Pair: Neji x Hinata
Disclaimer: Lihat chapter sebelumnya ya…
Warning: OOC, misstype, gak jelas, dan membingungkan.
.
.
.
Happy Birthday
.
.
.
"O-ohayo…"
Pagi hari, tanggal 3 Juli.
Seharusnya segalanya jadi sepurna hari ini, tapi ini jelas-jelas berbeda jauh dari harapanku. Aku tak mengerti, kenapa? Sepertinya ada yang aneh dari sikapnya pagi ini.
Biasanya dia selalu tersenyum dan menyapaku dengan hangat, tapi kali ini, bahkan menyadari kehadiranku pun dia tidak. Jika seandainya aku yang berdiri tepat di hadapannya tak menyapa lebih dulu, dia mungkin akan lewat begitu saja tanpa melihatku.
Ini aneh. sungguh aneh.
Saat dia mengadahkan wajah dan aku bisa melihat warna matanya yang sama denganku, biasanya akan ada suasana hening yang hangat dalam waktu lama. Tapi sekarang, dia buru-buru mengerjap dan berbalik.
Aku tahu, ada yang tak beres dengannya.
"A-aku pergi dulu, Niisan…"
Bahkan dari suaranya dia terdengar gugup. Ada apa dengannya hingga bersikap begitu? Ada apa denganku hingga menerima sikap yang tak biasa ini darinya?
"Ya."
Aku menyahut, tapi dia sudah tak ada di sini untuk mendengar.
-:-
-:-
-:-
"Neji, kau kenapa?"
Memangnya ada apa denganku?
"Siapa, sih yang kau lihat? Eh? Itu kan, Hinata! Wah, ada Naruto juga!"
Lee berisik. Dia terlalu berisik. Hentikan itu sekarang juga atau aku akan-
"Hei! Naruto! Hinata!"
Aku seharusnya menolak ajakan Lee untuk makan di Yakiniku Q, tadi.
"Hai Lee! Hai Neji!"
Dia menyapa dengan cengiran lebar, berpura-pura tak tahu ada masalah apa. Dia memang hebat, dengan rambut pirang dan mata biru, dia sama sekali tak terlihat seperti kami yang orang Asia.
"Uhm… h-hai Lee-san, Neji-nii."
Apa aku harus berubah pirang?
Kami! Bahkan wajah Hinata berubah seperti kepiting rebus. Sebegitusukanya kah dia pada Uzumaki ini? Bahkan hanya dengan ketahuan jalan bersamanya wajahnya sudah seperti itu.
"Hinata, aku akan ke Yakiniku Q dengan Neji, kau mau ikut? Naruto juga, mau ikut?"
Ikut. Ikut. Ikut. Ikut. Ikut. Ikut. Ikut. Ikut. Ikut. Ikut.
"M-maaf… a-aku dan Naruto-kun tidak bisa."
"Kenapa?"
"Eh? Neji? Kau ini yang kenapa? Kenapa nada bicaramu jadi aneh begitu?"
Lee berisik. Lee berisik. Lee…
"Berisik."
Aku langsung pergi meninggalkan mereka. Lee mengikutiku dari belakang sambil berteriak memanggil namaku. Aku menghiraukannya. Langkahku perlahan melambat. Aku mengepalkan tanganku keras sambil menyuarakan sebuah harapan kecil dalam hati.
Ayo. Tarik tanganku, kejar aku, panggil namaku.
Tapi dia tetap diam dan mengabaikanku. Saat aku berbalik, mereka berdua sudah hilang.
"Kau ini kenapa, sih?"
Yang tersisa cuma aku dan Lee yang akan pergi ke Yakiniku Q.
Tanggal 3 Juli, siang hari di Konoha.
Hari terburukku.
-:-
-:-
-:-
"Ada apa denganmu?"
"Biasa saja."
"Memangnya ada apa dengan Neji, Lee?"
Aku lebih tertarik pada Yakiniku ini. Aku bosan pada Lee yang terus bertanya hal yang sama ratusan kali, dan sekarang, Tenten ikut-ikutan.
"Dia benar-benar aneh."
"HAH? Benarkah itu, Lee?"
Guru Gai juga sama saja. lagi pula, apa yang membuatnya terkejut begitu? Aneh? Dia kan jauh lebih aneh.
"Seharian ini dia lesu sekali. Semangat masa mudanya sama sekali tak ada."
Karena aku bukan kau. Ingin rasanya bilang begitu.
"Lagi pula, dia menatap tajam pada semua orang siang ini. Bahkan pada Hinata. Kau tahu kan, Tenten-chan, Hinata itu selalu gugup kalau ditatap seperti itu. Wajahnya saja sampai memerah dan berkeringat."
Tidak. Tidak. Tidak. Lee salah. Hinata begitu karena berada di dekat si Naruto. Dia masih gugup dengan pemuda itu.
Aku benar, kan?
-:-
-:-
-:-
""Neji, ayo ikut!"
