Si cantik itu selalu berkata bahwa dia adalah sebuah tiruan, tapi salahkah jika hatinya yang sudah menghitam ini menginginkannya./ Sosok itu begitu indah dan anggun, jadi pantaskah dia yang hanya tiruan ini bersanding dengannya./ SHO-AI
.
.
.
Touken Ranbu (c) NITROPLUS & DMM
Tsurumaru Kuninaga x Yamanbagiri Kunihiro
Warning: Sho-ai, efek sedih/?/, mari kita banyakin nyemil TsuruManba, lil-bit OOC, typo bertebaran –terutama nama/:"V/
Warning 2.0: some fluff nyempil /huehuehue/ plis yang imajinasi liar sering terbentuk kemana-mana /kaya saya ini/ untuk bersiap-siap ;"9
.
.
.
.
.
...
...
"Apa?" Tsurumaru bertanya.
Yamanbagiri menolehkan kepalanya dengan cepat. Ekspresi wajahnya campur aduk—antara malu, takut, ragu dan marah(?)—yang terakhir cukup membingungkan.
"KAU SALAH DENGAR! AKU MAU CARI ANGIN!"
SRAKKK!
"YAMANBAGIRI!"
.
.
.
.
.
Chapter 3
...
...
"...manba..."
"...Yamanba..."
"Yamanbagiri..."
"...Yamanbagiri...Yamanbagiri...Yamanbagiri...—"
Ctass!
"Aku tidak akan kemana-mana, Tsurumaru," kata-kata itu keluar dari kedua bibir Yamanbagiri yang sebelumnya terkatup rapat. Nada tak sabaran dia lontarkan pada sosok Tsurumaru yang sejak tadi terus memanggil-manggil namanya bagaikan anak ayam kehilangan induknya.
Atau dalam kasus mereka anak bangau kehilangan induknya...
Atau malah...anak bangau kehilangan kekasihnya?
Tapi Yamanbagiri yakin Tsurumaru sudah tidak masuk kategori anak-anak—jadi...bangau dewasa?
Bangau dewasa kehilangan kekasihnya.
Ya! Tepat sekali!
LUPAKAN!
'Apa yang kau pikirkan sih, Yamanbagiri!' kali ini Yamanbagiri benar-benar mengutuk pikirannya yang gemar berlari kemana-mana dengan sendirinya. Hari ini dia benar-benar kacau sekali...
"...Yamanbagiri...Yamanbagiri...—"
Terutama karena si putih yang terus menggumamkan namanya itu sampai sekarang.
Oh! Dan apakah Yamanbagiri sudah mengatakan kalau si tachi serba putih itu kini tengah menahannya?
Oke, bukan makna yang menjurus ke hal 'itu'—entah kenapa Yamanbagiri berpikir konotasinya agak menyeramkan, tapi...ah sudahlah.
Tsurumaru hanya memeluknya.
Dari belakang.
Dan Yamanbagiri mau tak mau duduk di antara dua kaki sang pedang tempaan Gojou Kuninaga yang kini tengah menyandarkan punggungnya ke dinding.
Blush...
ARGGHHHHHH!
TERLALU DEKAT!
Telapak tangan Yamanbagiri lalu menepuk pelan kepala Tsurumaru yang seakan tenggelam dalam balutan haori putih milik si tachi yang dipakai Yamanbagiri, "Aku tidak akan kemana-mana, Tsurumaru," ulang Yamanbagiri, kali ini dengan nada lembut.
Kepala bersurai putih itu menggeleng pelan, gerakannya membuat bahu Yamanbagiri meremang. Jalinan tangannya di sekitar tubuh atas Yamanbagiri itu mengerat, membuatnya sesak sesaat, namun juga mengalirkan kehangatan yang membuatnya nyaman, "Aku tidak mau melepaskanmu, Yamanbagiri," katanya dengan nada merajuk.
