Title: So My Wife is A Guy?
Author: sunsehunee / seukkhy
Main Cast: Sehun, Luhan, Ziyu
Genre: Romance, family, comedy gagal, AU, Yaoi
Rating: T
Leght: chaptered
Summary:
Hidup Oh Sehun berubah drastis setelah menemukan seorang anak -kandungnya' di pintu rumahnya. Dan parahnya, ibu dari anak itu seorang namja!
WARNING: INI CERITA BL, KALAU GA SUKA PLIS JANGAN BACA. DAN TOLONG REVIEW THANKS
Note: Anak Luhan dan Sehun diganti jadi Ziyu ya ^^ Mohon maaf dengan kelabilan saya
Slight pairing juga akan bertambah seiring berjalannya cerita
happy reading
.
Chapter 2
.
.
Sebuah mobil sport merah terparkir sempurna di pekarangan rumah Kim. Sesosok tubuh tinggi tegap keluar dari mobil itu dengan tergesa.
Chanyeol segera melangkahkan kakinya masuk rumah dan menatap seluruh orang di ruangan tersebut, "Bagaimana bisa?!" Tanyanya dengan tatapan intimidasi pada Sehun.
Yang ditanya malah mengernyitkan dahinya pusing. Semenjak satu jam yang lalu Suho juga sudah menanyainya dengan pertanyaan yang sama secara berulang-ulang.
Bukan hanya dua hyung nya yang bingung dan shock. Dia juga sama, malah menurutnya dialah pihak yang paling menderita disini. Tak tahu apa-apa, tapi terus disalahkan. Menyedihkan.
"Hyung, bagaimana bisa?" Tanya Chanyeol lagi, tapi kali ini ia tujukan kepada Suho. Pria itu memijat pelipisnya pelan, tangan kanannya di tanggungkan pada tangan kirinya.
"Itu masalahnya, si idiot ini tidak mau bicara." Paparnya, Sehun langsung menatap tak setuju.
"Aku tidak idiot!" Protesnya, dia menatap sengit kedua hyungnya. Tidak, tidak ada yang boleh mengatainya serendah itu.
"Lalu apa? Kau pikir kelakuan mu menghamili seorang wanita itu bukanlah sebuah bentuk keidiotan?" Tanya Suho sinis, membuat nyalinya kembali ciut.
"T-tapi kan... Bisa saja bukan aku ayahnya?"
Kedua orang di ruangan itu menatapnya penasaran, penasaran dengan apa yang akan dia katakan selanjutnya.
"M-maksudku, bisa saja kan ini hanya orang iseng yang berniat memfitnahku?" Lirihnya, membuat kedua hyungnya saling berpandangan. Ucapan Sehun kali ini benar. Mereka tidak menyangkal fakta kalau Sehun itu populer, siapa yang tidak kenal Oh Sehun? Anak pemilik perusahaan Minyak terbesar ke-dua di Korea?
Dan dugaan anak itu dikirim oleh orang yang ingin menjatuhkan nama Sehun -atau lebih tepatnya keluarga OH- besar juga kemungkinannya.
"Lalu, bagaimana kalau benar?" Tanya Chanyeol memecah keheningan.
Sehun merengut, "Yah, jangan sampai dong hyung... Kau tahu kan kalau aku ini tidak berani menyentuh wanita."
Chanyeol mengangkat bahunya acuh, "Tapi siapa tahu? Hidup ini penuh kejutan Sehun."
Dan Suho tiba-tiba mengankat kepalanya dengan telunjuk yang ia jentikkan di udara. Membuat pertengkaran kecil kedua saudara itu terhenti. Mereka menatapnya penasaran.
"Aku ada ide," -ia menatap serius kedua adiknya- "-kau tahu, kita bisa melakukan tes DNA untuk lebih pastinya."
Dan kedua orang itu mengangguk setuju.
.
.
.
"Aku akan mengajak Ziyu mencari makan, kau tunggu di sini bersama Sehun." Kata Suho pada Chanyeol yang lalu diangguki paham, kemudian pemuda itu mengangkat anak manis itu ke dalam pangkuannya.
Chanyeol melangkahkan kakinya balik ke tempat Sehun tadi menunggu, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah sakit.
Drrttt
Tiba-tiba langkahnya terhenti oleh getaran ponselnya. Ia segera merogoh kantung celananya untuk mengambil benda persegi panjang itu. Chanyeol mengangkat sambungan itu sesaat setelah mengetahui siapa penelponnya.
"Hai Baek," Sapanya, kakinya kembali melangkah dengan santai.
"Hai Yeol, kau dimana?" Tanya pemuda manis itu di ujung sana. Chanyeol sedikit berpikir, "Um, rumah sakit."
