Chapter 3 : My Classmates are This Perverted!?

A/N :

Chara Bio :

Name : Riea Kjellberg (baca : Rea Yellberg)

Race : Fallen Angel / Downfall

Appearance : Bayangin Yatogami Tohka. Udah? Sekarang tambahin sayap hitam. Udah? Lanjut dengan mata berwarna coklat cerah. Sama tinggi dengan Ise. Three size-nya 90-69-88 (Whoa!)

Sacred Gear : none

Special Power : Yah, seperti kebanyakan malaikat jatuh lainnya…

Weapon : Untuk sekarang belum ada.

Chapter tiga! Akhirnya kelar juga! Setelah semedi di puncak Gunung Everest tiga hari tiga malam dan puasa 40 hari berturut-turut saya akhirnya mendapat—uhuk, mendapat penyakit. Haha, becanda. Saya cuma perlu ngupil ama secangkir teh tarik buat dapat inspirasi.

Duo mesum Matsuda-Motohama dan Asia-chan akan muncul di chapter ini. Miki juga akan masuk Sekai Academy mulai chapter ini. Oh, sekedar bocoran, anda akan tahu sifat asli Miki di chapter ini. Huehuehuehue~ #ehm…

Udah dulu bocorannya. Selamat membaca!

Disclaimer & warning : liat chapter 1 (malas nulis ulang :v)

STORY START!

"Jadi mulai sekarang, kita kedatangan teman baru. Silahkan perkenalkan dirimu."

"Baik. Saya Riea Kjellberg. Saya pindahan dari Swedia. Mohon bantuannya, teman-teman sekalian."

Saat ini, tokoh utama kita sedang menahan diri untuk tidak melemparkan tsukkomi ke murid baru kelas 2-B Sekai Academy. Yang ada di pikiran tokoh utama kita sekarang adalah :

"KENAPA TUHAN TEGA MEMBERI COBAAN INI PADA HAMBANYA YANG TIDAK SANGGUP~!?" begitu.

"Jadi, sekarang Kjellberg-san duduk di… ah, sebelah Hyoudou-kun."

Gaaaaa~ng… hancur sudah…

-_-Meet the Devils!-_-

Jam makan siang,

Meja Riea langsung ramai dirubungi murid-murid sekelas. Dengan tenang Riea menjawab semua pertanyaan yang diajukan. Bahkan beberapa orang sudah bertukar alamat e-mail dengannya. Hanya saja Ise merasa terganggu dengan dua orang murid yang selalu melemparkan pertanyaan yang mengarah ke hal-hal seksual.

"Ne, Riea-chan, pakai celana dalam warna apa hari ini?"

Atau,

"Ne, Riea-chan, apa kamu pernah melakukan seks sebelumnya?"

Atau yang lebih parah,

"Riea-chan, izinkan aku berhubungan seks denganmu! Ambillah keperjakaanku!"

Dan hasilnya, kedua murid tadi mendapat hujan pukulan dari seluruh siswi.

"Kalian cukup bernyali juga menanyakan pertanyaan-pertanyaan tadi." Ujar Ise.

"Memangnya kenapa!? Kami adalah persatuan gentlemen mesum! Kami bangga dengan kemesuman kami!" ujar salah satu dari mereka yang berkacamata.

"Mati sana!"

"Menjijikkan!"

"Kalian tidak pantas hidup!"

"Jadilah jomblo selamanya bahkan sampai di neraka nanti!"

Kata-kata yang terlalu menyakitkan. Bahkan penulis saja merasakan sakit saat menulis ini. Ehm, kembali ke cerita.

"Kjellberg-san, apa kamu punya pacar?" Murayama bertanya.

"Tidak," murid-murid laki-laki selebrasi, "tapi aku sudah berjanji akan menikahi seseorang." Murid-murid laki-laki meratap.

"Benarkah? Siapa? Orang mana? Ganteng ga?"

"Hyoudou Issei-kun." Satu nama itu akan masuk daftar musuh para jomblo Sekai Academy.

"HYOUDOU!? YANG BENAR SAJA!" Murid berkacamata—Motohama—yang menanyakan pertanyaan mesum tadi menatap ke arah Ise dengan tatapan membunuh. Sedangkan Ise—

"Kemana Hyoudou pergi!?"

"Cari dia!"

"Jangan sampai dia lari!"

"Misi : Cari Hyoudou lalu adili dia di guillotine!"

"YOOOOOO!" semua murid laki-laki langsung berlari keluar kelas dengan membawa berbagai macam alat seperti sapu, penggaris kayu, bahkan ada yang membawa kursi kelas.

Sementara itu Ise kembali masuk kelas dari jendela.

"Bagaimana Hyoudou-kun masuk!?" tanya Katase.

"Eh? Aku cuma gelantungan di luar jendela kok." Jawab Ise santai. Seolah-olah gelantungan di luar jendela di lantai tiga adalah hal yang wajar.

"Yang lebih penting, apa maksudnya Kjellberg-san berjanji akan menikahimu, Hyoudou-kun?" tanya Murayama dengan mata berkilat-kilat.

"Riea, aku bersumpah demi nama tuhan aku tidak pernah berjanji seperti itu denganmu. Jadi, bisa jelaskan padaku maksudmu?" tanya Ise.

"Kamu lupa? Hiks, aku sedih nih… padahal waktu kamu menyelamatkan aku dari monster kemarin kamu yang mengobati luka dan hatiku. Jadi sederhananya, aku jatuh cinta padamu. Sudah kuputuskan kamu yang akan kujadikan suamiku. Titik."

Satu kelas hening.

"ITU DIA, KEJAR HYOUDOU!"

