Serdin Private Highschool – Summon The Beast!
A/N: huo! Chapter 3! Aaand…maaf lagi karena Perang Pemanggilannya belum saya munculin disini. Ternyata masih panjang bagian pengenalannya (=_="a) dan juga pemeran Shouko Kirishima bakal disebutin di Chapter ini! Ada yang bisa tebak siapa orang itu (fufufu…)? Nah, Minna…Happy Reading! Btw, balasan untuk Review kemarin ada dibawah! Jangan lupa dibaca ya
-School III: Teman Biasa? Sekolah Biasa? Pssh…Yang Benar Saja?-
"itu…" ucap Sieghart menggantung, sementara seluruh penghuni kelas 'F' menahan napas mereka. Bisa saja ini benar-benar situasi siaga 1, bukan? Dilihat dari wajah Sieghart, pasti sesuatu yang sangat penting.
Misalnya rapat PBB dalam melaksanakan ketertiban dunia, atau penghapusan penjajahan di dunia karena tidak berperikemanusiaan, atau yang lebih parah lagi….
"siapa ketua kelas kita?"
…keputusan siapa ketua kelas ini…the Hell! Kirain benar-benar serius sampe harus ngirim pasukan perang ke daerah peperangan untuk menghentikan perang itu. tentu semuanya ber – 'Huu' – ria namun segera berhanti saat merasakan aura gelap disekitar Sieghart menyelimuti mereka.
Jin dan Lass langsung bangkit berdiri dan dengan panik berusaha menenangkan Sieghart.
"te – tenang Sieghart! Mereka cu – cuma menyorakimu karena…ide mu hebat! Itu dia! Idemu hebat sekali!" ucap Jin mulai ngibulin Sieghart.
"itu benar! Jadi, gak perlu masuk mode Rage, kan?" kini Lass yang berbicara dan berusaha menenangkan Sieghart yang sewaktu-waktu bisa ngamuk.
Lass dan Jin bener-bener panic stadium 4 saat ini. Pasalnya, Sieghart itu orangnya gampang emosi dan juga…*berbisik* dia punya sifat yang lumayan psikopat!
Sieghart yang mendengar ucapan mereka berdua langsung terdiam. Tapi tak lama, jari telunjuknya terangkat kearah Lass dan aura hitam tadi digantikan dengan aura lain. Lass saat ini benar-benar ketakutan, ia berpikir bahwa Sieghart bakal menyerangnya, pake satu jari pula!
Dan saat mulut Sieghart membuka untuk mengatakan sesuatu, satu kalimat meluncur keluar dari mulutnya…
"…siapa ya?" Tanya Sieghart dengan aura penuh kebingungan. Jin yang padahal tadi sadar bahwa Lass ada disitu malah terlihat kaget.
"hiiy! Sejak kapan kau ada di dekatku?"
OK, kita katakan saja bahwa setelah ini, Lass mengeluarkan sifat pembunuh berdarah dinginnya dan mulai meneror seisi kelas sambil meneriakkan: 'Eksistensi – ku masih jelas!' dan dengan segera dihentikan wali kelas mereka yang ternyata ahli seni bela diri Judo.
"ugh…memangnya guru diperbolehkan menyerang murid?" ucap Lass saat ditahan oleh Knight Master dengan mengunci Lass menggunakan kedua tangannya.
"sebenarnya sih, tidak boleh, tapi…" ucapan Knight Master menggantung dan entah mengapa Lass mengetahui apa yang bakal dikatakan oleh wali kelasnya itu.
"kau itu siapa?"
Dan dengan itu, Lass kembali ke Emo Corner-nya dan mulai meratapi nasibnya sebagai anak yang terlahir di lingkungan Assassin yang dapat menyembunyikan hawa keberadaan mereka.
"baiklah…dengan ini saya tentukan kalau Sieghart-lah yang memegang jabatan sebagai ketua kelas 'F' semester ini," ucap Knight Master sambil berjabat tangan dengan Sieghart.
