Dark-Night-404: Done :)

Ultra-Fans: Oi, ficmu kenapa gak dilanjut? Padahal potensinya ada loh.

SoraNarukami13: Sebelumnya terima kasih untuk reviewmu :). Well, mungkin soal cerita aku sedikit "gila" kayaknya.

Bukan soal sulitnya sih, bagiku yang terpenting niatnya dulu, aku buat fic untuk memuaskan imajinasiku. Sama buat reader senang dengan cerita baru.

Aku juga nulis di wattpad, novel asliku. Baru bikin kerangkanya doang sama covernya sih.

Kebanyakan author mungkin bukannya gak sanggup, tapi membagi waktu dengan RL(real life) itu lumayan susah. Tapi kalau tekad nulisnya ada, insya allah segalanya lancar.

Btw, kok ane malah curhat ye :D

Joker The Clown: Soal update gak bisa cepat gan. Karena membagi waktu dengan real life dan fanfic world agak... Rumit.

Tapi bukan berarti aku akan mengabaikan fic ku tanpa alasan :)

PERTAPA SEDENG: oke bro! jangan khawatir! beberapa karakter marvel memang akan aku munculkan di ficku ini :).

namikaze cloud: Sip. Akan aku coba sarannya.

fahzi luchifer: Done :)

KidsNo TERROR13: Done :)

ari32: Joy, jujur, aku sedikit tak suka dengan review mu. Ini yang kedua kalinya lagi.

Dan soal Arthur, Le Fay, dan Naruto... It's secret :v

Dan soal misteri... Mungkin KAU belum baca fic non one-shotku. Dan akan lebih baik KAU pikirkan dulu kata-katamu sebelum dilepas.

Blairendais Reshida: GoH itu bagus :D

Nazi Menschen: Done :)

Namikaze Kurnia 2: Well, tanpa di beritahu pun aku takkan mengabaikan storyku yang lain.

Jujur, aku sedikit tak suka dengan review mu.

Guest: Done :D

. .161: Thanks gan :D

Soal harem mungkin dua atau tiga

Oke, sudah saya ikuti saran anda :D

Nijananda Zaynur Averroes: Oke gan :)

deadly god: Terima kasih supportnya gan.

Soal adegan extrim tentu saja ada :). Tapi sebelumnya alur dulu dipentingin :D.

msyukronx: Villain yang sebenarnya Hero :)

Ve Hsu: Done gan :D

Nagisa-sann: Done :)

Miji695: Done

666-avanger: W-Well, setiap orang berhak melepaskan ekspresi masing-masing, bukan?

Train Heartnett: Beneran?! Wah, hebat berarti agan.

Yah, karena lawan Naruto luar biasa tentu saja senjatanya juga harus luar binasa(bukan typo).

AbL3kasih namikaze: Kalau up kilat nanti jelek gan, belum proof reading, perbaiki tanda baca sama perbaiki typo.

Santai saja, yang penting reviewnya bukan F-type :)

jamessuagrier: Begitulah :D

Kalau gak tau apa itu "Cthulhu" bisa search di lovecraft wiki.

jockztheblackdevil: Well, kalau bingung bisa baca sejenak God of Highschool webtoon.

Yap, Terima kasih atas supportnya gan :D.

Kazeryuu: Lama yang penting bagus, gak ada typo sama tulisan rapi bro :)

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 3: New People

Kick The Limit

Summary: Hidupku hancur ketika Ayah tiriku melakukan eksperimen terhadap badanku. Kemanusiaanku hampir lenyap saat pembeliku memaksaku menghabisi sesamaku. Dan tujuanku bernafas tumbuh karena ajaran guru beda rasku.

"Sacred Gear? Sepertinya aku hanya butuh kaki dan tanganku saja."

Disclaimer: High School DxD(Ichiei Ishibumi) Naruto(Masashi Kishimoto) dan sedikit elemen Manhwa/GOH serta aspek film beserta karakter anime lain. Dimiliki oleh pengarangnya masing-masing.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 3

New People

.

.

.

.

.

Stay Calm and Enjoy Reading

.

.

.

{Story Start}

Sang mentari dengan senang hati mengisi tempat bulan sebagai penerang planet segala ras. Di Jepang, tepatnya di wilayah Kyoto. Sepasang iris safir terbuka di suatu kamar dalam rumah, pemilik mata ini menguap dan menegakkan badan. Menggeser pintu serta melangkah menuruni tangga, sampai ke ruang dojo kemudian melakukan pemanasan ringan.

Selagi pemanasan, Naruto memikirkan ilmu Beladiri berikutnya yang dia akan kuasai. Memang [Re-Taekwondo] dan [Kyokushin Karate] sepertinya lebih dari cukup untuknya. Namun, Naruto tak ingin menyangkal kalau dirinya belum puas dengan apa yang ia bisa. Apalagi, rasa keingintahuannya selalu tinggi jika menyangkut seni Beladiri baru.

