Menikahi Hyuuga Neji adalah sebuah kesalahan. Dan jatuh cinta pada pria itu adalah kesalahan yang lain. Tidak, kesalahan yang lebih besar, karena nyatanya Neji tidak mencintainya seperti yang selama ini dia pikirkan.

.

.

GOKON

Neji-Sakura's fic by Lady Arlene

Naruto © Kishimoto Masashi

.

.

Chapter 3

.

.

Sakura terbangun keesokan paginya dengan perasaan sedikit terganggu. Sepanjang malam tidurnya tidak nyenyak dan terus saja gelisah. Mimpi buruk tentang masa lalu dan pikiran-pikiran aneh yang dia tidak ingat apa itu seakan tak ada habisnya berkelebatan dalam kepalanya, mengusik istirahatnya.

Sakura menarik dirinya bangkit untuk duduk di sisi alas futon. Tubuhnya terasa berat, dan kepalanya seakan berputar. Dia merasa begitu letih sampai-sampai tidak menyadari ketika seseorang menyentuh pundaknya. Dan baru tersadar sepenuhnya ketika hembusan napas yang hangat menerpa kulit lehernya yang tersingkap.

"Aliran chakra-mu kacau," ujar suara seseorang dari belakangnya.

"N-Neji-san—" Sakura tersentak kaget. Neji terasa sangat dekat, dia bisa merasakan hangat yang menguar dari tubuh suaminya menerpa punggungnya.

"Tidurmu tidak nyenyak?" Neji meletakkan tangannya di kedua pundak Sakura, menekan-nekannya dengan lembut. Dari pundak ke lengan, kemudian kembali lagi.

Keterkejutan yang dirasakan Sakura sebelumnya langsung sirna, digantikan oleh perasaan nyaman yang ditimbulkan oleh perlakuan suaminya. Dia memejamkan mata. "Nngh… mimpi buruk."

"Aa."

Gerakan tangan Neji terhenti. Dia meletakkan tangannya di bahu Sakura, memutar tubuh wanita itu sehingga kini mereka duduk berhadapan. Sakura terkesiap. Erangan kecil meluncur dari bibirnya ketika Neji tiba-tiba saja menekan satu titik di tubuhnya. Sakit –sebelum perlahan rasa sakit itu menghilang, dan saat berikutnya tubuhnya terasa jauh lebih ringan.

"Sudah lebih baik?" tanya Neji.

"Hmm…"

Sakura membuka matanya perlahan, langsung bertemu pandang dengan mata keperakan milik Neji. Kesunyian tiba-tiba jatuh di antara mereka. Keduanya terpaku, seakan tenggelam dalam tatapan masing masing. Pearl bertemu emerald. Sakura merasakan dorongan untuk menggerakkan tangan, menyentuhkannya pada wajah rupawan pemilik mata di depannya. Namun niatan itu segera diurungkannya, karena Neji tiba-tiba memalingkan muka dan menjauh. Sakura mengerjap.

"A—Arigatou…" ucap Sakura terbata, memecah kesunyian yang terasa canggung. Matanya menatap punggung Neji yang sudah bangkit berdiri dari futon mereka, mengawasinya ketika suaminya itu membenahi ikatan yukata kamarnya yang sedikit longgar akibat dipakai tidur. "Neji-san, dari mana kau belajar itu? Maksudku… pijatan—"

"Byakugan dan Jyuuken tidak hanya bisa berguna dalam pertarungan saja," jawab Neji datar. "Manfaatnya bisa lebih dari itu jika kau benar-benar menguasainya," tambahnya sambil memutar tubuhnya menghadap Sakura yang masih duduk di futon. "Sebaiknya kau bergegas. Jangan lupa ada ritual yang harus kita jalani hari ini," ujarnya mengingatkan, sebelum kembali berbalik dan berjalan ke arah pintu.

