Sebetulnya, ada banyak sekali orang yang ingin memiliki teman kembar. Namun jarang di antara mereka yang dapat menjadi teman akrab si kembar. Butuh waktu lama untuk si kembar dapat memercayai seseorang.

Nah, sekarang, bagaimana cara Yuuma dan Yukiko memercayai orang lain yang menjadi teman baru mereka?

.

.

.

Assassination Classroom © Matsui Yuusei

TWIN! © shichigatsudesu

Chapter 3 : Teman Baru

.

.

.

Satu minggu sudah Yuuma dan Yukiko menuntut ilmu di SMA Kunugigaoka. Selama itu, seantero sekolah sudah mengenal si kembar beserta pengasuh mereka, Karma. Hal itu karena Tuhan memberikan mereka wajah tampan dan cantik yang (menurut kebanyakan orang) melebihi batas normal. Karenanya, tak aneh jika selama satu minggu itu, tiga sekawan itu sudah memiliki fans club dengan anggota yang terbilang banyak.

Meski begitu, Yuuma, Yukiko dan Karma belum menemukan teman baru.

Bukan berarti mereka sama sekali tidak bersosialisasi atau bagaimana. Entah ini karena kelebihan mereka di wajah, yang jelas si kembar dan si pengasuh (lagi?) merasa kalau orang lain begitu segan pada mereka bertiga.

Hal ini membuat ketiganya merasa sedikit terasingkan di kelas.

Teman sih ada, menyenangkan iya, namun tidak akrab seperti kebanyakan orang. Datang menghampiri saat sedang butuh. Kalau mengobrol paling hanya pertanyaan-pertanyaan umum saja yang diajukan. Sisanya biasa saja. Penjelasan singkatnya kira-kira seperti itu.

"Nih, teh apelnya."

Karma menyerahkan sebotol teh berperisa apel pada Yukiko yang sejak lima menit lalu menjaga tempat serta bekal milik Karma dan Yuuma. Yukiko menyambutnya dengan senang hati, karena salah sendiri telah meninggalkan botol minum cantiknya di dalam kamar.

Setelah mengucapkan terima kasih, si gadis segera melahap bekalnya. Tak lupa ia mengatupkan kedua tangannya untuk memanjatkan doa. Begitu juga dengan Karma dan Yuuma yang langsung tarik kursi lalu melakukan hal yang sama seperti Yukiko.

"Ehem." Karma berdehem kencang—sengaja. "Kamu memang duduk di sini, Yukiko-chan?"

Yukiko mengangguk. "Iya, kenapa emang?"

"Nah, trus ngapain mereka ada disini?"

Sakakibara Ren dan Asano Gakushuu gelagapan sendiri ketika si surai merah menunjuk keduanya. Yaah, ketangkap basah deh!

"Lah, emang kenapa? Aku anak kelas sini, lho." Ucap Ren. "Suka-suka aku dong, mau makan dimana."

Yuuma, Karma dan Yukiko hanya saling melempar tatapan 'terserah lah'.

"Trus, aku juga kan mau makan sambil ngeliat Yukiko-chwaan-ku yang cantik ini." Kemudian Ren berkedip genit.

Kalau Yukiko membawa satu pasang sumpit lagi, ia tidak akan ragu untuk menusuk bola mata Ren dengan benda itu.

Yuuma, Yukiko, dan Karma belum memiliki teman baru. Bukan berarti mereka sama sekali tidak bersosialisasi atau bagaimana. Entah ini karena kelebihan mereka di wajah, yang jelas si kembar dan si pengasuh merasa kalau orang lain begitu segan pada mereka bertiga.

Kecuali dua orang sinting ini.

"Asano, ngapain kamu ngeliatin aku terus?" Tanya Yuuma risih.

Asano yang ketahuan segera mengerjapkan matanya, kemudian mencari objek untuk mengalihkan pandang.

"Gak usah kepedean. Aku gak ngeliatin kamu."

Wajah Gakushuu sedikit merona.

Bohong banget, sambung Karma. Jelas-jelas manik violetnya itu menatap si bungsu Isogai. Kalau anak itu jujur, pasti wajahnya pun biasa saja, bukan merona merah tipis seperti itu. Memangnya Karma tidak sadar apa?

Satu minggu sudah Yuuma, Yukiko, dan Karma menuntut ilmu di SMA Kunugigaoka. Satu minggu juga, Ren dan Gakushuu telah menjadi stalker si kembar Isogai.

