"ne Gabriel Nee-sama, aku ingin kita berpisah" dapat kulihat wajah tidak percaya padanya.
Nee-sama tapi mau bagaimana lagi.
"Aku ingin kita berpisah karena aku ingin berpetualang melihat karya ciptaan 'Ayah' jadi aku mohon jangan sedih" ucapku namun didalam lubuk hatiku yang terdalam rasanya sangat sakit untuk kesekian kalinya meninggalkan Nee-sama membuatku serasa mati jika tanpanya aku tidak mungkin ada di dunia ini dan juga ia yang mengajariku tentang perasaan yang tidak dapat ku mengerti saat awal penciptaanku.
"Ta-tapi nanti..." aku tau kau mengkhawatirkan diriku Nee-sama tapi tetap saja aku memiliki pendirian yang kuat pada setiap keputusan yang ku buat.
"Tenang saja, aku akan baik-baik saja Nee-sama pergilah ke Vatikan dan tunggu aku dalam waktu satu tahun ke depan" setelah meyakinkan Nee-sama yang sangat menghawatirkan ku akhirnya ia menganggukan kepalanya dengan senyum yang sangat menawan senyum yang sama yang ku keluarkan ketika aku senang dan bahagia.
"Baiklah, aku merestui perjalananmu tapi jika dalam satu tahun kau lupa menjemputku maka kau akan tau akibatnya" mendengar perkataan Nee-sama barusan entah kenapa tubuhku menegang karena di hadapanku ada salah seorang seraph yang menjadi pemimpin para malaikat juga pemimpin 'ku'.
"Baiklah aku berangkat duluan, Nee-sama" posisiku saat ini membelakanginya dengan dua belas sayap putih yang sangat indah dengan cahaya yang terang benderang membuatku menjadi mengerti mengapa 'Ayah' memberiku nama Hikari, saat kepalaku menengok kebelakang wajah Nee-sama menunduk namun tiba-tiba wajahnya terangkat dengan wajah bahagianya.
"Pergilah, lihatlah dunia buatan 'Ayah' dan semua ciptaan juga mahakarya yang telah 'Ayah' ciptakan" ucap Nee-sama dan setelah mendengar itu aku pergi dari Heaven menuju Middel Earth sebuah tempat yang menjadi tempat turunnya Adam saat di usir dari taman eden.
.
.
.
Naruto [masashi kishimoto]
Highschool DxD [Ichie ishibumi]
Summary :
Seorang malaikat yang sangat patuh pada sang 'Ayah' yang mencintai seorang manusia membuatnya tidak bisa masuk kembali kedalam Rumah sejatinya namun berkat itu semua ia dapat melihat semua ciptaan sang 'Ayah' yang berada di tempat keturunan dari Adam dan Hawa.
.
.
Ah, saat ini aku sudah sampai di Middel Earth namun perasaan apa ini? Perasaan akan semangat yang tak pernah pudar dan juga hawa dominasi dari arah timur laut sana. Ka-Kalau begitu aku harus kesana! Aku tidak ingin kehilangan orang tak berdosa lagi hingga mereka menjadi putus asa.
Sesampainya disana aku dapat melihat sebuah tempat yang dapat disebut sebagai medan perang karena banyaknya mayat yang berserakan disana-sini.
"Saatnya kita mengakhiri ini, Kuro no Saber" disana ada seorang perempuan dengan rambut kuningnya juga zirah perang yang menutupi tubuhnya.
"Walaupun aku palsu, aku akan melawanmu! Aka no saber" dihadapan wanita itu ada seorang pria yang sudah bisa dibilang tua dengan kerutan di wajahnya walaupun begitu aku tau bahwa ia ada di pertengahan umur dua puluhan.
"Clarent Blood Arthur"
"Balmung"
Boom!
Keduanya mengeluarkan energi yang sangat kuat untuk membunuh masing-masing lawan didepannya dengan energi sebanyak itu pasti mereka sangat kuat tapi anehnya ada sesuatu mengenai mereka yang aku lupa tapi apa...?
