Sejak kemarin Kuroko dicium oleh Akashi, Kuroko tak bisa menatap maupun berbicara satupun dengannya. Ia tak mengerti apa maksudnya ini, dan ia tidak mengerti kenapa Akashi melakukan hal semacam itu... semakin ia memikirkannya, ia makin tak mengerti.
Ia tatap sosoknya yang terpantul oleh cermin, dan mulai berpikir kembali.
Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku jadi seperti ini? Ah, wajahku mengerikan sekali... habis tadi malam aku tak bisa tidur karena memikirkan ciuman itu..
Blush
Wajahnya kembali memanas dan memerah.
"Ugh- kenapa setiap aku memikirkannya, wajahku jadi memerah seperti ini?"
.
.
.
"Ini salah Akashi-kun."
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan di pintu kamarnya. "Nona Tetsuna, sarapan sudah siap."
"Ah, iya," kuroko mengambil tasnya dan beranjak ke ruang makan di lantai 1. Dari jauh, ia dapat melihat di ruang makan terdapat Akashi. Melihat ini, ia memalingkan wajahnya dan berjalan pelan-pelan ke ruang makan. Sesampainya disana, ia langsung duduk di sofa, dan memakan sarapan yang tersedia dengan menundukkan wajahnya. karena ia tahu sekarang wajahnya pasti tengah memerah kembali.
"Tetsuna."
"H-ha'i?!"
"... sudah baikan?"
"Eh? I-iya..."
"Sou..."
"..."
Hening kembali. Akashi hanya sibuk dengan kertas dokumennya, sedangkan Kuroko sedang sibuk dengan sarapannya. Tak ada pembicaraan lagi. Sampai akhirnya mereka berdua berangkat ke sekolah bersama. Dan seperti biasa, Kuroko membuat jarak dengan Akashi, bahkan lebih jauh dari sebelumnya. 10 meter.
Sesampainya di sekolah, mereka mendapati segerombolan murid sedang mengumpul didepan papan pengumuman. Penasaran, Akashi bertanya pada salah seorang temannya yang bersurai ungu dengan tinggi seperti titan-titan ga jadi (?) tengah memandang papan pengumuman dengan camilan yang dipeluknya. namanya Murasakibara Atsushi.
"Atsushi, ada apa ini?" tanya Akashi menghampiri Murasakibara dengan tatapan tidak tertarik (klo ga tertarik kenapa nanya?). Tidak mempedulikan Kuroko yang masih bingung melihatnya.
"Akachin... itu," Murasakibara menunjuk salah satu lembar pengumuman yang ditempel. Akashi melihat ke papan pengumuman, dan mendapati fotonya yang sedang berciuman dengan Kuroko. Setelah melihat ini, Akashi kemudian merobek foto tersebut, dan membuangnya ke tong sampah terdekat. Hal itu kemudian menjadi bahan perhatian orang-orang disana.
"Akashi-sama! Apa maksudnya itu?" seorang cewek yang diduga fansnya Akashi berkata demikian sembari menangis kecewa.
"Apanya?" tanya Akashi pura-pura tak tahu.
"Itu! Kenapa kau bersama dengan wanita itu?!"
"Maksudmu aku?" Kuroko muncul disamping Akashi. sehingga membuat Akashi, Murasakibara, dan cewek itu terkejut. "K-kau... ya! Kau! Kenapa kau dicium oleh Akashi-sama?!" ucap cewek itu. Mendengar ini, wajah Kuroko kembali memerah karena malu dan tiba-tiba keberadaannya mulai menghilang, padahal dia tetap ada disitu dan sedang membalikkan badannya.
"Dia pacarku," ucapan Akashi itu membuat sekumpulan fans-nya, sekumpulan cowok-cowok yang penasaran, Murasakibara, dan Kuroko mengang lebar. Bahkan camilan yang dipeluk Murasakibara berjatuhan dan diinjak oleh beberapa murid.
"EEEEH?! UAPAAAAA?!" terkejutnya seluruh siswa di sekolah membuat Akashi harus tutup kuping. Sementara Kuroko, dia tengah menunjukkan wajah syoknya, dan salah satu tangannya ditarik Akashi dan mereka berdua pergi. Meninggalkan segerombolan orang penasaran disana.
"EEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEHHHHHHH?!"
.
.
.
Akashi menarik tangan Kuroko dan menuju ke ruang OSIS, yang tak ada orang lain disana. Akashi kemudian melepaskan genggaman tangannya, dan Kuroko mulai bertanya macam-macam.
"A-a-apa maksudnya yang tadi itu, A-Akashi-kun? Aku tak pernah ingat kita berpacaran!" Kuroko berkata dengan wajah yang memerah.
"Tentu saja tidak pernah. Siapa coba yang mau pacaran denganmu?" ucap Akashi dingin.
"Eh? Terus? Yang tadi itu?"
"Bohongan. Oh, ya dan karena tadi aku sudah berbohong berpacaran denganmu, jadi mulai hari ini kamu menjadi pacar bohonganku."
"Eh?"
"Mana jawabannya?"
"I-iya!"
"Bagus. Dan, Ryouta. Aku tahu kau ada disitu keluarlah," Akashi menghadap ke arah lemari, dan seseorang terjatuh dari dalam lemari tersebut. Rambutnya berwarna kuning dan suara yang ia kenal. Ya, dia adalah Kise Ryouta.
"Uwaaaa- ah, hai, Akashicchi. Ketahuan, ya-ssu... hehehe..." Kise terkekeh pelan sembari mengangkat wajahnya dan menyingkirkan berkas-berkas yang menimpanya.
"Ryouta. Aku tahu kau yang menempelkan foto itu. Bisa tolong jelaskan apa maksunya, huh?" Akashi menghampirinya, dan mengacungkan gunting ke arahnya dengan wajah kesal.
"... eh? Hehehe... ya gitu, deh-ssu..." Kise kembali terkekeh ragu.
"Jelaskan, kenapa kau menyebar foto itu?" sekarang Akashi mendekatkan guntingnya ke wajah Kise hingga ujung gunting itu menyentuh kening Kise.
"Eh? Etto... errrr... itu... kipas anginnya... muter-ssu..." Kise menunjuk ke kipas angin ruang OSIS.
DOR
Sebuah peluru melesat ke arah Kise dan berhasil menggores pipi kirinya. Kise menjadi kaku sesaat.
"Ryouta, latihanmu kutambah 50x lipat."
"EH?! Hidoi-ssu!"
"?" Kuroko menatap mereka berdua dengan bingung.
"A-akashicchi... bukankah tadi kau sedang berbicara dengan seorang gadis yang manis? Kemana gadis itu-ssu?" ucap Kise berusaha menghentikan Akashi yang hendak mencongkel mata Kise dengan gunting. sadis amat kamu, nak -_-
"Hn? Ah, iya. Kemana dia?" Akashi menghentikan serangan guntingnya kepada Kise. Sebaginya setelah ini Kise harus berterima kasih pada Kuroko yang tiba-tiba hilang... "Akan ku piiiiip dia kalau ketemu. Berani-beraninya dia kabur."
Hiiii! Semoga anak itu selamat dari piiip Akashicchi!
Batin Kise.
"uh... ano... aku ada disini... sedari tadi..." ucap Kuroko yang tiba-tiba muncul disamping mereka. Membuat Kise langsung menganga lebar.
"Eh? Lho... kamu, kan yang kemarin di cium sama Akashicchi?" ucap Kise. Mendengar ini, Kuroko kembali nge blush.
"K-k-kenapa kau bisa tahu?"
"Eh? Soalnya kemarin aku juga ada di UKS-ssu."
"Masa'?"
"Iya. Tapi waktu itu aku lagi sembunyi di lemari dekat kasur UKS-ssu."
"Ooh..."
"Kise Ryouta desu! Yoroshiku-ssu!" ujar Kise mengulurkan tangan kanannya ke arah Kuroko. Kemudian tangannya disambut oleh tangan Kuroko.
"K-Kuroko tetsuna desu. doumo..."
"Ok, kupanggil Kurokocchi, ya!"