Ritual… —kata itu kembali menyadarkannya akan sesuatu yang mengganggunya sejak semalam. Bagaimana dia bisa lupa? Ritual itu, dan entah apa yang harus dia lakukan sementara dia tidak tahu menahu tentang tradisi itu, sebelum –wajahnya memanas teringat kata-kata suaminya semalam, "Prosesi itu, berarti aku harus menandaimu dengan benihku. Prosesi itu, dalam kata lain, adalah berhubungan intim." –sebelum dia menyerahkan dirinya sepenuhnya pada Neji.

.

.

Saori-ba-san datang bersama beberapa wanita Hyuuga ke kamarnya tidak lama setelah Neji pergi. Mereka segera membantu Sakura mengganti yukata kamarnya dan membereskan futon, kemudian membawanya untuk membersihkan diri. Kamar mandi yang mereka gunakan masih sama seperti sebelumnya. Hanya saja bak mandi kayu itu tidak hanya diisi dengan air hangat biasa, melainkan air wangi yang dipenuhi kelopak-kelopak mawar merah.

Sakura sedikit canggung ketika dia menanggalkan seluruh pakaiannya, lalu dituntun masuk ke dalam bak. Saori-ba-san menumpahkan air hangat ke bahunya, menggosok punggung dan lengannya dengan lembut menggunakan sabun khusus yang terbuat dari susu murni, sembari menjelaskan bagaimana prosesi ritual itu akan berlangsung dan apa saja yang harus dilakukan.

"Tidak perlu cemas, Nak," ujar Saori-ba-san sambil tersenyum keibuan, "jika masih tidak mengerti, suamimu akan membimbingmu langsung. Neji-kun sudah tahu apa yang harus dilakukan."

Setelah selesai, kemudian mereka membantunya berpakaian. Berbeda dengan hari sebelumnya, kali ini bukan sebuah yukata yang terbilang sederhana, melainkan sebuah kimono panjang. Mereka memasangkan kain indah berbahan sutera halus itu pada tubuhnya. Bagian bawah pakaian itu terjatuh dengan anggun hingga melewati mata kakinya, terjurai ke lantai kayu di belakangnya. Dan tidak seperti yang diduga Sakura sebelumnya, bahwa dia akan didandani seperti seorang Geisha –seniman wanita—mereka membiarkannya tampil alami tanpa riasan kecuali selapis tipis bedak khusus yang terasa ringan. Sementara rambutnya dibentuk sanggul sederhana di belakang kepalanya, dihiasi oleh sebuah kanzashi –hiasan rambut seperti tusuk konde—dengan ornamen berbentuk bunga sakura.

"Ini adalah kanzashi milik mendiang ibu Neji-kun," beritahu Saori-ba-san ketika memasangkan perhiasan itu di rambutnya. "Neji-kun sendiri yang menginginkan supaya kau memakainya."

Sakura memandang dirinya di dalam cermin, tangannya menyusuri ornamen cherry blossom yang kini tersemat cantik di rambutnya. Ada perasaan hangat yang aneh tiba-tiba menyusup dalam hatinya ketika menyentuh benda itu. Dan untuk pertama kalinya pagi itu, dia tersenyum.

.

.

Neji dan beberapa pria Bunke sudah menunggunya di luar. Alih-alih mengenakan pakaian ninjanya yang biasa, kali ini Neji memakai sebuah kimono resmi klan Hyuuga, lengkap dengan haori-nya, berwarna biru gelap dengan sedikit aksen yang membuatnya sedikit berbeda dengan kimono yang dipakai anggota klan yang lain. Sementara rambutnya yang panjang tetap diikat di bagian ujung seperti biasa.

Pria itu menoleh, tatkala Saori-ba-san membimbing Sakura mendekat padanya. Sekilas Sakura bisa melihat ekspresi terkejut di wajah suaminya itu, sebelum kemudian kembali datar seperti yang biasa dia tampilkan.

"Dia cantik, bukan, Neji-kun?" Saori-ba-san menyanyai pendapat sang keponakan ketika mereka sudah berdiri di sisinya.

Neji mengambil waktu beberapa saat untuk menatap Sakura yang merunduk dengan sikap gugup, sebelum menjawab singkat, "Aa."

Saori-ba-san tersenyum puas, kemudian mundur supaya Neji bisa mengambil alih.

