Someone's Dream..

Dilihat dari latar tempat tersebut, tampaknya ini adalah sebuah tempat untuk menimba ilmu. Dinding ber-cat putih gading bersih, terlihat sekali jika sekolah ini adalah sekolah elit dan bergengsi. Sepi, begitulah keadaan di sini. Hingga, suara ramai-ramai terdengar dari lorong gelap di ujung sana.

seorang gadis, dengan dua gadis lain yang menyeret gadis bersurai indigo dengan pony panjang yang menutupi wajahnya. Gadis itu meronta-ronta ingin dilepaskan. "pem-bully'an"gumam nya.

"ku mohon..ku mohon le..lepaskan aku"gadis itu terus meronta. 3 gadis lainnya hanya tertawa melihat ketakutan yang mendera si gadis indigo itu. Hanya satu gadis yang kelihatannya tidak begitu menyukai adegan tersebut. Gadis pirang bekucir dua, dia terlihat terpaksa sekali untuk membantu menahan pergerakan sang gadis.

"Sakura-chan, kita lepaskan saja dia..kita kan tidak punya masalah dengannya" kata si pirang. Sayup-sayup terdengar suara ponsel yang berbunyi. "ayolah, Ruko-chan.. Dia yang mengambil pujaan hati ku, jadi aku mau memberi pelajaran untuk nya" Ujar Sakura. Gadis bersurai pirang pucat memutar matanya bosan. "tapi apa tidak berlebihan?"tanya si gadis pony tail itu, yang diberi anggukan oleh Ruko.

"kalau kalian tidak mau biar aku saja"kata si gadis bubble gum aka Sakura. Sakura memajukan dirinya ke arah si gadis indigo itu dengan sebuah gunting di tangannya. Ruko yang tidak lagi memegang tangan si indigo pun berbalik badan dan melangkahkan kakinya menjauhi mereka.

"jawab dengan jujur.. Kenapa kau bisa berpacaran dengan Sasuke-kun?"tanya Sakura. Gadis itu tetap bungkam. "atau ku potong saja rambut mu sampai botak, benarkan Ino-chan"lanjutnya. Ino menganggukan kepalanya pelan. "Sa..Sasuke-kun yang menyatakan cinta nya pada ku..b..bukan a..a..aku"kata gadis itu ketakutan.

Sakura geram melihatnya, ia pun maju mendekati gadis indigo itu. Semakin dekat, si gadis tampak ketakutan dan meronta-ronta. Hingga, suatu kejadian yang tak diinginkan pun terjadi. Sang gadis yang sudah terlepas dari jeratan Ino, hendak berlari tanpa melihat Sakura yang berada di depannya memegang sebuah gunting.

Jlebbb...

"arrrggghhhh" pekik gadis itu. Ruko membalikan badannya, ia membulatkan matanya tak percaya melihat apa yang terjadi. "Sakura"Pekik Ino, tidak percaya. Gadis indigo itu pun terjatuh ke atas lantai, dengan darah dimana-mana. Sakura menggelengkan kepalanya pelan. "apa yang kalian lakukan?"Ruko berlari mendekati keduanya.

"ini salah mu Saku..aku tidak mau masuk penjara"kata Ino, ketakutan. Sakura menatap nyalang ke arah Ino. "kau pikir, siapa yang membuat rencana untuk mengerjainya?" Tanya Sakura. Ini ide Ino, bukan idenya.. Tentu saja dia tidak mau disalahkan. Mereka saling mengelak, hingga seorang pemuda bersurai raven datang bersama gadis culun di sampingnya.

"HINATA" teriak pemuda itu. Ke-3 nya terkejut saat melihat kekasih dari gadis indigo itu datang. Sang pemuda pun langsung merengkuh tubuh tak bernyawa itu. "APA YANG KALIAN LAKUKAN?"teriak pemuda itu. Marah, ia sangat marah pada ke-3 gadis itu. Tanpa mengulur waktu, pemuda itu segera mengangkat tubuh kekasihnya yang sudah meninggal dan pergi menjauhi gadis-gadis itu.

