Haii Haiii.. Masih ada yang ingat ff ini?
maaf Lunny update lama hehe
Selamat membaca ^^
.
.
.
TITTLE : THE TIME
Cast : - Oh Sehun
- Xi Luhan ( GS )
- Oh Yi Fan
Length : Chaptered
Genre : Sad, Romance, Drama
Rate : T aja dulu :p
.
.
.
PRANGGGGGG
"Sehunnnnnnn ! " Kris terpekik kaget mendengar suara gelas berbentur dengan lantai. Sehun mencoba meraih apa saja yang bisa menjaga tubuhnya. Nafasnya memburu. Luhan dan Kris segera berlari menghampirinya. Sehun sangat benci saat seperti ini. Saat ia terlihat lemah dihadapan orang lain.
" Sehun apa kau sudah meminum obatmu? " Tanya Kris dengan cemas. Dia sungguh tak ingin hal buruk terjadi pada adik tersayangnya ini. Sehun hanya menggeleng samar.
" Luhan, tolong jaga Sehun sebentar. Aku akan mengambil obatnya sebentar " Luhan hanya mengangguk pada Kris yang langsung berlari ke arah kamar Sehun. Luhan berusaha membantu mendudukkan Sehun di sebuah kursi. Luhan juga merasa sangat khawatir mengenai penyakit yang di derita oleh adik kekasihnya ini. Ia berjongkok di samping sehun, menyangga tubuhnya dengan kedua lututnya. Ia meraih kedua tangan Sehun, berharap mengurangi sakit yang dirasakan oleh Sehun.
" Tenang Sehun... Ada apa denganmu? " Suara Luhan terdengar sangat lembut ditelinga Sehun. Tangan Luhan bergerak ke dada Sehun, mengelusnya perlahan. Mata Sehun terpejam merasakan semua perlakuan Luhan. Luhan begitu sabar mengelus dadanya, tepat dijantungnya. Dan ajaibnya nafasnya mulai teratur. Ia membuka matanya yang langsung bertabrakan dengan iris bening Luhan. Mereka saling melempar tatapan yang sulit diartikan.
Kris yang datang segera membuka obat – obat yang harus diminum Sehun. Melihat Sehun yang lebih tenang, seakan mengembalikan nafas Kris yang beberapa menit yang lalu seakan diambil paksa. Sehun menyandarkan kepalanya ke punggung kursi. Ia menarik nafas dalam, memenuhi paru – parunya yang tadi seakan hampa udara.
" Apa kita perlu ke rumah sakit? " Tanya Kris sambil memegang bahu adiknya. Sehun hanya mengangkat kelima jarinya ke udara. Tanda ia menolak. Sehun perlu beberapa waktu untuk memulihkan tenaganya walau hanya dengan mengeluarkan suara.
Luhan masih memandang Sehun dengan khawatir. Baru kali ini ia melihat secara langsung jantung Sehun berkontraksi. Ia memang tau mengenai penyakit Sehun, namun baru kali ini ia melihat Sehun kesakitan seperti ini. Ada hal yang mengganggu pikirannya sedari tadi mengenai kambuhnya penyakit Sehun, tapi ia terlalu takut.
" Se- Sehun-ah, apakah daging termasuk makanan yang tidak boleh kau makan? " tanya Luhan takut – takut. Sehun tersenyum tipis, lalu ia mengangguk pelan. Tubuh Luhan bergetar. Ia sangat takut saat ini. Bagaimana jika hal yang buruk terjadi pada Sehun? Bagaimana jika Sehun... Tanpa sadar Luhan meneteskan air matanya. Kris yang melihat itu memeluk Luhan. Ia mencoba menenangkan Luhan. Kekasihnya ini benar – benar ketakutan. Luhan memang tau semua mengenai penyakit Sehun karena Kris selalu menceritakan kepadanya. Sebenarnya, tidak apa jika Sehun mengkonsumsi daging, tetapi ia dilarang makan terlalu berlebihan. Namun, itu peraturan lalu. Seiring dengan kondisinya yang semakin memburuk, sekarang Sehun dilarang untuk memakan daging.
