Akhirnya setelah beberapa hari tidak update fic ini, telah selesai chapter 3 ini. Maaf aja ya agak ga jelas dan mungkin banyak typo bertebaran,

Jadi..

Selamat membaca...

Disclaimer:Animonsta studio

Warning. No power, Diusahakan tidak typo, aneh, OOC (mungkin), Ga jelas, OC (bu Risma)

.

.

Halilintar pov

Aku putuskan membawa sarapanku ke kamar. Amarahku masih tertahan sampai aku tiba di kamarku. 'Apa yang terjadi pada kamarku?!'

Dinding kamarku banyak poster-poster aneh. Padahal kujaga baik-baik dinding itu agar tetap bersih, tapi sekarang. Dan seprayku berubah dari berwarna merah polos menjadi warna biru dengan corak aneh apalah itu.

" TAUFAAAANN!"

Aku membuka pintu kamarku dengan membantingnya. Aku berteriak dari depan kamarku ku usahakan agar terdengar hingga ruang makan.

" MATI KAU HARI INI!" Ancamku walau agak menakutkan dengan apa yang kukatakan tapi aku tidak sampai akan melakukannya. Mungkin aku akan menghajarnya sedikit.

Aku kembali ke kamarku dan mengambil seragam karateku, tak lupa dengan sabuk hitam yang kupunya. Aku melempar topiku ke kasur. Kemudian segera berlari menuruni tangga dan menuju ruang makan.

Tanganku sudah terkepal sedari tadi bersiap untuk menghajar seseorang hari ini, di sini, di rumah ini. Bukan apa-apa, hanya saja kamarku tidak kuberi hiasan apapun agar nampak natural. Memangnya aneh sampai Taufan berani merubah kamarku?

Aku hanya tidak suka pada siapapun dia yang telah melakukan sesuatu pada kamarku, privasiku. Tak pandang bulu siapapun itu aku akan menghabisinya setidaknya sedikit memberinya luka.

" Hei!" Sapaku dengan nada dingin, menusuk. Tatapanku seperti induk singa yang siap menerkam siapa saja yang mengusik anaknya.

" Aku akan menghajarmu, Taufan!" Ujarku sambil menggertak jemari dan leherku.

Kulihat Gempa bergerak mendekatiku. " Sudahlah Hali, memang apa masalahnya?" Tanya Gempa dengan nada tenang.

" Kamarku dihancurkan sama Taufan," jawabku

" Hancur?" Tanya Gempa sambil mengkerutkan dahinya.

" Iya, hancur. Kamarku ditempeli poster-poster ga jelas. Seprayku dengan sembarangan menggantinya. Aku tidak suka," jelasku menahan kesal.

Tampak kakakku ini menghela napas. " Kan kamu tinggal lepasin poster itu dan mengganti lagi sepray nya. Jangan jadi anak kecil deh hanya karena hal seperti itu. Kasian Taufan kamu aniaya terus. Memangnya kamu tega?"

Tatapanku tak beralih memandang tajam ke arah Taufan yang masih duduk di kursinya dengan wajah panik ketakutan. " Beri aku kesempatan menghajarnya sebentar agar aku sedikit lega," pintaku dengan menahan diri agar tidak berteriak.

Gempa memutar matanya, kurasa dia tau kalau aku akan lebih tenang setelah menyalurkan amarahku. " Boleh aja-..."

Gempa belum menyelesaikan perkataannya, tapi setelah mendengar kata 'boleh' maka aku pun memulai aksiku. Aku mendekati Taufan yang sudah mulai berdiri.

'Grep..

kedua lenganku dicengkeram kuat kuat oleh Gempa. Mataku mendelik dan meronta-ronta mencoba melepaskan diri dari cengkerannya. Bisa saja aku dengan mudah melepaskan diri dengan membanting tubuh Gempa. Tapi aku berpikir dua kali untuk menyakitinya.

" Tenang dulu, Hali," bisik Gempa tepat ditelingaku.

Taufan menjauh dari meja makan dan melangkah perlahan menuju pintu keluar. Rasanya akan kuremukkan seluruh tulangnya agar ia tak macam-macam lagi.

Cengkraman Gempa mengendur dan melepaskannya saat Taufan melarikan diri dari ruang makan. ' Dasar pengecut, ga mau bertanggung jawab,' batinku kesal.

Aku memberikan tatapan tajam pada kakakku karena sudah menahanku. Kemudian aku berjalan keluar dari ruang makan dan mencari si anak jahil itu.

Aku pergi ke ruang tamu, ku temui Taufan akan pergi keluar rumah. " Hei! Mau kemana?! Sini, jangan coba-coba melarikan diri! Dasar pengecut," bentakku kasar.

" Hai, kak Hali. Marahnya nanti dulu ya aku mau jalan-jalan dulu, daah," ujarnya dengan santai membuka pintu dan tak peduli aku yang akan menghajarnya.

Setelah pintu ditutup terdengar suara keras bertubrukkan.

'BRUAK...

aku dan Gempa saling pandang, mencoba tidak berpikiran negatif tentang suara di luar. Kuharap itu hanya tabrakan kendaraan biasa dan tidak ada korban.

Kemudian aku dan kakakku melesat ke luar rumah. Rumah kami memang bersebelahan dengan jalan raya jadi rawan kecelakaan.

