ada yang nanyain LINE saya, hehehe. tenang aja, semua fict di LINE itu akan saya post di sini. jadi nggak perlu repot-repot nambahin saya jadi teman, cuma bakal menuhin timeline LINE sama postan gaje saya. hehe.
btw, cerita kali ini nggak saya edit. original dari timeline LINE saya. jadi harap dimaklumi typo dan kesalahan lainnya.
walau pun cerita ini ditandai complete, bukan berarti complete beneran ya. ngerti kan maksudnya? hehe

terimakasih untuk tujuh orang yang sudah ninggalin jejak di review. salam kenal!

XXX

Jin menghela nafas untuk yang kesekian kali sejak setengah jam yang lalu. mungkin dalam hidupnya, ini setengah jam tersulit. sebelumnya memang tidak pernah sesulit ini.

Jin melirik dengan sudut matanya sekali lagi. menghela nafas lagi. menepuk dadanya kuat-kuat lagi. berusaha agar sesak di dadanya berkurang sedikit.

sejak awal memutuskan untuk ikut tinggal bersama Yoongi di rumah sewa ini, Jin merasa akan ada hal yang salah. tapi Jin tidak menyangka masalah itu adalah urusan hati. dia pikir dia hanya akan bertemu dengan teman-teman yang tidak menyukainya, seperti selalu. tapi tidak. Hoseok baik padanya, membuatnya tertawa saat moodnya tidak baik. Jungkook, yang paling muda diantara mereka, memperlakukannya dengan sangat istimewa. Yoongi, sahabatnya sejak umur 5 tahun itu pun selalu baik. begitu juga dengan Namjoon. lelaki bersurai pink lembut dengan dimples yang sangat mempesona. Namjoon juga baik.

Namjoon baik juga mempesona dan dia mematahkan hati Jin sejak pertama kali mereka bertemu. padahal Jin jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya.

Jin suka dengan mata teduh Namjoon. dengan bibir penuhnya. dengan pipi bertulang tinggi dan chubbynya. dengan dimplesnya yang mempesona. dengan surai pink lembut milik Namjoon. Jin suka semuanya sejak Yoongi mengenalkan mereka. dan Jin patah hati disaat yang bersamaan saat Yoongi bilang Namjoon adalah kekasihnya.

Jin yakin, Namjoon adalah cinta pertamanya selama 22 tahun dia hidup. dia tidak pernah berdebar sekuat itu pada seseorang. dia tidak pernah menangis karena patah hati pada orang yang baru dia kenal kurang dari 24 jam.

Jin pikir setelah waktu berjalan dia akan terbiasa. patah hatinya akan hilang. meski nyatanya, berbulan-bulan sejak itu, rasanya justru semakin membumbung tinggi. menyakitinya.

XXX

Namjoon mengalungkan lengannya pada leher Yoongi. keduanya duduk di sofa depan TV ruang tengah rumah sewa mereka. menonton serial barat dengan semangkuk besar popcorn. Namjoon sedari tadi tidak berhenti melirik punggung lebar Jin yang duduk membelakangi mereka.

Namjoon suka punggung lebar Jin. suka dengan kulit Jin meski tidak seputih Yoongi. suka dengan rambut coklat Jin, terasa halus saat dia tidak sengaja mengelusnya bulan lalu. suka dengan bibir Jin yang terlihat merekah saat tertawa. suka dengan tawa Jin. suka dengan kacamata bulat yang membingkai wajah cantik Jin setiap kali Jin membaca. Namjoon suka, sejak pertama kali berjabat tangan dengan Jin.

Namjoon mematahkan hatinya sendiri saat pertama kali mereka berkenalan. karena Jin adalah sahabat kekasihnya sendiri. ah, maaf saja jika Namjoon berkhianat diam-diam. selama 6 bulan berkisah dengan Yoongi, ini pertama kalinya dia merasa sangat tertarik pada orang lain. bahkan lebih tertarik dari pada dengan Yoongi dulu. Namjoon merasa, seharusnya dia berkisah dengan Jin. bukan Yoongi. seketika semua hal bersama Yoongi terasa salah.

Namjoon jatuh cinta, pada sahabat kekasihnya sendiri.

"yah, apa menurutmu dia pembunuhnya?" tanya Yoongi, menyikut perutnya keras.

"ku rasa ya," jawab Namjoon. "yah, Yoongi. apa Jin selalu penyendiri?"