'Di Cina kalau aku tidak salah ingat masih ada guru seni Beladiri Wing Chun di sana. Mungkin tak ada salahnya juga aku pergi berlibur ke sana nanti.' Pikir Naruto.

Menarik nafas lalu membuangnya, Naruto memasang kuda-kuda [Kyokushin Karate] dan mulai melayangkan beberapa tendangan serta pukulan ke udara kosong. Dia melakukan itu sambil membayangkan 'musuh' berada di hadapannya. Selama dua hingga lima menit dia terus mengulangi gerakan itu.

Merasa cukup, sang remaja pirang mengganti sikap kuda-kuda [Kyokushin Karate] dengan kuda-kuda [Re-Taekwondo]. Memejamkan mata seraya menghembuskan nafas, Naruto berputar dan melepaskan tendangan ke atas. Dia melakukan itu sambil memikirkan "musuh" menyerangnya dari langit. Ia menggeser pinggangnya ke sisi kanan dan merunduk seraya berpikir "lawan" melayangkan tinju dari arah tersebut.

Tanpa diketahui oleh si lelaki iris biru, pintu dojo yang lupa dirinya tutup membuat Rossweisse, yang memang terbiasa bangun pagi, menjadi penasaran dan memutuskan mendekati penyebab suara bising itu. Dia sedikit terkejut menyadari Naruto lah sumber suara tersebut.

'Apa yang sedang Naruto lakukan?'

Jujur, Rossweisse tak terlalu paham dengan posisi tubuh maupun gerakan "aneh" teman pertamanya itu. Meskipun begitu, dia mengakui kalau hampir setiap pukulan serta tendangan Naruto memang mengarah pada titik vital yang ada di raga manusia. Memikirkannya saja menyebabkan sang gadis berambut perak merasa sedikit ngeri.

Baru ingin mengayunkan kakinya lagi ke udara, Naruto terhenti ketika sorot matanya menangkap kehadiran Rossweisse, yang mulai panik mengetahui dirinya tertangkap basah karena mengintip kegiatannya.

Terkekeh melihat ekspresi Rossweisse, Naruto menghentikan latihan sambil melangkah ke arahnya.

"Kau tak perlu tegang begitu, Rossweisse. Ini tidak seperti aku akan marah hanya karena kau diam-diam menonton latihanku."

Rossweisse tertawa gugup. "O-Oke."

Naruto terkekeh lagi, meraih handuk kecil dan mengelap keringat menggunakan itu.

"Jadi, hanya kau seorang yang terbangun?"

Rossweisse menggeleng. "Tidak juga, sebelum diriku Mormor yang pertama kali bangun. Tapi karena urusan mendadak ia terpaksa kembali ke Asgard secepat mungkin."

"Hmm..."

Memutuskan melangkah menuju ruang tengah, Naruto mengerutkan kening ketika memandang Arthur dan Le Fay, masing-masing sudah mengenakan pakaian asli mereka. Tidak jauh di belakangnya, Rossweisse memiliki ekspresi sama seperti dirinya.

"Tidak sarapan dulu?"

Mengalihkan pandangan pada sumber suara, Le Fay yang sadar siapa yang mengajukan pertanyaan berseri dan berkata.

"Sepertinya tidak Naruto-sama. Lagipula, kami dikejar waktu jadi tak bisa berlama-lama di sini."

Arthur melempar senyum pada Naruto. "Sekali lagi, terima kasih karena mau menampung kami selama satu malam, Naruto."

Naruto melambaikan tangan seraya tersenyum tipis. "Nah, kalian itu tamuku. Jadi sebagai tuan rumah sudah sepantasnya aku memperlakukan kalian dengan baik."

Laki-laki mata biru berkedip. "Oh ya, sebelum kalian pergi aku ada sesuatu untuk kalian," dia mengambil sebuah permen sebanyak dua buah dari saku celananya, kemudian membagikan itu pada Pendragon Bersaudara, "ini, cobalah."

Merasa sedikit tidak nyaman jika menolak pemberian Naruto, tanpa pikir panjang Arthur dan Le Fay membuka bungkus permen dan langsung melempar itu ke mulut. Keduanya hampir melompat dari tempat mereka, merasakan betapa "manis"nya makanan yang hampir terbuat dari gula tersebut.

"Bagaimana rasanya?" tanya Naruto "penasaran".

Arthur mengelus dagunya. "Menurutku enak. Kalau kau Le–"

"Puahhhnnn~."

"..."

"..."

"..."

Naruto, Arthur, dan Rossweisse sweatdrop mendengar desahan lepas dari bibir sang gadis penyihir. Belum cukup, mereka melihat kedua pipi Le Fay memerah seraya menjilat jari telunjuknya sendiri.

'Aku tak menyangka bahwa foodgasm itu *sniff* benar-benar ada di dunia nyata.'

"Naruto, kenapa hidungmu berdarah?"

"Huh?"

Mengetahui apa yang dikatakan Rossweisse benar, Naruto meraih tisu di meja lalu mengelap "darah" di bawah lubang hidungnya.

