Act 2
Saat aku kembali ke kamarku dari ruang latihan, aku menemukan Miki sudah terlelap. Mungkin semua para wanita di barak inipun juga pasti begitu. Aku terlalu lama fokus untuk melatih kemampuan bela diriku di ruangan itu terlalu lama. Aku memutuskan untuk berhenti saat aku baru sadar bahwa tinggal akulah satu-satunya orang yang ada di ruangan dan jam dinding besar telah memapangkan empat bilangan merah besar-besar, 02.17. Pagi.
Aku merebahkan diriku dan mengeluarkan nafas panjang. Capai iya, tapi aku tidak bisa membuat diriku tidur. Pikiranku masih berlari-lari dan melompat kesana kemari. Memaksaku untuk tetap terjaga demi aktivitas mereka. Aku mencoba untuk mengayunkan kakiku pelan-pelan di udara, tidak memperdulikan bunyi kasur yang muncul tiap kakiku mendarat, tapi tetap tak menghasilkan kantuk. Aku tidak pernah ada masalah terhadap tidur pagi-pagi, tapi selalu ada terhadap bangun pagi-pagi. Ugh.
"Rin...?"
Suara yang mengantuk itu membuatku menggulingkan tubuhku ke arah kiri, ke arah dimana aku bisa menghadap Miki, yang ternyata sedang menghadapku juga. Matanya setengah terbuka, murni sehabis bangun tidur.
"Oh, maaf. Apa aku membangunkanmu?" Ucapku pelan sambil merebahkan kakiku.
"Kamu emangberisik. Tapi bukan karena kamu, kok." Gumam Miki.
Aku menaikkan alisku. "Lalu?"
"Ada monster."
"Monster?"
"Iya. Badannya besar, semua darinya hitam gelap, dan matanya merah. Di tangannya ada tombak. Dia mengejarku... Terus dan terus."
"Kamu... Mimpi buruk?"
Dia mengangguk kecil. Aku tak menggerakkan tubuhku, bahkan jemariku sedikitpun, untuk melakukan sesuatu untuk menenangkannya. Dulu, aku juga pernah mengalami mimpi buruk. Berseri-seri mimpi buruk yang membuatku tidak terlalu senang untuk tidur. Tetapi, aku belajar untuk menjadi semakin kuat dan tegar dari mimpi-mimpi itu, sampai akhirnya aku punya kekuatan untuk memblokir semua mimpi buruk. Untuk mengabaikannya. Untuk menerimanya lalu membuangnya begitu saja.
Dan aku ingin Miki untuk semakin kuat.
"Minumlah segelas air sebelum kamu tidur lagi, Miki." Aku membalikkan badanku darinya dan menarik selimutku sampai leher. Lalu mencoba tidur.
Kutiup peluitku saat satu orang berhasil di-take down dan tidak dapat bergerak lagi selama tiga detik. Aku menaikkan tanganku dengan lima jari rapat kepada masing-masing.
"Pemenang sparring keempat, Otodamaya Nitarou." Sahutku, memberi Otodamaya tepuk tangan dan sorakan gembira dari para tentara lainnya yang mengamati sparring tersebut.
Otodamaya tersenyum lebar dan melambaikan tangannya antusias sembari turun dari ring. Begitu terprediksi bahwa dia sangat bangga akan dirinya sendiri dan apa yang telah ia capai. Semangatnya patut diberi jempol. Tetapi, satu yang aku benci darinya, dia tidak memberi lawan sparringnya penghargaan sama sekali. Dia membiarkannya begitu saja tergeletak di ring, bernafas berat, dan babak belur. Tak ada bantuan untuk berdiri, salam, atau bahkan tengokan sekali untuknya. Yang ia berikan sebelum membalikkan badannya hanyalah sebuah senyuman meremehkan.
Memang posisiku bukan untuk memerintah-merintah mereka. Tetapi sebagai Bintang 10, sejak pertama kali dari Bintang 4 langsung dipromosikan menjadi Bintang 10, aku punya tugas. Untuk memastikan bahwa komradeku bisa bertempur dan stabil secara fisik dan emosional.
