A/N : Maaf menunggu lama, semoga kalian menikmati chapter ini. Mohon read dan review ya, makasih. Untuk yang memberi review, fave, follow, serta silent reader, saya mengucapkan banyak terima kasih.
CATATAN 3
PERBAN
Dear diary,
Aku pasti akan menyimpan catatan kedua itu.
Rasanya sangat ... romantis? Mengharukan? Manis? Aku tidak tahu.
Tetapi yang pasti, catatan itu membuatku begitu berdebar-debar. Yah, aku tidak sabar menunggu sampai kelas berakhir.
Aku ingin bertemu dengannya sekarang! Tetapi ... itu jika aku bisa lolos dari sekelompok fansnya.
Kurasa semakin ganteng artisnya, akan semakin 'sadis' juga fansnya.
"Baiklah, bicaralah sekarang, Tifa," kata salah seorang gadis yang menahan Tifa.
"Apa?" tanya Tifa balik, sambil terus berusaha untuk merasa tenang. Ketika kelas berakhir dan Cloud juga pergi, para gadis tiba-tiba saja mengelilinginya, tidak membiarkan Tifa beranjak dari tempat duduknya.
"Jangan pura-pura polos, Lockhart. Kami tahu bahwa kau ada sesuatu dengan Cloud," balas gadis itu sambil menggebrak meja.
"Aku baru bertemu dengannya," jawab Tifa sambil berusaha bertahan, tetapi bahkan berbohong juga tidak mempan.
"Kau bertemu dengan Aerith si Idola Sekolah, Yuffie yang juga adalah putri orang kaya, bahkan Zack si kapten tim basket sekolah sebagai sahabat. Tidak hanya itu, bahkan Vincent, dan lain-lain," lanjut si gadis yang kemudian dilanjutkan oleh teman-temannya yang lain.
"Yah, kau itu berhasil masuk hanya karena beasiswa, seharusnya kau tahu dimana kau seharusnya berada."
"Betul, dengan maniak."
"Rasanya tidak sopan jika kalian berkata begitu pada murid terpandai di sekolah," kata Aerith yang tiba-tiba muncul. Matanya tidak lagi hijau seperti biasanya, melainkan dingin dan juga ... kejam. Itu adalah tanda bahwa Aerith sedang marah, dan Aerith sangat menyeramkan jika marah. Yuffie juga tiba-tiba muncul di sampingnya dan ikut membela Tifa.
"Kalau kalian berani bicara seperti itu pada Tifa, aku akan menyuruh pengawalku untuk menghajar kalian semua."
Seketika, para gadis itu langsung terdiam dengan wajah yang terkejut. Tidak lama setelahnya, Zack dan Vincent muncul dari belakang Aerith dan Yuffie, Vincent terlebih dulu berbicara dengan wajah dinginnya.
"Jika kau berani berbicara seperti itu lagi pada Tifa..."
Zack melanjutkan perkataan Vincent. "Kalian semua akan tahu akibatnya."
Seketika, para gadis itu langsung kabur ketakutan. Tifa langsung bernapas lega.
"Kalian semua selalu membelaku, aku tidak tahu bagaimana harus berterima kasih."
"Tidak apa-apa, kau tidak usah memikirkannya!" kata Yuffie, yang disetujui oleh yang lain.
"Bagaimana kalau kita pergi makan-makan sekarang?" tanya Aerith, yang dijawab dengan gelengan kepala dari Tifa.
"Maaf, aku tidak bisa."
"Kalau masalah uang, kami bisa mentraktirmu. Lagipula itu juga bukan masalah besar," kata Zack.
"Em, bukan soal itu sebenarnya," jawab Tifa, meski dia tahu bahwa uang memang bukanlah masalah bagi teman-temannya yang adalah orang-orang kaya, dibandingkan dirinya yang seorang penerima beasiswa. "Aku ada janji?"
"Janji?" tanya Yuffie, yang membuat penasaran dirinya dan juga yang lain.
"Yah, apa boleh buat," kata Zack yang kemudian memeluk Aerith. "Ayo kita pergi."