.

.

.

Yuuma, Karma, dan Yukiko ragu untuk menyebut Ren dan Gakushuu sebagai 'teman baru'.

Memang sih, kedua orang itu mendekati mereka bukan karena butuh, atau istilah lainnya 'memanfaatkan' apa yang si kembar dan Karma miliki. Mereka benar-benar murni ingin berteman.

Tapi sikap mereka itu lho, yang membuat risih setiap saat. Seolah Yuuma dan Yukiko merupakan kekasih dari Gakushuu dan Ren. Ini sih terlalu berlebihan. Ren yang tiba-tiba merangkul pinggang Yukiko seperti biasa, atau Gakushuu yang tidak bisa menahan diri untuk tidak mencubit pipi Yuuma, membuat Karma terkadang harus turun tangan. Benarnya mereka tidak masalah jika memiliki teman yang (bisa dibilang) gila, tapi gak banget kayak mereka berdua juga kali...

"Trus kita harus apa?" Tanya Ren. "Kamu gak mau temenan sama aku?"

"Gak. Mau." Tolak Yukiko.

Ren menatap Yukiko dengan penuh rasa kecewa. "Laah, kok gitu? Memangnya kamu gak mau punya temen ganteng kayak aku?"

"Karma-kun sama Yuuma jauh lebih ganteng dari kamu!"

Yukiko mengibaskan rambut hitam yang panjangnya sepunggung, cukup untuk membuat si surai nyentrik gatal ingin membelai kepala si gadis. Kemudian ia kembali melipat kedua tangannya di depan dada.

"Orang ganteng tapi playboy nyebelin kayak kamu mah ke laut aja, Sakakibara."

DOR!

Sakakibara Ren, kelas 1-C, sukses dibuat potek oleh si sulung Isogai. Hatinya seperti ditembak anak panah sebanyak ratusan. Makanya ia tengah menangis buaya sekarang.

"Asano-kun, lakukan sesuatu." Rengeknya sembari menarik-narik lengan blazer si pirang stroberi.

Mendengar itu, Asano Gakushuu segera memikirkan cara agar Isogai (Yuuma, khususnya) mau menerima mereka berdua sebagai teman.

"Kamu beneran gak mau temenan sama kita, Isogai Yuuma?"

"Yaa, kalau kalian kayak gini sih kita males." Jawab Yuuma.

"Kok gitu? Memangnya kita salah apa?"

"Pikir aja sendiri, kalian kalau sama kita kayak gimana."

Gakushuu diam. Sesuai kalimat Yuuma, ia memikirkan apa saja yang biasa mereka berdua lakukan ketika berada di dekat dua Isogai. Tidak butuh waktu lama untuk Gakushuu segera mengetahui jawaban dari perintah di atas.

"Kamu beneran gak mau temenan sama kita, nih?"

Yuuma mengangguk. "Hm. Aku gak mau kejadian waktu SMP keulang lagi."

"Kamu yakin?"

"Iya, yakin."

"Bener, nih?"

"Beneran." Yuuma sudah mulai kesal.

"Hmm, yakin?"

Yuuma merinding ketika mendengar suara Gakushuu yang semakin lama semakin lembut nan menggoda.

"K-Kamu lagi godain aku ya?!" Yuuma merona hebat, malu dan kesal juga.

"Oh, ayolah, kita mau temenan sama kalian. Kalian gak mau terima niat baik kita?" Ren yang tidak sabar segera mengguncang tubuh Yuuma. Sudah dari satu minggu lalu mereka minta berteman, namun si kembar Isogai tidak mengonfirmasi.

"Bukan begitu." Jawab Yuuma sambil berusaha menghentikan si surai nyentrik yang masih menggoyang-goyangkan badannya. "Kita cuma masih trauma sama kejadian waktu SMP. Kita gak ada maksud buat nolak kalian, kok."

"Kalau gitu kenapa kalian gak mau nerima kita?" Tanya Ren lagi.

"Soalnya—"

DRRTTT...

Sebuah getaran singkat menghentikan kalimat Yuuma. Ia segera merogoh smartphone-nya dari saku celana. Ada satu pesan masuk, dan itu dari Karma. Buru-buru ia membuka pesan tersebut, berharap si surai merah sudah selesai dengan urusannya.

