Virious Hitomi Shoyou
Eyeshield 21 Riichiro Inagaki dan Yusuke Murata.
Warning : OOC dan TYPO
Riku masih enggan untuk bangkit dari ranjangnya dan balutan selimutnya yang hangat. Tapi teriakan Mamori yang berusaha membangunkannya membuatnya akhirnya bangkit dari tempat tidur dengan mata masih mengantuk.
BRRUUK
"Riku suara apa itu? Kau baik-baik saja? Cepat buka pintunya!" kata Mamori dari luar kamar Riku.
"Aduh… siapa yang meletakkan bola amefuto di sini…" gerutu Riku lalu membukakan pintu kamarnya.
"Hey ada apa? seperti ada suara yang jatuh," kata Mamori memperhatikan Riku yang masih terlihat berantakan.
"Aku tadi terjatuh gara-gara menginjak bola amefuto. Siapa sih yang meletakkan di kamarku." Riku mengacak-acak rambutnya dan menguap sekilas.
'Bukannya dia sendiri yang meletakkannya,' batin Mamori dengan sweatdrop.
"Sudah sana mandi. Aku tunggu dibawah untuk sarapan ya," Mamori pergi meninggalkan Riku yang masih terlihat mengantuk.
Selepas perginya Mamori, Riku pergi ke kamar mandi.
Mamori kembali menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Riku. Setelah dirasa cukup ia duduk untuk menunggu Riku. Menghilangkan bosan ia memeriksa perlengkapan kuliahnya takut-takut jika ada yang tertinggal. Tapi Mamori bukan orang yang begitu ceroboh.
"Mou! Riku lama sekali," kata Mamori.
"Mamori neechan, maaf lama. Hehehe… Ohayou." kata Riku mulai duduk.
"Ohayou Riku. Nah ayo mulai sarapan," kata Mamori.
Dan mereka mulai memakan sarapan mereka. Suasana rumah Riku sedikit berbeda, biasanya ia sendiri kini ia mendapat teman. Ada yang bisa ia sapa saat pagi hari dan sarapan bersama. Riku lahir dari kedua orang tua yang dalam perkerjaan keduanya memiliki reputasi tinggi sampai pekerjaan itu menyibukkan mereka dan terpaksa membuat anak mereka harus mulai mandiri. Riku yang menjadi anak satu-satunya cukup mandiri sehingga orang tuanya tidak khawatir jika anak mereka satu-satunya itu tinggal sendiri di rumah. Tidak membutuhkan waktu lama Mamori dan Riku sudah selesai menghabiskan sarapan mereka. Keduanya bersiap untuk ketempat Universitas mereka masing-masing.
Saat Mamori meraih tasnya Riku menoleh padanya.
"Kau mau kemana?" kata Riku.
"?" Mamori agak bingung dengan pertanyaan Riku.
"Tentu saja berangkat ke Universitasku." kata Mamori.
"Biar aku antar," kata Riku berdiri dari kursi dan meraih kunci motornya.
"Antar? Tapi kan arah Universitas kita berbeda arah. Kau bisa terlambat jika mengantarku," tolak Mamori dengan halus.
"Sudahlah neechanku menurut saja. Lagi pula pakai motor itu akan cepat kok. Ayo," kata Riku.
"Anak itu," kata Mamori sedikit tersenyum melihat sikap Riku.
Riku dan Mamori melaju menuju Universitas Saikyoudai dengan motor kesayangan Riku. Dalam waktu singkat mereka sudah sampai di tempat tujuan. Soal melajukan motor dengan kencang kemampuan Riku tidak bisa diremehkan, tapi hasilnya Mamori memarahinya saat mereka sampai di depan gerbang Universitas Saikyoudai.
"Itu salah satu cara agar tidak terlambat Mamori neechan. Lagipula kita juga baik-baik saja kan," kata Riku dengan tersenyum jahil.
"Tetap saja itu berbahaya! Aku tidak mau lagi kau melajukan motormu sekencang itu atau aku akan laporkan ini pada orang tuamu," kata Mamori.
