Gakkuen Babysitter isn't mine. It is Tokeino Hari's. If I have it, maybe I will add up 'yaoi' genre in there.
Pairing : Hayato Kamitani x Ryuuichi Kashima
Thanks for the review LonelyPetals, hope your body get hot again this time fufu~ and 13th Hell, I want your art…. So badly, so please draw it for me! Usashiro and shiro yuki also, thanks for the comment! oh yeah, and for you ShiroNeko, yes this is Indonesian fanfic :3 although now I speak with English. But, well, enjoy !
Here we go! Chapter three, "Love" and "Admire" are Two Different Things. Well do, readers, you can judge the story by its title now (lol)
I WANT TO BE WITH YOU
Chapter 3 : "Love" and "Admire" are Two Different Things
.
Hari itu salju turun dengan dinginnya. Ryuuichi masih terdiam di kamarnya, menatap kearah luar jendela dan melihat betapa putihnya salju yang turun di halaman rumahnya. Kotarou saat ini sedang bermain dengan mainan yang diberikan oleh Saikawa padanya tadi pagi.
"Kaka…!" Kotarou menarik baju Ryuuichi sambil menggoyang-goyangkan mainan lego miliknya seraya meminta sang kakak ikut bermain dengannya.
"Ah iya…" Ryuuichi kemudian membalikkan badannya dan ikut bermain lego bersama Kotarou.
Semenjak kejadian itu, Ryuuichi tidak pernah lagi berbicara pada Hayato. Bukan karena dia membencinya atau apa, tapi sepertinya lelaki bermarga Kashima itu tidak bisa menahan gejolak hatinya yang terus berdebar jika melihat lelaki itu. Menatap matanya saja tidak berani, apalagi berbicara dengannya. Bahkan setelah para guru pulang dari dinas pun Ryuuichi belum berbicara lagi pada Hayato.
Tahun baru sudah selesai beberapa hari yang lalu. Saat festival itupun sengaja Ryuuichi tidak mau bersama dengan yang lain dengan alasan ingin menghabiskan waktu bersama Kotarou saja, meskipun pada kenyataannya dia hanya tidak ingin bertemu dengan Hayato setelahnya. Meskipun perasaannya tidak enak dan mungkin saja bisa melukai hati lelaki yang menciumnya itu, tapi Ryuuichi lebih tidak tahan lagi kalau harus bersama dengan Hayato, yang membuatnya makin bingung dengan perasaan dan jantungnya yang kian mendebar saat berada dekat dengannya.
"Haaah…" Ryuuichi menghela nafas sambil masih menemani Kotarou bermain. Sampai saat ini ia masih tidak bisa melupakan ciuman itu. Ciuman… bahkan mengingatnya saja sudah membuat tubuhnya panas, membuat Ryuuichi benar-benar seperti orang aneh.
"Tuan Ryuuichi," Saikawa berdiri diambang pintu, menatap kearah Ryuuichi dan Kotarou sambil membungkuk kepada keduanya, "ibu pemimpin menyuruhku untuk membereskan rumah, dan aku harus membeli bahan makanan di pasar, bisakah kau membelikannya untukku?" tanya Saikawa pada Ryuuichi.
Lelaki itu kemudian menatap Kotarou yang berwajah merah dan senang mendengar mereka disuruh pergi berbelanja di hari yang cerah ini, "hmmm… baiklah," kata Ryuuichi kemudian menggendong Kotarou dengan senangnya.
Setidaknya… setidaknya aku tidak boleh terlalu memikirkannya..
Pikir Ryuuichi sambil kemudian berjalan keluar dari kediaman siang itu.
Setelah memakaikan sepatu dan jaket Kotarou, akhirnya keduanya berjalan dengan santainya melalui gang-gang menuju kearah pasar di ujung jalan ini. Sengaja ia memutar jalan agar tidak melewati rumah sang pemain baseball yang dikaguminya itu, tentu saja dengan alasan yang sama seperti sebelum-sebelumnya.