Aku menjatuhkan papan jalanku yang berisi data-data kemajuan para komradeku di lantai dan berjalan ke atas ring dan membantu laki-laki krempeng babak belur itu untuk berdiri. Lalu aku memandang lurus.
"Otodamaya, kembali ke sini." Sahutku lantang dengan emosi netral, membuat suasana yang awalnya ramai dan riuh karena kemenangan lelaki itu menjadi sunyi senyap.
Rombongan Otodamaya berhenti berjalan dan memandangku dengan antisipasi. Otodamaya memisahkan dirinya dari rombongannya dan perlahan berjalan kepadaku, postur tegap, lalu mengunci matanya dengan mataku. Memberiku kesempatan untuk mengetahui bahwa dia berusaha untuk menutupi rasa takutnya.
"Ada apa, Gakeiran?" Ucapnya lepas.
"Naiklah. Aku tidak bisa berbicara denganmu dari bawah sana." Balasku lebih lepas darinya.
Otodamaya menenggak ludahnya dan menaiki ring, lalu berdiri menghadapku. Di matanya banyak sekali pertanyaan untukku. Pertanyaan untukku beberapa dan pertanyan untuk dirinya sendiri juga beberapa. Mungkin rentetan Apa yang telah kulakukan?
Aku menepuk bahu laki-laki yang kubantu berdiri tadi. "Turunlah. Kamu tak apa jika kuminta kamu untuk tidak mengompres memarmu dulu? Tolong catat waktu sparring kami."
Dengan begitu, mata Otodamaya dan laki-laki tersebut membelalak. Laki-laki tersebut mengangguk berkali-kali dan buru-buru turun dari ring, membiarkanku berdiri berdua dengan lelaki bersurai hitam tersebut. Dia dapat menstabilkan ekspresi di wajahnya, namun wajahnya yang memucat tidak bisa dibohongi.
"A-apa yang akan kau lakukan?" Tanyanya.
Aku membiarkan gestur tubuhku yang menjawab, meski kutahu dia tak akan tahu arti penyampaianku. Aku mundur tiga langkah dan memposisikanku dalam posisi siaga hand-to-hand combat. Beberapa detik kemudian, Otodamaya akhirnya melakukan hal yang serupa, namun kepalan tangannya bergetar.
"3... 2..." Wasit baru kami menghitung mundur.
Ah, stance Otodamaya kenapa jadi lemah begini?
"1!"
Dua dari kami memutuskan untuk tidak melakukan offense. Kami memutar ring perlahan, mata saling terkunci pada satu sama lain, menunggu momen yang tepat untuk mengaum. Dia meneliti gerakanku dalam-dalam seakan aku adalah kartu joker yang menunggu untuk dikeluarkan. Begitu steady dan berkalkulasi.
Tapi, dia dunia asli peperangan, kalau kau selama ini berdiri di depan musuh, kemungkinan adalah kau akan ditembak dari belakang oleh musuh lainnya.
Maka aku langsung berlari kepadanya secara zigzag. Ketika aku sudah beberapa sentimeter dari wajahnya, Otodamaya sudah melayangkan kepalan tangannya padaku. Oh, tapi itulah apa yang sudah kuprediksi. Aku memiringkan kepalaku ke kiri dan ke kanan karena dia melakukan serangan lebih dari sekali. Dia kaget. Terintimidasi. Reaksi wajar dari seseorang yang tiba-tiba dikejutkan dengan pendekatan yang kilat.
Tanganku menggenggam keras lengannya dan menariknya kepadaku, membolehkanku untuk memberinya sebuah uppercut pada rahangnya. Otodamaya menahan rasa sakitnya dengan memutar balik lengannya untuk bisa mendapatkan tanganku, memutar-mutarkan aku lalu melemparku. Dengan gesit aku meroda sehingga aku tidak perlu terjatuh dan berdiri dengan keadaan sempurna, defense stance langsung kugunakan sambil mengatur asupan nafas yang kuhirup dan kubuang. Menjaga agar adrenalin tidak ikut campur dalam sparring ini.
