Amanite Phalloìde
Story by : Stellar Alerion
Desclaimer by: Masashi Kishimoto
Summary : Universitas Cambridge adalah universitas terbaik kedua setelah Universitas Oxford. Tapi dengan datangnya seorang murid baru yang mengubah sekolah itu menjadi sekolah yang berbeda.
Warning : AU, OOC, gender bending.
Chapitre troìs
Cambridge pukul 12.00 di kediaman Suigetsu.
"Ini aneh," kata seorang pemuda berambut coklat yang dikuncir ke atas dan memiliki bekas luka yang memanjang di hidungnya.
"Apa maksudmu, Iruka?" kata seorang lagi yang berambut perak dan sebagian wajahnya ditutupi oleh masker.
"Kakashi, coba perhatikan data ini!" kata Iruka sambil menyerahkan berkas-berkas.
"Dia meninggal tanpa ada bekas luka sedikitpun dan dari hasil laboratorium tidak ditemukan adanya penyakit atau zat berbahaya yang bisa membuatnya mati ada di dalam tubuhnya," kata Iruka menjelaskan apa yang sudah ia pelajari dari berkas tersebut, tapi dari nada bicaranya penuh dengan kecemasan dan sedikit ketakutan.
"Maksudmu, seakan nyawanya tercabut begitu saja?" tanya Kakashi sambil menyeritkan dahinya.
"Iya, seperti dicabut oleh malaikat kematian," kata Iruka yang kali ini benar-benar ketakutan.
"Hah. Kamu terlalu banyak membaca cerita fiksi, Iruka," kata Kakashi mencoba menenangkan patnernya.
"Tapi itu benar kan? Di ruangan tertutup, tidak ada sidik jari si pelaku, tidak ada bercak darah, juga dari hasil medis korban sama sekali tidak meminum obat-obatan yang bisa membuatnya meninggal," kata Iruka dengan nada yang meninggi tapi masih dengan perasaan takut dan cemas.
"Ya, mungkin kamu benar. Lagipula kejadian ini mirip dengan kejadian 15 tahun yang lalu," kata Kakashi sambil memeriksa mayat Suigetsu sekali lagi.
"Apa maksud perkataanmu tadi? Jadi kejadian ini pernah ada? Lalu apakah kejadiannya terselesaikan?" tanya Iruka.
"Satu-satu dong Iruka. Ya, seperti kataku tadi kejadian ini pernah ada 15 tahun yang lalu. Kejadian pembunuhan tebesar di kota ini, para korbannya pun juga mengalami kematian yang aneh, seperti ini dan kejadian itu sama sekali belum bisa terpecahkan sampai sekarang," jawab Kakashi sementara Iruka hanya menatap tak percaya.
"Panggil Izumo! Suruh dia menginterogasi orang terdekat korban!" perintah Kakashi.
Cambridge pukul 12.26 di Universitas Cambridge.
"Jadi pukul berapa kamu terakhir kali berbicara dengannya?" tanya seorang pemuda yang bernama Izumo ke seorang pemuda berkacamata yang bernama Kabuto.
"Sekitar pukul 11 malam," jawab pemuda itu dengan suara yang pelan sambil menyeka air matanya yang akan jatuh ke pipinya.
"Lalu apa yang kalian bicarakan?" tanya Izumo lagi.
"Kami bicara soal taruhan," kata Kabuto kali ini suaranya agak parau karena sudah tidak bisa menahan tangisannya.
"Taruhan apa?" tanya Izumo.
"Kami bertaruh tentang seorang gadis. Jika salah satu dari kami bisa mengajaknya berkencan maka kami akan memberikan apapun yang diinginkan oleh yang menang dan ternyata Suigetsu bisa mengajaknya. Padahal aku sudah membawakan apa yang dia inginkan tapi…" kata Kabuto yang sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi.
"Siapa gadis itu?" tanya Izumo.
"Naruto, Uzumaki Naruto," jawab Kabuto.
Cambridge pukul 12.50 di taman bunga Universitas Cambridge.
-Sasuke P.O.V-
Lagi-lagi kakiku melangkah sendiri dan langkahku ini menuju ke taman bunga itu. Dan entah mengapa aku merasa kalau aku pergi ke tempat itu pasti aku akan bertemu dengannya. Uzumaki Naruto. Gadis yang menarik perhatianku. Aku sendiri tak tahu, kenapa aku bisa tertarik dengannya. Padahal selama ini aku paling anti dengan yang namanya cewek.
Ternyata dugaanku benar dia ada disana tapi kali ini ia duduk di tengah taman dan dikelilingi oleh berbagai macam jenis bunga seperti bunga mawar merah, mawar putih, matahari, acacia, angelica, bluebell, dan masih banyak lagi dan dia terlihat begitu… indah. Sewaktu aku berjalan mendekatinya, aku melihat kumpulan mawar merah dan aku memutuskan untuk memberikan setangkai untuknya. Aku pun segera memetik bunga mawar merah itu dan berjalan mendekati gadis itu.
