Disclaimer :

Naruto milik Masashi Kishimoto

Semua nama produk yang tercantum di bawah ini milik penciptanya masing-masing

Inspired : Ghost Dormitory by Sucia Ramadhani

Genre : Mystery/Supernatural/Romance/Friendship/Humor

Warning : AU, AA, OOC, OOT, OC, typo(s), fail humour, alur berantakan, yaoi, dan ke-gaje-an lainnya yang tidak dapat disebutkan karena terlalu banyak.


Chapter 3 : Jalan Yang Tertutup Rapat Mulai Terbuka


19.20 p.m, malam hari di Berlin, Jerman | Asrama Faustian—

"Ini sudah yang ke empat kalinya, Herr," ucap Neji sambil menghela napas panjang.

"Ya, aku tahu itu—Neji,"

"Hmph, kita tidak tahu maksud dari tulisan itu, pergi dari ruangan itu atau pergi dari Asrama angker ini—"

"—Sasuke," potong Neji.

"Biasanya sih pergi dari Asrama ini. Kufufu~" sambung Sang Kepala Sekolah plus tawa abnormal yang dia curi dari seonggok nanas yang bermarkas di fandom sebelah.

... lupakan.

"Lalu? Kamu hanya duduk manis sambil meminum tehmu dengan anggun di sini?" Gaara yang dari tadi diam akhirnya buka mulut.

"Oya? Tentu saja tidak, Gaara—" jawab Herr Adriaan sambil tersenyum manis, "—tapi mungkin kali ini aku butuh bantuan kalian," sambungnya.

Sasuke dan Neji : "Sibuk."

Gaara : "Me too."

"Ck, ck, ck, tidak ada yang boleh menolak. Lagipula—ini pasti akan menarik,"

...

"Oh, ayolah. Neji—kau tidak ingin aku menebas kepala adikmu sepupumu yang manis itu kan?"

...

"Sasuke—Itachi sepertinya sangat enak disado,"

...

"Gaara—"

"Ja, ja. Terserahmu saja—dasar kakek tua!" seru mereka bertiga—tidak ingin mendengar kata-kata kejam yang akan keluar dari mulut Sang Kepala Sekolah.

"Gut! Kalau begitu, pukul sebelas nanti—datanglah ke sini! Dan, jangan panggil aku kakek tua,"

"Tapi umurmu sudah 251 tahun," jawab mereka bertiga—kompak—kemudian menghilang di tengah kabut yang menyelimuti tubuh ketiga anak itu.

"Hah~ Anak-anak itu. Ini pasti akan menarik—lebih menarik daripada tahun-tahun kemarin~" katanya riang sambil menyeringai senang.


Waktu yang sama, di kamar Naruto—

Naruto sedang duduk di kursi meja belajar sambil memegang Samsung Galaxy Note 2 ditangannya. Sudah berkali-kali dia menelpon Ayahnya, tetapi tetap saja tidak bisa.

Tarik napas—buang...

Seharusnya sekarang dia ada di rumah—rumah Mutternya, tentu saja—duduk manis di sofa dan melakukan tradisi Molybdomancy[1] yang biasa dia lakukan bersama Ayahnya—dulu setiap malam pergantian tahun. Tetapi sayangnya—Mutternya ada di luar kota, begitu pula dengan Vatternya.

'tok tok tok'

'cklek'

"Pasti Sasuke dan Neji!" gumamnya.

Naruto beranjak dari kursi dan membuka pintu kamarnya. Tetapi yang dia lihat saat membuka pintu hanyalah ruang santai yang kosong dan pintu ruangan yang terbuka lebar—tidak ada Sasuke dan Neji.

'Von hier aus fahren!' bisik seseorang. Naruto terkejut, keringat dingin mulai membasahi keningnya.

"Siapa?" tanyanya pelan.

"Naruto—" panggil seseorang.

Naruto menoleh—menemukan Sasuke dan Neji berada di ambang pintu dapur dengan Neji yang memakai celemek kotak-kotak berwarna hitam, "—ada apa?" tanya Neji datar.

'Sejak kapan mereka ada di sana?'

"Uh? Ah, tidak apa-apa," jawab Naruto, "Bagaimana kalau sekarang kita makan? Aku sudah lapar," ujar Sasuke.

