[09.49 AM]
[Second Team : Akaashi Keiji, Tsukishima Kei, Ishikura Noah, Yoshimoto Kouki]
Second Team bergerak menggunakan mobil dengan kecepatan yang sedikit lambat. Jalanan penuh salju dan licin membuat mereka memilih melambatkan perjalanan mereka.
"Kota ini benar-benar luas." Kata Noah.
"Yeah, dan sangat dingin." sahut Tsukishima. "Dan, ugh! Perasaanku benar-benar tidak enak." Lanjutnya sambil memegang erat senapan M-16 miliknya.
Kouki menoleh ke seluruh arah. "Kalian dengar itu?"
"Huh, apa? Dengar apa?" Tanya Noah
Akaashi mengeratkan genggamannya pada setir. "Tch! Gelombang busuk!" Makinya sambil menambah kecepatan mobil.
Dari arah belakang dan kanan, Tsukishima dan Noah melihat gelombang besar manusia atau sesuatu yang sebelumnya manusia berlari cepat tanpa kesulitan dengan jalan bersalju dan licin. Gelombang penuh zombie dengan teriakan yang Kouki artikan sebagai tanda lapar membuat mereka semua memaki dan menembak.
"Shit! Ini sulit." Maki Tsukishima.
"Oy! Mereka semakin banyak!" Seru Akaashi saat zombie-zombie itu mulai datang dari segala arah dan semakin dekat dengan mereka. "B*stard!" Makinya setelah tahu, ia takkan mungkin menabrak para zombie tanpa mengorbankan diri. Dengan gerakan cepat Akaashi menghentikan mobil. Dia ikut menembak zombie. "Akan lebih mudah menembaki mereka dari tempat tinggi." Katanya.
Mereka berempat menembaki puluhan zombie, tapi ratusan zombie tetap datang. Bahkan sudah lebih dari sepuluh yang cukup dekat dengan mobil untuk menyerang Tsukishima.
"Tch!" Tsukishima melompat dan menendang kepala salah satu zombie, kemudian menggunakan senapan miliknya untuk memukul, dan terakhir menembak yang mulai mendekat.
Noah mengikuti dan menyerang tiga zombie dengan pisau fixation bowie miliknya. "Aku lebih suka bertempur menggunakan pisau tempur." Katanya sambil menyeringai.
"Jangan pamer." Kata Kouki sambil terus menembak dengan hand gun desert eagle miliknya.
"Mereka merusak mobil." Kata Akaashi sambil melompat turun bersama Kouki.
"Akaashi!" Seru Tsukishima. Akaahi membalas dengan anggukan.
"Akaashi, gedung itu cukup bagus untuk berlindung." Seru Kouki sambil menunjukan kearah sebuah gedung yang sepertinya sebuah apartemen. Noah mengambil MSG dan mulai menembak lagi. Akaashi mengambil bom dan melemparkannya kearah zombie yang menutupi jalan menuju gedung apartemen. Kurang dari 5 detik, bom itu meledak dan membunuh lebih dari seratus zombie.
"Move!" Teriak Akaashi.
Mereka bergerak cepat, sambil sesekali menembaki zombie yang mendekat atau menghalangi jalan.
Pintu gedung itu tidak terkunci. Mereka masuk dengan cepat, menutup pintu dan membuat penghalang untuk menghentikan, paling tidak memperlambat para zombie yang mengejar mereka. Tapi itu bukan berarti mereka bisa bernapas lega, mereka bergerak menuju tangga, memilih lantai yang tepat untuk membidik.
Saat mereka berada di balkon, Akaashi mengambil Barrette. Dan memulai menembaki zombie yang mulai memanjat keatas. Noah dan Kouki juga ikut menembak.
"Tsukishima, apa kau bisa meng hack kota ini?" Tanya Akaashi.
"Aku tidak yakin." Sahut Tsukishima. "Bukankah kota ini sudah mati?" tanyanya.
Akaashi berhenti menembak sesaat. "Well, kurasa kota ini tidak benar-benar mati." Katanya kemudian menembak.
Tsukishima menatap Akaashi sesaat sebelum membuka Tablet khusus miliknya. "Benar-benar bekerja." Gumam Tsukishima.
"Apa kau bisa menemukan jalan cepat untuk menuju tujuan kita?" tanya Akaashi.
"Belum! Aku masih mencari jalan yang bisa dikatakan lumayan aman untuk kita." Tsukishima terdiam sesaat. "Kecuali kalau kau ingin kita semua mati bahkan sebelum mendekati gedung." Katanya sarkas.