"eeeh!? Kenapa harus dia!? Aku bisa memimpin kelas ini lebih baik dari dia," ucap Elesis tiba-tiba dengan emosi.
"oh, benarkah, kepala merah? kemampuanku memimpin lebih baik daripada kau yang selalu melakukan sesuatu tanpa berpikir dulu, ingat?" ucap Sieghart dengan nada meremehkan.
"uggh…" Elesis hanya bisa menggerutu tidak jelas dikarenakan kata-kata Sieghart yang sepenuhnya adalah kebenaran.
"nah, tidak ada yang keberatan lagi, bukan?" Tanya Knight Master sambil menyebarkan pandangannya keseluruh ruang kelas itu dan kali ini tidak ada satupun yang mengatakkan kata 'Menolak'.
"selamat ya, Sieghart…kau harus memimpin dengan baik kelas 'F' ini, ditambah lagi, posisi ketua kelas di sekolah ini sama dengan panglima perang lho," ucap Knight Master kemudian yang ditanggapi dengan anggukan kepala Sieghart.
"saya mengerti, bu!" ujar Sieghart dengan semangat. Sementara Sieghart dan Knight Master berbicara tentang (mungkin) peraturan yang berlaku selama mereka bersekolah disini, Lass dan Jin hanya bisa sweatdrop saat melihat Sieghart menjadi ketua kelas mereka.
"tumben si pemalas itu mau memimpin, waktu SD dulu langsung dia tolak. Memangnya apa pengaruhnya kalau jadi ketua kelas disini?" komentar Jin.
"kau akan tahu kalau sudah saatnya kita melakukan Perang Pemanggilan…" ucap Lass dengan nada serius. Jin yang mendengarnya juga ikut memasang wajah serius.
"melihat tampangmu, pasti saat ini kau sedang memikirkan apa itu Perang Pemanggilan, atau kalo enggak, siapa aku ini, bukan?" Tanya Lass yang sepertinya mulai terbiasa dengan reaksi teman-temannya.
"yah, dua-duanya sih, tapi serius deh, Perang Pemanggilan itu apa?" Tanya Jin pada Lass. Tiba-tiba Lass dan Ryan berubah menjadi mode Chibi dengan Chibi-Lass yang tengah berdiri membelakangi papan tulis.
"baiklah, kita mulai penjelasan tentang 'Perang Pemanggilan' yang menjadi salah satu keunikan sistem belajar disini,"
Penjelasan Oleh Chibi-Lass!
Lass: Perang Pemanggilan adalah sebuah sebutan untuk Pertarungan antar kelas dengan para murid yang menjadi 'Para Tentara'-nya. Kita semua tahu, tiap murid memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri. Nah, dalam Perang Pemanggilan inilah para murid memperlihatkan kemampuan mereka!
Jin: Interupsi! Katamu tadi 'Pertarungan antar kelas', apakah ini maksudnya kami harus saling mengadu kekuatan, seperti mengadu senjata misalnya? Lalu, bagaimana kita melakukannya?
Lass: pertanyaan bagus, Jin! Begini, dalam Perang Pemanggilan, kita MEMANG bertarung satu sama lain, namun bukan artinya kita semua harus saling mengadu senjata. Dalam Perang Pemanggilan, kita semua akan bertarung dengan menggunakan 1 Avatar yang disebut Summoned Beast berbentuk diri kita Versi Chibi. Nah, kita akan bertarung menggunakan ini.
Jin: oh! Pertanyaan lagi! Bagaimana dengan kekuatannya? Apakah sebanding dengan kekuatan pemiliknya?
Lass: kalau soal itu, kekuatan tiap Summoned Beast berbeda-beda tiap mata pelajaran, jadi misalnya: kalau kau meraih nilai tinggi di mata pelajaran MTK maka kekuatan Summoned Beast-mu akan memiliki kekuatan yang besar.
