Viridian milik Sakura berpendar pada sosok ketiga lelaki di dekatnya. Semua tersenyum untuknya—menyemangatinya. Selama ini, ia tidak menyadarinya. Menyadari bahwa ketiga orang itu selalu ada untuknya; siap menopang bebannya jikalau ia tak kuasa memikul semuanya sendirian.
"Sakura-chan, aku akan selalu melindungimu ttebayo!"
"Hn,"
"Lihat? Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Sakura."
Gadis Haruno itu segera menutupi wajahnya dengan telapak tangan, tidak ingin ketiga laki-laki di depannya mengetahui ia menangis. Ia ... sungguh merasa bersalah selama ini tidak mempercayai mereka.
"Arigatou..."
"Baiklah, kita berangkat sekarang ttebayo!"
Mereka berempat berlari, menembus lebatnya hutan tanpa rasa gentar. Tidak ada yang mereka takuti. Karena mereka bersama. Ya, tim tujuh tidak akan pernah terkalahkan jika mereka bersama. Bukan begitu, Sakura?
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
I Will Save You
A Naruto FanFiction by MiMeNyan (Iwahashi Hani)
Sasuke—Sakura
.
Canon
Terinspirasi dari Naruto Movie 4
.
.
.
Sakura memperhatikan sekelilingnya dengan waspada. Sudah setengah hari ia menembus hutan bersama Kakashi-sensei, Naruto, dan Sasuke, namun belum satu pun musuh yang menampakkan diri. Ini konyol, batinnya. Menurut Tsunade, tentara musuh sedang berusaha menerobos pertahanan Negara Api. Tapi mana?
Hal yang sama juga mengusik pikiran Uchiha Sasuke. Semua ini terlalu aneh. Seharusnya, dengan jarak yang telah ia tempuh ini, sudah ada tentara musuh—minimal, korban yang terluka karena bertarung. Sebenarnya, apa yang terjadi?
"I—itu apa ttebayo?"
Pertanyaan Uzumaki Naruto serta merta membuat dua rekan tim dan gurunya berhenti berlari, kemudian mengikuti arah telunjuk lelaki pirang itu. Beberapa batu—lebih tepatnya patung berbentuk manusia sedang membungkuk, berusaha memakan habis jasad seorang shinobi yang tergeletak di atas tanah.
"Mereka hidup?" Sakura mengernyit heran. "Apa aku salah lihat? Mereka memakan ... manusia?"
Sasuke akhirnya mengerti. Satu-satunya alasan tidak ada satu pun korban di hutan ini adalah: mereka ditelan oleh makhluk aneh di depannya.
"Hantu ttebayo!" pekik Naruto. Sialnya, suara cempreng milik Jinchuuriki Kyuubi itu berhasil menarik perhatian beberapa patung baru yang tengah melintas. "Oh, tidak ... aku takut hantu! Aku tidak mau dimakan hantu jelek ttebayo!"
Kedua pengguna sharingan dalam kelompok itu segera mengaktifkan jurusnya; hendak meningkatkan kewaspadaan pada sekumpulan patung mengerikan tersebut. Baru saja Kakashi ingin buka suara, tapi salah satu patung mencabut sebuah pohon besar, kemudian melemparnya ke arah dirinya beserta ketiga muridnya—membuat pria Hatake itu menelan kembali niatnya untuk bicara.
BUM!—lemparan pohon tersebut menghantam tanah tempat tim tujuh tadi berdiri. Untungnya, keempat dari mereka berhasil menghindar tepat beberapa sekon sebelum pohon itu datang.
"Kalian curang ttebayo! Hampir saja aku kena!"
Kakashi kembali menutup sebelah matanya dengan hetai ate. "Hati-hati. Mereka dikendalikan musuh menggunakan chakra," jelasnya singkat.
Sakura dan Naruto mengangguk mengerti.
"Tidak hanya itu," kata Sasuke pelan, "sempertinya mereka tentara, pemakai tenaga batu yang akan kita hancurkan."
Satu mata Kakashi yang tidak ditutupi hetai ate menyipit; menandakan sang pemilik mata tengah tersenyum tatkala mendengar hasil analisa Sasuke. Muridnya yang satu itu memang jenius, pikirnya.
"Tentaranya ... batu? Bukan manusia?" Sakura bertanya pelan. Baru saja setengah hari menjalankan misi, sudah ada banyak hal aneh yang menampakkan diri. Apakah ini hari sialnya?
"Itu tidak perlu dipikirkan. Kita hanya harus menghabisi mereka ttebayo!" ujar Naruto tidak sabaran. Masalahnya, ia merasa bahwa ia-lah satu-satunya yang tidak mengerti ucapan Sasuke. Tentara? Batu? Aku sudah lupa penjelasan Sakura-chan ttebayo! "Kage bunshin no jutsu!"