" Ssstttt... Jangan menangis Chagiya, ini bukan karenamu. Aku juga lupa tadi tidak mengingatkan Sehun " Kris juga merutuki kebodohannya membiarkan Sehun memakan kkimbab tadi. Kris masih mengelus tubuh Luhan yang masih menegang.
Entah mengapa Sehun merasa tidak suka jika mata indah Luhan dinodai dengan air mata. Ia menatap mata Luhan yang masih mengeluarkan cairan bening. Mata mereka saling menatap, karena Kris memeluk Luhan dengan posisi membelakangi Sehun. Luhan merasa sangat bersalah pada Sehun. Ia sangat takut melihat Sehun kesakitan seperti itu. Tangan kanan Sehun terangkat menepuk pelan poni Luhan dengan menggumamkan kata tanpa suara ' Gwenchana Noona '.
Sehun sungguh tak mengerti kenapa tiba – tiba dadanya begitu sesak setelah melihat Luhan dan Kris... ehm. Menyebutkan kegiatan mereka tadi saja sudah membuat perut Sehun terasa melilit. Ini bukan pertama kalinya Sehun melihat sepasang sejoli itu bermesraan, walaupun ini pertama kalinya ia melihat mereka sedang... ahh! Sehun benar – benar benci harus menyebutkan kegiatan mereka tadi. Mendadak ia kesal. Seakan ada rasa... tidak rela
.
.
.
.
Sehun sibuk dengan buku pelajarannya ketika Kris masuk ke kamarnya. Setelah kejadian tadi pagi Kris menyuruhnya untuk beristirahat di kamarnya. Kris mendudukkan diri di tepi kasur Sehun. Ia mengangkat kedua kakinya menyila sambil memandangi Sehun. Yang dipandangi tetap menjalankan aktivitasnya tanpa menoleh ke arah Kris. Sejenak ia menghela nafas.
" Bukankah tadi kau ku suruh beristirahat? Kenapa kau malah berkutat dengan buku – bukumu itu?" Kris membuka suara.
" Aku tidak mau membuang – buang waktuku hanya dengan tidur hyung " jawab Sehun datar.
" Kau bisa menundanya besok Sehun, tadi pagi kau sedang kambuh " Kris mencoba bersabar dengan adiknya ini.
" Siapa yang menjamin kalau besok aku masih bisa belajar? " Jawab Sehun sambil menggedikkan bahu.
" Berhenti mengucapkan hal – hal bodoh Sehun " geram Kris dengan menekankan ucapan pada setiap katanya.
" Aku tidak mengucapkan kebodohan. Dokter sendiri yang bilang jika hidupku-"
" BERHENTI OH SEHUN! " Kris bangkit dari duduknya memandang marah pada adiknya yang sampai saat ini tak sedikitpun memandang ke arahnya. Sehun sedikit tersentak, pasalnya ini pertama kalinya Kris membentaknya. Ia menghentikan kegiatannya, perlahan ia membalikkan badannya menghadap Kris.
" KAU! " Kris mencoba mengontrol emosinya " Berhenti mendengarkan omong kosong Dokter brengsek itu ! Dia bukan Tuhan Oh Sehun. Dia tidak bisa menentukan seberapa panjang umurmu." Kris berjalan mendekati Sehun. Ia cengkram kuat – kuat bahu Sehun. Seakan ia menyerahkan seluruh harapan pada adiknya itu.
" Selama ini kau sudah terlalu banyak berjuang Sehun, apakah kau akan rela melepaskannya begitu saja? Semua disini, Aku, Eomma, Appa, dan Luhan menggantungkan harapan padamu. Kau harus bisa hidup lebih dari ini. Kau-"
" Itulah Hyung, mungkin pundakku ini sudah tak kuat lagi memikul harapan kalian. " Tangan Kris jatuh begitu saja dari pundak Sehun. Ia menatap nanar ke arah adik tercintanya ini. " Pundakku, sudah lapuk " lanjut Sehun sambil menepuk keras bahu kirinya.
" Tak bisakah Kami kau jadikan alasanmu untuk bertahan hidup? " bisik Kris sangat lirih namun masuh ditangkap oleh indera pendengaran Sehun.