"Ada guguk…" Kotarou melihat kearah anjing yang ada di jalan itu, kemudian berlari mendekatinya sambil tersenyum menatapnya dengan wajah ceria, "kaka…! Guguk…!" kata Kotarou memberitahu.
"Jangan lari Kotarou!" Ryuuichi membiarkan Kotarou mengelus anak anjing di pinggir jalan itu, "jangan dipegang Kotarou, nanti kotor," kata Ryuuichi lagi lalu menggendong Kotarou.
"Loh, Kashima?" suara seseorang memanggilnya dari belakang, "dan…" CROT! Darah keluar dari hidung lelaki bertampang mesum itu, "b-biarkan aku mencubit pipinya…"
"Yagi-san!" Ryuuichi segera mengambil langkah mundur agar lelaki itu tidak mencubit adiknya yang manis ini, "m-mau kemana minggu seperti ini?" tanya Ryuuichi pada lelaki paling tampan kelas akselerasi itu.
Lelaki itu kemudian menunjukkan tas belanjaannya yang ia bawa, "disuruh kakak," ujarnya masih menatap Kotarou dengan senyum mesumnya itu, "kau juga mau belanja kan? Sekalian saja…" katanya lagi.
"Ah," Ryuuichi nampak tidak percaya dengan orang mesum di sebelahnya itu, namun melihat Yagi yang seperti tengah tidak mengerti belanjaan apa yang disuruh kakaknya itu membuat Ryuuichi akhirnya memperbolehkan lelaki itu berbelanja bersamanya, "boleh deh…" kata Ryuuichi lalu berjalan bersama Yagi menuju ke pasar disana.
"Jadi… bagaimana anak-anak di daycare?" tanya Yagi menatap kearah Ryuuichi, berusaha untuk tidak menjawil pipi lembut nan gembul adiknya meskipun darah masih mengalir dari hidungnya.
"Ah, mereka baik baik saja," kata Ryuuichi tatapannya masih kearah jalan di depannya, "kemarin ada inap karena guru-guru sedang dinas… ah…" tiba-tiba wajah Ryuuichi memerah karena kembali teringat akan kejadian ciuman itu. Melihat wajah Ryuuichi yang memerah, entah kenapa membuat Yagi jadi penasaran dengannya.
"Kenapa? Heee… ada sesuatu terjadi? Jangan bilang Inomata menembakmu?" tanya Yagi menyenggol lengan lelaki di sebelahnya. Namun Ryuuichi menggeleng kuat mendengarnya, "heee… lalu kenapa?" tanya Yagi lagi.
"Y-Yagi pernah ciuman?" tanya Ryuuichi berbalik, membuat Yagi entah kenapa mengerti apa yang terjadi saat itu, "b-bukan! M-maksudku bertanya tapi, uh…" Ryuuichi menghentikan jalannya karena tertunduk malu.
Yagi kemudian tersenyum melihat lelaki itu, "heee, pernah kok…. Sering," kata Yagi kemudian terdiam sejenak, "aaaahhh enak sekali sih Kashima, dicium sama anak-anak daycare…" lanjut Yagi kini merasa dirinya terpuruk, "aku juga ingin dicium…" lanjutnya lagi kini darah dari hidungnya tak kunjung berhenti karena membayangkannya.
"Yagi…!" Ryuuichi segera memberikan tisu padanya untuk menyumbat darah itu, "tapi… bukan dengan anak-anak…" kata Ryuuichi lagi sambil memeluk Kotarou dengan eratnya, "a-aku tidak tahu harus merespon apa padanya…"
"Eh… ohh…. Kupikir dengan anak-anak disana," kata Yagi kemudian bangkit sambil kemudian menarik tangan Ryuuichi agar lelaki itu juga segera berdiri, "ciuman dengan pacar Ryuuichi?"
"Aku tidak punya pacar!"
"Heee… dicium?"
"I-iya…" kata Ryuuichi sambil kembali berjalan.
"Berarti orang itu suka padamu! Mana mungkin orang lain mau mencium seenaknya kalau dia tidak menyukai orang tersebut," kata Yagi lagi sambil kemudian tatapannya menjadi sendu kearah jalanan, mengingat beberapa hal yang tiba-tiba membuatnya jadi melankolis, "seharusnya begitu…" lanjutnya lagi kini terdiam. Terlihat kini api-api hitam telah membakarnya dan membuatnya depresi dengan dirinya sendiri.