"Gawat! Maaf, nona-nona, aku pergi dulu! Adieu!" sambil backflip, Ise melompat keluar jendela. Beberapa siswi menjerit kaget melihat Ise meloncat keluar jendela. Sedang para siswa langsung mengejar Ise keluar kelas.

-_-Meet the Devils!-_-

"Jadi onii-chan dikejar-kejar karena Riea-san menyatakan cinta pada onii-chan? Pfft…" Miki berusaha menahan tawanya saat mendengar cerita Ise.

"Kalau mau ketawa silahkan aja! Aku ga masalah kok! Hiks… memang kenapa kalau ada cewek yang suka denganku? Kenapa aku malah jadi korban? Hiks…" Ise mewek di pangkuan Miki saat pulang.

"Mau gimana lagi, Onii-chan murid baru tapi udah menarik perhatian banyak orang. Salah sendiri punya wajah seganteng itu sampai-sampai Miki sendiri jatuh cinta." Ujar Miki sambil mengelus kepala Ise.

"Kita saudara ingat? Jangan diam-diam masuk kamarku malam-malam dan langsung menyergap "Little Ise", ngerti?"

"Fufufu, tenang aja. Miki belum akan melakukan itu kok."

"Apa maksudnya belum!? Berarti nanti beneran akan kau lakukan?!"

"Bukan nanti kok. Miki masih perlu persiapan mental. Fufufu, Miki harus beli pakaian dalam yang menggugah selera. Huehuehuehuehue…"

"OY! KITA SODARA OY!"

"Kalau saling cinta, batasan apapun akan menghilang. Atau… onii-chan tidak… mencintai Miki?" Miki menatap mata Ise dengan pandangan memelas. Ise bangkit dari pangkuan Miki, pergi ke toilet, lalu terdengar suara hantaman yang keras berkali-kali diikuti suara sesuatu yang retak. Ise keluar dari kamar mandi dengan kepala berdarah dan tengkorak kepala yang setengah terbuka memperlihatkan bagian dalam kepalanya yang berdenyut. (HOEEEEEKKK! #authormuntah)

"Kalau aku tidak mencintai Miki, aku tidak akan melakukan ini." ujar Ise.

"Kalau gitu—

"TAPI! Tetap aja saudara tidak boleh melakukan "itu". Paham?" potong Ise. Miki mengangguk pelan dengan ekspresi kecewa.

"Huh… kalau kita bukan saudara…" gumam Miki. Tentu saja Ise mendengarnya.

""Kalau kita bukan saudara…" kenapa? memangnya kenapa kalau kita bukan saudara?" tanya Ise sambil memeluk Miki dari belakang.

"Miki pasti sudah mengambil keperjakaan onii-chan sejak lama."

"OY!"

"Tenang saja! Miki akan memperlakukan ****** onii-chan dengan lembut!"

"OY! Cewek ga seharusnya ngomongin ******! Gaaaaaaa~h!"

-_-Meet the Devils!-_-

Hari ini hari pertama Miki sekolah. Jadi Ise mengantar Miki ke ruang guru. Mereka akan ditempatkan dalam kelas yang sama. Dan seperti biasa, mulai terdengar murid-murid membicarakan tentang murid baru.

"Yosh, anak-anak. Duduk dibangku masing-masing. Yah, seperti yang sudah kalian ketahui, kita kedatangan teman baru hari ini. biarpun hal ini tidak wajar karena kita mendapat teman baru dua hari berturut-turut… Masuklah, Hyoudou-san."

Pintu kelas terbuka dan Miki masuk. Murid-murid laki-laki (yang cuma berjumlah delapan orang) bersorak riang. Murid-murid perempuan (yang jumlahnya dua kali lipat murid laki-laki) berseru "Kawaiiiii~!"

"Perkenalkan, saya Hyoudou Mikie. Mulai hari ini saya akan belajar bersama teman-teman sekalian di kelas ini. Mohon bantuannya!"

"""Iyaa~! Sama-sama, Mikie-chaaa~n!""" satu kelas menjawab serentak.

-_-Meet the Devils!-_-

Jam istirahat,

"Mikie-chan! Maukah kamu memperlihatkan celana dalammu padaku?"

BUAGH! Motohama melayang keluar kelas.

"Mikie-chan! Izinkan aku meremas oppai indahmu!"

BUAGH! Matsuda terlempar keluar jendela.

"Mikie-chan! Maukah kamu—

BUAGH! Motohama (yang baru kembali hidup) terlempar dan menabrak papan tulis.

"Mikie-chan! Izinkan aku—

BUAGH! Matsuda (yang masuk kelas dengan memanjat jendela) terbang kembali keluar.

"Ne, Hyoudou-kun, itu… bukannya terlalu… berlebihan?" Murayama berbisik ke Ise yang mengusap kepalan tangannya dengan tisu basah antiseptik. (buseet… penghinaannya rendah banget!)

"Tidak juga. Setidaknya kepala mereka tidak berpisah dari badan kan?" jawab Ise santai.

"Fufufu, mereka masih beruntung lho. Beberapa hari yang lalu saat kami pulang belanja makan malam onii-chan membabat habis satu peleton berandalan yang berkata kalau mereka ingin Miki untuk "makan malam" mereka. Luka yang mereka dapat minimal patah tulang sih…" Ujar Miki santai. Semua laki-laki di kelas menepi. Takut mereka akan jadi korban selanjutnya. Tapi tidak dengan—

"Mikie-chan! Izinkan ak—

BUAGH!

"Mikie—

BUAGH!

Matsuda dan Motohama terlempar keluar jendela. Beberapa detik kemudian mereka kembali masuk dan kembali mengajukan permohonan mesum mereka. Mereka baru berhenti setelah Ise menghajar mereka dengan shinai-nya sampai shinai itu patah. Sekolah tidak mempermasalahkan tindakan Ise karena Ise dianggap "membela kebenaran" oleh para gadis.