' Kalian adalah alasanku untuk menghentikan semua kesakitan ini '
" Mianhe... " Lirih Sehun sambil menundukkan kepalanya.
Kris tidak mengerti ada apa dengan adiknya sekarang. Dulu Sehun sangat bersemangat untuk melawan penyakitnya. Seketika masa kecilnya bersama Sehun menyeruak kepikirannya.
Flashback
Duk.. Duk.. Duk
Bunyi bola basket terdengar di lapangan samping taman sebuah kompleks perumahan elit. Terlihat seorang anak laki – laki tengah berkutat memasukkan bola ke dalam ring. Di pinggir lapangan terdapat anak laki – laki yang lebih muda tengah duduk manis di bangku penonton. Ia memandang kagum anak laki – laki yang sangat lihai memainkan bola basket. 'Hihi Hyungku memang hebat' serunya dalam hati.
Kris menyelesaikan lemparan terakhirnya ke arah ring. Ia berlari menuju adiknya yang sudah siap menyodorkan botol air minum dan handuk kecil.
" Gomawo.. " Ucap Kris terengah sambil meraih botol dan handuk dari tangan Sehun. Senyum kekaguman tak pernah lepas dari wajah rupawan sehun.
" Hyung sangat keren! Kapan – kapan ajari Sehun main basket ya " seru sehun penuh semangat.
" Tidak bisa Sehun, kau masih sakit " Tolak Kris setelah meneguk airnya. Seketika senyum Sehun berubah menjadi suram. Ia mengerucutkan bibirnya lucu mengingat penyakit yang sangat mengganggunya ini. Ugh! Dasar penyakit menyebalkan! Umpat Sehun dalam hati.
Melihat wajah Sehun yang berubah ditekuk membuat Kris tersenyum memandangi adiknya ini. Ia mensejajarkan tubuhnya dengan Sehun.
" Heii... Kenapa kau bersedih? Kau masih punya banyak waktu untuk belajar basket " Ucap Kris sambil mengusk rambut halus Sehun. Wajah Sehun kembali berbinar.
" Benarkah? Hyung mau menungguku sampai aku sembuh? " Tanya Sehun antusias yang dibalas Kris dengan anggukan. " Sampai kapanpun? " Tanya Sehun memastikan.
" Sampai kapanpun itu Sehun.. " Jawab Kris tulus
" Tapi jika aku tidak sembuh – sembuh bagaimana Hyung? " Sehun kembali menekuk wajahnya.
" Heeiiii. Itu bukanlah jagoan keluarga Oh. Jagoan Keluarga Oh akan selalu optimis dengan apa yang diinginannya. Selalu menatap lurus, walaupun jalan setapak atau taman berduri yang harus ia lewati. Dan kau Oh Sehun, kau harus memiliki jiwa seperti itu " Kata Kris sambil mengepalkan tangan dengan dramatis.
Sehun sangat kagum dengan sosok Hyungnya ini. Ia bertekad suatu saat ia harus lebih hebat dari Hyungnya. Ia bisa menaklukan seluruh waktu yang membelenggu hidupnya. Ia pasti bisa melewati lebih dari ini. Dan ia rasa itu HARUS baginya.
" Emm! Sehun akan menjadi jagoan kebanggaan Keluarga Oh. Suatu saat aku pasti lebih hebat bermain basket daripada Hyung " Ucap Sehun mantap. Kris hanya terkekeh sambil mengusak lagi rambut Sehun.
Flasbak End
Masih sangat jelas dalam ingatan Kris wajah bersungguh – sungguh yang ditampakkan Sehun saat itu. Dan Kris sangat yakin Sehun mengucapkan dengan hati dan pikirannya. Tapi kenapa Sehun sekarang berbeda? Apa ia telah lelah menghadapi sakitnya selama ini? Tidak. Dia tidak akan rela penyakit sialan itu akan merenggut semua waktu yang dimiliki adiknya. Sehun harus sembuh. Dan ia rasa itu HARUS.
.
.
.
Sehun keluar dari gerbang sekolahnya. Ia menghembuskan nafas sejenak. Hari ini seminggu setelah kejadian ia berdebat dengan Kris. Sehari setelah kejadian itu hubungan mereka kembali normal. Yah, kakak – beradik itu tak pernah bisa bertengkar dalam waktu yang lama. Sebetulnya mereka jarang bertengkar, karena mereka berdua saling menyayangi.
