Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Nice Young Lady © Haruno Aoi
Character: Hinata Hyuuga, Sasuke Uchiha
Genre: Drama, Western
Warning: AU, OOC, TYPO
.
.
.
N I C E . Y O U N G . L A D Y
.
.
.
Menjelang siang, Hinata terbangun dari tidurnya yang lebih panjang daripada biasanya. Matanya yang setengah terbuka, masih mengerjap lemah. Setelah pandangannya menjadi jelas, Hinata merasa sedikit asing dengan langit-langit ruangan tempatnya terbaring. Dengan pelan ia memalingkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, kemudian menyadari bahwa yang tempatinya bukan kamarnya di kediaman barunya; ini adalah kamarnya pada masa kanak-kanak—yang berarti kamar tidurnya di kediaman Hyuuga.
Merasakan ada keanehan pada kedua kakinya ketika ia mencoba menggerakkannya, Hinata jadi teringat kejadian yang dialaminya semalam; hukuman dari suaminya atas perintah ayahnya. Bahkan tidak hanya kedua kakinya yang terasa nyeri, ia juga masih terlalu lemas untuk bangkit karena otot di tangan dan badannya seolah menjadi kaku. Tak lama setelah ia mencoba mendudukkan dirinya dengan susah payah, seorang wanita muda berseragam pelayan menghampirinya dengan tergopoh-gopoh.
"Syukurlah, Anda sudah sadar," pelayan bergaun hitam itu berkata seraya tersenyum lega dan membantu menata bantal untuk sandaran Hinata. "Master sangat khawatir," imbuhnya.
"Kenapa aku tidur di sini?" tanya Hinata dengan suara pelannya yang terdengar serak.
"Semalam, Sir Uchiha dimarahi habis-habisan oleh Master karena menyebabkan Anda pingsan," si pelayan bercerita dengan setengah berbisik, "Master tidak mengira kalau Sir Uchiha akan benar-benar tega memberikan seratus cambukan. Lalu, Master jadi melarang Sir Uchiha untuk membawa Anda pulang."
Sekali lagi Hinata mencoba menggerakkan kakinya; masih kaku. Ia menyingkap selimut putihnya yang tebal dan sedikit meringis saat mengintip kedua betisnya yang memar. Jika pelayannya memang selalu dapat dipercaya, ia merasa bingung karena ayahnya memarahi Sasuke yang hanya mematuhi perintah. Hinata tidak akan menyalahkan Sasuke, malah ia sangat sedih saat teringat jawaban Sasuke atas pertanyaan yang diajukannya semalam. Ia jadi menyesal karena telah bersuara—mungkin lebih baik jika ia tetap menutup mulut sampai Sasuke menyelesaikan seratus cambukan dan meninggalkannya dalam keheningan.
Seorang pelayan yang masih setia berdiri di samping tempat tidur, menghormati Hinata yang tidak menginginkan bantuan walaupun berjalan secara tertatih ke kamar mandi. Sebelum menyiapkan perlengkapan mandi Hinata, ia menarik tali di sebelah tempat tidur—yang terhubung dengan salah satu lonceng kecil di dapur—sebagai pemberitahuan bahwa makanan untuk Hinata harus segera disiapkan.
Ketika seorang pelayan wanita lainnya masuk ke kamar dengan mendorong troli, Hinata sudah duduk di salah satu kursi dekat jendela kaca yang lebar dan tinggi. Gaun tidur putihnya sudah berganti dengan gaun kuning mudanya yang sederhana. Rambutnya yang sedikit ikal tidak ia sanggul seperti biasa, melainkan hanya diikat sedikit ke belakang dan menyisakan lebih banyak rambut yang dibiarkan tergerai.
"Kata dokter, memar dan nyeri di kaki Anda akan segera hilang," ujar pelayan yang saat ini membantu salah satu rekannya untuk meletakkan semangkuk sup hangat, segelas susu, segelas air, beberapa butir obat, dan peralatan makan lainnya di atas meja bundar di depan kursi keemasan berlapis beludru warna krem yang diduduki oleh Hinata.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Hinata menyuapkan sup secara perlahan menggunakan sendok yang diambilnya dari samping mangkuk. Setelah sup tersisa separuh, Hinata menghentikan suapannya karena lambungnya sudah terasa penuh.