Sakura melempar pandang ke arah gadis culun yang tadi berjalan di samping pemuda raven. "Uzumaki Karin" Sakura berjalan mendekati gadis yang sedang ketakutan itu. Ruko dan Ino hanya memperhatikan tingkah sahabat mereka. Gadis bernama Karin itu hanya menundukan kepalanya. "dia itu sepupu mu kan, Naruko-chan"tanya Sakura.

Naruko atau Ruko menganggukan kepalanya. Sakura menyeringai. "katakan padanya untuk berada dipihak kita"seru Sakura, memerintahkan Naruko. Naruko menatap miris saudara sepupunya. "itu sih jika kau tidak mau aku dan Ino masuk penjara.. Dan oh, bagaimana jika kau juga masuk penjara? Bagaimana tanggapan para bangsawan Uzumaki dan Namikaze ya"sindir Sakura.

.

.

.

.

NARUTO

Tears 3

Rated : T

Pair: Sasu(Fem)Naru and Others

All Chara Belong To Masashi Kishimoto(c)

Genre : Romance/supernatural

.

.

.

Naruto terbangun dari tidurnya. Masih terbayang mimpi yang baru saja ia alami. Wajahnya memucat, mengingat mimpi buruknya itu. Ada apa dengannya? Kenapa mimpinya itu benar-benar aneh? Dan lagi, kenapa ia melihat gadis Indigo yang pernah ia lihat saat Sasuke memegang wajahnya? Kenapa ia bisa melihat Visi seperti itu? Kenapa ia bisa melihat kenangan orang lain saat mereka bersentuhan? lalu, siapa gadis pirang yang memiliki porsi tubuh dan wajah yang mirip dengan dirinya?

"kau tak perlu bingung"

Naruto mengangkat kepalanya yang tertunduk bingung, ketika mendengar suara seorang gadis tepat di hadapannya. Naruto melihat gadis yang tengah asyik duduk di depannya. "siapa kau?"tanya Naruto. Gadis ini, gadis yang sangat mirip dengan gadis yang ia lihat di mimpinya dan gadis yang ia lihat tengah berdiri di belakang Sasuke saat mereka berada di taman. "Aku Naruko, salam kenal"Gadis itu memperkenalkan dirinya.

"panggil aku Naru"kata Naruto. Mereka berdua pun saling bersalaman, hingga alis Naruko terlihat bertaut ketika melihat 'tatto' di pergelangan tangan Naruto. "nama mu hampir sama dengan nama ku"Ujar Naruko. Naruto tersenyum saja saat mendengar perkataan Naruko."apa kau teman Sasuke?"tanya Naruto. "ya, dulu.."jawab Naruko. ' sebelum dia membenci ku' lanjutnya dalam hati.

"aku gadis yang ada di mimpi mu"

Naruto terdiam sejenak. Kenapa gadis ini tahu kalau ia baru saja memimpikan dirinya?

"kenapa-"

"karena aku sudah meninggal"sela Naruko. Naruto sontak saja tertawa geli. Oh, ayolah.. Lelucon apa lagi yang membuat perutnya digelitik seperti ini?

"kau roh? Jangan bercanda"kata Naruto. "ya, aku roh.. Dan aku tidak bercanda"Naruko tak terima dibilang bercanda oleh Naruto. "lalu kenapa aku bisa melihat mu?"tanya Naruto. Jika, dia roh, mana mungkin Naruto bisa melihatnya, begitulah pikir Naruto.

"karena kau istimewa"jawab Naruko. Naruto tertawa lagi. "istimewa? Aku istimewa? Istimewa apanya"Naruto benar-benar tak peduli dengan keadaan Naruko yang terlihat marah padanya. Melihat Naruto yang tak percaya dengan apa yang ada pada diri Naruko. Naruko dengan sangat kesal, langsung menabrakan dirinya ke tubuh Naruto.

