Blue Sky
Main Casts: Kim Jongin & Do Kyungsoo
Other Casts: EXO
Pairing: KAISOO :D dan lainnya
Genre: Romance/Drama
Rated: T
Warning: Typo berceceran, ejaan mungkin belum sesuai EYD, dan alur agak berantakan. GS! (Gender Switch). DLDR.
Disclaimer: Kaisoo milik Kaisoo Shipper dan Tuhan YME. Semua cast bukan milik saya—kecuali Kaisoo, hehe *bow—, tapi cerita sepenuhnya hasil kerja otak saya.
Read and review ya, readers yang baik dan cakep. :D
.
.
BLUE SKY
.
.
"Baiklah. Oh iya, hari ini kau tidak usah datang ke rumahku. Kami akan pergi menjenguk seseorang. Eomma bilang, dia minta maaf karena kemarin tidak sempat memberi tahumu."
.
.
~***~ Blue Sky ~***~
.
Suasana kelas sungguh sepi. Bukan karena tidak ada orang, melainkan semua murid sedang sibuk memaksakan otak mereka bekerja lebih keras. Lee ssaem mengetukkan jari telunjuknya ke meja beberapa kali. Matanya memicing, pandangannya menyapu seluruh penghuni kelas satu per satu.
.
"Ssaem," tiba-tiba Kyungsoo mengangkat tangannya.
"Ada apa, Kyungsoo?"
"Ng… itu… aku sudah selesai," Kyungsoo menjawab ragu-ragu.
Semua murid, termasuk Baekhyun, melongo mendengar ucapan Kyungsoo. Dia sudah selesai mengerjakan 50 soal biologi—yang tidak mudah tentunya—hanya dalam waktu 30 menit. Hebatnya lagi, semua soal itu merupakan soal isian, tanpa ada pilihan ganda sama sekali.
"Benarkah? Kalau begitu, bawa lembar jawabanmu kemari dan kau boleh pulang," ujar Lee ssaem.
Kyungsoo merapikan tasnya. Kemudian dia menyerahkan lembar kerjanya. Semua murid masih memandang Kyungsoo tak percaya. Setelah pamit kepada Lee ssaem, Kyungsoo sedikit melirik Baekhyun dan tersenyum, lalu melangkah meninggalkan kelas.
.
Langkah kaki Kyungsoo mengarah ke lantai dua. Dia sedang menuju sebuah ruangan, Klub Menyanyi. Sebenarnya, dia belum pernah ke sana, tapi Baekhyun bilang ruangan itu berada di lantai dua dan mudah ditemukan.
Benar saja, ruang Klub Menyanyi letaknya tidak jauh dari tangga. Hanya tinggal belok ke kiri beberapa langkah. Kyungsoo melihat ke dalam ruangan itu, tidak ada seorang pun. Ini memang belum waktunya pulang. Kyungsoo saja yang terlalu cepat pulang.
Kyungsoo memutuskan menunggu Baekhyun di depan ruang Klub tersebut. Dia mendudukkan dirinya di kursi dekat pintu.
.
TAP TAP TAP
TAP TAP
TAP
.
Seorang yeoja berlesung pipi sedang berlari menaiki anak tangga. Dia berhenti sebentar saat melihat Kyungsoo.
"Eh? Sedang apa kau di situ?" tanya yeoja itu sambil tersenyum dan menghampiri Kyungsoo, lalu mengulurkan tangannya. Kyungsoo hanya mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Annyeong. Aku Yixing. Zhang Yixing. Kau?"
"Annyeong. Aku Do Kyungsoo," Kyungsoo membalas uluran tangan Yixing.
"Do Kyungsoo? Jadi kau murid dari Jepang itu, ya?" Yixing memiringkan kepala dan mengetuk-ngetukkan telunjuknya ke dagu. Terlihat menggemaskan.
"Ne."
"Wah, akhirnya kita bertemu, Kyungsoo. Aigoo… kau imut sekali. Sedang apa sendirian di sini? Menunggu seseorang?"
Kyungsoo mengangguk.
"Aku menunggu Baekhyun. Hari ini aku akan mengikuti Klub Menyanyi bersama dengannya."