Mereka bertiga berjalan menuju ruang makan—setelah Neji melepas celemeknya dan mencuci tangan. Saat ingin memasuki ruang makan, dari sudut matanya—Sasuke bisa melihat kepala manusia bergerak-gerak—tepat di depan pintu kamar Naruto.

"Uchiha, apa yang kamu lakukan di sana? Kamu bilang—" ucapan Neji terpotong oleh jawaban Si Bungsu Uchiha.

"Ja, ja."


22.50 p.m, malam hari di Berlin, Jerman | Asrama Faustian—

"Kamu takut, Neji?" tanya Sasuke. Sekarang Neji berada di kamar Sasuke.

...

"Takut? Sedikit, kamu tahu—aura yang kurasakan kali ini berbeda dengan yang pernah aku rasakan dulu—semoga rencana kakek tua itu bisa menyelesaikan semua ini," ujar Neji—alisnya menyerit tanda frustasi. "Ya, ayo kita pergi sekarang—Gaara sudah ada di ruang Kepala Sekolah," kata Sasuke pelan sambil menatap handphonenya.

"Ja."

"Kalian mau kemana?" tanya Naruto saat melihat Sasuke dan Neji berjalan melewatinya. "Ruang Kepala Sekolah, kami ada urusan dengan Si Kacamata itu," jawab Sasuke.

"Oh, baiklah. Guten nacht," ujar Naruto.

"Jaguten nacht,"

'blam'


23.00 p.m, Asrama Faustian | Ruang Kepala Sekolah—

"Wao, kalian berdua datang lebih cepat dari biasanya," kata Herr Adriaan sambil tersenyum manis—yang terlihat menjijikkan bagi ketiga murid-muridnya.

"To the point saja—" kata Gaara yang sudah muak melihat senyuman Sang Kepala Sekolah.

"Baiklah—ayo, ikut aku—kita akan ke Wald Redlirst."

...

Semua cengo—walaupun dalam hati.

"Hutan itukan—"

"Perbatasan antara Asrama Faustian dengan Labyrinth der Illusion?" tanya Neji. "Ya, memang itulah tujuan kita," jawab Herr Adriaan santai. "Untuk apa kita jauh-jauh ke sana sedangkan kita cukup menyelesaikannya di sini?" tanya Sasuke frustasi. "Ya. Bisa-bisa ki—"

'praang!'

Sebuah guci yang pecah adalah suatu tanda peringatan bagi ke tiga anak itu untuk menutup mulut mereka. Sepertinya Kepala Sekolah mereka sedang dalam mood yang tidak baik saat ini, dan mereka harus waspada agar tidak digantung di tengah hutan—atau yang lebih parah, dikutuk—dan tewas di tempat.

Akhirnya, mereka hanya diam dan mengikuti langkah kaki Herr Adriaan dalam diam.


23.13 p.m, di Asrama Faustian—

"*yawn* Umh, sebaiknya Aku tidur," kata Naruto kemudian beranjak dari sofa dan menuju kamarnya. Tepat saat dia memasuki kamarnya, semua berubah—tidak ada single bed, meja belajar, lemari pakaian, dan segala yang ada di kamarnya.

Naruto dikelilingi oleh pohon-pohon tinggi yang hampir setara dengan 70 pelukan orang dewasa—Naruto tidak bisa melihat cahaya bulan karena ditutupi oleh daun-daun pohon yang lebat.

Gelap. Dan Naruto tidak suka itu.

"—dimana? Ini dimana?"

Naruto berjalan pelan sambil melihat-lihat sekelilingnya. Berkali-kali Ia tersandung akar-akar pohon yang menyembul dari tanah.

'srek srek'

Langkah Naruto terhenti saat mendengar suara semak di sampingnya yang bergoyang, makin lama makin keras—Naruto ingin berlari, tetapi kakinya seakan ditusuk ribuan paku yang membuatnya tidak bisa bergerak.

...

"Aaaaaa!"


Wald Redlirst

"Aaaaaa!"

...

"Itu suara Naruto!" kata Neji kaget. "Bagaimana caranya dia bisa ada di sini?" tanya Sasuke panik.

"Tenang. Ayo kita ikuti arah suaranya," ujar Herr Adriaan, berusaha menenangkan murid-muridnya—walaupun dia sendiri panik.