Akaashi terkekeh. "Kau tidak perlu menjawabku dengan sarkas."
.
[Third Team : Bokuto Koutaro, Hinata Shouyo, Suga Kenta, Kondou Shouri]
Third Team terhenti ditengah jalan. Ada dua makhluk besar mungkin 2 meter atau lebih dengan entahlah, sebuah palu raksasa, menghadang mereka. Kedua makhluk itu seperti sekumpulan daging yang dibuat ulang berbentuk monster jelek dengan satu mata yang dijahit. Gigi-gigi mereka besar dan tajam.
"Kita dihadang sesuatu yang hebat." Kata Shouri tanpa rasa kagum sama sekali.
"Mereka... Destroyer, bukan?" tanya Kenta yang diiyakan langsung oleh Hinata.
"Oy, oy! Aku tidak memiliki keinginan untuk mati dihantam palu atau terkena kapak apalagi dari dua makhluk jelek itu." kata Bokuto setengah meringis.
Kedua makhluk itu menggeram lalu berteriak. Mereka berlari menuju Third Team. Hal yang pertama kali Third Team lakukan menembaki kepala dua destroyer sebelum melompat turun dari mobil, sesaat sebelum mobil itu hancur oleh dua palu raksasa.
Shouri tertawa hambar. "Yeah, dan aku tidak memiliki keinginan untuk mati seperti mobil itu." katanya lalu menembak.
"Kita hadapi mereka dengan dua banding satu." Kata Bokuto. "Aku dan Shouri akan menghadapi destroyer satu. Hinata dan Kenta akan menghadapi destroyer dua."
"Oke." Jawab mereka bertiga.
Hinata bergerak cepat dambil menembak. Begitu juga dengan Kenta. Mereka berkali-kali bergerak bersamaan dengan posisi berlawanan. Mencoba mengecoh destroyer 2.
"Cih! Berapa banyak peluru yang digunakan untuk membunuh satu destroyer?" tanya Kenta sambil membuang M-16 dan mengambil dua karambit. "Kalau tidak bisa menggunakan tembakan, serangan pisau tempur pasti paling tidak membuat HP nya berkurang banyak, kan?"
"Kenta, ini bukan game." Kata Hinata sambil mengeluarkan sebuah Sog seal knife miliknya yang ia dapatkan tiga tahun lalu dan sebuah hand gun H&K.
"Jadi, bagaimana menyerangnya? Seperti latihan?" Kenta tersenyum pada Hinata.
"Bisa dicoba." Jawab Hinata sambil berlari lurus.
Destroyer 2 mencoba menyerang, tapi Hinata lebih cepat. Hinata menghindar dengan mudah dan menembak dua kali. Dilanjutkan dengan serangan cepat Kenta yang melukai beberapa tempat ditubuh besar itu.
"Masih belum." Kata Kenta.
Hinata melompat dan menyerang punggung kiri destroyer dua. Kemudian melompat menghindari serangan yang akan dilakukan destroyer dua. Kenta menyerang kembali. Berlari dan melompat menyerang dada, wajah, atau dimanapun tempat yang bisa dia serang.
"Dia tak memiliki darah sama sekali." kata Hinata.
"Well, dia bukan makhluk hidup. Walaupun hidup, itu pasti sudah sangat lama." Sahut Kenta. "Tubuhnya bisa ditusuk dengan mudah, lumayan tebal."
"Kalau begitu, ayo lakukan sekali lagi." seru Hinata sambil berlari lurus.
Destroyer 2 tidak menggunakan senjatanya, ia menggunakan tangan kanannya menangkap kaki Hinata yang tadi melompat untuk menyerang. Destroyer 2 menyerang Kenta dengan palunya. Kenta berhasil menghindari dua serangan, tapi pada serangan ketiga, Palu besar itu mengenai dada dan perutnya, melempar lelaki itu kearah dinding beton yang keras dan dinding.
"Kenta!" Teriak Hinata. Hinata menembak kepala destroyer 2 sampai pelurunya habis. Ia tusukkan pisau tempurnya ketangan besar itu. genggaman tangan destroyer 2 melemah sedikit. Hinata memunculkan sebuah pisau pada sepatunya, lalu dengan gerakan yang fleksible, berhasil mengeluarkan dirinya dari genggaman itu dan dengan gerakan memutar, Hinata menyerang wajah atau lebih tepatnya mata. Membuat destroyer 2 berteriak kesakitan.
Hinata melompat mendekati Kenta. "Hei, kau terluka?"