"dengan begini, kau pasti membantu ku"Naruto yang tubuhnya dirasuki Naruko, terlihat berjalan menuju kamar mandi.

.

.

* Kamar Mandi *

Naruto atau yang kini tengah dibawah kendali Naruko tengah memandang takjub wajahnya di depan cermin besar di kamar mandi. Suatu hobby sewaktu ia hidup dulu. Naruko sangat suka bercermin dan mengagumi wajah imut nan manis miliknya. "hah, pipi mu lebih chubby dari ku"Naruto mencubit pipi kirinya. "ihhh, tembam sekali"Naruto seakan baru pertama kalinya memegang pipinya

Gaara yang memperhatikan kejadian itu, menggelengkan kepalanya. Norak sekali Naruko itu. Menyadari kehadiran Gaara, ia pun membalikan tubuhnya. "Gaa-chan, lihat! Wajahnya mirip sekali dengan ku.. Hanya saja pipinya tembam " kata Naruto(Naruko). "ya, tapi lebih cantik dia"Gaara mengomentari. Naruto Naruko menggembungkan pipinya.

Naruto(Naruko) terkejut ketika menyadari pakaian yang dikenakan Gaara, belum lagi sebuah gentong besar yang ia bawa di punggungnya. Ia menahan tawa melihat kostum tersebut. "apa?"tanya Gaara, curiga. "kau ingin halloween dimana?" cibir Naruto. Gaara mendelik tajam. Akan tetapi Naruto(Naruko) tetap cuek dan tak peduli. "enak saja.. Ini pakaian kebesaran tahu.. Sebagai cucu dari raja Shinigami"Gaara mulai menyombongkan diri.

Naruto(Naruko) berdecih pelan. ' sombong sekali dia' pikirnya. Tentu saja Gaara menjadi sombong, secara Naruto(Naruko) itu mencibir pakaian kebesaran dirinya yang notabene adalah seorang pangeran. Seharusnya, Naruko bersyukur karena jarang-jarang ada pangeran Shinigami yang mau merelakan waktunya membantu roh tersesat macam Naruko itu.

.

.

.

* Kantor Sharingan Corps *

Dua orang pemuda tampak khidmat dalam keheningan. Pemuda bersurai raven yang duduk di meja kerjanya, dan pemuda bersurai coklat panjang juga terdiam di hadapannya. "kau mau memperkenalkannya pada ku?"si pemilik iris tak berpupil membuka suaranya. Si raven Sasuke, mengangguk setuju.

"tapi kenapa tiba-tiba?"tanya Sasuke. "Sai meminta ku untuk menemui gadis itu"Jawab Neji. "jadi, Sai mengatakan tentang gadis itu pada mu?"Sasuke bertanya lagi. "ya"jawabnya singkat.

"aku hanya ingin memastikan"lanjut Neji. Sasuke mengangkat satu alisnya. "memastikan"Beo Sasuke, tak mengerti. "kata Yamanaka, dia sangat mirip mendiang Naruko"jelas Neji. Sasuke berdecih. "gadis pembunuh itu"

Neji memutar matanya bosan. Sudah 3 tahun berlalu, masih saja mengungkit hal itu. "dia kan sudah bilang, jika itu kecelakaan"kata Neji. "jangan karena kau dulu menyukainya, dan bisa membelanya Neji"sahut Sasuke. Tak dipungkiri lagi, jika Neji jatuh cinta pada mendiang Naruko saat mereka masih SMA. Neji jatuh cinta pada pandangan pertama, ia jatuh hati oleh sosok polos Naruko.

"kenapa kau hanya membenci Naruko, Sasuke?"tanya Neji. Padahal, saat itu bukan hanya Naruko yang hadir di persidangan. Sasuke menggelengkan kepalanya, tidak tahu. Neji menghela napas sejenak. "kau ini.. Aku pulang"Neji beranjak dari duduknya. "hn"sahut Sasuke.

