Author : Maaf update lama, soalnya nggak punya waktu gara-gara sayanya juga males (bilang aja males, kale!)

America : Hei dudette! Bisa sembunyikan aku isuatu tempat! Lagi dikejar sama si eyebrows nih!

Author : Lagi? Sekarang kenapa masalahnya?

America : Hehe, tehnya kutumpahkan tadi!

Author : Ya ampun, Alfred… kalau numpahin teh itu ngingetin dia sama Boston Tea Party!

America : HAHAHA Kejadian itu ya? HAHAHA! dia datang! Kabur dulu author!

Author : Bacain dulu dis- yaudah deh, terpaksa saya yang baca…

Disclaimer : Kapan Himaruya kasih saya izin sihh? Nanti kan karakter ASEAN saya lengkapin semua!

Warning : OC(yup beberapa) Nyotalia, OOC(maybe), bahasa kasar, gaje, sedikit nyinggung produk lain(?) sedikit referensi beberapa episode dan typo(s) everywhere~


Terbangun dipagi hari disapa oleh kertas-kertas berisi tugas. Sebenarnya tugas kuliah yang bertumpuk itu dikumpulkannya bermacam-macam hari dan entah kenapa aku merasa malas. Daripada aku memikirkan banyak tugas yang makin membuat stress, mungkin segelas kopi hangat bisa mengusir rasa malas. Harumnya kopi mulai menyeruak memenuhi ruangan apartemen milikku. Akupun bersiap-siap mandi untuk menjalankan aktifitasku seperti biasa.

Selesai mandi dan tentunya tak lupa pakai baju, aku mengambil telur serta beacon. Kalian pasti tahu aku akan melakukan apa. Tak lupa roti bakar kusiapkan. Sarapan pagi yang damai dan sepi ini sudah biasa aku lakukan sendirian. Tapi, keheningan itu tak berlangsung lama saat pintu apartemenku ada yang mengetuk dengan keras. Aku mengomel dalam hati, kenapa pagi-pagi begini harus ada tamu segala, sih? Dengan malas aku mendekati pintu dan melihat si tamu lewat bolongan khusus mata.

Pertama kali kulihat hanyalah seseorang berjenis kelamin laki-laki. Hal kedua yang kulihat ia memakai baju kaos putih dan celana jeans. Tanpa prasangka apapun, aku membuka pintu apartemen dan terkejut karena didepanku adalah si laki-laki optimis bernama Alfred F. Jones. Yang pasti aku tak tahu apa maunya padaku karena disaat pagi ini ia mengunjungiku. Aku memasang wajah bingung serta kesal karena sarapanku terganggu. Ia justru hanya tersenyum lebar khas darinya.

"Yo! Siap untuk bekerja?" Ternyata ditangannya terdapat segelas kopi yang sepertinya sedang ia minum. Wajahku sebenarnya menunjukkan tatapan cengo.

"Alfred, aku masih belum selesai sarapan dan aku belum kerja sekarang! Aku kerja nanti jam 12 siang, sekarang aku bersiap-siap untuk kuliah…" Aku menggelengkan kepalaku

"Ah, kukira sudah bekerja, ternyata hanya bekerja sambilan, ya? Ahahaha"

"Maaf, tapi bisakah aku minta waktu untuk sarapan terlebih dahulu?"

"Hmm… Okay"

Aku sebenarnya merasa tak nyaman melihat Alfred hanya minum kopi, walaupun sekarang ia sedang sibuk dengan koran dihadapannya. Aku baru menyadari kalau ia membawa kantung kertas berwarna cokelat untuk membawa makanan. Setelah ia membuka, ternyata sandwich yang ia bawa. Pada akhirnya ia sarapan pagi disini juga. Astaga, seberapa semangat orang ini untuk mengantarku, sih? Tapi pertanyaan itu kusimpan dulu karena aku menaruh cucian ke wastafel. Alfred menyadari kalau aku selesai sarapan.

