Tittle : One
Cast : Park Yoochun, Kim Junsu, No Minwoo
Pairing: YooSu
Author : Gloomy Sun
Rate : T+
Genre : Angst
Part 3
"kau menangis?" minwoo membalikkan tubuh junsu, dan mendapati Junsu yang kini tengah menundukkan kepalanya. Beruasaha menyembunyikan air matanya.
Perlahan Minwoo mengangkat dagu Junsu, dan setelahnya Minwoo menghapuskan jejak air mata di pipi Junsu, dan setelahnya memeluk Junsu erat.
'Yoochun' gumam yang diberikan Minwoo terhadap Junsu benar-benar membuat Junsu teringat kembali pada mantan kekasihnya, Yoochun.
Minwoo mengusap punggung Junsu pucuk kepala Junsu, turun pada kelopak mata Junsu, hidung, dan berakhir di bibir plum bisa menghentikan tangis merengkuh tubuh Junsu kembali dalam dekapannya masih dengan bibir yang tetap menempel pada bibir plum sebuah menuntut lebih.
Minwoo melepaskan tautan bibir mereka, mengusap rambut Junsu lembut, turun pada pipi Junsu yang sedikit merona.
"ku mohon jangan menangis. Aku tak ingin melihatmu menangis" lirih Minwoo kembali mendekap tubuh Junsu.
Brakk
Yoochun memukul keras dashboard mobilnya. Melihat di balik kaca jendela mobilnya saat Minwoo mencium bibir Junsu benar-benar membuat Yoochun terbakar api cemburu. Marahkah? Tentu.
"arrggghhh" berteriak frustasi
"lepas.." Yoochun bergumam
"lepaskan tanganmu dari Junsuku…"
"hanya aku yang boleh menyentuhnya"
"ARGGHHH" berteriak lebih keras.
Suara dentuman musik di sebuah bar tak di gubris namja bermata sipit itu. Tangannya masih menggemnggam segelas vodka yang kini menyisakan setengahnya. Matanya terpejam, kemudian diminumnya lagi vodka tersebut.
"tambah lagi" ucapnya pada bartender yang saat ini sedang mengisikan segelas bir pada pelanggan di sebelah Yoochun.
"apa kau yakin tuan?" tanya bartender itu ragu, karena kadar alkohol dalam minuman ini sangatlah tinggi. Takut jika Yoochun akan tertidur di pub tempat bekerjanya, dan itu akan cukup membuat pekerjaannya sedikit bertambah. Yoochun hanya menggelengkan kepalanya lemah. Dia ingin menenangkan fikirannya tentang kejadian tadi siang yang benar-benar membuatnya frustasi.
Pelayan itu kemudian menuangkan kembali segelas penuh berisikan vodka berwarna biru tersebut, dan kemudian di tegak kembali oleh Yoochun.
Merasa cukup untuk minumannya, Yoochun hendak berdiri dari duduknya, belum sampai dua langkah dia berjalan, Yoochun ambruk saat hendak berjalan keluar meninggalkan pub.
-Junsu pov-
Suara dering ponselku membangunkanku dari alam mimpiku. Membawaku kembali menuju alam sadarku. Kuraih asal ponsel yang ku letakkan pada nakas di samping ranjangku. Menekan tombol hijau pada layar touchnya.
"yoboseyo"
"Junsu-ssi, bisakah anda ke bar 9095?" suara dari sebrang sana lumayan mengagetkanku
"ada apa Rem-ah?"
"seorang namja tertidur disini, dia mabuk berat"
"mwo?! Kenapa tidak kau urus sendiri saja?"
"aku tidak ini aku sangat sibuk. Bisakah kau membantuku?" jawabnya
"aishh.. ne. Memangnya siapa orang itu?"
"kau akan tahu" balasnya kemudian menutup sambungan telepon
Aku berlari menuju lemariku, membawa mantelku, kemudian berlari tergesa keluar rumah. Menghiraukan tatapan-tatapan aneh dari semua orang yang berada di rumah.