"Kita berangkat sekarang," ujar Neji seraya menawarkan tangannya.

Sakura memandang tangan yang terjulur itu dengan ragu, sebelum akhirnya menyambutnya. Neji menyelipkan jari-jemarinya yang panjang di sela-sela jemari istrinya, lalu menggenggam tangannya dengan mantap. Tiba-tiba saja Sakura merasa gugup. Ini adalah kali pertama Neji menggandeng tangannya seperti ini, dan di hadapan para anggota klan pula.

.

.

Seluruh anggota klan Hyuuga sudah berkumpul di kediaman Souke ketika Sakura akhirnya tiba di sana bersama rombongan. Rokudaime Hokage, Uzumaki Naruto, bersama sang istri yang sedang hamil besar pun turut hadir di sana, berdampingan dengan sang Hyuuga Heir.

Ternyata ritual yang harus dijalaninya jauh lebih sederhana dari pada yang Sakura bayangkan sejak semalam. Setelah menjalani ritual doa –seperti yang biasa mereka lakukan di kuil—Neji membimbingnya untuk menemui para tetua dan memberi hormat pada mereka. Satu demi satu. Kemudian diperkenalkan secara terbuka pada seluruh anggota klan, Souke maupun Bunke. Dan mengingat anggota klan tidak hanya sebanyak sepuluh dua puluh orang saja, prosesi itu memakan waktu hingga menjelang sore.

Sampai akhirnya Sakura bisa beristirahat sejenak dan mengambil napas, kakinya serasa hampir putus saking seringnya dia berlutut dan bersimpuh.

"Lelah?" tanya seseorang yang baru saja memasuki ruangan tempatnya beristirahat.

Sakura menoleh ke arah pintu dan tersenyum mendapati sosok wanita yang dikenalnya itu. "Sedikit," jawabnya.

Uzumaki Hinata menggeser pintu hingga menutup di belakangnya, sebelum berjalan mendekat. Sakura buru-buru bangkit dan membantunya duduk di atas zabuton kosong di sebelahnya. Hamil besar tentu membuatnya kesulitan bergerak, bukan?

"Bukankah sudah kukatakan untuk beristirahat di rumah?" Sakura memadang iparnya itu dengan sorot mata khawatir.

Hinata tersenyum lembut. "Jangan lupa ini juga rumahku, Sakura-nee-san. Dan lagipula, aku tidak ingin melewatkan prosesi ini. Naruto-kun juga."

"Dia kelihatan canggung, si Naruto itu," Sakura berkata sambil tertawa kecil, teringat ekspresi Naruto yang harus duduk tenang dalam waktu yang lama bersama ayah mertua dan para kerabat Hyuuga. Mengingat selama ini Naruto adalah tipe orang yang tidak bisa diam.

"Dia sudah berusaha keras," Hinata mengangguk setuju. Mata lavendernya melembut. "Sakura-nee-san juga." Wanita berambut panjang itu mengulurkan tangannya, menggenggam tangan iparnya sambil tersenyum. "Aku benar-benar senang kita sudah resmi menjadi satu keluarga besar."

Sakura membalas remasan lembut tangan Hinata. "Aku juga," ujarnya tulus. "Apa setelah ini masih ada ritual lain?" tanya Sakura cemas setelah keduanya terdiam agak lama. "Apa masih ada sesuatu –atau seseorang yang harus kuberi hormat?"

Hinata menjawab dengan gelengan kepala dan tawa merdu. "Tidak ada lagi yang perlu diberi hormat, Onee-san. Setelah ini kita akan makan malam, hanya dengan para wanita. Neji-nii-san akan makan di tempat lain bersama para pria. Dan setelah itu…" semburat kemerahan muncul di kedua pipi Hinata yang seputih susu, "…kau akan dibawa ke kamar."

Sakura tertegun. Hampir saja dia melupakan ritual terpenting yang akan dijalaninya malam ini. Sejak tadi pikirannya terus disibukkan dengan acara berlutut-dan-memberi-hormat yang melelahkan sehingga melupakan hal-hal lain. Pipinya menghangat.