"Berarti ganti haluan ke Universitas Iowa! Ayo bersiap-siap karena kau tak mau terlambat, bukan?" Ia tersenyum

Aku hanya mengangguk pelan, orang ini benar-benar tahu banyak hal tentangku(yang justru membuatku merinding) dan selanjutnya aku mengambil tas serta beberapa hal yang kubutuhkan. Alfred sudah melipat korannya serta kantung makanan sudah ditaruh di tempat sampah.

"Great, buang sampah di apartemen orang lain…" Pikirku masam

"Okay, ayo kita pergi!" Ia keluar duluan, terlihat sangat bersemangat. Aku menghela nafas, menutup pintu serta tak lupa menguncinya.

Ketika Alfred akan mencapai lantai dasar, aku masih berjalan menuruni tangga(karena apartemen milikku berada dilantai dua) dan berpikir bagaimana bisa Alfred dengan cepat sudah turun kesana. Aku memegang tali tas yang menggantung dibahuku dengan erat. Kali ini aku akan bertanya tentang beberapa hal padanya, karena ia benar-benar sudah mencurigakan bahkan sejak pertama kali aku bertemu.

"Yo Amelia! Nyonya dihadapanku ini pemilik apartemennya, ya? Dia baik sekali!" Tak lupa senyuman "charming" muncul di bibirnya

Aku melihat kearah depannya, ternyata Mrs. Welson. Tak lupa senyuman lembutnya terpampang di bibirnya.

"Ah, Ms. Jones? Pasti mau berangkat kuliah!" Ia menghampiriku

"Ah, benar Mrs. Welson. Terima kasih atas bentuannya karena membiarkanku menyewa apartemen disini tidak sesuai dengan harga sesungguhnya" Ya, aku memang diperbolehkan membayar sewa apartemen separuh dari harga penuh.

"Shh! Jangan keras-keras, nanti kedengaran tetanggamu dan jadinya kau dibenci oleh mereka!"

Aku menggangguk dan tersenyum. Alfred sudah menunggu diluar kali ini, lebih tepatnya disamping mobil yang kemarin ia pakai. Melihat hal itu aku menyudahi pembicaran dengan Mrs. Welson. Hal ini dikarenakan jika melihat keluar tepat pada wajah Alfred, ia menunjukkan ketidak sabaran yang tinggi. Akupun pamit mohon diri dan ia juga ada urusan lain, maka kami berpisah. Diluar apartemen Alfred sekarang sedang mengelus anjing tetangga (bukan tetangga dalam apartemen, tapi bersebelahan dengan apartemen) dan ia terlihat sangat senang.

"a dog person, huh?" Tanyaku penasaran

"Yup, tapi aku hanya punya kucing. Soalnya, kau tahu lah, kalau ada kucing pasti anjing tak pernah akur. Walaupun temanku dari Jerman mempunyai tiga anjing dan semuanya akur dengan kucingnya" Ia menjawab tanpa memalingkan pandangannya dari si anjing

"RITCHIE? Ritchie, kau dimana?" Teriakan memanggil terdengar tak jauh dari posisi kami, ternyata seorang anak laki-laki sekitar umur 15 atau 16 tahunan mendekati kami

"Ah, ternyata kau disitu, Ritchie!" Ia menghampiri anjing yang sedang dielus Alfred

"Wah tuan terima kasih dan hei, Amelia! Lama tak jumpa!" Ia sekarang melihatku

"Yah, habis aku sibuk sekali sekarang, Ron" Aku menanggapi perkataan si anak

"Oh… Ah, kau mau berangkat ke tempat kuliah ya? Ngomong-ngomong…" ia menarik lenganku dan bicara pelan

"Hei, katakan padaku kalau itu pacarmu kan? Kalau ya, aku merestuinya karena sepertinya kalian terlihat cocok!"