Jin: maksudnya?
Lass: misalnya, Mata Pelajaran Perang Pemanggilan kali ini adalah MTK, kalau nilai ujian-ku sebelumnya lebih tinggi dari nilai ujian-mu, maka kekuatan Beast-ku mengunggulimu dan dengan itu aku bisa dengan mudah mengalahkanmu. Jenis Beast ini disebut High Rank Beast.
Jin: yang benar!? Padahal aku lemah di MTK!
Lass: haha, tenang saja. Beast yang memiliki kekuatan kecil atau disebut Low Rank Beast bukan berarti dapat dengan mudah dikalahkan. Beast dengan kekuatan besar memang berbahaya, namun kecepatan bergerak dan merespon Beast berkekuatan besar sangat lambat. Nah, disinilah keuntungan memiliki Beast kekuatan kecil yang memiliki keunggulan dalam kecepatan.
Jin:…bisa diperjelas?
Lass: maksudnya begini, kalau Beast milikmu memiliki kekuatan serangan yang kecil, itu dapat membuat gerakan Beast-mu menjadi sangat cepat sehingga saat musuh menyerang, kau dapat menghindari serangannya dengan cepat dan saat giliran Beast kita yang menyerang, Beast dengan kekuatan besar akan kewalahan menghindari serangan Beast kita. Memang kekuatannya kecil, namun kalau menyerang berkali-kali, musuh dengan kekuatan seberapapun pasti bakal tumbang.
Jin: hoh…begitu…
Lass: tapi, diantara High Rank Beast, ada juga yang gerakannya sangat cepat seperti Low Rank Beast. Ini diperoleh pemiliknya dengan cara mengumpulkan nilai sekitar 80-90 poin tiap mata pelajaran sebanyak 10 kali berturut-turut. Jadi, selain kuat, kecepatan mereka juga sangat hebat. Beast ini disebut Higher Rank Beast dan Pengguna Beast jenis ini disebut GS A.K.A Genius Student.
Jin: *Gulp* jadi, harus hati-hati saat bertemu dengan orang seperti itu…lalu, penentuan menang kalahnya gimana?
Lass: penentuan menang kalahnya sama seperti Catur: disaat Raja musuh berhasil ditumbangkan, maka permainan dianggap selesai dan pemain yang menumbangkan raja-lah yang disebut pemenang. Intinya, kalau saat Perang Pemanggilan, Sieghart dijatuhkan oleh murid kelas lain, maka itu pertanda bahwa kelas kita yang kalah.
Jin: dan….konsenkuensi-nya?
Lass: *Smirk* kalau kita menyerang kelas lain dengan fasilitas lebih baik dari milik kita dan memenangkan Perang Pemanggilan, otomatis fasilitas dari kelas yang kita kalahkan akan menjadi milik kita. Singkat kata, bagi kelas yang kalah, fasilitas yang dimiliki kelas itu dapat dikuasai oleh kelas yang menang!
Jin: kalau…sebaliknya?
Lass: …Kau Tidak Akan Mau Tahu…
Back To Normal Mode
"pantas saja tadi Knight Master bilang kalau tugas ketua kelas disekolah ini sama seperti panglima perang. Kayaknya aku harus mulai giat belajar nih, jaga-jaga kalau ada Perang Pemanggilan," komentar Jin saat selesai mendengar penjelasan Lass.
"tapi, ada satu yang masih misteri…" ucapan Jin menggantung.
"siapa ka – HEPH!" ucapan Jin terpotong karena Lass membekap mulutnya menggunakan kotak pensil miliknya.
"udah deh, aku bosan dengar kata-kata itu sejak Chapter lalu," ucap Lass dengan nada dingin.
"baiklah, saya rasa sudah cukup untuk hari ini, jadi sampai jumpa besok," ucap Knight Master dan mulai meninggalkan kelas itu. saat itu juga, bel sekolah mulai berdentang menandakan bahwa hari pertama mereka benar-benar selesai.
