Halooo :'D setelah sekian lama saya nggak update ini, akhirnya update juga! YEAAAY! #plok. Ayooo mana kelas 12 yang jadi pejuang SBMPTN kemaren? :'D soal-soalnya sasuga ya wkwkwk. Semoga kita semua keterima dan lolos buat PTN deh ya :'3 aminaminaminnn. Btw selamat juga buat peserta UN SMP 2014 yang lulus :'3 semoga masuk SMA/K yang diinginkan yaa!

Enjoy!


Some Dreams on His Eyes

a HETALIA FANFIC

By : EcrivainHachan24

Desclaimer by : Hidekaz Himaruya

A special fanfiction for nacchandroid. Maap kalo jelek, Sayang :')

WARNING!

Abal, (maybe) OOC, death-chara, typo(s), etc

DON'T LIKE, DON'T READ!

.

.

.

.

.

Kemudian lelaki itu menceritakan tentang mimpinya.

Natalia tidak bisa berhenti berkata pada dirinya bahwa lelaki itu begitu memesona. Tidak, bukan dari penampilannya. Bisa dibilang, sebenarnya Alfred tidak bisa disebut lelaki yang tampan—tapi tentu tidak jelek. Alfred F. Jones sangat menarik, dan itulah yang membuat Natalia tidak bisa memalingkan wajahnya walau hanya sedetik. Alfred bercerita tidak hanya dengan kata-kata dan bibirnya yang bergerak-gerak, tapi dari mata, bahasa tubuh, dan gerak-geriknya yang luwes dan berkharisma. Terkadang Natalia memandangnya benar-benar mirip dengan John F. Kennedy; tapi tentu saja, Alfred adalah versi jauh lebih muda dan tentunya... lebih menarik.

Setengah tahun sudah berlalu begitu saja—terasa cepat, dan Natalia tetap tidak bisa berhenti mengagumi New York sebagai kota yang kosmopolitan pada waktu siang, dan gemerlapan di malam hari. Cantik, sibuk, dan kompleks di saat yang bersamaan. Bukannya Belarussia tidak indah, hanya saja, New York dan Amerika menyajikan sesuatu yang baru untuknya selain salju dan musim dingin.

"Aku selalu ingin menciptakan dunia tanpa perang," cerita Alfred kemudian—Natalia tidak mengatakan apapun (seperti biasa) dan hanya berjalan di samping lelaki itu dengan tenang. Musim semi sudah di penghujung waktu, dan udara sejuknya bertambah dingin di malam hari ini. Wangi dedaunan yang meranggas sudah tercium di sana-sini, menciptakan perasaan hangat dan familiar. Plang-plang pertokoan sudah mulai bersiap mengganti tulisan 'diskon musim semi' ke 'diskon musim panas' sebentar lagi. Riverside, jelas tidak pernah sesemarak ini merayakan pergantian musim.

Ini pertama kalinya untuk Natalia.

Dan bertambah indah karena sosok di sampingnya itu.

"Menurutku, perang itu pelanggaran HAM yang terberat," kata Alfred dengan nada simpatik. "Maksudku, bukankah sangat tidak etis bertengkar di tengah-tengah orang yang kelaparan di Afrika? Atau mencoba menaklukan orang-orang Nigeria di saat mereka sendiri masih hidup dengan primitif? Menurutku, itu sangat tidak Hero!"

Natalia tersenyum kecil. Pikiran sederhana penuh perhatian yang membuatnya tersentuh takkan pernah terasa cukup. Alfred ternyata memiliki jiwa sosial yang tinggi—sebuah sifat yang sangat jarang ditemukan pada orang-orang Amerika yang rata-rata individualis—Natalia sendiri dibesarkan di negara sosialis-komunis yang memaksa seluruh rakyatnya merasakan sama rasa dan sama rata. Tidak ada stratifikasi sosial, tidak ada mobilitas sosial. Semua sama rasa dan karsa. Tidak pernah terpikir olehnya bakalan ada orang lain yang nasibnya jauh lebih menyedihkan dibanding itu semua.

Tapi Alfred selalu berpikir ke depan.

"Aku juga selalu ingin mengunjungi mereka," kata Alfred lagi. "Maksudku, menolong orang jelas tidak salah, bukan? Aku selalu merasa iba kepada orang-orang yang belum pernah merasakan hamburger! Oh, sheesh! Mereka tidak tahu surga duniawi apa yang mereka lewatkan!"

Tawa Natalia nyaris menyembur melihat ekspresi horror yang ada di wajah Alfred. Satu fakta lagi tentang lelaki itu; maniak hamburger. Atau makanan-makanan junk-food lainnya. Sebagai perempuan, jelas Natalia paling menghindari makanan-makanan sejenis itu karena berat badan akan menambah dengan cepat, atau kulit akan berminyak dan semacamnya.