.

.

.

.

* Taman Kota *

"Tachi-kun, kenapa kita kencan di sini sih?"Tanya gadis bersurai blonde, bergelayut manja di lengan kekar pemuda tampan bersurai raven. "maaf Hotaru, putra ku ingin aku menemaninya bermain"Si Raven, Itachi Uchiha mengucapkan maaf pada sang kekasih. Tak enak hati, karena mengajak si gadis berkencan di taman bermain anak-anak.

Hotaru tampak tak suka ketika perhatian Itachi teralihkan oleh putra angkatnya yang manja itu. dia kan cuma anak angkat, tetapi Itachi terlalu menyayangi anak itu layaknya anak sendiri. "lagi pula, Bito itu kan cuma anak angkat mu, kenapa sih kau itu terlalu menyayanginya"

"dia sudah seperti putra ku sendiri, Hotaru"jawab Itachi, datar. Itachi sangat tidak suka jika, ada yang mengatakan jika Bito adalah anak angkatnya. Bito itu memang bukan anaknya, melainkan putra dari sepupunya sekaligus sahabat karibnya, Uchiha Shizui dan istrinya Uchiha Temari yang sudah meninggal saat Bito masih berusia 1 bulan.

Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Shizui sempat menitipkan Bito kecil pada Itachi, dan meminta si sulung Uchiha untuk menyayangi Bito seperti menyayangi putranya sendiri. "papa, cini"Bito memanggil sang papa.

.

.

*beberapa menit kemudian*

Dilain pihak, tampak Deidara yang tengah duduk dibangku taman. Ia terlihat begitu menikmati buku bacaannya. pendengarannya pun mendengar suara tangisan anak kecil yang tak jauh dari tempatnya.

Deidara mendekati anak kecil itu. Anak kecil bersurai pirang dengan iris onyx menawan miliknya, tengah memegangi lututnya yang berdarah. "adik kecil kenapa?"tanya Deidara. Anak kecil itu menghapus air matanya dengan punggung tangannya. "Bito tadi jatuh dali citu.. Cakit, huhuhu"Jawab nya. Deidara menyimpulkan jika anak ini bernama Bito.

Ia pun melirik sebuah tangga bermain yang ditunjuk Bito. Licin, sepertinya anak ini kurang berhati-hati saat bermain. "mama atau papanya, Bito kemana?"Deidara bertanya lagi. "papa? Huwweeeeee, papa"

Deidara sontak saja terkejut. Kenapa anak ini malah menangis lagi, pikirnya. "bito ndak tau"katanya. Ah, anak ini bermain hingga lupa dimana sang papa berada. Dirogohnya tas miliknya. Sebuah permen dan plester bermotif teddy bear pun ia lekatkan pada lutut Bito, sesudah luka si kecil itu ia bersihkan dengan air antiseptic.

"sudah sembuh lukanya"Seru Deidara. Bito menghapus air matanya, dan mulai tersenyum. "dan ini lollipop untuk Bito"kata Deidara, memberikan sebuah Lollipop rasa jeruk untuk anak itu.

"yuk, Nee-chan antar menemui papa mu"Deidara membantu Bito berdiri. "gendong"rengek Bito. Deidara dengan bersusah payah akhirnya mengangkat tubuh kecil Bito. Bito tertawa girang, ketika Deidara menggendong tubuh kecilnya. Tugas si pirang saat ini hanya mencari seorang pria yang ia perkirakan sudah berusia 30 tahunan dan dengan teganya meninggalkan seorang anak kecil di taman bermain sendirian.

'dasar pak tua' cibir Deidara dalam hati. Ia berpikiran jika ayah Bito terlalu sibuk dengan pekerjaannya atau bisa jadi ayah dan ibu Bito keasyikan pacaran (mengenang masa muda) hingga lupa pada putra mereka. Huft, ada-ada saja.