"Baik baik.. tapi tidak janji ya. Hahaha." kata Riku.
"Mou!" Mamori terlihat kesal.
"Riku!" panggil seseorang.
Riku dan Mamori menoleh ke sumber suara.
"Yo, Ikkyu." kata Riku. Terlihat Ikkyu berjalan menghampiri Riku dan Mamori. Ia memperhatikan Mamori cukup lama.
'Cantik,' begitulah kata pertama yang ia ungkapkan dalam hati saat mengamati Mamori.
"Dia kakakku." kata Riku.
"Hah? Kakakmu? Setahuku kau anak tunggal." kata Ikkyu.
"Kau tidak percaya? Lihat tidak aku ini tampan dia cantik. Kakak adik itu biasanya tidak berbeda jauh," kata Riku dengan percaya diri.
Ikkyu dan Mamori sweatdrop mendengar pernyataan Riku.
'Apa ini efek gara-gara jatuh menginjak bola tadi?' batin Mamori. Lalu ia melihat Ikkyu.
"Perkenalkan, aku Mamori Anezaki panggil saja aku Mamori. Murid baru di Universitas Saikyoudai ini." kata Mamori mengulurkan tangannya.
"Aku Ikkyu Hosokawa, panggil saja aku Ikkyu. Salam kenal," Ikkyu menjabat tangan Mamori.
"Dia orang yang aku maksud semalam," kata Riku.
"Yang mau mendaftar dalam perekrutan Manager?" kata Ikkyu.
"Ya. Mamori neechan, dia ini pemain dalam tim Saikyoudai Wizards. Soal perekrutan Manager itu kau bisa tanyakan padanya. Kalau begitu aku berangkat ke Universitasku ya. Jaa.." kata Riku yang mulai menyalakan mesin motornya.
"Jaa.. ingat jangan mengebut Riku," kata Mamori.
"Baik," kata Riku dengan langsung melaju dengan kecang.
"Mou! Apa yang dia bilang 'baik' jika mengebut seperti itu," kata Mamori.
"Oh ya Ikkyu, berhubung aku murid baru, bisa bantu aku menunjukkan kelas bahasa dimana?" kata Mamori.
"Tentu saja Mamori san. Mari ku antar," kata Ikkyu.
Mamori dan Ikkyu berjalan di koridor diantara lalu lalang para mahasiswa dan mahasiswi lainnya.
"Ikkyu, posisimu apa dalam tim Saikyoudai Wizards?" tanya Mamori.
"Posisiku sebagai receiver. Mamori-san kenapa kau tertarik dunia amefuto? Ya maksudku biasanya wanita itu sangat jarang menyukai olahraga pria ini," kata Ikkyu.
"Hmm… Karena aku suka semangat para pemain amefuto. Melihat mereka begitu semangat dan terus maju untuk mendapatkan poin itu suatu hal yang sangat bagus." kata Mamori melihat Ikkyu dengan senyumnya yang lembut.
"Begitu. Siang nanti sekitar pukul 1 siang seleksi Manager akan di lakukan, tepat setelah jam kuliah selesai. Karena kau belum tahu dimana tempatnya nanti aku akan menunggumu disini, dan itu kelasmu." kata Ikkyu menunjuk kelas bahasa.
"Baiklah. Arigatou Ikkyu, aku masuk ke kelasku. Sampai berjumpa lagi nanti," kata Mamori lalu pergi meninggalkan Ikkyu.
~Virious~
Riku sampai di Universitasnya, memarkirkan motornya lalu merapikan sedikit pakaiannya. Ia mulai berjalan menuju gedung Universitas dan disambut oleh serbuan para fansnya yang tentu saja didominasi oleh para gadis.
"RIKU!" Puluhan mahasiswi berlari menuju Riku.
'Kenapa hariku begitu buruk,' runtuk Riku dalam hati.
Kini ia terkepung oleh para fansnya.
"Riku-kun~ apa kau sudah sarapan?"
"Riku hari ini kau tidak terkena macet kan?"
