Gomen ne telat update…
Luna musti update fic lain. Tapi sebisa mungkin, Luna bakalan cepet update chap selanjutnya…
.
Sebelumnya, Luna ingin mengucapkan terima kasih untuk reviewers yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca fic ini :
ZephyrAmfoter
Zie-rain-drizZle
Lady Haruno09
Yuki Tsukushi
Keina
Kiyo-chan
Just Ana
VhieHime
Cherryharuno
Ayaya-chan
Kiyo-chan
Sekali lagi, terima kasih banyak (^o^)
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : AU, OOC, Gajeness, Anehness dan … ness lainnya…
.
Happy Reading
.
Chapter 3 : Ups! Wow!
.
.
Sakura's POV
Aku berkaca sekali lagi sambil mematut diriku di depan cermin.
Aku rasa tidak ada yang aneh. Aku memegang rok kotak-kotak berwarna merah hitamku. Kupastikan sekali lagi, tidak ada yang aneh.
Lalu aku memegang ke dua pipiku, tersenyum dan membanggakan diri dalam hati bahwa aku memang cantik.
Dan aku tiba-tiba terdiam.
Shanaroooo! Kenapa juga aku malah berdandan habis-habisan seperti ini? Bukankah aku sudah bertekad untuk menolak ajakan Sai?
Bodoh! Bodoh! Bodoh!
Aku memukul kepalaku berkali-kali. Lalu aku melirik jam yang berada di meja riasku. Pukul 10.52.
Beberapa menit lagi, Sai akan menjemputku. Aku kemudian duduk di tepi ranjang dengan gelisah. Gelisah karena menunggu Sai. Eiiit! Bukan! Bukan! Aku tidak menunggunya! Sama sekali tidak!
Siapa juga yang mau berkencan dengannya?
Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya.
Sai, aku tidak menyukaimu. Jadi aku tidak ingin berpacaran denganmu…
Sai, aku tidak menyukaimu. Jadi aku tidak ingin berpacaran denganmu…
Sai, aku tidak menyukaimu. Jadi aku tidak ingin berpacaran denganmu…
Dua kalimat itu berulang-ulang kulafalkan dalam hati. Aku mengepalkan tanganku dan bertekad dalam hati! Aku. Pasti. Bisa. Menolak. Saiii!
Yoshh!
Aku melirik ke arah jam lagi. Pukul 11.07.
Aku menghela nafas. Kenapa Sai lama sekali sih?
.
mmmoooonnn
.
Pukul 11.48…
Grrr! Apa saja sih, yang dilakukan Pria Bodoh itu? Kenapa dia begitu lamaaa?
"Dasar bodoooh!" teriakku sambil menendang boneka kodok yang tergeletak di lantai kamarku.
"Lama! Lama! Lama!"
Aku berjalan mondar mandir di dalam kamarku sambil melipat tanganku di depan dada. Sesekali aku mengerutu kesal dan sesekali aku tersadar. Seharusnya aku senang kan, dia tidak datang?
.
.
Pukul 12.26…
"Aaaarrrrgggghhh!" teriakku kesal karena tak tertahankan. "Kemana perginya Pria Bodoooh ituuu! Kenapa dia tidak bisa datang tepat waktu sih?"
Aku berjalan ke dekat sansak tinju berwarna merah marun yang tergantung di dalam kamarku.
'Buk! Buk! Buk!'
Aku memukul tanpa henti, melampiaskan amarahku.
"Kenapa?"
'Buk!'
"Kau."
'Buk!'
"Belum datang."
'Buk!'
"Jugaaa siiihh!"
'Buk! Buk! Buk!'
Aku mendengus kesal. Huh! Latihan seperti ini sama sekali tidak mengeluarkan keringat bagiku.
Aku menghentikan acara memukulku karena suara handphone-ku yang berbunyi nyaring. Jangan-jangan ini Sai? Aku melihat layar di handphone-ku itu. Oh, bukan Sai…
"Halo, Hinata-chan!" sapaku lesu.
"Halo, Sakura-chan! Bagaimana kencanmu dengan Sai? Menyenangkan tidak?" tanya Hinata di seberang telepon.
Oh, jadi dia menelpon hanya untuk menanyakan hal itu?