"Kau baik-baik saja?" tanya sang calon Valkyrie dengan khawatir.

"Y-Ya. Aku baik-baik saja."

Arthur memutar matanya. "Lain kali tutup mulutmu Le Fay."

Perempuan yang dimaksud mengedipkan mata beberapa saat, sebelum membulatkan bola mata lalu berlari secepat mungkin dari kediaman si remaja manik ombak. Tak lupa di tiap langkahnya telinganya mengeluarkan sesuatu semacam asap putih.

Naruto berdeham. "Aku... Tidak terlalu merasa terganggu dengan hal itu."

Rossweisse mengangguk. "Sama."

Arthur terkekeh kering. "Sayangnya aku berbeda pendapat dengan kalian."

Mengantar Arthur ke depan setelah memastikan Rossweisse tidak mengikutinya, Naruto berhenti di ambang pintu sembari meletakkan kedua lengannya di tengkuk leher. Sorot matanya tertuju pada Pendragon Bersaudara, yang sudah menjauh dari rumahnya sekitar tujuh kaki. Menyipitkan mata sebelum menutup pintu.

"Ngomong-ngomong, Le Fay."

"Ya, Onii-sama?"

"Apa yang kita lakukan sampai berada di tempat seperti ini?"

Line Break

Apollo menguap dan menggosok mata, beralih pada jam sebelum mengalihkan pandangan pada kedua pasiennya. Dia tersenyum tipis melihat salah satu dari keduanya telah mulai sadar, tepatnya yang berkelamin laki-laki.

"Oh, kau sudah bangun rupanya."

Laki-laki yang dimaksud memiliki rambut hitam acak-acakan, memakai kemeja putih dibalut jaket dengan semacam lencana di saku kiri bajunya. Di sekitar kerah jaket, terlihat lapisan bulu seperti mantel musim dingin serta dasi kuning. Dia berkedip selama beberapa saat dan mengelus keningnya.

"D... Dimana aku?"

"Kau berada di rumah temanku. Kau terluka jadi dia memutuskan membawamu kemari. Daripada itu, siapa namamu?"

Orang yang ditanya Apollo terdiam, beberapa menit kemudian dia membuka mulut.

"Seha. Seha Lee."

"Korea?"

"Ya... Begitulah."

Apollo menaikkan alisnya, nada yang dikeluarkan Seha terdengar seperti seseorang yang baru saja terbangun dari mimpi buruk yang mengerikan. Sebagai dewa kejujuran, sangat mudah bagi dirinya untuk mengetahui hal kecil seperti itu.

Namun, bukan berarti ia harus blak-blakan tentang apa yang dialami Seha. Itu masalah sekaligus rahasianya. Mengingat dirinya juga merupakan dewa pengobatan, sudah sepantasnya Apollo memperlakukan pasiennya dari fisik hingga ke mental secara baik.

Mengambil termometer digital dari saku bajunya, Apollo menatap Seha sejenak lalu berujar.

"Tolong buka mulutmu sebentar. Ada sesuatu yang ingin kuperiksa darimu."

Seha berkedip, keingintahuannya menjangkau rasa penasarannya. Membuka mulut dan membiarkan termometer hinggap di lidahnya.

"Kau seorang dokter?"

Apollo terkekeh. "Hampir mirip tapi sebenarnya bukan."

Seha ber"oh" ria.

"Unghh..."

Mereka berdua langsung mengalihkan pandangan pada Kiba, yang mulai membuka kelopak matanya sehingga menampilkan irisnya yang berwarna abu-abu kebiruan. Dia mengambil posisi duduk seraya menengok kesana kemari.

"Ini dimana?"

"Jangan takut, luka-lukamu telah aku sembuhkan," kata Apollo, "dan soal pertanyaanmu. Kau berada di rumah temanku sekarang."

Mengharapkan rasa lega dan tenang dari Kiba, dia dikejutkan dengan ekspresi murka di wajah gadis bersangkutan.

Line Break

"Naruto."

"Ya?"

"Kalau kau tidak keberatan aku ingin mengunjungi beberapa tempat bagus di bumi."

"Jadi intinya, kau ingin jalan-jalan?"

Saat ini, Naruto dengan Rossweisse sedang duduk bersama di balkon rumah. Karena bosan, mereka memutuskan bersantai di sana sambil berbincang satu sama lain. Tak lupa membuat dan membawa onigiri serta teh hijau.

Rossweisse mengangguk dengan semangat. "Aku dengar dari Mormor kalau kuliner dan karya wisata buatan manusia semuanya bagus-bagus."

Naruto tersenyum. "Boleh saja. Tapi jangan sekarang. Kalau aku pergi nanti tak ada yang jaga rumah."

Rossweisse menggembungkan pipinya. "Kan ada Dewa Apollo."

Naruto mengerutkan kening. "Semalam tidak masalah. Tapi lebih dari itu aku melarang."