Baekhyun memekik kaget, membuatnya agak menjauhkan ponselnya dari telinga. Kemudian ia bisa mendengar suara Baekhyun yang bertanya khawatir.
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir." Ucap Chanyeol meyakinkan, tapi Baekhyun tetap keras kepala. Jadi namja jangkung itu menghela nafas.
"Aku akan segera menemuimu setelah urusanku selesai, jadi berhenti khawatir." Setelah itu Chanyeol memutuskan sambungannya, ia tersenyum kecil. Ia merasa beruntung memiliki seorang malaikat bernama Byun Baekhyun sebagai kekasihnya. Meski keras kepala anak itu tetap menuruti apa perkataannya.
Ketika ia sampai di tempat tadi Sehun duduk ia melihat adiknya itu duduk dengan gelisah. Dengan perlahan Chanyeol mendekat dan duduk di sebelahnya.
"Jangan khawatir," ucapnya mencoba menenangkan Sehun. Yang lebih muda menegadahkan kepalanya menatap Chanyeol kemudian tersenyum tipis. Ya, ia harus mencoba tenang.
Tapi sekeras apapun ia mencoba untuk tenang, ia malah merasa semakin khawatir dan gugup. Padahal sebelumnya ia tidak pernah segugup ini, bahkan untuk tes beasiswa pun ia tidak gugup.
Rasanya tubuhnya tidak mau berhenti bergerak, pikirannya juga berkecamuk.
"Tenanglah Oh Sehun! Ini tidak akan seburuk yang kita pikirkan." Ucapan Chanyeol menyadarkannya.
"Seberapa yakin hyung?" Tanya Sehun datar, chanyeol memutar matanya ke atas -menerawang-.
"Aku... Sangat yakin." Jawabnya lugas, tapi kentara sekali ada sedikit keraguan di nada bicaranya. Sehun hanya tersenyum kecut lalu kembali menatap ubin rumah sakit.
Selama hampir 1,5 jam mereka duduk di situ, menunggu hasil tes DNA keluar. Sehun tidak banyak berpindah dari posisi menatapi lantai, sedangkan Chanyeol sejak 1 jam yang lalu sudah asyik memainkan gadgetnya.
Pikiran Sehun terus melayang, ia memikirkan segala kemungkinan terbaik dan terburuknya. Kemungkinan terbaik, ia bisa segera terlepas dari anak bernama Ziyu itu. Dan kemungkinan terburuknya adalah ia akan ditendang dari rumah atau paling tidak hanya kena amukan dari ayahnya.
"Tuan Oh Sehun."
Suara seorang suster menyadarkan lamunannya, dengan sigap ia berdiri menghampiri suster yang berdiri di depan ruangan lab itu.
"Ini hasilnya," ucapnya ramah sembari menyodorkan amplop putih, secepat mungkin Sehun membuka amplop itu dan membaca hasilnya.
Tn. Oh Sehun dan Tn. Ziyu
99% DNA Cocok
Mata Sehun membesar, ia menatap horor sederetan kalimat berwarna hijau itu sebelum berkata lirih, "Apa tidak salah? Kau yakin tidak meleset?" Tanya Sehun memastikan.
Suster itu mengernyitkan alisnya bingung, "Kami bisa menjamin hasil tes lab kami akurat."
"Tapi ini tidak mungkin!" Erangnya frustasi membuat suster itu berjengit terganggu, "Maaf tuan, saya permisi dulu." Kemudian sosok itu menghilang dibalik pintu bertuliskan 'Lab' itu.
Sehun membeku di posisinya, ia masih tidak percaya. Dibacanya kertas itu berulang-ulang, siapa tahu ia salah baca. Tapi sebanyak apapun ia baca ulang, tulisannya tetap sama. Anak itu benar anak kandungnya.
Ia merasa sebuah tepukan di bahunya, "Aku sudah bisa membaca lewat reaksimu Hun," Katanya, "Ini seperti dugaan kita." Lanjutnya.
Sehun menatapnya penuh harap.
"Aku harus bagaimana hyung?" Tanyanya setengah putus asa, Chanyeol melirik ke belakang sebelum mengangkat bahunya.
"Nikmati saja cerita barumu Sehun-ah." Bisiknya sebelum berlalu pergi. Ia mengangkat tangannya sampai sebelah telinga.
"Aku pergi dulu hyung, Baekkie ku sudah menunggu." Pamitnya lalu berjalan menjauh dari tempat itu.
Sepeninggal Chanyeol, di sana hanya tersisa tiga orang. Namja yang baru datang itu lantas menatap Sehun yang membelakanginya.
"Katakan padaku, berita baik atau berita buruk?" Tanyanya, tapi belum sempat Sehun menjawab ia langsung melanjutkan, "Ku harap ini berita baik kalau tidak aku akan membunuhmu."