"Tidak perlu khawatir," ujar Hinata menenangkan sambil menepuk-nepuk punggung tangan Sakura, "Lakukan saja seperti biasa."

"Aku mengerti," Sakura mengangguk, tidak tahu harus menanggapi bagaimana lagi. Tentu saja, pikirnya, dengan pernikahan kami yang sudah berjalan beberapa hari, Hinata pasti mengira kami sudah pernah melakukan hubungan itu sebelumnya.

.

.

Makan malam usai lebih cepat dari yang Sakura harapkan, dan waktu berikutnya tiba-tiba saja dia sudah berada di ruang pribadi Hinata yang lama untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Kali ini, hanya Hinata dan Hanabi saja yang membantunya.

"Masih gugup?" tanya Hinata, seraya meremas spon yang telah dibasahi dengan air beraroma agar airnya mengalir di kulit punggung Sakura yang berkeringat, meninggalkan jejak tetesan air di sana.

"Sedikit," yang ditanyai menyahut pelan. Bagaimana dia tidak gugup jika ini adalah pengalamannya yang pertama?

Dan kikikan Hanabi tidak membuatnya merasa lebih baik. Hinata segera menyenggol adik perempuannya itu, melempar tatapan menegur padanya. Hanabi buru-buru berdehem.

"Aku jadi ingin tahu, Neji-nii-san gugup tidak, ya?" gadis dua puluh tahun itu tak bisa menahan cengirannya.

"Hanabi," tegur Hinata lagi, sambil menggelengkan kepala tanda tidak setuju.

"Gomen…" Hanabi mengerucutkan bibirnya.

"Ya sudah. Kau pergi sana ambil yukata yang dibawa Saori-ba-san di kamar."

"Hai, hai…"

Hanabi meletakkan spon-nya, bangkit berdiri dan bergegas pergi menuju ruangan lain untuk mengambil yang diminta kakak perempuannya. Tak lama kemudian, setelah tubuh Sakura bersih dan kering, Hanabi kembali. Dan berdua dengan Hinata, mereka membantu Sakura mengenakan yukata-nya.

Yukata itu berbahan ringan dan seputih salju tanpa motif dengan gradasi warna lavender di bagian pinggir. Begitu tipis sehingga Sakura khawatir tubuhnya akan tampak dari luar, terlebih karena dia tidak mengenakan pakaian lagi di dalamnya. –"Sakura-nee-san tidak akan membutuhkannya nanti," ujar Hinata dan lagi-lagi disambut kikik Hanabi.

Tetapi rupanya kekhawatiran Sakura tak beralasan. Yukata itu menutupi tubuhnya dengan sempurna. Tidak ada yang akan tahu jika dia tidak mengenakan apa pun di dalamnya kecuali dirinya sendiri.

Hanabi kemudian menarik lepas jepit yang menahan rambut Sakura, membuat helaian-helaian merah muda yang lembut itu terjatuh dengan luwes ke punggungnya. Sakura mengambil sisir yang diulurkan gadis itu padanya dan mulai merapikan rambutnya, sementara Hinata pergi untuk mengambil sesuatu di dalam lemari laci.

Hinata menaruh sebuah botol bening kecil di telapak tangan Sakura begitu Sakura sudah selesai. "Ini adalah wewangian yang sudah turun-temurun digunakan di keluargaku. Pakailah. Neji-nii-san pasti akan menyukainya."

"Ta—tapi, Hinata…"

Hinata tidak memberi kesempatan pada Sakura untuk menolak. Saat berikutnya dia sudah mengamit lengan iparnya itu, menggiringnya menuju pintu, di mana Saori-ba-san yang akan mengantarnya ke kamar sudah menunggu dengan setangkai lilin di tangannya sebagai penerangan.

.

.