Kulihat kerumunan orang sedang memerhatikan sesuatu. Aku mencoba menyeruak mencari cara agar bisa masuk ke dalam kerumunan itu.

Tubuhku kaku, kakiku terasa lemas, mataku terbelalak saat kulihat adikku, Taufan bersimbah darah.

Gempa berhasil masuk dalam kerumunan, segera berteriak, " Taufan! Taufan! Kamu bisa dengar aku?" Gempa menghampiri Taufan yang terkapar dan merangkulnya.

Pandangannya menatap orang di sekeliling kami. " Tolong hubungi ambulans, terima kasih," pinta Gempa pada sekawanan orang yang melihat sang korban terkapar.

" Kami sudah menghubunginya, tunggu sebentar, ya," jawab salah seorang tetangga samping rumah kami.

Aku masih berdiri mematung melihat Taufan berada di pangkuan Gempa dengan darah mengalir di pelipisnya. Kemudian seorang wanita berpakaian rapi datang menghampiri kami.

" Maaf. Saya minta maaf. Saya lalai dalam berkendara. Saya akan bertanggung jawab," ujarnya mengakui kesalahannya.

" Apa yang terjadi? Kenapa jadi seperti ini?" Tanya Gempa meminta penjelasan dari wanita itu.

Wanita itu diam sejenak kemudian mulai menceritakan kronologi kejadiannya. Dia berkata bahwa saat melihat Taufan menyebrang, dengan tidak segaja ia bukannya mengerem malah menginjak gas. Taufan terpental beberapa meter setelah ditabrak.

Aku mendekati Gempa yang memeluk Taufan. " Dia masih hidup.." ujar Gempa lirih dengan air mata mulai menetes.

Aku duduk di sebelah Gempa dan mengambil topi Taufan yang sudah terlepas dari kepalanya. Topi itu sudah berlumuran darah Taufan. Aku genggam erat topi itu.

Aku tak bisa berkata-kata. Aku terlalu shock melihat kejadian ini. Mungkin ini secara tidak langsung adalah salahku sampai Taufan pergi keluar rumah dan terjadi seperti ini.

Aku menggenggam tangan Taufan. " Fan, ak-aku m-minta maaf. Ini salahku," ujarku sendu.

Perlahan mata Taufan sedikit terbuka. Bibirnya bergetar seakan ingin berbicara sesuatu namun dicegah oleh Gempa. " Jangan bicara dulu, ya." Kemudian Taufan kembali memejamkan matanya dan nampak seulas senyum di bibir Taufann yang ujung bibirnya mengalirkan darah segar.

Terdengar suara ambulans mendekat. Dan memakirkan di dekat kami. Banyak orang berpakaian putih-putih keluar dari ambulans dan mengangkat Taufan. Mereka memindahkannya ke ranjang yang beroda dan membawanya menuju bagian belakang ambulans.

" Maaf, kalian saudara korban?" Tanya seseorang yang memakai baju putih-putih itu.

Aku dan Gempa hanya mengangguk. " Kami ingin meminta keterangan dari korban. Siapa nama korban dan berapa umurnya?"

" Taufan. Adikku Taufan. Umur 14 tahun," jawabku sambil menatap nanar ke arah ambulans.

" Yang tabah, ya. Kalian boleh ikut ke rumah sakit," ujar orang itu.

Kami pun masuk ke bagian belakang ambulans. Aku dan Gempa mengambil tempat di samping kanan-kiri Taufan. Gempa mengelus rambut Taufan yang tidak tertutup topi lagi.

Aku memasangkan topi milik Taufan yang kupegang sedari tadi ke kepalanya. Kemudian kugenggan tangan kanannya yang sudah dipasangin infus.

" Dia akan baik-baik aja, kan?" Suaraku bergetar bertanya pada Gempa di depanku yang masih mengelus wajah Taufan.

" Kita berdoa saja, ya. Ini bukan salahmu, kamu jangan menyalahkan diri sendiri. Semua akan baik-baik saja," ujar kakakku mencoba tenang kemudian menatapku sekilas dan kembali menatap Taufan.

Tak lama kemudian seorang wanita yang mengaku telah menabrak Taufan memasuki ambulans. Dia duduk di sampingku dan memegang lenganku.

" Saya akan membayar seluruh biaya rumah sakit adikmu," ujar wanita di sampingku.

Aku hanya memberikan tatapan tajam ke wanita itu yang telah membuat Taufan menjadi seperti ini. ' Tidak akan ku maafkan dia,' tekatku dalam hati.

" Nama anda siapa?" Tanya Gempa.

" Saya Risma, panggil bu Risma," ujar wanita itu memperkenalkan diri.

" Saya Gempa, ini Taufan dan di samping ibu namanya Hali," kata Gempa sambil tersenyum.

Kemudian mobil ambulans pun mulai bergerak menuju rumah sakit terdekat.

Bagaimanakah nasib Taufan setelah ini?

Apa yang akan Halilintar lakukan setelah kejadian ini?

Lanjut?

Haaaaaii...

Maaf saya lupa meneruskan fic ini. Maaf banget..

Dan maaf juga akhirnya ceritanya jadi seperti ini. Huft... #sedih

Sekali lagi maaf ya saya setelah ini akan update agak lama karena selama seminggu akan ada ujian, jadi maaf sekali..

Baiklah sekian dan jumpa lagi chapter depan..

Jangan lupa review yaa..

Trima kasih...