Ia mendongak menatap langit seoul yang akhir – akhir ini mendung. Sangat tidak mendukung suasana hatinya yang entah mengapa sedang cerah. Rasanya ia ingin berteriak segirang – girangnya. Tapi dia sadar, wajah poker facenya ini harus selalu terpampang diwajahnya. Sehun terlalu gengsi memperlihatkan secara berlebihan deretan gigi – gigi putihnya dengan kata lainnya nyengir seperti kuda. BIG NO!
Sehun berhenti di depan gerbang sekolahnya. Celingak – celinguk mencari seseorang. Entah mengapa mengingatnya membuat Sehun tersenyum dalam hati. Apakah mungkin suasana hatinya dipengaruhi oleh sms dari... Luhan Noona
From : Luhan Noona
To : Sehun
Sehun-ah, nanti pulang sekolah Noona yang jemput.
Kau mau menemani Noona ke suatu tempat kan?
From : Sehun
To : Luhan Noona
Tentu Noona.
Entah mengapa setelah menerima pesan dari Luhan tadi, sehun tak henti – hentinya memandang jam tangannya saat pelajaran berlangsung. Ia seolah tak sabar menunggu bel pulang. Sehun melirik jamnya lagi, mungkin sebentar lagi. Lima menit berlalu muncul lah mobil audi putih yang berhenti di depan Sehun.
Luhan membuka kaca mobil, sehingga Sehun bisa melihat wajah cantik bak porselen milik Luhan.
" Sehun-ah masuklah.. " Kata Luhan semangat. Sehun mengangguk dan segera memasuki mobil milik Luhan.
" Kau menunggu lama ya? " Tanya Luhan sambil melirik Sehun sekilas karena ia tengah menyetir kali ini.
" Tidak terlalu Noona " Jawab Sehun tetap memandang kedepan. Luhan hanya menanggapinya dengan mengangguk – aggukkan kepalanya. Sesaat tak ada percakapan diantara keduanya. Luhan sibuk menyetir, Sehun dengan pikirannya sendiri.
" Kita mau kemana Noona? " Sehun mencoba memecah kesunyian.
" Besok kan Kris ulang tahun, tolong antarkan aku untuk membeli kado untuknya ya?" Sehun tersenyum singkat mendengar nada lucu dari suara Luhan.
" Aku tak bisa untuk bilang tidak Noona " Jawab Sehun. Mereka berdua terkekeh bersama.
Benar, besok adalah ulang tahun Kris. Sehun tentu tak lupa dengan ulang tahun Hyung tersayangnya itu. Ia juga telah menyiapkan hadiah untuk Kris. Ia tersenyum tipis mengingat hadiah yang akan ia berikan pada hyungnya. Ia ingin kembali mempertahankan waktunya lagi. Walaupun sedikit ragu, ia tidak ingin doa yang dipanjatkan keluarganya sia – sia. Selama seminggu terakhir ini Sehun banyak berpikir, tidak akan menghempaskan harapan orang – orang yang telah berjuang untuknya. Demi Kris, Eomma, Appa, dan juga... Sehun melirik kearah samping kanannya, gadis bernama Luhan ini.
Luhan melambatkan mobilnya saat mendekati mall di daerah Apgujeong. Hari ini mall sangat ramai. Terlihat dari kemacetan yang terjadi di depan mall.
" Sepertinya sudah tidak ada tempat parkir di dalam basement. " Gerutu Luhan pelan.
" Parkir diseberang jalan saja Noona. Nanti keluarnya juga tidak susah " Tunjuk Sehun pada lahan parkir diseberang jalan Mall. Tempat itu memang disediakan jika basement tak mampu lagi menampung (?) mobil pengunjung.
Luhan mendapatkan parkir satu blok sebelum Mall. Cukup jauh, tapi tak apalah jalan kaki, hitung – hitung olahraga di siang hari.
"Sehun aku membawakanmu baju. Milik Kris sih, muat kan? Aku tidak mau di kira membawa kabur anak sekolah yang sedang membolos". Sehun terkekeh mendengar ucapan Luhan.