"Ini untukmu," kataku sambil memberikan setangkai mawar merah untuknya dan sepertinya dia kaget akan pemberianku.
"Ini untukku?" tanyanya tidak percaya.
"Iya," jawabku.
"Terima kasih," kata Naruto sambil tersenyum dan satu kata yang ada di pikiranku begitu melihat senyumnya adalah 'manis'. Ya, kata itu cocok untuknya saat dia tersenyum. Lalu aku pun duduk di sebelahnya.
"Kamu. Kenapa kamu memberiku bunga mawar merah?" tanyanya sambil menatapku dengan wajah penasaran.
"Entahlah, aku merasa bunga ini cocok untukmu," jawabku singkat, tapi dia langsung tertawa mendengar jawabanku. Karena bingung aku pun bertanya padanya, "Apa yang lucu dari jawabanku?"
"Hihihi. Tidak kok, tidak ada yang lucu. Jadi kamu memberiku bunga ini menurut isi hatimu?" tanyanya.
"Iya," jawabku polos.
"Memangnya kamu tahu arti dari mawar merah?" tanya Naruto lagi.
"Tidak," jawabku singkat.
"Aku cinta padamu."
"Eh?" kataku tak percaya. Sesaat aku merasakan kalau wajahku memanas dan aku berpikir kalau gadis ini menyatakan cintanya padaku, tapi…
"Arti dari mawar merah itu," katanya lalu manatap wajaku yang sedari tadi ia menatap bunga yang kuberikan padanya.
"Hei, kamu tidak apa-apa? wajahmu memerah, kamu sakit?" tanya Naruto yang menyadari kalau wajahku memerah sementara aku hanya diam, aku bingung harus berkata apa padanya.
"Atau tadi kamu sempat berpikir kalau aku menyatakan cinta padamu ya?" katanya menggodaku.
"Eh?" cuma itu yang bisa kukatakan dan mendengar perkataan Naruto yang terakhir wajahku semakin memerah. Aku yakin saat ini wajahku lebih merah daripada tomat, buah kesukaanku dan aku bisa melihat kalau ia tertawa kecil melihat reaksiku.
"Ternyata dugaanku benar," katanya lalu tetawa lagi. Tapi tawanya berhenti ketika ia melihat sesuatu.
"Ah, tanganmu berdarah," katanya begitu melihat tanganku. Aku sendiri tidak menyadari kalau tanganku terluka mungkin gara-gara memetik mawar merah tadi.
"Kemarikan tanganmu," kata Naruto. Aku pun menuruti apa yang diperintahkannya dan ia segera membersihkan darah yang ada di tanganku dengan sapu tangannya. Tiba-tiba ia berhenti membersihkan darah yang ada di tanganku lalu bangkit berdiri dan berkata, "Aku harus segera pulang. Au revoìr (1)."
Aku hanya menatapnya pergi dan sepertinya aku juga harus pulang lalu mencuci sapu tangan miliknya.
Cambridge pukul 18.49 Kediaman Uchiha.
"Aku pulang," kataku begitu aku masuk ke dalam rumahku.
"Otouto, kamu sudah pulang…" teriak suara seseorang dari dalam rumah dan aku tahu siapa yang berteriak, dia adalah kakak laki-lakiku, keluargaku satu-satunya. Ayah dan ibuku sudah meninggal 15 tahun yang lalu dalam kecelakaan pesawat, sedangkan aku yang masih kecil dan tidak tahu apa-apa hanya menganggap kalau mereka hanya tertidur. Ya, mereka tertidur untuk selamanya.
"Tumben, kamu pulang cepat? Biasanya aku harus meng-SMSmu ata meneleponmu dulu baru kamu pulang," kata aniki yang sedang berkutat dengan laptopnya.
"Hn. Sudahlah, aku mau mandi dulu," kataku meninggalkan dia yang masih berkutat dengan laptopnya. Tapi, kalau aku mengingat kejadian tadi siang aku tersenyum sendiri karena baru pertama kali ini seorang Uchiha Sasuke bersikap ge-er. Kalau aniki melihatnya pasti dai akan mengira aku sudah gila karena tersenyum sendiri.
Ely pukul 22.08
Normal P.O.V
"Huh, merepotkan. Kenapa malam-malam begini aku harus ke Ely padahal jaraknya 14 mil dari Cambridge," kata Shikamaru yang saat ini berada di suatu pedesaan di Ely karena harus mengambil tanduk rusa tapi saat dia sedang berjalan menuju penginapannya, ia melihat dua orang yang berjalan di kegelapan dan salah satu dari kedua orang itu sangat familiar bagi Shikamaru.
"Dia kan…" gumam Shikamaru, karena penasaran dengan apa yang akan dilakukan atau lebih tepatnya akan kemana dua orang yang ia lihat, maka Shikamaru pun mengikutinya hingga mereka masuk ke sebuah hutan yang dekat dengan desa tempat penginapan Shikamaru. Tapi sayangnya orang yang daritadi dibuntuti oleh Shikamaru menyadari keberadaannya.
"Nona," kata seseorang yang bersama dengan orang yang dikenal oleh Shikamaru.