Terakhir kali dia mempercayakan keamanan rumahnya pada sang dewa pemanah... Percayalah, Apollo tidak akan pernah melupakan rasa sakit dari kombinasi tendangan serta pukulan.

Serius, orang waras mana yang mengadakan rock party di wilayah anti bising coba!?

Rossweisse cemberut.

"Ayolah."

Naruto menggeleng.

"Nope."

"Hanya sebentar?"

"Tidaaak."

"Lima menit saja?"

"Maksudmu lima jam?"

"Ya?"

"Tak."

"Plewase?"

"Yang benar itu please."

"Ayolah!"

"Tidak!"

Rossweisse cemberut, membuang muka sembari menyilangkan kedua lengannya.

"Naruto gak asik."

Orang yang dimaksud memutar bola matanya, berkedip saat telinganya mendengar bunyi gesekan di jalur utama dalam rumah. Dia beranjak dari tempatnya dan melihat sesosok kera yang sangat dikenalinya masuk melalui pintu depan.

"Ya ampun, murid macam apa yang tega-teganya tidak membukakan pintu untuk gurunya?"

Naruto terkekeh kering. "Kau masuk tanpa mengetuk dulu, jadi jangan salahkan muridmu."

Sun Wukong menyengir, kemudian cengirannya melebar tatkala melihat kehadiran Rossweisse di belakang Naruto. Dia bersiul.

"Oho, sudah sejauh itu rupanya hubungan kalian. Harus kuakui, satu atau tiga tangisan bayi dalam rumah takkan membuat monyet tua ini tuli tidak peduli sekeras apapun itu."

Rossweisse memiringkan kepalanya, bingung dengan kata-kata ambigu Sun Wukong.

'Bayi? Memangnya rumah ini akan Naruto jadikan sebagai tempat penitipan bayi?' Pikir Rossweisse heran.

Sementara Naruto...

Whush!

...dia menyerang Sun Wukong, kaki kirinya diayunkan ke lehernya. Untuk beberapa alasan mukanya penuh dengan rona merah.

Clang!

Sayangnya, serangan Naruto ditahan Sun Wukong menggunakan tepi Ruyi Jingu Bang. Tidak menyerah, Naruto menurunkan kaki kirinya lalu melayangkan kaki sebaliknya, mengarahkan lututnya menuju dagu sang Keturunan Pertama.

Poof!

Naruto melebarkan matanya, memandang wujud Sun Wukong yang berubah menjadi kepulan asap dengan kedutan tercetak di keningnya.

"Ah. Sepertinya tidur setelah pemanasan enak nih."

Twitch!

Rossweisse tertawa geli, merasa terhibur memandangi raut muka yang ditampilkan si remaja mata biru. Dia menepuk pelan pundaknya.

"Sabar."

Naruto menghembuskan napas. "Aku senang ada yang pengertian."

"Hey kau!"

Naruto dan Rossweisse mengalihkan pandangan pada sumber suara, mereka menatap Kiba yang datang mendekat, pandangannya terkunci pada Naruto seorang.

"Ah, kau sadar rupanya. Merasa baik–"

Plak!

Apapun yang ingin dikatakan Naruto tak jadi ketika pipinya mendapat tamparan dari Kiba, dia terdiam, menatap sang gadis pirang dengan muka tanpa ekspresi.

"Aku anggap Apollo sudah memberitahumu tentang identitasku?"

"Kenapa..."

Sontak Kiba mencengkeram kerah baju Naruto kemudian mendorongnya ke dinding. Dia menggertakkan giginya seraya berseru.

"KENAPA KAU DATANG TERLAMBAT!? KENAPA?! JIKA SAJA KAU TAK TERLAMBAT! PASTI TEMAN-TEMANKU MASIH HIDUP SEKARANG! PAHLAWAN MACAM APA KAU INI HAH! DASAR TAK BERGU–"

Kiba tak mampu menyelesaikan perkataannya saat raganya ditindih sebuah perisai astral berwarna merah, pelaku pembuatan benda mistis itu ialah Rossweisse, yang marah dengan tingkah laku Kiba.

Dia mendesis. "Kau yang tak tahu apa-apa tentang Naruto, dan beban yang ditanggung olehnya, tidak mempunyai hak bicara hal semacam itu kepadanya."

"..."

Dengan mulut bungkam, Naruto menyentuh pintu, perlahan menggeser itu lalu menutupnya tanpa menoleh.

Hampir paham dengan apa yang dirasakan sahabatnya, Rossweisse menghentikan sihirnya sebelum menggeram kepada Kiba.

"Jika terjadi sesuatu dengan temanku, kau akan kubuat menyesal karena telah dilahirkan di era ini."

Dia pun bergegas menyusul Naruto, tanpa memikirkan tahu atau tidaknya dia lokasi temannya itu.

Line Break

Naruto berjalan tanpa tujuan di trotoar, sepenuhnya mengabaikan bunyi berisik kendaraan dan nada dering telepon yang menyelimuti area sekitar jalan. Tanpa peduli menabrak beberapa pejalan kaki dalam perjalanannya.