" Gomawo Noona " Ia meraih kaos berwarna abu – abu dengan lengan berwarna biru dongker. Sehun membuka jas sekolahnya. Tapi Luhan buru – buru mencegahnya.
" Kau.. tidak berpikir akan mengganti baju disini kan? " tanya Luhan sambil menatap Sehun ngeri. Ia melirik kearah jalan raya. Oh God, tolong ini berada pinggir jalan. Dan kondisinya saat ini jalanan sedang ramai sekali. Sehun terbahak dalam hatinya melihat tampang takut – terkesan imut – yang ditunjukkan Luhan.
" Wae Noona? " Sehun menaikkan alisnya berpura – pura cuek. Sehun benar – benar melepaskan jasnya. Dengan gerekan yang sedikit errr menggoda, Sehun mendekatkan bibirnya pada telinga Luhan " Noona takut tergoda jika melihat bentuk tubuhku? " Bisik Sehun dengan suara husky. Luhan mendelik pada Sehun. Pipinya tiba – tiba memanas.
" BIG NO! " Sentak Luhan sambil memalingkan badannya dari Sehun. Ugh! Luhan mengutuk Sehun seketika. Sehun tertawa terbahak – bahak melihat tingkah lucu Luhan. Ohh, tak taukah kau Sehun pipi Luhan saat ini benar – benar seperti kepiting rebus. Masih dengan sisa tawanya Sehun memasuki mobil Luhan dan mengganti bajunya di dalam sana.
Sementara Luhan masih mengontrol darahnya yang tadi sempat berdesir. Ia menepuk – nepuk kedua pipinya agar semburat merah itu cepat hilang. Huhh, Luhan sangat kesal pada Sehun. Namja itu selalu saja menggodanya, menyebalkan. Setiap mereka bertemu Sehun tak pernah absen untuk menggodanya. Luhan masih sibuk merutuki Sehun tanpa menyadari jika Sehun telah selesai mengganti bajunya. Tiba – tiba sebuah lengan kekar merangkul pundaknya.
" Kajja Noona, Pangeran tampan sudah siap " ucap Sehun penuh percaya diri. Luhan berdecih mendengar Sehun
" Kau sama narsisnya dengan hyungmu " Sewot Luhan. Sehun hanya tersenyum. Mereka lalu melanjutkan menyebrang jalan menuju Mall. Tapi jika dilihat, mereka cenderung seperti sepasang kekasih. Lihatlah tangan Sehun yang masih bertengger manis di bahu Luhan. Memberi kesan bahwa Sehun akan selalu menjaga Luhan. Tapi bagi Sehun, itu bukanlah sekedar kesan.
.
.
.
.
Luhan dan Sehun telah memasuki mall yang hari ini dipenuhi banyak pengunjung. Mungkin karena ini akhir minggu, jadi banyak warga Seoul memutuskan untuk mengunjungi mall ini. Entah untuk berbelanja, hanya berjalan – jalan, makan siang, atau apapun itulah.
Mereka memutuskan untuk mengisi perut mereka terlebih dahlu. Mereka tak mau saat di tengah – tengah asik berbelanja, salah satu dari mereka nanti akan merengek mengeluh makan ataupun menahan lapar.
Luhan dan Sehun memutuskan mendudukkan diri di meja di tepi ruang food curt yang langsung mengarah pada pemandangan kota Seoul di siang hari. Food Curt ini berada di lantai paling atas, yaitu lantai 7 dari gedung mall ini. Jadi kaca yang ada di depan samping mereka saat ini bisa menampakkan view yang sangat indah, apalagi saat malam hari. Pasti akan terasa romantis.
Luhan menolehkan kepalanya kearah luar kaca. Sedikit menilik suasana di bawah gedung. Ia merasa bergidik sendiri melihat manusia – manusia yang terlihat bagai liliput, yang menyadarkan dia jika ia sekarang berada ada lantai tertinggi. Ia merasa tubuhnya bergetar seketika. Sehun yang melihat tingkah aneh Luhan langsung menggenggam tangan Luhan. Dan ia merasakan tangan Luhan dingin dan berkeringat. Luhan menoleh kearah Sehun dengan pandangan pucatnya.