-Junsu pov end-
Bar 9095. Tatapan-tatapan penuh dengan siratan keanehan jelas terpancar pada hampir seluruh pengunjung bar ini. Mata mereka terfokuskan pada sesosok namja yang saat ini tengah tertidur di atas meja bar. Kepalanya disandarkan pada meja bar. Racauan-racauan kecil keluar dari mulutnya. Mungkin terdengar frustasi.
"mmmhhh… junsu…" racaunya tak jelas memanggilku. 'siapa?'
"kena… hick.. pa?"
Suara ini. Suara yang sangat ku kenal. Suara yang membuat aku jatuh cinta pada namja ini.
Kudekati dia yang masih meracaukan namaku tak jelas. Sesekali tertawa. Ku tepuk pundaknya pelan. Menunggu respon darinya. Yoochun mendongakkan kepalanya padaku. Terlihat sekalibahwa ia sedang mabuk berat.
"ah... kau..." bicaranya masih kacau. Ia tersenyum padaku sesaat, kemudian memelukku erat. Kurasakan bau alkohol yang tercium dari mulutnya. Aku hanya diam. Takut aku tidak bisa menahan diri.
"aku...hick... merindukanmu... hick..." racaunya memeluk pingganggku semakin erat. Menenggelamkan kepalanya di antara bahuku.
"Yoochun-ssi, mari ku antar pulang" ucapku. Tak ada kata sayang lagi untuknya.
Dia hanya menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Seperti anak kecil saja.
"tidak mau!" tolaknya keras.
"Yoochun-ssi, kau mabuk. Ku antarkan kau pulang" ucapkuselembut mungkin padanya. Perlahan kulepaskan pelukannya, kemudian kutelusuri wajahnya. Terlihat sangat frustasi.
"ayo" kutuntun ia keluar dari bar. Membiarkan tatapan orang-orang yang memandang aneh pada kami.
sesampainya di tempat parkir, kududukkan ia di kursi sebelahku.
"mhh... Junsu" Yoochun masih meracau tak jelas. Sekacau itukah dia?
"Yoochun-ssi, apa kode apartmenmu?" ucapku pada Yoochun yang tersandar pada dinding lorong apartmennya. Yoochun mendongakkan kepalanya padaku, kemudian tersenyum dan menunjukku. Apa berarti kode apartmennya tidak dirubah?
Perlahan kutekan beberapa dijit angka yang tertera samping pintu apartmennya. Memasukkan 6 dijit angka yang begitu ku hafal.
'151286'
TREKK
Pintu apartmennya terbuka. Ah.. jincha.. benar-benar tidak dirubah sama sekali. Kode apartmennya adalah tanggal lahirku.
Puk
Kurasakan sesuatu menyentuh bahuku, kemudian kurasakan sebuah hembusan nafas hangat. Yoochun menempelkan dagunya pada bahuku.
"aku... mencintaimu... su-ah... hehe"
DEG
Aku juga mencintamu Chun-ah, tapi kumohon berhentilah mencintaiku. Aku takut kau terus tersakiti karnaku.
Perlahan kumasuki apartmen Yoochun. Membuka sepatuku, kemudian membuka sepatu Yoochun, menggantinya dengan sandal rumah yang terasa hangat. Saat kumasuki ruang tamunya, ah.. jincha... keadaannya benar-benar kacau. Semuanya berantakan. Pecahan kaca tersebar di beberapasudut lantai, cup-cup mie instan yang masih tergeletak di atas meja.
Kubuka pintu kamar Yoochun. Yang.. Jincha.. keadaannya hampir sama dengan diluar. Beberapa berkas berhamburan dari mapnya. Baju-baju tergeletak di sembarang tempat.
Perlahan,kubaringkan tubuh mabuk Yoochun pada ranjangnya. Menyelimutinya agar ia merasa nyaman. Hembusan nafas Yoochun kini teratur. Menandakan bahwa ia sudah terlelap dalam tidurnya. Tanganku terangkat menyentuh pipinya. Aku merindukannya. Sangat.
Kuputuskan untuk membersihkan apartmennya yang sangat berantakan, dan setelahnya aku pulang.
-Junsu pov end-
TBC