Mereka berlari mengikuti arah suara Naruto, berusaha menebas rerumputan tinggi yang menghalangi jalan mereka dengan pedang di tangan masing-masing. "Itu Naruto!" seru Gaara sambil menunjuk seorang anak laki-laki berambut kuning jabrik yang terduduk di tanah dengan wajah pucat. Di depan anak itu—terdapat seekor serigala bertanduk hitam dan berbulu coklat gelap bersiap untuk menerkam mangsanya kapan saja.

"Sasuke!"

CRAASSH!

Cairan lengket berwarna hijau pekat itu menyebar ketika Herr Adriaan menebas kepala binatang aneh yang ingin memakan Naruto tadi. Sasuke langsung berlari dan menenggelamkan Naruto dalam pelukannya.

Hangat, udara dingin yang Naruto rasakan tadi sudah raib enah kemana, digantikan dengan kehangatan yang menjalar di seluruh tubuhnya ketika Sasuke memeluknya.

"Kau baik-baik saja, Naruto?"

Sebuah anggukan Sasuke rasakan di dadanya membuat senyuman tipis tersungging di bibir yang jarang tersenyum itu.

"Lebih baik kita kembali, terlalu berbahaya jika kita membawa Naruto," ujar Herr Adriaan sambil menuliskan sebuah kalimat berbahasa Jerman di tanah dengan pedangnya. Setelah itu, muncul sebuah portal—portal yang akan mengantarkan mereka kembali ke Asrama Faustian.

"Ayo," katanya.

Mereka berempat pun masuk ke dalam portal itu—mengakhiri perjalanan mereka—untuk hari ini. Kemudian menghilang digantikan dengan angin yang berhembus kencang.

Di balik kegelapan itu, sepasang mata berwarna kuning emas berkilat tajam dan menyeringai senang.

"Namikaze Naruto, aku akan memusnahkanmu!" desisnya. Kemudian menghilang di tengah kegelapan hutan yang diselimuti kabut merah.

00.14 p.m, di Asrama Faustian—

Sasuke dan Neji sedang berada di dalam ruang asrama Gaara—setelah membawa Naruto ke kamarnya dan dirawat oleh suster Eren. Suasana di ruang santai itu terasa berat, mereka berusaha mencerna dan menenangkan pikiran masing-masing agar tidak stress dan berakhir dengan mereka dikeluarkan dari kelas saat jam pelajaran besok.

Suasana yang tidak mengenakkan itu berakhir dengan teriakan penuh frustasi dari Gaara—yang langsung berlari menuju dapur—mengambil sebotol Coca-cola di dalam kulkas dan meminumnya dengan ganas.

Sasuke dan Neji sweatdrop. 'Segitu frustasinya kah dia?' batin mereka.

'cklek'

Semua menoleh—minus Gaara yang masih berkutat dengan Coca-colanya—menoleh ke arah pintu dan menemukan Herr Adriaan berdiri dengan senyum manis—menjijikkan, bagi mereka—terbingkai di wajah tampannya.

"Ada apa?" tanya Neji.

"Kufufu~ tidak ada," jawabnya kemudian menoleh ke arah dapur dimana Gaara berada, "Ada apa dengannya?"

"Stress," jawab Sasuke.

"Oh."

"Jadi—kamu ke sini hanya untuk mengatakan itu?"

"Sebenarnya—tidak, ada yang ingin kuceritakan pada kalian. Gaara?"

"Aku di sini, Herr," jawab Gaara yang sudah berada di samping Neji. "Baiklah, Aku mulai—"


Faustian dan Namikaze—adalah dua keluarga yang melahirkan penyihir-penyihir hebat dan berkuasa di dunia mereka—dunia dimana sihir adalah sesuatu yang wajar. Namun, bukan berarti dua keluarga itu saling membantu satu sama lain—melainkan sebaliknya.

Perselisihan antara dua keluarga itu semakin membesar—dengan terbongkarnya sebuah rahasia—bahwa Fürst der Finsternis dari Faustian memiliki hubungan dengan Prinzessin Illusion dari Namikaze dan seorang anak laki-laki bernama Alfonso Van Earnest Faustian—yang merupakan anak dari mereka.