" Apa yang mengganggu pikiranmu, Noona? Are you okay? " Tanya Sehun sambil mengelus pelan tangan Luhan seakan menyalurkan sebuah ketenangan. Jujur saat ini wajah Luhan terlihat pucat, seperti orang ketakutan? Entahlah...
" Emm.. Hanya phobia bodoh tentang ketinggian " Jawab Luhan sambil menggedikkan bahunya berusaha menetralkan degub jantungnya yang menggila. Sedikit demi sedikit ia mulai merasa tenang dengan tangan Sehun yang menggenggam tangannya.
Sehun tersenyum, ia baru mengetahui sebuah fakta jika Luhan takut akan ketinggian. Ia masih menggenggam tangan Luhan yang saat ini sudah agak menghangat karena aliran suhu ditangannya mengalir perlahan pada diri Luhan.
" Kita bisa pindah jika Noona tidak tahan " tawar Sehun lembut. Luhan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum manis. Selalu sukses memberi sengatan – sengatan kecil di hati Sehun.
" Tidak perlu... Aku anggap ini terapi ". Ucap Luhan menenangkan. Tapi Sehun merasa tak percaya begitu saja dengan ucapan Luhan yang seakan dibuat tenang. Sehun beranjak dari tempat duduknya.
" Aku tidak mau Noona makan dengan tidak tenang " Sehun menarik tangan Luhan menuju meja yang agak jauh dari kaca besar ruang food curt. Luhan membuka mulutnya hendak protes, tapi melihat genggaman tangan Sehun yang sangat erat seolah tak terbantahkan membuatnya mengatupkan mulutnya kembali dan memilih menuruti Sehun.
Dari tempat mereka saat ini, mereka hanya bisa melihat langit cerah pada siang hari. Mereka kembali dalam percakapan – percakapan hangat sebelum pesanan makanan mereka datang. Setelah itu mereka makan dalam diam.
.
.
.
.
Seorang pemuda dengan badan atletis tengah menyusuri koridor kampus dengan banyak berkas di kedua tangannya. Ia tampak terburu – buru menuju ruangan dosen pembibingnya saat ini. Pasalnya ia tak ingin telat sedetikpun, atau Dosennya akan berubah pikiran untuk segera meloloskan skripsinya. Kris seolah tak mementingkan keadaan sekitar, sampai – sampai seorang yoeja mungil nan manis yang tengah memanggil – manggilnya dari tadi tak ia hiraukan. Yeoja yang terus memanggil kris dari tadi membuang nafas sejenak. Ia mengerucutkan bibirnya sebal. Ia telah menghentikan acaranya memanggil namja tampan itu setelah melihat Kris menghilang pada belokan ruangan dosen di ujung koridor.
Dasar naga menyebalkan. Umpatnya dalam hati
Ia menghembuskan nafas sekali lagi. Hari ini kuliahnya telah usai. Dan tidak ada kegiatan yang perlu dilakukannya hari ini. Sepertinya, menunggu si Naga itu selesai menemui dosen juga tak terlalu buruk. Ia melangkahkan kaki menuju taman yang berada di depan ruangan Dosen yang tadi dimasuki Kris. Yeoja imut itu mendudukkan dirinya di kursi taman berwarna hijau seperti warna roknya hari ini. Ia mengeluarkan headset dan mulai menyumpalkan dikupingnya. Ia menikamti laku sambil melihat – lihat keadaan kampus hari ini.
Yoeja imut dan mungil itu bernama Byun Baekhyun. Ia adalah junior Kris. Mereka mulai dekat saat Baekhyun yang saat itu menjadi peserta mahasiswa baru dan Kris yang menjadi pembimbing kelompok Baekhyun. Kris banyak membantu Baekhyun dalam berbagai hal. Baekhyun merasa Kris sangat baik dan perhatian padanya. Ia sangat nyaman jika Kris berada di dekatnya, selalu ada di saat ia membutuhkan sebuah sandaran. Akhirnyapun ia mulai salah mengartikan perhatian Kris selama ini, sampai sebuah celetukkan Kris meruntuhkan semua harapannya selama ini.
