Disclaimer: One Piece is solely own by Eiichiro Oda-sensei. And i borrow his Masterpiece to write this Nakamaship fic.

Rating: K+

Summary:

Shot 5: Sanji kehabisan stok rokoknya. Ditengah keputus-asaanya, Nami membagi persediaan lolipop-nya.

Shot 6: Usopp menggelar pabrik Usopp-nya di dek rumput. Kesalahan terjadi dan kapal diselimuti asap tebal. Kejadian tak diinginkan? Apa yang kau bayangkan??

Enjoy, Plz and THX for your R&R, like always^^


Shot 5: Sanji

"Oh, ya ampun!" Ujar si pria pirang.

*drap drap* Dia beralih dari lemari rempah-rempahan ke laci dapur.

"Astaga!" Lanjut Sanji si pirang semakin panik. "Dimana?! Apa benar sudah habis?!"

"Oi, Sanji. Ada apa?" Tanya Luffy yang baru memasuki ruang makan. "Aku lapar. Sudah waktunya makan siang 'nih."

Menyadari permintaannya tidak didengar atau lebih tepatnya tidak kedengaran, Luffy mengarahkan pandangannya kearah navigator berambut oranye yang sedang duduk di sofa ruang makan.

"Nami, Sanji kenapa? Aku dah laper banget, 'tauk!"

"Haah, Luffy. Aku khawatir kalau Sanji kehabisan stok rokoknya, dia bisa sepertimu yang tidak mendapat jatah makan." Sahut Nami sambil menghela napas, menutup buku tentang Geografi yang sedang dibacanya.

"Eh? Maksudnya?"

"Ya ampun, Luffy. 'Lola' amat sih?!" Jawab Nami. "Coba bayangkan kalau kau tidak bisa makan daging untuk suatu alasan."

"Eh! Bisa gila kalau tidak ada daging!" Lanjut Luffy mulai mengerti keadaan.

"Sebentar lagi, koki kita itu akan bernasib sama sepertimu yang tidak mendapat makan."

"Oo. Aku mengerti." Sahut Luffy, menepukkan kedua tangannya. "Jadi, makan siangku gimana, Sanji?"

"...Haah. Bisa ikutan gila aku meladeni kalian berdua yang akan menggila sebentar lagi." Ujar Nami menepuk keningnya.

Gadis itu lekas berdiri, memegang buku-nya. Dia berniat pergi dari ruang makan.

"Huaa, rokok-ku habis...! KING GROUND-ku...!" Rengek Sanji memalas-malaskan dirinya di meja makan.

"Hwaaa, makanku mana?? Aku laper banget, 'nih!"

"Uuh, mulai sudah." Ujar Nami sweatdropped, menegakkan pinggang dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Sanji-kun, ikut kekamarku sebentar!' Perintah Nami, melihat kearah si koki.

"Ee, ada apa Nami-swan?"

Si navigator tidak menjawab pertanyaan si koki, dan meneruskan jalannya.

"Eh? Mau kemana Sanji? Makan siang-ku bagaimana?" Tanya Luffy bermalas-malasan seperti Sanji tadi di meja makan.

Sanji juga tidak menjawab, terus berjalan mengikuti Nami.

"Hwaaa!! Sanji aku nangis, 'nih! Hwwuuueeeee, ARAHETTA!!!" Rengek Luffy, pura-pura menangis.

-Tak lama, kamar Nami dan Robin-

"Sebenarnya yang mengetahui ini, hanya Robin seorang-- kau tahu? kebiasaanku yang lain..." Ujar Nami yang sedang membuka laci meja lampu tempel yang terletak di sebelah kasurnya. "Tapi daripada kita semua tidak makan hari ini..., kupikir ini bisa membantumu."

Nami mengeluarkan tiga batang lolipop dan menjepitnya di sela-sela jari. Kemudian berjalan ke arah Sanji menunggu, di depan pintu kamarnya.

"Apa? Nami-san..." Tanya Sanji semakin penasaran.

"Yang kutahu, perokok menjadi candu karena 'Oral satisfaction'-- kau tahu, 'kesenangan mulut' yang diberikan tembakau. Benar begitu, Sanji-kun?" Tanya Nami menunggu jawaban Sanji di depannya saat ini.