"H-ha'i...!"
Akashi hanya memandangi mereka berdua yang berkenalan sambil duduk di meja didekat sana. "Akashicchi cemburu niee~" ucapan Kise membuat pelipis Akashi menumbuhkan (?) maksudnya memunculkan perempatan. "Siapa yang cemburu?"
"Terus kenapa kamu dari tadi menatap kita-ssu?" ucap Kise yang tangannya sudah lepas dari salamanya.
"Ng... aku cuma penasaran saja," ucap Akashi menghampiri mereka berdua. Sepertinya guntingnya sudah disimpan entah di mana.
"Penasaran-ssu?" tanya Kise bingung. "Ya," Akashi mengangkat dagu Kuroko, dan mendekatkan wajahnya ke wajah si surai biru itu hingga wajah Kuroko merona sedikit. "Sekarang phobiamu sudah sembuh, heh?"
"? Phobia...?" Kise makin bingung.
"Ya. Dia phobia terhadap lelaki. Yah, bagus, deh kalau sudah sembuh," Kemudian tangan Akashi disingkirkan dari dagu Kuroko. Ia berjalan menuju ke pintu, dan pergi.
Wajah Kuroko masih merona. Ia terus menunduk ke bawah hingga membuat Kise kembali bingung. "Kurokocchi...?"
Ia baru sadar kalau phobianya sembuh telah sembuh. Buktinya dari tadi ia bersentuhan dengan lelaki tak membuatnya pusing, dan pingsan. Dan phobianya dapat sembuh karena...
.
.
.
Ciuman dari Akashi
.
.
.
Jam istirahat
Kuroko POV
"Jadi kamu SUKA sama Akashi-kun, ya," ucap Momoi-san sembari memakan bekalnya.
"S-suka?"
"Iya. Kamu bilang kamu selalu berdebar kalau bertemu dengannya, ka? Terus kamu juga selalu nge-blush saat Akashi-kun menyentuhmu, kan? Itu artinya kamu telah jatuh cinta!" ucapnya gembira.
"T-tapi nggak mungkin! Mana mungkin aku suka sama Akashi-kun! Aku bahkan ingin menjauhinya karena dia menyeramkan sekali!" ucapku sembari memegang botol minum dan wajahku sedikit memerah kembali.
"Eh? Tapi kamu selalu berusaha untuk menjauhinya karena kamu suka padanya, bukan? Bahkan kau meminta kita makan siang di atap karena ga mau ketemu sama dia, kan?"
"Uh.. i-iya, sih..." ucapku malu sembari memainkan jemariku.
"KYAAAAA! TETSU-CHAN IMOETZ DEH!" kemudian Momoi-san memelukku hingga terjatuh. "Mou! Momoi-san..."
"M-Momoi-san..."
"Oh, iya! Katanya phobiamu udah sembuh, ya, selamat- eh...?"
"Woy, dia sekarat tuh, Satsuki!" ucap seorang lelaki berkulit tan yang pernah kulihat sewaktu di UKS kemarin. Ia mengangkat Momoi-san sehingga aku bisa berapas lega. "Oh.. Arigatou.."
"Mou! Dai-chan! Turunkan aku!" rengek Momoi-san. Kemudian lelaki tersebut menurunkan Momoi-san sembari menghela napasnya. "Oh, iya. Siapa namamu? Aku Aomine Daiki."
"Eh? Kuroko Tetsuna..."
"Oh, Tetsu. Bagi bekalnya, ya," ucapnya sambil mengambil telur gulur di dalam kotak bekalku. Kaget, wajahku kembali memanas karena wajahnya yang begitu dekat "Enak. Sankyu."
"UWAAAA! DAI-CHAN! PELECEHAN SEKSUAL!"
"HAAAH?!"
"TADI KAMU MAKAN BEKALNYA TETSU-CHAN! YANG BOLEH MAKA BEKALNYA TETSU-CHAN CUMA AKU, DAN AKASHI-KUN!"
"HAAH? KOK AKASHI BOLEH, TAPI GUE GA BOLEH?!"