"Atas nama tuhan dari semua agama, kalau kalian kembali meminta hal-hal mesum, melecehkan, atau melakukan apapun yang berhubungan dengan hal-hal mesum pada adikku tercinta, aku bersumpah kalian tidak akan bisa melangkahkan kaki, tidak akan bisa menggerakkan tangan, tidak akan bisa bicara, tidak akan bisa berdiri tegak, tidak akan bisa bernapas normal, tidak akan melihat matahari pagi besok, dan tidak akan berada di alam ini. Paham, babi-babi mesum kurus?" ancam Ise sambil mengacungkan shinai lain dari tasnya ke Matsuda dan Motohama. Mereka berdua hanya mengangguk sambil mengalirkan air mata.

"Hyoudou-kun, jangan terlalu kasar pada mereka. Mereka cuma jones-jones putus asa karena tidak bisa bercinta dengan 1.000 perawan berdada besar seperti mimpi mereka. Lihat, hati mereka yang serapuh kayu lapuk berayap mulai hancur. Tidakkah kamu kasihan melihat mereka?" ujar seorang gadis berkacamata.

"Sialan kau Kiryuu Aika! Perawan berdada rata sepertimu diam saja! Kau tidak akan mengerti perasaan kami!" Matsuda berteriak membela diri. Didukung oleh Motohama.

"Oooh~? "Berdada rata"? Kuakui aku perawan, tapi maaf saja tuan-tuan! Lihat ini! Ini hasil pengukuran fisik minggu lalu!" Kiryuu memperlihatkan duo mesum hasil pengukuran fisiknya. Membuat Matsuda dan Motohama membelalakkan mata mereka tidak percaya.

"APA!? Tidak mungkin! Tapi dadamu kelihatan kecil—

"Kalau begitu kau harus membeli scouter baru, tuan Three-size Scouter. Aku yakin kacamatamu mulai bermasalah. Khukhukhu…" Kiryuu menyeringai penuh kemenangan sambil berpose erotis.

"K-kau…! Jangan meremehkan kekuatan kacamataku! Akan kubuktikan padamu! Eto… uh… duh…!" Motohama mulai berkeringat. Merasa kalau dia sudah kalah.

"Gimana? Sudah menyesal memanggilku dada rata?"

"Kuh! Sial! Aku bukan melihat ukuranmu! Aku melihat ukuran Mikie-ch—

"Ehem, sebelum kau menyelesaikan itu, kuharap kau sudah membersihkan lehermu, Motohama-dono." Ujar Ise dari belakan Motohama. Di mata Motohama Ise terlihat seperti algojo dari zaman edo dengan sebilah katana ditangannya.

(A/N : "Membersihkan leher" maksudnya orang yang dimaksud akan dihukum pancung)

"Mo-mohon ampun paduka yang mulia! Hamba mohon beri hamba kesempatan! Jangan biarkan hamba berpisah dengan tumpukan koleksi berharga hamba yang hamba simpan di ruangan tersembunyi di balik lemari hamba! Hamba mohon paduka yang mulia Hyoudou-sama!" Motohama bersujud di hadapan Ise dengan berurai air mata.

"Beta tidaklah mungkin melakukan itu. Jikalau beta memberi ananda keringanan atas pelanggaran yang ananda lakukan, apalah kata rakyat beta nanti?" ujar Ise layaknya seorang jendral dari era Sengoku.

"Y-yang mulia…? Ha-hamba…"

"Baiklah! Dengan ini rakyatku sekalian! Hari ini beta akan mengadakan eksekusi umum atas pelanggaran yang dilakukan salah satu penduduk Provinsi Sekai! Beta sebagai shogun (jendral) Provinsi Sekai-lah yang akan mengeksekusi sendiri penduduk bersalah ini!"

"WOOOOAAAHH!" terdengar dukungan dari penjuru kelas terutama dari para siswi.

"Yang mulia! Tolong pertimbangkan lagi! Tolong jangan hukum mati sahabat hamba!" Matsuda berusaha membela.

"Tidak bisa! Bahkan hukumannya tidak bisa diringankan dengan melakukan seppuku! Dia tidak pantas mendapat kehormatan seperti itu!" ujar Ise tegas lalu menghunus shinai-nya.

"YANG MULIA! HAMBA MOHON JANGAN HUKUM TEMAN HAMBA! HUKUM SAJA HAMBA!"

"TIDAK BISA!"

"YANG MULIAAAA~!"

"TIDAAAAK~!"

"Ne, Mikie-chan, apa kakakmu… selalu seperti ini…?" tanya Katase.

"Fufufu. Biasanya cuma di hari selasa." Jawab Miki santai.

"Motohamaaaa! Tidaaaaaaak! Paduka Yang Mulia Ise! Mulai ini hari, hamba menderhaka! Hamba menderhakaaaaaa~!" Matsuda meratap di tubuh Motohama yang tak sadarkan diri.

Ah, kehidupan penuh drama anak sekolahan…

-_-Meet the Devils!-_-

Di jalan pulang,

"Fufufu, mereka menarik juga ya?" ujar Miki sambil menggandeng tangan Ise.

"Menarik sih. Kalau mereka ga mesum mungkin asik temenan sama mereka." Ujar Ise. "Haaa~h… entah sampai kapan ini akan berlangsung… kenapa aku bisa dapat teman sekelas semesum mereka bertiga sih?"

"Onii-chan, kita ga boleh milih-milih teman lho!"

"Justru jadi orang musti pandai milih teman. Kalau punya teman mesum kaya gitu bahaya. Ntar malah kita yang kena batunya."