"Menyenangkan bagaimana? Kau tahu tidak? Aku sudah menunggu hampir dua jam dan dia belum datang jugaaa?" kataku dengan suara yang lumayan keras karena aku begitu kesalnya.
"Lho? Bukannya kau harusnya senang karena Sai tidak menjemputmu? Bukannya kemarin kau menolaknya mentah-mentah?" kata Hinata.
"A…i…a…" aku gelagapan, tidak tahu harus berkata apa-apa.
Kemudian aku mendengar suara yang familiar, suara Naruto. Aku bisa tahu kalau sekarang dia sedang menertawaiku.
"Sepertinya kau kena batunya nih!" kata Naruto di seberang sana yang mengambil alih pembicaraan.
"Kau tidak usah ikut campur, Naruto!" kataku kesal.
"Kau tahu tidak? Saat ini aku dan Hinata sedang kencan, lho!" katanya lagi yang membuatku makin kesal. "Saat ini kami-"
'Trek!"
Aku menutup sambungan telepon dan berjalan ke dekat sansak tinjuku. Lalu dalam sekali pukulan, aku menghancurkan sansak itu hingga jatuh dan isinya terkulai lemas di lantai kamarku.
Aku terengah-engah lalu menarik nafas sejenak, "MEMANGNYA SIAPA JUGA YANG IRI DENGANMU, BAKKKKAAA!"
.
mmmoooonnn
.
Pukul 13.14…
"Sakuraa!" panggil ibuku.
Ck… mengganggu saja!
Saat ini aku sedang tiduran di ranjangku. Sudah hampir sebelas kali aku berkeinginan untuk menelepon Sai, tapi akhirnya kuurungkan niatku.
Huh! Memangnya dia siapa?
"Saakuraaa!"
"Iya, iyaaa!" jawabku malas.
Aku turun ke bawah dan mendapati Sai sedang duduk di sofa ruang tamu, berbincang dengan ibuku.
"Kau ini lama sekali turunnya, Sakura!" kata ibuku saat beliau melihatku.
Lama? Memangnya siapa yang menunggu lebih lama, hah?
"Hai, Sakura!" sapa Sai dengan tersenyum. Hebat. Dia masih bisa tersenyum. Coba kita lihat, apa dia masih bisa tersenyum saat aku merontokkan semua giginya!
"Kenapa baru datang?" tanyaku dengan raut muka kesal.
Ups! Bukan itu yang harusnya kukatakan. Harusnya aku bertanya kenapa dia datang ke rumahku, bukannya sebaliknya. Kesannya kan seperti aku yang menunggunya sedari tadi.
"Maaf… aku ada urusan sebentar," jawab Sai tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Sudahlah, Sakura. Toh, akhirnya Sai-kun datang juga. Ya kan?" kata ibuku menengahi.
Mataku nyaris melotot mendengar ibuku sendiri malah membela pria menyebalkan ini. Tch! Menyebalkan!
"Ayo, ayo! Cepat kalian pergi kencan! Jaga baik-baik putriku ya, Sai-kun! Dan bawalah payung. Ibu rasa akan hujan," Kata ibu sambil mendorongku dan Sai keluar rumah.
Yah… pada akhirnya aku tetap harus pergi dengannya. Dengan Sai.
Huh! Huh! Huh!
.
mmmoooonnn
.
"Kita akan pergi ke mana?" tanyaku setelah diam beberapa saat.
"Nanti kau juga tahu."
Kami terdiam. Ugh! Rasanya menyebalkan sekali. Aku lebih memilih bersama Naruto dan Hinata, walaupun besar kemungkinan kalau aku akan menjadi penjual obat nyamuk nantinya. Dibandingkan bersama Sai.
Ugh! Sampai kapan aku harus bersamanya?
Demi Tuhan, baru juga dua hari, tapi aku sudah merasa ingin mati!
Semoga hari ini cepat berlalu…
.
mmmoooonnn
.
Aku mendesah kagum saat sampai di tempat tujuan. Tempat ini benar-benar…ah… kata indah rasanya tidak akan cukup mewakilinya.
"Tempat apa ini?" tanyaku.
"Mawae Garden. Tempat perkembangbiakan segala macam mawar dari seluruh dunia. Di sini juga terdapat toko bunga, café, restoran, dan tempat untuk menanam mawar sendiri. Masih banyak yang lainnya kurasa, tapi aku tidak ingat," jelas Sai.