Itu adalah sebuah kamar yang luas di salah satu bangunan kediaman Souke. Tidak seperti kamar yang mereka tempati di kediaman Bunke, ruangan itu tidak memiliki futon. Sebagai gantinya, adalah sebuah ranjang bertiang empat yang dihiasi ukiran-ukiran cantik. Kelambunya yang berwarna merah terlihat seperti melayang. Senada dengan warna kelambunya, ranjang itu pun dilapisi seprai satin yang sewarna dan selimut yang sedikit lebih gelap warnanya.

Dua buah meja diletakkan di kanan kiri ranjang, masing-masing diletakkan setangkai lilin berukir dan dupa yang menguarkan aroma harum yang samar-samar di atasnya. Dan di seberang ranjang, terdapat sebuah meja rendah bulat dengan lukisan lambang klan Hyuuga dan dua buah zabuton sutra yang bersulam benang keemasan. Di atas meja terdapat sebuah guci air dan dua cangkir tembikar yang serasi. Juga sebuah mangkuk keramik putih berisi cairan kecokelatan dan piring berisi makanan kecil berbentuk bunga teratai.

Ke sana lah Saori-ba-san menuntun Sakura ketika mereka memasuki kamar itu.

"Tunggulah di sini, Nak. Suamimu akan segera datang," ujar Saori-ba-san dengan senyum keibuan. Diletakkannya sebelah tangannya sesaat di bahu menantu keponakannya itu, menepuk-nepuknya dengan lembut. Lalu undur diri, meninggalkan Sakura yang gugup seorang diri di kamar itu.

Sakura menarik napas panjang, lalu mengedarkan pandangannya sekali lagi ke sekeliling ruangan itu untuk mengagumi dekorasinya. Benar-benar cantik, pikirnya. Tetapi itu tidak lantas membuat kegugupannya sirna. Terlebih ketika pandangannya terjatuh pada ranjang yang letaknya tak jauh dari tempatnya duduk sekarang. Sakura menelan ludahnya.

Di sanalah, Neji-san akan menjadikanku miliknya sepenuhnya malam ini…

Suara pintu yang digeser membuat Sakura nyaris terlonjak karena kaget. Dengan cepat dia menoleh ke sumber suara dan melihat Neji melangkah memasuki kamar, lalu menggeser kembali pintu itu hingga menutup. Pria itu mengenakan yukata putih bersih yang mirip dengan yang dikenakan Sakura. Bedanya, bagian depan yukata Neji dibiarkan sedikit longgar sehingga mengekspos dadanya yang putih dan bidang. Sakura buru-buru memalingkan wajahnya dan menunduk, memandangi kedua tangannya yang bertumpu di pangkuannya. Tiba-tiba saja dia merasa malu sendiri.

Neji berjalan ke arahnya, kemudian duduk bersila di atas zabuton di sebelah Sakura. Lama keduanya hanya duduk dalam keheningan. Beberapa kali terdengar suara langkah kaki di luar ruangan berdinding tipis itu, dan pikiran-pikiran aneh langsung menyerbu masuk dalam kepala Sakura.

Dindingnya begitu tipis, bagaimana kalau ada yang mengintip? Bagaimana kalau ada yang mendengar? Dan Sakura belum lupa pada fakta bahwa sekarang mereka berada di tempat yang dipenuhi para pengguna doujutsu Byakugan.

Seakan bisa membaca apa yang sedang dipikirkan istrinya, Neji bertutur tenang, "Ruangan ini sudah dilapisi dengan kekkai khusus. Tidak ada orang yang bisa mengintip, atau mencuri dengar dari luar. Bahkan Byakugan sekali pun tidak dapat menembusnya."

Sakura merasakan wajahnya menghangat. "H—Hai…"

Neji menatap istrinya yang masih tertunduk, menatap rambut merah mudanya yang tergerai halus di atas kain putih yukatanya, menatap bibir bawahnya yang terkulum dalam sikap gugup yang tak bisa disembunyikan, dan kedua tangannya yang diletakkan di pangkuan, saling remas.

"Gugup?" dia bertanya.

