Na

ruto©Masashi kishimoto

Genre: romance deelelel

Warning: canon, oc ooc, jelek, typos

Pairing: SAISAKU-slight sasusaku, naruhina

TIDAK SUKA JANGAN BACA

Sakura duduk temenung di meja makan sambil memperhatikan adonan yang baru setengah jadi, sebenarnya hari ini ia berencana membuat cake ketan hitam yang seperti dibuat Hinata kemaren. Padahal dari tadi ia sama sekali tidak keluar dari perintah buku resep Hinata yang ia pinjam, tapi kenapa adonannya menjadi keras begini.

Capek, semenjak hamil bawaannya selalu saja pengen tidur, apalagi sering di tinggal suami, baik untuk misi atau ngajar lah, padahal hari ini Sai lagi bebas bekerja.

Matanya semakin sendu setelah mengingat tujuan awalnya membuat kue ini. Yah, entah kenapa ia ingin sekali-kali membuatkan kue untuk suaminya, Sai, sebab enam bulan pernikahan mereka Ia sama sekali belum pernah membuatkan suaminya tersebut kue, biasanya ia lebih memilih mebeli kue-kue tersebut di pasar makanan yang tak jauh dari kediamanya.

Malas berlama-lama termenung di depan kue ia lebih memilih melanjutkan memasak, siapa tahu nanti kuenya akan baik sendiri.

Semoga saja

.

.

.

Sai tengah asik memilih-milih buku bacaan di toko buku yang kerap menjadi langganannya semenjak ia pindah ke desa Konoha, di toko buku inilah ia banyak mendapatakan pengetahuan-pengetahuan baru, dan guru Kakashi bahkan selalu menganjurkannya berdiri pada rak 18+, yang ia sebelumnya bingung akan maksud tanda itu, tetapi setelah membuka buku-buku tersebut yang ada malah membuat tubuhnya memanas, dan ada sesuatu hal yang menggelitik pengetahuannya untuk lebih mengetahui tentang yang namanya wanita, dan lagi-lagi ia belajar pada guru yang salah.

Setelah menemukan buku yang ia cari dengan cover seorang wanita dengan perut yang buncit dan ada seorang laki-laki yang tengah mengelus perutnya Sai pun pergi menuju kasir untuk segera membayar.

Selesai membayar ia memeilih mencari tempat yang pas dan jauh dari gangguan dalam membaca buku yang barusan ia beli.

Dan di sinilah Sai, di belakang kantor hokage tepatnya di hutan yang kerap timnya gunakan untuk berkumpul untuk melakukan rapat kecil yang mana hanya timnyalah yang boleh tahu. Setelah mendapatkan posisi yang nyaman untuk duduk, ia pun mengambil buku yang baru saja ia beli.

"Cara menjadi calon ayah dan ibu yang ideal." Gumamnya makin penasaran.

Setiap halaman yang ia baca entah kenapa wajahnya berubah-ubah ekspresi dari mengkerut, bingung dan memerah, dan sampai pada tips terakhir ia pun kembali dibuat bingung.

Dari kebanyakan tips yang ia baca, sifat-sifat wanita yang ada didalam buku jauh sekali dengan sikap istrinya, di buku ini wanita-wanita hamil itu digambarkan sebagai wanita yang lembut, penurut dan tentunya keibuan, sepolos apapun Sai ia tahu jika criteria yang ada jauh sekali dari sifat Sakura, istrinya.

Karena semakin bingung dan semakin penasaran dengan masksud dari buku yang tengah ia pegang, Sai pun bermaksud menemui dua orang yang ia anggap mampu untuk memecahkan pengetuannya, siapa lagi kalau bukan Naruto dan Kakashi. Tampa pikir panjang ia pun beranjak dari tempatnya.

.

.

.

Jam menunjukan pukul delapan malam ketika Sai pulang kerumah, entah kenapa ia merasa cemas dengan kedatangnnya yang ia anggap terlamabat, sebab dari pagi tadi ia sama sekali belum kembali kerumah walau itu untuk makan siang saja, padahal hari ini ia sama sekali tidak ada misi ataupun pekerjaan lainnya.

"Sakura-san…." Tak ada jawaban Sai pun mengulangi panggliannya.