Glek
Jakun Sehun naik turun saat ia menelan ludahnya yang entah sejak kapan terasa sangat sulit. Ia menghela nafas lalu membuka mulutnya.
"Sayangnya ini berita buruk, hyung." Kepalanya makin menunduk setelah mengatakan hal itu. Tanpa membalikkan tubuhnya pun ia sudah tahu Suho sudah ambil ancang-ancang untuk menyambit kepalanya.
"Kita pulang," Katanya, Sehun mengangkat kepalanya tak percaya.
"Neraka sesungguhnya berada di rumah."
Dan Sehun pun kembali menciut.
.
.
.
Satu di antara 3 hal yang paling Sehun takuti hadir sekarang, ia melihat Suho dengan mata yang berkilat-kilat penuh amarah menatapnya tajam dari kursi kerjanya.
Sejak pulang tadi Sehun sudah diperintahkannya untuk duduk diam di ruang kerja Suho. Tapi Suho baru masuk ke dalam situ setelah berhasil menidurkan Ziyu terlebih dahulu.
"Kau tahu di mana letak kesalahanmu Sehun?" Tanya Suho ketus, ia menatap Sehun tanpa ekspresi. Sehun yang menunduk menganggukan kepalanya pelan.
"Ne, hyung." Jawabnya pelan, nyaris berbisik.
"Lalu kenapa kau melakukannya?!" Gertak Suho, namja di hadapannya mencengram erat ujung bajunya.
"A-aku juga tidak tahu hyung, itu...tidak sengaja."
Suho menatap remeh Sehun, "Tidak sengaja? Lalu anak sebesar itu bisa kau sebut sebagai ketidak sengajaan?"
Sehun menahan nafasnya, demi Tuhan ia ingin menangis sekarang juga. Ia benar-benar takut.
"T-tapi hyung..."
"Siapa wanita yang kau hamili?" Seolah menulikan panggilan Sehun, Suho malah lanjut bertanya. Masih dengan nada dan tatapan yang sama.
"Tidak tahu..." Sadar tak sadar ia menjawab sambil menahan nafas, dan ia pun tahu apa yang akan terjadi selanjutnya-
PLAKK
-Suho menamparnya.
Dengan tamparan super kuat, membuatnya terjatuh dari kursi dan tersungkur ke lantai. Juga bonus sudut bibir yang berdarah.
"Tampar lagi hyung." Lirihnya, air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuhnya.
Suho, namja itu tidak mengindahkan ucapan Sehun. Ia malah sibuk mengatur nafasnya yang memburu karena emosi, ia menutup kedua matanya lalu menghela nafas berat.
"Kau tahu, kau tidak akan bisa sadar jika dengan kekerasan." Katanya, nadanya mulai tenang dan melembut.
"Hyung hanya ingin kau menyadari kesalahanmu, dan... Bertanggung jawab." Tambahnya, ia menatap iba Sehun yang masih bergeming.
"Kuharap besok kau sudah menyadari kesalahanmu."
Suho hendak membuka pintu ruangan itu, ia sebenarnya berharap Sehun akan mengatakan sesuatu yang membuatnya lega atau semacamnya. Tapi sampai ia menghilang di balik pintu, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari kedua belah bibir tipis itu. Dengan berat ia berjalan ke arah kamarnya, ia sepertinya butuh istirahat juga.
.
.
.
Luhan meregangkan otot lengan dan lehernya setelah berjam-jam duduk di depan laptop dengan setumpukan tugas skripsinya.
Ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela kamar hotel, langit tampak sangat indah. Sejak dulu, ia memang menyukai memandangi pemandangan tak berujung itu. Rasanya begitu tenang dan damai.
Setiap Sabtu sore ia dan Ziyu pasti akan mengunjungi taman di sudut kota Seoul untuk memandangi langit bersama-sama, dengan sekotak camilan buatannya dan 2 kotak jus jeruk dingin.
Ziyu...
Luhan terhenyak saat mengingatnya. Padahal baru 1 hari tidak bertemu anak itu, tapi ia sudah merasa sangat rindu pada anak semata wayangnya itu. Dengan segera ia merogoh ponsel di kantung jaketnya lalu mendial nomor Chen.
Ia menunggu sekitar 10 detik sebelum akhirnya mendapat jawaban.
"Di mana Ziyu?" Tanya nya to the point bahkan sebelum ia sempat menyapa.
"Luhan?" Tanya Jongdae di seberang, Luhan mendecakkan lidahnya kesal.
"Iya ini aku, aku ingin bicara dengan Ziyu.. Cepat berikan ponselnya pada Ziyu." Titahnya tak sabaran. Ada jeda di sana sebentar sebelum Jongdae menjawab.
"Ziyu sedang tidur Lu, dia mungkin kelelahan tadi bermain."