At The Hallway
"wuih…gak nyangka, orang yang santai seperti mu bakal jadi ketua kelas, Sieg!" komentar Jin sambil memukul pelan tangan kanan Sieghart.
"haha! Orang hebat sepertiku sih memang dilahirkan untuk jadi pemimpin!" ujar Sieghart dengan bangga sambil menepuk dadanya.
"che…jadi pemimpin Keluarga Sieghart saja masih ragu-ragu, apanya yang dilahirkan untuk jadi pemimpin?" komentar Elesis dengan wajah kesal.
"meskipun begitu, selamat ya, Sieg! Aku mohon bantuannya selama kau menjabat sebagai ketua kelas," ucap Amy dengan nada sopan pada Sieghart sambil membungkukkan badannya.
"haha…baiklah! Serahkan saja padaku!" ucap Sieghart sambil tersenyum lebar.
Saat ini, Sieghart, Jin, Elesis, Amy, dan Lass sedang berada di koridor menuju area luar sekolah. Memang, saat hari pertama, yang dilakukan oleh tiap murid disekolah ini hanyalah memilih ketua kelas kemudian semuanya dapat kembali kerumah dan saat ini mereka memilih untuk pulang bersama-sama.
Saat mereka berjalan, mereka melewati kelas 'A', kelas yang memiliki rata-rata nilai tertinggi disekolah mereka. Jin yang tanpa sengaja melirik kelas itu sangat terkejut. Dengan cepat ia mengucek-ngucek mata-nya bahkan menampar wajahnya berkali-kali. Ditatapnya lekat-lekat jendela yang menampakkan bagian dalam kelas 'A'.
"ini mustahil…" gumamnya. Saat itu Amy yang menyadar Jin tiba-tiba hilang mencari sosok Jin dan mendapatinya tengah bengong di depan kelas 'A'.
"ada apa, Jin?" Tanya Amy pada Jin. Jin tidak mengeluarkan respon apapun selain mengarahkan jari telunjuknya kearah dalam ruangan kelas 'A'. Amy-pun melihat apa yang ditunjuk Jin dan ia juga ikutan Shock.
Itu karena, kelas 'A' benar-benar bertolak belakang dengan kelas mereka: papan tulis berupa Monitor menghiasi bagian depan kelas, beberapa sofa yang menjadi pengganti tempat duduk siswa, bar makanan yang menyediakan makanan gratis khusus untuk penghuni kelas 'A', Laptop dan sistem internet pribadi yang diberikan 1 buah tiap meja (bahkan mungkin 1 buah untuk 1 murid), dan juga beberapa Unit AC.
Satu kata: Mewah, Modern, dan Mahal! Oke, itu tiga kata.
"gila…ini kelas apa Apartemen? Fasilitas-nya lengkap sekali! Ini sih pasti betah disekolah," ucap Jin saat melihat fasilitas kelas 'A'.
"iya ya, berbeda sekali dengan kelas kita ya?" sambung Amy.
"hm, kira-kira berapa nilai yang harus kudapatkan untuk memasuki kelas ini saat Ujian Penempatan waktu itu, ya?" ucap Jin dengan nada bercanda sambil menerawang kearah kelas 'A'.
Amy yang mendengarnya tiba-tiba terlihat sedih.
"um…aku yakin, kau pasti bisa dapat nilai yang tinggi, khususnya bidang IPA dan Bahasa, kau bisa masuk kelas ini," Gumam Amy yang sebenarnya terdengar seperti berbisik pada dirinya sendiri. Tiba-tiba suasana menjadi sunyi dan tidak ada satupun diantara mereka yang mulai bicara.
"…hey, Jin," ucap Amy tiba-tiba membuat yang dipanggil menoleh kearahnya.
"apa?" Tanya Jin yang kali ini mengalihkan perhatiannya pada Amy.
