PART III

"Huaaahhhhheeeemmmm", Yuuri baru bangun dari tempat tidur.

"Hoiiiiii...!"

"Hmmmm, ada apa, Yuuri ?", tanya Ken dengan kesal karena dipaksa bangun.

Mereka berempat menginap di tempat Makoto, dimana Makoto mengijinkan mereka menggunakan kamarnya untuk beristirahat.

Sementara Wolfram dan Shori masih terlihat sedang tidur dengan nyenyaknya.

"Selamat pagi, Yuuri", ucap Makoto begitu masuk ke kamarnya.

"Keliatannya mereka agak susah dibangunkan", ucap Yuuri sambil tersenyum kepada Makoto.

"Mungkin karena begadang kemarin, mereka jadi susah bangun", jawab Makoto dengan ekspresi herannya kepada mereka yang masih tertidur.

"Baiklah, aku akan segera membangunkan mereka."

Setelah mereka bangun mereka akhirnya mencuci muka dan berganti pakaian. Setelah itu, mereka menuju tempat makan untuk segera sarapan.

"Aku mencium aroma masakan yang enak", jawab Yuuri.

"Ooh, itu masakan buatan ibuku. Ayo kita sarapan dulu."

"Baiklah, karena sekarang perutku sudah terasa keroncongan."

"Yuuri, kau ini langsung tertuju pada makanan saja."

"Bukan begitu, Wolf. Kalau untuk yang itu, mungkin..."

"Mungkin apa ?"

"Langsung ke meja makan", jawab Yuuri sambil berlari menuju meja makan.

"Ada-ada saja dia", gerutu Wolfram.

Mereka akhirnya sampai di tempat makan dan langsung menyantap sarapan yang disediakan oleh ibu Makoto. Mereka makan dengan cukup lahapnya.

"Nyam...nyam..hap..hap"

"Yuuri, kalau makan sebaiknya jaga sopan santunmu. Ini kan bukan rumah kita, Yuuri !", seru kakaknya seraya menegur adiknya.

"Maaf, kak soalnya aku benar-benar lapar nih sejak kemarin."

"Ngomong-ngomong, sekarang kau tidak mengalami masalah dengan pacarmu, Makoto ?", tanya Ken kepada Makoto yang mendadak diam karena ia merasa masalahnya belum tuntas.

"Sekarang sudah kenyang, ayo kita berangkat ke sekolah", ucap Makoto yang dibalas oleh anggukan mereka.

"Mungkin kakak akan disini dulu untuk membantu ibumu, Makoto", kata Shori memberitahu ke Makoto.

Mereka akhirnya pergi berangkat menuju stasiun kereta yang akan mengantarkan mereka ke sekolah. Disaat kereta akan jalan, Kotonoha, pacar Makoto, masuk ke kereta yang sama.

"Selamat pagi, Makoto, Yuuri, Ken, dan Pria cantik", sapa Kotonoha.

"Aku Wolfram, bukan Pria cantik!"

"Maaf, kalau sebelumnya aku belum tahu kamu. Aku Kotonoha, senang bertemu denganmu", balas Kotonoha.

"Huhh...", teriak Wolfram sambil memalingkan mukanya dari wajah Kotonoha.

"Aduh. Sudah, sudah ! Kejadian yang kemarin jangan diulangi lagi disini. Dan sekali lagi maafkan kesalahan teman saya", seru Ken sambil berusaha untuk tetap mendamaikan Wolfram dan Kotonoha.

Akhirnya kereta yang mengantarkan mereka ke sekolah sudah sampai. Kini mereka sedang berjalan beberapa langkah sebelum mencapai ruang kelas.

"Ngomong-ngomong, apa kau masih punya masalah, Makoto ?"

"Tidak ada, Yuuri."

"Tapi apakah kamu yakin masalahmu dengan Sekai sudah selesai ?"

Begitu mereka memasuki kelas masing-masing, seperti sebelumnya Yuuri duduk berdampingan dengan Wolfram sedangkan Ken sedang asyik berbicara dengan seorang murid perempuan yang selalu digodainya semenjak hari kemarin.

"Semoga hari ini tidak terjadi apa-apa", gumam Yuuri.

"Kenapa kau, Yuuri ? Kamu kayak kurang tidur saja."

"Oh tidak apa-apa, Wolfram."

"Oh iya, biasanya ada seorang gadis di sampingmu, Makoto. Apakah sekarang dia tidak masuk ?" tanya Ken kepada Makoto.

"Oh, mungkin hari ini dia sakit kayaknya", sambil membuka SMS dari ponselnya yang ternyata berisi pesan dari Sekai kalau Sekai sedang hamil.

Alangkah terkejutnya Makoto begitu melihat pesan tersebut.

"Kenapa, Makoto ? Mukamu seperti seorang yang sedang ketakutan", tanya Wolfram.

"Oh...ti..ti..ti..tidak apa-apa kok...hahahaha", jawab Makoto dengan sengaja menutupi masalah yang sedang menantinya.

"Tapi kayaknya kamu sedang ada masalah", ucap Ken kepada Makoto dengan nada serius.

"Beneran...sumpah...tidak apa-apa kok."

"Tapi, sesungguhnya apa yang terjadi dengan Sekai ?"

"Kamu, kenapa langsung bertanya begitu ke saya ?" ditanya balik oleh Makoto.

"Sesungguhnya dari hari kemarin, saya melihat kalau kalian berdua terlihat bermesra-mesraan selama pelajaran berlangsung kemarin. Kayaknya aku curiga kalau ada terjadi apa-apa pada dia. Mungkin...apakah kau pernah melakukan hubungan yang lebih jauh dengannya ?"

"Selama ini...rasanya aku tak pernah melakukan hubungan lebih jauh dengannya."

Secara buru-buru, Makoto menghapus pesan tersebut untuk menghindari sesuatu yang membuat aib dirinya.

"Rasanya aku curiga", gumam Yuuri sambil berpikir.