Title : Sketch

Author : Miwa Shiori

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuSaku

.

Chapter 3 Confession

.

.

Ia bergerak menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang yang menyebabkan permukaannya yang empuk bergoyang pelan. Maniknya pun terbuka perlahan, menyapu bersih seluruh sudut kamarnya. Kali ini matanya terasa berat mengingat semalam ia telah menangis seperti orang bodoh. Ia menyibakkan selimut yang semula membungkus tubuhnya.

Kriiiingg!

Maniknya menyipit membaca angka yang tertera pada jam wekernya yang menunjukkan pukul 05:30. Ia tersenyum kecil karena pagi ini berhasil bangun lebih awal dari alarm-nya. Dengan sekali gerakan, tangannya berhasil menekan tombol off pada weker pink itu dan seketika keheningan kembali datang menyambut pagi. Maniknya mengerjap sekali sebelum akhirnya bangkit dan melangkahkan kaki jenjangnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

.

.

"Ohayou, Sasuke!" sapa Sakura riang seperti biasanya.

"Ohayou." Onyx hitam itu menatap emeraldnya heran.

"Ayo, kita akan terlambat jika tidak cepat." Ujar gadis itu menepuk bahu bidang pemuda disampingnya sebelum akhirnya berjalan mendahuluinya.

"Oh, hn." Sasuke mengangguk pelan. Sedikit terkejut oleh sikap gadis musim semi itu yang berbeda 180 derajat setelah bersikap aneh kemarin. Tadinya ia ingin melontarkan beberapa pertanyaan pada gadis itu, namun ia memilih untuk mengurungkan niatnya. Kakinya segera bergerak untuk menyamakan langkahnya dengan pemilik helaian merah muda yang kini sudah berjalan selangkah didepannya.

.

Kedua sosok itu kini berjalan ke arah loket yang selalu ramai seperti biasanya –terutama di pagi hari yang merupakan jam sibuk-. Setelah beberapa saat berdiri menunggu, kereta yang akan mereka naiki tiba. Keduanya segera bergerak ke arah pintu gerbong yang terbuka –berlomba dengan penumpang lainnya-. Sasuke mempersilakan Sakura untuk masuk terlebih dahulu. Memastikan agar gadis itu medapatkan tempat duduk. Namun sayangnya hanya tersisa satu tempat duduk untuk mereka.

"Bagaimana denganmu, Sasuke?"

"Tidak masalah, aku bisa berdiri. Kau duduklah."

"Aku bisa menemanimu berdiri," usul gadis itu tersenyum lebar.

"Baka. Kau duduk saja, lagipula aku tidak ingin melihat gadis kecil berdiri," ujar Sasuke terkekeh, tangannya yang besar mengacak-acak helaian merah muda itu.

"Ugh. Aku ini seumuran denganmu tahu!" kali ini Sakura menggerutu kesal. Ia mengerucutkan bibirnya dan menatap tajam pemuda yang kini berada di depannya.

"Benarkah?" Sasuke tertawa kecil.

Kereta pun mulai melaju. Pemuda onyx itu mengeratkan tangannya pada pegangan besi yang berada di atasnya. Sesekali entah disengaja atau tidak, sepasang manic onyx dan emerald itu saling bertautan, kemudian melempar pandangan ke arah yang berlawanan, sebelum akhirnya kembali bertemu. Begitu seterusnya hingga tawa pun pecah diantara keduanya. Tak mempedulikan tatapan disekitarnya.

.

.

.

"Ne, Sakura." Seorang gadis blonde ponytail itu membalikkan posisi duduknya sehingga kini ia berhadapan dengan gadis bersurai merah muda yang sedang memusatkan maniknya pada novel yang dibacanya. Iris emerald-nya bergerak-gerak membaca setiap tulisan pada novel bersampul bunga musim semi itu.

"Hmm?" Jawab Sakura tanpa mengalihkan maniknya.

Karena merasa tidak dihiraukan, gadis blonde itu pun mendekatkan wajahnya. "Bagaimana? Apa kalian sudah jadian?"

Sakura menghentikan aktivitasnya sejenak. Maniknya mengernyit mendengar pertanyaan yang terlontar barusan. Tangannya kini menangkupkan novel yang sedari tadi menarik perhatiannya. Ia menarik napas sejenak dan kemudian menghembuskannya -berusaha setenang mungkin menanggapi gadis blonde di depannya itu-.