10 Menit kemudian..

"Bito-chan yakin papanya tadi disini?"tanya Deidara. Bito yang ada digendongannya cuma menganggukan kepalanya. "tadi papa cama pacalnya dicini"Jawab Bito. ' huft, dasar pak tua.. Pacaran sampai lupa anak' Batin Deidara. Ah, pantas saja tadi Bito bermain sendiri dan jatuh dari tangga bermain. Seandainya saja, Bito adalah putranya, tentu saja Deidara akan memarahi pria tak bertanggung jawab itu.

"PAPA"seru Bito. Deidara melemparkan pandangannya ke arah pandangan Bito. Seorang pemuda tampan, yang kira-kira berada 3 atau 2 tahun diatasnya, menoleh dan berjalan menuju dirinya. Oh, benarkah dia papanya? Tapi, muda sekali...

"Bito"Pemuda bersurai raven itu menghela napas lega ketika mengetahui putranya baik-baik saja. "jadi, anda papanya?"tanya Deidara, memastikan. Si raven menganggukan kepalanya, apa-apaan pertanyaan si pirang tadi? Menyebalkan sekali. Jelas, saja dia ayahnya. Tadi kan Bito juga sudah memanggilnya papa.

"saya tadi menemukannya menangis dengan lutut yang berdara di sebelah sana"Deidara menunjuk ke arah timur taman bermain. "hiks"Isakan Bito kembali terdengar. Pemuda dengan nama lengkap Uchiha Itachi itu langsung saja mengangkat tubuh Bito ke dalam pelukannya. "tadi papa kemana? Hiks"Dengan masih menghisap lollipopnya Bito bertanya.

"Maafkan papa, sayang"Ucap Itachi, merasa bersalah pada putranya. "ekhem"

Itachi menoleh ke arah Deidara. Lupa kalau Deidara masih berada di dekat mereka. Putra dari Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto itu pun mengulas senyum dan tak lupa mengucapkan terimakasih pada si gadis. "lain kali, dahulukan putra anda, tuan.. Karena anda tidak akan tahu apa yang akan terjadi pada putra anda, jika anda tidak ada"Ujar Deidara. Deidara hendak melangkahkan kakinya, kalau saja Bito tidak memanggil namanya.

"Dei-nee, jangan pelgi"pinta Bito. Pipi gembilnya yang memerah, dan matanya yang hendak berkaca-kaca lagi, membuat gadis pirang ini tak tega melihatnya. "Bito, Dei-nee harus pulang... Kita juga harus pulang, sayang"Bujuk Itachi. Bito menggelengkan kepalanya pelan. "Boleh ya, pa"Pinta si kecil.

Itachi menatap Deidara, dan Deidara juga menatap pemuda yang tidak ia kenal siapa namanya. "nona, apa anda tidak masalah jika menemani putra ku sebentar?"tanya Itachi, sesopan mungkin. Deidara mempertimbangkan jawabannya. Tidak enak juga jika menolak permintaan mereka. Kalau ditolak, pasti Bito akan menangis, dan Deidara tidak bisa jika melihat anak kecil menangis. Ia juga akan menangis pastinya.

"baiklah"Deidara menganggukan kepalanya.

.

.

.

* Mansion Uchiha *

Makan malam kali ini, hanya dihadiri oleh Naruto dan juga si bungsu Uchiha. Tak seperti biasanya, Itachi dan putranya ikut serta di meja makan. Karena hari ini, Itachi sudah pamit pada Naruto jika ia dan Bito akan makan malam di luar. Dentingan garpu dan sendok yang mendominasi suasana hening di ruangan itu. Tak ada satupun yang berminat untuk membuka suara.

Sasuke pun diam-diam memperhatikan wajah Naruto. Ia mencoba meneliti wajah si gadis amnesia itu. Mencari kebenaran mengenai kata-kata Neji dan juga Sai. Sai yang mengatakan jika, Naruto itu sangat mirip dengan almarhumah Naruko. "dobe"Sasuke memanggil Naruto.