"Kau sering ke sini?"
"Ya, biasanya untuk melukis atau merenung. Ini tempat pertama yang kudatangi saat aku sampai di Konoha."
"Begitu…"
Aku melihat sekali lagi ke depan sana.
Gapura yang menjulang tinggi dirambati oleh mawar berwarna merah muda, merah tua, dan putih. Aku bisa melihat warna hijau lumut yang melekat pada gapura serta dindingnya. Bangunan ini pasti sudah sangat tua.
"Kenapa aku tidak tahu kalau di Konoha ada tempat seperti ini?"
"Sampai dua tahun yang lalu, tempat ini tidak dibuka untuk umum. Lagipula, orang-orang lebih suka pergi ke Mall atau restoran dibandingkan pergi ke taman bunga kan?"
"Iya, sih… tapi jika aku tahu ada taman seindah ini, aku pasti sering kemari," kataku.
"Kalau begitu, kau harus berterima kasih padaku," kata Sai sambil menatap lekat padaku.
Aku memalingkan muka dan mendengus lalu berjalan masuk ke taman itu.
Di belakang, aku bisa mendengar tawa kecil yang keluar dari mulut Sai.
Aku sontak tersenyum.
Terima kasih, Sai…
Aku hanya mengucapkannya dalam hati. Tapi maaf ya, harga diriku lebih tinggi dari rasa kagum atas apapun.
.
mmmoooonnn
.
"Wah, Sai! Ada berapa banyak mawar di sini ya?" kataku benar-benar takjub.
"Kau mau menghitungnya? Benar-benar kurang kerjaan," kata Sai.
Aku melotot padanya, "Kau itu memang pandai membuatku kesal ya?"
"Terima kasih," jawabnya sambil tersenyum.
"Itu bukan pujian!"
'Kruuuukk!'
Wajahku langsung merona merah.
"Kau sudah lapar ya? Yah, ini memang waktunya makan siang," kata Sai.
Sementara aku terdiam, menahan malu.
Tiba-tiba Sai menarik tanganku perlahan, "Ayo kita cari restoran."
"Memang ada?"
Sai mengangguk, "Aku pernah ke sana. Makanannya sangat lezat dan pemandangannya juga indah."
"Tapi kan, aku mau melihat-lihat," kataku bimbang.
"Kita makan dulu. Aku akan menemanimu di sini sampai kau puas, hitung-hitung sebagai permintaan maafku."
Aku menurut sambil tersenyum. Apa Sai tahu bahwa aku sudah melupakan semua rasa kesalku tadi karena pemandangan menakjubkan yang terbentang di mataku ini?
.
mmmoooonnn
.
Kami memasuki sebuah restoran yang bernama R2.
Benar kata Sai, pemandangan di sini indah. Sesaat sebelum aku memasuki tempat ini, aku bisa melihat atap restoran yang ditumbuhi bermacam mawar. Aku tidak tahu jenisnya, tapi warna mawar itu berbeda-beda. Ada merah, kuning, orange dan putih. Indah sekali. Aku hanya pernah melihat mawar berwarna merah dan pink yang senada dengan rambutku.
Saat memasuki restoran itu, harum masakan menguar jelas. Samar-samar, aku bisa mencium aroma mawar yang menenangkan. Dan benar saja, setiap meja yang kulihat, terdapat beberapa tangkai mawar tergantung dengan jumlah kursinya. Jika kursinya dua, di dalam vas itu akan terdapat dua tangkai mawar. Sai berbicara dengan pelayan lalu pelayan itu membawa kami ke meja kayu bundar dekat jendela. Di sana terdapat dua tangkai mawar berwarna merah muda.
Pelayan itu memberikan menu dan kami pun memesan.
Sambil menunggu, aku mengedarkan pandanganku ke sekitar restoran. Suasana di sini tenang, hanya ada beberapa pengunjung. Aku menyayangkan orang yang tidak tahu keindahan taman ini.
Lalu aku melihat ke luar melalui jendela. Aku malas berbincang dengan Sai, karena dia sedang sibuk melukis. Mungkin melukis bunga mawar itu.
Dari tempatku duduk, aku bisa melihat berbagai macam mawar yang terkadang tertutupi rimbunnya daun hijau. Ah… aku tak sabar ingin ke sana! Melihatnya, memegang mawar itu, dan menghirup harumnya.