"Umm, ya..." Jawab si koki ragu-ragu. "Tapi, da, darimana kau tahu, Nami-san?"

"Itu tidak penting..." Nami mengeluarkan lolipopnya. "Kalau begitu pakai ini."

"Lo...lolipop?! ...itu..."

"Masih lebih baik dari tidak ada, 'kan?" Lanjut Nami tersenyum. " Kita akan sampai di pulau berikutnya esok fajar. Tapi, aku ragu apa kau bisa menahan napsu rokokmu sampai besok pagi?"

"Um, ehehe. Mellorine, terima kasih Nami-swan." Jawab Sanji malu-malu, menghargai pemberian dari Nami.

"Hoo, sedang berbagi lolipop rupanya." Sahut Zoro yang secara tidak sengaja melintas.

"Hwak!! Semuanya kecuali kau, Marimo!!"

"Oi, koki aku lapar! Luffy juga sudah merengek memanggilmu di ruang makan." Lanjut Zoro tidak mengacuhkan Sanji. "Kau mau masak atau tidak?"

"Sanji---, aku lapa----ar!!! Hwaaaaa...!!" Samar-samar namun kencang, terdengar suara rengekan Luffy.

"Ayo masak makan siang, Sanji-kun. Aku juga sudah lapar." Ujar Nami. "Aku yakin sebentar lagi Luffy akan membokar paksa kulkas-mu."

"Mellorine, Nami-swan! Mari..." Sahut Sanji mengulurkan tangannya pada Nami.

"Huh, dasar lolipop-playboy." Ledek Zoro mengikuti di belakang mereka.

"Appuaa...!!"


Shot6: Usopp

"Hm? Mau apa, Usopp?" Tanya Zoro yang sedang berbaring-- hendak tidur di dek rumput.

"Seperti dulu, Zoro." Sahut Usopp riang, tidak jauh dari tempat Zoro berbaring. "Aku ingin mengadakan pabrik Usopp terbuka lagi."

"Waow, supaa. Tampaknya menarik sekali, abang Usopp." Sahut Franky melirik kebawah dari balkon atas. Dia sedang merancang sesuatu di 'Cetak biru'.

"Paling gagal, seperti bisa. Ya, nggak Usopp? Hahaha..." Sahut Nami dari balkon atas juga. Namun tidak terlihat oleh Usopp, karena gadis itu sedang bersantai dibawah pohon mikan-nya.

"Enak saja kau, Nami!!" Balas Usopp mengacungkan kepalannya ke atas.

"Selama kau tenang, tidak masalah bagiku." Kata Zoro dan melanjutkan tidurnya. *Groook*

"Ce, cepat sekali!?" Sahut Usopp, handslapping.

"Hihihi, sebenarnya aku mau mencari tahu 'kenapa Zoro bisa tidur dengan sangat cepat'." Ujar Chopper tertawa, yang sedang duduk santai di samping Usopp.

"Fufufu, tampaknya penelitian itu akan menarik, Chopper." Sahut Robin dari depan mereka, yang sedang membaca buku di bangku bundar dek rumput.

"Hahaha, benar sekali!" Tawa riang Usopp, sambil mengaduk-aduk bahan berbentuk cairan yang nampaknya berbahaya. Di gelas kaca itu tergambar simbol tengkorak.

Selang waktu 30 menit. Keadaan di kapal benar-benar tenang, dimana semua kru sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, kecuali Zoro yang hanya mendengkur keras-- tidur dengan pulas. Hingga tiba-tiba Usopp berteriak keras dan tiarap di dek.

"Gawaaa--------aat!! Merunduk!! Metana-nya meledak!!!" Teriaknya histeris.

"Eh? Apa?! Usopp?!" Tanya Chopper melihat si hidung panjang yang tiba-tiba terbang kebelakang sedikit jauh.

"Hn?! Ada apa?" Sahut Franky dari balkon.

*BWOOOFT*

Dalam sekejap seluruh penjuru Sunny-go diselubungi asap super tebal.

*drap drap*

"Oi, apa itu?!" Tariak Sanji saat keluar dari pintu balkon bawah. "Mggh! Tebal sekali asapnya! Oi, Usopp, apa-apaan ini?!"

