ACCIDENTALY MARRIED

©Byun Min Hwa_2016

###########

Chapter 2 ― One Night Stand

Cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol, etc. (GS for Uke)

Rate: M/NC-21!

WARN: Vulgar Words, Sex Scene, Mature Contents. Don't try to read for under age!

.

.

Summary: Byun Baekhyun. Seorang gadis liar penggila seks yang tak peduli dengan komitmen. Namun, suatu kejadian membuatnya harus terjebak dalam suatu ikatan yang disebut pernikahan. Sanggupkah dia menjalankannya?

.

.

Chapter 2

Baekhyun membuka mata dengan malas ketika cahaya silau menelusup melalui jendela apartemennya. Ia raih jam kecil yang berada tak jauh dari tempat tidur untuk mengecek pukul berapa sekarang. Setelah mengembalikan benda kecil itu ke tempat semula, ia sibak selimut yang menutupi tubuhnya dan perlahan melangkah gontai menuju kamar mandi.

Matanya masih setengah terpejam. Sesekali ia raba benda di sekitarnya sebagai pegangan supaya tidak terjatuh. Sesampainya di kamar mandi, ia hidupkan kran wastafel, berniat untuk membasuh mukanya yang masih kusut.

Tak ada yang Baekhyun lakukan selain menghembuskan napas kasar saat melihat wajahnya sendiri dari pantulan cermin. Wajah yang biasanya terlihat ayu dengan rona pipi yang menyala, berubah menjadi menyeramkan. Terlebih jika ditilik pada kedua bola matanya.

Lingkaran hitam tercetak jelas di bawah pelupuk mata Baekhyun. Sudah pasti itu efek karena dia yang tak bisa tidur dengan nyenyak semalaman. Kulitnya juga terlihat pucat seperti orang yang sedang sakit. Kondisinya saat ini jelas jauh dari kata baik.

.

.

Baekhyun membuka lemari penyimpanan persediaan bahan makanan di dapur. Kosong. Hanya tersedia beberapa bungkus ramyeon disana. Lemari pendinginnya pun sama. Tak ada sayur atau pun sekedar telur yang bisa ia buat untuk sarapan.

Akhirnya ia ambil sebungkus ramyeon dari dalam lemari. Tak menghiraukan alasan tidak sehat makan ramyeon untuk sarapan, perutnya benar-benar meronta minta di isi sekarang juga. Segera ia nyalakan kompor untuk mengolah makanan instant tersebut.

Beberapa menit kemudian, Baekhyun bawa ramyeon yang telah matang menuju meja makan.

"Emm sedapnya." Gumam Baekhyun ketika aroma sedap dari ramyeon menguar sampai penciumannya.

Ia tiup makanan yang masih mengepul panas itu sebelum memasukkannya ke dalam mulut. Baru saja satu sumpit ramyeon melewati kerongkongannya, Baekhyun tersedak. Ia bekap mulutnya dengan satu tangan kemudian berlari tergesa menuju kamar mandi.

Entah kenapa perutnya merasa mual. Ia pijat tengkuknya dengan menggunakan satu tangan, mencoba untuk memuntahkan sesuatu dari dalam perutnya.

"Hoek hoekk"

Tak ada apapun yang keluar dari dalam. Hanya lendir bening yang menjuntai dari mulutnya mengotori wastafel. Baekhyun sandarkan kedua tangannya pada sisi wastafel setelah membersihkan mulutnya yang sedikit kotor.

Setelahnya Baekhyun kembali berjalan gontai menuju kamar. Kondisi tubuh yang tidak fit seperti sekarang membuatnya stress. Ia butuh sesuatu yang dapat sedikit menenangkan pikirannya. Dibukanya laci buffet dan ia mengeluarkan sebungkus rokok yang tersimpan disana.

Ia langkahkan kakinya menuju balkon apartemen untuk mencari udara segar. Asap kepulan dari rokok yang ia hisap menguar saat Baekhyun membuka mulutnya. Sedikit ia mainkan asap tersebut hingga membentuk bundaran-bundaran kecil yang perlahan memudar tertiup angin.

Bukanlah hal yang tabu jika seorang wanita seperti Baekhyun memilih rokok sebagai pelampiasan mereka untuk melepas beban. Lagipula selama ini tidak ada yang melarangnya, karena Baekhyun adalah orang yang bebas semenjak ia beranjak remaja.

Pernah beberapa kali Kyungsoo memarahi kebiasaan buruk Baekhyun. Ia berkata jika rokok tidak baik untuk kesehatan terutama untuk rahim seorang wanita. Tapi Baekhyun tak pernah menggubrisnya hingga akhirnya Kyungsoo menyerah.

Pandangan Baekhyun menerawang. Memikirkan sebab dari hal yang membuat mood serta kondisi tubuhnya kacau seperti sekarang.

"Apa mungkin aku ― ah tidak tidak. Jangan berpikir bodoh Baekhyun." Monolognya sendiri sambil menggelengkan kepala mengusir prasangka yang baru saja terlintas di pikirannya.

Tidak mungkin jika apa yang ada di pikiran Baekhyun benar-benar terjadi. Selama ini ia selalu bermain bersih jika melakukan hubungan seks. Semua partnernya juga tau tentang hal itu. Baekhyun tak akan bersedia jika melakukannya tanpa pengaman.

Baekhyun kembali meyakinkan diri untuk mencoret alasan tersebut. Ia pikir jika pergi ke tempat biasanya ia melakukan yoga mungkin bisa memperbaiki kondisi tubuhnya. Dengan bercengkrama bersama teman-teman yoga yang ia kenal disana, moodnya akan kembali baik. Setidaknya untuk saat ini. Terus berdiam diri di apartemen hanya akan membuatnya berpikiran yang tidak-tidak.

.

.

Accidentally Married―

©Byun Min Hwa_2016

.

.

"Kau kenapa, Baek? Wajahmu terlihat pucat."

Minseok yang baru selesai berbicang dengan instruktur yoga baru mereka, datang menghampiri Baekhyun yang sedang sibuk mengelap wajahnya yang penuh keringat menggunakan handuk kecil.

"Aku sedang tidak enak badan, Min."

Minseok meneguk minuman dingin dari botol minumannya kemudian kembali menoleh pada Baekhyun.