Otodamaya berlari ke arahku dan melompat dengan kepalan tangannya yang dikhususkan untukku seorang. Dengan kalkulasi yang cepat, aku mengambil sedikit langkah ke depan dan meninju sekuat tenagaku pada perutnya sesaat sebelum dia bisa jatuh ke ring, sebelum dia bisa melukaiku. Otodamaya ambruk, mengerang kesakitan. Aku menekan satu kakiku di atas dadanya dan menengok ke arah sang wasit baru yang menggantikanku untuk sementara.
Suasana ramai dengan bisikan-bisikan kagum dan ketakutan.
"Berapa lama sparring ini berlangsung, Hageno?" Tanyaku jernih dan lantang.
"Oh! Uh, um," Hageno menatap stopwatch milikku lalu mengembalikan pandangannya. "Dua menit empat detik!"
"Dua menit empat detik," Ulangku, menghiraukan bisikan-bisikan yang kini terlalu keras untuk dipanggil bisikan lagi. "Otodamaya. Kalau kau tidak cepat-cepat belajar untuk menghargai orang lain, menghargai sesama komrademu, kau tidak akan punya seseorang untuk mengback-upmu di peperangan asli, tidak peduli berapa jumlah bintangmu. Kau akan bertahan hanya dua menit empat detik di luar sana. Kau akan mati dan tak ada yang sudi menguburmu karena kau tidak pantas untuk diberikan penghargaan. Paham?"
"P-paham," Pekiknya pelan.
Aku melepaskan kakiku dari dadanya dan turun dari ring. Seketika, ring yang awalnya dikerumuni oleh para tentara, sekarang membelah kerumunan mereka untuk ruang berjalanku. Aku langsung mengambil stopwatch dan papan jalanku dari dekapan Hageno.
"Untukmu, aku harap kau akan latihan lebih keras lagi. Stancemu masih lemah dan jangan pernah takut untuk memberikan pukulan." Ucapku. "Kalian semua, pergi ke pos latihan masing-masing. Jangan menggerumbul di sini terus dan menggosip seperti ibu-ibu tua begitu."
Dengan itu, baik Hageno maupun para tentara lainnya langsung mengacir menjauh dariku ke pos latihan mereka masing-masing. Aku melepas nafas lagi. Kulirik ring yang sudah agak jauh dariku, dan belum ada tanda-tanda Otodamaya bangkit. Oh, ayolah, aku tak meninjunya sekeras itu, kan?
Sisa hariku diisi oleh mengamati perkembangan fisik para tentara, memastikan tidak ada yang membolos dari pekerjannya, dan tentunya, melatih diriku sendiri. Sudah lama aku tidak sparring semenjak Otodamaya. Kuakui, itu adalah suatu momen yang dapat kunikmati, meski hanya dua menit lamanya. Akhir-akhir ini, tidak ada yang mau mengajukan dirinya menjadi lawanku. Mengecewakan. Hanya karena mereka tahu bahwa mereka mempunyai Bintang yang ada dibawahku.
Kalau saja pangkat Bintang tersebut tidak pernah dicetuskan, mungkin aku akan mempunyai lebih banyak komrade yang pemberani.
"Riiin! Hei, Rin!"
Suara melengking yang satu-satunya bisa kutoleransi itu membuatku mengalihkan fokusku sejenak dari samsak yang tengah kutinju. Aku tidak perlu memutar badanku untuk mengetahui kehadiran teman sekamarku yang sedang berdiri di sebelahku dengan pakaian tentaranya yang lengkap, minus helm hijaunya. Aku selalu ingat dia selalu ogah untuk memakainya selain di luar bangunan Ikon Militer.
"Bukannya jam segini kamu harusnya masih berpatroli, Miki?" Kataku sambil terus meninju samsak.
"Eh, Kapten Sukone hari ini sedang ada di kantor Letnan Jenderal. Entah apa. Kurasa bukan hal yang baik. Kemarin ada yang melapor dia tengah mabuk di jalanan." Jawab Miki lalu ikut latihan meninju bersamaku dengan samsak yang ada di sebelahku. "Jadi sementara Kazune yang ditunjuk untuk mengawasi kami. Tapi lama-lama aku bosan. Aku kesini saja untuk latihan, toh Kazune enggak akan tahu."
Aku menghela nafas. "Kalau Letnan Jenderal tahu akan hal ini, bisa-bisa kamu yang selanjutnya dipanggil ke kantornya."