"Gyaaaaa, maaf Sanji...!" Balas Usopp yang masih tiarap di dek.

"Hng?*Hoaaoehm* uhuk, uhuk. Apa ini?!" Tanya Zoro. Masih terduduk, dia berteriak. "Usopp, ada apa ini?!"

Masih terselubungi asap yang sangat tebal, terdengar teriakan dari Nami.

"Hei, Franky!! Apa yang kau pegang!? Lepaskan tanganmu!!"

"Hwaa, maaf nona kecil. Benar-benar tidak sengaja." Sahut Franky.

"Haa!!? Franky, jangan bilang kau...!!!" Respon Sanji terbakar api, berpikiran yang tidak senonoh. Si koki dengan segera berlari menuju balkon, walaupun tidak tahu mana arah yang benar.

"Eh, tu, tunggu sebentar, Tuan koki..." Ujar Robin cepat ketika mendengar tapak kaki yang semakin mendekat kearahnya.

*Bruuk*

"...Aduh..." Rintih Sanji memegangi kepalanya.

"Uhh, Tuan koki..." Balas rintih Robin dari bawahnya.

"Aah!! Robin-cwhan, ma...maaf!!" Dengan segera Sanji beranjak dari atas wanita itu.

"Ti, tidak apa-apa..."

"Ada yang terluka, Robin-chan?" Tanyanya panik. "Kau tidak apa-apa?"

Ya, aku tidak apa-apa." Ujar Robin berusaha duduk.

"Usopp!!" Teriak Chopper mulai panik.

"Oi, Chopper lihat langkahmu! Hati-hati jatuh kelaut!" Balas Usopp.

"ADAWH!!!" Teriak Zoro. "HOII, siapa yang menginjak selangkanganku!!??"

"Gyaaaa---------!!!" Teriak Chopper benar-benar terkejut, mendengar suara yang menyeramkan itu. "MONSTER!!!!"

"Woi, enak aja monst....!! Aduh, hoi Chopper jangan memeluk kepalaku dengan tubuh besarmu...mmmh, mmmggh....!!!!" Teriak Zoro di sela-sela pagutan Chopper Heavy point. "Bwaaaah!! Se, sesak dan berat!! Chopper, cepat mengecil!! Eh, hwaaa...!!!"

"Gyaaa, kita jatuh kelaut Zoro----!!" Teriak Chopper yang merasakan tubuhnya melayang.

"Hwaaaa-----!!"

*BYUUUR*

"Hwoo, kenyaaang!" Luffy keluar dari ruang makan sambil menepuk-nepuk perutnya yang membuncit. Disebelahnya berjalan Brook.

"Yohoho, benar sekali. Lambungku benar-benar penuh, walaupun sebagai tengkorak aku sudah tidak punya lambung. Yohohoho, Skull Joke!" Sahut Brook riang. "Ng...? asap apa ini?"

"Luffy! Brook! Diam di tempat sampai asap ini menipis." Teriak Sanji.

-30 menit kemudian, asap tebal sudah semakin menipis-

"Mengerti, Franky?! Jangan sekali-sekali memegang pohon mikan-ku dengan tangan besar mu itu! Bisa patah nanti!" Omel Nami seolah menasehati Franky.

"Ah, ya. Habis tidak terlihat apa-apa..." Franky menggaruk-garuk kepalanya.

"Haah, untung tidak terjadi apa-apa pada percobaanku..."

"Hoii!! Sadari kesalahan dan akibat perbuatanmu ini! Kubunuh kau!" Teriak Zoro dan Sanji bersamaan, memberikan 'bonus' di kepala Usopp.

"Ah, saya mohon maaf sebesar-besarnya, rekan-rekan." Ujarnya berlutut dengan beberapa benjolan dikepalanya.


A/N: Ya, ya. Update.^^ Bagaimana menurut kalian? Review!

Sisa tiga...Berikutya siapa ya? Luffy, Chopper, atau Nami?

A/N2: Tadinya mau buat dikit2 aja, sih kayak shot1 dan 2. Tapi makin lama makin agak panjang. Gapapa, kan ya? Ee??