"Sudah kau periksakan ke dokter?"

Baekhyun menggelengkan kepala membuat rambut hitamnya yang diikat ekor kuda bergoyang menyentuh punggungnya.

Mana mungkin Baekhyun mau pergi ke dokter. Dia paling benci dengan tempat yang bernama rumah sakit ataupun klinik. Bau obat yang menyengat serta segala hal yang di dominasi oleh warna serba putih itu benar-benar menyeramkan bagi Baekhyun.

"Mungkin aku hanya darah rendah." Jeda sejenak. "Euww bau apa ini?" Hidung mancung Baekhyun mengernyit saat mencium bau menyengat yang kembali membuat perutnya bergejolak.

Kepalanya mulai pusing. Sudah beberapa hari ini Baekhyun susah makan karena perutnya tidak mau menerima asupan sedikit pun. Setiap Baekhyun paksakan sesuatu masuk ke dalam mulutnya, makanan itu hanya akan berakhir keluar mengotori wastafel.

Minseok, teman yoga Baekhyun, menoleh pada sumber bau yang membuat Baekhyun mual. Tampak segerombolan wanita yang juga peserta yoga di tempat tersebut sedang berkerumun asik mengobrolkan sesuatu. Minseok yang penasaran, datang bergabung ke dalam kerumunan wanita disana.

"Apa yang mereka bicarakan?" tanya Baekhyun ketika Minseok telah kembali duduk di sampingnya.

"Hanya ibu-ibu muda. Berkumpul saling pamer masakan dan pengalaman."

"Baunya sangat tidak enak. Membuatku mual."

Baekhyun meneguk air untuk mengurangi rasa pahit di tenggorokannya akibat asam lambungnya naik.

"Itu hanya sandwich tuna, Baek. Bukankah kau pernah memakannya?" keluh Minseok. Baekhyun hanya mengangkat kedua bahu.

"Benarkah? Entah kenapa perutku terasa mual hanya karena mencium baunya." Baekhyun heran pada dirinya sendiri.

"Oh, ya. Dimana Yixing eonnie? Kenapa dia tidak masuk?" tanya Baekhyun pada Minseok yang sempat berbincang dengan instruktur baru pengganti Yixing.

"Kau tau 'kan Yixing eonnie sedang hamil? Dan kehamilannya sangat lemah, jadi dia harus banyak beristirahat di rumah." Jawab Minseok menatap miris pada Baekhyun.

"Ughh. Aku jadi takut sendiri mendengar kata-kata itu belakangan ini." Baekhyun bergidik ngeri.

"Maksudmu, hamil?" Baekhyun menganggukkan kepala.

"Justru itu, Baekhyun. Cepatlah menikah, jadi kau tidak akan terasa asing dengan kata itu." Minseok menyenggol bahu Baekhyun sambil terkikik geli melihat perubahan raut wajah Baekhyun yang kentara.

Baekhyun tahu ketika ia masuk dan keluar dalam hubungan dengan pria, satu hal semakin jelas. Lambat laun semua orang di sekitarnya akan menuntutnya untuk segera menuju pernikahan. Usianya yang menginjak 25 tahun bisa dibilang sudah cukup matang bagi wanita dewasa untuk membangun sebuah rumah tangga dengan seorang pria idamannya. Namun dalam benak Baekhyun, pernikahan sama artinya dengan kekacauan.

Pertentangan emosi, anak-anak akan mengancurkan hubungan mereka dengan meminta perhatian lebih, selain itu membutuhkan banyak ruang, sampai pada akhirnya hubungan mereka akan seperti hubungan pasangan lainnya. Apalagi kalau bukan perceraian. Dan anak yang tidak bersalah akan menjadi korban dari itu semua. Lalu, apakah Baekhyun akan membiarkan hal itu terjadi? Tidak, terima kasih. Menikah adalah kata terakhir yang akan dilakukannya jika dia sudah benar-benar putus asa hidup sendiri.

"Kau mau berkunjung ke rumahku? Kebetulan aku memasak banyak hari ini." Tawar Minseok pada Baekhyun.

"Tidak, Min. Terima kasih. Setelah ini aku mau mampir ke suatu tempat."

"Ahh begitu. Baiklah, aku pulang duluan, Baek. Jangan lupa untuk memeriksakan kesehatanmu."

Minseok berlalu pergi setelah melempar senyum pada Baekhyun.

"Sebut saja konyol. Tapi aku harus memastikannya sendiri setelah ini." Monolog Baekhyun sambil berdiri menjinjing tasnya untuk pulang.

.

.

Accidentally Married―

©Byun Min Hwa_2016

.

.

Baekhyun menggeram frustasi. Rambut panjangnya yang terurai dia jambak dengan kasar.

"Kenapa kau bisa sebodoh ini, Baekhyun!"

Baekhyun terus menyalahkan dirinya sendiri sejak lima belas menit yang lalu. Guratan kekesalan sekaligus ekpresi syok terpampang jelas di wajahnya. Mau tau apa yang terjadi dengan Baekhyun?

Tubuhnya kini tengah berdiri mematung diantara kotak-kotak persegi panjang kecil yang berserakan mengelilingi kaki mungilnya. Sepuluh stick berwarna putih memenuhi telapak tangannya yang tampak bergetar. Baekhyun menatap tak percaya pada kenyataan yang seolah menampar telak wajahnya.

Hal itu membuat kepalanya kembali pusing, diikuti dengan perutnya yang lagi-lagi terasa mual. Baekhyun langsung berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan semua makanan yang sempat dicernanya tadi siang. Mengabaikan sepuluh testpack yang berserakan di lantai dengan tanda plus merah di tengah benda putih tersebut.

Setelahnya Baekhyun terduduk lemas di lantai kamar mandi, mencoba mengingat semua laki-laki yang pernah berhubungan badan dengannya selama satu bulan ini. Memikirkan siapakah yang telah menanamkan benih ke dalam perutnya.

Dugaan pertama meluncur pada Kris, mantan kekasihnya. Mereka terakhir kali bertemu pada akhir bulan lalu. Baekhyun akui jika dia memang sempat berhubungan badan dengan Kris. Tapi Baekhyun masih ingat dengan jelas jika saat itu Kris menggunakan pengaman. Karena Kris juga memiliki prinsip yang sama seperti Baekhyun.