"…apa kau tidak menyesal menolongku saat Ujian Penempatan beberapa waktu lalu? Maksudku, kau itu kan pintar dalam pelajaran IPA dan juga Bahasa – " perkataan Amy dipotong oleh Jin.
"tahu darimana aku ahli di dalam IPA dan Bahasa?" Tanya Jin yang membuat Amy terlihat panik.
"itu…so, soalnya kelihatan sekali kau itu menyukai hal-hal yang berbau bahasa dan juga Alam," jawab Amy asal-asalan. Jin hanya ber – 'oh' – ria sambil angguk-angguk mengerti.
"um…kalau nilai-mu itu bagus dalam kedua mata pelajaran itu, seharusnya kau masuk kelas 'A' saat Ujian Penempatan kemarin, bukan? Jadi, sekali lagi kutanya, apakah kau tidak menyesal menolongku waktu itu?" sambung Amy, bertanya pada Jin perlahan sambil menundukkan kepalanya dan menggenggam kedua tangannya di depan dadanya. Saat ini Amy benar-benar merasa bersalah karena Jin yang seharusnya memiliki kemungkinan masuk kelas 'A' – paling tidak kelas lain selain kelas 'F' – malah masuk kelas 'F' gara-gara dia.
'kok dia tidak menjawab? Apa dia benar-benar menyesal? Apa dia marah padaku?' batin Amy sambil menggenggam tangannya kuat untuk menahan air mata yang hampir keluar.
Tiba-tiba, Amy merasa sebuah tepukan pelan di kepalanya dan ini membuat Amy mengangkat wajahnya untuk menemukan Jin yang tersenyum lebar padanya.
"apa yang kau bicarakan? Tenang saja, aku tidak menyesali apapun kok. Lagian yang aku lakukan dengan menolongmu itu adalah hal yang baik, buat apa aku menyesal?" ucap Jin sambil tersenyum dengan tulus kearah Amy. Mata Amy terlihat berkaca-kaca saat mendengar perkataan Jin, ingin ia menangis pada saat itu juga. namun bukannya menangis, ia membalas senyuman Jin dengan pipi merona.
"terima kasih, Jin," ucapnya. Melihat Amy yang tersenyum dengan pipi merona membuat Jin jadi gugup dan Salting.
"eu…eh…anu…bagaimana kalau aku mengantarmu pulang sekarang?" tawar Jin tiba-tiba karena saking gugupnya. Tentu saja Amy senang mendengarnya dan tanpa basa-basi langsung menerima tawaran Jin.
"tentu!" jawab Amy dengan wajah senang.
"hoi! Kalian lama amat! Ayo, kita pulang bareng!" ujar Sieghart dari depan pintu gerbang sekolah, padahal jarak dari kelas 'A' sampai gerbang cukup jauh, tapi suara Sieghart benar-benar bisa nyampe kedengaran mereka.
"OK!" ujar Jin sambil berlari kearah Sieghart.
"Amy! Ayo, kau juga!" ujar Sieghart yang melihat Amy masih terdiam. Saat mendengar panggilan Sieghart, Amy-pun langsung ikut mengejar Jin yang saat ini berlari kearah Sieghart.
"baiklah! Karena kita sudah mengenal satu sama lain, aku akan memanggil kau Sieggy!" ujar Amy sambil menunjuk Sieghart.
"Elly," sambil menunjuk Elesis.
"Lassy," sambil menunjuk Lass…eh? Dia bisa menyadari Lass! – Dinding Keempat rusak lagi dan kali ini bayangan Kaze'Aze dari Skill Shadow of The Past milik Lass muncul di dekat Author.
"dan, Jinny~," terakhir, Amy menunjuk Jin.
"nama apa itu!? aku tidak mau!" ujar Elesis protes.
"ayolah, itukan imut~" ucap Amy lagi dengan semangat.