"What the… maksudnya apa, Ron? ! kami hanya sebatas teman dan tak lebih dari itu!"

"Kau tak bisa bohong padaku!"

Kami kembali ke Alfred, Ron mengikat tali anjing pada bahu Ritchie.

"Tuan! Kalau kau benar-benar pacar Amelia, jaga dia baik-baik! Dia itu perempuan yang tak bisa menjaga perkataannya kalau sedang kesal! Jadi, kalau bisa buat dia selalu bahagia daripada kau harus berhadapan dengan sisi Amelia yang menakutkan!" Iapun langsung saja pergi meninggalkan kami, aku menatap Alfred dan ternyata wajahnya memerah

"RON! APA MAKSUDNYA? !" Teriakku ke arah anak tadi

"Pacar? Hmm… sound interesting!" Dan perkataannya terdengar santai, akupun mengomel tak jelas atas kejadian tadi dan wajahku sudah memerah bagaikan tomat.

Tanpa aba-aba aku sudah masuk ke mobil Alfred. Alfred awalnya masih belum masuk, tapi iapun akhirnya duduk didepan bagian supir. Aku sebenarnya sedang kesal jadi tak mau berkata apa-apa, masalahnya Alfred sepertinya tak mengerti keadaanku. Ia bahkan mulai bertanya beberapa hal padaku seperti kemarin.

Aku menjawab serta menanggapinya dengan nada malas. Tapi ia masih saja terus mengoceh membuatku bertambah kesal. Mau tak mau harus meladeninya. Aku juga baru ingat kalau saat ini kampus sedang bersiap-siap untuk tanggal 04 Juli nanti. DIperjalanan juga hamper semua sudut sedang dihias dengan dekorasi warna putih, biru dan merah. Sebenarnya aku merasa sedikit terhibur, walaupun tak merayakan lagi setelah tak punya siapa-siapa. Yang penting seluruh kota merayakan juga. Hal ini dikarenakan tanggal ini adalah hari special Negara ini.

"Yup, sebentar lagi Amerika bertambah umurnya setelah kemerdekaannya dulu dua ratus tahun lebih. Ah, rasanya waktu itu berjalan cepat sekali. Dulu semua ini masih bangunan yang kecil, sekarang sudah tinggi dan bertingkat, pembangunan memang bisa merubah apapun, ya?" Alfred masih terfokus pada jalanan

"Entah kenapa dari nadanya, ia seperti mengalami langsung kejadian tersebut" pikirku

"Ah! Kata ibuku, mobil saja tak sekeren zaman sekarang. Katanya zaman dulu itu terlihat kotak terkadang panjang. Tapi, menurutnya ia suka karena desain yang klasiknya itu" Aku langsung menanggapi Alfred

"Amelia, kalau nanti tanggal empat ada acara tidak? Kalau tidak ada mau kuundang ke acara special"

"Umm… biasanya Mr. Zack akan mengadakan pesta sih, tapi aku tak terlalu yakin. Mungkin aku akan bertanya padanya nanti"

"Cepat-cepat ya! Soalnya aku benar-benar mau mengundangmu! Jadi kalau bisa besok kau sudah tau jawabannya dari atasanmu itu"

"baiklah"

Kami sekarang terdiam, aku larut dalam pikiranku yang terpotong tadi. Sungguh, sebenarnya siapakah orang dihadapanku ini? Bagaimana bisa ia tahu kalau aku kuliah di Universitas Iowa? Lalu, nadanya tadi saat bicara tentang pembangunan, rasanya seperti ia benar-benar mengalaminya. Rasa keingintahuanku semakin besar, mungkin kali ini adalah waktu yang tepat untuk bertanya padanya.

"Umm… Alfred?" Aku memanggil

"Ya? Ada apa?" responnya

"Bolehkah aku bertanya?"

"Tentu saja! Hero pasti akan menjawabnya"

"Umm… kau sudah kerja, kan?"

