Chapter 3: The Day
swaggysuga presents…
.
.
.
Unpredictable
Cast: Kim Taehyung, Jeon Jungkook
Some of BTS, EXO and others boyband members
Yaoi / T / Taekook, Vkook
Uke!Jungkook Seme!Taehyung
Enjoy!
.
.
.
Jungkook sedang mengamat-amati dirinya sendiri di depan cermin. Ia mengenakan kaos hitam yang sedikit longgar dipadu ripped jeans hitam. Sepatu vans hitamnya melindungi kedua kakinya. All black. Rambutnya disisir acak dan ia memakai beanie abu di kepalanya. Ransel kecil berwarna hitam sudah bertengger apik di bahunya. Ia siap berangkat, tinggal menunggu Bok Joo meneleponnya.
Taehyung yang sedang duduk di sofa ruang tengah bertepuk tangan ketika melihat penampilan adiknya yang baru saja turun dari lantai atas. Jungkook memandangnya sinis. Kakaknya lalu melemparkan komentar,
"Kau tampak seperti orang mau ke pemakaman."
"Aku tak mau dengar komentar orang yang hanya memakai kemeja longgar dan celana pendek butut untuk pergi ke Panti Asuhan seolah tempat itu bukanlah tempat yang layak dihargai."
Pedas, begitulah Jeon Jungkook kalau sudah disulut sumbunya. Taehyung berdecak.
"Menyebalkan sekali mulut itu, sepertinya bagus kalau kusumpal dengan kaos kaki."
"Akan kusumpal balik mulut hyung dengan seprai Eomma yang tidak dicuci selama sebulan."
"Tidak mau kalah, huh? Kau marah karena aku memilih untuk pergi bersama Jimin?"
"Bukannya hyung yang marah karena aku menolak untuk pergi bersama kalian dan malah pergi bersama Bok Joo?" balas Jungkook.
"Setidaknya aku sudah mengajakmu, kelinci nakal," Taehyung bersungut.
"Memangnya siapa yang mau jadi pengganggu di antara kalian?" Jungkook bergumam lirih sambil mengalihkan pandangannya.
"Pengganggu?" Taehyung bangkit dari duduknya dan mendekati Jungkook. "Kau menempatkan dirimu sebagai pengganggu?"
"Jimin itu menyukaimu, hyung. Bahkan daun-daun gugur di depan rumah tahu hal itu. Aku tak mau Jimin marah kepadaku karena aku pergi dengan kalian," ujar Jungkook akhirnya.
Taehyung menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kau kan adikku. Kenapa dia harus marah kepadamu?"
Jungkook memutar bola matanya, bingung apakah kakaknya ini benar-benar bodoh atau hanya pura-pura tidak peka. Aku ini hanya adik tirimu, Taehyung tolol!
Beruntung ponsel Jungkook berbunyi nyaring. Dirogohnya kantong celananya untuk mengambil ponsel dan melihat siapa yang memanggilnya, lalu cepat ia mengangkat panggilan itu.
"Yeoboseyo, Bok Joo-ya? Tidak apa-apa. Aku belum menunggu lama, kok."
Taehyung membentuk bibirnya menjadi bentuk yang aneh-aneh, sengaja meledek Jungkook. Lalu tendangan telak di betis pun diterima Taehyung dari Jungkook. Ia meringis kesakitan.
"Eh… tidak jadi?"
Mata Taehyung langsung memancarkan kilat licik ketika mendengar kalimat itu keluar dari bibir cherry Jungkook. Seketika Jungkook mengangguk-angguk.
"Ah, ya… semoga Appamu cepat sembuh. Salam untuk Appa dan Pamanmu, ya."
Taehyung mengarahkan kepalan tangannya ke udara, seolah ia memenangkan lomba makan karung se-Seoul. Jungkook memandang lurus dengan tatapan putus asa.
"Ayah Bok Joo terkena serangan jantung mendadak. Sekarang dia di Rumah Sakit," kata Jungkook akhirnya.
"Yah, batal dong kencanmu."
"Itu bukan kencan. Kau ini bodoh atau apa?"
"Galaknya…" goda Taehyung sambil mencolek dagu Jungkook. "Ya sudah, bagaimana kalau kau ikut Kakakmu ini pergi ke Panti Asuhan? Kau pasti akan betah disana."
"Tidak mau. Aku langsung hilang mood."
"Kalau begitu…" Taehyung mengambil ponselnya di meja dan memanggil seseorang. "Halo, Jimin? Maaf, sepertinya aku tidak bisa ikut denganmu hari ini…"
"Ti—tidak!" Jungkook langsung merebut ponsel Taehyung. "Jimin hyung? Hyung akan ikut bersamamu. Dia hanya bercanda, percayalah padaku."
"Aku akan ikut kalau kau juga ikut, Jungkook-ah," bisik Taehyung di telinga Jungkook, membuat adiknya merinding. Sesaat terdengar sahutan Jimin dari seberang. Jungkook mendelik sebal ke arah kakaknya.