"Siapa yang kau maksud?" Sakura balik bertanya setengah berbisik.

Gadis pirang itu menghela napas bosan, ia memutar manik aquamerine-nya sebelum akhirnya berkata. "Kau dan pemuda yang memenuhi sketchbook-mu itu. Ne, bagaimana kelanjutan kalian berdua?" dagunya menunjuk ke arah seorang pemuda bersurai raven yang tengah tertidur pulas di bangkunya yang berada di sudut kelas.

Sakura mengerjap kaget. "Oh, kami hanya sahabat, tidak lebih." Ia teringat ucapan Sasuke kemarin. Emeraldnya melirik pemuda itu sejenak, sebelum akhirnya kembali memfokuskan maniknya pada gadis di depannya.

"Kau tahu? Terkadang kau harus menyampaikan perasaanmu. Tidak baik bila terus dipendam seperti itu." Ujar gadis pemilik iris aquamarine itu lagi. Maniknya mengerling menggoda Sakura yang kini sudah berhiaskan semburat merah.

"Ino, sudah kubilang-"

"Kau tidak perlu membohongi diri sendiri, ne?" kali ini gadis yang dipanggil Ino itu tersenyum. Sudut bibirnya terangkat yang memperlihatkan tulang pipinya.

Sakura hendak membuka mulut, namun akhirnya memilih untuk diam. Ini akibatnya bila kau sudah berteman cukup lama dengan seseorang, ia akan hafal luar-dalam tentangmu, termasuk Ino. Sakura sudah mengenalnya sejak pertama kali masuk SMP, meskipun kedekatan keduanya baru terjadi selama masuk SMA.

"Hey Sasuke! Ada yang mencarimu tuh!" Seru seorang pemuda berambut pirang jabrik. Namun yang diteriaki tak kunjung bergeming dari tidurnya.

Suara pemuda pirang tadi berhasil mengundang perhatian pemilik manik emerald dan aquamarine ituuntuk segera menoleh ke arah pintu kelas yang dimaksud dan mendapati seorang gadis manis bersurai indigo tengah berdiri disana.

"Siapa dia?" Tanya Ino penasaran setengah berbisik.

"Aku tidak tahu." Ujar Sakura tak kalah penasaran. Perasaannya saat ini terasa tidak begitu menyenangkan.

"Hey Sasuke sampai kapan kau terus tidur? Tidak baik membuat seorang gadis menunggu!" teriak Naruto lagi yang kini melangkah menghampiri Sasuke.

Manik sehitam jelaga itu mengernyit. Ocehan Naruto benar-benar mengganggu tidurnya. Ia pun menyandarkan tubuhnya pada kursi. Sakuke mengerjap kaget ketika mengetahui sosok yang tengah berdiri di ambang pintu kelasnya. Tak butuh waktu lama, rasa kantuknya pun hilang seketika. Ia segera bangkit dari tempat duduknya dan melangkah ke arah gadis lavender itu, tak menghiraukan kicauan teman-temannya yang kini terus menggodanya.

Sakura menatap keduanya nanar. Maniknya tak bergeming menatap pemuda yang sangat dikenalnya itu. Pikirannya tak lepas dari gadis berhelai indigo itu. Tidak, ia tak mampu membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi diantara keduanya.

"A-ano Sasuke-senpai. A-aku ingin mengembalikan baju olahraga senpai yang telah kupinjam. A-arigato." Ujar gadis lavender itu malu-malu.

Tangannya mengulurkan baju olahraga yang terlipat rapi pada Sasuke. Wajahnya menunduk, namun paras manisnya masih terlihat jelas. Rambut indigonya yang terurai melambai kecil seiring gerakan kepalanya. Gadis itu terlihat begitu anggun dan lemah gemulai, bahkan mampu meluluhkan hati siapa saja yang melihatnya. Ia terlalu sempurna di mata Sakura.

"Oh Hn, sama-sama." Jawab Sasuke. Tangannya mengambil baju olahraganya hati-hati. Ia tersenyum tipis. Senyum yang seharusnya hanya diperlihatkannya pada Sakura.

Susah payah Sakura berusaha mencuri dengar percakapan kecil Sasuke dengan gadis itu. Sesekali diliriknya gadis itu tengah tersenyum dan tertawa kecil menimpali perkataan Sasuke. Sakura menyadari tengah menahan napasnya sedari dari.