Kris ― coret dari list.

Kedua, Daehyun, partner seksnya. Terakhir kali mereka bertemu pertengahan bulan ini. Saat itu mereka belum sempat berhubungan badan karena Daehyun lupa membawa pengaman, dan Baekhyun tentu tidak mau ambil resiko jika nekat berhubungan dengannya.

Baekhyun kembali mencoba mengingat-ingat, kapan terakhir kali dia berhubungan badan dengan Daehyun. Pikirannya melayang pada satu hari sebelum dia mengakhiri hubungannya dengan Kris.

Yap. Mereka berhubungan badan tapi Daehyun memakai pengaman saat itu. Baekhyun ingat dengan jelas karena dia sendiri yang memasangnya.

'Mungkinkah pengamannya tidak berfungsi?'

Baekhyun menggigit kukunya efek dari rasa cemas dan takut yang dirasakan. Tubuhnya yang sudah berdiri dari lantai mulai mondar-mandir kesana kemari sudah seperti sebuah setrika diatas baju kusut.

Tanpa sadar matanya menatap ke arah pintu kamar mandi yang terbuka. Terfokus pada sebuah topeng bercorak yang tergantung di dinding kamarnya. Oleh-oleh dari perjalanan bulan madu Kyungsoo dan Jongin setelah acara pesta pernikahan mereka sebulan yang lalu.

Pesta pernikahan Kyungsoo dan Jongin

Pernikahan Kyungsoo dan Jongin

Pernikahan Kyungsoo

Kyungsoo!

Pikiran Baekhyun mulai terbuka dan teringat pada sebuah peristiwa saat pesta pernikahan Kyungsoo. Ingatannya mulai muncul satu persatu bak rol film yang sedang diputar dan sukses membuat Baekhyun terperangah.

'Bisa-bisanya aku melupakan malam itu. Malam kebodohan yang berlipat-lipat!'


Flashback

"Cinta adalah sebuah keputusan, itu adalah sebuah janji. Jika cinta hanya berdasar pada perasaan, maka tidak akan ada dasar untuk berjanji saling mencintai selamanya. Sebuah perasaan akan datang dan mungkin akan pergi. Tapi, ingat. Cinta sejati akan tetap bertahan sampai kapan pun."

Chanyeol tersenyum lembut pada kedua mempelai yang menghayati setiap kata yang diucapkan olehnya. Jongin menggenggam erat tangan Kyungsoo dengan pandangan mata menyiratkan cinta yang dalam untuk istrinya.

"Mari kita bersulang untuk kedua mempelai yang berbahagia ini."

Chanyeol mengangkat gelasnya ke atas sambil mengedarkan pandangan pada seluruh tamu yang ikut mengangkat gelasnya dengan senyum mengembang di wajah mereka.

Pandangannya berhenti ke arah Baekhyun yang membalas tatapannya sambil bergumam tanpa suara pada Chanyeol.

'Not bad'

Sudut bibir Chanyeol naik membentuk seringaian ketika menerima pujian tak ikhlas dari Baekhyun. Keduanya meneguk habis minuman di tangan masing-masing masih dengan saling melempar tatapan yang tajam.

.

.

Alunan melodi romantis mengalun di ruangan. Para tamu undangan tampak sibuk berdansa dengan pasangannya masing-masing. Beberapa orang yang tak membawa pasangan, memilih untuk berkumpul di sudut dan saling bercengkrama satu sama lain.

Tak lama Chanyeol muncul menganggu pasangan Jongin dan Kyungsoo yang saling berpelukan di tengah kerumunan orang yang sedang berdansa.

Chanyeol sengaja menarik Kyungsoo untuk berdansa dengannya. Jongin terkikik geli ketika menyerahkan Kyungsoo yang cemberut karena ulah jail Chanyeol.

Setelahnya Jongin keluar dari kerumunan tersebut dan langsung berhadapan dengan Baekhyun.

"Mau berdansa?" Tawar Baekhyun.

Jongin terdiam cukup lama, kemudian dengan ragu-ragu menyambut uluran tangan Baekhyun. Baekhyun membawa kedua tangan kaku Jongin bersandar di pinggangnya, sedangkan kedua tangan Baekhyun telah melingkar pada leher Jongin.

"Masih seagresif biasanya, Baekhyun." Baekhyun tertawa kecil mendengar sindiran Jongin.

"Kau mengenalku dengan baik." Sahut Baekhyun.

Lambat laun tubuh kaku Jongin menjadi rileks dalam merengkuh tubuh Baekhyun. Jongin membawa tubuh Baekhyun untuk semakin menempel pada tubuhnya. Baekhyun mengerutkan kening, saat melihat senyum aneh pada wajah Jongin yang tak seperti biasanya.

"Jangan lepaskan pelukanmu." Bisik Jongin pada Baekhyun.

Baekhyun tak yakin dengan apa yang ia dengar dari ucapan suami sahabatnya. Namun tiba-tiba saja pundaknya disentuh atau lebih tepatnya dicengkram oleh seseorang.

Kyungsoo muncul dari belakang dengan wajah marah. Melihat hal itu Jongin langsung melepaskan kedua tangannya pada pinggang Baekhyun sambil menyeringai. Kyungsoo menyipitkan mata menatap bergantian pada wajah bingung Baekhyun dan suaminya yang terus menyeringai.

Tiba-tiba saja Jongin meraup tubuh Kyungsoo dan langsung menciumnya. Mata Kyungsoo terbelalak ketika Jongin telah melepaskan ciumannya. Ibu jari Jongin bergerak untuk mengusap bibir basah Kyungsoo.

"Aku selalu suka melihat wajah cemberutmu."

Baekhyun yang masih berdiri di dekat kedua pasangan tersebut hanya memutar bola matanya jengah. Kehadiran Chanyeol yang sempat menghilang membuat Baekhyun semakin ingin pergi dari tempat tersebut. Namun tangannya telah lebih dulu dicekal oleh Kyungsoo.

"Tolong jaga sepupuku." Kyungsoo menyatukan tangan Baekhyun dan Chanyeol sambil tersenyum menggoda dan sengaja pergi meninggalkan kedua orang tersebut.