Berpuluh-puluh bunshin Naruto muncul, nyaris memenuhi hutan di sekitarnya. "Ayo serang hantu itu ttebayo!" seru Naruto dan segera menyerang segerombolan patung batu yang berada beberapa meter di depannya. "Rasengan!"
"Ceroboh seperti biasa," keluh Sakura sembari melemaskan otot tangannya yang sudah berbalut sarung tangan hitam, "tapi semua sudah terlanjur! Shan—"
"Tetap di belakangku. Simpan chakramu untuk menghancurkan pusat kekacauan ini," kata Sasuke cepat sembari berdiri membelakangi Sakura.
Kunoichi merah muda itu menatap punggung Sasuke dalam diam. Punggung itu begitu dekat, sangat mudah untuk digapai. Kontras dengan masa lalu; di mana punggung berlapiskan kimono putih itu sangat jauh—sulit untuk sekedar melihatnya apalagi menyentuhnya. Sesaat, Sakura merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya—sesuatu yang pernah ia rasakan dahulu saat berada di dekat Sasuke.
Apakah ia jatuh cinta lagi pada Uchiha Sasuke?
Tangan pucat Sasuke bergerak pelan, menarik kusanagi yang terikat di pinggangnya. "Untuk kali ini, tolong percaya padaku—" Sasuke berjalan pelan menjauhi Sakura, "—aku akan melindungimu."
Sasuke mengalirkan chakra berbentuk petirnya pada kusanagi sebelum berlari menerjang beberapa patung yang masih dapat berdiri meski sudah terkena rasengan milik Naruto. Netra jelaganya melirik Jinchuuriki Kyuubi yang asyik sendiri menghajar setengah dari sekumpulan patung itu. Dobe sudah lumayan, pikirnya. Tapi aku yang paling hebat!
Kembali ditebasnya patung yang menghalangi hingga semuanya hancur—menjadi serpihan batu tak berbentuk dan layak untuk diinjak. Sayup-sayup, terdengar suara Naruto yang menyerukan, "Rasengan!" beberapa kali, kemudian bunyi bedebum kuat menyusulnya. Sepertinya, permainan ini akan segera berakhir.
Melihat kedua murid lelakinya menghabisi tentara musuh, nyatanya malah membuat Kakashi tersenyum tenang. Dengan begini, ia tidak harus menampilkan keahliannya kali ini. Sasuke dan Naruto saja sudah cukup untuk memusnahkan patung hidup di depannya.
"Sensei kenapa tidak membantu mereka?" tanya Sakura pada Kakashi tatkala menyadari sang guru masih setia berdiri di sampingnya.
"Aku menjagamu di sini," jawab Kakashi santai. Dikeluarkannya buku kecil bersampul oranye dari saku ninjanya. Icha icha paradise. Saatnya membaca kelanjutan dari cerita kesukaannya.
Sakura mendengus geli mendengar jawaban gurunya. Kalau dulu, ia pasti akan sangat berterima kasih jikalau ada yang bersedia menjaganya. Tapi sekarang? Rasanya lucu sekali ada yang berkata begitu.
Atensi Sakura berpindah dari Kakashi-sensei menuju kedua rekannya yang telah berhasil menghancurkan segerombolan patung jejadian—ia lebih suka memanggilnya seperti itu daripada tentara musuh. Tanpa sengaja, ia melihat senyuman tipis di bibir Sasuke. Senyum itu ... bolehkah ia berharap bahwa itu untuknya?
"Sakura-chan,aku berhasil mengalahkan mereka ttebayo!" Naruto berujar semangat sembari berpose keren; yang malah terlihat konyol di mata Sakura.
Sedetik kemudian, sebuah patung yang awalnya sudah hancur serta rata dengan tanah tiba-tiba kembali ke wujudnya. Pupil Sakura mengecil seketika saat melihat patung jejadian tersebut hendak memukul Naruto.
"Shannaro!"
Gadis Haruno tersebut melompat ke udara, kemudian memukul patung yang nyaris melukai Naruto menggunakan kepalan tangan berlapis chakranya.
Bum! Krek!
Retakan muncul di 'sasaran tinju' Sakura, dan tidak lama setelahnya sang patung kembali menjadi serpihan batu di atas tanah.
Naruto menelan ludahnya kaget. "A-aku kaget ttebayo. Kukira Sakura-chan akan memukulku..." katanya dengan wajah pucat. Ia tidak bisa—lebih tepatnya tidak mau—membayangkan kalau kepalanya yang menerima tinjuan Sakura. Mungkin kepalanya akan hancur saat itu juga. Menyeramkan.
"Ah, apa aku ketinggalan sesuatu?" tanya Kakashi yang sejak tadi sibuk membaca buku porno kesayangannya hingga tidak sadar nyawa Naruto dalam bahaya. Dasar guru tak bertanggung jawab.
Jemari Sasuke mengepal erat dengan mulut yang terkatup rapat karena melihat aksi Sakura tadi. Ia gagal menepati janjinya untuk tidak membiarkan Sakura membuang chakranya. Ini semua karena kecerobohannya yang tidak sadar kalau patung tadi bisa bangkit, sampai-sampai Sakura harus ikut andil melenyapkan lawan yang terbilang lemah.
