Hai namaku Kim Taehyung. Aku tampan, muda, dan berbakat. Di usiaku yang ke-23 ini aku bahkan telah memiliki bisnis sendiri. Bukan bisnis besar. Hanya toko kue kecil-kecilan dengan cabang di beberapa daerah. Memiliki toko kue bukan berarti aku menjadi big boss atau semacamnya. Semua pegawaiku sudah seperti adik, kakak, dan teman bagiku. Terutama pegawai di cabang Gangnam. Mungkin karena usiaku yang masih muda dan dekat dengan pegawai-pegawaiku, mereka selalu saja berani menyuruhku melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil seperti mencatat pesanan, mengangkat telepon, menunggu kassa, atau bahkan mengantarkan pesanan. Seharusnya aku lebih menunjukkan wibawaku agar mereka menjaga jarak. Ini semua salahku. Menjengkelkan sekali.

"Halo. Victory Cake & Bakery disini. Ada yang bisa saya bantu."

Aku mencoba seramah mungkin. Ramah dan hangat. Itu adalah modal utama dalam melayani pembeli. Ini bukan pertama kalinya aku menerima telepon, jadi aku sudah terbiasa dengan hal seperti ini.

"U-uh itu aku ingin memesan kue."

Oh, yeah. Tentu saja. Memangnya apa lagi yang bisa kau pesan di toko kue selain kue.

"Tentu, Tuan. Bisa kucatat pesananmu?"

"Aku ingin memesan cake yang biasa kupesan."

Yang biasa kaupesan? Apa kau pikir pelangganku hanya kau saja.

"Boleh aku tahu namamu Tuan?"

"Jeon Jungkook."

Aku mencari namanya di daftar nama pelanggan setia kami. Rasanya aku sering mendengar Hoseok Hyung menyebut-nyebut namanya. Tapi aku tidak pernah berkesempatan melayaninya secara langsung. Jangan salahkan aku jika aku tidak mengetahui pesanannya secara langsung.

"Cake strawberry dengan sedikit gula dan extra strawberry di atasnya. Apakah itu benar Tuan?"

"Ya."

"Baiklah Tuan. Mohon tunggu sebentar. Kami akan segera mengirimkan pesanan anda."

Aku segera membungkus pesanannya segera setelah telepon ditutup. Aku tidak bisa membiarkan pelanggan dengan status gold menunggu. Di tokoku, pelanggan setia dikelompokkan ke dalam tiga kategori, gold, silver, dan bronze. Pelanggan dengan status gold berarti pelanggan setia yang harus diutamakan dalam segala hal. Pengiriman harus cepat dan tepat, kemasan super rapi, dan diberi bonus kecil berupa souvenir atau cupcake. Mereka dengan status gold adalah orang-orang yang bersedia membayar lebih untuk setiap kepuasan yang dirasakannya. Entah karena terlalu baik hati atau memang banyak uang, mereka sering memberi tip dengan jumlah besar. Suatu kali mereka sempat memberi tip hingga sejumlah 50% harga kue. Aku sebagai pemilik toko tidak keberatan orang-orang kaya itu buang-buang uang. Aku justru sangat senang.

Pelanggan dengan status silver adalah pelanggan pertengahan. Mereka tidak menuntut pesanan agar cepat sampai, tapi mereka juga tidak ingin pesanan terlambat datang. Tip yang diberikan juga lumayan. Lalu pelanggan dengan status bronze. Pelanggan yang ada di kategori terbawah ini tidak pernah neko-neko. Mereka tidak perlu kami mengantar pesanan buru-buru. Meski kami mengirim keesokan harinya, mereka tak pernah mempermasalahkan. Selama pesanan yang sampai adalah pesanan yang benar, mereka sudah puas akan hal itu. Tip yang diberikan terbilang kecil. Tak masalah, selama mereka tetap setia memesan kue di toko kami.

Aku memanggil-manggil pegawaiku yang biasa mengantarkan pesanan. Tak ada seorangpun yang muncul. Kemana mereka? Disaat genting seperti ini mereka malah menghilang. Aku menanyai beberapa pegawai yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Tapi tak ada satupun yang melihat mereka. Apa mereka belum kembali dari mengantar pesanan? Kutekan layar ponselku dan memanggil Hoseok Hyung.

"Hyung, dimana kau sekarang?"

"Aku.. (hacih).. di rumah (hacih).