Tak jauh dari tempat kedua orang itu ada benerapa orang yang bertempur dengan hmm... Monster? Dan salah satu dari monster itu ada yang berukuran sangat besar tapi aku merasakan sebuah aura juga kurasakan dari dua orang yang sebelumnya berperang.
"Hmm... Gadis itu sangat hebat juga ada aura suci yang keluar dari tubuhnya tapi energi apa yang ku rasakan ini?" ucapku kala melihat seorang gadis melawan mahluk raksasa itu.
Energi ini, aku pernah merasakannya tapi dimana?
Ah, aku ingat sekarang mereka adalah Roh tapi aku yakin ada yang aneh disini! Kenapa roh bisa keluar dari alam roh? Pasti 'itu' aku yakin.
"Awas" suara seseorang mengintrupsiku untuk menghindar dan dalam penglihatanku saat ini ada sebuah kepalan tangan raksasa yang mengarah padaku.
Trank
Dalam keadaan terkejut aku terjatuh namun seseorang melindungiku dengan tombak yang terbungkus bendera putih.
"Larilah! Kenapa bisa ada warga sipil disini?" gadis ini mengaggapku salah satu dari keturunan adam yang ada di Middel Earth.
"terima..."
"Jangan berterima kasih dulu yang penting saat ini adalah nyawamu" dasar tidak sopan, gadis ini menyela ucapanku jika saja ada Gabriel Nee-sama dia akan menceramahi gadis ini.
Mengikuti permainan gadis ini, akupun lari dari belakang punggung gadis itu. Keputusanku memang ada benarnya saat turun untuk menekan kekuatanku setara dengan manusia biasa sebenarnya aku mau menghentikan perang ini tapi tidak asyik jika begitu, aku berharap bahwa Gabriel nee-sama tidak marah padaku.
Aku berlari dan terus berlari hingga ada satu lagi roh yang menyerangku dengan alat yang mengeluarkan petir aku yakin bahwa alat itu adalah senjatanya.
Aku menghindar dan terus menghindar walaupun begitu aku bosan menjadi lemah tapi aku harus tetap berakting untuk mengetahui apa yang terjadi saat ini.
Saat Roh itu terus menyerangku datang seseorang dengan surai putih namun memiliki warna kulit yang gelap atau bisa dibilang coklat.
"Cepatlah lari dari sini" mengikuti perintah sosok itu dan lari menjauh dari sana namun dapat ku rasakan bahwa sosok itu adalah Roh juga.
Setelah berlari aku menemukan kediaman warga di perkampungan tak jauh dari tempat itu. Namun aku tidak apa yang terjadi di medan tempur itu dan memutuskan untuk beristirahat hingga kegelapan menimangku menuju alam mimpi walaupun tenshi tidak harus tidur tapi aku harus istirahat karena lelah.
Skip Time...
Cahaya sang mentari menusuk kelopak mataku menggelitik dan juga mengganggu, apa ini yang dirasakan oleh manusia saat salah satu ciptaan 'Ayah' menunjukan wajahnya dengan malu-malu dari ufuk timur?.
Dapat ku lihat orang-orang saat ini sedang mengerumuni diriku karena penampilanku yang sangat aneh dengan kaos oblong dan juga celana panjang longgar yang ku kenakan mungkin bagi manusia biasa itu semua pakaian biasa tapi masalahnya adalah semua pakaian yang ku kenakan berwarna putih juga aku tidak mengenakan alas kaki.
Aku bangkit dari sana dan menghiraukan pandangan penasaran para warga namun suara seorang perempuan menghentikan langkahku agar tidak menjauh dari kerumunan tersebut.
Saat ini dihadapanku ada seorang Roh yang meminjam tubuh seorang gadis keturunan Adam, wajahnya mengingatkanku pada Gabriel Nee-sama bukan hanya wajah saja warna rambut dan juga postur tubuh yang mirip dengan Nee-sama.
"Namaku Jeanne d'arc, apa kau baik-baik saja?" Tanyanya dan aku hanya menganggukkan kepalaku.