"Riku hari ini kau memiliki acara apa saja?"
"Riku, siang nanti kau mau kan makan siang denganku?"
Riku hanya pasrah dengan serangan para fansnya. Segala pertanyaan dilayangkan pada Riku yang menurut Riku sangat menjengkelkan. Riku heran juga kenapa para fans itu tidak hentinya bertanya dan tetap menjadi fans setianya, padahal ia akan bersikap cuek dan mengabaikan segala pertanyaan para gadis itu.
"Ano.. Riku kun ini bento untukmu," kata seorang gadis dengan tinggi tidak berbeda jauh dengan Riku dan memiliki wajah yang cukup manis.
Riku yang sebenarnya malas menghadapi fansnya tapi untuk sopan santun ia menerima bento itu.
"Arigatou," kata Riku menerima bento itu.
"Riku aku juga ada bento untukmu ini," kata gadis yang lain.
"Pintar sekali kalian merayu Riku ku dengan memberikan bento," kata gadis yang lainnya lagi.
'Riku ku?' batin Riku sweatdrop.
"Hey terserahku memang apa masalahmu hah?" bela gadis kedua yang memberikan bento pada Riku.
"Tentu masalah. Dasar curang,"
Akhirnya terjadi kekacauan adu mulut antar 2 gadis itu. Riku hanya bisa memperhatikan keributan itu.
Sena, Suzuna, dan Monta seperti biasa berangkat ke tempat kuliah mereka bersama. Memasuki gedung Universitas, mereka melihat kerumunan ramai yang di dominasi oleh para mahasiswi.
"Itu pasti Riku. Enaknya setiap pagi di kerumuni para fans MAX," kata Monta pundung di bawah pohon.
"Benar itu Riku dan para fansnya? Tapi kenapa seperti sedang ribut-ribut begitu," kata Suzuna mengamati kerumunan itu. Monta langsung menoleh dan kembali di samping Suzuna dan Sena.
"Apa terjadi sesuatu?" kata Sena.
"Entahlah. Kita kesana saja," ajak Suzuna.
Dan ketiga orang itu mendekat ke kerumunan itu. Mereka melihat kedua orang gadis sedang saling adu mulut terlihat Riku agak bingung dan sedikit… jengkel. Tentu saja Riku merasakan jengkel, memangnya siapa yang akan tidak jengkel jika harimu di awali dengan serangan para fans dan sekarang kau berada di situasi percekcokan.
"Berhenti kalian berdua! Kenapa kalian ribut seperti ini! Tahu tidak kalian itu terlalu kekanakan, masalah sepele seperti itu saja kalian ribut tidak jelas!" kata Riku dan dua orang gadis itu berhenti bertengkar lalu mereka menoleh ke Riku, tidak hanya mereka tapi semua fansnya.
Riku yang dilihat seperti itu merasa bingung, "Eh? Apa aku berkata salah?" kata Riku.
"KYAA! Riku-kun~ kata-katamu sangat bagus. Kami semakin mengagumimu!" teriak fansnya.
'Sial!' runtuk Riku dalam hati.
'Siapa saja tolong aku,' batin Riku melihat para fansnya yang melihatnya seperti sebuah perhiasan yang sangat di incar para wanita.
Suzuna, Sena dan Monta langsung masuk ke tengah dan berada di samping Riku.
"Hey kalian! Bubar atau kalian akan_"
"Akan apa hah?" kata salah satu fans Riku.
"Akan apa ya?" kata Suzuna.
GUBRAK
Sena dan Monta jatuh di tanah dengan tidak elitnya, Riku sendiri hanya sweatdrop.
Sebuah ide muncul di otak Monta, dengan senyum licik ia membisikkan sesuatu ke Suzuna.
"Suzuna, para fans itu ada yang memanggilmu nona TAKI lho," begitulah bisik Monta menekankan kata pada marga Suzuna.
"Apa…" kata Suzuna mengeluarkan aura hitam. Sena, Monta dan Riku sekalipun merasakan suasana yang tidak enak.
'Xixixi… berhasil MUKYA!' batin Monta menjauh dari Suzuna.