Setelah beberapa saat, akhirnya gadis itu menghilang dari balik pintu. Sasuke kembali melangkahkan kakinya kembali ke kelas, kemudian memasukkan baju olahraganya ke dalam tas. Seulas senyum tipis masih tersungging di wajah porselennya. Dan itu membuat Sakura semakin gusar. Ditambah lagi kicauan teman-temannya semakin menjadi-jadi.

"Siapa gadis itu?" ujar Sakura dalam hati.

Menyadari perubahan mimic pada Sakura, Ino pun menepuk pelan lengan gadis merah muda itu, berusaha meyakinkan gadis itu bahwa segalanya akan baik-baik saja.

"Aku baik-baik saja." Ucap sakura lirih, memaksakan seulas senyum hambar. Namun Ino mengerti perasaannya saat ini. Gadis itu tidak baik-baik saja.

.

.

Bel istirahat baru saja berdering. Tanpa menoleh Sakura segera melangkahkan kakinya agak cepat keluar kelas. Ia kemudian memperlambat langkahnya setelah dirasa berjalan cukup jauh dari kelasnya. Ia menyandarkan tubuhnya pada bangku panjang di taman belakang sekolah.

Ia mendengar sepotong pembicaraan Sasuke dengan gadis tadi, hari ini Sasuke akan mengantar gadis itu pulang. Apakah itu berarti Sasuke mulai melupakannya? Ia berharap semua yang didengarnya tadi adalah salah. Kami-sama, bahkan ia tak mampu melepas sahabatnya itu. Wajahnya kini menunduk. Maniknya menatap kosong tangannya yang terkepal di pangkuannya. Menahan tangis yang bisa tumpah kapan saja.

"Sakura?"

Suara itu mampu membuatnya mendongak kaget. Dengan sekali sentakan, kepalanya berputar dan matanya terbelalak ketika mendapati sosok yang tengah berdiri di sampingnya.

"Ternyata benar, kau pasti disini." Ia kemudian menyandarkan tubuhnya pada kursi di samping gadis musim semi itu.

"Ada apa mencariku?" Tanya Sakura.

"Aku ingin memberitahumu sesuatu yang penting. Kau harus menjadi orang pertama yang mendengarnya." Ujar Sasuke terdengar serius. Kemudian seulas senyum tak dapat disembunyikannya.

Sakura menahan napas. Sakura sudah tahu kemana arah pembicaraan mereka. Tidak, ia belum siap mendengarnya langsung dari Sasuke.

"Kurasa aku telah menemukannya,"

Sakura terdiam selama beberapa detik. "Menemukan apa?"

Tidak. Jangan katakan..

Jangan berani-berani untuk mengatakannya..

Sasuke berdehem sebelum akhirnya berkata. "Aku telah menemukan gadis yang selama ini kucari."

Sakura mengerjapkan maniknya. Berusaha sekuat mungkin untuk menahan cairan bening itu agar tidak lolos dari kelopak matanya.

"Namanya Hinata Hyuuga, murid kelas 11. Nanti akan kukenalkan padamu." Ujar Sasuke antusias seraya tersenyum kecil.

"Oh, benarkah? Kapan kalian mulai saling mengenal?" Tanya Sakura setenang mungkin, bibirnya tersenyum hambar.

"Tiga hari yang lalu, saat itu aku melihat seorang siswi yang kehujanan. Jadi aku meminjamkan baju olahragaku. Dan saat itulah, aku berpikir kalau gadis itu berbeda."

Sakura mengalihkan maniknya menerawang jauh ke depan. Menatap onyx itu langsung hanya akan membuat hati dan pikirannya bertabrakan. "Berbeda bagaimana? Bukankah semua gadis sama?"

"Awalnya aku sempat ragu akan perasaan ini. Saat tadi bertemu, rasanya ada yang berbeda saat menatapnya. Oh, saat kau menayakannya di bianglala waktu itu, aku bingung harus menjawab apa.

Dan sebenarnya saat itu aku ingin menceritakannya padamu, hanya saja kurasa aku harus menunggu waktu yang tepat, jadi-" Ujar Sasuke panjang lebar. Namun segera menghentikan kata-katanya karena menyadari gadis emerald itu terlihat tidak sedang baik-baik saja.

"Sakura, apa kau sakit? Aku akan mengantarmu ke UKS" kini sebersit perasaan cemas menghiasi wajah porselen itu.