"yup!"

"Kau kerja dimana? Kenapa kau banyak tahu tentangku?"

Ia terdiam sebentar,"Di bagian administrasi penduduk! Memangnya kenapa?"

"Yah, tidak apa-apa" Aku berbohong, sebenarnya aku bertambah curiga

Aku tak bertanya lagi, perjalanan sekarang jadi diam walaupun hanya sesaat karena Alfred mulai bicara lagi. Aku membuka buku dan membaca, kalau ada hal yang ditanyakan atau menarik untuk dtanggapi, aku baru angkat suara. Tak menyangka setelah perjalanan paling berisik yang pernah kualami ini, akhirnya sampailah di Universitas Iowa. Kami sekarang ada ditempat parkir dan saat aku keluar dari mobil, semua orang memperhatikanku.

Aku merasa tak nyaman dan Alfred menatap bangunan yang terdapat di Universitas. Ia tak sadar kalau sedang dibicarakan oleh beberapa gadis yang memang terkenal di kampus bahkan sering disebut ratu kampus. Salah satu rombongan yang berisi ratu kampus serta pengeran kampus yang sombong berdiri tak jauh dari kami berdua. Melihat dari tatapan rombongan itu, membuatku merasa tak nyaman dan sebal.

Salah satu dari mereka membawa bola untuk football dan dimainkan ditangannya. Melihat bola tersebut aku jadi was-was, soalnya ada anak yang sengaja ia lempari. Memang mereka itu suka sekali mem-bully anak-anak lainnya, terutama kalau tidak selevel dengan mereka serta junior. Aku benar-benar tak suka orang yang seperti itu. Alfred menatapku dan kemudian menatap rombongan itu. Aku tak mau banyak komentar, malah meminta Alfred untuk pergi dari sini.

"Wew, wew… lihat siapa yang punya pacar baru disini? Dan wah tak kusangka si culun ini punya pacar langsung sekeren ini! Pacarnya bahkan punya Mustang tipe terbaru, guys!" Nadanya benar-benar melecehkan

"Dude! Sepertinya kedatangan kalian membuat Amelia tak nyaman, jadi kumohon untuk pergi saja" Sayangnya Alfred tak mendengar permintaanku, ia malah meladeni mereka

"Alfred! Sudah, kau kan harus bekerja, aku juga mau masuk kelas dulu" Ucapku agar Alfred tak meladeni mereka

"Wah, wah… ternyata orang satu ini lumayan juga perkataannya! Lebih baik dengarkan saja perkataan pacarmu itu, yah cari aman saja"

"Dude, aku sudah mengalami dan bertemu dengan orang yang sifatnya sama denganmu… Mungkin lebih baik kalau kau yang menyingkir sedikit. Lagipula aku ingin mengobrol sebentar dengan Amelia, ini Negara bebas bukan komunis. At least, Amelia lebih hebat dari kalian karena ia dapat beasiswa dari pemerintah bahkan sudah diminta untuk bekerja di bagian aset nantinya. Bagaimana dengan kalian? Pasti setelah lulus tak diketahui mau bekerja dimana, bahkan jadi pengangguran dan membuat a-maksudku Negara jadi berat tanggungannya" Perkataannya semuanya benar bahkan tentang pemerintah itu, orang ini membuatku merinding

Tak kusangka orang-orang itu marah, bahkan melempar bola football ke arahku . Aku menutup mata tapi ternyata tak pernah sampai di wajahku(untungnya) karena benda itu sudah ditangkap duluan oleh Alfred menggunakan satu tangan. Wajahnya menampakkan kepercayaan diri yang tinggi.