Sepeninggal pasangan pengantin baru itu, Baekhyun dan Chanyeol terdiam cukup lama. Hingga akhirnya Chanyeol memberanikan diri untuk merengkuh tubuh Baekhyun dan mengajaknya berdansa.

"Apa boleh buat. Terpaksa karena aku begitu ingin berdansa." Keluhan Chanyeol sukses membuat Baekhyun kesal. Baekhyun melengos sedikit muak menatap wajah pria yang berada di depannya.

"Seharusnya aku yang berkata seperti itu, Pak tua." Sindir Baekhyun.

Mata Chanyeol menyipit dari balik kaca matanya.

"Aku belum setua itu, gadis kecil."

"Oh, ya? Berapa umurmu? Biar kutebak. 30, 40? Ah atau 45?"

Baekhyun semakin mendekatkan tubuhnya membuat payudaranya menempel dengan erat pada dada Chanyeol.

"29. Jangan menambah umurku seenaknya."

"Really? Oh my God, look at yourself." Baekhyun menilai penampilan Chanyeol dari atas hingga bawah dengan senyum mengejek terpatri di bibirnya.

Sebenarnya tak ada yang salah dengan penampilan Chanyeol. Dia hanya terlihat terlalu formal. Selalu memakai setelan jas yang dikancing layaknya CEO, sepatu mengkilap, gagang kacamata yang kuno dan rambut yang disisir ke belakang terlampau rapi. Namun tetap saja ketampanannya sulit untuk diabaikan oleh wanita manapun, kecuali Baekhyun mungkin.

"Oh, ya? Aku rasa tak ada yang salah dengan penampilanku yang memang mencerminkan penampilan seorang pria dewasa." Baekhyun tertawa remeh.

"Coba lihat dirimu sendiri. Penampilanmu selalu membuatmu tampak lebih tua dariku." Kini giliran Chanyeol yang menilai penampilan Baekhyun sama seperti saat dirinya diperlakukan tadi.

Ucapan Chanyeol membuat Baekhyun geram dan berniat menjauhkan tubuhnya dari Chanyeol. Namun dengan sigap Chanyeol menarik tangan Baekhyun dan memutar tubuhnya hingga kembali menempel pada tubuh Chanyeol. Alisnya melengkung melihat ekspresi yang ditampilkan oleh Baekhyun.

"Kenapa? Kau tidak terbiasa melawan pria dewasa?" tanya Chanyeol dengan nada mengejek.

"Bisa ku yakinkan padamu aku sudah sangat terbiasa dengan kalian yang mengaku sebagai pria dewasa. Justru mungkin dirimulah yang tidak terbiasa dengan gadis berpengalaman sepertiku." Bisik Baekhyun yang kini kembali memegang obor kemenangan.

Chanyeol mendekatkatkan wajahnya pada Baekhyun. Menyisakan jarak beberapa mili diantara keduanya. Sampai hembusan nafas hangat Chanyeol menerpa wajah cantik Baekhyun.

"Kau harus mencobanya dulu sebelum memberi penilaian, Nona Byun." Bibir mereka hampir bersentuhan pada setiap kata yang diucapkan Chanyeol. Membuat Baekhyun harus menahan napasnya untuk tidak mendesah akibat panas yang dialirkan Chanyeol karena jarak mereka yang sangat dekat.

Alunan musik telah berhenti dan para pelayan pun masuk ke dalam ruangan dengan membawa nampan yang berisi minuman. Salah seorang pelayan datang menghampiri Chanyeol dan Baekhyun untuk menawarkan minum. Chanyeol dan Baekhyun yang kini sudah tidak berdekatan lagi saling berhadapan mencoba mengontrol emosi masing-masing.

Kedua orang itu mengambil minuman secara serentak dan langsung meneguk habis gelas pertama. Setelahnya Chanyeol kembali mengambil gelas kedua. Baekhyun yang tak mau kalah, ikut menenggak minuman kedua, ketiga dan seterusnya sampai mereka berdua dilanda mabuk berat.

.

.

.

"Kau tau bukan seper ―hik―ti itu. Hik." Baekhyun terkikik geli ketika menduduki tubuh Chanyeol. Chanyeol yang berada di bawahnya tampak berantakan karena ulah Baekhyun. Masih memakai dasi dengan kemeja yang sudah terbuka. Tangan Chanyeol yang berada di payudara Baekhyun kembali terjatuh ke samping tubuhnya.

"Biarkan aku melakukannya sendiri. Kau tak perlu mendikteku." Bibir Chanyeol mengerucut ke depan. Cemberut dengan wajah yang merah akibat terlalu banyak meneguk alcohol. Bibirnya nampak merah karena terdapat penuh bekas lipstick Baekhyun.

Chanyeol menjauhkan tubuhnya dari Baekhyun dan memunggunginya. Sedangkan Baekhyun masih terkikik geli sambil sesekali cegukan melihat Chanyeol yang cemberut. Dipeluknya tubuh Chanyeol dari belakang, dagunya ia sandarkan pada bahu Chanyeol.

"Baiklah. Lakukan apa yang kau ―hik―mau Chan."

Chanyeol langsung bangkit dan menghimpit tubuh Baekhyun yang hanya dibalut celana dalam berenda. Wajahnya yang merah menyeringai, tampak menggemaskan dengan kacamata miring dan rambut berantakan.

Tangan Baekhyun melepaskan kacamata Chanyeol yang tampak mengganggu. Matanya tampak sayu berwarna biru, bias dengan lingkaran abu-abu di tepinya. Namun kilauan dari mata Chanyeol menimbulkan perasaan aneh di hati Baekhyun.

Baekhyun tidak suka dengan perasaan aneh yang ditimbulkan oleh sorot mata Chanyeol dan kembali memasangkan kacamata itu ke tempatnya semula.

"Jangan lepaskan kacamatamu." Perintah Baekhyun membuat Chanyeol bingung.

"Kacamata ini mengganggu." Chanyeol melempar kacamatanya ke sudut tempat tidur yang membuat Baekhyun gelisah.