Melihat Yagi yang nampak depresi itu, Ryuuichi hanya bisa segera mengehentikan percakapan ini, "ma-maaf… Yagi sedang ada masalah ya?"
"Mah, biarlah," kata Yagi kemudian kembali menatap kearah Ryuuichi, "jadi kau tidak tahu harus bersikap seperti apa ya pada orang itu? Hmm?"
"Ka!" tiba-tiba Kotarou yang sedari sibuk bermain dengan lego yang dibawanya segera menoleh karena melihat ada Taka yang berlari keluar dari gang disana. Melihat Taka yang ada disana, Ryuuichi hanya bisa terdiam saat melihat Hayato yang juga sedang berjalan di belakang Taka.
"Ohhh! Kotalou!" Taka melihat kearah Kotarou yang kemudian meminta Ryuuichi menurunkannya dari gendongan, "ohh dan kakak ini…!" kata Taka melihat kearah Yagi yang kini melihatnya dengan tatapan mesum, lagi.
"Sini main sama kakak…" kata Yagi dengan nada sini-main-sama-om yang mesum sambil mengajak Taka yang menatapnya dalam diam.
"Heh, pergi kau, orang mesum!" Hayato menarik Taka sambil menatap kearah Yagi dengan tatapan tajam miliknya dan siap membunuh lelaki itu kalau benar-benar mengapa-apakan adiknya. Siapa sih yang mau adiknya diajak main oleh orang yang tiba-tiba saja mimisan melihat anak kecil di depannya? Siapapun pasti curiga tentu saja, "oh, hai Kashima," Hayato menyapa lelaki itu.
Ke-kenapa ada Kamitani…?
Ryuuichi tiba-tiba saja wajahnya memerah karena bertemu pandang dengan lelaki di depannya, "a-ah…" wajah Ryuuichi kini tampak memerah seperti kepiting yang membuat Taka segera meneriakinya 'kepiting rebus' seperti biasanya. Tidak tahu harus bersikap seperti apa, Ryuuichi segera menggendong Kotarou dan kabur dari situ.
"E-eh…" Yagi melihat kearah Ryuuichi yang sudah kabur sampai di ujung jalan sana, membuat lelaki itu menatap kearah Hayato di depannya, "ohh…" senyumnya menatap kearah Hayato.
"Apa?" tanya Hayato pada lelaki itu.
"Nggak, nggak papa, hahaha," tawa Yagi kemudian segera meninggalkan Hayato yang ingin pergi ke taman bersama Taka hari ini, "sampai nanti Kamitani," Yagi kemudian segera menyusul Ryuuichi yang ternyata masih terdiam di belokan jalan disana. Tangannya terus memegangi dadanya dan wajahnya masih memerah seperti tadi.
"Kaka…" Kotarou menarik celana kakaknya itu, "cakit…?" tanya Kotarou menatap kakaknya yang kini menatapnya kaget itu.
"Ah… Kotarou… maaf," kata Ryuuichi segera memeluk adiknya itu sambil masih mencoba untuk menenangkan hatinya.
"Kamitani ya…" ucap Yagi tiba-tiba, membuat Ryuuichi bergidik ngeri dan segera memeluk tiang di sebelahnya, membuat Kotarou harus tergencet karenanya, "hahaha! Ternyata benar," kata Yagi sambil menjentikkan jarinya, "tidak usah malu begitu Ryuuichi, aku tidak anti pada orang yang menyukai sesama jenis kok," kata Yagi pada Ryuuichi.
"B-bukan! Aku tidak menyukainya!" kata Ryuuichi kemudian terdiam sejenak. Benarkah begitu perasaannya? Ryuuichi kemudian kembali menatap Kotarou yang menatapnya bingung, "bukan begitu juga… tapi…"
"Heee, lalu apa kalau kau tidak suka padanya? Menurutku Kamitani mungkin suka padamu loh," kata Yagi lagi sambil tersenyum.