Dan saat itu aku tersadar saat melihat bingkai jendela.
"Sai! Lihat ini!" kataku sambil menunjuk bingkai jendela.
"Ada apa?"
"Lihat! Indah sekali, bukan?" kataku. Di sana terdapat ukiran bunga mawar yang meliuk-liuk. dan di bawah jendela, aku melihat ada coretan kasar seseorang.
Pein & Konan
"Siapa ya?" tanyaku melihat Sai. Dia hanya mengangkat bahu.
"Mungkin pengunjung yang dulu. Aku juga baru tahu ada ukiran semacam ini. Orang yang mendirikannya pasti sangat menyukai bunga mawar," katanya sambil menyusuri ukiran itu dengan jarinya.
"Anda memang benar," ujar seseorang di samping kami. Aku menoleh, oh, ternyata pelayan yang membawakan makanan. Pria ini manis sekali. Rambutnya yang berwarna merah mengingatkanku pada mawar. Pandangan matanya juga. Aku melihat ke pin yang melekat di bajunya.
Sasori
Jadi namanya Sasori? Batinku.
"Maksudmu?" tanya Sai.
"Pemilik tempat ini sangat menyukai mawar, dan karena kecintaannya itulah, tempat ini tercipta. Anda semua pasti bisa merasakan mawar yang melekat yang di tiap bagian tempat ini. Karena tempat ini adalah perwujudan dari mawar itu sendiri."
Aku melongo takjub mendengarnya.
"Dan saya menambahkan, bahwa nama restoran ini pun berasal dari nama mawar," jelasnya.
"Apa?" tanyaku penasaran.
"R2. Singkatan dari Rosa Restaurant. Baiklah, selamat menikmati hidangannya," katanya seraya pergi.
Aku lalu berbalik memandang Sai, "Rosa Resturant. Kau tahu tentang hal itu?"
"Tidak."
Badanku bergidik sejenak. Aku benar-benar tidak sabar untuk melihat semua sudut tempat ini!
.
mmmoooonnn
.
"Sai! Sini! Sini!" panggilku sambil memegang sebuah bunga berwarna ungu yang hanya berhelai lima saja. Wah, aku tidak tahu ada bunga mawar seperti ini.
"Apa namanya?" tanyaku. Sai mengangkat bahunya.
"Namanya Rosa Gallica," kata seorang err… pria atau perempuan? Entahlah…
"Nama saya Haku. Pegawai di sini. Apakah anda pengunjung baru?" tanyanya sopan.
"Ya," jawabku sambil mengangguk.
"Apakah anda berkenan jika saya menjelaskan berbagai macam bunga di sini?"
"Tentu saja! Dengan senang hati! Aku juga ingin tahu tentang mawar-mawar ini!" kataku bersemangat, "ya kan, Sai?"
"Ya," katanya sambil tersenyum. Senyumannya berbeda kali ini. Dan entah kenapa aku terpaku melihatnya.
Deg!
"Nona?"
"Ah, iya?" aku memalingkan mukaku, takut ketahuan kalau wajahku merona olehnya.
" Baiklah… Mawar adalah tanaman semak dari genus Rosa sekaligus nama bunga yang dihasilkan tanaman ini. Mawar liar yang terdiri lebih dari 100 spesies kebanyakan tumbuh di belahan bumi utara yang berudara sejuk. Spesies mawar umumnya merupakan tanaman semak yang berduri atau tanaman memanjat yang tingginya bisa mencapai 2 sampai 5 meter. Walaupun jarang ditemui, tinggi tanaman mawar yang merambat di tanaman lain bisa mencapai 20 meter."
Aku terbengong-bengong mendengarnya.
"Wah, maaf. Terlalu panjang ya?"
Aku menggeleng.
"Baiklah, mawar taman biasanya digolongkan ke tiga macam, Wild Rose, Old Garden Rose dan Climbing Rose. Sekarang kita akan melihat berbagai macam jenis mawar," katanya sambil menunjukkan semua jenis mawar di sini.
Aku selalu terpekik kagum melihatnya.
Ah, mawar. Bukan hanya warnanya, jumlah kelopaknya ataupun keharumannya yang memikat. Pantas saja, mawar menjadi bunga terfavorit bagi semua orang.