"Tapi Kiryuu-chan orangnya baik kok! Dia bahkan ngasih pengaman untuk jaga-jaga kalau nanti kita khilaf." Ujar Miki sambil mengeluarkan bungkusan kecil dari kantong roknya.

"Miki, buang kondom itu."

"Eeee~h! tapi…"

"Miki. Mohon dengarkan kata kakak tercintamu ini. Buang kondom itu, sayang."

"O-onii-chan… ta-tapi kalau nanti kita khilaf dan terjadi hal-hal yang diinginkan gimana? Nanti kalau kita punya bayi dan—

Sebelum Miki selesai Ise sudah mengambil kondom itu dan membuangnya ke tempat sampah terdekat.

"Ohohoho… anak muda zaman sekarang. Ini masih sore lho…" terdengar suara seseorang dari belakang.

"GBHRUEGH! KOK ODIN-OSSAN ADA DI—UPH!"

"Shush! Jangan berisik! Nanti malah—

"ODIN-SAMA! DIMANA ANDA! KITA HARUS SEGERA KAMBALI KE VALHALLA!"

"Sekiryuutei, kumohon jangan pisahkan aku dengan negara surga ini! Sembunyikan aku dimana saja asal Valkyrie itu tidak menemukanku! Aku berjanji akan memberikan wanita Valhalla manapun untukmu!" Odin, sang bapak para dewa Viking, bersujud dikaki Ise. Kalau Azazel melihat ini entah apa yang akan dikatakannya.

"AHA! Disana rupanya! Odin-sama, berhenti bersikap kekanak-kanakan! Kita akan kembali ke Valhalla malam ini juga!" seorang wanita berambut perak menarik telinga Odin dan memaksanya berdiri.

"ADADADAW! Roseweisse, jangan menarikku seperti itu! Jadilah wanita yang lembut kalau kau ingin punya jodoh!" *TWITCH

"B-bukan mauku jadi jomblo 18 tahun! Hueeeee~!"

"Oh, pengasuh kakek tua ini sekarang Rose-neechan toh? Apa kabar nee-chan?" sapa Ise pada wanita tersebut.

"Hei, siapa yang kamu panggil kakak? Kamu ratusan tahun lebih tua daripadaku tahu!" celetuk wanita itu. Ah, dia sudah berhenti mewek.

"Onii-chan, siapa dia? Apa dia wanita simpananmu selama perjalanan keliling dunia dulu? Atau dia wanita yang menjebak onii-chan dan mengambil keperjakaan onii-chan sebelum Miki?" tanya Miki disertai aura membunuh yang pekat. Entah darimana katana di tangan Miki datang.

"Miki, jangan berburuk sangka terhadap kakakmu tercinta. Kalau aku punya kekasih aku pasti sudah mengenalkannya padamu. Lagipula, tidak mungkin aku mengkhianati dia…" ujar Ise.

"Maaf, onii-chan…"

"Ya sudah. Sekarang perkenalan dulu. Ini Roseweisse, Valkyrie yang pernah menolongku saat pembasmian iblis di Stockholm dulu. Rose-neechan, ini Miki, adik kecilku tercinta." Ujar Ise sambil merangkul Miki.

"Dari sudut pandangku kalian tidak terlihat seperti saudara. Lebih seperti… kekasih?" ujar Roseweisse.

"Kekasih…? Miki dan… onii-chan…? Kyaaaa~h!"

Dalam khayalan Miki sekarang :

"Onii-chan… ja-jangan disitu—ahn~!"

"Miki, kamu cantik sekali. *chu~"

"Kyah~n! Onii-chan nakal nih~! Ahn~! Onii-chan~!"

"Miki, aku akan memasukkannya."

"Pelan-pelan, onii-chan. I-ini pertama kalinya…"

"Oke. Kalau gitu…"

"Aaaaaahn~~~!"

"Huehuehuehuehue~(sambil ngiler)" Miki tenggelam dalam khayalannya.

"Kalau begitu aku akan membawa kakek tua ini dan—KEMANA PERGINYA DIA!? ODIN-SAMA! KALAU KITA TIDAK KEMBALI SEKARANG KITA AKAN DALAM MASALAH! ODIN-SAMAAAA~!" Roseweisse terbang mencari Odin (yang sebenarnya bersembunyi dibalik pohon). Setelah Rose menjauh, Odin langsung cabut.

"Kalau gitu, Sekiryuutei, aku cabut dulu! Dadaaah~!"

"… orang tua itu masih saja suka kelayapan. Haaah~ Ayo Miki, kita—Miki? Miki? Oy, Miki-chan?"

"Huehuehuehue~ dengan onii-chan… huehuehue~!"

-_-Meet the Devils!-_-

Sebelum pulang Ise dan Miki mampir di toserba untuk membeli bahan makan malam. Dijalan pulang,

"Kyaaah~! Duuuh~ kenapa saya selalu tersandung siiih~?" seorang gadis asing kira-kira 15-16 tahun jatuh tersandung tepat dihadapan Ise dan memperlihatkan celana dalam putih bersihnya.

"Anda baik-baik saja?" tanya Ise.

"Ah, grazie. Maaf merepotkan anda—eh? Ise? Miki? Itu kalian?"

"Yep, ini kami, Asia-chan! Lama tidak ketemu. Kamu sehat?" sapa Miki pada gadis itu.

"Un! Saya baik-baik saja. Bagaimana dengan kalian? Bukannya Miki tidak bisa kena sinar matahari?" tanya gadis itu—Asia.

"Hehe, aku baik-baik aja kok. Lihat! Aku tidak apa-apa kena sinar matahari!" Miki berlari-lari kecil mengelilingi Asia.

"Waaah, syukurlah. Ini pasti kehendak tuhan. Ngomong-ngomong bahasa Italia kalian sepertinya semakin lancar saja."