"A-aku hanya mengaguminya! D-dia orang yang hebat.." kata Ryuuichi menundukkan kepalanya sambil memeluk Kotarou yang terasa hangat itu, "tapi aku tidak menyangka dia akan mencium…" Blush. Wajah Ryuuichi kini memerah karena kembali teringat.
Yagi kemudian tertawa melihatnya, "hahaha, Kashima lucu sekali sih," kata Yagi kemudian kembali menatapnya sambil tersenyum, "padahal menurutku kau menyukainya, kagum dan suka itu dua hal berbeda loh, Kashima," ujar Yagi lagi.
Ryuuichi kemudian terdiam.
Suka? Aku suka Kamitani?
Tiba-tiba Ryuuichi merasa darah telah naik ke wajahnya, membuatnya makin tidak sanggup memikirkan kelanjutan dari perasaan yang dipikirkannya. Padahal, padahal selama ini ia mencoba untuk tidak melebihkan perasaan kagumnya itu pada sahabatnya. Namun sepertinya perasaan itu kini telah berbeda dari sebelumnya.
"T-tapi-…!"
"Tomoya?!" suara itu mengagetkan Ryuuichi, membuat ketiga orang yang ada disana segera menoleh kearah sumber suara itu. Rupanya itu adalah Nezu Chuukichi, teman sekelas Yagi di kelas akselerasi. Melihat Nezu yang berjalan mendekat kearah mereka, tiba-tiba saja Yagi segera berlari meninggalkan Ryuuichi dan Kotarou.
"E-eh…" Ryuuichi kemudian kaget karena tiba-tiba Nezu mengejarnya.
"Duluan saja Kashima!" kata Yagi kemudian menghilang dibalik belokan jalan disana bersama Nezu yang mengejarnya. Ryuuichi hanya terdiam kaget tidak tahu harus berkata apa. Lelaki Kashima itu kemudian menatap kearah Kotarou yang masih menatap kearah mainan lego miliknya.
"Yasudahlah ayo kita jalan duluan saja, Kotarou," kata Ryuuichi menghela nafas dan kemudian berjalan menuju ke pasar bersama adiknya itu.
…
…
"Tomoya!" Nezu berhasil menarik tangan lelaki yang lari darinya itu, "kenapa kau lari dariku?" tanya Nezu menahan kedua tangan Tomoya di jalanan sempit yang yang sepi itu. Yagi kemudian hanya bisa terdiam tak mau menatap kearah Nezu di depannya.
"Tsk.. apa sih yang kau lakukan," Yagi melepaskan tangannya dari lelaki itu, "bukan urusanmu juga," kata Yagi acuh meskipun wajahnya terlihat begitu terluka.
"Tomoya," Nezu kemudian memeluk lelaki itu dari belakang, "maaf… aku tidak akan meninggalkanmu lagi sendirian," kata Nezu menghentikan langkah Yagi. Lelaki yang dipeluk hanya bisa terdiam sambil menundukkan kepalanya.
"Ck, bodoh…" kata Yagi kemudian mengelus kepala lelaki dipundaknya itu.
"Apa ini? Dua orang bermesraan dijalan?" Hayato menatap kearah dua orang itu sambil tangannya masih menutupi mata Taka di pelukannya.
"AAAAA….!" Kedua orang itu kaget melihat kehadiran Hayato yang tiba-tiba.
"Ah-uh… h-hai, Kamitani…" sapa Yagi yang wajahnya terlihat syok. Sementara Nezu terdiam entah berekspresi apa, "j-jyaa… kita duluan," ucap Yagi kemudian menarik Nezu pergi dari tempat itu, "dan oh… Kashima bercerita padaku… dia selalu menghindar karena malu padamu, dan kupikir dia menyukaimu, tapi mungkin dia masih tidak sadar dengan perasaannya sendiri," kata Yagi tersenyum jahil pada Hayato yang menatapnya diam. Kedua orang itu kemudian menghilang setelah turunan jalan disana.
"Kaka…!" Taka menarik baju milik kakaknya itu.