"Ya, aku tahu Jugo," kata orang yang dikenal oleh Shikamaru.
"Bagaimana kalau kita ketahuan…" kata Jugo kawatir.
"Tenanglah, aku akan membereskan dia karena dia sudah berani mengikuti kita. Lagipula aku mengenal siapa dia jadi membereskannya adalah hal yang mudah. Sekararang kita temui ayah dan ibu dulu," kata orang yang dipanggil nona oleh Jugo.
"Baik nona," kata Jugo, setelah mengatakan hal itu mereka langsung menghilang dalam kegelapan. Sementara Shikamaru hanya mengumpat dalam hatinya karena gagal mencari tahu atau lebih tepatnya mengikuti kedua orang itu. Dia juga mempunyai firasat buruk tentang salah satu orang dari kedua orang itu, entah kenapa di dalam hatinya ada sebuah keyakinan kalau orang yang dia kenal akan menyebabkan masalah yang sangat besar. Karena gagal mengikuti mereka, Shikamaru memutuskan untuk pulang ke penginapannya.
Setelah Shikamaru sampai di penginapannya ia segera mengeluarkan ponsel miliknya dan mengirim sebuah sms ke seseorang. Begitu di layar ponselnya memberikan tanda kalau pesan sudah disampaikan, ia menunggu beberapa saat kalau orang yang dikirimi pesannya akan membalas, ternyata orang itu tidak membalas sms dari Shikamaru. Tiba-tiba Shikamaru teringat kejadian tadi siang di kampusnya dimana sahabatnya sedang bercanda dengan orang itu.
"Berhati-hatilah padanya, Sasuke," kata Shikamaru sambil menatap jendela kamar penginapannya dan menampilkan langit yang berwarna hitam pekat, tanpa bintang hanya sebuah bulan dengan bentuk yang bulat sempurna dan terlihat sangat besar bersinar menerangi malam itu, hanya saja sinarnya berbeda dari yang bisanya. Kuning kehijauan, membawa kesan mengerikan pada malam itu sekaligus pertanda buruk.
Ely pukul 00.00 di sebuah kastil di pedalaman hutan.
"Ayah, ibu aku pulang," kata seorang gadis berambut pirang dan bermata biru jernih yang berpakaian serba hitam begitu memasuki aula besar di kastilnya.
"Selamat datang gadis keciku yang manis," kata seorang pria yang mirip dengan gadis itu yang muncul dari arah lain tempat dimana gadis itu berdiri.
"Ibu mana?" tanya gadis itu.
"Ada di tempat biasa," kata pria itu. Sebelum anak perempuan kesanyangannya pergi meninggalkan ruangan itu ia bertanya pada anak perempuannya, "Bagaimana di Cambridge?"
"Menyenangkan. Aku juga menemukan seseorang yang menarik perhatianku," jawab anak perempuan itu lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
"Tuan," kata Jugo sambil berlutut.
"Ada apa?" tanya pria itu dengan penuh kewibawaan.
"Tadi ada yang mengikuti kita sewaktu kita akan ke sini. Tapi nona bilang ia akan membereskan orang itu, apa tidak apa-apa?" tanya Jugo dengan nada cemas.
"Kamu tidak perlu cemas Jugo. Biarkan dia melakukan apa yang dia sukai. Sekarang kamu boleh kembali ke tempatmu," kata pria itu.
"Baik Namikaze-sama," kata Jugo lalu dalam seketika dia menghilang dari tempat itu.
"Hah. Bulan yang indah, semoga kali ini anakku tidak akan bernasib sama dengannya," kata pria yang dipanggil Namikaze itu sambil melihat bulan yang bersinar terang lalu pergi ke arah dimana anak perempuannya pergi.
Chapitre troìs Fin.
Omake
"Gawat, aku tersesat," kata Shikamaru begitu mengetahui posisinya yang ada di tengah hutan yang cukup jauh dari desa dan tidak ada seorangpun ada di sekitarnya.
"Aku akan mencoba menghubungi penginapan tempatku menginap, untung saja aku punya nomornya," kata Shikamaru lalu mengeluarkan ponsel Nokia E72-nya, sayangnya yang ada tulisan yang terlihat jelas di layar ponselnya yaitu tulisan "NO SIGNAL"
"Sial," umpat Shikamaru dalam hati. Karena sebegitu kesalnya Shikamaru langsung berteriak, "SOMEONE HELP ME!".
Sementara itu di tempat Jugo dan nonanya.
"Nona, sepertinya saya mendengar teriakan minta tolong," kata Jugo.
"Biarkan. Paling-paling hanya pemburu yang tersesat," kata nona itu.
"Pemburu? Di malam hari? Sepertinya bukan pemburu nona. Tapi bagaimana kalau orang itu adalah target Anda selanjutnya?" tanya Jugo.
"Justru malah bagus, Jugo. Jadi aku tidak perlu susah-susah membunuhnya biar sekalian saja dia dimakan binatang buas yang ada di hutan ini," jawab nona itu dengan santainya.
Catatan kaki.
Au revoìr = bye