Yukiko yang penasaran segera memiringkan kepalanya, ikut membaca huruf per huruf yang terpampang di ponsel sang adik. Gakushuu dan Ren? Mereka diam saja.

Yuuma, urusanku belum selesai. Kamu pulang duluan sama Yukiko, ya? Kayaknya aku masih agak lama di sini. Kalian hati-hati di jalan, ya?

Wah, Karma perhatian banget.

"Loh, memang Karma-kun ada dimana?" Tanya Yukiko.

"Ruang guru." Jawab Yuuma. Perasaan khawatir menyerangnya kemudian. "Mudah-mudahan Karma baik-baik aja."

Gakushuu dan Ren yang kepo hanya bisa melongo melihat si kembar yang mulai siap-siap melangkah pergi meninggalkan mereka. Buru-buru keduanya menghadang Yuuma dan Yukiko.

"Jadi, gimana?"

Yuuma dan Yukiko menatap Ren dan Gakushuu, sedangkan yang ditatap memasang wajah melas mereka yang, jujur saja menjijikan, tapi sekaligus gak tega juga.

"Kalian mau nerima kita, kan?"

Setetes keringat meluncur dari pelipis si kembar.

Loh, kok kayak pernyataan cinta, ya?

"Baik, baik. Kita mau temenan sama kalian berdua." Jawab Yuuma akhirnya, yang langsung dihadiahi wajah terang benderang dari Gakushuu dan Ren.

"Tapi maaf ya, kita gak pulang bareng dulu."

Seketika wajah mereka kembali redup, seperti lampu senter habis baterai.

"Kok, kok gitu sih, Yukiko-chwaan?"

"H-Habisnya kita mau mampir ke toko dulu. Kita gak mau bikin kalian nunggu." Jawab Yukiko. "Kita juga pengen minta setuju dari Karma-kun."

"Memangnya si Akabane itu ibu kalian?!" Gakushuu menghembuskan napas pasrah. Manik matanya kembali menatap Yuuma dan Yukiko di hadapannya. "Tapi kalau kalian maunya begitu yaudah. Masih ada hari esok buat pulang bareng. Iya kan, Yuuma—"

PLAK!

"Gak usah cubit-cubit aku, Asano." Yuuma menepis tangan Gakushuu yang mencubit pipi kenyalnya seenak jidat. "Trus panggil aku Isogai, bukan Yuuma."

Gakushuu menelan ludah. Perasaannya saja atau tadi Yuuma memang menyeramkan?

"A-Ah, iya, I-Isogai."

"Yaudah, kalau gitu kita pergi dulu ya?"

Yukiko dan Yuuma melambaikan tangan mereka, meninggalkan Gakushuu dan Ren yang sedang asik nangis buaya.

"Yukiko-chwaaann~"

.

.

.

"Yuuma, kamu yakin?"

Yuuma menolehkan kepalanya ke samping kiri, menatap Yukiko yang barusan melayangkan pertanyaan.

"Apanya?"

"Itu, barusan bilang setuju kalau mereka jadi teman kita."

Yuuma tak langsung menjawab pertanyaan sang kakak. Ia memasukkan telapak tangannya pada saku celana, menatap trotoar yang membentang di depan sana.

"Gimana, ya? Aku sebenernya masih belum yakin. Aku juga khawatir mereka baik ada maksudnya—siapa yang tau." Jeda sejenak. "Tapi, ngeliat mereka yang udah kayak stalker selama seminggu, aku percaya kalau Asano sama Sakakibara itu orang baik."

Yukiko menatap Yuuma yang masih memerhatikan jalan. Awalnya si gadis Isogai ingin meloloskan seulas senyum setelah mendengar kalimat sang adik barusan. Belum juga tersenyum, Yukiko langsung mengurungkan niatnya.

"Yaa, mereka baik, kalau aja Asano gak suka pegang-pegang atau cubitin aku."

Yukiko sweatdrop melihat Yuuma yang mengepalkan tangannya kesal. Yaa, Yukiko mengerti perasaan Yuuma, karena ia juga merasakan hal yang sama seperti si adik.

Tapi...

"Yaa, kamu memang sial ya, Yuuma." Ucap Yukiko sambil terkekeh kecil. "Setelah kalah taruhan surat cinta waktu SMP, sekarang ditaksir sama cowok ganteng yang arahnya belok. Berarti masih mending aku, ya?"