Suaranya parau. Sepertinya Hoseok Hyung sedang sakit. Aku jadi merasa bersalah karena sudah menganggu istirahatnya.

"Apa terjadi sesuatu? (hacih)"

"Uhm.. Ya. Ada pesanan dari pelanggan gold, dan tidak ada yang mengantar pesanannya. Semuanya sedang sibuk disini."

"Siapa yang memesan? (hacih)"

Hoseok Hyung tidak berhenti bersin-bersin. Kurasa hidungnya sedang meler sekarang.

"Jeon Jungkook."

"KAU GILA?! Cepat antarkan pesanannya sekarang juga! Dia adalah penulis blog ternama. Jika kau terlambat mengantarkan pesanannya, dia mungkin akan menuliskan keluhan di blognya. Jika ia menulis di blognya, banyak orang yang membaca, lalu toko kita—maksudku tokomu akan bangkrut dan—"

"Hentikan Hyung! Kau membuatku semakin panik. Baiklah, kututup telponnya."

Aku kira Hoseok akan memberikan solusi terbaik. Mau bagaimana lagi. Aku tidak punya pilihan lain. Kalau ada yang dikatakan Hoseok Hyung benar, maka... ah, sudahlah. Aku telah menghabiskan banyak waktu hanya dengan membayangkannya saja.


Hanya memerlukan waktu sekitar 10 menit hingga aku sampai di rumah milik Jeon Jungkook. Beruntung aku tahu jalan pintas, jadi aku bisa sampai lebih cepat. Kupencet bel pintu yang dingin itu. Tak butuh lama hingga seseorang buka suara. Dari suaranya, aku cukup yakin bahwa dia adalah Jeon Jungkook si pelanggan gold yang memiliki blog ternama. Suaranya tidak jauh beda dengan yang terdengar di telepon.

"Saya dari Victory Cake & Bakery mengantarkan pesanan Tuan."

Hening. Aku jadi was-was. Apakah aku terlambat? Apa ia marah? Gawat! Aku harus mulai memikirkan bisnis baru kalau-kalau bisnis yang telah kubangun sendiri ini bangkrut karena seorang pelanggan.

"Apa kau pegawai baru?"

Jeon Jungkook kembali buka suara. Pegawai? Lebih tepatnya orang yang mempekerjakan para pegawai. Rupanya orang ini benar-benar pelanggan setia kami. Dia bahkan tahu kalau aku bukan orang yang biasa mengantar pesanan hanya dari suaraku.

"Y-ya Tuan."

"Kau lihat lubang di bawah pintu? Masukan kue dan tanda terimanya lewat sana. Aku juga akan memberikan uangnya lewat lubang itu."

Aku melirik ke bagian bawah pintu. Ada lubang berbentuk persegi disana. Melihat ini aku jadi ingat yang digosipkan pegawaiku. Mereka bilang ada pelanggan yang tidak pernah mereka lihat wajahnya karena ia tidak pernah mau menemui mereka secara langsung. Hanya sebuah lubang di pintu yang menjadi perantara mereka selama ini. Ternyata orang yang dimaksud adalah Jeon Jungkook. Pelanggan yang satu ini benar-benar unik. Aku memasukan tanda terima dan kue ke dalam lubang dengan hati-hati. Tak lama setelah itu beberapa lembar uang dan tanda terima yang sudah ditandatangani muncul dari lubang itu. Haaah.. orang ini benar-benar unik.

"Selamat menikmati kuenya Tuan Jeon Jungkook."


Setidaknya sekali dalam seminggu Jeon Jungkook selalu memesan kue dari tokoku. Dan setiap dia memesan kue, selalu aku yang mengantarkan pesanannya. Kali ini bukan karena tak ada yang mengantar, tapi ini atas inisiatifku sendiri. para pegawaiku selalu menata dengan curiga tiap kali aku akan mengantar kue ke rumah Jeon Jungkook. Mereka bilang wajahku jadi lebih cerah tiap aku ada pesanan dari Jeon Jungkook. Bahkan meski ada orang yang dapat mengantarnya, aku selalu memaksa agar aku saja yang mengantarkan pesanan miliki Jeon Jungkook. Jika kau tanya mengapa, aku sendiri tak yakin bagaimana menjawabnya. Jeon Jungkook, dia spesial. Bukan spesial dalam artian sebagai pelanggan. Spesial yang ini ada di konteks yang berbeda. Aku penasaran bagaimana wajah pelanggan setiaku itu. Aku kira jika aku sering mengantarkan kue aku bisa melihat wajahnya sekali saja. Sayangnya teoriku salah. Sekalipun ia tak pernah menunjukan wajahnya. Kira-kira kenapa? Apa alasannya? Apa wajahnya buruk rupa hingga ia terlalu malu untuk bertemu orang-orang? Ataukah ia mengidap penyakit langka yang menular? Apapun itu, aku harus mengetahui jawabannya.