Yoongi mengangguk. "temannya hanya aku sejak dulu. itu kenapa aku membawanya ikut tinggal disini karena aku ingin dia punya teman yang lain."

"kenapa dia tidak punya teman lain?"

"Jin dulu sangat jelek. anak paling jelek di sekolah. tidak seperti sekarang."

sekarang dia secantik putri, padahal dia laki-laki, batin Namjoon.

"kau menyukainya?"

Namjoon menatap Yoongi yang menengadah menatapnya. "aku boleh menyukainya?"

Yoongi diam. lalu mengangguk. "aku akan menghajarmu lebih dulu lalu kau boleh memilikinya."

Namjoon tertawa, takut, saat mendengar Yoongi juga tertawa. Yoongi lelaki yang berpegang pada ucapannya. dan Namjoon memutuskan bahwa dia tidak mau dirinya terluka, maka lebih baik dia diam.

XXX

Namjoon dan Yoongi lagi-lagi sedang berpelukan di sofa di depan TV. Yoongi bersandar di dada Namjoon, dan Namjoon mengalungkan tangannya di leher Yoongi. Namjoon tersenyum setiap kali Yoongi tertawa.

sementara Jin, duduk di meja makan. memandang keduanya diam-diam. Jin menghela nafas, lagi. mungkin dia hanya iri, bukan benar-benar naksir Namjoon. tapi... yang dia inginkan melingkari tubuhnya adalah tangan Namjoon.

Jin merengek sendirian. dia menidurkan kepalanya di atas meja. seharusnya dia ikut saja dengan Hoseok dan Jungkook berbelanja, bukan malah tinggal dan melihat keduanya bermesraan.

Jin ingin pindah saja. tapi dia tidak enak mengatakan hal itu pada Yoongi. jika bertahan dia sakit hati. Jin hanya bisa meratapi dirinya saja jadinya. sekalinya jatuh cinta, pada kekasih orang. sahabatnya sendiri.

"Jin?" panggil Yoongi.

"disini," sahut Jin.

Yoongi menghampirinya. "ah, aku pergi dulu. dosenku ingin bertemu. mungkin sampai malam. kau yang menyiapkan malam jika Jungkook dan Hoseok sudah pulang, ok?"

Jin mengangguk. "bersama Namjoon?"

Yoongi menggeleng. "aku... sendirian," jawabnya. Jin melihat ada semburat merah di wajah sahabatnya itu. "aku pergi."

Jin melambaikan tangan. kenapa Yoongi tersipu? apa dia ingin bertemu seseorang? atau... dia habis dicium Namjoon? Jin mengutuk pikiran terakhirnya. dia merengut lucu.

"haha, kau kenapa?" terdengar suara Namjoon yang kini sudah berdiri didepannya.

Jin tersentak. bayangan Namjoon dan Yoongi berciuman membuatnya kesal. "tidak. bukan urusanmu."

kening Namjoom berkerut. dia mengambil duduk di depan Jin. "kenapa kau selalu marah-marah padaku? kau tidak setuju aku berkencan dengan sahabatmu?"

aku tidak setuju karena aku menyukaimu, monster pink, batin Jin.

"maaf jika dulu tidak meminta ijinmu, Jin. saat kau baru pindah, kami juga baru mulai berkencan. aku berencana ingin berbicara denganmu tapi kau terus menghindariku. kau membenciku?"

Jin menggeleng cepat. mana bisa aku membencimu, batin Jin lagi.

"aku dan Yoongi, tidak dalam hubungan yang serius, Jin. kami memulai semuanya hanya karena sedang bosan. tidak benar-benar berkencan."

Jin merasa berdosa karena hatinya senang sekali saat mendengar itu dari Namjoon sendiri. tapi dia tidak boleh terlalu jelas. harga dirinya nomor satu. "untuk apa kau mengatakan itu padaku? tunggu, kau mempermainkan sahabatku?!"

"woo, tenang, Kim Seokjin. kami berdua memang sama-sama bermain-main, bukan hanya aku. aku memberitahumu karena... aku... hanya ingin kau tahu. itu saja."

Jin hampir tidak mempercayai matanya saat melihat semburat merah di wajah Namjoon. lelaki ini kenapa?

"Yoongi bertemu dengan Jimin. asisten dosen kalkulus yang dia taksir. sahabatmu mencampakkanku, kau tahu," kata Namjoon sambil terkekeh.