Yuuma mengepalkan tangannya semakin erat. Sepertinya sang kakak mulai mencari perkara lagi. Minta dilempar batu kayaknya.

"Kakak ngajak berantem, ya?"

Kemudian terdengar suara rintihan dari Yukiko setelah rambut panjang hitamnya ditarik perlahan oleh Yuuma. Senyum jahil si bungsu Isogai membuat Yukiko tak sabar ingin meninjunya.

"Ngomong sekali lagi, Kak. Biar aku lepasin rambut ini dari kepala kakak."

Dengan segera Yukiko melayangkan satu buah cubitan ke pinggang Yuuma. Kecil sih, tapi sakitnya itu gak abis-abis bahkan sampai tujuh turunan. Yaa, pokoknya sakit banget deh.

"Adek gak boleh kayak gitu, nanti aku tuntut ke polisi, lho..."

Kalau mereka sudah menggunakan panggilan kakak-adik, maka Kunugigaoka sebentar lagi akan hancur karena ada perang mendadak bak tahu bulat.

Ngomong-ngomong, yang nuntut ke polisi gak kebalik, tuh?

"Makanya jangan mulai ngumpan buat berantem. Gak ngaca kalau kita lagi ada di jalan?"

"Siapa suruh kamu jambak aku duluan?!"

"Siapa suruh ngatain aku sial?!"

"Lah, emang itu kenyataannya, ka—AKH!"

Seseorang menabrak Yukiko dengan keras, membuat si gadis harus tersungkur ke tembok trotoar. Beruntung Yuuma segera menangkapnya, sehingga Yukiko baik-baik saja.

"Yuuma, tas aku diambil!"

Yukiko mulai panik. Yuuma segera sadar dan bersiap mengejar seseorang yang baru saja mencopet tas Yukiko.

"Tunggu di sini."

Yuuma langsung meloloskan langkah seribu setelah menyelempangkan tasnya pada Yukiko. Ia mengeluarkan seluruh tenaga yang ia punya agar bisa segera menyusul si pencopet yang agak tertatih dalam berlari.

Nah, untungnya di situ. Entah apa yang menyebabkan si pencopet agak kesulitan dalam berlari, Yuuma bersyukur dalam hati. Sehingga pemuda Isogai itu mudah mengejarnya, bahkan jarak mereka sudah semakin dekat.

Tapi...

BRUK!

Si pencopet jatuh tersungkur ke tanah secara tiba-tiba, membuat Yuuma mengerjapkan matanya bingung. Apa yang membuat orang itu terjatuh? Lucu sekali kalau ia tersandung kakinya sendiri.

"Lu-Lucky—"

"Hajar, Asano-kun!"

Eh?

"AKH!"

Si pencopet menjerit histeris, lantaran sebuah benda entah-apa-itu berhasil menghantam kepalanya. Tak lama, si pencopet kembali menjerit dengan penyebab yang sama. Begitu saja terus sampai Yuuma masuk musim kawin.

...Mungkin.

"Hentikan, kumohon." Pinta si pencopet. Namun serangan benda entah-apa-itu masih saja menghantamnya. Mungkin telinga si pelempar benda sengaja dibuat tuli. "Aku tidak ingin babak belur."

"Tidak mau."

"AKH!"

Yuuma yang penasaran dengan sosok 'pahlawan' yang menolongnya segera menghampiri sebuah gang kecil di antara dua buah toko. Mungkin ia sudah tahu siapa orang itu, berhubung salah satunya menyebutkan nama seseorang yang baru saja menjadi teman barunya. Namun bisa saja itu orang lain, sehingga ia tidak akan percaya jika belum melihat secara langsung.

"Nice, Asano-kun."

"Cepat panggil polisi, bodoh."

"AKH!"

"Sebelum sampah-sampah ini abis karena dilemparin."

"AKH!"

Yuuma membelalakkan mata ketika melihat wajah dua pemuda yang berpakaian sama sepertinya. Ternyata dugaannya benar.

"Asano? Sakakibara?"

"Yo, Yuuma-kun." Sapa Ren sambil melambaikan tangannya. "Kamu gak apa-apa, kan?"

Yuuma mengangguk kaku. "Aku gak apa-apa."

"Berhenti, oi. Lu mau buat gua babak belur?!"

