. Riza terduduk.. Roy yang merasakan tangan Riza tiba-tiba lemas langsung menengok kebelakang dan melihat Riza yang sedang terduduk dengan wajah bercucuratn keringat. Nafasnya terengah-engah. Roy kaget melihat kondisi Letnannya itu. Tak ada kata-kata yang dapat mengungkapkan kekagetannya . justru kekhawatirannnyalah yang membuat Roy berbicara.
"Letnan! Kau tak papa?" tanya Roy Khawatir.
"Iya., hanya sedikit le..lah," ucap Riza dengan nada lirih.
"Kita istirahat sebentar.. sampai kondisimu pulih," ucap Roy sambil menyenderkan tobuh Riza ditembok.
"Boleh.., pin..jam.. pundakmu?" tanya Riza kepada Roy yang duduk disebelahnya.
"Tentu," jawab Roy.
Riza langsung menyenderkan kepalanya dibahu Roy dan terlelap tidur. Seketika wajah Roy memerah dan.. jantungnya berdegup kencang.
'Oh Tuhan., kalau kau benar-benar ada jelaskanlah apa yang sedang kurasakan ini!' batin Roy.
.
Suasana tenang itu berlangsung sangat lama. Roy yang melihat Riza tertidur meninggalnya ditempat itu dan pergi memeriksa terowongan bawah tanah itu sendirian. Saat Riza terbangun.., Riza melihat ke kanan dan ke kiri. Tak ada siapapun. Yang dapat disimpulkan saat itu adalah.. Ia telah ditinggal oleh Roy. Riza yang ingin segera mencari Roy.., tiba-tiba saja tak bisa berdiri. Kaki, tangan, dan tubuhnya kaku... ia hanya bisa berdiam diri.
Sementara itu Roy terus menelusuri terowongan/ saluran air bawah tanah itu. Dengan percikan api dari jari jemarinya yang menerangi saluran air itu.., ia dapat melihat benda-benda yang ada dalam ruangan gelap, pengap, dan bau itu. Ia berjalan menelusuri terowongan itu sambil berharap menemukan petunjuk. Tak ada sisa-sisa homonculus. Di terowongan itu hanya terdapat puing-puing sisa pertempuran panjang.
"Hah.., sepertinya sudah tidak ada apa-apa.. lebih baik aku kembali ke tempat Letnan," ucap Roy sambil berjalan.
Saat ia sampai ditempat Letnannya., betapa kagetnya ia. Riza sudah tidak ada disitu. Roy yang melihat hal tersebut langsung panik tak kepalang.
"LETNAN! LETNAN!" teriaknya dengan kencang.
Tak ada hasil. Sunyi senyap.., hanya keheningan yang menjawab Roy. Roy memutuskan untuk mencari Riza menyusuri terowongan-terowongan berikutnya. Ia berjalan sambil tetap memanggil-manggil Letnannya itu dan juga tetap memercikan api kebanggaannya.
"LETNAN! LETNAN! LETNAN JAWAB AKU!" teriak Roy.
"Ck! Ini TIDAK LUCU LETNAN!" ucap Roy kesal. Namun tetap hanya keheningan yang menjawabnya.
"Ish! Kau.. benar-benar membuatku khawatir wanita bodoh!" ucap Roy sambil kembali melangkahkan kakinya.
.
.
Sudah sekitar 3 jam Roy mutar-muter mencari Riza.. hasilnya NIHIL. Tidak ada.., Riza tidak ada. Roy berpikir dengan sangat keras. Dimana sebenarnya Riza. Sampai akhirnya.., ia ingat satu tempat.. ya.. tempat dimana saat leher Riza ditebas oleh pedang karena dirinya. Tempat dimana saat ia melakukan transmutasi manusia. Tempat dimana.. ia melihat gerbang kebenaran. Roy pun berlari kearah tempat itu.
"Tempat ini.., SEPERTI LABIRIN SAJA!" teriak Roy.
Ia tidak bisa menemukan jalan keluar. Setiap kali ia berlari ia kembali ketempat semula. Capek., itulah kondisi Roy sekarang.
"Kalau begitu., lebih baik aku keluar saja dan mencari peta tentang terowongan ini.. Riza tunggu aku.." ucap Roy sambil menaiki tangga dan keluar dari terowongan pengap, bau, dan gelap itu.
.
.
"Hoy KOLONEL YAKINIKU!" teriak seorang bocah berjubah merah.
"Kau ini! Itu nama makan tahu! Dasar bego!" bentak Roy kesal.