"Baekhyun? Bukankah kau sekelas dengannya? Kudengar kau masuk ke kelas 2-2."
"Benar. Bagaimana kau tahu?"
"Ada murid pindahan dari Jepang yang sangat cantik dan imut di kelas 2-2. Seantero sekolah mengetahuinya. Dan kelasku bersebelahan denganmu, asal kau tahu."
Kyungsoo tersenyum malu mendengarnya.
"Jadi, apa kau membolos, Kyungsoo?" tanya Yixing ketika melihat tas Kyungsoo.
"Anniyo. Tadi aku menjawab soal-soal dari Lee ssaem lebih cepat. Jadi aku di sini sekarang. Kau sendiri kenapa ke sini, Yixing?" Kyungsoo memasang wajah polosnya.
"Aku? God! Aku lupa. Aku sedang mencari seseorang." Wajah Yixing berubah panik.
"Siapa?"
"Namanya Jongin."
"Jongin? Kim… Jongin?"
"Benar. Kau mengenalnya?"
Kyungsoo mengangguk.
"Kau melihatnya?"
Kyungsoo menggeleng.
"Maaf, memang ada apa dengannya?" tanya Kyungsoo penasaran.
"Dia membolos pelajaran Choi ssaem. Ah, tidak. Bukan benar-benar bolos. Tadi dia pucat sekali, jadi aku menyuruhnya pergi ke ruang kesehatan. Aku khawatir dan ingin melihat keadaannya, tapi dia tidak ada di ruang kesehatan. Jadi, kupikir dia kabur ke Klub Menari. Itu ruangannya," Yixing menunjuk ruangan di depan mereka. Kemudian dia membuka pintu ruangan itu. Kyungsoo mengikuti di belakangnya.
.
"Jongin! Astaga!"
Yixing dan Kyungsoo berlari ke dalam ruangan tersebut begitu melihat Jongin sedang meringkuk kesakitan sambil memegangi perutnya.
"J-Jongin… kau kenapa? Perutmu sakit?" tanya Yixing khawatir.
"…."
"Jongin?"
"…."
"Jongin? Kenapa perutmu?" giliran Kyungsoo yang bertanya sambil membalik tubuh Jongin perlahan.
"P-perutku—akh!" Jongin mencengkeram perutnya dengan sangat kuat.
"Ayo ke ruang kesehatan!" ucap Kyungsoo panik.
"Percuma, ruang kesehatan sudah dikunci. Dokter Wu membawa kuncinya tadi."
"Kalau begitu kita ke rumah sakit! Aku akan memanggil taksi."
Kyungsoo beranjak pergi.
GREP!
Kyungsoo menoleh, Jongin sedang memegang tangannya.
"T-tidak… usah… K-Kyung…," ucap Jongin terbata. Wajahnya penuh dengan keringat dan terlihat sangat kesakitan.
"Tapi…."
Jongin menggelengkan kepalanya.
"I-ini.. t-tidak… parah, Kyung."
"Tapi, Jong—"
"Sudahlah, Kyungsoo. Dia itu kepala batu. Sebaiknya sekarang kau pesan taksi dan antar dia pulang. Aku akan membawakan tasnya. Nanti belilah obat di apotek. Kurasa Jongin hanya maag."
Kyungsoo menurut. Yixing langsung keluar menuju kelasnya, sedangkan Kyungsoo menelepon taksi. Setelah taksi datang, Kyungsoo memapah Jongin dibantu Yixing yang sudah kembali dengan membawa tas Jongin.
.
~***~ Blue Sky ~***~
.
"Tempatmu di lantai berapa?"
"Tujuh…."
"Di mana liftnya?"
Jongin menggeleng.
"Tidak ada lift. Yang ada hanya eskalator dari lantai satu sampai lima."
"Lalu, lantai enam sampai sepuluh?"
"Pakai tangga…."
Kyungsoo melongo mendengar jawaban polos Jongin. Kalau dalam keadaan normal, mungkin Kyungsoo tidak masalah jika harus naik eskalator dan tangga sampai ke lantai tujuh. Namun, sekarang berbeda. Tubuhnya yang mungil harus menanggung beban sebesar Jongin sampai lantai tujuh, ini penyiksaan namanya.