"PAHLAWAN MACAM APA KAU INI HAH?!"

Dia terkekeh gelap. "Baru kali ini aku mendapat kritikan sepedas itu," dia tersenyum kecut, "di depan muka lagi."

Jujur, Naruto merasa sangat bersalah dengan tragedi yang menimpa teman-teman Kiba. Itu menjelaskan mengapa Kiba sangat membencinya, kebenciannya begitu besar hingga ke tahap dia berani menamparnya. Memang Naruto tak merasakan sakit fisik dari serangannya, meskipun begitu, batinnya lah yang tersiksa.

'Padahal sudah belajar Bela Diri, latihan di bawah pengawasan Monkey King, tetapi tetap saja aku masih gagal.' Pikir Naruto lesu.

Setelah empat menit berjalan secara tak sadar, si remaja pirang mengernyitkan dahi, mengedarkan pandangan dan menemukan dirinya berada di taman kota. Dia berkedip, memandang semua anak kecil berlalu lalang kesana kemari.

"Saking tidak sadarnya diriku, tahu-tahu aku sampai ke tempat ini," gumamnya.

Menghela nafas, Naruto memutuskan menempati kursi kayu terdekat sembari membeli satu kaleng pepsi dari mesin otomatis. Duduk dan mengamati langit siang dengan muka kusut.

"Boleh aku duduk di sini?"

Naruto mengangguk, mengijinkan seorang pria berpakaian hitam, memakai sepatu bot dan jubah merah dan selempang kuning untuk duduk di sampingnya. Pria ini memiliki rambut gelap serta jenggot tipis. Untuk alasan bagus aura wibawa terasa di sekitarnya.

"Jika instingku tidak salah, kau kelihatan sedang punya masalah, anak muda," kata sang pria memulai pembicaraan.

"Begitulah," jawab Naruto.

"Apa kau ada niat menceritakan itu?"

"Tergantung kalau ada yang mau mendengarkan."

"Kebetulan waktu luangku banyak."

Naruto tidak paham apa yang terjadi padanya, yang jelas, tanpa pikir panjang dirinya menceritakan segala keluh kesahnya pada sang pria. Anehnya, firasatnya mengatakan pria tersebut dapat dipercaya tentang masalahnya.

"Menurut opiniku, sepertinya baru kali ini kau mengalami kegagalan, dan karena hal tersebut, mentalmu jadi jatuh sehingga menyebabkan dirimu seperti ini," tutur sang pria, "apa aku salah?"

Naruto menghela nafas. "Tidak. Semua opini Paman benar. Jujur saja, apa pendapat Paman mengenai masalahku?"

Sang pria tersenyum simpul. "Semua manusia di dunia takkan pernah lepas dari yang namanya kegagalan, itu bukanlah hal jelek, malah bagus. Itu menandakan kalau kau itu manusia dibandingkan makhluk. Tidak peduli seberapa kuat, cepat, hebat, dan lincah dirimu. Ada kalanya kau akan tersandung ketika hampir mencapai tujuanmu, saranku, tetaplah mencoba, mencoba, mencoba, dan mencoba."

Dia menambahkan. "Ngomong-ngomong, aku punya dua pertanyaan untukmu. Mungkin saja ini dapat memberikanmu jawaban yang kau butuhkan. Apa kau sanggup?"

"Barangkali... Tak ada salahnya."

"Bagus. Satu, sebutkan satu sisi jelek yang dimiliki manusia."

Naruto mengelus dagunya, "Umm... Ambisius?"

"Benar. Sekarang, sebutkan satu sisi baik yang dimiliki manusia."

Naruto mengerutkan kening, otaknya berputar memikirkan jawaban untuk pertanyaan nomor dua tersebut.

"Etoo... Pantang menyerah?"

Si pria berseri. "Sekali lagi benar. Kau tahu, ketika manusia mempunyai sesuatu untuk diperjuangkan. Maka dia akan mengerahkan segala kelebihannya untuk menyelamatkan, menjaga, dan melindungi 'sesuatu'. Bahkan, bila di akhir yang menunggunya hanyalah penderitaan. Asalkan 'sesuatu' bahagia, baik-baik saja, senang dan aman. Dengan senang hati ia akan acuh tak acuh terhadap bahaya, dan menghadapi semua konsekuensi dari tindakannya itu."

Naruto mengedipkan mata selama beberapa saat, terpukau dengan kata-kata sang pria.

'Pantang menyerah... Acuh tak acuh terhadap bahaya... Mempunyai sesuatu untuk diperjuangan... Orang ini... Wow.'

"Dengan pengetahuan semacam itu... Apa Paman seorang Dokter? Bagian kejiwaan mungkin?"

Si pria beranjak dari tempatnya, Naruto pun mengikutinya.

"Sebelumnya, perkenalkan namaku Stephen, Stephen Vincent Strange," kata Stephen, "dan soal pertanyaanmu, bisa dibilang iya."

"Itu menjelaskan beberapa hal," gumam Naruto.