"Such a coward! Berlindung menggunakan pacarmu? Apa ini? Twil*ght yang suram itu? Berarti laki-laki dihadapanku ini vampire yang terihat gay itu? Hahaha!" Semuanya tertawa

Alfred hanya menutup matanya dan menghela nafas serta berkata pelan," Memang meladeni anak kuliahan nan labil itu susah"

"Oi, dude! Kalau kau suka football bahkan jadi pemain kampus ini, tangkap lemparan dariku!" Alfred menggulung kemeja miliknya

"Hah? Aku bertaruh lemparanmu itu buru-" Bola terarah padanya dengan kencang, ia menangkap dengan kedua tangan tapi tak berhenti begitu saja. Ternyata orang itu masih terdorong kebelakang.

Aku menatap kejadian itu dengan tatapan horror, yang lainnya keheranan. Aku menatap Alfred dan ia malah tersenyum dengan percaya dirinya. Dan akupun terkejut saat ada flash kamera muncul begitu saja, ternyata wartawan kampus yang memfoto kami berdua. Alfred menatap wartawan itu dan nada serta pandangannya benar-benar serius.

"kuminta, foto tadi dihapus, okay? Oh ya, jangan banyak komentar!" Tapi melihat wartawan kampus yang tatapannya kosong, iapun mengambil kameranya dan menghapus sendiri foto tadi

Ia sekarang memalingkan perhatiannya padaku, "Jangan komentar atau memberitahu mereka semua tentangku, apapun itu. Walaupun sahabatmu, jangan pernah karena bisa-bisa bosku marah karena memberitahu sedikit identitasku pada kalian."

Aku mengangguk, mengiyakan perkataannya. Ia masuk ke mobil lagi dan sekarang meninggalkanku sendirian di parkiran. Tadi aku melihat Alfred menghubungi entah siapa. Mungkin kenalannya atau apa. Tapi yang pasti aku langsung menghindari semua orang menuju kelas. Aku duduk dan langsung saja menutup wajahku dengan buku. Sahabatku yang terdiri dari tiga orang, dua perempuan dan satu laki-laki menghampiri.

"Wah, sepertinya tadi pagi sedikit heboh" Gadis dihadapanku memiliki rambut panjang berkacamata namanya Alice

"Yup, tea-freak… memangnya siapa sih laki-laki tadi?" Kali ini gadis dengan logat Prancis bernama Francia juga ikut mengobrol

"Apa maksudnya, French-Ba*tard? !"

"Sudah-sudah, sepertinya sekarang Amelia sedang tidak mau diganggu, guys!" Laki-laki dari Belgia bernama muncul

"Sudahlah… aku lagi pusing, mungkin kalian lebih baik sedikit menjauh dulu?" Mereka bertiga mengangguk dan meninggalkanku sendirian di tempat duduk.

Dimana America sedang berada… (America POV)

Arrghh! Padahal aku sudah janji untuk tidak menunjukkan kekuatanku ini! Bahkan Negara yang sudah lama mengenalku saja masih aneh kalau melihatku bisa mengangkat meja kayu mahoni dengan satu tangan. Atau bahkan saat aku meminjam mobil Rolls Royce milik England, aku menarik mobilnya karena ia tak mau memberikan kuncinya. Aku menghela nafas panjang, terkadang aku memang selalu lupa dengan keadaanku sendiri.

Aku tersenyum dan hampir ingin tertawa saat menge-cek website terkenal ciptaan warga negaraku, Tumblr. Yah, aku suka sekali mengunjungi website itu. Aku masih ingat kalau ada kiriman bertuliskan kalau Alfred F. Jones itu Captain America yang menyamar. Walaupun aku kuat seperti dia, tetap saja aku berbeda. Aku tak punya waktu untuk hal itu. Walaupun aku merasa terhormat disamakan dengan tokoh superhero kesukaanku.