"Hhh… baiklah, kajja!"
.
"Hosh… hosh…. 1401. Kita sampai, Jongin. Hosh…."
"Maaf, merepotkanmu, Kyung." Jongin menunjukkan wajah penuh penyesalan.
"Gwenchana. Bagaimana perutmu?"
"Sudah lebih baik, kurasa. Tapi aku masih lemas."
"Itu karena kau kekurangan cairan. Sudah kubilang jangan memakannya. Makanan sepedas itu pasti membuat ususmu iritasi dan diare."
"Mianhe."
"Sudahlah, ini bukan salahmu. Nanti kau harus minum obatnya lagi dan makan ini, ya."
Kyungsoo tersenyum dan menyerahkan bubur yang tadi ia beli di dekat apotek. Jongin mengangguk dan menerimanya.
"Kau mau masuk dulu? Akan kubuatkan minuman."
"Kurasa tidak bisa, maaf. Aku harus kembali ke sekolah, Baekhyun pasti mencariku…. Istirahatlah, Jongin. Tidak apa-apa kan kalau kutinggal?"
Jongin mengangguk.
"Aku bisa mengurus diriku sendiri, jangan khawatir," ucap Jongin sambil tersenyum.
"Kau… tinggal sendiri?"
"Ya."
"Mm… begitu. Istirahatlah dan banyak minum air putih. Nanti malam mungkin aku… aku akan kembali dan membawa makanan untukmu. Annyeong, Jongin!"
"Ne. Gomawo, Kyungsoo. Annyeong!"
.
~***~ Blue Sky ~***~
.
"Haaa… lelahnya."
Kyungsoo merebahkan tubuhnya ke kasur empuk queen size berwarna soft pink. Jam di dinding kamarnya menunjukkan pukul lima sore. Latihan vokal hari ini lumayan lama karena bulan depan ada kompetisi menyanyi antarsekolah. Kyungsoo terpilih menjadi main vocal bersama Baekhyun berkat suara emasnya, padahal dia baru masuk Klub hari ini. Kelelahannya bertambah karena tadi dia harus mengantar Jongin naik tangga dan kembali ke sekolah.
Walau masih sangat lelah, Kyungsoo tidak bisa berlama-lama istirahat. Oppa-nya akan pulang lebih awal malam ini. Dengan langkah gontai, Kyungsoo masuk ke kamar mandi. Setelah beberapa menit, dia sudah segar dengan wangi vanilla yang lembut.
"Sekarang waktunya memasak," Kyungsoo melangkah ke dapur sambil tersenyum riang. Lelahnya langsung menguap jika sudah berurusan dengan masakan.
.
Kyungsoo POV
Masak apa ya?
Untuk Oppa kurasa soondubu jiggae cocok. Bahannya juga sudah ada semua.
Lalu…
Jongin?
Makanan apa yang bisa dia makan saat diare begitu?
Hmmm….
Aku mulai merebus air, membersihkan dan membelah ikan menjadi beberapa bagian. Kemudian kumasukkan ikan itu dan sedikit daging sapi ke dalam rebusan bersama bumbu. Setelah hampir matang, kucampurkan tahu sutra dan telur. Tidak sampai lima menit, kumatikan kompor. Soondubu jiggae untuk Oppa sudah selesai. Sekarang, untuk Jongin.
.
"Selesai~"
"Aku pulang!"
Kudengar langkah kaki mendekatiku. Pasti Oppa. Dia menghampiriku dan mengacak-acak rambutku sambil tertawa.
"Hahaha, kau seperti istriku saja. Mm, wanginya sangat sedap. Kau masak apa, chagiya?"
Aku mendengus sebal. Aku benar-benar tidak suka jika dia memanggilku seperti itu, wajahnya terlihat sangat konyol.
"Hentikan, Oppa. Rambutku jadi berantakan dan aku bukan istrimu. Itu soondubu jiggae untukmu," kataku sambil merapikan makanan untuk Jongin.