Belum sempat Baekhyun meraih kacamata itu kembali, Chanyeol sudah meremas payudaranya terlebih dahulu dan membawa punggung Baekhyun menempel di tubuh bagian depan Chanyeol, duduk di pangkuannya.

Baekhyun mengerang akibat sentuhan brutal Chanyeol. Jari-jarinya yang panjang memainkan puting Baekhyun hingga mengeras.

"Aahhh… Chanh ― tunggu. Kaca ― emhh." Kata-kata Baekhyun berbaur dengan desahan dan erangannya.

Lidah Chanyeol mendarat di belakang telinganya dimana titik sensitive Baekhyun berada. Kepala Baekhyun menengadah bersandar pada bahu Chanyeol. Tangannya yang menganggur meremas-remas rambut Chanyeol dari belakang hingga membuatnya semakin berantakan.

Salah satu tangan Chanyeol turun ke bawah menyusuri perutnya yang rata sampai menelusup pada celana dalam Baekhyun. Jari-jari panjangnya bermain didalam sana.

"Kau sudah sangat basah." Chanyeol mencium bibir Baekhyun yang terbuka, melesakkan lidahnya ke dalam mulut Baekhyun.

"Chan… Ahh… Chan… Hmh… Aku sudah ―,"

"Keluarkan Baekhyun, aku ingin melihatmu."

Chanyeol semakin cepat mengerakkan jari-jarinya di dalam lubang Baekhyun. Tubuh Baekhyun melengkung ke belakang membuat payudara montoknya membusung. Menampilkan tubuh terindah yang pernah Chanyeol lihat dan membuat ereksinya mengeras.

Baekhyun berteriak dan mendesahkan nama Chanyeol saat dia mencapai pelepasannya. Sedangkan Chanyeol menjilat jari-jarinya sendiri yang sudah basah oleh cairan kewanitaan Baekhyun.

Baekhyun yang sudah bisa mengatur nafas, tangannya bergerak turun ke belakang tubuh menyentuh kejantanan Chanyeol yang semakin membesar.

"Giliranmu."

Chanyeol mengerang saat Baekhyun meremas kejantannya yang masih terbungkus celana. Cepat-cepat dia singkirkan tangan Baekhyun untuk menghentikan usapannya.

"Tidak. Aku ingin memuaskan diriku, di dalam sana."

Chanyeol kembali membawa tubuh Baekhyun telungkup di tempat tidur. Melepaskan celana dalam renda milik Baekhyun dan melempar semua pakaiannya sendiri ke lantai.

Chanyeol sedikit merunduk untuk mencium leher belakang Baekhyun, lalu berlanjut turun pada punggung mulusnya. Tangannya ia gunakan untuk mengusap perut datar Baekhyun.

Baekhyun mengerang menerima servis dari Chanyeol, tangannya menggenggam seprai dengan kuat akibat rasa nikmat yang menderanya.

Tidak mau membuang waktu lagi, tangan Chanyeol bergerak menaikkan pinggul Baekhyun ke atas hingga Baekhyun menungging. Chanyeol memposisikan kejantanannya yang sudah siap di depan organ intim Baekhyun.

"Aakhhh." Kejantanan Chanyeol dapat masuk dengan mudah karena kewanitaan Baekhyun yang sudah basah.

Chanyeol mulai menggerakkan pinggulnya maju-mundur secara perlahan.

"Baekh, kau sangat… Nik―math… ahh." Chanyeol menggeram merasakan sensasi lubang Baekhyun yang begitu kuat menghisapnya.

Baekhyun ikut menggerakkan pinggulnya berlawanan arah dengan Chanyeol. Mencoba menemukan irama dari gerakan Chanyeol yang cepat dan kuat. Menggali puncak kenikmatan yang mereka berdua rasakan.

Tangan Chanyeol berada di bokong Baekhyun. Mencengkram benda bulat dan kenyal itu. Dari bawah Baekhyun bisa mendengar suara Chanyeol yang terengah-engah disela geramannya.

"Shit! Kau sempit sekali Baekh… ahh."

"Chanye―ol. Eunghh. Aakhh!"

Baekhyun menjerit saat kejantanan Chanyeol menumbuk mulut rahimnya. Mengantarkan Baekhyun pada tepi orgasmenya.

"Sshh… aah."

"Chanh―aaghh!" Baekhyun memekik ketika klimaks sudah menjemput dirinya. Dinding organ intim Baekhyun mengetat dan membuat Chanyeol mendesis saat cairan spermanya memenuhi bagian dalam Baekhyun. Kemudian tubuh Chanyeol ambruk menyusul Baekhyun yang sudah terlelap dibawahnya.

.

.

Baekhyun dan Chanyeol disergap rasa terkejut saat terbangun secara bersamaan. Keduanya langsung bangkit duduk membuat jarak supaya tidak terlalu dekat.

Keadaan tempat tidur yang kacau balau terlebih keadaan tubuh mereka yang telanjang bulat semakin membuat suasana menjadi canggung. Kegiatan saling berebut selimut untuk menutupi tubuh polos masing-masing pun tak bisa dihindari.

Baekhyun yang tak mau mengalah akhirnya berhasil memenangkan selimut tersebut untuk dirinya. Chanyeol yang kelimpungan segera meraih bantal untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.

Masih dengan ekspresi bingung Chanyeol meraih kacamatanya di sudut ranjang ketika Baekhyun berdeham untuk memulai pembicaraan.

"Dengar. Yang kita lakukan tadi malam benar-benar membingungkan." Chanyeol mengernyitkan dahinya kemudian mengangguk kecil.

"Kita dalam kondisi mabuk berat tadi malam."

"Iya, mabuk berat." Jawab Chanyeol mem-beo sembari mengedarkan seluruh pandangan menuju ke lantai berusaha mencari pakaiannya.

"Kita sama sekali tidak mengingat apa yang kita lakukan tadi malam."

Baekhyun dan Chanyeol saling menatap. Pernyataan itu tentu saja salah karena sebenarnya mereka berdua bisa mengingat dengan jelas apa yang terjadi semalam. Mereka menggelengkan kepala munafik berusaha untuk menepis ingatan sialan itu.

"Ya. Kita tidak mengingat apa-apa." Jawab Chanyeol tegas.