Bahkan aura kemarahan Suzuna bisa dirasakan oleh para Riku's fans.
'Mengerikan,' begitulah batin para Riku's fans.
"KALIAN BUBAR ATAU AKU AKAN BUAT KALIAN MENYESAL SEUMUR HIDUP!" kata Suzuna dengan wajah horror dan aura hitamnya.
Semua fans Riku langsung lari berhamburan, mereka tahu benar bagaimana jika seorang nona Taki sudah murka. Biar Suzuna memiliki tubuh yang terbilang kecil tapi ia adalah seorang taekwondoin sabuk hitam semasa SMP dan SMU dan mungkin kemampuannya sekarang masih sehebat dulu.
"Sena, dia begitu mengerikan," bisik Monta. Sena sedari tadi sudah ketakutan dan mengangguk kuat dan cepat saat Monta berbisik.
"Beres. Hey kalian kenapa diam saja? Ayo masuk ke dalam nanti terlambat lho," kata Suzuna tersenyum.
'Seperti memiliki 2 kepribadian saja,' pikir Sena, Monta, dan Riku.
Suzuna memiringkan kepalanya sedikit dan menatap bingung ke arah 3 orang temannya itu.
~Virious~
Clifford sedang berada di ruangan kerjanya, terlihat Wakana juga berada tak jauh darinya turut membantunya dalam mengerjakan pekerjaan Clifford. Kehidupan Virious tidak jauh berbeda dengan kehidupan manusia. Masalah ekonomi, sosial dan politik juga melekat pada Virious. Clifford yang merupakan salah satu petinggi di Virious memiliki tanggung jawab atas penduduk Virious.
BRAK
Pintu ruangan kerja itu terbuka dengan sangat kasar dan menampilkan sosok Shin berdiri dengan tegap dengan ekspresi dingin. Ia berjalan santai menghampiri meja Clifford, langkah kakinya yang mantap menggema di ruangan itu. Sampailah ia di depan meja Clifford, melipat kedua tangannya di dada.
"Sampai kapan kau akan mempercayai bocah itu?" kata Shin.
"Sampai ia berhasil menjalankan tugasnya," jawab Clifford dengan entengnya dan menyandarkan dirinya di punggung kursi. Tangannya saling bersedekap didepan dadanya.
"Itu jika ia berhasil. Bagaimana kalau tidak?" kata Shin mengintimidasi.
"Aku sudah katakan bukan? Jika ia gagal maka aku kan meninggalkan Virious. Dan kau bisa menempati posisiku," kata Clifford.
"Kau sungguh bodoh Clif. Kau tahu bahwa bocah itu tak kan pernah bisa menghadapi 'dia'." kata Shin tersenyum sinis.
"Aku tahu." kata Clifford.
"Lalu kenapa kau memberikan tugas itu padanya? Atau kau mulai mengakui jika ia itu adikmu eh?" kata Shin dengan menyindir Clifford.
Clifford tersenyum sekilas, "Kami memang dari ayah yang sama tapi dari ibu yang berbeda dan aku tetap tidak mengakui dia itu adikku. Aku akan mengubah takdir sebelum takdir yang sebenarnya dimulai. Lagi pula ini urusanku, apa kau sangat tidak sabar menunggu saat aku pergi meninggalkan Virious?" kata Clifford.
"Aku tidak tertarik sama sekali dengan kedudukanmu Clif ataupun kepergianmu. Tapi jika kau memaksaku untuk mengambil sesuatu darimu karena masalah ini, mungkin teman ikatan batinmu ini bisa kau serahkan padaku sebagai tanda kekalahanmu," Shin sedikit melirik Wakana dari sudut matanya yang tajam lalu pergi dari ruangan kerja itu.
Wakana yang sedari tadi memperhatikan 2 orang tadi saling beradu argumen hanya terdiam sampai Shin meninggalkan ruangan itu ia baru membuka mulutnya.
"Clifford sama…" katanya. Clifford menoleh pada Wakana lalu sedikit tersenyum.