'Aku ... tidak berguna.'
Tangan kurus Sakura menjitak Naruto gemas.
"Kau bisa mengalahkan banyak orang kuat, tapi kenapa kau tidak sadar kalau di belakangmu ada patung jejadian yang mau memukulmu, huh?" cerca Sakura tajam. Ayolah, kalau refleksnya tidak bagus, mungkin Naruto sudah terluka sekarang. "Kau membuatku takut tadi, Baka!"
"Maafkan aku ttebayo!" Naruto memohon ketakutan. "Lagi pula siapa yang akan mengira hantu itu bisa 'gentayangan' lagi? Iya 'kan, Teme?" Lelaki Uzumaki itu menyikut lelaki Uchiha di sampingnya, seolah memberi kode ayo-bela-aku.
Sayangnya, orang yang disikut masih tenggelam dalam kegalauannya dan tidak mengamini perkataan Naruto.
Poor Naruto!
"Sasuke-kun pasti sadar kalau patung jejadian itu bangun lagi! Tapi dia sengaja biar kau mati!" sahut Sakura dengan berapi, "seharusnya tadi kubiarkan saja patung itu membunuhmu—kalau perlu memakanmu—biar tidak ada lagi anak bodoh di tim tujuh~"
"Sakura-chan jahat sekali ttebayo!"
Guru pembimbing tim tersebut hanya bisa mengembuskan napasnya lelah mendengarkan ocehan kedua muridnya yang cerewet. Untung saja tidak semua muridnya cerewet; masih ada Uchiha Sasuke yang amat pendiam.
Ah, Sasuke! Sejak tadi anak itu sama sekali tidak bersuara.
Kakashi melirik murid kesayangannya tersebut. Pose dingin—lebih tepat disebut angkuh, ditemani mulut terkatup rapat serta mata yang tajam. Agaknya, Sasuke sedang memikirkan sesuatu. Yah ... menghabiskan waktu bersama Sasuke demi mengajarkan anak itu jurus baru, sedikit banyak membuat Kakashi mengerti makna gerak-gerik sang bungsu Uchiha.
Tidak mau ambil pusing terhadap kepentingan pribadi Sasuke, atensi Kakashi kembali berpaling pada pertengkaran Naruto dan Sakura.
"Yare-yare, kita sudah terlalu lama di sini. Ayo bergegas," ucap Kakashi santai. Tangan kanannya bertengger indah di kepala Naruto, kemudian mengacak surai kuning muridnya tersebut.
Sakura mengangguk singkat, mengiyakan. Sasuke masih bergeming di tempatnya, tidak memberikan respon apa pun atas ajakan Kakashi. Sedangkan Naruto menggerutu kesal karena rambutnya yang memang sudah berantakan jadi semakin kacau balau.
Ah, benar-benar tim yang penuh warna.
Tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi, keempat shinobi tersebut kembali berlari menembus hutan. Mereka tidak tahu, bahwa serpihan batu di atas tanah berlapis rerumputan yang tadi mereka pijak sedang kembali ke wujudnya; membentuk patung manusia tanpa cacat sedikit pun dan siap mencari makan.
.
.
.
Dari atas bukit di tengah hutan, dua orang laki-laki bersurai hitam dan merah sedang mengamati keempat shinobi Konoha yang baru saja kembali bergerak. Jubah hitam bercorak awan mereka bergoyang lembut mengikuti embusan angin.
"Patung yang menarik ya, Itachi?"
"Hn."
.
.
.
To Be Continued
Halo!
Setelah sekian lama, akhirnya Hani bisa lanjutin fic ini. Kenapa? Karena Hani harus UN tanggal 5 sampai 8 Mei. :') sebenernya Hani udah nyiapin beberapa chapter, tapi males ngeditnya. /ngik
Di chapter ini muncul dua anggota Akatsuki. Hani yakin semua pasti tahu siapa yang nemenin Itachi di sini. AwA
Oh iya, Hani mau minta maaf sama Narita Putri. Aku seneng banget loh, kamu udah review cerita ini. Tapi, di fanfic ini kayaknya sulit untuk bikin SasuSaku lovey dovey(?) :'D tapi nanti di ending Hani usahain manis deh(?) Ya semoga aja bisa. /digampar/
Terima kasih untuk kalian semua!
, Narita Putri, NururuFauziaa, Kumada Chiyu, Hanazono Yuri, Rizuka Risanti, Ifaharra sasusaku, Kara chiha, sofi asat, Febri Feven, Chichoru Octobaa, Haruno Aitakara, Mia Rinuza, Yu, Ahmad Syarif Hidayat, Hikari-chan, Eysha CherryBlossom, Uchiha Saara, Guest, Pinky Kyukyu, Sherlock Holmes.
Jika berkenan, silakan tinggalkan review. O3O