Naruto tidak menyahut, dan tetap menikmati makan malamnya dengan anggun, layaknya seorang putri bangsawan. Naruto terlihat berbeda dari biasanya, Sasuke memicingkan matanya sejenak. "hey, dobe!"untuk kedua kalinya Naruto diam. hn, rupanya Naruko masih enggan untuk keluar dari tubuh Naruto.

"do-"

"siapa yang anda panggil 'bodoh', Sasuke-san?" Tanya Naruto Naruko.

Sasuke terkejut atas apa yang dilontarkan Naruto padanya. Biasanya, jika Sasuke memanggil Naruto dengan sebutan 'dobe' Naruto pasti akan memanggilnya dirinya 'teme' sebagai balasannya. Dan, kenapa Naruto memanggilnya dengan sebutan 'Sasuke-san'?

"hn, kau sedikit mirip putri Namikaze yang manja itu"cibir Sasuke. Naruto(Naruko) tersenyum menanggapi cibiran Sasuke. "dan kau mirip seorang yang payah, Sasuke-san" Naruto membalas perkataan Sasuke. "jangan berpura-pura seperti itu, Dobe"Ujar Sasuke. Naruto(Naruko) memutar matanya bosan. "dan kenapa kau hanya mengaduk-aduk makanan mu?"

Naruto(Naruko) tertawa. "aku selesai, terimakasih makan malamnya" kata Naruto, menggeser pelan kursi yang ia duduki.

Brakkk..

Gebrakan meja terdengar. Hawa dingin pun menusuk kulit para maid maupun butler yang tak sengaja melintas. "duduk, dan habiskan makanan mu!"seru Sasuke. Naruto yang masih dalam kendali Naruko hanya menatap datar ke arah santap malamnya. Kemudian, ia pun duduk kembali di kursinya, dan hendak melanjutkan makan malamnya.

.

.

* Naru's room *

"mau sampai kapan kau ditubuh itu terus?"Tanya Gaara. Ia sedikit terkejut ketika tiba-tiba saja Naruto datang ke kamar dan membanting pintu. Ia yang tengah membaca buku, tentu saja kaget dibuatnya. "aku benci Uchiha "Tukas Naruto(Naruko). Gaara menyipitkan matanya, mendengar ungkapan Naruko.

"kalau begitu caranya jangan harap urusan mu selesai"sahut Gaara, tanpa menoleh ke arah Naruko. "kenapa?"Tanya nya. Gaara menutup buku yang ia baca, dan berjalan mendekati Naruto(Naruko) yang duduk di pinggir ranjang.

"jika kau masih begitu, Sasuke akan curiga "Ujar Gaara. Naruto(Naruko) terdiam sejenak. Ah, benar juga yang dikatakan oleh si Shinigami ini. Kalau Sasuke curiga, bagaimana nasib dirinya? Cukup, 1 bulan bersama Gaara saja Naruko benar-benar merasa aneh.

"kau harus ingat Naruko.. Naru itu tinggal bersama Sasuke, kau tak bisa menjadikan tubuh Naru untuk membalas rasa benci mu padanya"

Ya, semua memang benar kan? Naruto tinggal bersama Sasuke. Jika, karena dibawah kendali Naruko membenci Sasuke, rasanya tetap tak wajar kan dilihat. Lagipula, Naruko juga tidak bisa seenaknya saja merasuki tubuh Naruto. Mungkin, sikap ke'tuan putri'annya saat masih hidup dulu, tetap terbawa sampai saat ini.

"itu sih jika kau mau masalah mu selesai"Gaara melangkahkan kakinya, dan menaiki jendela besar di kamar Naruto. "hey, awas kau nanti bisa jatuh!"Seru Naruto(Naruko).