"Aku tidak akan makan obat," kata Hinata kalem, namun tegas.
"Tapi…" pelayan yang terlihat lebih berumur tidak jadi mengeluarkan protes saat melihat Hinata meneguk setengah dari susu di gelas, kemudian mengelap bibirnya.
"Kau sudah tampak sehat."
Dua orang pelayan sekaligus Hinata, menunduk ketika istri kedua Hiashi berjalan mendekat. Setelah wanita berambut coklat yang terlihat awet muda itu memberikan isyarat dengan tangan, pelayan langsung meninggalkan Hinata—hanya berdua dengan ibu tirinya.
"Apa kau merasa bahagia karena suamiku masih mencemaskanmu?" desis sang ibu tiri seraya tersenyum lebar hingga kedua matanya terpejam ramah—namun selalu tampak menakutkan di mata Hinata, dan untungnya ia tidak sering melihatnya lagi setelah wanita yang dinikahi ayahnya itu berhenti menjadi Kepala Sekolah Asrama Puteri di kota York; tempatnya menempuh pendidikan.
"Jangan manja," bisik geram sang ibu tiri sambil memasukkan beberapa butir obat ke dalam mulut Hinata secara paksa. Ia menutup mulut Hinata dengan telapak tangannya saat anak tirinya itu terlihat hampir muntah. "Telan," perintahnya pelan sambil meminumkan segelas air putih ke mulut Hinata.
Air yang mengaliri dagu Hinata serta membasahi sebagian gaunnya, menciptakan senyum puas di wajah ibu tirinya. Selang beberapa detik, senyum berganti menjadi seringaian ketika ibu tirinya melihat air bening yang menggenangi pelupuk matanya. Ia masih berusaha agar pil-pil pahit di dalam mulutnya tidak memasuki lambungnya. Setelah ibu tirinya meninggalkan ruangan sambil tertawa pelan, ia berjalan dengan terhuyung ke kamar mandi untuk memuntahkan isi mulutnya.
.
.
.
Karena ingin segera meninggalkan kediaman ayahnya, Hinata memutuskan pergi ke kota York setelah menginap selama satu malam lagi. Dalam keadaan yang kurang baik, ia menempuh perjalanan jauh seorang diri—tanpa suaminya atau pelayan kepercayaannya. Untuk pertama kalinya ia berdusta kepada ayahnya; ia mengatakan akan pulang ke rumah Sasuke, tapi ia malah menyuruh kusir untuk mengendalikan kereta kudanya menuju stasiun kereta api. Padahal Sasuke sama sekali belum mengetahui tentang perkembangan kesehatannya, apalagi mengenai kepergiannya ke kota York.
Sesampainya di stasiun kereta api kota York, Hinata menumpangi kereta kuda yang akan membawanya ke hotel terdekat dari Sekolah Asrama Puteri. Kebetulan lokasi hotelnya dekat dengan pasar dan galeri lukis milik temannya. Mungkin ia akan mampir ke kediaman temannya untuk melepas rindu atau sekedar mengamati lukisan-lukisan terbaru—tentunya setelah menjenguk adiknya di asrama.
Hinata sudah memasuki kawasan Sekolah Asrama Puteri seusai meletakkan kopernya di kamar hotel yang disewanya. Setelah melewati gerbang tinggi yang ditumbuhi tanaman menjalar, debaran jantungnya yang tidak beraturan menemani langkah pendeknya mendekati pintu masuk bangunan yang disebut asrama. Tiga bulan yang lalu, ia masih menempuh pendidikan di bangunan berlantai tiga yang terlihat tak terawat itu—bahkan beberapa murid pernah menyebutnya sebagai sarang hantu, walaupun tidak ada yang perlu ditakuti di dalam bangunan tua tersebut. Sebenarnya Hinata sudah tidak mau menginjakkan kakinya di lingkungan yang pernah membuatnya merasa dipenjara, tapi ia ingin memastikan bahwa adik perempuannya tidak mendapatkan masalah yang berarti setelah kelulusannya.
Seorang wanita berambut coklat menyambut kedatangan Hinata sambil tersenyum ramah. Hinata turut menarik kedua sudut bibirnya—membalas senyuman sang kepala sekolah, pengganti ibu tirinya sejak dua tahun yang lalu. Menurut Hinata, sama sekali tidak ada perubahan dari gaya kepemimpinan ibu dan anak tersebut.