"yah, Sieggy ya? Lumayan, gak apa-apa deh," komentar Sieghart. Dasar orang dengan tipe Easy Going.
"ehehe~ tuh, sepupumu aja mau tuh. Ini salah satu ciri pemimpin, Elly, selalu menerima keadaan apa adanya (walau bohong sih)," ucap Amy dengan pikiran jahat terselip diantara perkataannya barusan.
"…iya deh…" akhirnya Elesis menyerah juga dan menerima panggilan barunya. yah, semuanya akan ia lakukan demi menjadi pemimpin, bukan?
Saat itu, tanpa mereka sadari, seorang gadis berambut biru laut berkacamata dengan warna mata berbeda antara kanan dan kiri tampak tengah memperhatikan gerak-gerik mereka, khususnya laki-laki dengan rambut hitam, Sieghart.
Terlihat gadis ini memakai seragam yang sama seperti yang dikenakan oleh Jin dkk dan tampaknya ia berasal dari kelas 'A'. gadis itu perlahan berjalan keluar dari persembunyiannya dan menatap lekat sosok berambut Raven yang berjalan pergi bersama teman-temannya.
Tiba-tiba, sebuah benda yang tampaknya adalah robot dengan logo bertuliskan KORMET disisinya, terbang mengitari gadis itu.
"Nona, Target sudah dikonfirmasi…dia adalah target kita, Aerknard Sieghart," ucap robot itu pada gadis tadi.
Gadis itu tampak terkejut dan tiba-tiba saja wajahnya memerah sendiri dan entah kenapa napasnya terlihat berat. Dan kalau ada yang memiliki telinga super, pasti terdengar saat ini jantung gadis itu sedang berdegup kencang.
"Sieghart…" gumam gadis itu sambil berjalan pergi meninggalkan tempat itu.
The Next Day…
"huuah~" Jin menguap dengan lebarnya pagi itu dengan tidak elitnya sambil merenggangkan beberapa otot tubuhnya. Menjadi seorang siswa SMP tidak menjadi penghalangnya untuk menjadi seorang Martial Artist, apalagi kalau latihan yang ia jalani….adalah latihan neraka yang dimulai dari pulang sekolah hingga jam 1 pagi!
Karena itulah, di hari kedua di Serdin Private Highschool, Jin tampak sangat mengantuk dengan mata yang merem-melek.
"guru Azin kejam banget, mana ada latihan yang Cuma dikasih istirahat setengah jam dan dikasih makan Cuma setengah mangkok? Itu niat melatih atau membunuhku sih?" komentar Jin dengan mata yang masih agak rabun. Sesekali ia mengucek matanya itu untuk mengusir kantuk, namun tetap saja rasa lelah tak dapat ia kalahkan. Tambah lagi, perutnya yang terus bergemuruh meminta makanan. Quite Suffering, right?
Tak lama, Jin merasakan sebuah tepukan pelan di belakang pundaknya dan menemukan Amy yang tersenyum cerah kepadanya.
"selamat pagi, Jinny~!" ucap Amy menyapa Jin dengan semangat 45-nya yang melebihi apapun, oh…tak lupa Nickname yang ia berikan pada temannya itu. Benar-benar cewek yang aktif, kira-kira kalau kena Sugar Rush, gimana jadinya ya?
"Amy? Oh, selamat pagi juga," jawab Jin dengan loyo sambil berjalan menuju kelasnya. Amy yang menyadari perbedaan Jin pagi ini segera menyamakan langkah mereka.
"Jinny? Kau kenapa? Sakit?" Tanya Amy dengan khawatir.
"enggak kok…aku Cuma kecape'an sama lapar…kemarin ada Survival Training dari guru-ku sih…" gumam Jin yang semakin lama semakin lunglai. Bahkan ia beberapa klai menabrak tiang penyangga dan berulang kali bergumam 'siapa sih yang naruh tiang disini?' dengan nada mengantuk.