Sakura sadar kini Sasuke tengah menatapnya intens. "Bagus sekali," ujar Sakura akhirnya seraya menyeka likuid bening di ujung matanya yang membuat penglihatannya buram. Bibirnya memaksakan senyuman di wajahnya.

"Sakura, apa.. kau baik-baik saja?" Tanya Sasuke khawatir ketika melihat cairan bening yang lolos dari manik emerald itu.

"Tak apa-apa, aku hanya terlalu bahagia. Akhirnya kau telah menemukan apa yang kau cari. Benar-benar bahagia, sungguh." Ujar gadis musim semi itu seraya memeluk sahabatnya yang masih terlihat kebingungan.

"Arigatou, Sakura." Ucap Sasuke akhirnya membalas pelukan hangat Sakura.

"Selamat!" Ucap Sakura di sela-sela tangisnya yang tertahan. Ia melepas pelukan singkat itu.

"Arigatou." Sasuke tersenyum mendengar kata-kata sahabatnya itu. "Jadilah sahabatku selamanya,"

"Hmm," Sakura mengangguk pelan. Ini begitu menyakitkan. Bahkan ini terlalu sakit dari yang ia bayangkan.

"Ne, Sakura." Sasuke kembali bertanya. Maniknya kini memandang lurus ke depan.

"Nani?"

"Kau sudah pernah merasakan jatuh cinta?"onyx itu kini menatapnya intens.

"Belum pernah. Namun aku sering bertanya-tanya, apakah rasanya begitu menyenangkan?"

"Hn, rasanya begitu menyenangkan. Sampai-sampai kau ingin seluruh dunia mengetahui perasaanmu." Ujar pemuda onyx itu tersenyum kecil.

"Hmm, kuharap rasanya begitu menyenangkan."

.

.

.

Matahari menyembunyikan sinarnya di balik awan hitam. Rintik air pun turun membasahi bumi beserta isinya. Seluruh siswa berbondong-bondong membuka payungnya sebelum akhirnya melangkah pulang.

"Ne, Sakura. Gomen ne hari ini aku tidak bisa pulang bersamamu. Hinata tidak membawa payung, jadi aku harus mengantarnya pulang." Ucap Sasuke. "Kau tidak apa-apa kan jika pulang sendirian?"

Sakura tampak terdiam sejenak. "Aku tidak apa-apa. Cepat, kau tidak mau membuatnya menunggu kan?" Ujar Sakura buru-buru seraya mendorong tubuh Sasuke agar segera menjauh. Menahan perasaannya yang kini tak karuan.

"Hn, kau juga hati-hati. Sampai jumpa." Sasuke segera melesat turun menuju lantai dua, dimana kelas Hinata berada.

Sakura masih terdiam di posisinya. Ia bahkan tak menyangka Sasuke akan benar-benar pulang bersama gadis itu.

Setelah memastikan sosok itu tak terlihat, ia melangkah gontai menuju koridor bawah. Sakura baru sadar bahwa payungnya tertinggal di rumah. Ia merutuki dirinya yang begitu ceroboh. Kini yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu hingga hujan reda.

Satu per satu siswa meninggalkan sekolah, hingga kini hanya menyisakannya seorang diri. Sudah satu jam lebih namun hujan tak kunjung berhenti. Gadis merah muda itu memutuskan untuk duduk di koridor lantai dasar, memperharikan setiap rintik yang jatuh dari langit, sebelum akhirnya membenamkan wajahnya pada kedua tangannya. Tubuhnya yang terasa rapuh ikut bergetar. Ia menangis bersamaan dengan rinai hujan yang turun membasahi bumi. Hari ini merupakan hari yang berat baginya. Mulai hari ini juga, ia benar-benar akan merelakan untuk melepas Sasuke.

.

"Kau belum pulang?" suara bariton itu memecah di tengah bisingnya hujan.

.

.

TBC

.

.

Yosh! Chapter 3 updated. Mungkin fict ini akan tamat di chapter 4. Maafkan author yang labil dalam pemilihan sudut pandang *namanya juga author amatir* Padahal niatnya mau publish nanti-nanti aja, tapi berhubung udah malem dan author gabisa tidur, daripada ga ada kerjaan jadinya… DOR muncul lah ide untuk melanjutkan fic ini.

Author benar-benar minta maaf kalo ceritanya kurang greget, abal, berantakan, dan typo(s) yang masih setia ber tebaran. Seperti biasa, kritik-komentar-dan-saran boleh dituangkan di kotak review. Arigatou :3