Sakura tidak menjawab dan diamnya itu diartikan Neji sebagai 'ya'. Dia kemudian mengulurkan tangannya, menyentuh sisi wajah Sakura. Hanya sebuah sentuhan kecil, tapi sanggup membuat wanita itu tersentak kaget. Dengan cepat dia menarik wajahnya. Mata emeraldnya melebar, dan detik berikutnya dia langsung menyesalinya ketika melihat ekspresi beku yang selintas dilihatnya di wajah Neji –sebelum wajah itu kembali rileks dan datar.

"G—Gomenasai—Neji-san…"

Namun Neji mengabaikan permintaan maaf Sakura dan hanya mengibaskan tangannya sekilas. Suasana mendadak terasa canggung. Hingga Sakura lah yang kemudian bergerak. Diambilnya guci air di atas meja dan menuangnya ke dalam dua cangkir yang tersedia. Kemudian diangsurkannya satu pada Neji dengan agak ragu. Awalnya Sakura mengira Neji akan menolaknya, tapi tidak. Neji mengambil cangkir itu dari tangannya dan menghirupnya perlahan. Sementara Sakura malah tidak menyentuh cangkirnya, masih was-was mengawasi suaminya.

Setelah Neji meletakkan cangkirnya kembali di atas meja, ia mengambil kue berbentuk bunga teratai kecil dari piring kudapan. Digigitnya setengah, dan kemudian setengahnya lagi dia sodorkan ke bibir Sakura. "Makan itu, Sakura."

"Apakah ini bagian dari ritual juga?" Sakura bertanya.

Neji menjawab dengan anggukan, kemudian menyuapkan potongan itu ke mulut sang istri saat Sakura membuka bibirnya dengan patuh. Sakura mengunyahnya perlahan-lahan. Manis…

"Bunga teratai beku*) adalah makanan yang umum dibuat oleh para wanita Hyuuga sejak beratus tahun yang lalu untuk pasangannya," tutur Neji kemudian, "Rasa manis dan aromanya yang harum adalah perlambang dari cinta kasih dan kesetiaan, pengabdian dan penyerahan diri. Dan sekarang, sudah menjadi tradisi bagi para wanita Hyuuga untuk membuatnya dan memakannya bersama suami mereka di malam pengantin. Ibuku membuatkannya untuk ayahku, begitu pula dengan ibu Hinata-sama membuatkannya untuk Hiashi-ji-sama. Bahkan Hinata-sama pun membuatkannya untuk Naruto ketika mereka menikah."

Sakura mengangguk. Kemudian dengan gerakan ragu, dia mengambil satu kue dari piring dan menyuapkannya pada Neji. Pria itu sedikit terkejut, tetapi tidak menampiknya. Digigitnya separuh, lalu mengawasi ketika Sakura memasukkan sisanya ke dalam mulutnya sendiri.

Selesai dengan kue teratai itu, Neji mengambil mangkuk porselen berisi cairan kecokelatan, mengangsurkannya pada Sakura. "Minumlah ini."

"A—Apa ini?" tanya Sakura, memandang isi mangkuk itu dengan penasaran.

"Bukan sesuatu yang berbahaya, kukira," jawab Neji.

Percaya sepenuhnya pada kata-kata Neji, Sakura mengambil mangkuk itu dari tangan suaminya. Dia sedikit mengendusnya ketika bibir mangkuk itu sudah dekat ke bibirnya. Baunya sedikit aneh –percampuran antara bau pil prajurit yang biasa dibuatnya dan obat batuk. Dan rasanya juga tak kalah aneh.

"Saori-ba-san memberitahuku kalau itu adalah ramuan untuk menyuburkan kandungan," Neji berkata dengan nada datar.

Sakura nyaris tersedak, tetapi ditahannya sekuat tenaga. Sudah terlanjur, pikirnya, maka ditandaskannya isi mangkuk itu. Rasa pahitnya sedikit membuat mual. Dan untuk menghilangkannya, Sakura mengambil satu kue lagi dan menjejalkannya ke dalam mulut. Dia menarik napas lega begitu rasa manis dari kue itu menyebar di dalam mulutnya, menggantikan rasa pahit.

"Daijoubu?"