"Benar Jimin hyung, hyungku yang berengsek itu akan ikut denganmu. Sungguh, aku jaminannya," Jungkook menghela nafas lega ketika Jimin mengatakan sesuatu di seberang. "Ya, ya. Hyungku akan menunggu disini. Hati-hati di jalan."
Jungkook mendesis marah kepada Taehyung yang sedang bersiul-siul jahil.
"Tega sekali kau mau membatalkan janji dengan Jimin hyung?! Dasar manusia tak berperasaan! Bajingan! Pikirkan bagaimana perasaannya kalau aku tidak mencegahmu untuk membatalkan kepergianmu!" amuk Jungkook.
Kedua jari telunjuk Taehyung menyumbat lubang telinganya. "Berisik sekali sih, Kook. Aku tak akan tenang kalau meninggalkanmu sendirian, nanti kau menangis di pojokan."
"Aku sudah dewasa, hyung! Kau seharusnya pergi saja berdua dengan Jimin hyung. Dia pasti sangat kecewa kalau aku ikut."
"Kalau dia sahabatku, dia tak akan kecewa hanya karena kau ikut dengan kita."
Jungkook berhenti berusaha mendebat Taehyung yang tentunya tidak beda jauh kadar kekeraskepalaannya dengan dirinya. Orang ini sungguh tidak peka, biadab nomor satu di muka bumi, pikir Jungkook.
.
.
.
Dan disinilah mereka bertiga, di Panti Asuhan dengan dikelilingi manusia-manusia kecil nan ribut yang selalu meminta ditemani kesana kemari.
"Jungkook hyung, ayo main mobil-mobilan!"
"Aaaaah, biskuitku diambil Jiwon! Taehyung oppa, tolong ambilkan!"
"Jimin hyung… Yooeun ngompol di kakiku! Hueeee…"
Entah karena merasa nyaman dengan ketiga orang itu, anak-anak itu terus saja menempel kepada mereka, sampai-sampai Ibu pemilik Panti Asuhan, Gong Hyojin, menggelengkan kepala. Beliau wanita paruh baya yang anggun dan bersahaja. Di wajahnya yang dihiasi keriput halus selalu bertengger lengkungan senyum cantiknya. Ia pun mendekat dan menyuruh anak-anak bermain sendiri barang sebentar saja, memberinya waktu untuk berbincang dengan tiga pemuda itu.
"Anak-anak senang karena mendapat teman baru," ujarnya sambil tersenyum dan memandangi anak-anak yang berlarian kesana kemari. "Terima kasih karena sudah meluangkan waktu kemari. Aku benar-benar bersyukur. Semoga Tuhan selalu memberkati kalian."
"Tidak apa, kami justru sangat senang karena diperbolehkan berkunjung kemari," balas Jimin.
"Sekarang kalian beristirahat saja dulu. Kalian pasti lelah. Kami sudah menyiapkan sedikit makanan untuk kalian. Ayo kita ke dapur."
Nampaknya kelelahan mengambil alih. Mereka berjalan ke dapur mengikuti Hyojin dan duduk mengelilingi meja makan panjang yang biasa digunakan oleh anak panti asuhan. Hyojin menyajikan makanan sederhana dengan apik; sepiring sayur kimchi, tahu putih rebus, tiga piring nasi dan tiga gelas teh hangat.
"Silakan dimakan, maaf kalau makanannya sederhana," Hyojin mengangguk lalu pamit kembali ke dapur.
"Anak-anak disini memakan makanan seperti ini hampir setiap hari," Taehyung menatap makanan ini. "Aku jadi tak mau lagi menyisakan makanan."
"Ya, begitu lebih baik hyung," Jungkook mengambil kimchi dan tahu lalu segera melahapnya karena ia sungguh lapar sekarang. Jimin pun mengikuti langkah Jungkook.
Seusai makan, mereka mencuci piring bekas makan mereka di dapur dan kembali bergabung dengan anak-anak itu. Entah karena kebanyakan makan atau apa, Jungkook memilih untuk duduk dulu supaya makanan itu tidak teraduk-aduk di perutnya.
Matanya menatap lekat kepada sosok Taehyung dan Jimin yang bermain bersama dengan akrab bersama anak-anak tak berdosa itu. Mereka kompak mendorong dua ayunan yang diduduki oleh anak-anak itu, sambil menderaikan tawa yang sangat bebas.
Jungkook menggigit bibir bawahnya. Benar dugaannya, ia seharusnya tak jadi pengganggu hari ini. Ia lalu bangkit dan menuju ke arah yang berlawanan dengan mereka. Yang terpenting baginya adalah tidak menjadi saksi keakraban kakaknya dengan Jimin.
Pemuda bergigi kelinci itu duduk di bangku depan teras. Desau angin menyibak poni kelamnya. Lamunan kembali datang menyapa imajinya. Dan…
…seorang anak perempuan berambut panjang menghampirinya.
"Oppa, kenapa tidak ikut bermain? Disana asyik lho."
Jungkook tersenyum seraya menggeleng. "Tidak, aku disini saja."
"Kenapa? Ayo oppa, memangnya asyik sendirian disini?"
"Aku… cemburu," pandangan Jungkook menerawang.