"Tidak akan." Dari ujung mataku, aku dapat menangkapnya tersenyum. Lagi-lagi dia tersenyum lagi. Aku masih tetap tak dapat membaca arti senyumnya. Sesuatu yang kadang membuatku kesal.
Kami berdua tergelut dalam keheningan yang diramaikan dengan bunyi samsak kami yang terkena gaya pukul oleh kepalan tangan kami. Dari hawa yang ditangkap oleh kulitku, aku menghitung-hitung bahwa sekarang sudah sore, sekitar jam empat-an. Biasanya patroli Bintang 5, Bintang milik Miki, dan Bintang 8 berakhir jam delapan malam sebelum berganti shift dengan anggota Bintang 5 dan 8 yang lainnya. Mungkin kali ini aku akan membiarkan kelepasan Miki. Dari laporan Kapten Sukone, Miki melakukan tugasnya dengan sangat baik daripada komradenya. Setiap hari, dari jam sembilan pagi sampai jam delapan malam, dia tidak pernah datang kembali ke dalam bangunan. Karena kejanggalan itulah salah satu dari dua alasan aku membiarkannya lepas, bukan karena hanya dia satu-satunya orang yang ingin selalu berada di sampingku.
"Oh ya, Rin," Mulainya meskipun tangannya masih sibuk dengan samsak. "Tes Ikon mulai hari ini, loh. Besok pemilihannya. Dan lusa... Upacara Penyambutan! Lusa kita akan dapat teman-teman baru lagi!"
"Komrade, maksudmu." Koreksiku.
"Iya, itu juga. Komrade dan teman. Yey! Are you excited?"
"Excited? The newbies are only going to push me to work harder. Kan aku yang akan menentukan Bintang mereka. Berpuluh-puluh calon tentara dan aku harus mengamati tiap gerak-gerik mereka."
"Ah, hepi sedikit, kenapa? Aku saja enggak sabar! Mungkin kali ini ada yang bisa kuajak ngobrol tentang buah ceri? Karena, yaa kamu tahu, entah kenapa kamu tidak suka ceri."
"Ceri tidak pantas diobrolkan."
"Loh, kenapa?"
"Karena rasanya tidak enak."
Miki mendengus. "Begitu juga dengan jeruk."
"Hei, tarik itu kembali."
"Ceri lebih enak daripada jeruk."
Aku berhenti meninju samsak dan menatap Miki dalam-dalam. "Oh, kamu akan menyesali kata-katamu."
Miki langsung tersenyum lebar dan lari dariku, tahu aku akan mengejarnya. Kami berlarian di sekeliling bangunan, tidak peduli dengan pandangan para tentara lainnya karena undangan tawa Miki yang menggelegar. Miki berlari lebih lincah dariku, membuatku berpikir bahwa dia tidak pantas menjadi Bintang 5 saja. Sesekali, aku hampir menangkapnya, namun ia selalu berhasil lolos. Kami terus-terusan seperti itu. Tapi aku tidak merasa terugikan dengan kejar-kejaran yang tidak ada maknanya ini.
Karena tiap kali Miki menengok ke belakang, meskipun hanya sejenak, giliran aku yang tersenyum.
Malam itu, aku memutuskan untuk menggantikan posisi Kazune yang sedang menjalani dua shift. Rupanya Kapten Sukone masih belum bisa bergabung dengan tim Bintangnya, entah karena terkena suspensi atau apa. Karena dia telah bekerja lama dan aku bosan, aku menyuruhnya untuk pulang kembali ke barak dan yah, menggantikan posisi Kapten Sukone.
Kota Heta Bylo malam ini bisa dibilang cukup menenangkan. Udaranya agak dingin, sepi, dan menampakkan hawa kedamaian. Memang inilah yang kami inginkan, kesepian, karena aturan curfew—jam malam, bagi para masyarakat adalah jam sepuluh malam sudah berlaku dari lima menit yang lalu. Kalau masih ada yang berkeliaran di luar batas jam malam, kami harus membawa mereka ke Ikon Arbitrase untuk diinterogasi. Memang aturan jam malam sudah berlaku sejak lama, tetapi dari beberapa tahun ini kami mulai menangani masalah ini makin serius, berkenan dengan melonjaknya aktivitas para pemberontak. Antisipasi kalau mereka pemberontak saja.