Tapi sayang, Gaara sudah terjun bebas lebih dulu dibandingkan peringatan Naruto(Naruko). Naruto(Naruko) menepuk pelan dahinya. Oh, bodohnya dia. Gaara itu kan shinigami, mau loncat dari ketinggian 78.000 kaki juga tidak akan pernah mati. Ada-ada saja.

"kau tampak lelah, lebih baik aku keluar saja, ya"

Tak berapa lama kemudian, tubuh mungil Naruto terhempas ke kasur. Ia tak sadarkan diri, setelah Naruko keluar dari tubuhnya.

.

.

.

* Skip Time *

"ungg"lenguh Naruto. Ia mengerjabkan matanya yang masih terasa berat untuk terbuka lebar. Disampingnya tampak Sasuke yang tertidur di atas kursi Merasa ada sesuatu di keningnya, Naruto pun mengambil sesuatu yang ternyata adalah sebuah handuk kecil yang sengaja diletakan di sana oleh Sasuke.

"kau sudah sadar, Naru?"Tanya Sasuke. Sasuke menghela napas lega, melihat Naruto mengangguk pelan. "kau ingin makan apa?"

"aku kenapa, Sasuke?"Naruto bertanya dengan suara lirih. "kau pingsan tadi malam.. "Sasuke hendak beranjak dari kursi (mau meminta pelayan membuatkan makanan untuk Naruto). "maaf, soal yang semalam"ucap Sasuke.

Naruto memiringkan kepalanya, tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Sasuke. "apa maksud mu?"tanya nya, bingung. "kau tidak ingat soal yang semalam?"Sasuke balik bertanya. "tidak"jawab Naruto. "abaikan saja! Kau mau makan apa?"tanya Sasuke. Naruto menggeleng lemah, pertanda ia tidak mau makan.

"tapi kau harus makan"ujar Sasuke. Naruto hanya diam dan tidak mempedulikan Sasuke. "hey, dobe"

"sudah ku bilang aku tidak mau makan!"bentak Naruto. Sasuke memandang horror gadis cantik dihadapannya itu. Menyeramkan, bahkan Naruto terlihat lebih menyeramkan dibandingkan film horror yang sering ia tonton. "Hah, yasudahlah"akhirnya Sasuke mengalah. Jelas saja ia mengalah, ia bahkan tidak tahu apa yang terjadi padanya, jika ia terus memaksa Naruto untuk makan.

.

.

.

* Sasu'plus'Naru*Sasu'plus'Naru*

Seorang pemuda bersurai merah maroon yang tidak lain adalah Akasuna Sasori, terlihat tengah menunggu seseorang di sebuah cafe. Cafe bernuansa klasik, memutar musik yang begitu lembut menyentuh telinga dan merasuk ke dalam relung jiwa. Hingga ia lupa dengan penantiannya dan beberapa makanan yang telah ia pesan.

"maaf, membuat mu menunggu lama"seorang gadis bersurai merah jambu terlihat tengah menggeser kursi yang berhadapan langsung dengan sang Akasuna. "hn"Sahut Sasori. Sebenarnya Sasori sangat tidak suka menunggu dan membuat orang lain menunggu, tapi kali ini, Sasori lebih memilih diam dibanding harus beradu mulut menghabiskan tenaga dengan gadis yang selama 1 tahun ini menjadi affair' nya.

"langsung saja, Sakura"kata Sasori, memulai mengatakan langsung apa yang ia niatkan. "apa maksud mu?" tanya Sakura tidak mengerti. "kita putus"

Sakura menggelengkan kepalanya, apa maksud Sasori? Tidak kah terdengar lucu, jika selama kalian berhubungan tidak ada masalah yang menimpa, tiba-tiba saja break tanpa ada sebab yang jelas? Ya, itu membuat perut Sakura digelitik oleh ribuan bulu-bulu angsa, yang membuat dirinya ingin tertawa.