"SOALNYA TETSU-CHAN ITU-"
"UWAAA! Aku duluan, ya! Dah!" ucapku sembari berlari ke ruang kelas. Sengaja menghindari perbincangan mereka. Mungkin saja Momoi-san mau memberitahukan Aomine-kun tentang perasaanku. Ukh-
Aku terus berlari, dan menabrak seseorang hingga terjatuh.
BRUUAK
"Ah, s-sumimasen..." ucapku sembari memegangi hidungku yang terbentur lantai.
"Ah... Warui..." ucap orang yang ikut terjatuh denganku.
"Kise...kun...?"
"Eh? Oh, Kurokocchi. Ada apa terburu-buru?" ucapnya sambil berdiri, dan kemudian ia membantuku berdiri.
"Tidak ada apa-apa, kok, Kise-kun," ucapku sembari tersenyum. "Kise-kun sendiri kenapa tadi lari?" lanjutku.
"Eh? Eto.. aku dikejar para fans-ku.. eh? HUWAAA! Mereka sudah menemukanku! Sudah, ya, Kurokocchi!" kemudian Kise-kun kembali berlari, diikuti oleh segerombolan perempuan yang mengejarnya.
Heran, tapi aku tak mau memikirkan hal tersebut lagi. lorong penghubung gedung sudah semakin sepi, aku harus kembali ke kelas segera. Kugerakkan kakiku,namun aku merasakan kesakitan pada kaki kiriku. "Ukh... apa terkilir?"
Gawat, aku tak bisa bergerak kemana-mana sekarang. Apa yang sebaiknya kulakkan?
"mattaku... kau ini benar-benar merepotkan."
Ucap seseorang yang kemudian membopong-ku. Dan orang itu adalah...
"Akashi...kun...?"
"Tetsuna."
Blush
Semburat merahpun kembali menghiasi wajahkku. Bahkan kepalaku menjadi pusing sekali. Tapi kali ini berbeda dengan sebelumnya. Entah kenapa aku tak merasa takut sama sekali. Dan sepertinya ucapan Momoi-san memang benar apa adanya.
Gyut
Kugenggam bajunya yang dekat dengan tanganku.
.
.
.
Hei, apakah ini yang disebut 'suka'?
.
.
.
UKS
Greeek
"ya ampun... guru kesehatan absen lagi... disaat-saat begini, dimana petugas kesehatan?" gerutu Akashi-kun membaringkanku di kasur, kemudian mengambil kotak P3K.
"Akashi-kun..." ujarku sembari duduk di sisi kasur.
"Apa?"
"Kita ngapain.. disini...?"
"Tentu saja mengobati kakimu. Kau mau ke kelas dengan keadaan kakimu begitu?" ucapnya datar sembari memanjangkan perban.
"Bukan... maksudku... tidak apa-apa kita ada disini? Pelajarannya..."
"Bel masuk belum berbunyi. Tenang saja."
"..."
Kemudian ia mengobati, dan membaluti kaki-ku yang terkilir. Bagaimana ini? Aku tak bisa berhenti berdebar-debar saat ia menyentuh kulitku...
"Sudah selesai. Sekarang kau sudah bisa bergerak bebas," ucapnya menaruh perban ke dalam kotak P3K dan menaruhnya kembali ke lemari.
"A-arigatou.."
"Douita."
"... Akashi-kun..."
"Ya?"
"... iie, n-nandemonai yo!"
"Souka. Kalau begitu, aku pergi dulu, ya," ia beranjak pergi, namun entah kenapa tangan kiriku menarik ujung bajunya, seakan memintanya untuk tidak pergi. "Tetsuna...?" ia kembali menolehku. "Ada apa?" tanyanya.
"A... aku.."
"?"
"Aku suka Akashi-kun!"
"..."
Eh? Eh? A-apa yang kukatakan tadi?!
Wajahku kembali memerah bersamaan dengan lepasnya tangan kiriku dari ujung bajunya. Akupun menutup wajahku karena malu.
"... Terima kashi," ucapannya, membuatku berharap jawabannya adalah 'ya', namun harapa itu hancur seketika ketika mendengar lanjutannya.