"Jadi, mari kita lupakan semuanya dan anggap ini tidak pernah terjadi." Baekhyun mengulurkan tangannya meminta persetujuan kesepakatan dari Chanyeol.

Chanyeol dengan mudah menerima uluran tangan Baekhyun. "Ya. Aku setuju."

Flashback off


Baekhyun terbangun dari lamunannya ketika mendengar nada dering dari ponselnya. Tertera nama Kyungsoo pada layar benda tersebut.

"Hai, Baek! Kami menunggumu di rumah malam ini." Teriak Kyungsoo dari sebrang.

"Emm, Kyung. Apa Chanyeol juga datang?" tanya Baekhyun cemas.

"Tentu saja. Aku barusan menghubunginya dan dia sedang dalam perjalanan kemari. Kau bisa datang 'kan?"

"…"

"Baek?"

"…"

"Halo, Baekhyun? Kau masih disana?"

"Ah, iya. Maaf, Kyung. Ne, aku pasti akan datang."

PIP!

Baekhyun mendesah frustasi karena merasa belum siap untuk bertemu dengan sepupu sahabatnya itu.

.

.

Accidentally Married―

©Byun Min Hwa_2016

.

.

Baekhyun merasa gugup saat keluar dari mobilnya dan berjalan menuju pintu depan rumah orang tua Kyungsoo. Disamping rumah tersebut terdapat sebuah rumah sederhana yang dulunya adalah rumah Baekhyun bersama neneknya. Namun rumah tersebut kini telah berpindah ke tangan orang lain.

Baekhyun menjual rumah itu beberapa bulan setelah neneknya meninggal. Baekhyun tak sanggup jika harus terus tinggal di dalam sana. Seluruh kenangan bersama nenek yang merawatnya semenjak kecil hanya membuat dadanya terasa sesak. Dan akhirnya dia memilih untuk tinggal di apartemennya sekarang.

Baekhyun memejamkan mata, mendoakan neneknya yang kini telah berada di surga dan memohon perlindungan untuk masalah yang kini tengah dihadapinya seorang diri.

.

.

Jongin membukakan pintu ketika mendengar ketukan dari depan. Senyum cerahnya berubah menjadi rasa cemas saat menatap wajah pucat serta lingkar hitam dibawah pelupuk mata Baekhyun.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya seraya mempersilahkan Baekhyun masuk ke dalam rumah. Baekhyun hanya mengangguk kecil sembari tersenyum.

Jongin membawa Baekhyun masuk menemui Kyungsoo beserta keluarga yang telah siap di meja makan. Kyungsoo yang duduk di depan ibunya langsung bangkit untuk menyambut Baekhyun. Raut wajahnya tak berbeda jauh dengan Jongin ketika melihat wajah pucat Baekhyun.

"Kau sakit?" tanya Kyungsoo cemas. Baekhyun menggerakkan tangannya menyuruh Kyungsoo untuk duduk kembali.

"Aku baik-baik saja, Kyung. Oh ya, aku ingin mencium pipi yang berulang tahun hari ini."

Baekhyun menghampiri ibu Kyungsoo yang sudah merentangkan kedua tangannya untuk Baekhyun. Tubuh Baekhyun sedikit merunduk ketika memeluk tubuh ibu Kyungsoo yang lebih pendek darinya.

"Aku merindukanmu, anakku." Ucap Sungmin, ibu Kyungsoo.

"Aku juga merindukanmu, Bi. Selamat ulang tahun." Baekhyun mencium kedua pipi Sungmin yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri.

"Kami masih kecewa dengan keputusanmu untuk pindah. Membuat kami susah menemuimu, Baekkie-ah." Ketus Kyuhyun yang tak lain adalah ayah Kyungsoo yang bangkit dan ikut memeluk Baekhyun.

"Aku ingin mencoba hidup mandiri, Paman." Jawab Baekhyun dengan memasang senyum meyakinkan pada dua orang tua yang sangat menyayanginya itu.

"Ah, apa pestanya bisa dimulai?" lanjutnya.

"Pesta tidak akan dimulai kalau anggota keluarga belum lengkap." Baekhyun mengernyit mendengar jawaban dari Kyuhyun.

"Karena kau sudah datang, sekarang kita tinggal menunggu Chanyeol." Kali ini Sungmin yang menyahut. Baekhyun bisa merasakan perutnya menjadi tegang ketika nama Chanyeol disebut.

Perutnya semakin tegang ketika mendengar Kyungsoo membukakan pintu untuk menyambut tamu yang baru saja datang. Siapa lagi kalau bukan Chanyeol.

Kyungsoo kembali menuju ruang makan mendekati Jongin yang berdiri disamping Baekhyun di sudut ruangan. Chanyeol kemudian muncul masih dengan penampilannya yang seperti biasa.

Wajah Chanyeol tampak senang ketika bibinya langsung memeluk tubuh tinggi Chanyeol.

"Kenapa kau lama sekali?" tanya Sungmin.

"Rapatnya lebih lama dari yang diperkirakan, Bi." Jawab Chanyeol dengan menunjukkan raut wajah merasa bersalah.

Chanyeol tersenyum canggung ketika mendapati Baekhyun yang juga berada di ruangan itu. Sedikit heran karena melihat Baekhyun seolah menyembunyikan tubuhnya di belakang Jongin.

Baekhyun membalas senyum Chanyeol dengan setengah hati. Isi kepalanya penuh memikirkan bagaimana caranya memberitahu kalau Chanyeol telah menanamkan benih di dalam perutnya. Dan pemikiran itu membuat Baekhyun sedikit diselimuti amarah.

"Chanyeol?" Suara lembut yang berasal dari ruang tamu membuat mereka semua terkejut.

"Siapa itu?" tanya Sungmin yang masih mendekap tubuh Chanyeol.

Senyum canggung Chanyeol berubah menjadi sumringah sambil mengedipkan mata genit pada bibinya.

"Aku disini!" seru Chanyeol.

Sosok wanita karir elegan muncul dengan rambut pirang panjang yang tampak halus membingkai wajah keibuannya yang lembut.

Wajah manis itu tersenyum pada Sungmin yang kini terperangah melihat sosoknya dan Chanyeol yang mengusap tengkuknya, bergantian.