"Sakura-san, apa kau ada di rumah?" Tetap tak ada jawaban Sai pun memilih mencari Sakura kesemua penjuru rumah, pertama dari ruang keluarga, kamar, kamar mandi dan terakhir dapur. Betapa terkejutnya Sai mendapati Sakura yang tengah tergeletak dengan tangan yang menumpu mukanya di meja makan, tanpa banyak pikir Sai pun menghampiri sakura yang tampaknya tengah terlelap itu, dengan perlahan disingkirkanlah anak-anak rambut soft pink yang tengah menyembunyikan wajah damai istrinya, tampa sadar Saipun mengulum senyum tulus yang jarang ia lihatkan, entah kenapa Sakura tampak sangat damai dan lelah. Setelah puas memandang wajah sang istri, Saipun baru menyadari akan sesuatu yang tengah tersaji di meja dapur.

'Cake ketan hitam?' batin Sai bersuara. Jujur ia masih belum percaya dengan apa yang ada di hadapanya sekarang. Apa sakura yang membuatnya? rasanya itu suatu hal yang mustahil, mengingat kemampuan masak Sakura yang masih jauh dari rata-rata, selama ini Sai lebih sering disajikan dengan makan yang sejenis, seperti ayam goreng cabe merah, ayam goreng cabe ijo, ayam goreng lainnya, dan kalau masakan dengan menu yang jauh berbeda bisanya Sakura lebih memilih membelinya.

Kalau memang Sakura yang membuatnya ini memang suatu keajaiban.

Ragu-ragu sai mengambil pisau kue lalu memotongnya menjadi lebih kecil, entah kenapa cake buatan Sakura ada yang berbeda dengan cake-cake yang pernah ia lihat, cake buatan Sakura terlihat lebih bantet, sedangkan Cake lainnya lebih mengembang dengan warnanya cukup terang. Dengan ragu-ragu ia memasukan cake dengan potongan lebih kecil kemulutnya dengan sebuah garpu, setelah itu yang ada waajahnya malah menegang.

"Sai" Tampak Sakura yang tengah menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lampu.

"Kau baru pulang?" Wanita cantik itu bertanya dengan mengusap matanya yang sedikit menganatuk, bermaksut menghilangkan rasa kantuk itu.

"Kenapa tidur di sini, aku piker kau lupa kalau kita memiliki kamar?" Sai lebih memilih bertanya balik dari pada menjawab pertanyaan istrinya yang sebenarnya ia malas menjawab.

"Ngaak tau kenapa, aku malah tertidur di dapur" Kekeh Sakura mengingat kecerobohannya.

"kapan pulang, dan jam berapa sekarang?"

"Barusan, Kau kenapa tidur disini?" Sai mengulangi kembali pertanyaannya, karena jawaban yang Sakura berikan rasanya sangat kurang.

"Oh, e-eto…" Jawab Sakura gugup.

"A-aku, membuatkanmu ini" Sakura mengalihkan pandangannya ke meja, dan hampir memekik menyadari jika kuenya sudah terdiri dari beberapa potongan.

"Kau sudah menyicipinya Sai?"

"Sudah" ucap Sai yang lebih cocok dibilang gumamam.

"Bagaimana Rasanya?" Dan pertanyaan inilah yang ditakuti pemuda pucat ini, dia merasa berada di dua posisi yang salah, jika ia jujur yang ada Sakura akan mengamuk dan dijamin malam ini ia akan tidur di luar kamar tampa bantal, selimut dan tentunya tanpa ada Sakura. Dan jika ia bohong ya nikmati Saja Cake katan hitam yang rasanya saja sangat sulit dijabarkan Sai.

"Umm, rasanya…rasanya lumayan Sakura-san.

" Gugup. Sai memilih tidak menatap mata Sakura yang berbinar.

"Benarkah Sai?"

Anggukan beberapa kali rasanya cukup bagi Sai untuk meyakinkan istrinya. Ketika bernafas lega dan hendak menuju kamar untuk mengistirahatkan diri, rasanya ada sesuatu yang mencekam dibelakangnnya.

Danketika ia berbalik.

pukkk

"DASAR PEMBOHONG." Berbalik Sai malah dihadiahii oleh segopok kue ke wajahnya.

"…"

"Aku tahu jika kue ku itu tidak seperti yang kau ucapkan"

"Ti-tidak Sakura-san." Sai mundur kebelakang menghindari piring yang kini tengah digenggam Sakura, sepertinya cepat atau lambat piring yang tak bersalah itu akan melayang kewajahnya.