Yuuma dan Ren segera menatap si pencopet, dimana wajahnya sudah mulai membiru lantaran kena timpuk Gakushuu. Anak itu? Masih anteng aja melemparkan benda-benda yang ada di sekitarnya. Berasa seorang pitcher yang melemparkan bola bisbol ke si pemukul bola.

"Eh? Sori, Om. Aku keasikan."

"K-Kurang ajar!"

Gakushuu melempar lagi sebuah benda yang sukses menghantam wajah si pencopet. Kini kekuatan lemparnya lebih besar dibanding sebelumnya. Itulah mengapa si pencopet menjerit lebih keras lagi.

Yuuma yang sedari tadi diam segera mengambil tas Yukiko, dan membantu Gakushuu untuk melumpuhkan si pencopet. Sedangkan Ren langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi polisi. Tak lama, polisi yang mereka panggil langsung datang dan segera mengamankan si pencopet.

Setelah menatap kepergian si pencopet, Yuuma segera mengalihkan pandangannya pada Gakushuu dan Ren. Sebisa mungkin, ia memasang seulas senyum tulus untuk mereka berdua.

"Asano, Sakakibara,"

Yang dipanggil segera menolehkan kepala. Kemudian Yuuma sedikit membungkuk, membuat Ren dan Gakushuu merasa terkejut.

"Terima kasih banyak."

Ren dan Gakushuu saling tatap, bingung hendak memberikan respon apa pada Yuuma. Sedangkan si pemuda Isogai masih menatap mereka sambil tersenyum.

"A-Ah, s-sama-sama." Gakushuu mulai gugup. "K-Kami kebetulan ada di sini, jadi, yaa..."

"Tapi kalian bantuin aku. Makasih ya?"

Ren balas tersenyum, sedangkan Gakushuu memalingkan wajah.

Tahan, tahan. Gak boleh gugup, gak boleh merah, gak boleh nafsu. Tahan, tahan.

"Yuuma."

Sebuah suara menginterupsi, membuat Yuuma dan Ren yang tengah berbincang, serta Gakushuu yang komat-kamit tahan nafsu, menolehkan kepala pada seorang gadis bersurai hitam. Melihat Isogai Yukiko yang berlari kecil ke arah mereka, membuat Ren segera merentangkan tangan—memasang posisi ingin memeluk.

"Yukiko-chwaaan~"

Melihat Ren yang sudah siap memeluk, si sulung Isogai ikut merentangkan tangan.

"Yukiko-chwaa—"

"Yuuma~"

Ren mematung di tempat, masih merentangkan tangannya. Padahal sebelumnya ia merasa senang, ternyata...

Yukiko peluk Yuuma.

Ren menangis dalam hati.

"Yuuma, gak apa-apa, kan?" Yukiko meraba-raba tubuh Yuuma, memastikan kalau si adik baik-baik saja. "Syukurlah kamu baik-baik aja."

Yuuma terkekeh sejenak. Diam-diam ia prihatin dengan si surai nyentrik yang masih saja mematung.

"Yu-YUKIKO-CWAAANN..."

Ren menghampiri Yuuma dan Yukiko yang baru saja selesai berpelukan. Wajahnya benar-benar kusut, Ren ingin menangis.

"Eh? Sakakibara?" Yukiko terkejut. "Kok ada di sini?"

Ren makin-makin ingin menangis karena Yukiko tidak sadar akan keberadaannya dan Gakushuu. Saking ingin menangisnya, Ren sampai bingung mau jawab apa.

Gakushuu? Oh, ia masih mati-matian tahan nafsu.

"Itu... sebenernya, mereka berdua nolongin aku buat nangkep si pencopet." Jawab Yuuma. "Mereka yang udah bikin babak belur trus lapor ke polisi."

"Serius?!" Tanya Yukiko. "Kok bisa? Tadi kan kita pulang duluan?"

"Buat Yukiko-chwaaann apa sih yang nggak."

Yukiko menatap Ren dan Gakushuu bergiliran. Tak lama, manik madunya ganti menatap Yuuma.

"Beneran, mereka nolongin kita?"

Yuuma mengangguk. "Beneran."

Yukiko diam, kemudian kembali menatap dua pemuda di hadapannya. Dalam hati, ia merasakan sedikit rasa bersalah karena sering sekali mengerjai dan meragukan mereka. Sepertinya, Yukiko akan mulai memercayai mereka. Tentunya sebagai teman baru.

