The One Who Makes Me Smile

Chapter III

Cahaya dari sela jendela itu masuk dan menimpa wajah namja tampan itu. Ia tahu dirinya sudah terjaga. Tapi, ia masih memejamkan matanya dan membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya yang empuk tanpa memakai baju. Ia masih lelah karena begadang semalam. Yah, ia begadang karena ia tidak bisa tidur akibat kekasihnya itu. Matanya terasa berat, badannya terasa begitu lemas, dan tubuhnya masih basah karena keringat. Biasanya, ia langsung membersihkan tubuhnya. Namun, kali ini tidak. Ia merasa tak sanggup berjalan menuju kamar mandi. Berdiri saja tak mampu. Ia mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan membuat dirinya tenang meski keadaannya sekarang benar-benar tidak nyaman. Beberapa saat kemudian, ia merasa bantalnya bergetar. Ia mengira itu hanya sms masuk. Namun, getaran itu berlangsung lama, menandakan ada sebuah panggilan masuk. Perlahan, namja itu meraba-raba sekitar bantalnya untuk mencari hp nya. Hingga ia meraihnya dan menerima panggilan itu.

"Halo..." Kata Sehun dengan keadaan mata tertutup

"Sehun-ah.." Kata seseorang di telepon. Sehun mengenal baik suara selembut malaikat itu.

"Chagiya?" Sehun berusaha membuka matanya

"Apa kau baik-baik saja? suaramu tersengar agak serak"

"Aku baik-baik saja. Ada apa? tumben tiba-tiba telepon?"

"Bisa kita bertemu jam 10 pagi ini di taman?" Sehun kaget mendengarnya. Ini pertama kalinya Luhan mengajak Sehun keluar ke suatu tempat. Ia segera membuka matanya, dan melihat ke arah jam dinding. Pandangannya masih sedikit kabur. Ia beranjak dari tempat tidur dan berjalan mendekati jam dinding dengan sempoyongan. Ia bisa melihat dengan jelas sekarang pukul setengah delapan pagi ketika ia berjarak dua langkah dari jam dinding itu. Itu artinya ia bisa mempersiapkan diri terlebih dahulu.

"Sehun-ah?"

"E.. iya?"

"Kalau kau tidak bisa..."

"Tentu saja aku bisa" Luhan tertawa kecil

"Baiklah, kita bertemu nanti, saranghae"

"Ne, nado" Luhan menutup teleponnya.

Hati Sehun sangat senang mendengarnya. Ia menatapi layar hp nya sambil mengelus foto Luhan, membayangkan pipi Luhan yang ia pegang. Meski demikian, ia masih merasa tubuhnya sangat lemas, sekujur tubuhnya terasa panas, dan matanya terasa berat meski tak seberat sebelumnya. Ia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidurnya kembali. Memeluk guling kesayangannya dan menciumnya. Rasa rindu dan cintanya pada Luhan kini semakin menggebu-gebu. Rasa itu begitu nyaman dan berhasil membuatnya tidur.

~HunHan~

Sehun berlari menuju pondok melewati jalan berbatu di pinggir kolam. Ia tak peduli dengan tubuhnya yang basah karena keringat. Ia hanya ingin bertemu dengan kekasihnya secepat mungkin. Sudah berkali-kali ia hampir terjatuh karena batu yang ia injak. Setelah hampir sampai di pondok, tak sengaja ia tergelinjir dan terjatuh. Lutut kanannya membentur batu yang lancip. Batu itu menembus sedikit lututnya dan membuahkan sebuah lubang. Dengan posisi masih tertidur, ia bisa merasakan lututnya basah karena darah. Ia berusaha bangkit sambil menahan perih di lututnya. Dalam posisi setengah berdiri, batu itu jatuh ke tanah. Ia bisa melihat Luhan sedang duduk di pondok dan hanya melihatnya. Sehun tak senang melihatnya. Wajah Luhan dipenuhi kekecewaan. Pikiran Sehun sudah campur aduk, ia tahu Luhan akan marah karena ia datang terlambat. Ditambah lagi luka baru di lututnya, menambah beban yang ia rasakan sekarang.

Ia masih berusaha berjalan dengan pincang menuju pondok itu. Lima langkah selanjutnya, ia sudah berada di pondok dan Luhan menghampirinya dengan menyembunyikan tangan kanan di belakang tubuhnya. Luhan menatapnya tajam. Sehun hanya pasrah melihat pandangan kekasihnya itu. Nafasnya masih terenggal-enggal. Ia menelan ludahnya lalu mengatur pernafasannya. Mereka saling menatap dalam diam beberapa saat, hingga Sehun memulai pembicaraan.