"Tidak apa-apa. Kau tidak perlu cemas," kata Clifford.
…
Ikkyu sudah menunggu Mamori seperti yang dijanjikannya pagi tadi. Ya, sekarang waktu sudah beranjak siang. Ikkyu berdiri di depan kelas Mamori, memperhatikan Mamori yang membereskan barang-barangnya. Sesekali orang lain menyapa Mamori untuk pulang duluan dan Mamori membalasnya dengan ramah. Menurut Ikkyu, hebat juga Mamori baru sehari saja berada disini ia langsung mendapatkan teman banyak.
'Mungkin karena keramahan dan kelembutannya,' pikir Ikkyu terus berpikir tanpa sadar jika Mamori sudah berada di depannya.
"Ikkyu? Kenapa melamun?" kata Mamori.
"Eh? Tidak kok. Sudah siap?" kata Ikkyu.
"Aku selalu siap," kata Mamori tersenyum, terlihat bahwa ia begitu percaya diri.
Ikkyu dan Mamori berjalan menuju tempat seleksi Manager yang di adakan di ruangan klub tim Saikyoudai Wizards. Sesampainya disana mereka melihat cukup banyak yang mencalonkan diri.
Terlihat di luar ruangan terdapat meja yang di jaga oleh Juumonji dan Banba. Tidak jauh dari mereka Taka terlihat tetap setia membaca buku.
"Hey, antri yang rapi lalu tulis nama kalian," kata Juumonji mengkomandoi para peserta yang lebih banyak mahasiswi dibanding mahasiswa.
Satu persatu dari mereka menuliskan nama mereka dengan cukup tertib dan bergantian. Yang selesai menulis menunggu sampai mereka di panggil satu persatu untuk memasuki ruangan.
"Mamori-san, kau bisa ikut antri dan cukup tulis namamu. Aku akan tunggu kau di sini," kata Ikkyu.
"Baiklah, aku mendaftar dulu ya." lalu Mamori ikut masuk ke dalam antrian. Karena antrian cukup rapi dengan cepat Mamori sudah sampai urutan depan.
"Tuliskan namamu disini, lalu tunggu sampai giliranmu dipanggil," kata Juumonji memberikan instruksi.
Lalu Mamori menuliskan namanya setelah selesai ia kembali menghampiri Ikkyu.
"Menunggunya mungkin agak sedikit lama, kita tunggu disana saja bagaimana?" kata Ikkyu menunjuk sebuah bangku dibawah pohon.
"Oke." kata Mamori menyetujui.
Di dalam ruangan para juri dalam seleksi ini adalah Hiruma, Yamato, dan Akaba. Saat ini mereka sedang mengetes kemampuan teori amefuto pada seorang mahasiswi.
"Jadi kenapa kau ingin mendaftarkan diri dalam perekrutan Manager ini?" kata Yamato.
"Selain ingin membantu tim ini aku juga bisa bertemu terus dengan Yamato-kun," kata gadis itu.
Semuanya sweatdrop, Hiruma sendiri sudah muncul sudut 4 di dahinya.
'Fuh, jawaban yang sangat jujur,' batin Akaba.
"Ini yang kau maksud terbaik rambut liar sialan?!" kata Hiruma.
"Tapi pengetahuannya tentang amefuto tidak terlalu buruk," kata Yamato.
"Hooo… benarkah? Hey kau! Siapa orang yang menciptakan American football? Hal apa saja yang menyebabkan pemain offense dan defense diganti? Apa yang di maksud sack?Berapatinggi dari everst pass? Dan bla.. bla.. bla.." kata Hiruma menyeringgai. Setidaknya sudah berjumlah 10 pertanyaan langsung yang Hiruma lontarkan langsung ke gadis itu.
"Ano.. bisa ulangi apa saja pertanyaan tadi?" kata gadis itu.
"Tidak ada kata ulang. Cepat jawab!" kata Hiruma menodongkan AK 47nya ke gadis itu.
'Pertanyaan langsung sebanyak itu mana orang bisa menjawab.' batin Yamato.