Alfonso diketahui memiliki darah campuran—dan diramalkan akan membawa kedua keluarga itu dalam perdamaian. Namun—Faustian menolak ramalan itu dan berusaha membunuh Alfonso, sedangkan Namikaze berusaha untuk menyelamatkannya.

Dan terjadilah perang besar yang patut dimasukkan ke dalam buku hitam dunia sihir sebagai perang paling bersejarah di dunia mereka. Di perang itu, Fürst der Finsternis dan isterinya Prinzessin Illusion—membawa Alfonso ke dunia manusia—menyegel kekuatannya dan membuat tabir pelindung untuk anak semata wayang mereka.

Perang berakhir dengan sia-sia—sebagian dari keluarga Namikaze dan Faustian yang tidak memiliki urusan penting dalam perang itu melakukan perdamaian. Kemudian pindah ke dunia manusia dan berbaur dengan yang lainnya.

Sedangkan Alfonso Van Earnest Faustian—yang dibekukan dalam danau cermin—ditemukan oleh Namikaze Dai dan isterinya Elena Faustian. Alfonso—yang sekarang kita kenal dengan nama Namikaze Naruto—hidup tanpa kasih sayang dari Ibunya—Elena Faustian.

Namikaze Kyuubi dan Namikaze Deidara—yang juga merupakan darah campuran—berhasil dibunuh oleh Dietrich Faustian—kakak dari Elena Faustian yang ternyata masih memiliki hubungan dengan dunia sihir.

Sedangkan di dunia sihir, Fürst der Finsternis dan Prinzessin Illusion—terus berdoa untuk keselamatan anak mereka. Karena mereka tahu, suatu hari nanti—Alfonso Van Earnest Faustian akan bangkit kembali dan menjalankan tugas yang wajib dia selesaikan.


"Kamu lahir dari keluarga Faustian, kan?" tanya Neji sambil menatap horor Kepala Sekolahnya.

"Ja, tetapi aku tidak akan membunuh Naruto," jawab Herr Adriaan sambil tersenyum tulus. Ya, bukan senyum manis—menjijikkan—yang dia obral selama 24 jam, kemudian menoleh ke arah Sasuke yang hanya menatap lantai dengan tatapan datar.

"Aku ke kamar. Sampai besok," kata Sasuke kemudian beranjak keluar ruangan.

Di kamar Naruto—

Sasuke duduk di sebelah ranjang Naruto sambil memandang wajah manis itu dengan tatapan lembut.

"Aku akan menjagamu," katanya pelan dan mencium kening Naruto.


To Be Continued


[1] Warga Jerman melakukan tradisi Molybdomancy untuk menyambut tahun baru. Molybdomancy merupakan teknik kuno untuk meramal. Caranya dengan menuangkan timah panas ke dalam cairan air dingin kemudian diputar dalam lilin untuk menciptakan bayangan, yang bentuknya kemudian diinterpretasikan untuk memprediksi masa depan.

Herr = Tuan

Ja = Ya

Gut = Bagus

Guten nacht = Selamat malam

Fürst der Finsternis = Prince of Darkness

Prinzessin Illusion = Princess Illusion

Huooo~ Storia Nelle Tenebre update! Berbelit-belit yah? Kufufu~

Dan maaf, saya menistai Gaara, Neji, sama Sasuke /buangmuka /digampar

Sekali lagi, silahkan keluarkan semua uneg-uneg kalian tentang cerita ini di kotak review~

Terima kasih bagi yang sudah review/fave/alert/dan silent reader!

Kkhukhukhukhudattebayo : Bukannya ngga suka, tapi saya berusaha untuk tidak terlalu OOC /maksa padahal jadinya lebih hancur uwu" Ini udah update :D

gekikara greenilicious : Storia Nelle Tenebre artinya History In The Darkness—ngga nyambung, memang. Terima kasih atas koreksinya~ sudah saya edit :D

ringo revenge : Thanks! Kita sama-sama suka Jerman XD Terima kasih reviewnya, review lagi ya~ /maksa

namikaze shira : Semua—mungkin—pertanyaan anda sudah terjawab di sini~ Ini udah update, terima kasih reviewnya, review lagi ya!

Saki Michiru : Ini udah update~ Aaa, saya kira ceritanya ngga berasa apa-apa /emangmakanan?/ terima kasih reviewnya, review lagi ya~

kuromi zee

Happy New Year!


REVIEW PLEASE!