"Nng…" Sakura mengangguk cepat, menelan dengan susah payah kue di mulutnya. Dia menerimanya ketika Neji mengangsurkan cangkir berisi air padanya. "Arigatou…"

"Aa."

Sakura memalingkan wajahnya untuk minum sementara Neji mengawasinya. Setelah selesai, Sakura menurunkan gelas itu dan membiarkan Neji mengambilnya dari tangannya untuk diletakkan di atas meja.

Sudah waktunya…

Sakura merasakan degup jantungnya semakin cepat ketika Neji meraih tangannya dan membimbingnya berdiri, kemudian tanpa bicara membawanya berjalan ke ranjang. Setelah sampai di sisi ranjang, Neji meletakkan kedua tangannya di bahu Sakura, sedikit mendorongnya agar duduk. Sakura menurut, dan tak lama Neji juga duduk di sampingnya, sedikit menyerong sehingga posisi mereka berhadapan.

Sakura menundukkan wajahnya dalam-dalam. Tangannya yang ditangkupkan di pangkuannya mulai terasa dingin dan berkeringat. Dia menunggu… sampai kemudian dirasakannya tangan Neji di dagunya, mengangkatnya sehingga dia bisa melihat wajah istrinya dengan jelas.

Ragu, Sakura balas menatap suaminya dan melihat wajah datar yang sama. Tidak, tidak sama. Entah hanya pantulan dari cahaya lilin yang membias di kelambu merah atau memang wajah pria itu terlihat memerah. Tanda kutukan di keningnya terlihat berkilau oleh keringat yang entah sejak kapan ada di sana. Bahkan aliran chakra-nya pun –Sakura bisa merasakannya—mengalir lebih cepat dan aura panas terasa menguar dari tubuh suaminya itu.

"N—Neji-san, daijoubu ka?"

Neji memejamkan matanya beberapa saat sementara ekspresi seperti menahan sakit muncul di wajahnya. Kemudian, perlahan Sakura merasakan semuanya kembali normal. Wajah Neji kembali rileks dan dia kembali membuka matanya. "Iie… daijoubu." Neji menatapnya dalam-dalam, membuat wanita di depannya itu kembali gugup. "Daijoubu, Sakura…"

Dan Sakura memejamkan matanya, ketika Neji mencondongkan tubuh ke arahnya sambil memegangi kedua bahunya, menyentuhkan bibir ke dahinya dengan lembut. Sakura menelan ludahnya. Tangan kanannya meremas tangan kirinya semakin kuat ketika dirasakannya bibir Neji berpindah ke pipinya, mengecupnya di sana, lalu pipi yang satunya lagi. Ujung hidungnya, dagunya, kemudian bibirnya. Hanya sapuan yang sangat lembut dan tidak memaksa. Tetapi cukup untuk membuat seluruh tubuh Sakura gemetaran.

Sakura menahan napas, ketika tangan Neji berpindah untuk melonggarkan ikatan pada yukata yang dikenakannya, ketika merasakan ikatan itu perlahan melonggar dan akhirnya terlepas. Dia bergidik, ketika udara kamar yang dingin menyapu tubuhnya yang kini terbuka sepenuhnya. Kedua matanya masih terpejam rapat, masih belum siap untuk melihat apa yang terjadi setelahnya. Ketika punggungnya yang tak terlindung menyentuh ranjang berlapis kain satin, ketika merasakan hangat tubuh suaminya merangkumnya dari atas. Neji kembali menciumnya dengan lembut sepanjang garis rahangnya, lehernya, pundaknya…

Tiba-tiba saja Sakura merasa takut –sangat takut. Dia masih belum siap.

Dan air mata itu terjatuh dari sudut mata Sakura yang masih terkatup tanpa bisa ditahan. Dia memalingkan wajahnya, disusul sebuah rintihan kecil yang lolos dari bibirnya.