Meski aku telah mencoba segala cara, tetap saja tak berhasil. Pernah suatu kali aku berpura-pura sakit perut. Kukira dia akan membiarkanku meminjam toilet di rumahnya, tapi yang terjadi malah...

"Aduh. Aduduh. Aahhh.. perutku. Aduuuh."

"Ada apa?"

"Sepertinya aku salah makan. Bagaimana ini?"

"Kau perlu pergi ke toilet?"

"Ya!"

"Dari sini lurus, belok kiri, lalu belok kanan, ada toilet umum disana. Kalau tidak salah."

Lalu aku juga pernah berpura-pura ingin meminjam telepon rumahnya, tapi ia memberikan ponselnya lewat lubang. Dia bilang, ponsel lebih praktis daripada telepon rumah. Aku juga sempat membaca blognya secara detil untuk mencari secuil informasi tentangnya. Tapi yang kudapatkan hanyalah wawasan mengenai turorial ini dan itu serta review beberapa produk. Rupanya Jeon Jungkook sangat gigih dalam menyembunyikan identitasnya. Tak ada sedikitpun jejak mengenai dirinya dimanapun. Yang kutahu tentangnya hanyalah 'Jeon Jungkook' tak lebih. Setiap kali datang ke rumahnya, selalu kusempatkan untuk mengobrol dengannya. Walau kadang dia tidak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan tertentu, tak apa. Seiring dengan berjalannya waktu, makin tinggi pula rasa penasaranku. Rasanya bisa gila jika dalam seminggu aku tidak mendengar suaranya. Aku tidak tahu wajahnya, usianya, tingginya, beratnya, dan masih banyak hal lainnya. Kalian bisa saja menyebutku gila atau semacamnya, yang jelas, kurasa aku menyukainya. Ya. Silahkan jika kalian ingin menertawakanku. Tertawalah sepuas kalian. Mungkin aku telah kehilangan kewarasanku karena telah jatuh cinta pada seseorang yang hanya kutahu suara, karya, dan namanya saja.

Hari ini adalah kesekian kalinya aku mengantarkan kue ke rumah Jeon Jungkook. Kali ini aku tidak memberikan souvenir atau cupcake gratis sebagai bonus telah menjadi pelanggan setia. Lebih dari itu, aku membawakan sebuket bunga baby's breath untuknya. Entah ia akan menyukainya atau tidak. Lagipula aku tidak pernah tahu kesukaannya. Jadi, kubawa saja apapun yang sekiranya pantas untuk diberikan. Aku menarik nafas dalam-dalam. Tak seperti biasanya, hari ini aku agak gugup. Kira-kira bagaimana reaksinya saat menerima bunga ini?

"Victory Cake & Bakery?"

Kali ini Jeon Jungkook menggantikan posisiku mengatakan hal itu. Sepertinya dia sudah dapat menebak kedatanganku sekarang.

"Ya, Tuan."

Sepertinya aku salah bicara. Jawaban 'ya' dariku membuat obrolan kami berakhir begitu saja. Bodohnya aku. Seharusnya aku basa-basi agar obrolan kami berlangsung lebih lama.

"Kau berdandan hari ini?"

Pertanyaan itu mengejutkanku, karena pertama, Jeon Jungkook menanyakan hal lain selain 'siapa?'. Kedua, bagaimana dia tahu aku berdandan? Apa dia sebenarnya memperhatikanku?

"M-maksudku parfummu tercium sampai kemari. Jadi, kukira kau sedikit berdandan hari ini."

Oh, wow! Apa itu berarti aku tak pernah sewangi ini sebelumnya? Lalu, apa memakai parfum sama dengan berdandan?

"Y-ya, Tuan. Aku akan menemui orang yang spesial hari ini. Jadi, aku sedikit berdandan."

"Oh."