Stephen mengamati jam tangannya, beralih pada Naruto dan berkata.

"Waktu luangku habis. Sudah saatnya aku kembali ke tempat kerjaku."

Naruto memukul telapak tangannya yang terbuka, membungkukkan badan sebelum menariknya kembali.

"Terima kasih karena telah mau mendengarkan dan memberikanku saran, Paman Strange. Segala jasamu takkan pernah kulupakan."

Stephen menautkan alisnya, menatap si remaja pirang sejenak sebelum tertawa terbahak-bahak.

Naruto berkedip. "Umm... Aku cukup yakin kalau kata-kataku tidak memiliki makna humor di dalamnya."

Usai tawanya mereda, Stephen menggeleng dan berujar.

"Tidak. Aku tertawa bukan karena kata-katamu, tapi karena sikapmu."

"Oh, maksud Paman sikapku tidak sopan begitu?"

Stephen tertawa sekali lagi.

"S-Sudahlah, lupakan saja percakapan tadi. Oh ya, sebelum datang kemari aku tak sengaja berpapasan dengan seorang gadis rambut perak. Terakhir kulihat jaraknya dua puluh kaki ke utara. Dia bilang ia sedang mencari–"

Belum sempat perkataannya ia selesaikan, Naruto tiba-tiba berlari menuju arah utara. Meninggalkan Stephen yang tersenyum tipis melihat kepergiannya.

"Padahal perkataanku belum selesai... Dasar."

"Sudah paham?"

Stephen mengangguk, mengalihkan pandangan pada sesosok cahaya putih terang berwujud manusia yang berdiri di sebelahnya.

"Ya, Above. Kosmos mungkin yang paling muda dari keempatnya, tapi soal kepemimpinan, memang hanya dia yang cocok untuk mengisi posisi tersebut."

"Kepemimpinan merupakan kelebihan Kosmos yang tak dimiliki Noa, Sorcerer, maupun Ashura, Stephen Strange. Lalu, bagaimana dengan flash disk itu?"

Stephen menaruh lengannya di tengkuk leher. "Sudah kuberikan pada Sirzech Gremory di World-Two," dia menghela nafas, "ngomong-ngomong Above, kau yakin kalau jalur... Perang Multi-Dimensi merupakan keputusan bijak?"

"Kau berani mempertanyakan keputusanku, Sorcerer Supreme ke-9?"

"Bukan itu. Hanya saja, memaksa mereka bertemu dan bertarung bersama–"

"Sudah saatnya sisa TheOld Ones musnah demi Greater Good. Dan yang bisa menyelesaikan [Monster] hanyalah [Guardian]. Tentu saja, aku akan memberi keempatnya 'reward' kalau tugas mereka berhasil."

Line Break

"Tidak tahu jalan" adalah hal yang dirasakan Rossweisse saat ini. Niat awalnya untuk mencari keberadaan temannya berakhir menjadi "kehilangan arah pulang". Jujur, dia sedikit kesal karena tidak membawa peta atau atlas bersamanya saat ini.

Bukan berarti dia menyesal itu pun.

"Kota ini luas juga, bagaimana caranya agar aku dapat mencari Naruto di tempat seperti ini coba?"

Rossweisse bertanya pada dirinya sendiri, melangkah dalam tempo pelan sembari mengedarkan pandangan kira-kira tiga kali. Sesekali ia menggosok lehernya.

"Mana haus lagi."

Rossweisse menggelengkan kepala secara cepat, menampar pipinya selama beberapa detik dan bergumam.

"Dasar Rossweisse nakal, urusan makan dan minum bisa belakangan. Sekarang yang terpenting adalah menemukan Naruto dan memaksanya untuk menunjukkan arah pulang."

Melanjutkan perjalanan, si calon Valkyrie menautkan alisnya ketika mendengar suara di dalam gang di sampingnya. Penasaran, Rossweisse pun masuk ke sana.

Line Break

Hidup sebagai Half-Devil bukanlah pengalaman menyenangkan bagi seorang Sairaorg Bael. Terlahir dari rahim wanita manusia dan sperma Lord Bael tidak menjamin kehidupannya cerah seperti saudara tirinya, sebaliknya, ia malah dianggap aib dan berakhir diburu bersama Ibunya, Yuri, seorang wanita manusia bersurai hitam dan mata hijau, hingga ke dunia manusia. Ironisnya, yang mengincar nyawanya beserta nyawa Ibunya adalah pasukan High-Class Devil suruhan Lord Bael dan Bael Council.

Sialnya, Sairaorg dengan Yuri terjebak dalam gang ketika sedang berlari dari kejaran mereka. Berniat kabur secepat mungkin dari sana, tahu-tahunya ketika keluar malah bertemu para Devil.

"Mau sampai kapan kalian kabur, hah?" tanya salah satu Devil anggota kelompok suruhan Klan Bael, yang berjumlah sebanyak tiga orang.

"Seperti yang dikatakan Rudolf, bukannya lebih gampang menyerah daripada melawan?" Timpal Devil kedua. "Toh, pada akhirnya kalian juga akan mati."