Luhan mendesah kecewa, ia benar-benar rindu pada rusa kecilnya.
"Baiklah, sampaikan padanya aku merindukannya kalau ia sudah bangun." Katanya pelan, agak tak bersemangat karena kerinduannya belum bisa terpenuhi.
Ia kemudian menjatuhkan tubuhnya ke kasur, desahan kecil keluar dari kedua belah bibirnya yang pink itu. Luhan benar-benar gila karena meindukan putranya.
Tapi dia tidak bisa memaksakan diri kembali ke Seoul sebelum tugasnya selesai.
Ya,
Sebelum tugasnya selesai.
Tubuh mungil itu tiba-tiba saja bangun dengan senyuman yang mengembang dari telinga ke telinga. Hal yang membuat ia tertahan di tempat itu adalah tugas skripsi sialannya, artinya kalau ia bisa selesai lebih cepat maka ia juga akan lebih cepat bertemu puteranya.
Jadi mulai detik itu juga, Luhan memaksakan dirinya untuk tetap terjaga di depan laptop.
"Eomma akan segera pulang Ziyu sayang," Gumamnya riang. Bayangan anak itu memeluknya erat membuat ide-ide dan semangat menulisnya bertambah.
.
.
.
Genap dua hari, sudah genap dua hari Sehun berdiam diri di kamarnya. Tidak pergi kuliah, tidak makan, tidak tidur, dan... Tidak mandi.
Oke mungkin yang terakhir tidak terlalu penting untuk dibicarakan, tapi sudah dua hari ia tidak makan. Dan hal itu membuat Suho juga Chanyeol khawatir, bagaimana kalau pemuda itu jadi jatuh sakit?
"Sehuna..." Panggil Suho setelah mengetuk beberapa kali pintu kamarnya. Tidak ada jawaban untuk beberapa saat.
"Jangan pedulikan aku, aku tidak lapar." Sahutnya dari dalam kamar, suaranya sudah sedikit melemah dan parau. Suho sempat berpikir kalau ia menangis, tapi ia kemudian berpikir lagi, tidak mungkin Sehun menangis ricuh seperti anak remaja yang diputuskan oleh pacarnya.
"Tidak lapar apanya? Bahkan orang bodoh sekalipun tahu kalau tidak makan selama dua hari itu pasti kelaparan." Suho bersungut-sungut di depan pintu, tapi akhirnya dia menyerah ketika teriakan Chanyeol memekakan telinga terdengar.
"YAAAAA HYUNGG TOLONG AKU!"
Bagaikan sebuah kilat, Suho sudah berada di tempat kejadian Chanyeol beberapa detik setelah teriakan itu terdengar. Dengan wajah bingung ia menatap Chanyeol yang masih sehat tanpa cacat sedikit pun.
"Ada apa? Kau bahkan tidak terluka sedikit pun." Tanya nya bingung. Tangan Chanyeol terangkat dengan telunjuk yang menunjuk objek yang berada tak jauh darinya.
"Anak ini meminta ku membuatkannya susu, tapi aku tidak mengerti caranya."
DOEENG
Suho merasa telah dipermainkan Chanyeol langsung merampas gelas balita dengan penutup di tangan Ziyu. Ia memasukkan beberapa sendok takar susu yang kemudian ia campur dengan air hangat. Setelah itu ia melempar kotak susu milik Ziyu tepat di wajah Chanyeol.
"Nah ini Ziyu.." Katanya ramah sambil menyodorkan susu sesuai keinginan Ziyu. Anak itu menerima segelas susunya itu dengan mata berbinar dan senyum merekah. Membuatnya agak tertegun untuk sesaat. "Tidak mungkin," Ia terdiam di posisinya, terlalu kalut bersama pikirannya untuk menyadari Chanyeol yang sudah memakinya sedari tadi.
"-maksudmu sih? Wajahku akan kehilangan ketampanan jika kau terus melempa-" Ia berhenti untuk melihat Suho yang tidak bergerak sama sekali.
"Kau dengar aku tidak sih?" Katanya kesal, ia kemudian beralih ke Ziyu. "Ayo kita tinggalkan orang tua ini Ziyu, hyung akan ajak kau bertemu Baekhyun hyung. Dia itu manis loh.." Ajak Chanyeol sedikit heboh. Yah, ia memang akan selalu heboh jika menyangkut kekasih hatinya itu.
Jika kau memintanya untuk menjelaskan secara detil apa-apa yang ada dalam diri Baekhyun dan apa alasannya kenapa bisa sampai jatuh cinta padanya, maka Chanyeol tidak akan segan menyebutkan semuanya dari A-Z tanpa terlewat. Ia bahkan tidak peduli kalau mulutnya bisa berbusa karena hal itu. Bodoh memang.