"Hehe, begitulah. Tapi, apa yang Asia-chan lakukan disini?" tanya Miki.

"Saya sedang mencari seseorang. Menurut informasi yang didapat fraksi surga orang itu melarikan diri ke kota ini." jawab Asia sambil mengeluarkan suatu gulungan kertas dari tas tangannya.

"Dari caramu mengatakannya, orang ini pasti buronan. Apa aku benar?" tanya Ise. Asia mengangguk.

"Orang ini mencuri [Sacred Gear] dari salah satu exorcist di Vatikan." Asia memperlihatkan foto seseorang berkacamata dan berambut coklat. Di foto itu terlihat orang tersebut membawa pedang besar.

"Siapa dia?"

"Namanya Mario Ziennes. Sebelumnya dia adalah exorcist yang bekerja di Austria untuk membasmi iblis-iblis liar disana. Karena dia membantai habis penduduk di salah satu desa karena dia menganggap seluruh penduduk adalah iblis menyamar, dia akhirnya ditahan di Roma. Sayangnya dia berhasil melarikan diri dan mencuri [Sacred Gear] exorcist Vatikan." Jelas Asia. Ise memperhatikan foto itu dengan seksama.

"Mencuri [Sacred Gear] orang lain? Apa itu bisa dilakukan?" tanya Miki.

"[Sacred Gear] milik Ziennes, [Grateful Robber] memungkinkannya untuk mencuri [Sacred Gear] orang. Karena itulah dia bisa mencuri [Sacred Gear] milik Vatikan." Jelas Asia.

"Apa kamu bekerja sendirian?" tanya Ise.

"Tidak. Bapa Glenn dan suster Griselda juga ikut mencarinya. Saya mencari disekitar sini, bapa Glenn mencari di sekitar pusat kota, dan suster Griselda mencari di utara kota."

"Kalau begitu kami akan membantu. Kalau kami dapat informasi, kami akan menghubungimu. Miki, berikan nomor HP-mu." Ujar Ise. Miki memberikan nomor HP dan alamat e-mail-nya. Asia juga memberikan alamat e-mail dan nomor HP-nya. Mereka lalu berpisah.

-_-Meet the Devils!-_-

Jam pelajaran olahraga, duo mesum beristirahat sambil menikmati pemandangan dihadapan mereka.

"Woaaah! Lihat itu! Saat mereka berlari kita bisa melihat dada mereka berguncang! Ini adalah pemandangan terindah!"

"Benar sekali! Kuharap kita bisa melihat pemandangan ini selamanya!"

"Oh! Lihat itu! Chika-chan melompat! Oooh~! Guncangan oppai paling sempurna yang pernah kulihat!"

"Yang disana juga! Uoooh~! Mutsuki-chan dengan cup-E-nya melompati rintangan! Uooooh~! Aku bahagia bisa lahir ke dunia ini~!"

"Kalau cuma bisa melihat apa serunya sih?" tiba-tiba Ise ikutan nangkring.

"WHOA! Bikin kaget aje lo! Ngapain disini?" Ujar Motohama yang terkejut.

"Ga ngapa-ngapain. Cuma istirahat. Haha, sedih juga ya jadi kalian. Cuma bisa melihat tanpa merasakan bagaimana rasanya menyentuh apalagi meremas payudara beneran." Celetuk Ise.

"Huh! Memangnya kau pernah meremas payudara!?" Sejujurnya Ise sudah sangat sering mengalami itu dikarenakan adiknya yang… itu deh. Tapi tidak mungkin dia menjawab seperti itu kan?

"Aku bahkan pernah bercinta dengan perawan berdada cup-E." celetuk Ise tenpa berpikir. Tiba-tiba saja Ise menghilang. Dan entah sejak kapan Ise sudah tergantung terbalik di sebuah pohon dekat mereka.

"Oke, kita mulai pengadilan terbuka untuk terdakwa Hyoudou Issei. Terdakwa dinyatakan bersalah karena keperjakaannya telah diambil oleh wanita selain adiknya tercinta. Apa terdakwa punya pembelaan yang sah?" Miki dengan gaya bagai hakim menatap Ise dengan mata kosong ditambah aura hitam kelam yang keluar dari sekujur tubuhnya.

"Eh? Mi-Miki… san…? Apa yang—

"Sepertinya terdakwa tidak punya pembelaan. Jadi bagaimana keputusan dewan juri?" Miki memotong dan Riea berdiri dengan kertas bertuliskan kata "Bersalah"

"Keputusannya, terdakwa bersalah dan akan dijera dengan hukuman yang setimpal!" Miki mengetuk palu. Riea kemudian menurunkan Ise tanpa membuka ikatannya. Lalu menyeret Ise ke tengah lapangan dimana para gadis satu kelas telah menunggu.

"Hyoudou-kun telah mengkhianati kepercayaan kita, teman-teman semua. Karena itu kita bebas melakukan apapun terhadap Hyoudou-kun. Lakukan!"

"YAAAAA~!"

"T-TUNGGU! JANGAN—TIDAAAAK! JANGAN LEPAS CELANAKU! AKU CUMA BERCANDA TADI—KYAAAH~! TIDAAAAK~! TUAN HAKIM, HAMBA MOHON MAAAAAF! JANGAAAAN! HAMBA BELUM INGIN KEHILANGAN KEPERJAKAAN! MIKI-SAMA, MOHON—TIDAAAAK~! JANGAN DIMAINKAN BEGITU! KYAAAAHN~!" (watdafuq!?)

Dan bunga melati pun gugur…

"… apa barusan…"

"Yep."

"Dan mereka…"

"Yep."

"Apa itu beneran…"

"Yep."

"… bahkan punyaku saja tidak sampai segitu.."