Tidak. Tidak. Tidak. Aku tidak mau. Apa-apaan tingkahnya itu? Hilangkan wajah bodoh itu. Kau tak tahu aku muak melihatmu?
"Ayo. Hinata yang memintaku."
Cengirannya membuatku mual. Tangannya membuat lenganku yang diseret sakit.
Bagus, bahkan Hinata menyuruh kekasihnya ini yang menemuiku.
Siang hari, 3 Juli, di depan Rumah Sakit Konoha, Naruto mengajakku ke suatu tempat yang katanya rahasia.
-:-
-:-
-:-
Kedai ramen paman Teuchi.
Seharusnya aku tahu.
"Selamat ulang tahun, Neji-kun!"
"Selamat ulang tahun, Neji!"
"Neji, meski umur tambah tua, tapi semangat tetap muda, ya?"
Apa-apaan komentar itu.
Aku langsung dikerubungi anggota rookie yang lain. Suasananya jadi sesak dan menjengkelkan. Saat diamat-amati lagi, aku tak melihat Hinata di sini. Bukannya tadi Naruto bilang dia yang menyuruhku datang? Jadi, dia di mana?
"Neji-nii…"
Saat aku berbalik dan melihatnya, aku akhirnya bernafas lega.
"S-selamat ulang tahun…"
Teman-teman yang lain mulai sedikit mengambil langkah, memberi ruang untukku melihatnya. Dia yang selalu menunduk malu, akhirnya kembali lagi padaku. Aku senang.
"Terimalah…"
Tangannya terjulur, ada sebuah kotak berwarna biru di sana.
"Terima kasih."
Saat mendengar komentarku, wajahnya terangkat. Refleks, aku mencari mata yang familiar dengan milikku. Lalu, suasana yang selalu kurindukan akhirnya terjadi lagi.
Tak ada kelopak bunga sakura atau dedaunan yang terbang, tak ada juga angin lembut yang membelai rambutnya yang indah. Tapi di kedai ramen yang sempit dan panas ini, aku melihatnya tersenyum lembut padaku. Hanya untukku.
"Tutup matamu."
Suaranya selalu lembut, aku selalu menurut. Saat aku terpejam, ada sesuatu yang menyentuh kelopak mataku. Begitu lembut dan memanjakan.
"S-selesai…" katanya, dan aku langsung membuka mata.
Sial! Kotoran mata!
Lalu dia tertawa kecil.
Aku jadi tersenyum.
Tanpa mempedulikan yang lain, aku langsung maju dan memeluknya. Dia tidak meronta, ku lihat Naruto juga tidak marah. Ada apa ini? Bukannya mereka pacaran?
"Hei, Sakura, ide pacarmu ini wajib dipertanyakan. Kenapa dia malah memilih tempat ini?" Ino menyenggol lengan Sakura-san, "Panas, sumpek, sempit…"
"Hah… jangan tanya padaku. Salahkan Naruto."
Aku salah sangka.
"Selamat ulang tahun…"
"Terima kasih."
Akan selalu begini. Setiap tanggal 3 Juli, Hinata akan datang dan memberikan sebuah hadiah padaku. Aku berharap dia segera kehabisan ide untuk memberiku apa. Dengan begitu, aku akan menuntut hatinya untukku. Ide brilian? Iya, aku memang Hyuuga terhebat.
"Kita kencan, ya?"
Tapi nyatanya aku juga tidak sabaran.
"Y-ya."
Dia, Hinata yang pantang menyerah. Aku, Neji yang selalu berusaha. Mungkin kami berdua bukan kombinasi terbaik, tapi selalu ada celah yang menanti untuk dilengkapi. Di hari tuaku nanti, aku akan mengingat memori hari ini.
.
.
.
Happy birthday, Neji-kun! Meskipun gak ikut di traktir ramen, author tetap senang atas bertambahnya usiamu kok. Semoga makin keren ya…
Ini dirikues sama uchihyuu nagisa dan Nerazurri… semoga gak kecewa dengan hasilnya.
Saya bukan cowok, maka dari itu saya lemah untuk nulis pov cowok. Tapi sudah saya usahakan. Semoga reader gak kapok baca fic ooc yang nyeleneh ini. #bow.
Terima kasih kembali buat Ira Julian. Saya senang banget karena ternyata hasilnya gak terlalu mengecewakan.
Kurang panjang? Duh… saya emang gak bisa bikin fic panjang. Bahkan yang bagian GaaHina yang udah jadi aja gak sampe 1000 words. Saya memang payah…
Salam kenal juga buat chibi tsukiko chan… Gak papa baru review… saya maklum… #sendirinya juga jarang ngereview punya orang.
Terima kasih juga buat teman-teman yang lain. Saya gak akan berarti tanpa kalian, para readers dan reviewer… maaf gak disebutin satu-satu… nanti an-nya jadi kepanjangan dan bikin eneg para readers yang ngebaca.
Tapi saya benar-benar berterima kasih.
Mind to Review?
-:- H. Kazuki -:-