Aerith awalnya agak bingung dengan sikap Zack, tetapi pada akhirnya dia membiarkannya saja. "Kencan?"
"Kencan," jawab Zack sambil tersenyum dan kemudian mencium pipi Aerith. Tidak lama setelahnya, mereka berdua segera pergi. Tetapi lain halnya dengan Yuffie yang tidak langsung menerima ucapan Tifa mentah-mentah.
"Aku ingin tahu kau ada pertemuan tentang apa! Marlene harus pindah sekolah? Atau mungkin justru kau yang pindah sekolah karena kehabisan uang? Kalau memang benar, kumohon jangan pindah! Aku berjanji akan membiayai kalian berdua, atau mungkin meminta orangtua ku untuk mengadopsi kalian..." Yuffie terdiam sesaat. "Kalau kau mau."
Sayangnya, ucapan panjang lebar Yuffie hanya ditanggapi oleh sebuah senyuman dari Tifa. Tifa merasa senang, karena meski Marlene hanyalah satu-satunya keluarga yang dia miliki, tetapi masih ada orang lain yang begitu peduli padanya meski mereka tidak berhubungan darah.
"Jadi..." ucap Yuffie, yang kemudian ditahan oleh Vincent. "Hei!"
"Mau makan parfait denganku?"
Tanpa ditanya dua kali, Yuffie langsung mengekspresikan rasa setujunya dan langsung memeluk Vincent. Tifa tertawa melihat tingkahnya, seperti biasa.
Dari empat taman yang ada, taman yang terletak di bagian timur tidak begitu diketahui orang-orang. Sedikit sekali yang datang ke sini karena letaknya yang jauh dari sekolah dan fasilitas-fasilitas lain. Taman ini juga bisa menjadi tempat di mana seseorang bisa melakukan refleksi diri atau pertemuan yang pribadi dengan orang lain. Tifa melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah kaca yang tidak jauh dari sana, tetapi Cloud belum datang. Ketika mata Tifa bereksplorasi ke seisi ruangan, dia langsung dimanjakan oleh ribuan bunga mawar dengan bermacam-macam warna. Putih, merah muda, kuning, merah, jingga, peach, koral, namun yang menarik perhatian Tifa adalah mawar yang berwarna Lavender. Kesannya begitu tidak biasa, apalagi kebanyakan mawar adalah berwarna merah.
Tifa baru saja hendak memetiknya, tetapi jarinya tiba-tiba saja tertusuk duri sehingga mengeluarkan darah. Melihat itu, mata Tifa langsung melebar.
Darah ... di bawah mobil.
Darah ... di permukaan kasur.
Darah ... Marlene.
Air mata Tifa baru saja hendak mengalir ketika Tifa merasakan sesuatu yang hangat di jarinya. Kenangannya hilang, kegelapan yang tadinya menyelimutinya sirna sudah dan matanya melihat sesuatu yang sudah dia nantikan.
Cloud memegang pergelangan tangannya, dan jarinya yang berdarah tengah berada di dalam mulut Cloud. Wajah Tifa memerah, dan ilusi masa lalunya langsung menghilang sepenuhnya dalam sekejap.
Mata Cloud menutup ketika dia mengisap jari Tifa. Ketika dia merasakan pandangan Tifa padanya, Cloud langsung membuka matanya sambil tetap menghisap jari Tifa. Ketika kedua matanya melihat air mata yang mengalir di wajah Tifa, Cloud langsung menyekanya dan menarik keluar jari Tifa dari mulutnya. Tifa menutup matanya ketika mengira tangan Cloud yang kasar dan dingin, tetapi rasanya halus dan hangat dengan sentuhan ringan. Cloud mengambil sebuah perban, membalutkannya di jari Tifa, dan tersenyum.
"Sudah lebih baik sekarang?"
Tifa mengangguk, dengan rona merah yang masih tampak di wajahnya. Tifa melihat Cloud, sementara Cloud menatap mawar yang berwarna lavender.
"Apa kau tahu makna dari warna Lavender?" tanya Cloud, yang dijawab dengan sebuah gelengan dari Tifa. "Sayang sekali," jawab Cloud lagi, dan kemudian dia mengulurkan tangannya. "Syalku."