Sungmin mengerling pada Kyungsoo yang juga terkejut mendapati sepupunya yang selalu sendiri itu kini membawa seorang wanita ke rumah.

"Bibi, perkenalkan, ini Luhan. Dan Luhan, ini bibiku tercinta yang sedang berulang tahun." Chanyeol merangkul pundak bibinya yang menerima uluran tangan Luhan.

"Maaf karena sudah mengganggu acara keluarga ini." Ujar Luhan canggung.

"Tidak perlu sungkan. Kami sangat senang jika Chanyeol membawa temannya." Jawab Sungmin sambil menepuk-nepuk ringan punggung tangan Luhan.

"Kau manis sekali, Nak." Puji Kyuhyun yang seketika membuat pipi Luhan merona.

"Ck. Tidak sadar dengan umur." Sindir Sungmin yang langsung disusul gelak tawa oleh seluruh orang disana, terkecuali Baekhyun yang terus diam tak bernafsu untuk bersuara.

"Kau tidak mau mengenalkanku dengan kekasihmu, Yeol?" goda Kyungsoo yang kini telah berdiri disampingnya.

Kyungsoo mengulurkan tangannya, dan Luhan dengan senyum manis di wajahnya menerima uluran tangan Kyungsoo. Mendengar pertanyaan Kyungsoo, Chanyeol langsung mencubit pipi chubby sepupunya itu.

"Eyy, dia ini klienku, Kyung. Kebetulan kami habis mengadakan rapat untuk membahas kerja sama kami. Tak ada salahnya 'kan jika aku mengajaknya kemari." Ucap Chanyeol.

"Aku akan menyiapkan kuenya." Ucap Baekhyun seraya mengambil kotak kue dari tangan Jongin dan beranjak menuju dapur.

Baekhyun menghentakkan kue itu di atas meja. Amarahnya seketika naik saat melihat wanita yang berdiri di samping Chanyeol. Sambil mendengus Baekhyun memegang pisau dan memotong kue itu menjadi potongan kecil.

'Bisa-bisanya dia bersenang-senang di atas penderitaanku. Brengsek. Akan kubuat senyum itu hilang dari wajah bodohnya.'

Baekhyun terus mengutuk Chanyeol dalam hati. Tanpa sadar tangannya yang menggenggam pisau terus mencincang kue ulang tahun itu hingga menjadi potongan-potongan yang sangat kecil.

"Ada yang bisa ku bantu?" tanya Luhan yang tiba-tiba muncul. Mata rusanya menatap polos pada Baekhyun yang sedang berusaha menahan geram semenjak kedatangannya di rumah ini.

"Dia bisa mengerjakannya sendiri, Lu. Kau tidak usah repot-repot membantunya."

Chanyeol ikut muncul di belakang Luhan. Baekhyun menggigit bibir bawahnya berusaha menahan amarah yang semakin tersulut.

Baekhyun mengangkat kepala, senyum ―palsu― yang kelewat ceria ia berikan pada Luhan.

"Benar. Kau tak perlu repot-repot membantuku, Luhan." Jawab Baekhyun dengan suara yang sengaja dialun-alunkan.

Baekhyun mengambil piring datar dari rak dan mulai menata beberapa potong kue yang sempat selamat dari cincangannya di atas piring.

"See? Gadis itu sangat mandiri. Dia tidak suka kalau ada orang baik yang mau menolongnya."

Baekhyun hanya diam menahan amarah yang sudah memuncak akibat sindiran yang dilayangkan Chanyeol.

"Kau akan melihat tanduknya jika kau bersikeras ingin membantu dan menyentuh hasil kerjanya. Uuuhh."

Chanyeol menggerakkan jari-jarinya di depan wajah Luhan, menirukan suara-suara yang menakutkan. Baekhyun yang sudah tidak tahan, melempar kain usang yang digunakannya untuk membersihkan meja ke wajah Chanyeol.

"Ya! Apa yang kau ―"

"Pergi saja kau ke neraka!" seru Baekhyun sambil melangkahkan kakinya keluar dari dapur.

"Kenapa dia marah-marah? Aku 'kan memujinya." Ucap Chanyeol merasa tak bersalah pada Luhan yang kini menyilangkan lengan di depan dada dan menatap tak percaya pada Chanyeol.

"Kau sebut itu pujian? Kami sebagai wanita menganggapnya sebuah sindiran Yoda." Luhan mengambil kain yang dilempar oleh Baekhyun dan kembali menaruhnya di meja.

"Aku memang tidak mengerti pikiran wanita." Jawab Chanyeol sambil mengusap tengkuknya. Luhan menyentuh lengan Chanyeol manja dan tersenyum lembut padanya.

"Kau tidak perlu mengerti. Cukup lihat dan pahami saja."

.

.

Baekhyun terus menjadi korban sindiran Chanyeol selama makan malam. Seluruh keluarga Kyungsoo pun sudah terbiasa akan perang mulut mereka berdua. Baekhyun dan Chanyeol memang sudah terkenal tidak pernah akur semenjak Kyungsoo mengenalkannya. Ada saja hal yang mereka perdebatkan, walau itu masalah yang tidak penting sekalipun. Keluarga Kyungsoo bahkan membuat papan score untuk menentukan siapa pemenang di akhir makan malam yang penuh dengan cercaan ini.

Mereka bisa menebak jika malam ini Chanyeol-lah yang menang. Karena Baekhyun tampak memilih untuk lebih banyak diam dan hanya melayangkan tatapan tajamnya pada Chanyeol. Tangannya juga tampak mengaduk-aduk makanan secara kasar menggunakan garpu. Tak berniat sedikitpun untuk menyentuh makanan tersebut.

'Brengsek. Kau lihat saja nanti. Aku akan menggemparkan seluruh isi kantormu besok pagi.'

.

.

Accidentally Married―

©Byun Min Hwa_2016

.

.

Baekhyun benar-benar membuktikan sumpah serapahnya tadi malam. Kaki mungilnya kini telah berdiri di depan meja resepsionis yang bekerja di perusahaan milik Chanyeol.

"Aku ingin menemui atasanmu." Ujarnya angkuh.

"Maaf, Nona. Apakah Anda sudah membuat janji dengan sajangnim?" tanya sang resepsionis.