Haku berkata bahwa setiap mawar memiliki perbedaan, baik warna, susunan bunga, ukuran bunga, tinggi tanaman, dan jumlah durinya. Dilihat dari segi warna, ada putih, putih kuning, kuning pink, oranye, dan merah.
Tidak akan sanggup diingat dalam semalam.
"Terima kasih karena telah menemani kami," kataku pada Haku saat dia menyudahi tour ini.
"Sama-sama."
"Haku benar-benar wanita yang baik sekali ya?" kataku saat Haku sudah beranjak pergi.
Kemudian Haku berbalik dan berkata padaku, "Terima kasih. Tapi aku ini laki-laki," ucapnya sambil lalu, meninggalkan aku yang shock mendengarnya.
"Apa? Padahal dia lebih cantik dariku," gumanku kecil tak percaya.
"Yah, dunia ini memang tidak adil ya?" kata Sai.
"Tutup mulutmu!"
.
mmmoooonnn
.
Rintik gerimis turun perlahan, menyelusup ke celah bajuku dan menggelitik kulitku akan dinginnya air. Aku menoleh ke atas. Awan gelap terpampang lebar dan sedikit demi sedikit hujan membasahi kulit wajahku.
Aku bisa merasakan sentakan hebat di tubuhku.
Bermain hujan-hujanan di tengah hamparan bunga mawar adalah ide terhebat sepanjang masa. Resikonya hanya dipandang aneh oleh semua orang dan jatuh sakit setelahnya.
"Sakura," Sai menarik tanganku, menuntunku ke sebuah terowongan yang dirambati mawar merah muda. Gerimis membuat harum mawar menguar dua kali lipat. Aku menikmatinya.
Bahkan aku tidak menepis tangan Sai yang masih menggandengku erat.
Aku akui, karena dialah aku mengalami hari seluar biasa ini. Tak akan pernah kulupakan, walaupun aku bersama dengan orang yang paling kubenci, tapi ini adalah hari terindah dalam hidupku.
"Menakjubkan sekali rasanya…" kataku yang berjalan di terowongan.
Saat keluar dari terowongan, aku mendapati sebuah rumah kayu bergaya Eropa kuno. Dan seperti biasa, ada mawar yang merambat di atapnya dan juga pilar di dekat pintu masuknya.
"Apa ini?" tanyaku.
"Rosemary Café. Tempat yang tepat untuk menghangatkan badan."
Kami masuk ke dalam dan Sai menuntunku ke tempat dekat jendela seperti tadi.
"Kenapa kau suka duduk di dekat jendela?" tanyaku setelah memesan.
"Bukannya kau suka dengan pemandangan yang ada di luar sana?" tanyanya balik.
Aku jadi merasa salah tingkah. Apa Sai melakukannya untukku?
"Sai…" Aku menunduk malu lalu kuputuskan untuk memandangnya, "Te…terima kasih…"
"Aku tidak menyangka kau akan berkata seperti itu," kata Sai tersenyum. Entah kenapa aku mulai menyukai senyuman itu.
"Ya, ternyata kau tidak semenyebalkan yang kukira," jawabku. "Kita… aku rasa kita tidak pernah tidak bertengkar ya?"
"Mungkin. Tapi aku menikmati itu."
"Aneh…" cibirku. "Semenyenangkan itukah membuatku kesal?"
"Sangat. Aku suka melihatnya. Lagipula, setiap orang punya cara tersendiri untuk berkomunikasi, bukan?"
Yah, aku akui… aku lebih sering bersama Sai dibandingkan bersama Sasuke. Oh iya! Kenapa aku sama sekali tidak memikirkannya? Padahal biasanya aku selalu memikirkannya setiap saat.
"Sakura?" panggil Sai.
"Ya?"
Sai menyodorkan secangkir teh yang terdapat empat helai mawar merah mudah di dalamnya.
"Rose Tea… aku jadi merasa sayang untuk meminumnya. Kau pesan apa?"
"Cappucino..." jawabnya sambil memperlihatkan cangkirnya yang terdapat gambar bunga mawar di dalamnya.
"Wah, keren! Gambar mawarnya bagus sekali!" kataku. "Sai, apakah sehabis hujan ini berhenti, kita akan pulang?"
"Tidak, ada tempat yang ingin kuperlihatkan padamu."