Amy hanya bisa Sweatdrop melihat hal ini. Amy kemudian tampak berpikir, dan tiba-tiba wajahnya terlihat cerah seperti baru mendapatkan ilham.
"oh, kalau itu sih, aku punya solusinya! Ayo, kita cepat kembali kekelas!" ucap Amy berlari menuju kelasnya sambil menyeret Jin yang hanya bisa pasrah karena pasokan energinya sudah dalam kondisi kritis.
At The Class…
Amy tampak mencari-cari sesuatu di dalam tas-nya, membiarkan Jin tergeletak dilantai disebelahnya. Beneran cape' tuh, pak? Anyway, balik ke Amy yang tengah mengucek-ucek tas-nya.
"bukan…ini juga bukan…ini juga…" gumamnya sambil mengeluarkan isi tas-nya satu persatu. Ada alat tulis, buku pelajaran, make up, botol air minum, Chakram, Violin, Michrophone, sepeda, Gattling Gun, kostum Godzilla…seberapa besar sih bagian dalam tas-nya itu! padahal tas-nya Cuma seukuran10 x 10 cm! lagian, bawa Gattling Gun, gak ilegal tuh?
"ah! Ketemu!" Ujar Amy setelah sekian menit dengan bahagia sambil memegang sebuah kotak yang tampaknya kotak bekal.
"ini untukmu, Jinny~! Katamu tadi kamu lapar, kan?" ucap Amy sambil menyodorkan kotak bekalnya. Dengan sekejap, Jin bangkit dari lantai dan melihat langsung apa yang gadis itu berikan untuknya.
Didalam kotak bekal itu, terlihat beberapa potong daging yang terlihat gurih, sayuran yang terlihat segar, telur gulung yang diatur sedemikian rupa, nasi yang sangat berkilau, dan beberapa sayur lainnya. Satu kata: Delicious!
"beneran untukku, Amy?" Tanya Jin pura-pura nanya padahal ilernya udah kemana-mana. Melihat ini, Amy langsung tertawa kecil dan mempersilakan Jin memakannya. Belum sempat sesendok-pun masuk kemulutnya, Lass dan Sieghart masuk.
"wuih…baru sehari kenal, tingkah kalian layaknya udah pacaran sampe dibuatin Bento segala," komentar Sieghart sambil menggoyangkan sebelah alis matanya.
"wow…kelihatannya enak, penyusunannya pun sangat sempurna," ucap Lass yang memperhatikan Bento buatan Amy.
"a – ah! Ka – kalau kalian mau, ka – kalian boleh mencicipinya," tawar Amy pada Sieghart dan Lass.
"benarkah? Kalau begitu aku tidak akan sungkan," ucap Sieghart yang mengambil sepotong kecil telur gulung dan dagingnya bersamaan dengan nasi tadi.
"aku juga…" ucap Lass yang mengambil sayur hijau yang ada disamping kotak bekal itu dan memakannya bersama telur gulung.
"ba – bagaimana?" Tanya Amy. Sesaat keduanya terdiam, namun dengan segera mereka jawab dengan wajah cerah.
"sempurna sekali, Amy!" ujar mereka berdua bersamaan dengan gigi dan ujung jempol yang berkilau (bayangin Guru Guy dan Rock Lee dari naruto, deh…).
"ah! Terima kasih!" ucap Amy sambil membungkuk dengan wajah memerah karena malu dan juga senang.
"aduh, tiba-tiba tenggorokanku kering nih. Amy, bisa beliin air gak dikantin?" pinta Sieghart sambil mengunya makanan yang masih tersisa dimulutnya.
"baiklah! Aku juga akan mengambilkan untuk Lass," ucap Amy sambil beranjak pergi. Jin tak henti menatap Amy sampai ia keluar dari kelas menuju kantin. Saat Amy menghilang dari pandangan, ia mengembalikan pandangannya pada kedua temannya.