"Maaf, aku terlambat" Kata Sehun dengan nafas masih terenggal-enggal

"Hanya itu?" Tanya Luhan.

Sehun menunduk. Ia tahu ia salah. Kali ini ia memang keterlaluan. Ia membuat Luhan menunggu kedatangannya sampai satu jam lebih di taman. Ia memberanikan diri menatap Luhan.

"Lalu, apa yang harus aku lakukan?"

"Tidak ada"

"Maaf"

Sehun masih berusaha menenangkan dirinya. Ia berusaha membuat pernafasannya normal kembali.

"Apa yang ingin kau katakan?"

"Aku ingin hubungan kita berhenti di sini"

"Apa?"

"Aku tak harus mengulanginya lagi kan, bodoh?"

"Tapi..."

"Orang sepertimu harusnya mati" Luhan mengeluarkan tangan kanan yang dari tadi ia sembunyikan. Ia mengenggam erat pisau di tangan kanannya. Dengan cepat, ia menusukkan pisau itu ke perut Sehun. Sehun yang kaget hanya menatap mata Luhan. Mata yang menatapnya dengan penuh amarah dan kebencian. Perutnya mulai terasa perih. Tusukan itu membuat baju yang tadinya basah karena keringat kini menjadi basah karena darah yang mengalir. Tubuhnya terasa begitu sakit. Ia masih belum bisa berdiri tegak karena luka di lututnya. Kini rasa perih di perutnya membuat tubuhnya terasa sangat sakit. Tak hanya tubuhnya yang sakit saat ini, hati kecilnya benar benar remuk. Ia ingin menangis, tapi ia tak mungkin melakukannya di hadapan Luhan.

Perlahan Sehun mengangkat kedua tangannya. Ia memeganggi kedua lengan Luhan, menariknya perlahan dan memeluknya. Ia menekan tengkuk Luhan. Luhan sedikit memainkan pisau di perut Sehun. Sehun merintih kesakitan. Air matanya mulai mengalir perlahan. Kini ia tak peduli ia terlihat seperti anak kecil di hadapan Luhan.

"Kenapa?" Tanya Sehun dengan bibir bergetar. Luhan mencabut pisau itu dengan paksa, lalu menempatkannya di Leher Sehun.

"Mati saja kau, bodoh!" Luhan menekan pisau itu ke leher Sehun. Ia memenggal kepala mantan kekasihnya saat itu juga.

"AAARRGHH!" Sehun terbangun dan mendapati dirinya duduk di tempat tidurnya. Tubuhnya yang bau karena keringat itu sudah lebih baik meski mimpi barusan terasa sangat nyata. Ia memegangi lehernya untuk memastikan semua tadi hanya mimpi. Ia menengok ke arah jam dinding. Sekarang pukul sembilan pagi. Ia pikir akan lebih baik jika sekarang ia mandi dan membersihkan tubuhnya. Dengan nafas terenggal-enggal ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju pintunya yang terbuka yang entah ia lupa menutupnya atau D.O yang sengaja membukanya. Jarak dua langkah dari pintu, Kai melewati depan kamarnya. Ia berjalan dengan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memegangi lehernya. Sepertinya ia kelelahan.

"Pagi, hyung" Sapa Sehun. Kai menoleh dengan perlahan

"Ah.. pagi.." Jawab Kai. Ia kembali berjalan dan mulai menuruni anak tangga. Sehun menyadari keadaan Kai yang berbeda. Matanya membengkak entah karena ia begadang semalaman atau karena menangis. Tapi ia tak peduli dengan hal itu saat ini. Ia berjalan menuruni anak tangga dan bergegas mandi.

~HunHan~

Ia memilih memakai celana jeans hitam, kaos putih polos, dan jaket kulit. Ia terlihat lebih dewasa dengan berdandan seperti itu. Meski demikian, ia tetap saja terlihat tampan, bahkan lebih tampan dari sebelumnya. Ia merapikan rambut pirangnnya menyisirnya ke belakang. Ia siap untuk pergi dan menemui kekasihnya. Ia keluar dari kamar dan mengunci kamarnya. Ia tak ingin orang lain memasuki kamarnya tanpa izin, meski itu berarti keluarganya. Ia menuruni anak tangga dengan bahagia. Ia mengecek isi dompetnya. Ia ingin membeli bunga mawar sebelum pergi ke taman. Setelah mengecek, ia memasukkan dompetnya di saku belakang celananya.

"Sehun-ah?" teriak seseorang dari belakang rumah

"Sehun-ah? Apa kau dengar?"

"Ne, appa" balas Sehun sedikit berteriak. Ia bergegas pergi ke belakang rumah menemui appanya. Ia sedikit berlari melewati dapur dan menuju pintu di bagian kanan dapur untuk menuju ke belakang.