"Tapi maaf. Aku tak bisa menjawab perasaanmu," ucapnya ringan, dan kemudian ia beranjak ke pintu.
"Eh..."
Aku... ditolak.
"L...lalu kenapa kau menciumku waktu itu?!"
"Itu hanya kulakukan untuk merendam amarahmu dan menghilngkan phobiamu."
"Kenapa... kau mau menghilangkan phobiaku?"
"Karena phobia-mu sangat merepotkan."
"Benarkah?"
"Ya. Kalau phobia-mu tak kunjung sembuh, akan sulit berhubungan denganmu di rumah nanti."
"Lalu...?"
"Apanya?"
"Lalu kenapa kau berbaik hati padaku tadi?"
"Bukankah kau tahu, kalau kita ini pacar bohongan, kalau hal itu ketahuan, aku bisa kena masalah."
"... pacar bohonga, ya... kau bermaksud memanfaatkanku?"
"Ya."
"...kh..." jadi, selama ini ia berbaik hati padaku hanya karena ingin memanfaatkanku?
Waktu dia menjagaku sewaktu aku pingsan,
Waktu aku diganggu oleh beberapa anak lelaki tak kukenal,
Atau waktu ia membawaku kemari, dan mengobati lukaku.
Jadi, semua itu... hanya dusta belaka...? hei, katakanlah kalau itu bohong. Kumohon...
"Sekarang kau mengerti? Aku tak memiliki perasaan apapun padamu. Sedikitpun," harapanku kini musnah. Ia bahkan tak menyangkal perkataan bahwa ia hanya memanfaatkanku saja. Ia bahkan tak memiliki perasaan apapun terhadapku. Apa setidaknya dia tak berpikir kalau aku ini temannya?
BRAAK!
"Sensei! Izinkan saya untuk beristirahat sampai jam pula- eh? Sensei mana?" Kise-kun membuka pintu UKS dengan kencang, dan mendapati kami berdua di dalam UKS. "GYAAAA! K-k-kalian melakukan ini-itu disini?!"
"Jangan bercanda. Itu gak mungkin. Aku duluan, ya. Ngomong-ngomong guru kesehatannya absen, jadi tidur saja sampai mampus," ucap Akashi-kun tersenyum meninggalkan aku dan Kise-kun di dalam. "... err...jadi aku boleh tidur, gak, nih-ssu? Lho? kurokocchi, kamu nggak ke kelas?"
"..." aku terus menunduk kebawah..
"Kurokocchi?" Kise-kun menghampiriku, dan mencoba melihat wajahku yang tertutup oleh rambut.
"..." aku sedikit mendongak, dengan wajah yang putus asa.
"Kurokocchi? Ka-kamu kenapa-ssu?" aku menggenggam baju Kise-kun dengan erat, dan berkata, "Aku ditolak..."
"Ditolak? J-j-jangan-jangan kamu nembak Akashicchi?!" ujarnya. Dan aku hanya bisa mengangguk pelan. "Aku ini bodoh, ya..." lanjutku.
"Eh?"
"Harusnya aku tahu kalau aku ini bodoh.. aku ini kikuk..." aku mencoba tersenyum.
"Kuroko..cchi...?"
"Tidak mungkin aku disukai oleh Akashi-kun..."masih dengan senyuman hampaku.
"..."
"Ya, tidak mungkin... menjadi pacar bohongannya saja aku sudah senang...hahaha" aku tertawa kosong.
"..."
"Aku ini... benar-benar... bodoh..." disini air mataku mulai mengalir.
"Kurokocchi, hei..."
"Bodoh! Aku ini bodoh sekali! Kenapa... kenapa aku bisa menyukai seseorang...?" air mataku terus mengalir.
"Kuroko-"
"Aku ini tidak pantas disukai. Ya... tapi... kenapa..? hiks.." kali ini senyuman maupun tawa kosongku sudah lenyap, bersamaan dengan menetesnya air mataku yang tak mau berhenti. "Ukh..."