"Sakura…"

Sakura merasakan Neji menghentikan gerakannya. Kedua tangannya yang saling remas di atas dadanya sedikit mengejang ketika tangan Neji menyentuh bagian itu. Tangan Neji meremas tangannya dengan kaku –hanya sekilas, sebelum tangan itu meninggalkannya. Sakura menggigit bibirnya kuat-kuat, menunggu dengan cemas apa yang akan dilakukan suaminya setelah ini…

Tetapi tidak ada yang terjadi, hingga kemudian Sakura merasakan Neji bergerak menjauh darinya. Tak lama selembar selimut tebal ditarik menutupi tubuhnya yang terbuka.

Ragu, Sakura memberanikan diri membuka matanya. Di sebelahnya, Neji telah berbaring miring memunggunginya, seperti yang biasa dia lakukan ketika tidur di kamar mereka yang biasa. Punggungnya terbuka, sementara bagian bawah tubuhnya tersembunyi di balik selimut. Yukata mereka teronggok begitu saja di bawah ranjang.

"N—Neji-san?" suara Sakura terdengar bergetar.

Namun hanya kesunyian yang menjawabnya. Neji tidak bergerak di tempatnya.

Sakura merasakan hatinya mencelos.

Ada apa? Kenapa –kenapa berhenti? Beribu tanya bermunculan di benak Sakura, menggantikan ketakutannya dengan perasaan bingung yang teramat sangat. Dipandanginya punggung sang suami yang bergerak-gerak halus seirama aliran napasnya yang tenang, bertanya-tanya apakah ada yang salah? Apakah dia telah melakukan kesalahan sehingga membuat suaminya enggan?

Sakura terus berpikir, sembari terus menatap punggung Neji yang entah mengapa terasa sangat jauh. Hingga akhirnya lilin mencair sepenuhnya dan padam, hingga kantuk akhirnya menyergapnya, hingga malam berlalu dan pagi menjelang.

Neji sama sekali tidak menyentuhnya.

.

.

Bersambung

.

.

*) A Frozen Flower (kuterjemahkan jadi bunga teratai beku. Gaje.. =_=), diambil dari film Korea berjudul sama. Kue bunga yang diberikan Permasuri di film itu ke pengawal Hong Lim. Disarankan buat fans-nya Jo In Sung, apalagi adik-adik yang umurnya masih di bawah 21 tahun dan yang gak suka yaoi, jangan coba-coba nonton film itu deh. Ntar ilfeel sama Jo In Sung-nya kaya saya (saya nonton film itu karena kepingin lihat si ganteng Jo In Sung-oppa). Huhuhu… T.T Lagian rate-nya MA. Parah banget.. =_=a

Chapter ini sebenarnya sudah selesai jauh-jauh hari, tapi saya ragu-ragu setiap mau publish. Kalau dilihat di atas, walaupun bukan lemon (saya gak sanggup nulis lemon. Duh!), tapi tetep aja… *blush* Mudah-mudahan ini masih termasuk kategori 'aman'. Dan chapter ini isinya cuma prosesi doang. Gomen kalo membosankan dan gaje dan jelek, yah.. *gak pede mode on* =_=

Btw, sekedar pemberitahuan aja. Ini kutulis berdasarkan sudut pandangnya Sakura saja. Kalau Neji, biarlah apa yang dia pikir dan rasakan tetap menjadi misteri sampai di chapter-chapter terakhir. Gimana perasaannya ke Sakura, barangkali bisa ditebak-tebak dari sikapnya aja yah. ^^

Arigato gozaimasu buat yang sudah mereview chapter lalu,

Fuyuzakura-hime, Mamehatsuki, VamPs 9irL, Arzhetty Granger aka Intan (ganti pen-name lagi, say? ^^), aya-na rifa'i, J0e, lady e. marionette, acchan lawliet, Ciaxx, Kinsa Ka-chan Kazama, Riku Aida, chrysothemis, Uchiha Sakura97, No Name (siapa, ya? Enggak ada namanya…), Just Ana, kin-chan, kuraishi cha22dhen, cherrysakusasu (yang review 2 kali.. ^^), Mayuura, Michi-chi-chi, hehe, D'Lampion, sava kaladze, kakkoii-chan, Fun-Ny Chan.

Yang udah ngefave tanpa mereview juga, arigato… *bowed* ^_^