Disclaimer: Cerita ini milik saya, semua karakter Inuyasha milik Rumiko Takahashi, saya hanya meminjam nama mereka. Saya tidak mengambil keuntungan materi dari penulisan cerita ini dan tulisan ini hanya sebagai hiburan semata.
Warn! Typo(s)‖ OOC ‖ AU ‖ diksi tidak tepat ‖ dll.
Notes! Penulisan cerita ini terinspirasi dari lagu "Love Story" milik Epik High feat. IU.
Malam itu, di bawah langit yang menangis kulihat sosok perempuan dengan kemeja yang basah, dengan susah payah ia mencoba untuk menghangatkan dirinya yang nyaris basah kuyup. Kulangkahkan kakiku menuju tempat gadis itu berdiri, sejujurnya aku ragu apakah ia akan menerima keberadaanku. Semua prasangka itu tertepis angin yang berembus malam itu, gadis itu menggigil kedinginan di hadapanku. Perbincangan yang cukup panjang tadi membuahkan hasil bahwa ia adalah adik tingkatku, kulepas jaketku saat kulihat ia menggigil kedinginan. Sebuah tawaran yang kuajukan saat itu langsung ia tanggapi dengan cepat dengan kalimat deklaratif. Sepertinya malam yang menangis itu adalah takdir atas pertemuan kita, saat itu, aku tak pernah mempunyai bayangan bahwa obrolan malam itu akan berlanjut lebih lama hingga melibatkan kobar perasaan kami. Hingga akhirnya aku tahu, bahwa malam itu menangis untuk kita, benang takdir kusut yang melilit kita berdua.
Perbedaan serta kemiripan yang miliki menyatukan segalanya, melebur dalam api bernama kasih sayang. Semua momen yang indah dan penuh kenangan itu kulalui bersamanya, semuanya adalah yang pertama bagiku. Baru pertama kali ini aku jatuh terlalu dalam pada sosok bernama Higurashi Kagome. Munafik jika aku tak mengakui bagaimana menarik fisiknya yag mungil itu seakan tarian yang terus menggodaku, setiap debar jantung yang terpacu lebih cepat seolah menjadi salah satu musik pengiring kami dalam berbagai momen. Aku masih mengingat kebodohanku malam itu, kukatakan diriku sakit—tapi itu memang benar, aku tidak berbohong akan itu. Kukatakan padanya bahwa aku tak bisa datang ke kafe yang sudah kami setujui untuk mengerjakan tugas kelompok, ketika ia tiba di apartemenku, peluh membasahi pelipisnya karena khawatir terhadap keadaanku.
Aku tak bisa lupa malam pertama kita, setelah disatukan oleh rasa suka. Tangan kikuknya yang mencoba untuk mencoba terampil kala membuka kemejaku. Pagutan bibir yang awalnya terasa tak lebih dari sekedar bibir yang saling menempel itu pun berubah menjadi sebuah penuntutan terhadap nafsu yang mengatasnamakan cinta.
Saat wanita yang kusayangi setelah ibuku itu bercerita tentang keluarganya malam itu, membuatku ingin memberi separuh hatiku untuk hidup bersamanya, mengikat janji bahwa kami akan hidup dalam waktu yang lama—menua bersama dengan menyesap teh hangat di sore hari sambil melihat anak cucu kita tumbuh. Kuikat ia dengan sebuah janji, bahwa aku akan mempertanggungjawabkan apa yang telah kulakukan padanya. Kala hujan menyapa, kau menggunakan tubuhku sebagai atap untuk melindungimu dari tangisan langit.
Aku masih mengingatnya dengan jelas semua tentangmu, rasanya tak pernah cukup untuk membahas wanita yang berhasil merebut hatiku itu. Semuanya baik-baik saja hingga akhirnya waktu yang membuatku takut untuk berpisah dengannya tiba, aku tak bisa menolak kehendak ayahku yang harus kembali ke Washington dan melanjutkan studi di sana. Hubunganku dengan Kagome berubah seperti duri yang siap menusukmu kapan saja tanpa meminta persetujuan darimu. Kisah cinta jarak jauh yang kujalani bersamanya lambat laun membuatku khawatir setelah semua surat elektronik yang selalu kukirimkan padanya setiap hari tak kunjung ada jawab darinya, kuputuskan untuk melakukan panggilan internasional.