Kenta menyingkirkan serpihan-serpihan beton putih dan salju. "Sepertinya tidak." Jawab Kenta. "Beruntung kita menggunakan seragam baru ini. Jika tidak, rusukku pasti sudah patah semua."
"Yeah." Hinata mengeluarkan dan memasukkan pisau pada bawah sepatunya berkali-kali. "Aku bersyukur kapten meminta nona Kiyoko untuk mendesain seragam baru."
Kenta berdiri disamping Hinata. "Nah, sekarang apa yang harus kita lakukan untuk mengalahkan makhluk besar ini?"
Sementara itu, Bokuto dan Shouri tanpa jeda, terus menembaki destroyer 1 sambil terus bergerak. Mereka selalu berhasil menghindari serangan dari destroyer satu. Mereka sempat lengah saat Kenta terlempar, tapi hanya dua detik karena mereka tahu, seorang Suga Kenta tidak mungkin dikalahkan.
"Hey, Bokuto, menurutmu apa yang terjadi jika kita menusuk mata makhluk jelek ini?" tanya Shouri.
"Kurasa si mata satu ini akan buta sepenuhnya." Bokuto menyeringai. "Mau coba meledakkannya juga?"
"Hm... melemparkan pisau sedikit mustahil sekarang. Dan juga, aku tidak ingin bom kita di tangkis olehnya." Kata Shouri sambil mengeluarkan sebuah Flash Bang. "Tapi kita bisa gunakan ini." Shouri menekan tombol lalu melemparkannya. Sebelum destroyer satu menangkis, flash bang sudah mengeuarkan cahaya silau. Destroyer 1 buta sesaat. Shouri tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan sangat akurat, ia melempar fixation bowie tepat dimata destroyer satu yang sama sekali tidak memiliki kelopak mata. Destroyer 1 berteriak kesakitan.
Bokuto melempar bom dan meledak tepat didepan wajah destroyer satu. "Hey! Hey! Hey! Aku suka ledakan!"
"Kuharap makhluk itu mati, oh itupun jika dia hidup." Shouri tersenyum sarkas, hanya beberapa detik, senyuman sarkas itu berubah menjadi senyuman pahit. "Oy oy, kau pasti bercanda." Katanya.
Destroyer 1 masih berdiri disana dengan tubuh yang utuh, menggeram dan berteriak sebelum berlari.
"Menjengkelkan!" Maki Bokuto lalu berlari bersama Shouri.
Hinata meludahkan darah. Ia sempat terlempar oleh serangan mendadak dari destroyer dua. "Sekarang aku berharap memiliki M9 Bayonet seperti milik Kenma dan Kunimi." Katanya sambil mengambil Lawgiver.
"Jangan harap." Kata Kenta. "Kau tidak mendapat pelatihan untuk menggunakan pisau tempur paling berbahaya itu. Lagipula, bagaimana cara menggunakannya pada makhluk ini?"
"Mungkin saja berhasil." Hinata mulai menembak.
Destroyer 2 mulai menggeram dan berteriak lalu berlari. Kenta melemparkan salah satu karambitnya kearah mata destroyer 2. Destroyer 2 menangkisnya dan tetap berlari. Kenta mulai ikut menembak dengan Lawgiver.
"Berlari sambil menembak benar-benar menyusahkan." Kata Kenta.
"Dan karena itulah kita disuruh latihan menembak tiap hari." Kata Hinata.
Mereka berbelok dan melompat berbalik. "Hey, kalau begini kita bisa kehabisan seluruh persediaan peluru sebelum mencapai gedung penelitian itu." Kata Kenta.
"Yup, dan kami berdua juga sudah menghabiskan hampir setengah persediaan yang ada." Kata Shouri yang berdiri memunggungi Hinata.
"Kita dikejar dua makhluk dari dua arah. Menyebalkan." Bokuto tertawa sarkas.
"Bagaimana dengan menggunakan bom?" tanya Hinata.
"Tidak berguna sama sekali." jawab Shouri.
"Kalau bomnya dimasukkan kedalam tubuh mereka?" tanya Hinata lagi.
"Maksudmu memasukkan tangan kedalam mulut bergigi tajam itu?" Bokuto tertawa. "Bisa dicoba."
"Hoo... bagaimana rencananya?"
"Aku dan Hinata akan memasang bom dalam perut kedua daging itu. Shouri dan Kenta harus mengalihkan perhatian kedua makhluk itu sampai kami cukup dekat dengat mereka." Jelas Bokuto.