Namja tinggi itu berjongkok agar bisa lebih mudah memakaikan jaket ke anak kecil itu. Setelahnya ia berteriak histeris, "Astaga Tuhan! Kenapa kau lucu sekali?!"
Ziyu yang tidak tahu harus merespon apa hanya tersenyum malu-malu.
CLEK (?)
Di tengah kesunyian yang tengah melanda rumah itu, suara derit pintu pun mau tak mau menjadi pusat perhatian. Setelah dua hari akhirnya pintu itu terbuka, diikuti kemunculan sesosok namja dengan rambut blonde.
Ia menuruni tangga dengan malas, tidak menghiraukan keberadaan 3 orang lain di sana.
Pada saat yang berbahagia dan mengejutkan ini, Ziyu lah yang paling cepat bereaksi. Ia memekik senang sembari berlari ke arah Sehun untuk memeluk kaki appanya (karena tubuhnya terlalu tinggi).
"APPA!"
Sehun mengibaskan kakinya, membuat anak manis itu mundur beberapa langkah sebelum kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk.
Ia mendongakan kepalanya menatap Sehun, matanya sudah berkaca-kaca. Tapi Sehun malah menatapnya sinis dan dingin dari ujung matanya.
"Jangan panggil aku appa! Aku bukan appamu!" Ia berjalan kembali ke kamar dengan segelas air dan sebuah apel di tangan. Melihat Ziyu malah mengingatkannya lagi pada masalah yang menerpa hidupnya.
"Appa jahat! Ziyu benci appa!" Tangis anak itu pecah, suho dan Chanyeol yang tadinya asyik menonton drama gratis itu langsung kelabakan menenangkan tangisan memilukan itu.
"Shh! Ziyu jangan menangis lagi, ayo ikut hyung bertemu Baekhyun hyung!" Kata Chanyeol cepat dan membawa Ziyu keluar rumah.
.
.
.
Sehun tahu, ia sangat tahu, kalau kelakuannya tadi pagi benar-benar kekanakan. Dan bukan Oh Sehun sama sekali.
Ia telah menendang seorang anak kecil, anak kecil yang baru-baru ini ia ketahui sebagai anak kandungnya.
Ia menatapi wajah damai Ziyu yang sudah tertidur entah sejak sejak kapan -ia baru keluar kamar jam 10 malam-. Sebenarnya ia tak ada niatan untuk berdiam di kamar tamu dan memandangi Ziyu yang terlelap.
Tapi melihat pintu kamar yang terbuka dan tubuh mungil bocah itu tidak tertutupi, mau tak mau ia melangkah masuk untuk membenarkan letak selimutnya.
Semakin lama ia memandangi wajah malaikat Ziyu, ia merasa seperti ada sesuatu yang menyilet hatinya. Rasanya benar-benar sakit mengingat perlakuan kasarnya tadi pagi. Oh Sehun yang dingin sudah mencair.
Jemari panjangnya terangkat untuk mengelus surai hitam anak itu. Lembut, mungkin itu kata pertama yang bisa mendeskripsikan apa yang ia rasakan saat kulit tangannya mengenai gundukan rambut itu.
Oh, demi apapun ia kini merasa sebagai seorang yang paling jahat sedunia. Bagaimana bisa ia menyia-nyiakan anak manis itu selama hampir 3 hari ini?
Marah? Kecewa? Bingung? Mungkin hal itu biasa ketika sesuatu yang biasa kau lakukan berubah secara drastis dan jauh dari kata baik-baik saja. Dalam kasus ini ia -Sehun, tiba-tiba dikirimi seorang anak yang ia sendiri pun tidak tahu kapan membuatnya.
Ia kemudian merutuki kesalahannya karena bersikap kekanakan selama 3 hari ini. Ia hanya butuh penyesuaian.
"Maafkan...A..." Ia menahan nafasnya, kata terakhir itu tertahan di kerongkongannya. Benar-benar sulit diucapkan olehnya.
Ia mencoba sekali lagi dengan satu tarikan nafas, "Maafkan... A... A-appa..." Sehun tersenyum, akhirnya ia bisa mengucapkan kata itu dengan benar.
Setelah membenarkan letak selimut hingga sebatas leher Ziyu, Sehun mengambil posisi di sampingnya. Ia membaringkan tubuhnya lalu menarik tubuh kecil itu ke dalam pelukannya.
Satu dua kecupan ia layangkan sebagai permintaan maaf, dengan tangan yang masih mengelus pelan rambut Ziyu, Sehun mulai terbawa ke alam mimpi.
.
.
.
Luhan merasa ada yang aneh.
Sudah 4 hari dan setiap ia menanyakan keadaan puteranya, Jongdae pasti akan mengelak terus. Mengalihkan pembicaraan adalah keahliannya akhir-akhir ini.