"Ayolah Leo, jangan seperti itu," sahut Devil ketiga, memandang Sairaorg dan Yuri sembari tersenyum sinis, "begitu juga, mereka itu termasuk anggota keluarga Bael. Yah, meskipun yang satunya lebih pantas dianggap sebagai pelacur, sementara satunya lagi anak haram."

"Terserah apa katamu lah, Draco."

Sairaorg menggertakkan giginya, dia bodoh! Bukan, lebih tepatnya idiot! Seharusnya dia tidak menyeret Ibunya dan dirinya ke area sempit ini. Jika saja dia punya kekuatan serta keberanian, pasti semua hal ini takkan pernah terjadi!

Takut akan keselamatan anaknya, insting orang tua Yuri menjerit, dan ia tanpa pikir panjang menempatkan tubuhnya di tengah-tengah para Devil serta Sairaorg. Muka menghadap ketiganya.

"Jika ada orang yang pantas mati, orang itu adalah aku! Kumohon, kalian boleh mengambil nyawaku, tapi setidaknya biarkan putraku hidup! Dia tidak bersalah!"

Rudolf, Leo dengan Draco saling pandang satu sama lain, mereka menaikkan alis sebelum tertawa terbahak-bahak. Dua di antara ketiganya memegang perut sementara sisanya menginjak tanah saking gelinya.

Draco menghapus air mata tawa terakhirnya. "Tidak bersalah? Humormu bagus juga. Apa kau tahu kalau kehadirannya sendiri merupakan kesalahan? Demi-Devil? Apalagi berdarah manusia? Ras yang paling lemah bila tidak memiliki Sacred Gear?"

"Lebih baik kita segera selesaikan ini dan secepatnya kembali ke Underworld," sahut Rudolf.

Leo mengangguk. "Benar apa yang dikatakan Rudolf, lagipula malam ini aku ada jadwal kencan dengan beberapa Iblis betina."

Berniat menyerang Sairaorg dan Yuri secara bersamaan, tanpa diduga dari langit muncul seberkas cahaya putih yang langsung membutakan penglihatan para Devil. Anehnya, sinar asing itu tak mempengaruhi Sairaorg dan Yuri, seolah-olah itu dikendalikan dan hanya berpengaruh pada ketiga makhluk non-human tersebut.

"Syukurlah aku datang tepat waktu. Kalian baik-baik saja?"

Sepasang keluarga itu menengok ke asal suara, keduanya melihat seorang gadis berumur satu tahun dibawah Sairaorg berlari mendekati mereka. Tanpa peringatan dia menarik satu tangan Sairaorg serta Yuri kemudian membawa mereka keluar dari gang.

Ketiganya berlari secepat mereka bisa di trotoar, dan sesekali Rossweisse menengok ke belakang. Dua sampai tiga menit terlewat, berpikir telah aman, secara insting mereka bertiga berhenti di dalam pabrik tak terpakai sambil menarik nafas sebanyak mungkin.

Melirik ke arah Rossweisse, Yuri berseri dan berujar.

"Terima kasih atas bantuannya, Nak."

Rossweisse mengangguk. "Y-Ya sama-sama."

Sairaorg menengok kesana kemari, sedikit bingung dengan keadaan bangunan yang mereka gunakan sebagai tempat persembunyian sementara.

"Aneh, bangunan seluas ini tapi kondisinya kotor semua."

"Pabrik ini telah lama ditinggalkan, tak aneh, mengingat bangunan ini menghasilkan limbah yang mencemari lingkungan."

"Kau tahu banyak yah."

"Tidak juga, aku tahu karena aku sempat membaca papan pengumuman di sebelah gerbang ketika kesini."

Sairaorg berkedip. "Sambil lari?"

"Yep. Sebagai seorang Valkyrie, membaca cepat merupakan salah satu keahlian kami."

"..."

"..."

Tak sadar dengan efek perkataannya, Rossweisse beralih pada Sairaorg. "Ngomong-ngomong, energi sihirmu hampir mirip dengan mereka. Tapi kenapa kalian seakan ingin dibunuh barusan?"

"Soal itu–"

"Bersembunyi disini rupanya!"

Rossweisse, Sairaorg dan Yuri melebarkan mata ketika memandang Rudolf, Draco dengan Leo, memunculkan diri di hadapan ketiganya melalui lingkaran sihir masing-masing.

"B-Bagaimana bisa?"

Leo terkekeh. "Mau kemanapun, kalian takkan bisa lolos dari kami."

"Tentu saja bisa wanita manusia," Draco menambahkan, "lihat gelang pemberian Lord Bael di pergelangan tanganmu? Sebenarnya di benda itu terdapat Demonic Power yang menyatu dengan beberapa pola, tidak banyak, tapi cukup untuk memberitahu kami lokasimu dan anakmu."

Yuri membulatkan bola matanya, mengamati gelang berwarna emas dengan pola menawan seraya meneteskan air mata.