"Kau pulang duluan deh, aku ada urusan," kata Hayato menurunkan Taka dari pelukannya.
"Aku mau ikut-…"
"Tidak. Pulang," tatap Hayato seram pada adiknya, membuat Taka segera berlari pulang ke rumah yang tinggal berjarak beberapa blok dari sana. Hayato kemudian berjalan meninggalkan tempat itu dengan segera.
…
…
"Kashima!" panggil ayah Kirin saat Ryuuichi dalam perjalanan pulang kembali ke rumahnya.
"Kotalou! Ayo ikutan kilin…" kata Kirin sambil menarik tangan Kotarou, "papah mau poto poto katanya.." ucap Kirin lagi sambil tersenyum. Ryuuichi kemudian menatap kearah ayah Kirin yang tersenyum padanya sambil membawa kamera miliknya. Benar juga, ayah Kirin kan seorang fotografer.
"Kashima, aku pinjam Kotarou sebentar," kata ayah Kirin sambil memohon pada lelaki di depannya itu, "aku disuruh meencari foto anak-anak dalam edisi majalan anak-anak bulan depan, ugh… syukurlah aku bertemu denganmu disini," ujarnya sambil matanya berbinar terang, mencoba mengambil hati Ryuuichi agar memperbolehkan Kotarou membantunya.
Ryuuichi kemudain tersenyum kecil sambil menatap kearah Kotarou yang terlihat bahagia bermain bersama Kirin, "ah, boleh saja, aku juga sedang berbelanja di toko itu kok," kata Ryuuichi kemudian menatap Kotarou, "Kotarou temani Kirin dulu ya, kakak mau beli sayur disitu," ucap Ryuuichi pada Kotarou.
"Uh, uh…" Kotarou mengangguk sambil kemudian diajak Kirin untuk dilatih berpose meskipun pada akhirnya Kotarou tetap berwajah datar tanpa ekspresi.
Ryuuichi kemudian berjalan kearah toko yang tidak jauh darisana dan memesan beberapa sayuran yang ada dalam catatan Saikawa, "etto… tomat, kol, daun bawang…" Ryuuichi melihat catatan itu sekali lagi sambil menunggu sang pedagang membawa pesanannya.
"Kashima!" sebuah suara tiba-tiba memanggilnya, membuat Ryuuichi segera menoleh kearah sumber suara tersebut. Saat melihat lelaki yang memanggilnya barusan, Ryuuichi segera memalingkan wajahnya kearah lain dan tidak mau menatap kearah orang yang memanggilnya barusan.
"A-ada apa Kamitani?" tanya Ryuuichi sambil tangannya dengan asal memilah tomat di depannya.
Melihat Ryuuichi yang salah tingkah seperti itu kemudian malah membuat Hayato segera menarik tangan lelaki itu ke belokan diantara pertokoan yang gelap itu. Kaget dengan hal yang dilakukan sahabatnya itu, Ryuuichi segera berlari kalau saja Hayato tidak segera menahan kedua tangannya di tembok dan mencegahnya kabur dari tempat itu.
"Kashima," Hayato menatap tajam kearah lelaki di depannya, "tatap aku," Hayato melihat kearah Ryuuichi yang masih memalingkan wajahnya darinya. Wajah itu memerah dan seperti ingin menangis, "aku suka padamu," kata Hayato lagi, membuat lelaki yang lebih pendek darinya itu kaget dan kini menatapnya dengan mata membelalak.
Seketika itu Ryuuichi yang semula berusaha untuk kabur jadi terdiam menatap Hayato yang kini pandangan matanya beralih darinya, "bagaimana denganmu?" tanya Hayato tiba-tiba kembali menatap Ryuuichi, membuat lelaki itu kaget dan kembali memalingkan wajahnya yang memerah.
"A-aku…" Ryuuichi terdiam sejenak, "me-menurutku Kamitani orang yang keren…"
"Bukan itu yang kumaksud,"
"A-ah… me-menurutku, Ka-kamitani orang yang aku kagumi…"
"…"
"K-kamitani menurutku-.."