Sebuah helaan nafas pelan meluncur keluar dari bibir Yamanbagiri, "Aku janji tidak akan kemana-mana," bujuk Yamanbagiri, "Sekarang biarkan aku duduk sendiri," katanya menepuk lutut Tsurumaru yang menempel di kakinya.
Gerakan pelan di dapatkan Yamanbagiri. Tsurumaru mengangkat pandangannya, kali ini dagunya menempel di bahu Yamanbagiri. Kedua matanya menatap pada wajah si pirang yang kembali tertutupi—kali ini dengan tudung haori putihnya.
"Nee, Yamanbagiri...tidakkah kau berpikir kalau begini lebih hangat?"
JLEGARRRR!
Itu suara petir di luar! SUNGGUH!
Yamanbagiri bersumpah, itu bukan sound-effect dari perkataan Tsurumaru. Walau waktunya tepat sekali. Dan sedikit mewakili perasaan Yamanbagiri sekarang.
"H-ha?"
Yamanbagiri bisa merasakan bahwa tubuhnya ditarik lebih dekat ke tubuh Tsurumaru yang ada di belakangnya. Punggungnya menempel erat dengan dada Tsurumaru. Dia bahkan bisa merasakan detak jantung manusia yang dimiliki pedang serba putih itu.
Wajah Yamanbagiri memerah, "T-Tsurumaru..." suaranya bergetar, apalagi ketika merasakan sepasang lengan Tsurumaru sudah bergerak kemana-mana.
O-oke, tidak kemana-mana! Dia tahu dia terlalu membesar-besarkan!
Tapi menurut Yamanbagiri, gerakan yang seperti itu, bagi dirinya...sudah masuk dalam tahap 'kemana-mana'.
Yaa...kita tahu Yamanbagiri Kunihiro seorang pemalu.
Tangan kanan Tsurumaru naik ke wajahnya, jemari pucat dan lentik yang kini tak memakai sarung tangan itu menyusuri garis rahangnya dengan sentuhan seringan bulu. Kedua mata Yamanbagiri terpejam dengan erat, kedua tangannya mengepal di sisi-sisi tubuhnya. Postur tubuhnya terlalu tegang.
"!"
Yamanbagiri berjingkat ketika merasakan sebuah sentuhan asing di kakinya. Matanya terbuka hanya untuk menemukan tangan kurang ajar milik Tsurumaru membuat gerakan kecil macam jari berjalan di kaki sebelah kirinya. Tangan kanan Yamanbagiri meluncur untuk menampik tangan Tsurumaru, namun si tachi justru mendekap kuat tangannya. Menautkan jemari mereka.
"T-Tsurumaru...apa yang—kau lakukan...?" suara Yamanbagiri bergetar. Tangannya bergerak dengan panik, antara ingin menampik Tsurumaru atau menariknya lebih dekat.
Deg!
Yamanbagiri terdiam.
Apa yang dipikirkannya?
Dia hanyalah sebuah tiruan?
Tiruan—yang akan mengotori Tsurumaru Kuninaga.
Apa yang dia pikirkan!
Memangnya tiruan sepertinya pantas bersanding dengan Tsurumaru Kuninaga—yang tunggal?
Chu!
"Yamanbagiri..."
Yamanbagiri mengerjap. Pandangannya kembali terfokus. Dirinya lalu menolehkan kepalanya pada wajah Tsurumaru yang jaraknya begitu dekat dengan wajahnya. Mereka bertatapan. Dan Yamanbagiri tak bisa mengabaikan rasa hangat yang masih membekas di sudut bibir kanannya.
Sepasang mata emas milik Tsurumaru menatapnya dengan pandangan begitu dalam, seakan menguliti semua pelindungnya. Menjadikannya begitu mudah untuk Tsurumaru pahami, "Jangan pikirkan apapun Yamanbagiri—hanya pikirkan aku saja," bisiknya pelan.
"...Tsuru...maru..."
Tangan kanan Tsurumaru mengusap pipi Yamanbagiri, menghilangkan jejak aliran bening yang menuruni pipi si pirang. Yamanbagiri mengerjapkan matanya, dia tak menyadari kalau dia menangis. Dia bukanlah seseorang yang sering terbawa perasaan. Dia bahkan bukan seseorang yang dapat membuka diri untuk orang lain. Dia adalah seseorang yang tertutup.