"Ah… semoga hujannya lekas berhenti!" harapku.
Aku tersenyum pada Sai.
Kini, sambil melihat rintik hujan yang berirama menghujam bumi, aku malah ingin agar hujan ini tidak berhenti. Aku tidak pernah tahu bahwa hujan bisa menyenangkan seperti ini.
Sungguh, bagiku saat ini hujan bagaikan permata berkilauan yang jatuh dari langit.
"Rasanya aneh ya?"
"Ehm?"
"Padahal aku sudah biasa melihat hujan. Tapi, hujan kali ini terasa berbeda, terasa menyenangkan."
"Mungkin karena tempat atau waktu yang berbeda membawa suasana yang berbeda pula. Dan yang utama adalah perasaan kita saat menikmati apa yang ada di depan kita," kata Sai.
"Begitu ya… jadi asalkan kita menikmatinya, hal yang biasa pun bisa jadi menyenangkan?" tanyaku memastikan.
"Mungkin…"
Aku memandang hujan sekali lagi, menikmati udara dingin yang bersanding dengan secangkir teh hangat yang berada dalam genggaman kedua tanganku.
.
mmmoooonnn
.
Air yang turun dari langit telah berhenti menetes. Awan kelam pun perlahan-lahan tergantikan warna senja.
Ah… tak kusangka waktu cepat berlalu.
Aku melangkah keluar café, melangkah riang sambil menghindari genangan air yang memantulkan warna senja. Dan wangi tanah bercampur jadi satu dengan aroma mawar yang memabukkan.
Au menoleh ke langit, tidak pernah kusangka bahwa aku akan menyukai warna senja yang berkilau seperti ini. Aku menengok ke sekeliling, mencari sesuatu.
"Apa yang kau cari, Sakura?" tanya Sai.
"Pelangi…"
"Kalau begitu, ayo pergi ke suatu tempat sekarang."
"Kemana?"
"Di sini terdapat sebuah menara tua di ujung taman. Mungkin dari sana kau bisa melihat pelangi."
"Memangnya kita diperbolehkan pergi ke sana?" tanyaku.
"Tempat itu dibuka untuk umum, tapi tidak ada yang pergi ke sana. Mengingat kau harus mendaki tangga untuk mencapai ke atas. Kau keberatan?"
"Tidak! Ayo ke sana!" kataku semangat.
Kami berjalan menyusuri bunga mawar yang meliuk-liuk. aku baru menyadari bahwa susunan mawar di sini mirip seperti labirin, ditambah dengan banyaknya lorong-lorong yang dirambati mawar. Mungkin di situlah uniknya, membuatmu tersesat dalam balutan bunga mawar!
Sesampainya di dekat menara, lagi-lagi aku terkagum. Banyak mawar merambati dinding menara itu. Dan aku bisa melihat lukisan mawar merah besar yang mungkin mempunyai seratus kelopak mawar.
Kami mendaki tangga itu dalam diam. Saat aku menyentuh kayu penyangga tangga, aku merasa sesuatu yang kasar mengusik kulitku. Ternyata ukiran mawar lagi. Untung tidak ada durinya.
Tapi menurutku, mawar yang berduri terlihat lebih elegan. Cantik dan tidak bisa sembarangan disentuh.
Satu jam mendaki memang menguras tenaga. Pantas saja tidak ada yang ingin masuk ke menara ini. Kakiku hampir mati rasa.
"Sakura, lihatlah!"
Aku mendekat ke arah jendela yang terbuka lebar. Angin dingin menerpa leherku. Mungkin karena hujan tadi. Lalu aku menatap lurus di mana tangan Sai tertuju.
Aku menutup mulutku dengan ke dua tanganku.
Sekarang aku bisa melihat bagaimana indahnya matahari yang tenggelam di mana pelangi-pelangi berhamburan mendampinginya.
Indah sekali…
Warna senja yang begitu memikat, harum mawar yang memabukkan, pelangi yang berkilauan. Aku tidak menyesal harus mendaki selama satu jam lamanya, jika ini adalah hadiah yang kudapat. Karena jika saja aku tidak berada di sini, mataku tidak akan melihat pemandangan yang sangat menakjubkan ini.