Butuh beberapa saat sampai Tifa mengerti. "Oh!" Tifa langsung mengembalikan syal yang memang dia bawa daritadi, Cloud membalasnya dengan tersenyum.
"Aku dengar apa yang barusan terjadi denganmu," kata Cloud. "Di kelas, ketika aku pergi."
"Oh, tidak apa-apa."
"Jadi kau menerima beasiswa untuk bersekolah di sini?"
"Apa kau akan membenciku jika aku menjawab 'ya'?"
"Mengapa aku harus membencimu?" jawab Cloud, yang tidak disangka oleh Tifa.
"Yah, karena kebanyakan orang berkata bahwa orang sepertiku sungguh tidak mungkin bisa bersekolah di sini ... begitu juga dengan adikku."
"Tetapi kenyataannya kau dan adikmu ada di sini, kan? Berarti semua itu bukanlah sebuah dongeng belaka. Jadi ... adikmu juga mendapat beasiswa?"
"Tidak, dia menggunakan uang peninggalan orang tua kami."
"Kenapa kau tidak menggunakannya juga?"
"Kalau aku menggunakannya, Marlene tidak akan bisa bersekolah sampai sekarang."
"Sampai kapan uang itu bisa bertahan?"
"Setidaknya sampai Marlene lulus SD nanti," setelah berkata begitu, Tifa menghela napas dan duduk di kursi di dekatnya. Membicarakan topik ini selalu membuatnya tidak nyaman. Cloud, untungnya menyadari itu.
"Maafkan aku, seharusnya aku tidak menanyakannya," kata Cloud yang duduk di samping Tifa, sambil menggenggam tangan gadis cantik itu. Cloud juga memperlihatkan kembali senyumnya yang menenangkan.
"Kau tahu?" tanya Tifa, sambil membalas senyum Cloud. "Kita baru saja bertemu, tidak ada hubungan keluarga, tapi ... kita sudah sedekat ini."
"Kau ingat catatan yang kuselipkan di buku catatanmu?" tanya Cloud. "Ini adalah takdir."
Lagi-lagi, wajah Tifa langsung memerah dan kepalanya menggeleng dengan cepat, mencoba untuk menutup wajahnya dengan rambutnya. Cloud tertawa kecil melihatnya.
Tiba-tiba saja, Cloud mengeluarkan buku catatan kecilnya dan sebuah pulpen. Dia menulis sesuatu dan merobeknya. Saking cepatnya, Tifa tidak melihat apa yang Cloud tulis.
Setelahnya, Cloud berdiri dan memetik setangkai mawar tanpa duri. Cloud melipat kertas catatannya di tangkai bunga mawar dan menyerahkannya pada Tifa. Tifa memandang bunga mawar dan catatan itu, dan kemudian kembali lagi ke wajah Cloud.
"Sampai nanti," kata Cloud yang kemudian keluar.
Tifa mengambil catatan itu dan kemudian membacanya.
Hei Teef,
Mawar berwarna Lavender atau mawar tanpa duri memiliki makna 'Cinta pada Pandangan Pertama.'
Berhubung kau sudah tahu artinya, aku berharap bisa bertemu dengan adikmu suatu hari nanti.
Cloud.
Wajah Tifa semakin memerah, dan dia terus membaca catatan itu untuk waktu yang lama. Sampai akhirnya, pintu rumah kaca tiba-tiba terbuka dan memperlihatkan sosok Marlene.
"Jadi kau di sini," katanya, "kau berjanji kalau kita akan pulang bersama!"
"Bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini?"
"Seorang cowok pirang yang memberitahuku, aneh juga karena dia tahu namaku siapa," kata Marlene yang kemudian bersin. "Ayo kita pulang, di sini dingin!"
Tifa mengangguk dan kemudian berjalan keluar dari rumah kaca. Dia menaruh catatan Cloud di kantongnya dan memandang jarinya yang memerah. Tiba-tiba saja, rasa hangat memenuhi wajahnya dalam sekejap.
Mohon read dan review ya, terima kasih.