"Sepertinya aku mengetahui maksud kedatanganmu," sambut kakak tiri Hinata, masih mempertahankan senyum yang diwarisinya dari sang ibu.
"Aku ingin bertemu Hanabi," balas Hinata tanpa basa-basi.
Sang kepala sekolah tertawa anggun, lalu mempersilahkan Hinata untuk menaiki tangga yang menuju lantai dua. Senyumnya langsung memudar saat ia melangkahkan kaki menuju ruangannya.
Hinata yang sudah berpijak di lantai dua, langsung menuju sebuah pintu yang berada di ujung koridor. Senyumnya mengembang setelah pintu kayu yang diketuknya membuka dan menampakkan sosok gadis yang sangat mirip dengan kakak laki-lakinya. Karena rasa rindunya, ia langsung menghambur dan memeluk adik yang sudah hampir tiga bulan tidak dilihatnya.
"Aku senang kau datang, Hinata," ujar Hanabi yang semakin mempererat pelukannya.
Hinata mengangguk semangat, seraya membalas dengan sedikit berbisik, "Aku juga senang karena diperbolehkan menemuimu."
Belum lama Hinata meluapkan kerinduan, tiba-tiba Hanabi melepaskan diri dan mengunci pintu kamarnya. Tanpa memedulikan kebingunan Hinata, ia berjalan mendekati meja kecil di samping tempat tidurnya yang sempit. Ia berjongkok ketika membuka laci terbawah dari tiga laci yang ada. Sesaat kemudian, Hanabi bisa mendengar langkah tenang Hinata yang berjalan menghampirinya ketika ia mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalam laci.
"Apa itu?" tanya Hinata penasaran sambil mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur.
Hanabi belum menjawab sebutir kata pun saat menduduki tempat di sebelah Hinata. Sambil tersenyum tipis, ia meletakkan beberapa kertas yang terlipat dan terlihat seperti sampah itu di atas pangkuan Hinata.
Dengan ragu, Hinata mengambil secara acak salah satu kertas yang sedikit terbakar di salah satu pojoknya dan berniat membuka lipatannya. Tapi, sebelumnya ia melontarkan pertanyaan yang serupa untuk Hanabi, "Sebenarnya, apa ini?"
"Buka saja," balas Hanabi seraya tersenyum paksa, "Aku menemukannya di pojok perapian ruang bawah tanah."
Alis Hinata tampak hampir bertautan setelah mendengar penuturan Hanabi. "Ruang bawah tanah?" pekiknya dalam bisikan, "Kau dihukum?"
Hanabi mengangguk pelan dan kembali memaksakan senyum. "Aku dihukum hanya karena berbicara dengan pemuda pengantar susu," ujarnya lirih.
"Kejam," gumam Hinata sambil menunduk dan membuka lipatan kertas yang ada di tangannya. Matanya tampak lebih membulat setelah melihat tulisan tangan yang tidak asing lagi baginya. Jantungnya berdetak lebih cepat dan tangannya gemetaran, mengingatkannya pada beberapa tahun yang lalu—ketika ia dengan tidak sabarnya membuka amplop surat yang datang dari London, kemudian membaca isinya dengan semangat. Waktu itu, hanya seorang saja yang pernah menulis surat untuk Hinata.
.
Dear Hinata,
Kau menyukai hadiah ulang tahunmu dariku?
Aku yang memilihnya sendiri.
Aku sengaja menyertakan kartu ucapan bergambar dandelion agar kau ingat kepadaku dan tetap percaya bahwa asa yang kau gantungkan setinggi langit akan terkabul.
Jangan biarkan belenggu menghentikan harapanmu.
Di sini, aku juga terus berharap agar dapat segera bertemu denganmu lagi…
Datangnya musim semi tinggal menghitung hari, tapi tidak akan menyenangkan jika aku meniup kelopak dandelion seorang diri.
Jaga dirimu baik-baik.
Salam,
Sasuke.
.