Anak itu mencebikkan bibirnya, bingung. "Cemburu itu apa?"
"Ah, tidak," Jungkook menggaruk kepalanya. Kenapa ia malah curhat kepada bocah? "Sudah, kau bergabunglah dengan kawanmu. Mereka pasti menunggu di taman," ujarnya sambil mengusap kepala anak itu.
"Iya, hyung. Aku ke taman dulu ya, dadaaaah!" anak itu berlari seraya melambaikan tangan kepada Jungkook, yang kemudian dibalas oleh yang lebih tua.
Jungkook menarik nafasnya dalam, dan menghembuskannya perlahan. Sampai kapan ia harus merasakan perasaan yang seharusnya tak ia rasakan ini?
.
.
.
"Dorong terus hyuuuung! Horeeee!"
"Tinggiiii, tinggiiii!"
Keceriaan anak-anak yang diajak bermain oleh Taehyung dan Jimin rupanya menular. Keduanya ikut tertawa-tawa melihat bocah-bocah polos itu bermain dengan asyiknya.
"Tunggu-tunggu, berhenti dulu, capek," nafas Taehyung tersengal. Ia memegang kedua lututnya, kelelahan. Dijatuhkannya tubuhnya ke rumput dengan bebas, kedua tangan dan kakinya direntangkan lebar-lebar.
Ketika Taehyung sedang menghirup oksigen sepuasnya, seorang anak perempuan—yang tadi menghampiri Jungkook—menarik-narik rambutnya pelan.
"Hai," sapa Taehyung. Anak itu tersenyum, ia mengambil posisi duduk di samping Taehyung.
"Oppa," gadis kecil itu memainkan ujung roknya. "Cemburu itu apa?"
Taehyung langsung mendudukkan dirinya, memandang gadis kecil itu dengan heran. "Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?" tanyanya sambil menjawil hidung si kecil.
"Oppa bergigi kelinci itu tadi sebut-sebut cemburu. Tapi oppa itu tidak mau memberi tahu cemburu itu apa," gadis kecil itu memberengut.
Taehyung mengernyitkan dahinya. Cemburu? Pada siapa?
"Nanti kau akan tahu sendiri, sayang," Taehyung cari aman, ia tak mau ambil resiko memberi tahu hal yang tidak seharusnya diketahui anak kecil.
"Uh, kalian sama saja. Ya sudah, aku mau main bersama Yooeun!" pekik gadis kecil itu sebal, lalu bangkit dan berlari ke arah teman-temannya.
Sementara Taehyung ditinggalkan dalam kesendirian. Ia mengusak wajahnya, bingung. Diliriknya Jimin yang masih heboh bermain dengan para malaikat kecil itu. Setelahnya ia berdiri, dan mencari sosok adik kesayangannya.
.
.
.
"Kook?"
Jungkook terkesiap, ia terlalu kaget dengan kehadiran kakaknya yang tiba-tiba. Akhirnya Taehyung menemukan pemuda bergigi kelinci itu di teras depan sedang duduk sendirian di kursi kayu panjang.
"Ah, ya hyung?"
"Sedang apa disini?" Taehyung duduk di sampingnya. Jungkook kembali memandang lurus ke depan.
"Sedang duduk, memangnya sedang apa lagi?"
"Nenek-nenek tua renta pun tahu kau sedang duduk. Maksudku, kenapa kau tidak mau bergabung dengan anak-anak itu?"
"Capek," timpal Jungkook singkat.
"Kau capek?" Taehyung menjulurkan kedua tangannya ke bahu adiknya. "Kau mau kupijat supaya lebih rileks?"
Jungkook menggerakkan bahunya enggan, membuat Taehyung kembali menarik kedua tangannya. "Tidak hyung. Kau kembali saja kesana. Biarkan aku istirahat disini."
"Kau kan bisa istirahat di dalam. Jangan disini, nanti kau masuk angin."
"Sudah kubilang biarkan aku disini!"
Jungkook menatap kakaknya dengan nyalang. Kakaknya tampak kaget karena Jungkook jarang sekali menggunakan nada tinggi seperti itu. Jungkook yang menyadari hal tersebut menundukkan kepalanya, menghindari tatapan terluka dari Taehyung.
Taehyung menghela nafas, lalu tersenyum. "Maaf, aku terlalu memaksamu ya? Kau pasti lelah, aku akan bilang pada Jimin agar kita pulang sekarang."
Tanpa menunggu tanggapan Jungkook, Taehyung segera masuk kembali ke dalam. Jungkook si oportunis tidak menyia-nyiakan kesempatan, ia segera berlari keluar dan menyetop taksi, lalu pulang menuju rumahnya.
.
.
.
TBC
Wowowowowo akhirnya apdet juga :") aku kenapa kesel ya sama chap ini hahaha. Chap ini udah apdetnya seabad, minim isi pula (ditimpukin readernim), aku potong supaya konfliknya pas. Btw, ini udah H-2 Wings Tour Jakarta, ya? Have fun buat yg nonton ya! Aku mau nyusul bapakku aja yang lagi diklat di Bandung huhuhu :")
Follow, fav and review juseyo! ^^