'Dasar iblis,' batin Akaba juga.
"Gagal! Cepat keluar sana!" kata Hiruma dengan seringgai kemenangan.
"Tapi-" bela gadis itu.
"Tapi apa hah? Keluar atau kau mau merasakan gigitan anjingku ini?" kata Hiruma.
Cerberus sedari tadi berusaha ingin lepas dari rantai yang mengikat lehernya.
"Baiklah…" kata gadis itu dengan lesu meninggalkan ruangan itu.
Kembali ke suasana di luar ruangan, terlihat para peserta sedikit demi sedikit berkurang. Yang keluar dari ruangan itu juga banyak yang terlihat murung. Mamori terus memperhatikan itu semua.
'Tes macam apa yang membuat orang-orang itu murung begitu saat keluar ruangan?' batin Mamori.
Dedaunan kering berterbangan karena tertiup angin yang cukup kencang. Matahari juga tertutup oleh awan yang berwarna keabuan yang agak pekat.
"Wah apa akan terjadi badai ya?" kata Mamori melihat keatas langit.
"Seperti begitu. Anginnya cukup kencang," kata Ikkyu.
Kertas Mamori yang berada di pangkuannya terbang tertiup angin.
"Eh?" Mamori mengejar kertas itu.
"Mamori Anezaki. Apa ada orangnya?" kata Juumonji.
"Mamori-san sekarang giliranmu," kata Ikkyu.
"Oh iya tunggu ya," kata Mamori berusaha menangkap kertas yang masih melayang.
"Biar aku ambilkan. Kau masuk saja," kata Ikkyu dengan cepat mengejar kertas itu.
Hiruma dan yang lain menunggu peserta berikutnya. Sedikit lama peserta selanjutnya tidak masuk ke dalam ruangan.
"Hey, apa sudah habis pesertanya?" kata Hiruma.
"Masih ada. Ini orang terakhir," kata Yamato melihat sebuah kertas para peserta.
Akaba memainkan gitarnya sambil menunggu peserta selanjutnya, Hiruma memainkan laptopnya.
KRIEET
Pintu terbuka dengan sangat pelan terlihat seorang gadis memunggungi mereka untuk menutup pintu itu kembali lalu ia menoleh.
"Maaf membuat kalian menunggu," kata Mamori membungkuk lalu kembali menegakkan tubuhnya.
"Kau kira kau itu siapa hah? Harus menunggumu lama-" kata Hiruma tidak melanjutkan perkataanya saat mengalihkan pandangan dari laptop dan melihat Mamori.
DEG
Hiruma terdiam tidak mengeluarkan ekspresi apapun saat melihat Mamori. Yamato merasa bingung dengan temannya itu, ia melihat hiruma.
'Dia ini…" batin Hiruma
'Kenapa dia?' batin Yamato melihat keanehan Hiruma.
Sama halnya dengan Yamato, Akaba yang sedari tadi memainkan gitarnya lalu melihat Hiruma hanya diam, lalu ia melihat peserta itu. Saat melihat Mamori entah kenapa dirinya begitu mengenali sosok itu.
'Aku baru ingat! Dia ini Yang Mulia!' kata Akaba dalam hati. Sedikit tidak percaya.
Hiruma merasakan sakit yang teramat di punggungnya. Rasanya benar-benar menyiksa dan mungkin sangat menyakitkan jika yang dihuni kelelawar itu orang biasa.
'Makhluk itu juga merasakannya.' batin Hiruma menyembunyikan ekspresi rasa sakitnya, tapi keringat sudah mengalir di sekitar keningnya karena rasa sakit yang di sebabkan kelelawar yang menghuni punggungnya.
Yamato yang merasakan gelagat aneh pada dua orang temannya akhirnya angkat bicara.
"Kalian kenapa? Apa kalian baik-ba-"
"Kau teruskan rambut liar sialan. Aku ada urusan mendadak," Hiruma dengan cepat keluar dari ruangan berpapasan dengan Mamori. Melewati sudut matanya ia melihat sekilas kembali sosok Mamori.