"kau tidak sedih?" tanya Jin, heran.

"aku sedih. kau mau membantuku menghilangkan kesedihanku? Jinnie-ah?" dan Namjoon menghadiahi kedipan sebelah mata andalannya untuk Jin.

XXX

jika tahu dia akan dicampakkan, lebih baik dari awal Namjoon tidak bermain-main dengan Yoongi. karena Yoongi adalah lelaki paling tidak punya hati yang dia kenal. tadi pagi mereka masih berpelukan di sofa ruang tengah, malam ini dia sudah menatap Yoongi yang sedang tersenyum sumringah mengenalkan Jimin yang datang bersamanya.

Namjoon sih tidak marah, toh dari awal dia dan Yoongi memang tidak seserius itu. hanya saja, bukankah cepat sekali? dia bahkan sudah menahan diri untuk menyukai Jin. rugi sekali dia rasanya.

"hey, matamu hampir melompat keluar," kata Jin. dia menyodorkan sekaleng bir.

"bukankah terlalu cepat anak itu membawa Jimin kemari?" tanya Namjoon, meneguk birnya.

"kau cemburu?" padahal Jinlah yang terdengar seperti itu.

Namjoon menggeleng cepat. "aku hanya kesal. aku menahan diri menyukai orang lain karena dia lalu dia langsung saja membawa orang lain ke rumah. Hoseok bahkan membawa Taehyung! hari ini hari pamer kekasih sedunia?" tanya Namjoon gusar.

Jin diam. dia tertunduk. jemarinya memutari atasan kaleng birnya. Namjoon menahan diri menyukai orang lain? malang sekali dirinya, lepas dari Yoongi, Namjoon sudah menyukai orang lain.

"hey, Jin," panggil Namjoon. "kau tidak sedang tertarik dengan seseorang?"

"sejujurnya, iya," jawab Jin. Namjoon merengut. "tapi dia tidak tertarik denganku."

"kenapa berpikir seperti itu? memangnya kau tidak menarik?"

"memangnya aku menarik?"

Namjoon mengerling. sexual tension tiba-tiba menguar diantara mereka. "kau menarik. sangat. matamu bagus dibalik kacamata bulat itu. bibirmu bagus. rambutmu halus. kulitmu. bahumu. punggungmu. aku suka semuanya."

wajah Jin memerah. "te-terimakasih."

"beruntung sekali. berarti hanya aku yang benar-benar sendirian di rumah. aku memiliki kekasih yang kini sedang bersama kekasihnya disana. selama berbulan-bulan diam-diam menyukai orang lain, tapi orang itu menyukai orang lain lagi. menyedihkan," kata Namjoon. dia bersandar di sofa, menutup matanya dengan lengannya. tertawa miris.

"aku menyukaimu," kata Jin, pelan. amat pelan. tapi cukup terdengar. dia tertunduk, menyembunyikan semburat merah diwajahnya. "aku cemburu tiap kali melihatmu memeluk Yoongi disini. aku ingin dipeluk seperti itu, disini, olehmu."

Namjoon duduk tegak-tegak. menatap Jin yang tertunduk. "aku berbulan-bulan menatapi punggungmu sambil memeluk Yoongi. aku takut dia menghajarku karena berani-beraninya naksir dengan sahabatnya."

Jin menatap Namjoon. keduanya bertatapan. lalu tersenyum. ternyata, berbulan-bulan keduanya sama saja. sungkan pada Yoongi, padahal tersiksa.

"aku akan bilang pada Yoongi," kata Namjoon.

"kau akan dihajarnya," kata Jin, khawatir.

"kau khawatir?" goda Namjoon. dia dengan cepat menarik Jin dalam dekapannya. mengalungkan tangannya di leher Jin. kali ini lebih dekat, penuh kasih sayang.

"te-tentu saja."

"biar saja. dihajar pun tak apa. asal bisa memelukmu seperti ini di sofa ini setiap hari. astaga. aku menyesal menahan diri berbulan-bulan," kata Namjoon, tertawa.

Jin ikut tertawa. "aku pun."

"hey, aku mencintaimu. kau tahu?"

"aku tahu, aku pun mencintaimu."

"YAH KIM NAMJOON! AKU AKAN MENGHAJARMU! SIALAN! BERANI-BERANINYA MENGENCANI SAHABATKU!" seru Yoongi tiba-tiba.

Namjoon dan Jin hanya tertawa, penuh cinta.