Tapi saat bersama Alfred, Natalia rela menekan ketidakinginannya menjadi sebuah pemakluman yang wajar.

Entah kenapa Natalia melakukan itu. Sebelumnya, dia tidak pernah berkorban apa-apa demi orang lain.

"Pemikiran yang bodoh," ketus Natalia—untuk menekan keinginannya untuk tertawa— "tahu dari mana kau orang-orang itu akan merasa beruntung hanya dengan memakan hamburger yang bisa membuat berat badanmu mirip dengan beruang?"

"Hey, stop right there, girl!" Alfred mengacungkan telunjuknya ke depan wajah Natalia. "Tidak ada buktinya 'kan? Buktinya berat badanku tidak mirip dengan beruang tuh!" kekeh Alfred—membuat Natalia tersenyum tipis. "Yah," Alfred menepuk perutnya sendiri dengan cemas. "Setidaknya kelihatannya begitulah."

Oh gawat, dia benar-benar ingin tertawa sekarang.

"Masa?" sindir Natalia pedas-pedas.

"Of course!" kata Alfred. "Begini-begini, aku sixpack, lho! Mau lihat?"

Dan satu sepakan mendarat di kaki Alfred.


Awalnya, Alfred memang tidak mengerti Natalia Arlovskaya.

Wanita itu memang berbeda dengan yang lainnya. Natalia memang cantik—cantik sekali, malahan—tapi jelas sifatnya tidak sama dengan wajah rupawan itu. Natalia jelas jauh dari kata perasa, karena gadis itu bertindak sesuai dengan moodnya—yang akan menyalak saat sedang buruk, dan pendiam saat moodnya sedang netral atau baik—Natalia juga bukan orang yang extrovert seperti dirinya. Gadis itu lebih suka memendam apa yang dirasakannya, dingin, acuh, dan menyeramkan karena membawa pisau belati ke mana-mana (entah karena dia parnoan atau semacamnya, Alfred tidak berminat untuk mencaritahu sama sekali). Bagi sebagian besar orang, mungkin Natalia adalah wanita yang menyeramkan dan pantas untuk dihindari. Tapi bagi Alfred, Natalia adalah paradigma yang unik karena menantang.

Dan Alfred F. Jones menyukai tantangan.

Sedikit demi sedikit, Alfred mulai mengerti dan mengenal wanita itu. Berkewarganegaraan Belarussia, lalu pindah ke Russia karena perceraian kedua orangtuanya, dan akhirnya tinggal bersama kakak laki-lakinya di sana. Natalia juga bercerita bahwa dulu ia memiliki seorang kakak perempuan yang ceria dan periang (Alfred agak mengangkat kedua alisnya dengan tertarik. Bagaimana bisa Natalia Arlovskaya yang dingin memiliki kakak perempuan yang periang?) bernama Yekaterina yang sudah meninggal tiga tahun yang lalu karena kecelakaan lalu lintas.

Alfred takkan melupakan ekspresi sedih di wajahnya.

Natalia bercerita, kakaknya itu—Yekaterina—adalah seorang kakak perempuan yang sangat menyayangi adik-adiknya. Yekaterina rela membuang mimpinya untuk menduduki kursi kuliah dan bersedia bekerja untuk dirinya dan Ivan. Sampai akhirnya Ivan berhasil membuka bar yang cukup ternama, dan akhirnya pindah ke Amerika untuk bisnisnya itu. Sementara Natalia akhirnya menjadi jurnalis di Riverside.

Dan saat itulah kakak perempuan mereka telah tiada untuk selamanya.

"Dia seperti menunggu," cerita Natalia waktu itu. Memandangi sungai yang jernih di bawah jembatan yang mereka pijak. "Agar aku dan kak Ivan menjadi orang yang berhasil, kemudian dia pergi…" Natalia mengerjap. Ada satu daun jatuh di air jernih itu, kemudian menggenang.

"Hmm," Alfred mengangguk-angguk. "I see. Tapi kecelakaan lalu lintas itu murni karena ketidak sengajaan, bukan?"

Natalia mengangguk. "Ya. Awalnya aku rasa juga begitu," kata Natalia pelan. "Tapi waktunya tepat sekali. Ketika aku dan kak Ivan berniat mencari hal yang lebih baik untuk kami—dan saat kami berhasil, ketika itu pula kak Yekaterina pergi. Tanpa sepatah kata terakhir. Tidak memberikan kesempatan untuk aku dan kak Ivan membalas jasanya…"

Suara Natalia sedikit tersendat—dan Alfred tidak bisa menahan keinginannya untuk membuat wajah wanita itu tidak bersedih lagi. Alfred jauh lebih menyukai wajah Natalia yang dingin dan sinis dibandingkan wajah yang penuh duka seperti itu.