"Jika Bokuto yang mengatakannya, entah kenapa terlihat mudah walau sangat sulit." Kata Kenta.
"Itu keahlian Bokuto." Kekeh Shouri. "Oke, kedua makhluk penghancur itu sudah datang."
Shouri dan Kenta menembaki kedua destroyer dan berkali-kali berganti senjata. Sesekali mereka akan menyerang dengan karambit maupun fairbairn sykes. Hingga akhirnya mereka berdua terlempar oleh palu raksasa itu. Tapi mereka berdua menyeringai sambil sedikit meringis.
Hinata dan Bokuto melompat dihadapan para destroyer dan menusukkan Pisau LHR, membuat kedua destroyer berteriak, membuka mulut mereka. Dengan cepat, Bokuto dan Hinata memasukkan bom kemudian melompat kebelakang dan berlari menjauh bersama Shouri dan Kenta. Ledakan besar terjadi. Daging-daging gosong berhamburan dimana-mana. Kedua destroyer berhasil dikalahkan.
"Akhirnya." Kenta bernapas sedikit lega.
Bokuto menendang segumpal daging yang berada didekat kakinya. "Sekarang kita tahu kelemahan makhluk ini."
"Ayo bergerak. Kita harus ke gedung itu. Aku tidak ingin terhambat oleh makhluk seperti mereka lagi." Kata Shouri.
"Shit! Kita harus jalan kaki." Keluh Bokuto.
.
[First Team : Kuroo Tetsurou, Haiba Lev, Yuuki Kousei, Kosaka Ryoutaro]
"Oy, oy! Rasanya aku sudah membunuh ratusan zombie, kenapa mereka masih terus berdatangan?" Lev terus menembak dengan AK-47.
"Kalau kita terlalu lama disini, kita akan kehabisan seluruh persediaan amunisi." Kata Kousei.
Kosaka terhenti sesaat saat terdengar gemuruh aneh dari arah baratnya. "Kapten!" teriaknya. Membuat Kuroo menoleh. Beberapa zombie tampak terlempar. Sesosok makhluk besar menerobos lautan zombie. Makhluk itu berukuran 3 meter, berjalan menggunakan 4 kaki, mulut yang menganga sangat lebar dengan gigi-gigi tajam dan lidah panjang yang menjulur berwarna biru, makhluk itu juga memiliki ekor.
"Tiliqua." Desis Kuroo.
"Cih, ini benar-benar merepotkan." Kata Kousei. "Makhluk itu... beracun, bukan?"
"Yeah, liurnya." Kata Kuroo sambil mempointkan pada beberapa zombie yang meleleh.
"Huaa, menjijikan." Kata Lev.
Kuroo menghela napas. Dilemparnya Remington yang pelurunya sudah habis. Kuroo menarik pedang—katana yang selalu ada dipunggungnya setiap misi. "Kalian urus zombi-zombi itu. Buat jalan keluar dari makhluk-makhluk ini kalau bisa. Aku akan menghadapi kadal raksasa ini." Putusnya.
"Kapten, kau yakin menghadapi Tiliqua sendirian?" tanya Kosaka.
"Bunuh saja para zombie itu dan buat jalan keluar!" serunya lalu berlari.
Tiliqua berlari lurus kearah Kuroo kemudia menyerang. Kuroo melompat menghindar, mencoba menebas salah satu kaki Tiliqua namun gagal. Tiliqua menjulurkan lidahnya, menyerang. Kuroo dengan cepat menghindar. Air liur Tiliqua terciprat ke segala arah.
"Ini tidak ada habisnya." Kata Kousei.
"Bagaimana cara membuat jalan dengan zombie sebanyak ini?" Kosaka melompat keatas mobil dan mengambil AIG Alpine.
"Hey, hey, kau bukan Akaashi, berhati-hatilah menggunakannya." Kata Kousei.
Kosaka mendengus. "Aku tidak ingin mendengarnya darimu." Katanya sambil menembak.
"Hey, ayo gunakan bom!" seru Lev.
"Tapi tetap saja kita harus membantu kapten untuk mengalahkan Tiliqua, kan? kita tak mungkin pergi tanpanya." Seru Kosaka sambil tetap fokus.
"Kau benar." Kata Kousei. "Tapi sebenernya... kita tidak perlu mengalahkan Tiliqua itu, kan?" lanjutnya sambil menyerang lima zombie didekatnya menggunakan Jagdcomando.
"Hee... gunakan taktik serang dan lari." Kosaka tertawa.
.
.
.
To be continued...