"jangan bercanda"

"aku tidak bercanda"tegas Sasori. Sakura membulatkan matanya, tidak percaya dengan apa yang ia dengar. "apa kau gila? Kenapa tiba-tiba begini"protes Sakura. "aku hanya ingin menghormati Naruko"sahut Sasori.

"persetan dengan Naruko, bukankah dia sudah mati.. Kau brengsek, Sasori"rutuk Sakura. Dia tidak terima? Oh, tentu saja. Sasori datang padanya, berhubungan layaknya suami istri setiap malam, bahkan Sasori juga membelikan apartemen mewah untuk dirinya, hanya untuk menghindari orang-orang mengetahui hubungan mereka.

Sakura bahkan memberikan harta berharganya untuk Sasori. Dan sekarang Sasori hendak memutuskan dirinya? Sungguh, ia tidak rela. Bahkan, jika Naruko masih hidup sekalipun, Sakura tetap akan merebut Sasori dari tangan Naruko. "awalnya aku tidak mencintai Naruko.. Tapi mendengar kesaksian Deidara, aku merasa bahwa aku laki-laki brengsek yang pernah ada"ujar Sasori.

"hehe, merasa bersalah? Lalu bagaimana dengan bayi mu, dear?"Pertanyaan dingin terlontar dari bibir Sakura. Sasori yang tengah menikmati hidangan nya pun tersedak mendengar kata 'bayi' dari bibir sang kekasih.

"dia menghamili gadis itu" ujar Gaara. Sekilas ia melirik Naruko yang terlihat begitu syok melihat adegan SasoSaku di depan matanya. "dia menghianati ku" gumam Naruko. Ok, untuk Naruko, dibohongi dan ditipu itu sudah biasa baginya. Tapi kalau dihianati seperti ini? Andai saja ia masih hidup, sudah dipastikan Naruko adalah orang pertama yang menghalalkan pembunuhan sadis bagi siapa saja yang menghianati dirinya.

"aku benci rambut merah" lanjutnya

Gaara melirik Naruko lagi. Seringaian Naruko berhasil membuat sang pangeran Shinigami merinding dibuatnya. "akan ku bunuh semua orang berambut merah " Kata Naruko, sinting. Gaara mengusap pelan surai merahnya. Damn, apakah Naruko lupa, jika Gaara memiliki surai merah? "dan aku benci iris hijau.. Ku pastikan akan ku congkel orang-orang yang memiliki iris hijau" Siapa saja, tolong Gaara dari gadis manis psikopat ini!

Naruko melempar pandangannya ke arah Gaara. "surai merah yang keren" puji Naruko. Gaara tersenyum canggung mendengar pujian Naruko. "emerald yang indah..kelihatannya lezat" Naruko menjilat bibirnya, dan membuat Gaara bergidik ngeri. Tuhan, lindungi Gaara..!

Dengan sangat tak elit dan sikapnya yang terlampau OOC, Gaara segera berlari secepat mungkin menghindari Naruko. God, inikah yang dinamakan takdir? Oh.. Betapa suramnya takdir mu, Gaara.

"hey, Gaa-chan! Kenapa kau meninggalkan aku"

nee, Gaara masih ingin hidup, lho. Dia masih ingin menjadi seorang raja menggantikan kakeknya, menikmati masa remajanya, dan memiliki seorang mate yang bersedia menampung benih-benihnya. Khh, abaikan rencana yang terakhir. Bahkan Gaara belum kesampaian untuk memikirkan mate, anak, dan, menjadi seorang ayah.

.

.

.

TBC

.

.

.

Hey, Minna..

Jumpa lagi dengan Misa.. Hehehehe, apa kabar semua? Baik-baik sajakan? Bagaimana isinya? Hmm, maaf ya kalau fic ini lagi-lagi mengecewakan kalian. Oh, ya..

Selamat Hari Natal Minna-san.. (telat sehari..hehehehe)!

Sekian dari Misa...Byeee...

See You In Next Chapter...!

.

.

.

Mind To Review?