"Ada apa, appa?"

"Bisa kau bantu appa?"

"Tentu"

"Bantu appa membetulkan atap" Sehun tahu betul atap rumah mereka sering bocor. Ia tahu jika Suho selalu membutuhkan waktu lama untuk membetulkannya meski dibantu orang lain.

"Eee... Apa akan lama?"

"Mungkin lebih lama dari biasanya, karena lubangnya lebih banyak"

"Apa Kai hyung tidak bisa membantu"

"Kai sedang mengantar eomma mu berbelanja"

"Chanyeol hyung?"

"Chanyeol sedang pergi dengan Baekhyun"

Sehun tak mungkin menolak untuk membantu appanya. Ia tahu Luhan pasti akan mengerti jika ia terlambat karena membantu appanya.

"Chagiya, mianhae~ Aku terlambat, appa memintaku membantu membenarkan atap"

Setelah mengirim pesan itu, ia melepas jaket kulitnya dan bergegas membantu appanya.

~HunHan~

Hampir satu jam lebih Sehun membantu appanya. Ia mulai berkeringat. Hatinya mulai khawatir Luhan akan kecewa. Beberapa kali ia mengecek hp namun tak ada pesan masuk. Ia menghela nafas dalam-dalam dan berusaha menenangkan diri. Suho yang dari tadi memperhatikan akhirnya menanyakan pada anaknya itu. Ia turun dari tangga dan duduk di samping anaknya, merangkul pundaknya dengan hangat dan memulai berbicara.

"Ada apa?"

"Tidak ada apa-apa"

"Aku appa mu, aku tahu kau berbohong"

"Aku ada janji dengan Luhan appa"

"Jam berapa?"

"Sebenarnya jam 10 tadi"

"Kenapa kau tak bilang dari tadi. Appa bisa menunggu Kai saja"

"Eee... Aku.."

"Pergilah, sebentar lagi mungkin Kai datang."

"Tapi aku sudah bilang untuk membantu appa"

"Pergilah, Luhan sudah menunggumu"

"Apa tidak apa apa?" Suho tertawa kecil sambil menepuk-nepuk pundak anaknya itu. Ia menganggukkan kepalanya beberapa kali sambil tersenyum mengiyakan pertanyaan Sehun tadi.

"Ee.. baiklah, terima kasih appa" Kata Sehun. Ia bergegas mengambil jaket kulitnya, memakainya, dan segera berangkat.

"Hati-hati" Kata Suho sambil berteriak.

Sehun keluar dari rumah. Ia berlari menuju taman. Jalanan waktu itu memang sepi, jadi ia berlari secepat mungkin. Sekitar sepuluh menit kemudian, ia sudah sampai di taman. Ia berhenti sejenak di gerbang taman dan melihat keaadan sekitar. Mendung mulai datang dan nampaknya orang-orang di taman mulai keluar dan pulang. Ia berlari menuju pondok melewati jalan berbatu di pinggir kolam. Ia tak peduli dengan tubuhnya yang mulai basah karena keringat. Ia berhati-hati kali ini, ia tak mau mimpi buruknya tadi benar benar terjadi. Ketika sudah dekat dengan pondok, ia berjalan dan tidak berlari lagi. Ia bisa melihat Luhan dengan jelas. Ia duduk dengan manis sambil tersenyum kearah Sehun. Senyum itu memang manis, namun mata sayu Luhan membuat Sehun penasaran. Sehun sudah berada di depan Luhan sekarang. Tiba-tiba Luhan berdiri dan memeluk Sehun dengan sangat erat. Sehun membalas pelukan itu. Ia merasakan tubuh Luhan yang dingin.

"Maaf aku terlambat"

"Ne, Gwaenchana" Sehun hampir tidak dapat mendengar apa yang dikatakan Luhan karena suaranya yang sedikit serak.

"Kau tidak apa-apa? Suaramu serak? Apa kau sakit?"

Luhan hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Ia memeluk kekasihnya itu semakin erat dan menyamankan kepalanya di dada kanannya. Sehun merapikan rambut Luhan yang sedikit berantakan, mengelus pipinya, dan mengarahkan kepalanya menatap Sehun. Mereka saling menatap satu sama lain. Sehun dapat melihat dengan jelas mata merah dan sedikit membengkak itu, membuat kekasihnya yang bertubuh dingin menjadi saat ini, terlihat sedang sakit.

"Wae?"

"Ani.."

Sehun mengerutkan dahinya bingung. Luhan tersenyum dan memeluk erat Sehun kembali.

"Aku hanya ingin memelukmu, mungkin untuk yang terakhir kali" Sehun semakin bingung mendengarnya

"Apa maksudmu?"