"Syukurlah..." ucapnya namun tiba-tiba gadis dihapanku ini melihatku dengan teliti.
"Kau seperti orang Asia tapi postur tubuhmu seperti orang Eropa, Namamu?" Nama? Aku harus menjawab apa jika aku mengatakan namaku adalah Hikari ada kemungkinan dia tidak tau dan yang paling parah adalah dia tau siapa Hikari.
"Na-Namaku Na-Naruto, " ucapku dan anehnya gadis itu tertawa halus hingga sebuah pertanyaan memasuki kepalaku 'Kenapa gadis ini tertawa?'.
"Kenapa? Apa ada yang lucu dengan namaku?" tanyaku kemudian gadis itu menghentikan tawanya karena aku bertanya kepadanya dan apa kalian tau apa jawabannya?.
"Gomen.. Gomen.. Maksudku Naruto bukannya topping ramen? Makanan yang terkenal dari jepang" ucap Jeanne barusan yah mau bagaimanapun topping ramen namanya adalah Naruto-maki. "Hei apa kau tau Naruto juga memiliki arti pusaran badai jadi orangtuaku ingin aku kuat dan kukuh seperti badai" tapi mau bagaimanapun itu hanyalah karangan saja pikirku.
"jadi kau ini apa? Aku merasakan aura suci yang keluar dari tubuhmu dan sepertinya ada yang aneh" aku bertanya pada gadis roh dihadapkanku ini dan berpura-pura seperti orang bodoh untuk membuktikan bahwa asumsiku ada benarnya bahwa alat 'itu' yang memanggil mereka, para roh.
Greb...
Tanpa banyak tanya Jeanne menarik tanganku dan dibawanya aku ke sebuah lapangan diluar kota benteng tua itu. Sesampainya diluar aku terdiam karena kawasan yang seharusnya hancur akibat dari pertempuran semalam ternyata menghilang bagaikan tanpa bekas. Oke, dalam masalah ini aku tidak akan protes karena aku juga adalah bagian dari dunia supranatural didunia ini.
"Aku akan menjelaskannya sekarang karena sepertinya kau sudah mengetahui perang semalam juga..." ucap Jeanne menarik napasnya "...jadi aku adalah seorang roh yang dipanggil oleh perangkat suci yang ada di dunia ini. Biasanya kami harus saling membunuh antar pahlawan seperti yang kau lihat semalam..." dugaanku mulai menajam saat mendengar penjelasan Jeanne "...perang ini semakin panas karena perangkat suci tersebut berhasil didapatkan oleh pihak merah dari pihak hitam ahh... Sebut saja merah adalah baik dan hitam adalah jahat dan sekarang aku harus pergi karena teman-temanku sudah datang" kata terakhir itu mengakhiri penjelasan Jeanne barusan. Hingga tiba-tiba suara seseorang manggil nama Jeanne memasuki pendengaranku.
"Ohayou ruler..." dihadapkanku saat ini ada seseorang yang bisa dibilang manis namun pada dasarnya aku tau bahwa orang itu adalah pria. Pria itu melirik kearahku dan berbisik pada Jeanne setelahnya "...siapa pemuda yang ada disana?" yah mau bagaimanapun kau bicara pembicaraan kalian dapat aku dengar.
"Namaku adalah Naruto, seorang pengembara" jawabku seadanya dan kemudian hatiku bergetar secara tiba-tiba aneh, ada apa ini? Pikirku karena tidak biasanya hati dan pikiranku berkesinambungan begini.
Meanwhile
"Maafkan aku papa"
"Maafkan aku mama"
"Aku sudah tidak bisa berlari lagi, berlari dari Rusia ke Rumania aku rasa ini adalah saatnya aku mati"
Gadis itu menyerah pada keadaan dengan sembilan ksatria kerajaan yang mengepungnya entah akan jadi apa dirinya saat ini.
"Putri, anda telah melanggar peraturan dengan kabur dari penjara kerajaan" ucap salah satu ksatria itu yang dapat diduga itu adalah pemimpin mereka.