"Dia memang berisik," bisik Natalia lagi, dengan ekspresi nelangsa mengingat wajah cantik kakaknya itu. "Menyebalkan, pengganggu, suka mencubiti pipiku seenaknya, dan dia tidak takut pada pisau belatiku," kata Natalia. Tapi makin lama, wajah ayu itu memerah karena emosi di hatinya. "... tapi aku sayang dia..."

Sebagai seorang reporter, Alfred tentu telah melihat banyak hal, baik secara langsung maupun tidak langsung—membuatnya menjadi orang yang memiliki jiwa sosial tinggi, dan tentu saja, membuatnya memiliki banyak mimpi.

Alfred bermimpi dunia tanpa perang.

Alfred bermimpi memberi makan orang-orang kelaparan di Afrika.

Alfred bermimpi dunia yang berpaham liberal.

Alfred bermimpi menjadi superhero untuk menyelamatkan warga dunia.

Dan kini…

Lelaki itu tersenyum, lalu tanpa ragu, ia merangkul wanita itu—yang terkesikap kaget menatapnya. Alfred menyandarkan dagunya di atas kepala bersurai platinum blonde itu dengan tenang.

Kini dia punya mimpi yang baru.

Alfred bermimpi menjadi satu-satunya alasan Natalia Arlovskaya untuk tersenyum.

Bolehkah?

"Natalia, tersenyumlah," kata Alfred dengan suara dalam. "Natalia cantik sekali jika tersenyum…"

Terdengar dengusan Natalia. Walau tentu saja, gadis itu berusaha menutupi perasaannya. "Kau merayuku?"

Alfred tertawa kecil. "Tidak. That's the truth," ditatapnya wanita yang menjadi tambatan hatinya untuk saat ini. Mata Natalia yang besar menghujam langsung ke iris biru Alfred yang cerah. "Setiap Hero pasti punya seorang heroine di hatinya," kata Alfred lagi—kali ini menggenggam erat-erat jemari putih gadis itu. "Natalia sudah menjadi heroine di hati Alfred sejak pertama kali kita bertemu."

Natalia mendengus, lalu memutar kedua bola matanya dengan bosan—walau sama sekali tidak bisa menyembunyikan rona merah yang mulai menjalar di wajahnya. "Maksudmu, saat aku menyebutmu bajingan?"

Alfred tertawa keras-keras. "Hahaha, astaga!" kekeh Alfred. "Kau masih ingat rupanya. Sebenarnya, kenapa Natalia menyebutku bajingan? Apa aku terlalu mengganggu?"

Natalia mendelik padanya dengan jutek. "Sebenarnya, tampangmu saja sudah menunjukkan betapa mengganggunya dirimu." Natalia melipat tangannya di dada. "Bahkan kalau bisa, aku akan melemparmu ke luar kereta."

Alfred mengangkat kedua alisnya, dan spontan meraba-raba wajahnya. "Really? Kalau begitu, kok Arthur tidak pernah mengomentari wajahku, ya? Well, tapi dia memang sering marah-marah kalau berada di dekatku, sih…"

Natalia menahan tawanya. "Tolol, itu artinya kau memang mengganggu di manapun kau berada."

Alfred terkekeh, "Yah, mau diapakan lagi? Habis, waktu aku melihatmu sendirian duduk di sana, aku langsung duduk di dekat Natalia tanpa berpikir lagi!" jelas Alfred.

Natalia berdecak. "Aku tidak bertanya apa alasanmu, Bodoh."

Alfred mengangkat bahunya sambil nyengir lebar-lebar. "Tapi, Natalia senang kan ditemani olehku? Ya kan?" cecar Alfred.

Natalia menatap Alfred dengan tajam dan galak. "Aku akan membunuhmu sekarang juga, tahu?"

Tawa Alfred meledak lagi. Yap, hanya Alfred yang bisa tertawa terpingkal-pingkal saat orang lain menganggap tatapan dan ancaman Natalia sangat menakutkan. Natalia tidak mengerti pola pikir lelaki itu, sungguh. Kenapa dia ditertawakan? Memangnya dia sedang melawak? Diperlakukan seperti pelawak atau badut jelas tidak menghibur Natalia.

"Kenapa kau tertawa?" desis Natalia tak senang.

"Oh sorry, sorry," Alfred berdeham. "Setiap kali Natalia mengancam akan membunuhku, aku selalu merasa Natalia imut sekali."

Hidung Natalia mengernyit. Dia tidak pernah disebut 'imut' sebelumnya. Wajah heran Natalia aneh sekali; sejak kapan ada orang yang menganggapnya 'imut' itu? Imut itu bukannya sebutan untuk hal-hal yang lucu dan manis? Hueeek. Natalia hampir muntah membayangkan apa yang ada di kepalanya tentang definisi 'imut' itu.