Misalnya seperti 5 menit yang lalu ketika ia menelpon Jongdae untuk mendengar suara malaikat kecilnya.
"Ayolah Chen~ berikan teleponmu pada Ziyu..." Rengek Luhan, ia benar-benar akan mati merindu jika saja tak mendengar suara Ziyu. Tapi Jongdae malah mengucapkan sebuah alasan lain yang sudah bosan ia dengar.
"Lu, maafkan aku tapi Xiumin sedang mengajaknya berbelanja."
Luhan menghela nafas dan lebih memilih mematikan ponselnya, menelpon jarak jauh itu cukup mahal. Ia tidak ingin membuang-buang uangnya untuk membayar tagihan di akhir bulan.
Luhan tidak bodoh untuk mudah dibohongi, tapi ia terus berpikir positif. Siapa tahu hanya perasaannya saja?
Tapi naluri orang tua tetaplah kuat, dan firasat Luhan mengatakan bahwa ada suatu hal buruk yang terjadi. Sesuatu yang memaksanya untuk kembali ke Seoul.
Tekadnya sudah bulat, ia akan kembali ke Seoul besok. Dan tidak ada yang bisa mengubahnya, siapapun itu.
.
.
.
Chanyeol dan Suho merasa mereka masih berada di alam bawah sadar.
Mungkin terlalu lelah atau karena faktor stress akibat membujuk Sehun agar mau mengakui Ziyu sebagai anaknya. Jadi mereka berkhayal kalau Sehun akur dengan Ziyu.
Tapi di depan mata mereka sekarang ini adalah kenyataan, dimana Sehun sedang memanjakan anaknya dengan menanyakan apa sarapan yang ia mau.
Wajahnya benar-benar cerah, melebihi cerahnya musim panas beberapa bulan lalu.
Garis lengkung terlukis di wajahnya, matanya membentuk garis atau yang sebagai mana kita menyebutnya sebagai eyesmile.
Dunia akan segera berakhir.
Setidaknya begitulah isi otak kedua pria yang tengah kebingungan itu. Sehun yang baru menyadari keberadaan mereka pun langsung menyapanya hangat.
"Selamat pagi hyung! Aku sudah memasak omelet, kalian mau sarapan bersama kami?" Tanyanya antusias. Suho berdehem menandakan dirinya lah yang paling cepat sadar dari lamunan. "Sepertinya itu ide yang bagus."
Dan dua menit kemudian mereka tengah asyik menyantap sarapan spesial buatan Sehun dengan segenap cinta dan kasih sayang untuk Oh Ziyu -Sehun tidak peduli dengan marga sebelumnya-.
"Jadi..." Gumam Chanyeol di sela makannya, memecah keheningan juga.
"Apa yang membuatmu berubah seperti ini?" Tanyanya penasaran. Sehun mengangkat wajahnya, ia menampilkan ekspresi datar.
"Entahlah... Aku hanya... Merasa buruk." Katanya singkat. Tapi ia yakin kedua orang dewasa itu menangkap apa maksudnya.
"Kau akan bekerja mulai lagi hari ini Sehun?" Tanya Suho kemudian, merasa pembicaraan itu tidak menyangkut masa lalu -satu hari kebelakang- membuat Sehun kembali semangat. Ia menganggukan kepalanya cepat.
"Ya! Dan rencananya aku akan mengajak Ziyu." Ia beralih menatap putra nya yang tengah asyik melahap omelet keju buatannya. Seulas senyum kembali terukis di wajah tampannya.
"Iya kan Ziyu sayang?" Tanyanya, anak yang ditanyai hanya mengangguk sekali.
"Apa tidak apa-apa?"
Sehun menggeleng pelan, "Tidak hyung, kurasa teman-teman ku juga tidak keberatan akan hal itu. Apalagi ada Yixing hyung, dia menyayangi anak kecil." Jelas Sehun, Suho hanya bergumam pelan tanda mengerti.
"Lalu kau Chan, apa rencanamu hari ini?"
Chanyeol terlihat mengemut sendoknya, caranya berpikir benar-benar lucu. "Aku hanya akan kuliah dan pergi makan malam bersama Baekhyun," Katanya pelan.
Suasana meja makan itu kembali tenang, hanya akan berisik ketika Sehun yang heboh mengambilkan air untuk Ziyu yang terkadang tersedak makanannya. Diam-diam, Suho tersenyum penuh arti, tapi sedetik kemudian air wajahnya berubah keruh memikirkan bagaimana reaksi Sehun jika mengetahui siapa ibu dari Ziyu.
.
.
.
"Waaah~ Dia lucu sekali, anak ini siapamu?" Mungkin pertanyaan inilah yang menyambut Sehun setibanya di cafe tempat ia bekerja paruh waktu bersama Ziyu. Pagi ini Ziyu mengenakan baju hoodie rilakumma yang dibelikan oleh Chanyeol kemarin, membuatnya tampak berkali lipat-lipat lebih manis dan imut dari biasanya.