"Punyaku juga…"

"Hyoudou sialan…"

"Aku ga nyangka punya Hyoudou-kun segede itu…! (gluk!) Huehuehuehue~"

"Sejak kapan kau disini Kiryuu Aika?"

"Itu ga penting…"

"Mulai sekarang, Hyoudou Issei adalah nama terlarang untuk para perjaka Sekai Academy."

"Setuju."

"OOOYYY! PALING NGGAK TOLONGIN GUEEE! JA-JANGAN DIHISAP BEGItuuuhhh~ Aaaaahhn~!" (watdafuq!?)

Ah, drama anak sekolahan…

-_-Meet the Devils!-_-

Ruang klub ORC,

"Jadi, apa yang kalian lakukan sampai Ise-kun jadi begitu?" tanya Kiba pada Miki.

"Ga kami apa-apain kok. Cuma kami "adili" saja. Onii-chan sudah kehilangan keperjakaannya di ******** gadis lain. Miki tidak terima itu. Pulang nanti Miki akan me****i onii-chan lalu me*****kan onii-chan sampai ******nya lemas. Lalu memaksa melakukan ****** lagi sampai ****** onii-chan lemas lagi lalu me*****i onii-chan lagi berulang kali sampai pagi dan ****** lagi. Tanpa berhenti Miki akan melanjutkan ****** dengan onii-chan. Tidak ada ampun bagi onii-chan yang telah membiarkan ******nya dijilat, dihisap, dan di******kan wanita lain." Aura gelap yang keluar dari Miki membuat bunga di meja Rias layu.

"Mi-Mikie-san, seorang gadis tidak seharusnya bicara seperti itu…" ucap Kiba gemetaran karena aura gelap Miki.

"Udah aku bilang aku cuma bercanda tadi! Tapi Miki dan gadis-gadis lainnya di kelas "menggilirku" sampai lemas. Untung aku masih bisa mempertahankan mahkota keperjakaanku sampai akhir…" Ujar Ise lemas.

"Itu tidak akan bertahan lama, onii-chan. Malam ini kita akan membuat bayi. Banyak sekali bayi… tenang saja, Miki akan memperlakukan ****** onii-chan dengan lembut. Kita tidak perlu kondom karena Miki ingin ****** onii-chan didalam."

"Sudah kubilang kita ini saudara! Terlebih lagi kita kembar!"

"Kalau begitu kita akan menonton "Yosuga no Sora" malam ini. dengan begitu Miki yakin onii-chan akan berubah pikiran. Bagaimana?"

"OGAH!"

"Onii-chan, cinta bisa menembus batasan apapun. Jadi, bersiaplah. Mulai jam sembilan, "enam jam maknyus" akan dimulai. Huehuehue~" Miki mulai ngiler. Membayangkan hal-hal yang akan dia lakukan bersama Ise selama "Enam jam maknyus" tersebut.

"Kiba, aku nginap di tempatmu malam ini."

"Ga masalah sih… tapi Mikie-san gimana?"

"Ada Riea dirumah. Jadi santai aja…"

"Oke. BENTAR! Barusan kau bilang murid baru Riea Kjellberg ada di rumahmu?"

"Ya. Napa?"

"… bukan apa-apa…"

Pintu ruang klub terbuka dan Rias masuk bersama Akeno, Yuuma, dan seorang wanita berpakaian maid. Suasana saat mereka masuk langsung berubah tidak menyenangkan.

"Semua sudah disini? Baiklah. Oh, Mikie-san juga disini?" ujar Akeno melihat Miki.

"Ya. Miki akan menemani onii-chan. Apa ada masalah kalau Miki disini?"

"Ah, tidak. Santai saja. Miki anggota klub juga kan?" ujar Yuuma sambil mengelus kepala Miki.

"Baiklah kalau begitu pertemuan klub akan kita mulai." Ujar Rias.

"Ojou-sama, apa perlu saya yang—

"Tidak apa-apa Grayfia. Biar aku saja yang bicara." Potong Rias sebelum maid-nya selesai. Belum sempat Rias membuka mulut muncul sebuah lingkaran sihir berwarna orange yang mengeluarkan api. Setelah api padam muncul seorang pria dengan tampang preman yang ngeliatnya aja sumpah udah kesel. Grrrrr! (maaf, author sangat membenci karakter satu ini di season 1-nya. Sekali lagi, maaf… peace :v)

"Sudah lama rasanya aku tidak ke dunia manusia." Ujar pria itu. Lalu menghampiri Rias. "Yo, lama ga ketemu, Rias."

"…" Rias tidak menjawab. Dia hanya duduk di sofa tepat disebelah Yuuma.

"Dingin seperti biasanya, ya. Mah, rapopo lah. Aku kemari untuk menjemputmu, sayang." Pria pirang itu mengulurkan tangannya tapi Rias menepisnya dengan kasar.

"Jangan sentuh aku, Riser." Ujar Rias. Matanya melihat Riser dengan tatapan mengancam.

"Jangan melihatku seperti itu, sayang. Lagipula bulan depan kita akan menikah. Ingat?" ujar Riser membuat Ise dan Miki terkejut.

Spontan Miki nyeletuk, "Buchou? Menikah dengan yankee ini? Ga salah? Buchou kan bangsawan? Ngapain nikah ama yankee?"

Riser bersiap hendak menyerang Miki dengan bola apinya. Ise melihatnya dan menahan tangan Riser.

"Kau lakukan sesuatu terhadap adikku, katakan selamat tinggal pada tulang tanganmu, Riser Phenex." Ancam Ise.

"Ho? Jadi kau tahu siapa aku? Kau mendidik budakmu dengan baik, Rias." Ujar Riser sembari menyentak tangannya dari genggaman Ise.