Akaba juga langsung berdiri dari kursinya, akan keluar dari ruangan itu juga.
"Akaba, kau juga?" tanya Yamato.
"Aku baru ingat juga ada urusan yang tidak bisa diabaikan. Maaf," katanya dan langsung keluar dari ruangan.
Yamato terus memperhatikan kedua temannya yang tiba-tiba ada urusan itu.
"Kenapa mereka itu? Dasar aneh. Oh ya maaf membuatmu terus berdiri. Silahkan duduk," kata Yamato mempersilahkan Mamori duduk.
"Langsung kita mulai saja ya tes seleksinya," kata Yamato dan Mamori mengangguk dengan percaya diri.
Diluar ruangan tes perekrutan Manager tepatnya di parkiran kendaraan, Hiruma bersandar di mobilnya.
'Reinkarnasi? Ya tidak salah lagi!' kata Hiruma dalam hati melihat langit yang diselimuti awan mendung.
"Hosh.. Hosh.." terdengar nafas Akaba yang terlihat baru saja berlari. Hiruma memerhatikan Akaba. Alis sebelahnya terlihat naik melihat Akaba yang jarang-jarang berlari selain dalam lapangan amefuto.
"Kenapa kau?" kata Hiruma.
"Dia mirip sekali dengan-" kata Akaba.
"Yang Mulia." tebak Hiruma dengan tepat.
"Lalu kenapa gelagatmu cukup aneh saat berhadapan dengannya?" kata Akaba.
"Dia target misiku," kata Hiruma.
"Apa maksudmu?" kata Akaba.
"Kita bicara di dalam," kata Hiruma masuk ke dalam mobilnya di ikuti Akaba di bangku depan samping Hiruma.
Yamato yang menjadi juri tunggal sekarang, karena Hiruma dan Akaba pergi mendadak sekarang sedang kagum akan pengetahuan Mamori mengenai amefuto dan saran-saran Mamori soal teknik permainan amefuto.
"Luar biasa. Kau lulus dalam perekrutan ini, padahal kukira sampai peserta habis kami tidak akan mendapatkan Manager baru karena dipersulit oleh Hiruma. Oh ya aku baru ingat aku belum perkenalkan diriku. Aku Takeru Yamato. Selamat datang di tim Saikyoudai Wizards." kata Yamato tersenyum dan mengulurkan tangannya.
"Arigatou Takeru-san. Salam kenal juga," Mamori tersenyum dan menjabat tangan Yamato.
Dan jadilah sekarang Mamori resmi menjadi Manager baru tim Saikyoudai Wizards menggantikan sang Manager lama Karin Koizumi.
Kembali ke percakapan antara Hiruma dan Akaba.
"Memusnahkan peradaban vampire?" kata Akaba setelah mendengar cerita Hiruma.
"Ya, sebenarnya aku tidak pernah tahu jika ternyata Virious terancam oleh seseorang yang mampu memusnahkan Virious ." kata Hiruma
"Darimana mereka tahu jika Virious bisa musnah ditangannya? Maksudku, dia pernah menjadi pemimpin di dunianya. Mana mungkin mau menghancurkan dunianya sendiri." kata Akaba.
"Entahlah. Aku hanya diberikan misi dan itulah sebabnya aku disini. Clifford memberiku tawaran bagus untukku. Jika aku berhasil membunuh orang itu maka aku akan diberi tahu menjadi seorang darah murni dan bebas dari penjara sialan itu. Lagi pula dia hanya reinkarnasi darinya, bisa saja sifatnya bertolak belakang." kata Hiruma.
'Jadi itu sebabnya ia berada di sini,' batin Akaba.
"Kau ingat sebabnya aku berada di penjara sialan itu?" kata Hiruma.
"Yeah.. aku ingat," kata Akaba melihat kedepan, padangannya jauh menerawang.
Yosh! Chap 3 update juga. Maaf baru update karena saya sedang ada Ujian semester ganjil.
Seperti biasa bagi yang review sudah saya balas lewat PM ya…