Luhan menghela nafas dalam dan mulai berbicara

"Aku mencintaimu, aku menyayangimu, tapi aku juga mencintai dan menyayangi keluargaku Sehun"

"Lalu, ada apa?"

"Appa menyuruhku meneruskan sekolahku di Amerika, dan ia menyuruhku bekerja di sana. Tepatnya, di perusahaan teman dekat appa ku. Mungkin aku akan menetap di sana selamanya... Aku tidak bisa menolak perintah appa ku Sehun."

"Kalau kau menetap disana, tidak berarti kau tidak bisa berkunjung kemari kan?"

"Aku rasa akan sulit"

"Lalu, apa yang kau takutkan? aku akan selalu menunggumu"

Luhan menatap mata Sehun. Matanya mulai berkaca-kaca dan tak lama kemudian ia mulai menangis dipelukan Sehun. Sehun berusaha menenangkannya meski tangisan Luhan semakin keras. Sehun mulai khawatir dengan keadaan Luhan saat ini. Ia ingat kemarin ia menjadi sangat dingin, dan sekarang ia menangis di pelukannya seperti ini. Sehun juga mengkhawatirkan hubungannya dengan Luhan.

"Aku tidak apa-apa sayang. Kau percaya padaku, kan?"

"Aku percaya padamu Sehun" Tangisan Luhan mulai mereda meski ia berbicara dengan sesenggukan "Tapi aku tak ingin membuatmu khawatir dan menjadi begadang seperti kemarin malam" Luhan menelan ludahnya dan melanjutkan berbicara "Aku ingin hubungan kita berakhir di sini... Maafkan aku.. Aku tidak bermaksud menyakitimu, dan aku percaya padamu, aku mencintaimu, itu sebabnya aku melakukan semua ini" Luhan melepaskan pelukannya.

Hati Sehun terasa teriris pisau. Ia tak mengira Luhan akan mengatakan hal itu. Ia ingin sekali menangis, memeluk Luhan dan memintanya tetap disini.

"Kalau kau memang mencintaiku, kenapa kau harus memutuskan hubungan kita. Kalau kau percaya padaku, kenapa kau..."

"Bukan seperti itu..."

"Lalu kenapa, aku akan pergi ke amerika juga kalau begitu..."

"Jangan bodoh..."

"Aku tidak bodoh, aku..."

"Sudahlah..."

"Aku memaksa..."

"Ini pilihanku Sehun. Aku mohon kau mengerti"

Sehun kehilangan harapannya ketika mendengar kalimat itu. Hal-hal bodoh yang sempat ia pikirkan untuk tetap bersama Luhan kini ia pikir akan sia-sia. Luhan sudah tak mencintainya lagi pikirnya. Ia menundukkan kepalanya. Ia membiarkan air matanya mengalir di pipinya dan jatuh menetes ke tanah. Saat itu juga hujan mulai turun. Sehun tidak tahu lagi harus berbuat apa. Hati kecilnya tersakiti.

"Maaf Sehun." Kata Luhan. Ia berbalik dan meninggalkan Sehun sendirian di pondok itu. Ia berjalan di bawah hujan yang mulai lebat itu. Memeluk dirinya sendiri sambil menangis. Tak lama kemudian, seseorang memeluknya dari belakang.

"Jangan pergi" kata Sehun sambil menangis. Luhan berusaha melepaskan pelukan Sehun itu. Ia tak ingin melihat mentan kekasihnya itu lagi. Tubuh mereka berdua basah kuyup. Pakaian mereka sudah tak terasa hangat sama sekali. Sehun menggenggam erat kedua lengan Luhan dan membalikkan badannya. Dengan cepat Sehun mendekatkan wajahnya dan mencium mantan kekasihnya. Sehun memeluk Luhan dengan erat dan menciumnya lebih hangat. Luhan hanya pasrah menerima ciuman itu. Ia tahu usahanya untuk melawan dan melepaskan diri sia-sia saja. Sehun kini mulai menggigit bibir Luhan. Luhan kaget, serentak melepaskan pelukan Sehun dan menamparnya.

"Terima kasih Sehun." Kata Luhan lalu berlari meninggalkan Sehun. Sehun hanya melihat tubuh kecil yang ia cintai itu pergi, meninggalkan luka sangat dalam di hatinya. Beberapa saat kemudian, Luhan benar-benar hilang dari pandangannya. Hanya hujan lebat dan lampu taman yang tersisa. Suara katak di taman mulai terdengar. Sehun mulai berbalik, berjalan dengan limbung dan pulang. Ia tak peduli ia akan sakit atau tidak. Hatinya saat ini lebih sakit dari pada tubuhnya yang kedinginan.