"Jadi kau suka padaku atau tidak?"
Ryuuichi terdiam tak bisa berkata. Dia tidak tahu harus menjawab apa terhadap pertanyaan dari Hayato. Selain karena debaran jantungnya yang kian mempercepat, dia juga tidak bisa menerima kalau dirinya suka pada sahabatnya itu, lagipula, itu tidak mungkin bagi dua orang lelaki seperti mereka. Tapi kalau dia harus bilang tidak juga, rasanya ia tidak bisa. Lalu apa perasaan berdebar dan panas yang ia rasakan dari dulu ini?
Ugh…
Ryuuichi masih terus terdiam tak menjawab apapun, membuat Hayato kemudian dengan tangannya segera memegang dagu milik lelaki di depannya dan menyuruh lelaki itu menatapnya.
"Kalau kau tidak suka padaku, kau boleh mendorongku," kata Hayato kemudian tiba-tiba mencium Ryuuichi, membuat lelaki itu kaget. Sebenarnya bisa saja Ryuuichi mendorong lelaki di depannya itu saat ini, ia bisa saja segera lari dari tempat itu dan meninggalkan Hayato disana, ia bisa saja memukul lelaki di depannya dan melepaskan ciuman ini. Tapi entah kenapa ia tidak bisa. Ia tidak bisa melakukannya.
Hayato kemudian melepaskan ciuman singkat itu dan menatap kearah Ryuuichi yang menatapnya dengan wajah memerah, "haaah…" Hayato menghela nafas dan kemudian memeluk lelaki di depannya itu segera, "maaf," kata Hayato sambil mengelus kepala Ryuuichi, yang semakin membuat lelaki itu berdebar tidak karuan, "aku tidak akan memaksamu lagi," kata Hayato kemudian melepaskan pelukannya.
Hayato kemudian pergi dari tempat itu kalau saja Ryuuichi tidak menahan tangannya.
"A-aku…" wajah Ryuuichi memerah tak berani menatap Hayato, "m-mungkin aku su-suka Kamitani," kata Ryuuichi sambil menundukkan kepalanya, "ma-makanya…"
DUK! Hayato mendorong tubuh Ryuuichi ke dinding itu dan menatap Ryuuichi yang kaget melihatnya, "bodoh," senyum Hayato kecil kemudian mencium lelaki itu lagi.
Entah kenapa perasaan Ryuuichi seperti melayang diudara. Perasaannya aneh. Ia tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Mungkin karena kata-kata Hayato barusan dan tindakannya tadilah yang berhasil membuat Ryuuichi sadar bahwa ia menyukai lelaki ini. Mungkin sejak dulu memang ia sudah menyukainya, namun ia saja yang tidak tahu perasaan yang dirasakannya saat itu.
"Nnh…" Ryuuichi sadar ketika Hayato tiba-tiba menyuruhnya membuka mulutnya dan membiarkan lidah lelaki itu masuk ke rongga mulutnya. Benda panas itu menjelajah seisi mulutnya dengan agresifnya, membuat Ryuuichi nyaris saja kehilangan tempo nafasnya karena merasa terbakar.
Tangan Hayato kemudian mendorong kepala Ryuuichi untuk lebih memperdalam ciuman mereka, membuat Ryuuichi tak bisa berkutik karena merasa seluruh tubuhnya telah melemah. Ada perasaan aneh yang berputar di perutnya, membuat Ryuuichi mendorong pelan Hayato dan berhasil membiarkan dirinya mengambil nafas untuk sejenak.
"Kashima…" panggil Hayato dengan suara yang berat sambil kemudian tangan Hayato tiba-tiba saja memegang ke daerah pribadi lelaki itu, membuat Ryuuichi kaget karena reaksinya sendiri terhadap sentuhan tangan Hayato. Meski ia masih berlapis celana tebal musim dingin itu, tapi sepertinya itu tidak bisa membohongi lelaki di depannya saat ini. Hayato bahkan terdiam saat sadar kalau lelaki di depannya ini sudah seperti ini hanya karena ciuman mereka barusan.