Tak ada seorangpun yang pernah melihatnya seperti ini—titik dimana dia begitu putus asa.
Kecuali saat ini, pedang tachi tempaan Gojou Kuninaga. Tsurumaru Kuninaga.
Tachi serba putih itu sudah melihat semuanya. Melihat Yamanbagiri Kunihiro yang sebuah tiruan dari Yamanbagiri yang asli meneteskan airmatanya.
Adakah hari yang lebih buruk dari hari ini?
Yamanbagiri akan menjawab tidak.
Adakah hari yang lebih istimewa dari hari ini?
Dan Yamanbagiri masih akan menjawab tidak.
Yamanbagiri berbalik badan, kali ini menghadap tubuh Tsurumaru yang masih bersandar di dinding. Dengan gemetaran dirinya menjulurkan kedua tangannya ke arah Tsurumaru, yang langsung disambut oleh sang tachi yang kemudian membimbing tangannya untuk melingkari leher jenjang dimana helaian surai putih itu jatuh terurai.
Wajah mereka mendekat secara perlahan. Sebuah senyum tersungging di bibir Tsurumaru, "Pikirkan hanya diriku Yamanbagiri," bisiknya dengan nada yang begitu lembut. Suaranya mengalun merdu di telinga Yamanbagiri, seakan menghipnotisnya.
"Jangan pernah menganggap dirimu paling rendah, Yamanbagiri. Kau adalah prioritasku. Kau adalah yang terindah dan terkasih bagiku. Aku tidak akan pernah melepaskanmu,"
Kata-kata itu terus berputa-putar di benak Yamanbagiri. Mengisi setiap sudut pikirannya. Menghangatkan relung hatinya.
Kedua tangan Tsurumaru kemudian menangkup pipinya. Menyalurkan kehangatan diantara gerakan mengusap dengan ibu jarinya. Si tachi serba putih lalu mempertemukan kening mereka berdua. Dalam balutan dua nafas berbeda yang bertemu satu sama lain itu, Tsurumaru berbisik.
"Aku milikmu seutuhnya, Yamanbagiri Kunihiro,"
Setetes permata bening jatuh dan mengalir di pipi Yamanbagiri.
Tapi Yamanbagiri tahu...
Itu bukanlah airmatanya.
...
...
Lagipula,...apa yang lebih rendah dari pedang yang bahkan tak membawa berkah bagi pemiliknya sendiri—
Dan pedang kotor yang ternodai oleh darah manusia-manusia tak berdosa di medan pertempuran.
.
.
.
.
.
"Yagen—Yamanbagiri-san dan Tsurumaru-san!"
Tiga kepala langsung menoleh ke arah Gokotai yang tangannya tengah menunjuk seseorang—atau dua orang. Sosok Yamanbagiri muncul dari kejauhan, diikuti dengan Tsurumaru yang berjalan dengan kedua tangan terlipat di belakang kepalanya—siulan pelan keluar dari bibirnya.
"Tsuru-san! Yamanbagiri-kun," Shokudaikiri mengulas senyum, "Syukurlah kalian baik-baik saja,"
Tsurumaru mengangguk dengan mantap, sebuah cengiran khas tersungging di bibirnya, "Um! Apakah kita akan kembali sekarang?" tanyanya dengan nada tak sabaran. Shokudaikiri mengangguk, "Haha, tumben sekali Tsuru-san bersemangat kembali ke benteng—" dan percakapan mereka berdua berlanjut membicarakan ini dan itu.
"Y-Yamanbagiri-san...tidak apa-apa?" pertanyaan Gokotai membuat Yamanbagiri menoleh. Sebuah senyum lembut tersungging di bibirnya, "Aku baik-baik saja," katanya, tangan kanannya lalu menepuk pucuk kepala Gokotai dengan pelan.
Grab...