Kau tahu betapa senangnya diriku saat wanita itu mengangkat panggilanku? Semuanya tak dapat kau rangkum dengan kata-kata untuk membentuk kalimat dalam satu paragraf. Belum sempat kudengar suaranya, kudengar suara wanita yang lebih tua darinya yang kupikir itu ibunya, menyahut dengan keras.
"Siapa namanya?"
"Taishō Nakashimaru," sahut Kagome melemah.
"APA?!" pekik wanita itu refleks setelah mendengar jawaban dari Kagome.
"Aku tak membutuhkan persetujuan dari Sesshōmaru atas itu!"
Aku tidak bisa bernapas setelah mendengar apa yang Kagome lontarkan dengan nyaring dalam telpon, udara yang kuhirup seperti menusukku dengan kejam dan tanpa ampun. Duniaku rasanya runtuh hanya dalam sekejap dan panggilan itu kututup saat mereka baru menyadari bahwa aku melakukan panggilan internasional. Malam itu hujan mengguyur dengan derasnya, seperti awal pertemuanku dengannya, namun tetes-tetes hujan yang syarat akan rindu terasa memilukan, ia menyapaku ketika Kagome telah memutuskan melalui jalan yang berbeda denganku.
Aku ingat semuanya, saat bangun pagi tanpamu untuk pertama kalinya, aku berpura-pura bahwa aku baik-baik saja. Melakukan akting terbaik di hadapan ayahku, hingga akhirnya aku menyerah setelah bertahan dengan baik dari hadapannya. Kutumpahkan likuid yang susah payah kutahan selama ini di kamar mandi tanpa ampun.
Aku menghibur diri, mengatakan kesedihan ini hanyalah gerimis yang akan berlalu ketika musim semi datang. Meskipun aku terbangun dengan wajah basah kuyup, musim akan berganti dan menyongsong ke depan, tapi aku terus mondar-mandir menatap semua kenangan tentang kita. Kupikir, sudah waktunya untuk melupakanmu, tapi, kenangan dan perasaan ini semakin kuat. Saat aku mengingatnya, aku terkoyak dalam sekejap, hatiku hancur berkeping-keping. Aku tahu, semua itu hanyalah adegan klasik. Aku bersyukur, karena tangan indahmu, yang menciptakan dan menghancurkan banyak hal pernah ada dalam genggaman eratku. Kurajut kisah asmaraku dengan benang baru dengan gadis berdarah Tokyo-Kanada bernama Nana, tak ada yang spesial sejujurnya, tapi dia cukup untuk mengingatkanku pada Kagome—wanita yang akan slalu menempati urutan pertama dalam kisah asmaraku. Jika kau bertanya, apakah aku melupakannya? Tidak! Aku tak pernah melupakannya untuk tidak memikirkannya bahkan sedetik pun. Nana adalah sosok yang benar-benar mirip dengan Kagome, bersamanya seolah membuatku berpikir bahwa aku akan bersama dengan Kagome dalam waktu yang lama. Aku tahu, aku salah menempatkan Nana sebagai pengganti Kagome yang akan membuatku semakin sukar melupakan gadis itu, dengan lapang dada Nana mengatakan padaku bahwa ia yang mempunyai rasa padaku, biar ia yang mengatasi rasa itu, ia tak memintaku untuk membalasnya.
Kepulanganku ke Tokyo kali ini adalah untuk menyelenggarakan pesta pertunanganku dengan Nana, sejujurnya aku dan Nana berpikir untuk melakukannya di Washington saja, namun keluarga Nana meminta untuk diselenggarakan di Tokyo. Kita tak memiliki pilihan lain bukan? Susah payah aku untuk tidak menghubungi Kagome setelah nyaris enam tahun tak bertemu dengannya, tapi benteng pertahananku runtuh begitu saja kala melihatnya sedang merangkai bunga untuk salah satu pelanggan. Awalnya terasa kikuk setelah enam tahun tak bertemu, tapi hanya butuh waktu singkat bagi kami untuk menyuarakan senandung rindu yang sudah susah payah kami tahan.