"Maaf, bung. Aku bukan budak iblisnya. Aku cuma bawahannya di klub ini." ujar Ise sambil mengelap tangannya dengan empat lembar tisu basah antiseptik (BUUUURRRNNN! Wahahahaha).

"Berarti kau manusia?"

"Nggak! Aku sisa-sisa dari peradaban bangsa maya kuno! Ya iyalah, bego! Aku manusia! Ga bisa bedain aura manusia ama aura iblis apa!?" celetuk ise dengan wajah you don't say!?-nya.

"Fufufu, maaf, Ise-chan. Kemampuannya membedakan aura lebih payah dari kemampuan Koneko-chan beradaptasi dengan orang asing." Ujar Yuuma. Koneko menyudut di pojok ruangan sambil bergumam tidak jelas.

"Jadi, apa keputusan ojou-sama tetap tidak berubah?" tanya Grayfia yang daritadi diam di belakang Rias.

"Menurutmu?" balas Rias ketus.

"Baiklah. Sesuai dengan skenario terburuk yang dipikirkan Lord Gremory, kami memutuskan kalau pertunangan ini akan ditentukan lewat Rating Game." Ujar Grayfia.

"Rhathingh Ghameh? Halau ngah shalah ihu mahin cahurnya hangsha ihlish kan? (Rating Game? Kalau nggak salah itu main caturnya bangsa iblis kan?)" celetuk Ise sambil ngupil.

"Kira-kira begitulah." Jawab Grayfia.

"Heh, kalian bangsa iblis benar-benar tidak adil. Bahkan pada anggota keluarga sendiri." Ujar Ise sambil meperin upilnya ke bawah meja (jorok ah!).

"Maksudmu?" tanya Riser.

"Rating Game didasarkan oleh permainan catur kan? Kalau Rating Game diadakan, jelas-jelas Rias tidak diuntungkan disini. Dia tidak punya Pawn." Jawab Ise.

"Heh, benar juga. Budakmu cuma ada segini. Dan yang bisa bertarung setara dengan budakku yang paling lemah cuma si Lightning Priestess disana. Sementara aku…" *ctakk* Riser menjentikkan jarinya dan muncullah lingkaran sihir yang mengeluarkan api macam tadi (cih, pandai pamer aja ni kampret…). Dari lingkaran sihir tadi muncul 15 orang gadis-gadis cantik.

"… oh… jadi maksudnya tunangan—ehm. Maaf, salah. "Tunangan" buchou adalah pria bajingan dengan berbagai macam fetish seperti ini? Mengecewakan." Ujar Ise sarkatis.

"Heh, cuma bocah cemburu yang bahkan tidak punya kekasih. Aku yakin kau tidak akan bisa melakukan ini," Riser mencium salah satu budaknya dengan penuh nafsu sambil meremas-remas dada budaknya.

Dan suhu ruangan turun hingga membekukan teh di meja.

"Hooo… kau menyebut dirimu tunangan buchou sementara kau asyik bercumbu dengan wanita lain di hadapannya? Berani juga kau, ayam panggang bangsat…" Riser tidak berani membantah ejekan Ise karena melihat aura gelap yang muncul dari Ise.

"Onii-chan, boleh Miki potong ******nya? Nanti kita kasih makan buaya di kolam belakang rumah aja." Ujar Miki sambil menghunus katana (yang muncul entah dari mana).

"Miki-san, seorang gadis tidak seharusnya ngomong jorok begitu. Nanti ga ada cowok yang suka lho…" ujar Akeno. "Dan Ise-kun, kamu membuat tehnya jadi dingin. Tenanglah." Sambungnya.

"… Maaf, aku cuma ga bisa tenang ngeliat babi mencium seorang wanita cantik dengan penuh nafsu begitu."

"Siapa yang kau panggil babi bangs—

"Ehem, sebelum anda mulai berteriak, harap maklum kalau suara kita bisa sampai terdengar ke ruang OSIS. Kalau kita meribut di sini, Sona-chan akan datang dan membelasah kita dengan tsunami dalam ruangan." Ujar Yuuma. Satu ruangan langsung merinding.

"Jadi, menurut anda apa yang harus dilakukan, Ise-sama?" tanya Grayfia akhirnya.

"Tetap adakan Rating Game. Aku punya seseorang yang ingin kurekomendasikan jadi [Pawn] untuk buchou." Jawab Ise sambil mengorek kupingnya.

"Baiklah. Kalau begitu kelompok ojou-sama akan diberi waktu seminggu untuk berlatih. Begitu pula dengan Riser-sama. Apa semua sudah paham?"

"""Hai!"""

"Iya, senseeei~!" celetuk Ise.

"Heh! Aku tidak butuh latihan. Kalian latihan pun tidak akan ada yang berubah. Kalah tetap aja kalah." Ujar Riser. Saat hendak berteleportasi, Ise tiba-tiba berada tepat di sebelah Riser dan berbisik,

"Seminggu, persiapkan dirimu dengan baik. Kalo ga butuh latihan, cari jas pemakaman yang bagus kalau tidak mau dikremasi, yakitori yankee." Ujar Ise disertai senyum iblis dan cahaya yang memantul dari kacamata kecilnya. Riser pun kemudian pergi bersama budak-budaknya.

"Nah, yakitori yankee udah pergi, jadi aku pulang dulu. Ntar buaya di kolam belakang ngunyah bangku taman lagi." Celetuk Ise.

"Kau beneran punya buaya di kolam belakang!?" semua orang serentak berseru.

"Haha, becanda! Aku cuma mau menghubungi orang yang kurekomendasikan tadi. Sebentar." Ise membuat lingkaran sihir kecil di telapak tangannya. Disana muncul gambar 3D seorang gadis berambut pirang.

[Oh? Kupikir siapa tadi. Ternyata Ise toh. Ada apa memanggilku?] gadis itu berbicara dalam aksen Inggris british yang kental.