Sehun ternyum tipis, sambil mengenakan seragam kerjanya ia menjawab pertanyaan itu.
"Dia anakku."
Ucapannya sontak membuat orang-orang yang mengelilingi Ziyu berjengit kaget. Tak sedikit juga yang menyayangkan fakta Sehun sudah memiliki anak karena sebagian dari karyawan pria juga wanita di sana menyukai Sehun dalam artian 'cinta'.
Di antara sekian banyak pegawai di sana, Yixing lah yang tampak paling mudah dekat dengan Ziyu. Sehun bersyukur dalam hati karena anaknya termasuk tipe mudah beradaptasi dan tidak rewel. Hari ini cafe sangat ramai, jadi bahaya juga kalau tiba-tiba anak itu menangis ingin pulang karena kesal.
Ketika waktu istirahat tiba, Sehun langsung menawarkan sepotong kue red velvet yang lezat kepada Ziyu.
"Appa... Ziyu ingin es krim." Kata anak itu beberapa saat sesudah menghabiskan kue. Sehun meneguk habis sisa machiatto miliknya, bekas cupnya ia lemparkan ke tong sampah tak jauh dari mereka.
"Baiklah, pulang dari sini kita akan beli es krim untuk Ziyu. Tunggulah sampai jam 3 sore." Ia mengacak rambut Ziyu lalu beranjak untuk kembali diam di balik kasir melayani orang-orang yang sudah tidak sabar melihat wajahny -maksud Sehun- memesan makanan.
3 jam terakhir terasa sangatlah panjang semenjak Ziyu datang menemaninya. Sehun ingin segera melepas seragam kerjanya lalu pergi dari tempat itu untuk mengajak putra nya bermain.
Kris yang kebetulan sedang mengecek kinerja para karyawannya menangkap raut tak sabaran dari wajah Sehun.
"Kenapa Sehun?" Sehun dengan cepat menoleh, ia tersenyum dan menggeleng.
"Tidak apa-apa hyung." Matanya melirik Ziyu yang bermain bersama Yixing saat menjawab. Mengerti akan maksud tersembunyinya, Kris menepuk bahunya pelan.
"Kau boleh pulang sekarang, sepertinya Ziyu juga sudah bosan berada di sini." Ujarnya tegas. Bagaikan seorang bocah yang diberikan mainan baru, Sehun bersorak girang dan secepat kilat ia berganti pakaian.
Lima menit kemudian ia sudah berada di luar cafe, berjalan menjauhi tempat itu sambil bergandengan tangan dengan Ziyu.
Mereka menikmati angin sore dengan berjalan santai ke arah toko es krim tak jauh dari cafe. Sehun yakin akhir hari ini akan indah, jadi ia mempererat genggaman tangannya pada jemari mungil itu.
Sehun tak ingin cepat-cepat berpisah dengan Ziyu.
.
.
.
Barang-barangnya sudah jatuh tak karuan, setelah mengamuk karena mengetahui Jongdae yang menipunya selama 5 hari ini dengan mengantarkan Ziyu pada Sehun, ia menolak untuk menganggap keberadaannya meski berada di rumah milik Jondae.
"Astaga Lu... Aku benar-benar minta maaf..." Nada bersalah jelas terdengar, tapi Luhan terlalu marah untuk menanggapi permintaan maaf itu.
"Lu please... Jangan begini, kau tahu aku hanya tidak ingin-"
Sebelum Jondae sempat menyelesaikan kalimatnya, Luhan dengan cepat memotongnya.
"Tapi kau mengantarkannya pada Sehun! SEHUN!" Lolong Luhan, tangannya berada di pinggang. Sorot matanya yang tak bersahabat juga membuat Jongdae benar-benar terhakimi.
Luhan benar-benar tidak bisa menunggu lebih lama, jadi ia menyambar tas dan barang-barang bawaannya tadi keluar.
Ia melemparkan semuanya ke kursi penumpang mobilnya, lalu dengan tergesa ia masuk dan mengendarai mobilnya menjauhi kediaman Jongdae, menghiraukan teriakannya yang menanyakan kemana dirinya akan pergi.
Luhan tahu,
Sehun berada di rumah Suho, jadi dia menancap gas ke alamat Suho.
.
.
.
"Jangan memeluk kakiku Ziyu." Omel Sehun saat Ziyu memeluk kakinya erat. Jangan salah paham, Sehun sangat menyukai ketika anak itu bermanja-manja padanya, tapi tidak pada waktu mandi.
Itu membuat pakaiannya basah dan penuh busa.
"Tapi Ziyu takut buca nya macuk mata Ziyu." Rengeknya, Sehun kembali menghela nafasnya.