"Apanya yang tidak hah?"

"Asalkan kau tahu Sai, sebelum kau…" Sakura menunjuk wajah takut suaminya. "Aku sudah mencicipinya dan yang ada perutku jadi mules."

"Aku tidak suka suami pembohong"

PRANGGGG

Dan malam ini Sai memeang harus tidur diluar, tampa bantal, selimut dan tentunya Sakura.

Sebenarnya adalagi hal yang tidak dimengerti Sai tentang Sakura, wanita itu seperti teka-teki. Salah sedikit ia akan meledak, dan Sai tidak tau cara pemecahannya seperti apa, pernah ia sepulang dari misi tidak dilayani atau disambut oleh istrinya, kata Sakura itu suatu hal yang namanya 'ngidam' yang mana guru Kakashi saja sulit untuk menjabarkannya.

Waktu kehamilan trimester pertama Sakura berubah menjadi wanita yang buas, yang mana mood nya bisa berubah dalam waktu yang dekat bahkan waktu yang bersamaan, semakin bingung ketika ditanya Sakura malah menjawab setiap dekat dirinya bawaanya malah kepengen memukul, menendang, mencubit, dan mencakarnya"

Apa bayinya akan ada kelainan.

Pertanyaan macam itu pernah terselip dipikiran Sai, tapi setelah berkonsultasi pada orang yang 'tepat' Tsunade, ia makin jelas karena kata wanita sexy itu, itu adalah suatu hal yang wajar.

"Apa masih taraf wajar jika ngidamnya sampai pengen bunuh suaminyua sendiri?" Dan pertanyaan terakhir dari Sai malah membuat Tsunade memilih mengakhiri sift konsultasinya.

.

.

.

"…jadi dia akan kembali Tsunade-sama?" Anko yang baru saja mengakhiri misi dan menyampaikan keberhasilannya malah disambut sebuah berita heboh.

"Ya. Tepat sekali Anko"

"Tapi apa anda yakin Tsunade-sama?" masih ada keraguan dari mata kelam Anko akan keputusaan sang Hokage tentang diterimanya kembali si pengkianat desa Uchiha Sasuke. Kalau dilihat, ia memang satu-satunya keturunan Klan terbaik selain Hyuuga yang masih tertinggal setelah pria cerdas kebanggan Uchiha, Itachi, membantai habis klannya dan malah meninggalkan adiknya sendiri yang diluputi dandam.

Sepulang dari misi dan ketika hendak ke kantor Hokage Anko dikejutka gossip-gosip terhangat desa konoha, siapa lagi kalau bukan tentang kembalinya Uchiha Sasuke dari lembah hitamnya, yang mana reaksi mayrakat banyak yang berbeda-beda ada yang tidak percaya, Shock, bahkan senang, dan yang terakhir itu lebih banyak dialami oleh kaum remaja, ibu-ibu bahkan lansia.

"Dan sebagai ganjaran untuknya, pembekuan harta Uchiha akan dilakukan ketika ia benar-benar pulih, dan aku telah menyerahkan ini pada timnya"

" Tim? apa maksud anda Naruto, Sakura?"

"iya, itu maksudku… dan ia akan kembali pada mereka"

"Bagaimana dengan Sai?"

"Ia keluar dari tim, dan akan berdiri tunggal, walau dala misi kadang ia tak sendiri, tetapi jika misi terdiri dari Tim, ia bukan tim itu lagi."

"Yang benar saja. Apa itu tidak apa-apa, dan apa Sai sudah mengetahuinya?" Anko belum sepenuhnya percaya dengan apa yang Tsunade jawab, apa itu tidak seperti melukai perasaan Sai, bagaimanapun bagi pemuda itu, Tim itu adalah keluarga, itulah jawaban yang ia berikan ketika ditanya apa makna sebuah Tim bagi Sai. Padahal itu bermula dari keisengan Naruto memainkan Truth or Dare.

"Seharusnya Sai sadar akan posisinya, walau ia kepala Anbu yang sangat diandalakan dan guru bagi para chunin, tetapi ia harus sadar. Sakura sendiri yang menganjurkan, walau sejauh ini Sai belum mengetahuinya.

.

.

.