"... hei..." Kise-kun mengangkat dagu-ku. Kemudian ia membungkukkan badannya agar tinggi kami jadi sama. "Apa harus Akashicchi?" ia berkata sembari menyeka air mataku yang tersisa.
"Eh?"
"Aku suka kamu, Kurokocchi. Jadilah pacarku," ia memegang pipi kananku, dan mendekatkan wajahnya ke wajahku.
.
.
.
TBC~
Gomenne kalau ada TYPO, OOC, dll...
Hayoooo! Akhirnya Murasakibara sama Kise muncul!
Murasakibara : gue cuma selipan doang. =,= *ngambek**pundung*
Kiseka : cep cep...
Kise : uwaakh! Gue diakhir cerita ciuman ama kurokocchi? Serius, nih, kisekacchi?!
Kiseka : hahahaa... nggak tau, deh.. klo kiseka kasih tau nanti jadi spoiler, kan~
Kise : tapi itu akhirannya nanggung, lho, Kisekacchi! NANGGUNG!
Kiseka : gomen... gomen... kan biar greget gitu!
Kise : ga ada gregetnya-ssu...
Kiseka : *pundung bareng Murasakibara*
Akashi : bukankah fanfic ini pairingnya aku dan tetsuna? Kenapa akhir-akhirannya jadi Ryouta dan Tetsuna?
Kiseka : teheheee... biar seru gitu~
Kuroko : nggak seru desu.
Kiseka : *pundung lagi*
Aomine : dan lagi, rasanya gue Cuma jadi pencuri bekal orang, sih? Dan lagi, kok ada hint AoKuro, sih?
Kiseka : teheee... soal itu tanyakan pada dirimu sendiri, nak. Klo soal AoKuro sama KiKuro sih emang rencananya Kiseka mau tambahin kedua pair itu biar greget! Ups- Spoiler!
Aomine & Kise & Kuroko : NGGAK GREGET!
Kiseka : *pundung lagi sama Murasakibara dan semut yang terlempar begitu saja (?)*
Midorima : WOOOY! AUTHOR GEBLEK!
Kiseka : *merasa terpanggil* nani? *muka polos*
Midorima : kok gue ga muncul sama sekali disini!
Kiseka : er... tanyakan pada kecoak yang berkilau #DIGEBUKK
Midorima : *buka sepatu*
Kiseka : HIIIII! AMPUUN! *kabur*
[OC] Yuuki : ok, hiraukan saja mereka~
[OC] Hiroki : Oh, iya. Banyak logat jepangnya lgi, nih! Kita kasih tau kepada para readers sekalian, ya~!
Hidoi : jahat / kejam
Sumimasen / warui / gomen : aku minta maaf / maaf / maaf/ ([OC] Sakura : apa bedanya?! *tampar Hiroki*)
Mattaku : ya ampun..
Arigatou : mkasih
Douita : sam-sama
Iie, nandemonai yo : tidak, tidak ada apa-apa, kok
Hiroki : Cuma segitu kayaknya.
Sakura : jangan lupa untuk me-review, ya!
Yuuki : yak, sampai jumpa~!
.
.
.
OMAKE!
"katany mau nge – piiiip Kurokocchi. Nggak jadi-ssu?" ucap Kise ke Akashi yang tengah mengurus dokumen di atas meja OSISnya.
"huh? Nggak. orangnya kan nggak kemana-mana," ucap Akashi tidak peduli.
"Oooh... bagus, deh..."
OMAKE 2!
"UWAAA! Aku duluan, ya! Dah!" ucap Kuroko sembari berlari ke ruang kelas. Meninggalkan Momoi dan Aomine di atap.
"TUH, KAN, DAI-CHAN! DIA JADI KABUR!"
"HAAAAH?! GARA-GARA GUE?! BUKANNYA GEGARA ELU, YA?!"
"TIDAK! INI BERAWAL DARI DAI-CHAN YANG NYURI MAKANAN TETSU-CHAN!"
"INI BERAWAL PAS KAMU NGOMONG 'PELECEHAN SEKSUAL' TAHU!"
WAAAA WAAAA
Dan mereka berdua melanjutkan pertengkaran mereka.