"Ziyu, dengar appa, tutup matamu maka tidak akan ada apa-apa yang memasuki matamu." Titah Sehun, anak itu mengangguk ragu kemudian menutup matanya. Seakan lebih mudah, Sehun menyiramkan air ke kepala Ziyu, membersihkan busa-busa sampo yang memenuhi rambut tebalnya.
Tangannya bergerak lembut menggosok kulit kepala Ziyu, kemudian turun ke tubuhnya untuk membersihkan permukaan kulitnya yang siapa tahu masih licin.
Setelah dikiranya selesai, Sehun menutupi tubuh anak itu dengan handuk lembut. Ketika ia tengah mengeringkan tubuh Ziyu ia teringat sup buatannya di bawah, jadi ia bergegas turun untuk mematikan kompor.
Tak lupa ia meminta Suho untuk mengurusi Ziyu sebentar.
"Hyung! Tolong bantu aku sebentar, Ziyu belum selesai dibaju!" Teriaknya sembari menuruni lantai dengan tergesa. Benar saja, saat ia mencapai permukaan lantai bawah, hidungnya mencium bau gosong.
Segera ia mematikan kompor setelah memastikan rasa sup buatannya sempurna.
Baru satu langkah ia akan kembali ke lantai atas, ia mendengar bel berbunyi. Ia tidak melirik display yang menempel di dinding karena saking buru-burunya.
Clek
Ia memutuskan untuk membuka pintu itu dan menemukan seseorang tengah tersenyum simpul. Ia membungkuk sebelum berkata, "Halo, aku mau mengambil Ziyu. Aku eommanya." Ucap orang itu ramah.
Sehun menganga, ia tidak percaya dengan morning shock di hari yang cerah ini.
"K-kau..." Perkataannya menggantung, ia menatap orang itu dari atas sampai bawah.
"Seorang namja?" Mata Sehun masih menatapnya dengan mata yang melotot. Luhan bersumpah kalau Sehun melebarkan matanya sedikit lagi maka kedua bola matanya akan jatuh menggelinding.
"Ya-" Luhan merasa terganggu dengan pertanyaan Sehun, "-jadi dimana Ziyu? Aku mau mengambilnya."
Terdengar suara langkah kaki menuruni tangga, diikuti pertanyaan yang membahana di ruangan itu.
"Siapa itu Sehun?" Tanya Suho dengan Ziyu di gendongannya, Sehun menggeser tubuhnya ke samping agar Suho bisa melihat sendiri siapa yang mengunjungi rumah mereka.
Suho sedikit terkejut melihat orang yang berdiri di pintu rumahnya.
"Oh, hai... Luhan." Sapanya canggung, "Kau datang lebih cepat 2 dua hari sebelum mengambil Ziyu." Lanjutnya dengan nada yang lebih akrab dari sebelumnya.
Suho tersenyum sangat lebar. Ia menyambung langkahnya untuk lebih mendekat ke arah Luhan, setelah itu mengalih tangankan Ziyu ke pangkuan Luhan.
Namja Cina itu tertawa hambar, "Ya, seperti yang kau lihat."
Sehun mengerjap bingung.
"Aku tidak mengerti apa yang tengah terjadi di sini."
.
.
.
.
TEBECE
A/N: Hai! Maaf update rada lama, tugas lagi banyak banget mamen (?)
Ini mungkin gasesuai sama harepan, tapi...
Semoga kalian suka dengan cerita yang makin absurd ini. ^^
.
.
.
Thanks To:
hwayeong32 | tchandra07 . tc | alysaexostans | Guest | PandaYehet88 | chanbaekyu | HunHanCherry1220 | DiraLeeXiOh | EXOST Panda | Syifa Nurqolbiah | RZHH 261220 II | OSH . KAP | bubblegirl202 | cyberxiaolu | Auntmn panda | karina | Seluluff | BabyBaekSoo | meliarisky7 | Brida96 | narsih . hamdan | Lieya EL | Ohmypcy | Jong Ahn | shn1234 | Callysta Park | aku adalah aku | MinwooImitasi | Ai Rin Lee | arvita .kim | lisnana1 | JungYoungest | Oh Zhiyulu Fujoshi | PRC | iyas | vidyafa11 | wintersbaby | hunhanexo | ani n | isyarahfeni | lyta | junia . angel . 58 | exindira | Leona838 | Urushibara Puterrizme | irna . lee . 96 | rexs1130 | vbublee | wind blow | Bottom-Lu | ludeer | zoldyk | pcyms7 | eL | neni . hayati . 9404 | farfaridah16 | chacalock | Lulu Baby 1412 | suho . kim . 5011 | kristin . exofashion | WulanLulu | HunHanina's | ferina . refina | jejeosh | selukr
Mind To Review? ^^