"Haha, ok ok. Lalu, itu apa?"
"Ini makanan, tentu saja."
"Untuk?"
"Temanku."
"Siapa? Baekki?" tanyanya penasaran.
"Bukan, untuk Jongin."
"Jongin? Siapa dia? Kau bilang temanmu hanya Baekki. Dan kenapa kau memeberikan makanan untuknya?" Oppa mengerutkan kening lalu menaikkan sebelah alisnya.
"Temanku, Oppa. Dan aku tidak bilang kalau temanku hanya Baekki. Jongin sedang sakit, dia tinggal sendiri, jadi aku khawatir dia belum makan. Di sekolah saja dia selalu makan pemberian orang lain. Aku yakin, di tempatnya hanya ada makanan instan. Dia tidak boleh makan makanan seperti itu saat sakit."
"Di mana rumahnya? Aku akan mengantarmu."
Aku sudah selesai merapikan makanan Jongin.
"Tidak perlu. Dia tinggal di apartemen Blok A. Letaknya sangat dekat, aku bisa jalan kaki. Lagi pula, Oppa baru saja sampai. Sebaiknya Oppa mandi dulu. Setelah itu baru makan. Aku akan menyiapkan semuanya di meja makan."
"Hh, baiklah kalau begitu. Ingat, Kyungie, jangan berlama-lama di apartemen laki-laki. Setelah kau memberikan makanan itu, segera pulang. Ok?"
"Arasseo, Oppa."
"Hati-hati ya, chagiya…." Dia mengacak rambutku lagi lalu berlari ke tangga.
"Oppa! Jangan lari!" Aku melemparnya dengan sendok yang ada di tanganku.
"Hahahahaha. Tidak kena, weee…."
Ya Tuhan, umurnya bahkan lebih tua enam tahun dariku. Kenapa tingkahnya seperti anak SD?
Aku melirik jam yang melingkar di tanganku. Sekarang sudah pukul setengah tujuh malam. Aku harus cepat, kasihan Jongin.
.
~***~ Blue Sky ~***~
.
"Hosh. Hosh. Hosh… hhhh… haaaaaaah, kenapa apartemen sepuluh lantai tidak ada liftnya?"
Setelah melalui perjuangan yang berat, akhirnya aku sampai di lantai tujuh. Letak apartemen Jongin tidak terlalu jauh dari tangga. Aku menekan bel apartemen Jongin sampai tiga kali, tapi tak ada tanda-tanda Jongin akan keluar.
Apa dia sudah tidur ya? Atau malah belum bangun dari tadi siang?
Saat aku ingin menekan bel lagi, pintu apartemen Jongin terbuka.
"Kyungsoo! Wah, kau benar-benar datang. Ayo, masuklah." Jongin menyambutku dengan semangat walau wajahnya memperlihatkan bahwa dia masih lemah. Saat masuk ke apartemennya, aku melihat ada sepatu wanita. Baru saja aku ingin bertanya, tapi Jongin sudah menarikku ke ruang tamu.
"Duduklah di sini. Tunggu sebentar." Jongin meninggalkanku ke dapur terbuka yang ada di dekat ruang tamu.
"Siapa, Jongin?" Tiba-tiba muncul sesosok perempuan yang tidak asing bagiku. Dia membawa camilan di tangannya, berjalan menghampiriku dan duduk di hadapanku. Dia mengamatiku dari ujung rambut sampai ujung kakiku. Tatapannya membuatku sedikit risih.
"Um… annyeong. Aku… Do Kyungsoo."
Perempuan itu sedikit mengerutkan dahinya.
"Mm… kita… pernah bertemu sebelumnya. Di atap. Tadi siang… saat istirahat," ucapku, yang mungkin akan terdengar sangat gugup baginya.
"Ah! Kau! Ya, aku ingat. Kenalkan, aku Xi Luhan." Dia mengulurkan tangannya dan tersenyum manis. Matanya berbinar. Aku pun menyambut uluran tangannya.
"Oh, kau sudah selesai menonton TV, Luhan?" Jongin datang membawa segelas cokelat panas dan sepiring kue di tangannya.