Kau mirip sekali kekasihku. Ucap Kris saat itu sambil mengusak gemas surai kecoklatan Baekhyun. Ia merasa nafasnya diambil sejenak saat itu. Sangat miris melihat senyum Kris dengan mata berbinar hanya dengan mengatakan kata "kekasihku". Seakan itu semua sebagai cambuk bahwa Kris sangat mencintai kekasihnya dan menganggapnya tidak lebih dari sekedar seorang hoobae.
Baekhyun tersenyum miris mengingat kejadian itu. Tapi entah kenapa sampai saat ini tak sedikitpun rasa itu berkurang dari hatinya. Malah setiap hari makin bertambah. Baekhyun memejamkan matanya mencoba lebih meresapi alunan lagu yang menyeruak masuk ke gendang telinganya. Angin berhembus menerbangkan anak rambutnya. Sungguh potret yang sangat cantik.
Lama Baekhyun mempertahankan kegiatannya itu, sampai ia tak menyadari sosok yang tengah ia tunggu sedari tadi sudah duduk di sebelahnya. Kris tersenyum melihat mata Baekhyun yang tengah terpejam. Saat keluar dari ruangan dosennya tadi mata Kris langsung tertuju pada objek yang tengah duduk tenang di bangku taman. Dan tanpa ragu Kris bergegas menghampirinya.
PLUK
Kris mengambil salah satu headset yang terpasang di kuping Baekhyun dan memasangkannya dikupingnya. Baekhyun terbelalak kaget saat ia baru menyadari bahwa Kris sudah berada disampingnya. Kris tersenyum miring melihat reaksi Bekhyun. Sangat menggemaskan, batinnya. Yang ditatapi hanya bisa berkedip – kedip lucu, antara gugup dan malu berada sedekat ini dengan pria yang berhasil merebut hatinya. Lihat saja wajah Baekhyun yang saat ini tengah bersemu merah.
" Op..Oppa sudah selesai? " Gugup Baekhyun sambil mengalihkan pandangannya. Kris mengerutkan keningnya.
" Kau menungguku? " Tanya Kris sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
" Emm! Tadi aku memanggilmu seperti orang kesetanan, tapi kau sama sekali tak menghiraukanku " Jawab Baekhyun sambil ikut menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi sambil mengerucutkan bibirnya sebal. Kris tergelak melihat kekesalan Baekhyun.
" Maaf Baek.. Tadi aku sangat buru – buru, yah kau tau sendiri kan dosen pembimbingku itu sangat disiplin. Telat sedetik saja, bisa – bisa dia tidak akan mau mengajukanku pada sidang skripsi " Jelas Kris. Baekhyun tersenyum maklum.
" So? Kapan sidang skripsi Oppa akan berlangsung? " Tanya Baekhyun dengan mata berbinar. Kris terkekeh melihat wajah Baekhyun yang saat ini persis anak anjing.
" Besok.." Ucap Kris enteng.
" Joengmalyo? Wahh chukkae Oppa.. " Girang Baekhyun yang spontan memeluk leher Kris. Kris pun membalas pelukan Baekhyun sambil mengusap belakang kepalanya.
" Simpan ucapan selamatmu besok, karena perang sesungguhnya adalah besok saat aku sidang " Kata Kris dengan melepaskan pelukan Baekhyun. Baekhyun hanya mengangguk – anggukan kepalanya dengan tersenyum lebar. Kris sungguh gemas dengan gadis di depannya ini, Ia mengusak rambut Baekhyun sayang.
Tanpa mereka sadari, dari jauh ada sepasang mata yang melihat kedekatan mereka dengan pandang penuh luka..
.
.
.
TBC
Annyeonghaseyo readerdeul...
Adakah yang masih menunggu kelanjutan ff ini?
Terimaksih yang sudah mau meluangkan waktu untuk mereview ff ini :)
Ada yang bertanya apakah ff ini angst? Sepertinya iya, maaf Lunny buta genre hehe
Ada juga yang request kalo ff ini pair-nya tetep Krishan, ada juga yang menginginkan Hunhan bersatu. So? adakah saran? :)
Mohon Review, ne. Gomapta :))