Singkat, padat, jelas, dan menyakitkan. Itulah kata yang dapat menggambarkan jawaban terakhir dari Jeon Jungkook. Kuambil beberapa lembar uang dan tanda terima yang berjatuhan di lantai. Jeon Jungkook tak bersuara lagi setelah kukatakan untuk menikmati kuenya. Ahh.. apa sih yang kuharapkan? Sebelum pergi, aku berbalik menghadap pintu kayu berwarna hitam mengkilap itu. Rumah Jeon Jungkook seperti sebuah kerajaan yang sangat kuat pertahanan depannya. Sulit sekali untuk ditembus meski telah dilempari meriam. Mungkin dari awal harusnya aku menyerah saja. Tapi menyerah tak pernah ada dalam kamusku. Aku berdiri di depan pintu dan menekan lagi bel rumahnya. Tanganku menggenggam erat bunga baby's breath yang kubeli untuknya.

"Jeon Jungkook!"

"Tuan Pengantar Kue Victory Cake & Bakery?"

Aku berusaha untuk menahan tawa. Tuan Pengantar Kue Victory Cake & Bakery rasanya terlalu panjang untuk sebuah nama. Udara serasa memenuhi rongga dadaku. Hari ini atau tidak sama sekali. Kuputuskan untuk menyatakan perasaanku pada Jeon Jungkook hari ini. Mungkin ini keputusan tergila yang pernah kuambil. Tapi aku tidak bisa terus-menerus terlarut dalam perasaan yang tidak kutahu akan berlabuh atau tenggelam. Aku tidak bisa berpura-pura menjadi pengantar kue selamanya. Aku memiliki kehidupanku sendiri. Hari ini atau tidak sama sekali. Harus kuputuskan apakah Jeon Jungkook dapat menjadi bagian dari kehidupanku atau tidak.

"Apa kau tidak berniat untuk menemuiku sekali saja? Setiap minggu aku mengantar kue padamu. Tapi tak pernah sekalipun aku melihat rupamu. Apa kau memang selalu seperti ini? Atau kau hanya melakukan ini padaku? Aku rasa aku tidak dapat melakukannya lagi. Aku lelah. Maksudku, aku ingin tahu lebih banyak tentangmu. Aku ingin membicarakan hal lain selain 'siapa', 'aku pengantar kue', 'oh'. Kau tak tahu betapa senangnya aku saat mendengar suaramu? Apa kau tidak lelah hidup begini? Tidakkah kau ingin melihat dunia luar? Apa kau semacam putri yang terjebak di menara?"

Hening. Apa kata-kataku terlalu berlebihan? Mungkin aku telah menyakitinya. Aku hendak berbalik untuk pergi saat Jeon Jungkook berbicara lagi.

"Kenapa? kenapa kau ingin tahu lebih banyak tentangku?"

"Entahlah. Aku tak yakin. Apa aku harus memiliki alasan khusus untuk mengenalmu?"

"Sebagai penulis blog dan webtoonist, banyak orang yang ingin tahu identitasku, terutama wajahku. Aku tidak tahu kenapa mengetahui wajah seseorang menjadi sangat penting. Bukankah apa yang kuhasilkan lebih penting dari wajahku? Dunia takkan kiamat meski aku terus bersembunyi di balik dinding rumah ini, kan? Begitu banyak orang yang ingin tahu tentangku. Begitu banyak. Dan diantara orang-orang itu, ada kau, seorang pemiliki Victory Cake & Bakery, Kim Taehyung."

Aku sangat terkejut saat Jeon Jungkook menyebutkan identitasku. Bagaimana ia tahu tentangku? Aku melihat ke sekeliling. Betapa bodohnya diriku karena tidak pernah menyadari keberadaan cctv yang dipasang tepat di atas pintu depan rumah Jeon Jungkook. Jadi, selama ini dia hanya berpura-pura tidak tahu tentangku.

"Kau curang Jeon. Kau tahu tentangku, juga wajahku. Tapi aku tidak pernah tahu dirimu."

Aku menunjuk ke arah kamera. Jeon Jungkook pasti sedang mengawasiku dari dalam sana.

"Tuan Kim Taehyung yang terhormat, asal kau tahu, aku telah menjadi pelanggan setiamu sejak lama. Bahkan sejak kau masih memiliki sebuah toko kue kecil di pinggiran Seoul. Waktu itu aku masih SMA. Aku sering datang ke tokomu. Aku semakin tertarik pada tokomu karena pemiliknya masih sangat muda dan tampan. Aku sering berkunjung, tapi pernah sempat mengobrol atau dilayani langsung olehmu. Aku sangat terkejut saat kau tiba-tiba datang dan mengantarkan kue ke rumahku. Awalnya kukira hanya kebetulan. Tapi sekarang selalu kau yang mengantar kue ke rumahku. Jadi, kukira kau menginginkan sesuatu dariku."