"Kkamjong, kenapa hanya segelas? Aku juga mau."
"Buat saja sendiri."
"Huft, kau menyebalkan!" Luhan beranjak ke dapur. Aku memperhatikannya. Sebenarnya, siapa Luhan ini? Kenapa dia ada di apartemen Jongin?
"Dia teman sekelasku, Kyungsoo. Dia menjengukku." Aku terkesiap. Apa Jongin bisa membaca pikiran? Aku membulatkan mataku dan mengerutkan keningku. Jongin terkekeh.
"Tidak. Kalau kau pikir aku bisa membaca pikiran, jawabannya tidak. Salahkan wajahmu yang terlalu mudah dibaca, Soo." Sudut bibirnya terangkat, matanya menyipit. Hangat. Tertawanya sungguh hangat.
Soo?
Panggilan itu….
"Oh iya, kau bawa apa, Kyungsoo?"
"Ah, aku hampir lupa. Ini, bubur dan ayam rebus. Kau harus makan makanan yang lembut. Aku juga membawa apple cider vinegar, teh peppermint, dan teh chamomile. Semuanya bagus untuk penderita diare sepertimu. Dan jangan sentuh susu, kopi, jus buah, serta makanan yang pedas dan keras."
"Hahaha. Baiklah, Eomma."
"Apa?"
"Apa?" Jongin malah balik bertanya.
"Jangan panggil aku Eomma."
"Haha, Ok."
Kyungsoo POV End
.
Luhan sudah kembali dari dapur membawa segelas cokelat panas. Dia duduk di depan Kyungsoo, tepatnya di sebelah Jongin. Kyungsoo mengalihkan perhatiannya dengan meminum cokelat panas yang diberikan Jongin tadi.
"Wah, kelihatannya enak. Kau pandai memasak ya, Kyungsoo?"
"Tidak juga. Mudah-mudahan kau suka," kata Kyungsoo.
"Aku pasti suka. Gomawo."
Kyungsoo mengangguk. Luhan hanya memperhatikan Jongin dan Kyungsoo tanpa bicara.
"Erm, kurasa aku harus segera pulang."
"Eh, secepat itu?" tanya Jongin dengan nada sedikit kecewa.
"Iya, maaf."
.
"Tidak apa, kau pasti lelah seharian ini Kyungsoo. Cepatlah pulang dan istirahat. Aku akan mengantarmu sampai lantai satu."
"Jangan, tidak perlu. Kau masih lemah, Jongin. Aku sendiri saja."
"Baiklah, tunggu sebentar." Jongin pergi ke dalam. Lalu kembali lagi dengan membawa syal biru muda.
"Pakai ini. Di luar pasti sangat dingin. Terima kasih, sudah mau repot-repot membuatkanku makanan dan membawanya ke sini." Jongin memakaikan syal itu pada Kyungsoo.
"A-ah… Gomawo. Aku pulang dulu, Jongin, Luhan."
"Ne. hati-hati ya, Soo."
"…."
Kyungsoo menghentikan langkahnya saat Jongin sudah membukakan pintu.
"Ada apa?" Jongin bingung.
"Itu… ah. Sudahlah. Annyeong."
.
Kyungsoo sudah pulang. Sekarang hanya tinggal Jongin dan Luhan. Jongin memakan makanan dari Kyungsoo dengan lahap dan wajah yang cerah. Luhan menatap Jongin dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Aku juga pulang sekarang."
Jongin memandangi Luhan dengan tatapan heran. Luhan berdiri, bibirnya melengkung ke atas.
"Besok kau sekolah kan, Kai?"
"Uhukkk." Jongin tersedak begitu Luhan menyebut nama Kai. Luhan memutar bola matanya malas, lalu memberikan segelas air putih kepada Jongin.
"Jangan sebut nama itu, Luhan," kata Jongin serius.
"Kenapa?" Luhan menyeringai.
"Kau tahu kenapa."
"Ya, aku memang tahu. Tapi aku tidak jamin bisa menutup mulutku. Hehehe."
"Rusa!"
"Annyeong, Kkamjong! Cepat sembuh, ne!" Luhan keluar dari apartemen Jongin sambil tertawa.