Lampu-lampu di trotoar bersinar sangat terang, menandingi sinar rembulan. Pemerintah sengaja mendesainnya seperti itu, agar pada saat malam hari kalau ada pemberontak yang sedang berkeliaran diam-diam bisa dengan sigap kami lihat dan kejar. Baikkah? Aku tidak tahu. Pribadi aku tidak terlalu menyukai ide itu. Terangnya kota ini malah mencoba membuatku untuk lupa bahwa Bulan dan Matahari adalah lampu dunia ini yang sebenarnya.
Sudah tiga jam aku dan komradeku berjalan berpatroli mengelilingi kota ini, dan seperti biasa, tidak ada sesuatu yang aneh terjadi. Berbeda dengan tiap kali kalau aku tidak berpatroli, pasti ada saja yang berkeliaran, masyarakat ataupun pemberontak.
Tiba-tiba saja terdengar derap langkah lari seseorang. Pastinya bukan dari grup patroli kami karena kami tidak diperbolehkan untuk melangkah secepat itu kecuali saat terjadi pengejaran.
Aku menaikkan tanganku dan mengacungkan dua jari untuk digerakkan dua kali ke atas dan bawah. Komradeku menangkap sinyalku dengan cepat. Lima dari mereka maju dari barisannya dan berjalan cepat bersamaku menuju sumber suara tersebut, berhati-hati untuk tidak terlalu menimbulkan suara yang kencang dengan sepatu boots kami. Kami terus mengejar sosok misterius itu meskipun sang sosok tahu bahwa ada kami yang mengikuti ekornya. Gang demi gang, area luas menjadi area sempit, dan kemudian kami menemukannya. Mengucilkannya.
Di ujung jalanan yang buntu itu, berdirilah seseorang yang membelakangi kami dengan berpakaian kaus biru dongkar, celana jeans, dan memakai kupluk hitam. Dia tak terlalu tinggi, tapi dilihat dari postur tubuhnya, orang ini adalah laki-laki.
Aku membidik shotgunku pada lelaki itu. "Jangan bergerak. Angkat tanganmu."
Laki-laki itu diam sejenak sebelum akhirnya melakukan apa yang kuperintahkan. "Oh, suara ini. Gakeiran Rin, bukan?"
Aku sedikit terkejut. Dia mengetahuiku hanya dengan... Suaraku? "Benar. Sekarang letakkan kedua tanganmu di belakang kepalamu."
"Kalau aku tidak mau?"
"Aku akan menembakmu."
Laki-laki itu tertawa. "Kamu tidak akan bisa."
Aku baru saja akan membuktikan bahwa dia salah, tetapi dia telah melempar sesuatu pada kami terlebih dahulu, yang ketika berkontak dengan tanah, mengeluarkan asap tebal putih yang berbau kimia. Aku meluncurkan tembakanku, tetapi sepertinya tidak mengenai bagian tubuhnya sama sekali. Komradeku terbatuk-batuk, bahkan salah satu diantara mereka jatuh ke tanah. Gawat. Gas ini bukan sekedar kamuflase sementara saja, namun obat bius juga.
Aku memakai maskerku cepat-cepat dan berlari ke ujung jalan buntu dimana laki-laki itu baru saja berdiri. Kosong. Dia hilang. Tanganku menyentuh tembok yang ada di depanku dan mataku mengajak untuk memandang ke atas.
Laki-laki itu memanjat dinding setinggi ini. Dan dia berhasil kabur.
Pemberontak.
Tapi kenapa pemberontak itu mengetahui namaku? Dan terlebih lagi,
Kenapa aku seperti pernah mendengar suaranya?
++ End: Act 2
Author's Note: And there you go! Dibalik sebuah cangkang yang keras, pasti ada hati yang lunak. Oh and, Nitarou Otodamaya is an UTAU. An actual one.
Terima kasih yang sudah mau membaca! Kalau sempat, tumpahkan saran, kritik, atau komentar lewat review.
Sampai jumpa di act selanjutnya!