"Sorry., hahaha aku dan Al mau bertemu Let.. eh mana Letnan?" tanya Edward.
"Letnan., dia.." ucap Roy sambil menundukan kepalanya.
"Kenapa Letnan?" tanya Alphonse.
"Dia.. hilang.." ucap Roy.
"APA?" teriak kedua kakak beradik itu.
"Ba.. bagaimana bisa?" tanya Al tak percaya.
"Ceritanya panjang.," ucap Roy.
"Kami akan membantu menemukan Letnan!" teriak Edward.
"Eh? Kenapa kau niat sekali?" tanya Roy heran.
"Soalnya.. surat izin berpergianku diurus oleh Letnan. Kalau tidak ada surat itu aku tidak bisa pergi ke barat dan Al tidak bisa pergi ke timur begituh.. hehehe," ucap Edward.
"Jadi udang dibalik batu toh," ucap Roy sambil menghela nafas.
"Hehehe., jadi mau ceritakan pada kami sekarang?" tanya Edward.
"Ya., sambil kalian bantu aku mencari peta terowongan bawah tanah," ucap Roy.
"Maksudmu saluran air dibawah tanah itu? Tempat Homonculus ?" tanya Alphonse.
"Iya.," ucap Roy.
"Aku tak mengerti.." ucap Edward.
"Karena belum kuceritakan Fullmetal," ucap Roy.
.
.
"APA?" teriak kedua bersaudara itu didalam ruang perpustakaan yang berhasil membuat seluruh tumpukan buku jatuh.
"Kalian ini., benar-benar merepotkan!" ucap Roy.
"Habis.., masa Letnan ditinggal sebentar langsung ngilang tau kemana? Itu mustahil!" ucap Edward.
"Kalau itu mustahil sekarang Letnan sudah ada disampingku!" ucap Roy kesal.
"Kenapa tidak minta bantuan May saja?" tanya Alphonse.
"May? Maksudmu bocah dengan hewan aneh itu?" tanya Roy.
"Iya., diakan bisa membaca arus tanah.. jadi pasti bisa menemukan Letnan!" ucap Alphonse riang.
"Tapi dia kan.., sedang di Xing.." ucap Edward.
"Kalau begituh biar ku telepon.," ucap Alphonse.
.
Mereka berada diruang kerja Roy. Roy duduk dikursi singgasananya sedangkan Edward melihat keluar jendela. Sementara itu Alphonse menelepon May dengan telepon diruangan itu.
"Halo May! Ini aku Alphonse.,"
"ALPHONSE-SAMA!"
Roy dan Edward kaget bukan kepalang. Suara May yang berada di Xing bisa terdengar sangat damat jelas lewat telepon sampai-sampai Alphonse harus menutup kedua telinganya.
"Buset dah bocah itu., benar-benar cinta mati sama Al.." ucap Edward.
"Cinta pada pandangan pertama., sayangnya adikmu tidak mengetahui hal itu," ucap Roy.
"Hah.. Al memang tidak sensitif," ucap Edward.
"Begitu May., terimakasih! Kutunggu ya!" ucap Alphonse mengakhiri pembicaraan.
Edward dan Roy saling bertatapan dan langsung melihat Alphonse.
"Cewek Xing itu mau datang kesini?" tanya Edward.
"Iya! Katanya dalam waktu 30 menit lagi!" ucap Alphonse riang.
"Itu mustahil! Xing dan sinikan ja—"
"ALPHONSE-SAMAA!" terdengar suara gadis yang tak asing lagi ditelinga ketiga lelaki itu. Suara derap langkah kaki terdengar dengan jelas. Roy dan Edward kini saling bertukar pandang..
"Hei., ini tidak mungkinkan?" ucap Roy tak yakin.
"Mana mungkin dari Xing ke sini Cuma 3 menit! Mustahil!" ucap Edward.
"Sepertinya May datang lebih cepat..," ucap Alphonse santai.
"Ssst Fullmetal., kenapa adikmu bisa tenang begitu?" tanya Roy dengan nada berbisik-bisik.
"Entahlah aku juga bi—"
"BRAK!" belum selesai omongan Edward. Pintu ruang kerja Roy berhasil dirusak oleh seorang gadis dikuncir dua dengan hewan aneh di pundaknya. Gadis itu mencari-caris sosok yang ia cari dan... BINGO! Ia menemukan sosok yang ia cari. Ia menerjang Roy dan Edward hingga.. Roy dan Edward terjatuh dan terkapar na'as. Gadis itu meloncat kearah seorang pria tampan.. hingga akhirnya..