Seperti biasa aku harus ke gedung putih untuk mengerjakan paperwork. Oh, tak lupa juga dengan anak presiden yang biasanya kuasuh juga untuk membantu "the first lady". Aku sebenarnya lebih suka kaalu disuruh mengasuh anak-anak presiden daripada mengurusi tumpukan paperwork yang anehnya seperti tak pernah berkurang. Oh, masalah pertama aku harus mengurusi masalah penghapusan ingatan bersama CIA nanti. Memang jadi personifikasi itu sangat sulit, apalagi harus terikat dengan ini lah, kalau sedikit bermasalah dengan manusia harus mengurus itu lah. Yah, kami walaupun dibebaskan dalam beberapa hal, tapi tak semuanya bisa sebebas manusia.

Aku menghela nafas, rasanya beban dipunggung bertambah. Masalah juga semakin menumpuk, apalagi baru-baru ini ada agen rahasia kami yang membuat masalah. Kudengar dia sekarang sedang mencari suaka, masalah utamanya Negara-negara yang tak suka denganku menawarkan suaka untuknya.

"Tch, troublesome" Gumamku

Semoga saja bosku tidak memberitahukan pada England yang anehnya masih saja peduli padaku, walaupun sepertinya setiap bertemu ia akan mencekik atau mencubit pipiku seperti natal kemarin. Jangan sampai hal tersebut terjadi karena dijamin ia akan mengamuk di rumahku atau lebih parahnya kalau masih di gedung putih, disitulah ia akan mengeluarkan sisi bajak lautnya. Sekali lagi iPhone milikku berdering, sekarang dari FBI pula.

"Apalagi sekarang?" Karena aku masih diperjalanan, jadilah aku membiarkan telepon masuk itu

Setelah kurang lebih 20 menit, aku sampai di gedung putih. Tak lupa menelepon balik FBI, kalau kulihat sepertinya aku akan terkena omongan panjang.

"Ah, Hello? Disini Alfred F. Jones!" Mereka memang tak tahu kalau aku America, mereka hanya tahu namaku dan aku itu orang penting bagi negara

"Mr. Jones! Kudengar kau bermasalah sedikit di Universitas Iowa! Apa kau mau ada masalah buruk terjadi lagi? Kau tahu kan, setelah kejadian "itu" aku diminta menjadi mata-mata mengintaimu!" Oke, aku paling sebal kalau begini

"Tenang saja, masalah itu tak terlalu besar!"

"Tak terlalu besar katamu? Aku melihat kau bicara dengan rakyat umum tanpa tahu batasan-batasannya!" Jangan-jangan ia tahu siapa aku

"Aku kan manusia, pastinya boleh bicara dengan siapapun, 'kay?"

"Aku tahu, Mr. Jones! Tapi kau itu orang penting menurut director FBI! Apa kau mau kepalaku dipenggal?"Bagus ia tak tahu siapa diriku

"Itu sih resiko mengawasiku! Aku hanya ingin bersenang-senang, okay? Lagipula terakhir kali aku membuat suatu hal yang parah hanya memecahkan jendela keluarga Bruce! Itupun saat natal dua tahun yang lalu! Orangnya juga tak keberatan! See?"

"ITU JUGA KARENA NEGARA HARUS MENGGANTI JENDELA ITU! Dan haruskah masalahmu dilaporkan ke presiden?"

"GYAAAAA DON'T DO IIIIIT! Bisa-bisa nanti presiden menyuruhku ke pangkalan militer lagiii!" Yah, aku sih tak masalah dengan dikirim ke tempat latihan militer, asalkan atas nama Commander Alfred F. Jones dibawah suruhan presiden. Tapi, saat itu aku malah dikenalkan sebagai sersan satu pula! Pulang-pulangnya badanku sakit karena latihan militer yang telah lama tidak kulakukan. Walaupun sekali lagi aku tak masalah, tapi kalau diharuskan berlari sepuluh putaran di lapangan lepas landas lalu dilanjutkan push up 70 kali dan sit up 80 kali, walaupun Negara ia bisa tepar tahu!