"teman-teman, apa benar seenak It – WOAH! Sieghart! Lass! Kalian kenapa!?" ujar Jin tiba-tiba saat melihat kedua temannya terkapar dengan mulut berbusa. Panik? Ya iyalah!
"to – long…aku masih mau hidup…" ucap Sieghart disela-sela 'acara' terkaparnya.
"Jin," Lass menggenggam lengan Jin.
"jangan sia-siakan bekal buatan Amy…tapi juga jangan sia-siakan pengorbanan temanmu ini…sekarang, terserah padamu…apakah bakal kau makan…atau…tidak…" dan dengan itu, Lass benar-benar terkapar dengan mulut berbusa.
Jin yang bingung dengan maksud perkataan Lass langsung mencoba bento buatan Amy.
"apaan! ini kan enak, Cuma agak keras, kasar, ada rasa pedas-asemnya, nasi sama dagingnya belum mateng, cuka-nya kebanyakan, dikasih garam berlebihan, - UARGH!" BRUAK! Pandangan Jin menjadi Hitam dan akhirnya ikutan terkapar dengan mulut berbusa seperti orang yang kena Epilepsi.
Tak lama kemudian, Amy kembali.
"teman-teman! Ini airnya…lho, kok kalian tidur sih? Kalau tidur setelah makan, bisa jadi sapi lho," ucap Amy dengan polosnya.
Lass tiba-tiba bangun, entah dapat energi darimana.
"kami Cuma mau istirahat bentar, soalnya masakanmu…'Luar Biasa'…" ucap Lass meskipun tak lama setelah itu pingsan lagi.
Kira-kira, apakah mereka bertiga akan selamat sampai di chapter selanjutnya? Apakah Lass masih tidak terasa keberadaannya? Apakah bakal ada Perang pemanggilan dalam waktu dekat ini? Dan siapakah gadis misterius yang mengawasi Sieghart? Apakah – author dilempar pake bakiak.
"lama amat!" Elesis teriak dari depan kelas.
Ehem…sampai ketemu di chapter depan!
To Be Continued
A/N: AAAH! KEMARIN SAYA LUPA BALES REVIEW!
Chloe Cyasesa: Yup, saya (sedikit) enggak ikut Plot cerita asli-nya, maka dari itu sifat karakternya juga agak beda. Kira-kira…Lass kalau sifatnya Perv, bakal gimana ya? *ngebayangin Lass* haha! Bakal kocak! Haha! Tunggu aja Sieghart bakal kena Taser, atau dipasung, atau dicolok matanya ama si Mari, huahahaha *Yandere Mode* ! Ehem…*balik Normal* Ok, Trim's sudah menyempatkan diri untuk membaca ya!
Kaien-Aerknard: hee? Yakin itu Lass? *plak* haha! Bener juga ya! Kalo Sieghart yang lupa wajar, tapi kalo Jin? LOLOL yah, siapa suruh si Lass Hawa Keberadaannya Tipis amat? Yah, kalu kelasnya dikacauin ama Knight Bareng Gladiator masih mending, coba Savior ama Prime Knight In Rage Mode? *bayangin Sekolah yang hancur* *PLAK!*. haha! Thank's atas sarannya ya, Kaien-san! bener lho, waktu saya baca ulang hasil ketikan saya, saya rasa memang ada yang kurang, ternyata penulisan dialognya lebih enak dibaca kalau dijadikan seperti itu! sekali lagi, terima kasi ya, kaien-san!
xImaginaryDreamerx: wow! Benarkah? Saya pikir bakal gak nyambung! Maklum, kalo soal cerita humor saya agak kurang. Oh ya? Sudah ketebak siapa para penghuni kelas 'A'? manteb deh…*thumbs up* khekhekhe…kalo yang bakal jadi peran Hideyoshi…nanti bakal saya munculkan karakternya. Tebak aja deh siapa yang punya muka Shota di GC. Baiklah! Pasti saya lanjutin! Terima kasih sudah membaca ya!