Keringat bercucuran dari keningku. Cuaca tiba-tiba terasa sepanas di padang pasir. Jeon Jungkook sudah selama itu menjadi pelangganku? Apa ini? Takdirkah?

"J-Jeon.. a-aku.. aku tidak menginginkan apapun darimu. Aku sangat berterimakasih jika ternyata kau sudah menjadi pelanggan kami selama itu. Kau benar. Awalnya memang sebuah ketidaksengajaan. Tapi semakin aku mendengar suaramu, semakin aku merindukanmu. Aku rasa... a-aku m-menyukaimu."

Hening. Aku benci keheningan ini. keheningan ini serasa mencekik leherku hingga aku kekurangan pasokan oksigen di paru-paru.

"aku tahu ini gila. Aku memang sudah tak waras. Tapi.. hari ini aku harus memutuskannya. Aku harus mengetahui apakah yang kulakukan selama ini hanya sia-sia saja, atau... kau tahu aku orang yang sangat sibuk, tapi aku meluangkan waktu untuk mengantarkan pesanan. Jadi, tolong beri aku jawaban. Aku menyukaimu, apa kau mau jadi bagian dari kesibukanku? Jika ya, bukalah pintu ini, biarkan aku melihat wajahmu untuk pertama kalinya. Jika tidak, tetaplah disana."

Akan kuberi dia waktu satu menit. Jika dalam waktu itu dia tak datang juga, aku akan pergi. 1.. 2.. 3.. 4.. 5.. 6.. 7.. 8.. 9.. 10...

...55.. 56.. 57.. 58.. 59.. 60. Bahkan setelah waktu berlalu, Jeon Jungkook tak juga keluar. Mungkin ini jawabannya. Inilah akhirnya. Apa yang kulakukan selama ini hanyalah sebuah kesia-siaan. Tubuhku terasa meleleh menjadi gelembung-gelembung. Bahuku melorot hingga ke lantai. Aku tidak pernah merasakan patah hati sebelumnya. Dan kini aku merasakannya. Hari ini angin tidak bertiup kencang, tapi kenapa mataku berkaca-kaca. Mungkin sesuatu masuk di mataku? Rasanya perih sekali. Kuletakkan baby's breath yang kubawa di depan pintu. Aku berbalik dan melangkahkan kakiku yang terasa seberat baja. Kulihat jam di tanganku. Sepertinya aku harus membatalkan rapat hari ini. Rasanya tidak benar mengadakan rapat dengan keadaan seperti ini. Aku merasa seperti kaca yang bisa pecah kapan saja. Langkahku seperti zombie di film-film horor yang sering kutonton. Aku benar-benar kacau.

"Tuan Kim Taehyung!"

Aku menghentikan langkahku saat suara yang tak asing itu memanggil namaku. Suaranya terdengar begitu dekat. Bukan suara dari telepon atau speaker di pintu. susah payah, kuputar badanku menghadap sumber suara. Sesosok pemuda tampan berdiri di depan pintu sembari memeluk baby's breath yang kubawa. Tingginya hampir sama denganku. Otot lengannya menunjukan bahwa ia adalah orang yang rajin berolahraga. Rambutnya coklat gelap. Bibirnya merah muda. Matanya bulat dan besar seperti mata rusa. Gigi kelincinya terlihat saat ia tersenyum seperti itu.

"Jeon Jungkook?"

Sesaat yang lalu rasanya aku masih baik-baik saja. Aku tidak terkena flu atau semacamnya, tapi kenapa suaraku parau saat mengucapkan namanya.

"Kau bilang ingin tahu lebih banyak tentangku. Kau juga bertanya apa aku ingi menjadi bagian dari kesibukanmu. Lalu, kenapa pergi begitu saja?"

Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Apakah ini mimpi?


*** Gaje syekaleeeee ini fanfic-nya hhahahaha

Sebenernya aku pengen buat yang lebih panjang tapi karena satu dan lain hal jadinya malah segini. Maafkan aku karena alurnya kecepetan.. jadinya malah gaje gini deh T_T

Oh ya, aku gak sempet cek lagi jadi mohon maafkan jika ada typo bertebaran T_T