"Semua keluargaku sudah mati dan aku akan membusuk di penjara sialan itu? Tidak akan!" semua ksatria itu terdiam dan hanya melirik kearah sang pemimpin.
"Maafkan kami tuan putri tapi ini adalah keinginan rakyat sendiri, penangkapan keluarga kerajaan Romanova memiliki tujuan agar tidak memperburuk pemberontak rakyat pada kerajaan" ksatria itu maju dengan pedang di tangan kanannya.
"Pengeksekusian putri Anastasya Nikolaevna Romanova terjadi hari ini" ucap ksatria itu dan menebaskan pedangnya lurus dari arah atas ke bawah.
'Kami-sama aku akan bertemu denganmu dan Hikari-sama maafkan aku yang kehilangan cahaya dalam diriku' gadis itu, Anastasya menyerah pada keadaan dan menutup matanya dengan senyuman miris di wajah cantik nya.
"Kau tau? Menyakiti seorang gadis adalah perbuatan paling memalukan bagiku apalagi membunuhnya" semua prajurit yang ada di tempat mengalihkan pandangannya pada sosok seorang pemuda dengan jubah berwarna putih bersih dengan sorot mata berwarna biru safir miliknya yang terlihat dalam kegelapan.
"Jika kau ingin mencoba menyelamatkan gadis ini maka berharaplah bawa semua itu sia-sia karena kami sudah berjanji pada rakyat untuk membawanya pulang karena dirinya adalah tuan putri kerajaan kami" sosok itu menghela nafasnya karena melihat kelakuan manusia yang sangat tidak bisa diuntungkan ini.
"Apa itu benar ojou-chan!? Dan apa kau tau, cahayanya tidak akan pernah meninggalkan umatnya" perkataan sosok itu menggetarkan tubuh gadis itu entah kenapa tiba-tiba menegang dan menutupi mulutnya dengan kedua tangannya dan tak kuasa air mata mengalir pada pipi mulus gadis itu.
"Ma-Maafkan a-aku" sosok itu memiringkan kepalanya ke arah kiri dalam keadaan bingung namun...
Slash...
Tebasan melintang dari arah samping berniat memenggal kepala sosok itu berniat menghindar dari serangan tersebut dan pada akhirnya menyibak tudung yang dipakai olehnya.
Seorang pemuda dengan rambut blonde dan wajah yang tampan hadir setelah tudung itu terbuka. Sisa prajurit yang ada disana terhenti karena tau siapa pemuda yang ada di hadapan mereka saat ini.
"Zedekiel-sama, aku tidak tau jika itu adalah anda..." prajurit itu melakukan posisi Seiza menghadap ke arah Zedekiel "...aku mohon maaf, Zedekiel-sama".
Tersenyum adalah yang di lakukan oleh malaikat itu! Sekarang dengan kenyataan bahwa ia adalah salah satu dari malaikat utama yang di karuniahi dengan kesabaran tinggi karena itulah ia mendapatkan tugas untuk menyampaikan permintaan maaf pada sang 'Ayah'. Zedekiel mengangkat tubuh prajurit itu dengan memegang pundaknya dan mengatakan bahwa apa yang di lalukan saat ini masih dapat di maafkan perkataan yang simple hanya untuk membuat seorang prajurit paling royal untuk melepaskan Anastasya pergi "...pergilah ke kaki gunung fuji di jepang dan tunggu sampai Anastasya memanggilmu suatu hari nanti".
"Sekarang pergilah, wahai manusia berhati suci seputih salju. Adik ku, sang sebelas, sang cahaya, saat ini sedang ada di Romania" ucap Zedekiel sebelum ia pergi ke dari tempat tersebut. Begitu pula Anastasya, gadis itu pergi dan terus berlari ke Rumania.