Perasaan itu semakin tidak enak, Sakura yang tengah menyendok makannya seakan tidak berani menatap suaminya yang tampak tenang walau ia yakin kini tengah berkecamuk dengan perasaannya sendiri.

Ada sedikit perasaan bersalah.

Namun cepat atau lambat Sai memang harus mengetahui semuannya, ia bukan dikeluarkan dari Tim walau orang-orang menyebut secara kasar seperti itu. Uchiha Sasuke menyingkirkan Sai. Sakura sendiri tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana, ia bingung.

Tak ada ekspresi dari wajah sendu suaminya, walau ia tahu bermacam perasaan campur aduk ada dalam diri Sai.

Delapan tahun sudah ia bersama Sai dalam satu tim.

Ia tahu, Sai tak ubahnya seperti kebanyakan orang, dia tahu akan perasaan marah, senang, sedih dan kecewa. Walau tidak ada yang mengerti. Sebab ia tidak pernah menunjukan hal yang demikian yang sangat ketara dengan hatinya.

Sebenarnya ada perasaan yang sangat sulit Sai mengerti, entah mengapa ia merasa tidak enak.

Dan takut

Bukan karena ia bertemu Uchiha Sasuke yang akan mengambil posisinya, salah. lebih tepatnya mengambil kembali posisi Sasuke yang sebelumnya di dudukinya, tetapi Sakura

Ya, jawabannya Sakura.

Ia takut, masih kental dalam ingatan Sai akan betapa besar rasa cinta Sakura terhadap pemuda yang selalu dielukan istrinya tesebut, masih kental dalam ingatan Sai akan Sakura yang mau menyerahkan nyawa dan raganya demi pemuda tersebut. Dan masih kental dalam ingatan Sai akan perasaan bahagia dan mata yang cemerlang mendengar akan kembalinya cinta pertama istrinya itu.

Dan pada malam hari dimana penyatuannya dengan Sakura untuk pertama kali, bukan dirinya yang Sakura sebut, tetapi Uchiha Sasuke. Walau rasanya sakit namun ia pasrah dengan yang ada dan menanti saja kemana takdir akan membawanya.

Sakura dan Sasuke dua orang yang seharusnya bersatu.

Dan… apa ia pantas memiliki posisi ini, ia yakin jika Sakura hanya menempatkan dirinya sebagai Ayah dari bayi yang tengah ia kandung, bukan sebagai pemilik hati wanita cerdas itu.

Jadi, ia harus siap dengan apa yang ada. Bahkan ia sudah siap semenjak malam dimana ia dan Sakura tengah menikmati sutu hal yang terlarang.

Bahkan sepertinya Sakura tak akan segan-segan meninggalkannya.

"Sai…' Mata gelap itui menatap emerland istrinya yang menatapnya dengan suatu tatapan yang sulit di artikan. Perasaan Sakura tertusuk ketika mata itu menatapnya tanapa senyum, walau itu sebuah senyum palsu.

"Apa Sakura-san?" Dadanya sesak. Semenjak Sakura menyampaikan perihal kedatangn Sasuke dan yang lainnya ia merasa sulit untukmerangkai sebuah kata-kata seperti biasannya.

Dan untuk pertama kalinya dalam mengenal Sai, Sakura merasa benar-benar bersalah, ia memang wanita yang terkenal cerdas, tetapi mengapa ini sulit sekali.

"Maaf…"

TBC

.

.

.

.

A/N: Nah lo… ini ni masalah keluarga kecil Sai Sakura. Yap dia Uchiha Sasuke.

Sasuke disini mempunyai peran penting dalam fic ini, kenapa Sasuke? Pasti tau kan jawabannya. Sai akan bermain sendiri dengan persaannya, begitu juga dengan Sakura dan Sasuke.

Maaf minna-san akan keterlambatan updatenya, padahal fic ini dulunya udah siap 80 persen, tetapi karena suatu hal dirombak ulang.

Oh ya, ada yang mau nyumbang nama anaknya Sai Sakura nggak? Ingat mereka kembar lo….hahaha

Dan Maaf, aku belum bisa balas ripiunya satu-satu, tapi insyaallah chap depan akan dibalas kok. Dan terima kasih ya buat kalian yang ngingetin aku untuk update SJA, janji kok fic ini nggak bakal di Discontinued.

Untuk akhirnya, kritik dan saran please? ;)

see you next chappy…