"Aishh, kenapa aku bisa mengenal rusa seperti dia?"
.
~***~ Blue Sky ~***~
.
Kyungsoo berangkat lebih siang dari biasanya. Dia bangun terlambat. Akibatnya, dia harus berangkat bersama Oppa-nya. Kyungsoo lebih suka pergi sendiri dan menaiki bus daripada harus mendengar lelucon garing dari Oppa-nya itu selama perjalanan. Kali ini Kyungsoo benar-benar terpaksa.
Audi Le Mans Concept hitam yang ditumpangi Kyungsoo tiba di sekolah hanya dalam waktu 15 menit. Tepat lima menit sebelum bel masuk berbunyi. Kyungsoo keluar dari mobil itu bersama Oppa-nya.
"Kyungie!"
"Baekki?"
Baekhyun berlari menghampiri Kyungsoo. Mengatur napasnya. Lalu berniat mengajak Kyungsoo cepat masuk. Namun, langkahnya terhenti saat dia melihat seorang laki-laki yang sangat tinggi di samping Kyungsoo. Baekhyun bergeming di tempatnya. Kyungsoo mengikuti arah pandang Baekhyun dan dia langsung mengerti.
"Ah, Baekki, kenalkan, ini Chanyeol Oppa. Oppa, ini Byun Baekhyun yang sering kuceritakan padamu."
"Annyeonghaseyo. Aku Byun Baekhyun," ucap Baekhyun sambil sedikit membungkukkan badannya.
"Ahaha. Annyeong, Baekhyun. Tidak usah seformal itu padaku." Chanyeol mengacak rambut Baekhyun pelan.
BLUSH.
"N-ne." Baekhyun mengangguk dan menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Kajja! Nanti kita terlambat, Baekki." Kyungsoo menarik tangan Baekhyun tanpa memberi aba-aba.
"Yak! Kyungie, lepaskan. Tanganku sakit." Setelah beberapa langkah, Kyungsoo berhenti.
"Hehe, mianhe."
"Oppa! Gomawo!" Kyungsoo melambaikan tangannya pada Chanyeol dan sedikit berteriak karena jarak mereka sudah lumayan jauh.
"Kyungie! Kau lupa sesuatu," kata Chanyeol juga sedikit berteriak. Dia lalu menempelkan telunjuknya ke pipi kirinya sambil tersenyum.
"Annyeong, Oppa!" Kyungsoo berlari meninggalkan Baekhyun.
Baekhyun yang bingung akhirnya ikut berlari mengejar Kyungsoo. Sementara Chanyeol sweatdrop karena ditinggal begitu saja oleh adik kesayangannya itu.
.
"Kyungie! Hah, hah… kenapa lari?"
BRUK.
Kyungsoo berhenti berlari. Baekhyun tak sengaja menabrak Kyungsoo.
"Yak! Sekarang kau berhenti tiba-tiba."
Kyungsoo diam. Matanya melihat Jongin. Dia bersama… Luhan.
.
.
TBC
.
.
Akhirnya chap 3 selesai juga. Fiuhhh….
Chap selanjutnya author bakal berusaha update lebih cepat. Terima kasih banyak, yaaa para reviewers yang baik hati, tidak sombong, rajin nabung, dan cakep.
Makasih juga buat readers yang belum sempat review!
Chap 3 ini lebih banyak nyeritain tentang Kyungsoo. Tapi penyebab Kyungsoo nangis di chap 1 belum dijawab di chap ini yaa…. Dan yang nebak Chanyeol kakaknya Kyungsoo, selamat!
Di chap ini, Jongin-Luhan ada sesuatu kayaknya ya? Hahaha *ditimpuk Kaisoo shippers*
SPECIAL THANKS TO:
loveHEENJABUJA |:| yongchan |:| kim soo jong |:| DKS-ZYX |:| Lady Wu |:| hujan |:| RirinSekarini |:| yixingcom |:| Insooie baby |:| KaiSa |:| Laibel |:| bumkeyk911007 |:| KaiSoo Fujoshi SNH |:| dyodoll12jong88 |:| alexander. |:| setyoningt