Sebuah nama terucap tanpa suara dari bibir Hinata yang bergerak lemah. Berkali-kali ia mengulang bacaan yang sama, mencoba memunculkan kembali ingatannya yang mungkin terkubur waktu. Tulisan tangan yang digoreskan menggunakan tinta hitam itu memang tidak asing bagi Hinata, namun sebelumnya ia merasa belum pernah membaca isinya.
"Kapan?" lirih Hinata, "Kapan Sasuke mengirimkannya?" Matanya tampak berkaca-kaca setelah menyadari bahwa tidak ada penunjuk waktu di surat yang dipegangnya, karena lubang yang ditimbulkan api berada tepat di posisi tanggal penulisan surat.
Air matanya mulai menetes ketika ia membuka satu lagi lipatan kertas yang terlihat lebih kotor dengan tinta yang hampir luntur.
.
Dear Hinata,
Kali ini, aku akan menceritakan pengalaman pertamaku yang turut serta dalam kegiatan sosial bersama ibuku.
Kemarin, untuk pertama kalinya Ibu mengajakku ke rumah sakit. Tak perlu kujelaskan, pasti kau sudah membayangkan bagaimana isi rumah sakit. Tentu saja penuh dengan orang sakit, selain dokter dan perawat.
Andai kau ikut denganku, pasti kau akan menangis. Aku tahu kau tidak akan tega melihat anak-anak seusia kita yang seharusnya bermain dengan riang gembira bersama teman-temannya, terbaring lemah di ranjang rumah sakit dalam keadaan kurus dan pucat. Pasti kau juga akan meneteskan air mata ketika melihat mereka yang lebih muda daripada kita, harus bergantung pada kursi roda untuk pergi mencari suasana baru di taman rumah sakit.
Kalau aku terlahir sebagai seorang perempuan, pasti aku bisa meluapkan emosiku dan menangis dengan bebas. Hei, jangan berpikiran aneh setelah membaca kalimatku sebelum ini. Aku selalu bangga dilahirkan sebagai seorang laki-laki karena aku memiliki harapan untuk melindungimu.
Kau tahu ksatria pelindung? Kata Itachi, seperti Papa yang selalu melindungi Mama. Itu keren, bukan?
Aku akan menjadi ksatria pelindungmu…
Aku bersumpah.
.
Hinata tidak bisa membaca lanjutan dari surat yang dipegangnya karena tinta tampak melebur bersama air yang sepertinya sudah lama membasahi kertas. Kali ini ia tidak bisa menahan isak lirih maupun menghentikan air matanya yang menuruni kedua pipinya. Hanabi yang di sampingnya hanya sesekali menepuk pundaknya tanpa mengeluarkan suara.
Merasa sudah sedikit tenang daripada sebelumnya, Hinata melanjutkan membuka satu lagi lipatan kertas dengan pandangan buram karena terhalangi air yang kembali berkumpul di pelupuk matanya.
.
Dear Hinata,
Apa kau baik-baik saja?
Kenapa kau tidak pernah mengirimkan surat kepadaku lagi? Kau juga tidak pernah membalas surat-surat yang kukirimkan kepadamu selama beberapa tahun terakhir.
Aku berharap tidak membuat kesalahan kepadamu.
Aku masih bersedia menjadi tempat curahan hatimu.
Aku dengar, ibu tirimu sudah pulang ke rumah ayahmu. Apa itu berarti kau dan teman-temanmu sudah bebas bersuara dan mengeluarkan pendapat? Aku selalu berdoa untuk kebaikanmu.
Kau tahu, aku merindukanmu.
Sangat merindukanmu…
With lo
Sasu
.
Isakan yang keluar dari mulut Hinata terdengar lebih memilukan dibandingkan sebelumnya. Ia harus menutup mulutnya dengan menggunakan tangan agar tidak ada yang merasa terganggu karena tangisannya.
"Padahal aku tidak pernah lupa untuk mengirimkan surat kepadanya," lirih Hinata disertai isakan pelan, "Kenapa?"
Pandangannya kembali buram dan beberapa tetes air matanya semakin melunturkan beberapa huruf yang sebelumnya sudah melebur bersama zat cair.
With
Sas
"Sasuke…" panggil Hinata lirih dan berkali-kali, seolah menjadi mantra yang akan mendatangkan sang pemilik nama ke hadapannya.
.
.
.
Thursday, May 05, 2011
My thanks to each of you for taking the time to read and review…