"Perlukah? Bilang saja ada yang mau menemuinya. Apa susahnya?"

"Maaf. Tapi Anda harus membuat janji terlebih dahulu untuk menemui beliau."

Baekhyun mendengus kasar. Dia ingin cepat-cepat menemui pria keparat itu namun si resepsionis ini malah menahannya. Beberapa pegawai yang melintas di lantai tersebut sempat memusatkan perhatiannya pada keributan yang sedang terjadi.

"Yoona-ssi, ada apa ribut-ribut?"

Seorang lelaki berparas tampan dengan senyum malaikatnya datang menghampiri meja resepsionis.

"Joonmyeon-ssi? Emm, Nona ini ingin bertemu dengan sajangnim. Tapi tidak membuat janji terlebih dahulu sebelumnya." Ucap Yoona lirih merasa takut pada tatapan tajam Baekhyun.

"Saya Kim Joonmyeon, sekretaris dari Park Chanyeol sajangnim. Ada yang bisa saya bantu, Nona?" Joonmyeon tetap memasang senyum ramahnya sebagai etiket.

"Oh, benarkah? Kebetulan sekali. Bilang pada atasanmu itu jika aku sahabat dari kerabatnya, ingin bicara empat mata dengannya."

"Tapi Nona ―"

"Bilang padanya namaku Baekhyun. Byun Baekhyun."

Joonmyeon menghela napas pasrah. Ia lebih memilih untuk mengalah daripada terus berdebat dengan Baekhyun dan menjadi tontonan banyak orang.

.

.

Joonmyeon memasuki ruang kerja Chanyeol setelah dipersilahkan oleh atasannya itu.

"Ada yang ingin bertemu dengan Anda, sajangnim."

Chanyeol berhenti membalik dokumennya. Ia alihkan perhatiannya pada Joonmyeon yang sedang berdiri menunggu jawabannya. Seingatnya dia tidak memiliki janji dengan siapapun hari ini. Akhir-akhir ini memang banyak orang yang iseng dan tidak berkepentingan meminta untuk bertemu dengan Chanyeol. Kali ini siapa lagi?

"Sudah ku bilang jangan menerima tamu manapun jika belum membuat janji denganku."

"Tapi Nona itu bilang dia sahabat dari kerabat Anda, sajangnim."

Chanyeol mengernyit heran. Ia topang dagunya dengan menggunakan kedua tangan.

"Siapa namanya?"

"Baekhyun. Byun Baekhyun."

Chanyeol sempat terpaku dan berpikir untuk apa wanita itu datang menemuinya ke kantor.

"Suruh dia masuk."

"Baik, sajangnim."

Tak lama seorang wanita bertubuh mungil memasuki ruang kerja Chanyeol. Tidak ada keramahan sama sekali dari wajah Baekhyun, namun dia berusaha untuk menyembunyikannya sebaik mungkin. Kacamata hitamnya ia lepaskan ketika telah berdiri di hadapan Chanyeol.

"Duduklah." Chanyeol menunjuk sofa kosong di depannya, kemudian segera bangkit dari kursi kekuasaannya dan berjalan memutar menuju sofa untuk duduk bersama Baekhyun.

Chanyeol duduk bersandar pada sofa dengan posisi kedua tangan direntangkan. Wajahnya ia angkat sedikit memasang tampang yang tak kalah angkuh dari Baekhyun.

"Suatu kehormatan bagiku kau datang kemari sepagi ini. Ada angin apa?" Baekhyun yang duduk bersebrangan dengan Chanyeol mengepalkan kedua tangan disisi kanan kiri tubuhnya. Belum apa-apa dia sudah mendapat sindiran dari Chanyeol.

"Tak perlu basa-basi Chanyeol. Langsung saja pada intinya." Chanyeol sempat tertegun mendengar nada bicara Baekhyun yang sangat serius. Namun dengan cepat dia bisa mengatur ekspresi wajahnya sedatar mungkin.

"Baiklah. Apa yang ingin kau katakan?"

"Aku hamil."

.

.

.

.

To Be Continue―


[A/N]:

Anyyeong readers-nim!

Nah-nah, siapa kemaren yang ketipu? Sebenarnya Ceye nggak se-nerd itu ya, hemm cuma terlalu formal aja sih penampilannya. Namanya juga pria karir (?) Tapi dia selalu always tetep ganteng bin vangsad kapanpun dan dimanapun kkk~

Dan, astaga. ByunBaek hamil anaknya Ceye? Horray! *tebar confetti*. Ada yang bisa nebak gimana reaksi Chanyeol waktu Baekhyun ngasih tau soal kehamilannya? Ayo-ayo layangkan imajinasi kalian lagi sebelum chap depan update hihi.

Maapkeun belom bisa bales atu-atu reviewnya, saoloh soalnya aku aja bingung balesnya gimana saking seneng baca review kalian. Jangan bosen buat terus kasih review ya readers tercinta! Buat yang masih jadi silent readers, ayo deh aku nunggu kalian muncul, jangan jadi hantu gentayangan ya~

Sekalian promo FF Oneshoot terbaruku. Buat yang belum baca silahkan klik di list story-ku ya, judulnya 'Love Rain' . Sumpah sepi banget tu FF. Bolehlah mampir bentar :3

Cukup sekian cuap-cuapnya, ntar malah jadi cerpen kalo nambah lagi -_-


Special thanks to :

Choi 96 ǁ Rly. ǁ Asmaul ǁ Byun Nayeol ǁ chanbaek mp ǁ exindira ǁ Chanbaekhunlove ǁ Chan ǁ saaa ǁ ChanBMine ǁ nidaputriawalia ǁ fvirliani ǁ chankybaek ǁ leeminoznurhayati ǁ Rmsfxxo ǁ anxbyul ǁ Baby niz 137 ǁ chenbanana ǁ Kim Eri ǁ Della265 ǁ SanHyunLOL ǁ phantom.d'esprit ǁ JonginDO ǁ Luhanssi ǁ dimpleryeong ǁ exofujosh ǁ imbaek ǁ Sylph ǁ Byunnparkǁ Chanbaek00 ǁ fuckyeahSeKaiYeol

Mohon maaf kalau ada salah pengetikan nama.


With Love,

~Byun Min Hwa