Skip Time at Rumania
"Apa yang harus aku lakukan?" Gumamku, Apa kalian tau? Aku saat ini ada didalam lingkungan warga dan berpura-pura menjadi manusia biasa. Hufft, aku tidak tahan ada peperangan di mataku karena aku sudah berpengalaman dengan yang namanya perang dan apa hasilnya? Kesedihan, kerugian, dan yang paling memprihatinkan adalah tatapan mata putus asa dari Anak tanpa orang tua, Janda yang kehilangan suaminya, dan orang tua yang kehilangan anaknya! Aku sudah melihat itu semua dan menghadapinya sendirian adalah sesuatu yang tak dapat di katakan. Mencoba menumbuhkan kembali cahaya yang redup dan menyemangati para manusia berhati baja karena mereka adalah korban peperangan yang konyol.
"Naruto-san, aku takut!" wanita tua disampingku berkata demikian karena ia adalah salah satu saksi bisu perang dunia ke dua, dimana ayahnya adalah prajurit perbatasan di rumania ini.
"Tak apa dan lekas tidurlah aku tidak mau bibi kenapa-napa" wanita tua itu menganggukan kepalanya dan kembali memejamkan matanya dan menggapai alam mimpi.
"Aku harus pergi entah kenapa aku merasakan aura suci yang tiba-tiba meledak di langit Rumania ini" gumamku dan jika di rasakan malam ini angin kencang yang membawa hawa dingin bagi kulit ganasnya sang iblis utara tak dapat di rasakan karena udara hangat turun dari langit malam Rumania.
Aku pun mengubah penampilanku kedalam keadaan normal, yah. Normal bagi kami para malaikat. Armor kebanggaan menghiasi tubuhku ini adalah armor yang terbuat dari pecahan bintang saat Bing Bang pertama. Armor ini dihiasi dengan kristal ungu dari salah satu kepala Trihexa yang sudah di netralkan energi negatifnya menjadi elemen kegelapan bagaikan malam tiada akhir bagi manusia. Mengepakkan kelima pasang sayap ku yang putih bagai seekor burung merpati di taman eden dan terbang meninggalkan daratan middle earth atau Bumi.
Btoom!
Ledakan dilangit malam adalah suatu hal yang aku ketahui karena percampuran antara sulfur dan nitrogen yang berpadu dengan komposisi seimbang namun ini adalah ledakan yang berbeda. Panas dan berbahaya adalah yang saat ini ku ketahui.
Tap...
Kakiku menampakkan langkah pertama di sebuah bangunan yang hampir hancur juga anehnya adalahbangunan ini mengambang di langit. Terlihat meragukan bukan? Tapi, mau bagaimanapun kau mengatakannya bangunan ini mengambang di langit mengabaikan hukum gravitasi bagi para keturunan adam dan hawa.
Dan, saat sampai di taman itu aku melihat kedalam hingga beberapa menit kemudian aku melihat sebuah lubang yang sangat besar pada dinding. Melihat kedalam dan yang terlihat adalah sebuah lubang hitam yang sedang mencoba menyerap bola api raksasa dari... Jeanne? Aku merasakan kalau energinya akan segera habis dan sebentar lagi dia akan pingsan. Oke ini tidak bisa di biarkan.
Swush...
Tap...
Aku pergi kesana walaupun tidak sopan menyela seseorang aku rasa Gabriel onee-sama tidak marah padaku karena berlaku tidak sopan. Menapakkan kaki didepan mereka semua dan dapat ku lihat semua orang seakan bertanya pertanyaan klasik yaitu...
"Siapa kau?" aku menghela nafasku dengan kasar, baru saja aku mengatakannya tiba-tiba roh dengan rambut silver panjang dengan pedang katana itu mengatakan pertanyaan itu.
"Aku adalah sang pembawa cahaya yang membangkitkan orang-orang yang putus asa untuk melanjutkan hidup mereka..." roh yang sebelumnya bertanya padaku hanya diam dan dapat kulihat keringat membanjiri keningnya "...namaku adalah Hikari, sang cahaya".
"hei shounen siapa namamu?" tanyaku pada seorang pemuda yang aku tau bahwa dia adalah manusia buatan yah seorang Homunculus tepatnya penemuan keturunan adam yang dapat mencuri perinsip penciptaan tuhan.