Kebahagiaan yang baru kami teguk dalam waktu singkat itu sirna, tergantikan oleh rusaknya kepercayaan yang susah payah kami bangun. Kepercayaan ibarat sebuah gelas, ketika kau merusaknya itu sama saja kau menjatuhkan gelas itu ke lantai, ketika sudah hancur ia tak akan kembali ke bentuk semula. Bahkan jika kau selotip sekalipun, kepercayaan itu tak akan sama dengan semula. Takdir sepertinya senang bermain-main denganku dan juga Kagome. Ketika rindu yang sudah terpaut tak bisa lagi dilepaskan, Kagome melihat adegan yang tak seharusnya ia lihat siang itu. Dengan tatapan seolah akan membunuh, di bawah guyuran bunga salju malam itu, kudengar dengan jelas sumpah serapahnya untukku.
Takdirku dengannya dipenuhi oleh deraian langit, dari pertemuan pertamaku dengannya yang terasa seperti takdir. Terakhir, kita berbalik dan saling menganggap kesialan. Kita adalah bayangan cermin, bahkan sampai kita memalingkan pandangan kita. Kita dulu seperti magnet, karena saat salah satunya berpaling, kita berpisah. Sejak saat itu aku tak pernah bertemu dengannya lagi, setelah pertunanganku dengan Nana, kami memutuskan untuk menetap di Tokyo.
Di musim dingin yang sama, aku yakin kehadiranku akan merusak kehidupan yang susah payah untuk ia perbaiki dari awal. Bunga mawar yang seharusnya berbunga indah itu nyatanya menumpahkan darah dari kedua pihak. Aku hadir lagi ke dalam kehidupannya dengan membawa awan hitam pekat di musim dingin, menggenggam segulung perasaan yang tercetak pada selembar kertas undangan pernikahan.
Aku sadar bahwa akulah yang merusak Kagome, aku si bajingan yang merusak masa depannya demi nafsu yang membelenggu kami dengan belaian cinta sesaat. Kebodohanku saat itu tak pernah memikirkan jauh ke depan, apa akibat dari apa yang kulakukan terhadapnya. Aku si brengsek yang dengan mudah menggoyahkan kukuhnya pendirian wanita Higurashi itu hanya dengan perlakuan spesial yang kuberikan padanya—membalik tubuh mungil itu dan membawanya ke dalam dekap hangatku. Pertautan bibir terjadi dengan syarat akan cinta yang tak pernah berlabuh itu tak mengizinkan sedikit pun celah ruang tersisa, di sela-sela pagutan lembut penuh kristal bening yang tak berhenti untuk menuruni pipi, ia bertanya kabarku, kujawab bahwa aku baik-baik saja dan saat itulah jantungnya berpacu lebih cepat, air matanya kembali mengalir—bersyukur bahwa aku baik-baik saja.
Kagome sudah bersumpah bahwa ia tidak akan pernah menangis karenaku, tapi nyatanya ia mengingkari sumpahnya saat aku kembali hadir dengan terus menyesap aroma wanita itu melalui rongga mulutnya tanpa ampun. Aku tak punya apa-apa dan tak ada yang istimewa dariku. Tapi, dalam kisah cinta yang menyedihkan ini aku adalah tokoh utamanya. Tapi, terima kasih untukmu, Kagome, atas luka yang kau berikan, untuk luka yang tertinggal, dan perpisahan yang kau berikan, serta rasa takut yang kau berikan.
Kisah cinta yang hanya spesial bagiku, terasa begitu klise, kan? Tak ada yang bisa aku berikan untuk sosok yang aku sayangi seumur hidupku, selain kepedihan. Kita dulu seperti magnet, karena saat salah satunya berpaling, kita tidak saling mengenal.
Nuraniku terketuk dan rinduku pada Kagome terkoyak hebat begitu saja ketika suara bocah laki-laki melengking itu berseru dengan lantang pada Kagome, "Apakah itu ayah?"
—TO BE CONTINUED—