Lagipula, istilah macam apa itu?!

"Imut?" kata Natalia membeo dengan nada yang benar-benar tak habis pikir.

"Ya," angguk Alfred tanpa rasa curiga pada nada suara Natalia. "Aku merasa, sebenarnya yang ingin Natalia katakan adalah hal yang sebaliknya. Atau hanya perasaanku saja, ya?"

Deg.

Merasa kata-kata itu tepat sasaran, Natalia menatap Alfred dengan dingin. "Sok tahu kau, dasar masokis."

Alfred terkekeh. "Kalau kukatakan, aku mencintaimu, apakah Natalia akan tetap memandangku seperti itu?"

Kali ini Natalia mengerjap dan menganga.

Apa katanya?

"Apa?" gagap Natalia tak memercayai pendengarannya. Dipandanginya Alfred yang tiba-tiba memiliki aura yang sangat menenangkannya.

Dia tidak bermimpi, bukan?

"I love you," tatapan Alfred berubah lembut dan intens. Matanya yang biru menelusuri wajah cantik di hadapannya. "You have stolen my heart, Natalia Arlovskaya…"

Jantung Natalia bertalu-talu dengan cepat—membuat peredaran darahnya memompa lebih cepat ke wajahnya yang kini mulai panas dan memerah. Napasnya memburu tatkala dirasakannya Alfred menatapnya dalam-dalam, seolah mencoba menebak apa yang ada di pikirannya. Dia merasakan dirinya demam, tapi tentu saja tidak. Ini perasaan asing yang pertama kali melandanya seumur hidupnya sebagai wanita.

Seperti… sebuah euphoria… dan kehangatan yang bersatu dalam kesederhanaan bernama…

Cinta?

"Natalia?" panggil Alfred berusaha menyadarkan gadis itu yang malah memandanginya dengan ekspresi aneh. "Kau kenapa?"

"H-harusnya aku yang bertanya, brengsek," cela Natalia—berusaha menenangkan detak jantungnya yang semakin menggila. "Apa maksud perkataanmu? Kau bercanda?"

Alfred tersenyum, lalu menyentuh pipi Natalia. "Apakah aku terlihat seperti sedang bercanda?"

Tentu saja tidak, Alfred benar-benar serius mengatakannya. Dan Natalia tentu saja tahu akan hal itu. Tapi ini semua terlalu aneh dan asing untuknya.

Dia tidak pernah… merasa dicintai sebesar ini.

Apa yang harus dilakukannya?

Apa yang harus dikatakannya?

"A-aku…," Natalia mengatur napasnya yang memburu. "Aku—"

Ucapannya terputus saat kedua belah bibirnya bertemu dengan bibir Alfred yang menguncinya dengan lembut—dan Natalia memejamkan matanya.

Ada yang membuncah di dadanya.

Sebuah perasaan bahagia yang teramat sangat memabukkan.

"Katanya," Alfred berkata dengan suara berat di depan wajah cantik itu. "Saat kau tidak bisa mengungkapkan sesuatu dengan kata-kata, kau bisa mengungkapkannya dengan perbuatan…," Alfred tertawa kecil. "Wajah Natalia terlihat cantik sekali dari dekat! Nyahaha."

Natalia masih tidak bisa berkata-kata—dia memandangi lelaki itu, lalu memegangi dadanya yang bergemuruh.

Dia jatuh cinta.

"Ah, fireworks!" seru Alfred sambil menunjuk langit—membuat Natalia ikut memalingkan wajahnya ke arah yang ditunjuk Alfred. Binar-binar berwarna-warni menghiasi langit hitam tak berbintang membentuk berbagai bentuk di atas sana. Suara riuh orang-orang terdengar, dan aktivitas orang-orang berhenti untuk sementara.

Natalia memandangi langit dengan terpana.

Indah sekali…

"Pergantian musim selalu indah, ya?" kekeh Alfred. "Aku sangat menikmatinya!" dia menatap Natalia lagi. "Thank you…"

You're welcome, Alfred.

Alih-alih mengatakannya, Natalia malah memelototi lelaki itu sambil menodongkan pisau belatinya. "B-brengsek, kurang ajar kau, dasar mesum! Kata siapa kau boleh menciumku?!"

Alfred tertawa lepas, lalu memeluk wanitanya erat-erat.

Dan selamanya akan selalu seperti itu.

To be continue

Sebenernya saya ngerasa chapter ini kependekan, iya gak sih :'D #plak. Tapi emang lagi kurang bisa ngungkapin isi hati sih nih aduh *elus dada* maap yak. Saya janji chapter empatnya bakalan lebih panjang dari ini :'D

Review, please? ;)

V

V