Gokotai memeluk pinggang Yamanbagiri, menenggelamkan wajahnya di perut uchigatana yang kini mengusap kepalanya itu, "Hiks! Aku khawatir sekali kalau Yamanbagiri-san terluka...hiks...Ichi-nii pasti sedih sekali kalau tahu Yamanbagiri-san terluka..."
Ichi-nii?
Ichigo Hitofuri?
"Eh...k-kenapa tiba-tiba..." Yamanbagiri tak dapat berkata apa-apa. Terlalu bingung.
Yagen menarik saudaranya itu menjauh dari Yamanbagiri, "Sudah, sudah, Gokotai. Sekarang Yamanbagiri sudah bersama dengan kita lagi, kan—" kata Yagen berusaha menenangkan Gokotai.
Sementara Yamanbagiri hanya bisa menatap dua saudara Awataguchi itu dengan pandangan bingung, namun dia memilih diam saja.
"—a-ah, Tsurumaru...bagaimana lukamu?" Yagen menatap Tsurumaru, berusaha mengalihkan perhatian.
Tsurumaru menoleh pada Yagen, "Ho! Aku sudah sembuh! Yamanbagiri benar-benar merawatku dengan baik!" katanya dengan dua jempol tangan terangkat di udara.
EHHH?!
Ookurikara menaikkan sebelah alisnya mendengar jawaban Tsurumaru, "Kau cukup bahagia untuk seseorang yang terluka,...walau luka kecil sih," katanya, lebih pada dirinya sendiri.
"Sudah kubilang kan Karabou, kalau Yamanbagiri—"
"Tsurumaru,"
Panggilan itu membuat Tsurumaru menoleh pada sang uchigatana bersurai pirang. Ingin sekali dia melontarkan jawaban seperti 'Yes, Darling'—mungkin,...dia tidak yakin. Namun sedetik dia melihat ekspresi si cantik—
GLEK!
"M-M-Mitsubou...b-bisakah kita kembali ke benteng s-sekarang?"
Shokudaikiri mengerejap bingung melihat wajah panik bin pucat milik Tsurumaru, "Eh, baiklah," jawabnya.
"Tapi kan ketuanya Yamanbagiri-kun—jadi seharusnya Tsuru-san berkata padanya...bukan begitu?"
MITSUBOU!
Musuh dalam selimut!
Serigala berbulu domba!
Kau tidak sadar apa Yamanbagiri bagaikan sedang mengasah pedang di belakang punggungnya?!
KESELAMATANKU TERANCAM!
"E-ehh...b-begitu..."
"Ayo kita kembali ke benteng,"
Entah perasaan Tsurumaru saja atau apa—tapi sepertinya kata-kata itu lebih ditujukan untuknya.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Okaerinasai, Yamanbagiri-san,"
"Eh-uh...t-tadaima,"
Huh?
"ICHI-NII!"
Gokotai berlari memeluk pinggang kakaknya—Ichigo Hitofuri, yang berdiri di depan Yamanbagiri. Sosok tachi bersurai biru muda itu lalu mengulas senyum lembut, "Midare dan Atsushi mencari kalian," katanya.
"Ung! Dah, Ichi-nii! Ayo, Yagen," dan dua tantou Awataguchi Yoshimitsu itu meninggalkan kakak mereka bersama dengan Yamanbagiri—dan seorang 'bangau' yang berdiri tak jauh di belakangnya.
Yang lain?
Entah kemana.
Mungkin sudah tahu jika sebentar lagi akan ada musibah—jadi mereka cepat-cepat mengevakuasi diri. Bahkan Hasebe yang sebelumnya hendak bertanya ini-itu tentang kenapa misi tim yang diketuai Yamanbagiri itu tak kunjung kembali, ditarik mundur oleh Kashuu dan Yamatonokami yang kebetulan lewat.
Tinggal menunggu Yamanbagiri hengkang, melaporkan jalannya misi pada aruji mereka—setelah itu halaman depan akan menjadi kekuasaan dua pedang yang lebih tua daripada Yamanbagiri Kunihiro.