"Ka-kamitani…" Ryuuichi memegang tangan Hayato yang mulai mengelus bagian bawah tubuhnya dengan perlahan, membuat berjuta kupu-kupu seperti terbang di perutnya. Ryuuichi juga laki-laki sehat yang tahu tentang tubuhnya sendiri, karena itulah ia lebih heran kenapa dia bisa menjadi seperti itu hanya karena ciuman yang mereka lakukan tadi.
"Kashima, kurasa kita-…"
"Kak Lyuuuuu….!" Sebuah suara tiba-tiba membuat keduanya terdiam menatap satu sama lain. Itu adalah suara Kirin, "Kak Lyuuu dimanaaaa?" teriaknya mencari-cari, membuat Hayato kemudian segera menghentikan kegiatannya dan kemudian menatap kearah Ryuuichi yang menatapnya masih dengan wajah memerah dan mata yang berkaca.
"Maaf, kurasa kita bisa melakukannya lain waktu," kata Hayato menggaruk kepalanya, membuat Ryuuichi kaget melihat wajah Hayato yang sedikit memerah itu, "cih, mengganggu saja," kata Hayato kesal sambil menarik tangan Ryuuichi keluar dari gang sempit itu.
"Ah! Itu!" Kirin menunjuk kearah kedua orang yang baru saja keluar dari tempat itu, "kaaaa Lyuuu kita cudah celcai…" kata Kirin sambil masih menggandeng tangan Kotarou, "ada kakaknya Taka jugaaa ohhh…" Kirin menatap Hayato dan kemudian kembali menatap kearah Ryuuichi di sebelahnya.
"Ah.. uh…. Iya," Ryuuichi tersenyum pada Kirin dan segera menggandeng Kotarou untuk pulang.
Setelah mengambil pesanannya tadi, akhirnya Ryuuichi pun memutuskan untuk pulang. Ia berpisan dengan Kirin dan ayahnya yang juga akan pulang. Entah kenapa ia merasa aneh dengan dirinya sendiri. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya jika tadi Kirin tidak mencarinya. Memikirkannya saja sudah membuatnya panas. Haaah. Helaan nafas panjang itu membuatnya sedikit lega, membuat Hayato yang berjalan di sebelahnya hanya menatapnya saja dalam diam.
"Aku duluan, Kashima," kata Kamitani saat sampai dipertigaan jalan itu.
"O-oke…" Ryuuichi melambaikan tangannya pada lelaki di depannya, "hati-hati…" kata Ryuuichi sambil kemudian menatap Kotarou yang juga melambaikan tangannya pada Hayato. Sesaat sebelum lelaki itu benar-benar pergi, tiba-tiba saja Hayato mendekat kearahnya sambil kemudian berbisik… "jangan ditahan," sambil kemudian pergi meninggalkan Ryuuichi yang terdiam dijalan itu.
"Kaka…?" Kotarou menepuk pipi kakaknya yang memerah itu, "cakit…?" tanya Kotarou lagi, membuat Ryuuichi segera memeluk erat adik lelakinya itu sambil menggeleng kuat.
"Tidak… tidak papa kok Kotarou," ujarnya kemudian segera beranjak pergi darisana.
Tidak perlu diberitahu juga aku tahu kok… ugh… aku juga kan lelaki…
Pikir Ryuuichi sambil wajahnya semakin memerah.
…
…
"Bodoh…" gumam lelaki berambut pirang itu sambil memeluk bantal miliknya, "katanya tidak akan membiarkanku sendirian, huh," gumamnya kemudian menatap kearah langit-langit rumahnya. Ia kemudian menatap kearah telefon genggamnya, tapi tidak ada pesan disana.
Tik,tok,tik,tok… suara jam di ruangan itu terasa begitu menyakitkan.
"Chuukichi bodoh," gumamnya lagi kemudian membenamkan kepalanya di bantal sofa ruang keluarga miliknya itu.
Bersambung.
Sorry if OOC orz.
Review please and for Chapter 4: Don't Leave Me Alone (Main Pair: Nezu x Yagi but of course there's also HayatoxRyuuichi, fufufufu~)