"Namaku adalah Sieg tapi..." hmm anak yang menarik "...jika anda memerintahkan ku untuk mundur, maaf aku tidak akan menuruti perintah tersebut karena aku yang akan mengalahkannya" woaahh pemuda ini sangat hebat! Kenapa? Karena aku dapat melihat tekat dimatanya tekat yang mengatakan bahwa siapapun yang menyakiti orang yang kusayangi maka dia akan menderita aku sungguh kagum dengan tekatnya bagaikan baja yang sulit untuk dilebur didalam panasnya api peleburan.
"Kalau begitu aku mohon bantuan anda, Hikari-sama. Tolong jaga gadis itu, karena aku rasa Jeanne sudah pergi dari tadi" pemuda itu berjalan dengan santainya dengan sebilah pedang yang ada digenggamannya. Pedang yang melambangkan keteguhan hatinya.
Aku hanya diam ditempatku berdiri kemudian bersama dengan seorang pemuda berkaca mata dan pria -berpenampilan seperti seorang gadis- kami pergi dari taman melayang membawa gadis yang menjadi wadah dari seorang Jeanne D'arc, seorang pahlawan dengan hati yang teguh meninggalkan seorang calon pahlawan.
Skip Time...
Saat ini aku sedang ada di dataran rumania. Hufft... Perang sudah berakhir terlihat dari taman langit yang sudah runtuh diatas sana dan di sampingku saat ini ada seorang gadis yang sedang pingsan dan dua orang laki-laki yang terlihat kelelahan.
"Perang ini sudah berakhir Holy Grail sudah dibawa entah kemana jadi apa yang akan kalian lakukan?" Ahh aku sangat senang saat menceramahi seseorang! Hei aku tidak salah kan? Karena setiap aku melakukan kesalahan Gabriel Nee-sama selalu memarahiku karena beberapa kesalahan yang aku perbuat dulu.
"Aku akan pergi dan menerima tawaran asosiasi penyihir" aku kemudian melihat ke arah pria berambut pink yang sedari tadi kelelahan bersama dengan seekor Griffin, merasa aku perhatikan pria itu menghadap ke arahku "Kalau aku akan pergi menjelajahi dunia ini selama aku masih memiliki kesempatan untuk hidup" ahhh aku setuju untuk roh yang dihidupkan dengan sumber kehidupan berupa prana dari seorang master maka dia akan tetap hidup belum lagi Sieg, sang master sudah berubah menjadi seekor naga dan pergi entah kemana.
"Kalau Hikari-sama akan kemana? Bu-bukannya lancang tapi Ma-maksudku..." aku hanya tertawa karena dalam pikiran mereka aku adalah malaikat yang memiliki kedudukan setara sepuluh malaikat utama "Aku akan melanjutkan pengembaraanku melihat karya 'Ayah' di dunia ini" jawabku dan mereka hanya mengangguk karena tau apa yang ku maksud.
"Akhirnya aku bertemu denganmu, Hikari-sama" suara seorang keturunan hawa memasuki pendengaranku dia terlihat kelelahan dengan langkah yang sudah gontai ia berjalan kearahku namun naas saat jarak tinggal tiga meter gadis itu terjatuh. Hufft... Aku tau dia kelelahan karena terus berlari hanya untuk menemuiku, terimakasih Zedekiel Nii-sama.
TBC...
Yo, maaf Shiro dalam masalah dalam update fic The Fallen ini yang harusnya sudah Up pada tanggal 12 maret lalu, kenapa? Karena Shiro masih seorang pelajar menduduki kelas 3 SMA jadi pada awal bulan maret lalu Shiro ada ujian praktik dan tertulis jadi maaf untuk kalian yang menunggu fic ini juga akan lanjut Up fic ini selesai UN (Ujian Nasional) juga saat UN selesai Shiro akan membuat Up date kilat pada fic milik Shiro.
Jadi, Shiro mohon maaf pada kalian dan mohon pengertiannya.
Salam, Shiro.