"Alphonse-Sama!" teriak gadis itu yang kini sedang memeluk Alphonse.
"Ah! May.., ano.. sesak!" ucap Alphonse yang merasa pelukan May terlalu erat.
"Ah! Maaf.., maaf! Aku senang bisa bertemu Alphonse-Sama.," ucap May.
"Kitakan sudah telepon-teleponnan tiap hari.," ucap Alphonse.
"Huh! Akukan ingin melihat wajah pangeranku dari dekat!" keluh May sambil menggembungkan pipinya.
"Hahaha maaf-maaf.," tawa Alphonse.
"Mana si pendek berjubah itu? Dan mana si tampan emosian yang butuh bantuanku?" tanya May sambil mencari sosok Roy dan Edward.
"KAMI DISINI!" teriak Edward dan Roy bersamaan.
"Oh ternyata ada kalian disini," ucap May.
"Dasar kau bocah!" ucap Edward emosi.
"Sudah kak., tenang.., May juga jangan bersikap seperti itu," ucap Alphonse menengahi.
"Iya Alphonse-Sama!" ucap May sambil tersenyum.
"Al., kau ini," ucap Edward pasrah.
"Oh ya., jadi.. bisa ceritakan padaku masalah sebenarnya?" tanya May sambil melirik Roy.
"Iya., iya.. akan ku ceritakan!" ucap Roy pasrah.
Roypun menceritakan kejadian itu dari A sampai Z. Dari angka 1 sampai angak .000.000.000. Dari Sabang sampai Marauke. Dari yang Miskin sampe yang Kaya.
"Ohh., jadi begitu ceritanya.," ucap May.
"Begitulah," ucap Roy.
"Kalian ga takut Riza-San mati? Ini sudah 30 menit dari waktu kejadian loh!" ucap May asal ceplos.
Seketika Roy, Edward, bahlan Alphonse membatu menjadi es. Kata-kata May bagaikan pedang yang langsung menusuk jantung mereka semua. Wajah polos May berhasil meloloskannya dari amukan Flamers Alchemist.
"May! Kenapa kau bicara seperti itu!" ucap Alphonse.
"Habis., gadis itu tidak dilengkapi senjata yang memadai, lalu tubuhnya lemah, lalu di terowongan itukan banyak mahluk ga jelas," ucap May polos.
JLEB! Ucapan May sukses membuat Roy terpuruk dan hanya bisa meremas-remas lantai. May memiringkan kepalanya sambil meminum minumannya. Edward hany ternganga lebar sedangkan Alphonse.. hanya menggeleng-geleng kepala.
"May., jangan begitu., kasian Kolonel," ucap Alphonse sambil membelai rambut May.
"Tapi aku tak salah Alphonse-Sama," ucap May membela diri.
"Lagian ngapain susah-susah nyari gadis itu diterowongan.. kan dia ada dihutan belakang gedung ini," ucap May lagi dengan santai.
Roy , Edward, dan Alphonse ternganga lebar. May hanya asyik meminum tehnya itu.
"Kau bilang dia ada dihutan belakang?" tanya Roy.
"Iya.," jawab May tegas namu santai.
"Kalau begitu ayo cepat ke hutan!" teriak Roy.
"Tapi Hutan itu diluar negara ini.., lagi pula aku masih mau minum teh enak ini!" ucap May.
"Sudahlah ayo cepat!" ucap Roy sambil menarik tangan May.
"HIIIYYYAAAAAAAA! ALPHONSE-SAMA!" tangis May.
"Sudah May., aku dibelakang mu.., tenang.." ucap Alphonse.
"Hah.," desah Roy.
Akhirnya mereka berempatpun pergi menuju hutan tersebut. May digeret Roy. May menangis-nangis meminta agar Alphonse menolongnya namun.., apa daya.. Roy sudah sangat kesal dan tak sabar mana ada yang bisa menghentikannya. Edward hanya menatap gadis berambut hitam dikuncir dua itu. Rambutnya yang lurus dan kini ia sudah tumbuh menjadi memakai baju seperti waktu ia kecil. Alphonse yang melihat kakaknya itu langsung menginjak kaki kakaknya yang sukses mebuat kakaknya sadar. Edward yang meringis kesakitan.., sedangkan Alphonse hanya tersenyum.
.
.
TBC..
.
.
.
Maaf gaje dan lama Update ya~! Hyahahahaha! Tetap baca jangan lupa review..,, *nangis guling-guling*. Calonkan saya di IFA yaaa
Review Please