"Benarkah? Tapi jangan laporkan masalah satu bulan yang lalu, ya?" Ah ya, ia mabuk (aku mengajaknya untuk minum-minum saat Jumat malam) dan merusak satu bar hingga pada akhirnya aku yang mengeluarkan uang untuk mengganti kerugian dari kantong pribadi

"Bagus, kita impas!"

Telepon kuputus, mataku menarawang. Kenapa semua bosku melakukan hal yang sama untuk menyuruh salah satu agen rahasia entah itu FBI atau CIA untuk mengawasiku pula? Terakhir kali aku diawasi oleh agen, hampir saja dia tertembak. Walaupun itu juga seperti yang kukatakan pada agen rahasia yang tadi, resiko mengawasiku.

Aku masuk ke gedung putih. Kali ini aku akan langsung ke tempat dimana rekreasi keluarg presiden berada alias ruang keluarga. Aku tak mau ambil pusing dan semoga saja aku bisa menggendong anak bungsu First Lady karena ia sangat imut. Alasan kedua sih aku memang tak bisa memliki keluarga, bukan? Sekarang aku sedang diam-diam langsung menuju ruang keluarga. Tapi, ternyata malah bertemu presiden di depan mata.

"Nah, America… kucari-cari kau daritadi!" Kalau kudengar lewat nadanya, sepertinya ini akan kearah yang serius

"Hmm? What's up Prez!(1)" Kucoba untuk mempercepat pembicaraan

"Nah, ini masalahmu di Universitas Iowa. Kali ini aku serius dan kenapa gadis biasa yang berkuliah disana terlibat? Kalau kau ingin tahu darimana info ini berasal, tanyakan agen yang mengawasimu"

Oh shit!


Author note :

Ada yang liat beberapa referensi episode Hetalia? Banyak banget disini :D

(1)Prez singkatan dari presiden, bahasa Inggris America gaul (haha)


Author : Makasih yang cuma sekedar ngehampirin, baca dan lebih bagus yang review #bow

Germany : Tuh ada yang minta cerita lainnya dlanjutin!

Author : GAAAHHH MAAF! Cerita lain masih luntang-lantung keadaannya, soalnya semua draft cerita yang diminta kehapus dulu sewaktu nih Notebook kena virus T_T

Germany : Makanya jangan kebanyakan bikin cerita auhor, pusing kan jadinya?

Author : Germany nggak membantu! T_T

hossy : saya kira bakalan disebut ctar membahana baga- #dibekep iya saya juga sadar, ngetik ngebut apalagi malem-malem itu suram ya?

Alfred kalo saya baca menurut hetalia wiki itu bisa serius dan baca keadaan kalo dia mau, makanya dia bisa galau. Maaf agak ngadat kali ini update-nya

Lagi coba ngebangun ulang skenarionya kalo nggak bisa terpaksa nggantung :'D

Everly De Mavis : silahkan dibaca

ariyana : pesanan(?) udah jadi dan tinggal dibaca

Aline AzureE : NYOTALIAAAA SAYA NEMU DOUJINSHINYA KEMAREEN! *ikut muter-muter keliling pancoran*

Bukan, biar tambah greget (apa pula ini) tapi nggak terlalu dibahas, haha #plak
Kalo itu udah disiapin nanti kalo cerita ini udah selesai :D

Makasih yaaa!

Author : Yup, bahagia banget yang review nambah empat! #nangisbahagia
Dan saya ada kado(?)buat fans Iggy sama Amerika :D watch?v=N_yK-DV7zvE dan watch?v=-hCs4pFtY94 (hapus spasi dan titik) dijamin bahagia yang nontonnya terus saya lagi terobsesi sama Cardverse! America (AAAHHHH HE'S KING OF SPADES THE MAJESTY #yangterakhirabaikaninicumacurcol) sekian dari saya dan terimakasih

Author : oh iya, sebelum ngibrit… boleh minta reviewnya kan? :B