"Satu lagi…" kata Sai sambil mengangkat telunjuknya lalu mengarahkannya ke bawah, "memang benar kalau pemilik tempat ini begitu mencintai mawar."
Aku melihat arah yang ditunjuk Sai.
"Ups! Wow! Sai, ini…" kerongkonganku tercekat.
Bunga-bunga mawar tidak terlihat karena saking kecilnya. Dan itu membuat semuanya nampak jelas. Aku mengerti mengapa ada banyak lorong-lorong bunga, mengapa aku merasa berada dalam labirin bunga.
Karena mereka membentuk sesuatu. Membentuk huruf yang menjadikan sebuah kata yang tepat menggambarkan apa yang dicintai dari pemilik tempat ini.
"Rosa…" kataku takjub.
"Menara ini pasti sengaja dibuat untuk menikmati pemandangan atas karya seni yang dibuatnya."
"Ya… pasti begitu," jawabku.
Selama beberapa menit ke depan kami menikmati semua pemandangan yang bisa kami lihat dari pemandangan ini.
Aku pasti akan datang lagi…
Aku melirik Sai.
Bersama Sai bukan pilihan yang buruk.
Aku pun tersenyum mengiyakan.
.
mmmoooonnn
.
"Sudah waktunya pulang. Ternyata berkencan tidak buruk juga ya?" kata Sai.
"Eh? Iya…" aku terdiam sejenak. "Sai, mengapa kau menerima pernyataanku?" tanyaku. Hah… pernyataan… kalau dia tahu jika aku salah orang, bagaimana ya?
"Jadi kau mau ditolak?"
Iya! Batinku dalam hati. Eh, tidak juga sih… jika itu terjadi, mungkin aku akan lebih malu daripada ini. Karena aku kan menyatakan perasaanku di depan umum.
"Bukannya seperti ini pacaran? Berangkat dan pulang sekolah bersama, kencan, dan lainnya. Menurutmu apa yang kurang?" tanyanya.
"Entahlah. Ehm… bergandengan tangan, saling mengucapkan kata cinta, berciuman, memberi cincin, dan entahlah…" kataku malu.
"Oh, kau tahu banyak? Memangnya kau pernah pacaran?"
"Aku mengetahuinya dari novel," jawabku acuh. Dan juga dari pengalamanku sebagai penjual obat nyamuk bersama Naruto dan Hinata.
"Sudah kuduga."
"Apa maksudmu, hah?" kataku tersinggung.
Sai menyodorkan sesuatu padaku. Oh, sebuah lukisan, lukisan berbagai macam bunga.
"Bunga apa ini?" tanyaku.
"Cari saja sendiri. Oh ya, kita sudah melakukan apa yang kau katakan, apa kita juga harus berciuman?" tanya Sai tenang.
Wajahku memerah mendengarnya. Ap-ap-apa yang barusan kudengar?
Sontak Sai mendekatkan wajahnya padaku, aku bisa merasakan sesuatu yang hangat menyentuh bibirku. Aku terlalu terkejut sehingga aku tidak mampu berkelit ataupun memberontak. Badanku terasa kaku, bahkan aku tidak sempat menutup mataku.
Beberapa detik ke depan aku bisa merasakan kalau nyawaku terbang entah kemana. Wajahku terasa memanas dan aku bisa merasa bahwa udara dalam tubuhku berhenti bergerak. Aku kaku.
Sai mengakhiri ciumannya, mengusap bibirku perlahan lalu menatapku dalam diam.
"Tinggal memberi cincin saja, kan?"
Dan pandanganku menjadi gelap seketika.
.
.
TBC
.
.
A/N
OOC GILAAA!
Adegan ciumannya maksa banget!
Ah, sakura pingsan…
Gimana caranya mereka turun nantinya? Yah, biarlah itu menjadi masalah mereka berdua*plak
Berdoalah semoga Sai masih bisa meneruskan hidupnya saat Sakura sadar nanti…
Ada yang suka mawar? Luna maunya jelasin panjang lebar, tapi takut nanti minna pada bosen. Daripada dijelasin, lebih enak liat langsung. Ah, pokoknya, mawar itu indaaah banget!
Sakura aja ampe lupa ama permusuhannya ama Sai….
Aih aih…
Maafkan luna yang telat update. Mule karang, gak bakalan deh….
Nah, berkenan Ripiu? Perlu dilanjutkan?