"Ellie, kau ingat pernah bilang mau jadi iblis?" tanya Ise dalam bahasa Inggris pula.

[Ya. Kenapa?]

"Datang ke rumahku nanti malam. Eh, disana sekarang pagi ya? Kalau gitu datang kesini kira-kira empat jam lagi. Kau akan bertemu dengan iblis yang ku maksud." Ujar Ise. Lalu menutup lingkaran sihir ditangannya.

"Oh, jadi yang onii-chan rekomendasikan Ellie-chan toh? Kenapa ga si otot aja?" tanya Miki.

"Siapa? Oh, maksudmu Kim-Jong Seo? Hm… Jong Seo mungkin kuat, tapi dia tidak berkualifikasi sebagai [Pawn]. Kalau kupikir dia lebih cocok menjadi [Rook]. Ototnya yang sekeras batang kayu jati itu yang jadi pertahanan sempurnanya." Jelas Ise.

"A-ano… kalian ngomongin siapa?" tanya Yuuma.

"Teman-teman kami dulu. Mereka yang memegang [Six Elemental Holy Blades]." Jawab Ise. "Aku akan merekomendasikan salah satu dari mereka. Datanglah ke rumahku nanti. Sekalian makan malam."

-_-Meet the Devils!-_-

"Hyoudou… Issei… kau akan menyesal… telah menantangku, Riser Phenex yang agung!"

"Riser-sama, barangnya sudah siap."

"Bagus! Sekarang kita hanya perlu menunggu latihan mereka. Heh, mereka melakukan hal yang sia-sia. Sudah pasti aku yang akan menang. He, hehehe, HAHAHAHAHA!"

END

A/N :

Kebenaran tentang Miki : brocon yandere akut stadium akhir. Hahaha. Jadi takut kalo ntar punya adek kaya gitu. Oh, bentar. Gue ga punya adek! Hahaha… :v

Saya tau, saya pernah bilang di chapter satu kalau fic ini ga ngikutin alur canon DxD. 'Kan emang bener cerita ini ga ngikutin alur aslinya?

Nah, saya akan menjelaskan tentang peran beberapa karakter.

Pertama, Asia.

Berbeda dengan cerita aslinya, disini Asia adalah utusan yang dikirim gereja Vatikan untuk mencari dan menangkap Mario Ziennes, buronan yang melarikan diri dan mencuri [Sacred Gear] dari seorang exorcist. Jadi di cerita ini Asia bukan biarawati yang dibuang dari gereja. Dia memang bertemu dengan Diodora Astaroth sebelumnya, tapi itu cerita untuk nanti. Asia dan Ise pernah bertemu sebelumnya. Seperti kata Azazel, Ise dan Miki sering berpindah-pindah kota bahkan negara cuma untuk menghindarinya. Itu juga cerita untuk nanti…

Selanjutnya tentang Yuuma,

Yuuma, nama aslinya Raynalle, dulunya malaikat jatuh yang bekerja langsung dibawah komando sang jendral, Azazel. Kalau di anime dia punya sepasang sayap dicerita ini dia punya dua pasang sayap. Di sini Yuuma menjadi iblis karena ngikut Akeno. Mereka saling kenal karena ayah Akeno juga bekerja di bawah komando langsung Azazel. Demi melindungi Akeno, Yuuma menawarkan diri menjadi iblis bersama dengan Akeno. Kejadian ini sudah beratus tahun setelah Yuuma bertemu Ise dulu. Setelah bergabung dengan keluarga Gremory sebagai bishop, dia membuang nama nya dan menggantinya dengan Amano Yuuma.

Sekarang latar belakang Ise dan Miki.

Mereka dilahirkan di Kyoto pada saat zaman perang. Ayah mereka, Hyoudou Fushimi, adalah salah satu prajurit pemberontak shogun. Beliau meninggal setelah dipenggal di depan umum dengan disaksikan oleh Ise dan Miki yang masih berusia empat tahun saat itu. Beberapa hari kemudian ibu mereka, Hyoudou Chinatsu pula yang ditangkap ke-shogun-anatas tuduhan menghasut pejabat setempat agar memberontak. Chinatsu dieksekusi dengan dihujani ratusan anak panah.

Ise dan Miki kemudian dirawat oleh kakek dan nenek dari ayah mereka. Kakek mereka, Hyoudou Fukasaku, adalah mantan prajurit shogun yang memberontak dikarenakan pejabat yang sangat tidak adil kepada rakyat. Untuk bekal, Fukasaku melatih Ise dan Miki bertarung. Mulai dari seni bela diri tangan kosong, menggunakan pedang dan senjata lain, sampai melatih mereka membunuh. Mereka berkelana di umur 14 tahun sejak kakek dan nenek mereka meninggal. Sejak saat itulah mereka berkelana mengelilingi Jepang.

Mereka bertemu pemegang [Six Elemental Holy Blades] saat berkelana di daerah Hokkaido pada umur 16 tahun. Ise dan Miki pun memutuskan untuk bergabung bersama mereka. Dan itulah pertama kalinya Ise dan Miki bertemu makhluk dunia gaib selain yokai Jepang. Cerita petualangan mereka akan ada di chapter setelah pertarungan melawan Riser nanti.

Jadi, bagaimana hasil pertarungan ORC vs Riser Phenex? Bagaimana latihan yang akan dijalani Rias dkk? Apa "barang" yang sudah disiapkan Riser? Kita lihat di chapter selanjutnya.

Okeh, itu aja bacotan akhir saya. Chapter empat masih ongoing. Kira-kira 65% lagi komplit.

TO BE CONTINUED TO CHAPTER 4 :

Hell Training with Hyoudou Siblings

fazrulz21, logging out…