Ck! Ck! Ck!
Dasar anak muda jaman sekarang, masalah bukannya dibicarakan baik-baik, malah memilih jalan bersiteru di pintu depan.
Benar-benar tak tahu tata krama.
"Hahaha,..."
Sudah bisa ditebak siapa yang tertawa barusan.
"Yamanbagiri, aruji sudah menunggumu," suara Mikazuki Munechika membuat Yamanbagiri menelengkan kepalanya melewati tubuh Ichigo yang masih berdiri di depannya, "Un," jawabnya pendek.
Pandangannya lalu beralih pada Ichigo, "Aku pergi dulu," yang dijawab anggukan dan senyuman oleh Ichigo.
Kepala Yamanbagiri giliran menoleh ke arah Tsurumaru yang masih berdiri beberapa meter di belakangnya, "Cepatlah pergi ke ruang kesehatan untuk diperiksa, Tsurumaru," katanya.
Mikazuki memperhatikan interaksi ketiga orang—bukan, lebih tepatnya interaksi dua pihak yang hanya berpusat pada Yamanbagiri. Mata heterochromenya menatap dengan tertarik pada sosok dua tachi yang ditinggalkan Yamanbagiri. Dia kemudian harus menghapus senyumnya ketika Yamanbagiri sudah sampai di depannya. Dalam diam mereka berjalan menuju ruangan aruji mereka.
Hening.
Benar-benar hening.
Bahkan tak ada suara angin maupun cuitan burung setelah sosok Yamanbagiri menghilang ke dalam rumah.
"Tsurumaru Kuninaga-dono,"
"Ichigo Hitofuri,"
BYUUUURRRRRRR!
"AH! Gomennasai,...Tsurumaru-san, Ichigo-san!" suara Horikawa Kunihiro masuk ke indra pendengaran kedua tachi yang basah kuyub tersebut—samar bau pewangi pakaian bisa tercium dari air yang membasahi tubuh mereka berdua.
AIR CUCIAN?!
"Aku tidak pernah melihat kalian di situ," nada yang polos namun dibarengi dengan senyuman gelap yang sangat dipaksakan kesuciannya./?/
Intinya—
IBU TIRI SUDAH DATANG!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
End.
.
.
.
.
.
.
.
Muahahahahaha, ku akhiri saja sampai di sini ya reader-san/digiles rame2/
Yahh, soalnya judulnya Pacarnya Bangau sihhh. Jadi kan gak nyambung kalau Ichi tiba-tiba masuk gitu aja /tapi entah kenapa di atas udah masuk aja duluan—TUNGGU GILIRAN WOY/
Ngomong2 kalau aku buat IchiManba...adakah yang minat?/mimisan duluan/ Ku sudah sadar kalau aku lebih suka sama crack!pair. LONG LIFE CRACKERS!
Yep begitulah kawan2 seperjuanganku semuanya. Rencana yang MUNGKIN bakal aku kerjain pas liburan tahun baru, huahahahahah. Saya mau naik kapal kedua dulu sebelum kembali ke kapal pertama /#DOR/
Buat yang minta lanjut atau nyebut manba manis—kalian tottaly ma sistah /apa ini/ tapi sayangnya fic Tsurunba ini harus berhenti di sini dulu /usap ingus + airmata/
Oh iyaaaaaa, buat Star bening, OMG kyodai! Ku tak kuasa melihat keunyuan Tsurunba di Moyuru Honnouji. Ugh, aku udah teriak2 dulu walau belum ngeliatnya. Ku tak bisa memilih antar Someya apa Kento-san yang jadi Tsurumaru-nya! /kejang kejang/ Someya kyuti sangat, Kento-san ganteng~ /guling-guling di lantai/
YAK, lebih baik kita sudahi AN ini reader-san! Saya takut kalau ini AN tambah ngalor-ngidul gak karuan akibat tangan saya yang gak bisa berhenti fangirlingan/digampar/
Salam TSURUNBA,
ym