"Makasih ya, Asano-kun, Sakakibara-kun."

Yukiko meloloskan seulas senyum, persis seperti yang Yuuma lakukan. Dari mulai rasa tulus yang terpancar sampai manis-manisnya, pokoknya sama persis seperti sang adik.

"Sa-Sama-sama."

Sekarang gantian Ren yang tahan nafsu. Buktinya ia gugup begitu.

Habisnya, Yukiko manis banget tadi. Ren benar-benar gatal rasanya, ingin memeluk Yukiko saking gemasnya. Yuuma juga sama, makanya Gakushuu diam saja.

Senyum Yuuma dan Yukiko masih belum luntur. Sepertinya, si kembar Isogai mulai menaruh kepercayaan pada teman barunya, Gakushuu dan Ren.

.

.

.

TBC

A/N : Kok ceritanya jadi garing keripik kentang begini ya? *merenung*

Makasih buat semuanya yang review, fav, dan follow fic ini sampai sekarang. Akan selalu ditunggu kemunculan kalian di kotak review—eh, maksudnya di chapter selanjutnya.

Btw, selamat hari raya idul fitri, ya? Mohon maaf apabila saya punya salah :D

Dan ini ada sedikit THR buat kalian berupa omake (?). Sampai jumpa chapter depan :D

.

.

.

OMAKE

Suatu hari ketika si kembar Isogai, Karma, Gakushuu dan Ren makan siang bersama.

"Hei, Yuuma." Panggil Gakushuu. "Kenapa sih kamu—"

PLAK!

Yuuma menepis tangan Gakushuu—untuk kesekian kalinya. Sebuah perempatan kecil muncul di kepala pirang stroberinya. Gagal lagi deh, cubit pipi Yuuma-nya.

"Kenapa sih, kamu suka pukul tangan aku, Yuu—"

"I-SO-GA-I!"

"Ah, iya, iya, Isogai." Gakushuu buru-buru meralat nama Yuuma, sebelum si bungsu Isogai itu semakin seram. "Itu, aku mau nanya boleh ya?"

"Mau nanya apaan?"

Gakushuu meneguk air mineralnya terlebih dahulu sebelum melayangkan pertanyaan.

"Kok kamu punya pucuk di kepala kamu, tapi Isogai-san gak punya?"

Yuuma, Karma, dan Yukiko tersedak bekal mereka. "Pucuk?!"

"Iya, itu, rambut Yuu—maksudnya Isogai yang kayak daun teh itu."

Kini wajah ikemen Yuuma memerah. Yukiko dan Karma terkekeh dibuatnya.

"Kamu mau tau, Asano-kun?" Tanya Yukiko.

"Kalau gak mau tau aku gak bakal nanya kayak gitu."

Tiba-tiba seulas senyum terpancar di wajah cantik Yukiko. "Mau tau? Biar aku yang ceritain."

"Eh, jangan, Yukiko!"

Tangan Yuuma yang niatnya ingin ia gunakan untuk membekap mulut sang kakak segera di tahan oleh Karma. Melihat seringai jahil dari si surai merah, membuat Yuuma hanya bisa menghela napas pasrah.

Sedangkan Ren dan Gakushuu hanya menaruh atensi mereka pada si gadis surai hitam.

"Jadi, waktu kita masih ada di perut ibu, kita berantem dulu sebelum lahir." Jelas Yukiko. "Kita berantem buat nentuin siapa yang duluan lahir."

Gakushuu dan Ren manggut-manggut paham. "Terus?"

"Nah, awalnya yang mau keluar duluan itu Yuuma. Trus rambutnya aku tarik deh, jadi Yuuma gak jadi keluar. Dan yang keluar duluan jadinya aku." Sambungnya dengan rasa bangga. "Jadi deh, rambutnya Yuuma kayak gitu sampe sekarang. Itu aku yang buat kayak gitu."

Karma yang hanya mendengar langsung meledakkan tawanya, disusul Yukiko yang juga ikut meledak. Sedangkan Yuuma mati-matian menahan malu, sambil memegangi ahoge-nya yang mirip daun teh itu.

Di lain pihak, Gakushuu dan Ren hanya melongo memandang tiga sekawan itu. Keduanya gagal paham dengan cerita tersebut.

Apa yang lucu dari cerita itu?

.

.

.

OMAKE END