"Sampai sejauh itu kau ingin menghabisiku dan buah hatimu sendiri, Anata?"

Tanpa diketahui siapapun, Sairaorg mengepalkan tangan serta menggertakkan giginya. Amarah murni terlihat jelas di kedua matanya.

Mengabaikan misi sejenak karena dibutakan dendam, Rudolf menatap tajam Rossweisse, melepaskan geraman.

"Berpikir bahwa kami dibuat lengah sebab trik seorang anak kecil... Kau akan kubuat menyesal karena telah menghalangi pekerjaan kami, bocah!"

Rossweisse tidak menjawab, melainkan mewujudkan beberapa lingkaran sihir berlawanan elemen di sekitarnya. Dia menyipitkan mata pada para Iblis.

"Kalian yang seenaknya menginjakkan kaki di wilayah yang bukan milik kalian. Dari semua Fraksi yang ada, kalian lah yang paling parah!"

Marah, tanpa aba-aba Rudolf, Leo, Draco, menembakkan Demonic Power dalam jumlah besar ke arah sang calon Valkyrie Tidak tinggal diam, Rossweisse pun melancarkan balasan berupa sambaran petir, bola api raksasa, hembusan angin kencang menuju serangan para Iblis.

Line Break

BOOM!

"Huh?"

Naruto menengok ke sumber bising dengan kening mengerut. Dia berkedip saat melihat asap serta lubang besar tercipta di bagian atap pabrik, yang ia tak salah ingat telah ditinggalkan pemiliknya.

"Waktunya Azrael beraksi."

Line Break

Asap hitam mengepul di tempat bekas benturan kedua serangan berbeda ras, tidak ketinggalan debu-debu pun beterbangan di sekitar situ. Setelah asap lenyap, Rossweisse serta para Iblis saling pandang satu sama lain. Dan untuk beberapa alasan, ketiga Devil menatap Rossweisse dengan tatapan mengandung sedikit kehormatan.

"Wow," gumam Sairaorg, takjub melihat bakat sihir yang ditampilkan sang gadis berambut perak.

"Dari segi pengalaman dan jumlah Demonic Power, seharusnya kami bertiga jauh lebih unggul darimu." Rudolf mengatakan.

Draco melanjutkan. "Meskipun begitu, kau memiliki sesuatu yang tak bisa kami miliki karena sifat alami Iblis."

"Dan itu adalah... Kontrol atas penggunaan energi sihir," timpal Leo, "harus kuakui kau mempunyai bakat dalam sihir, dan itu kau tunjukkan dengan memaksimalkan energi sihirmu agar tidak terbuang sia-sia."

Rossweisse tak menjawab, memilih fokus pada gerakan musuh di hadapannya saat ini. Berjaga-jaga dengan memunculkan dua lingkaran sihir hijau dan kuning di kedua sisinya.

Mengetahui alasan tindakan Rossweisse, Rudolf menghela nafas.

"Sangat mengecewakan kami harus melenyapkan orang berbakat sepertimu."

"Dan akan lebih mengecewakan lagi kalau kalian menghindari seranganku."

Para Iblis terkejut, mengangkat muka ke atas dan melihat Azrael terjun dengan kaki kanan diluruskan. Panik, tanpa pikir panjang mereka bertiga melompat ke arah berlawanan, dan segera kabur dari area yang ditargetkan olehnya. Saat mengalami kontak, seketika goncangan melanda seluruh permukaan pabrik, menyebabkan kawah lumayan lebar tercipta di bagian tengah. Menampilkan Azrael yang menyipitkan mata pada Iblis suruhan para Bael.

"Tiga kelelawar, hm?"

Rossweisse berseri ketika melihat kedatangan Azrael, dia pun berpindah tempat ke sampingnya.

"Aku senang kau datang, Naruto."

Azrael menghela nafas. "Rossweisse, dalam penampilan ini tolong panggil aku Azrael."

"Oh, oke. Ngomong-ngomong, kau kucari-cari tadi tidak ketemu-temu. Kau ada dimana sebenarnya?"

"Nanti aku ceritakan dalam perjalanan pulang, oke? Untuk sekarang aku lebih suka fokus mengalahkan para kelelawar ini."

Leo menggeram saat mengamati Azrael.

"Azrael... "

"Jadi dia yang disebut sebagai 'Ally of Justice' eh?" Draco mencibir. "Tidak terlihat kuat menurutku. Bahkan aku saja tak merasakan energi sihir di sekitarnya."

Rudolf menyeringai. "Begitu, itu berarti ancamannya adalah anak perempuan tersebut."

"Dengar, kita serang Azrael dulu lalu–"

[Kyokushin Karate Maelstrom Original: New Improvement Dance of Seven Beast]

Dalam kedipan mata Azrael berpindah tempat ke tengah mereka bertiga, tangan terkepal kemudian diarahkan pada dagu para Iblis secara bersamaan. Di mata mereka, tempo gerakannya terlalu cepat menyebabkan ketiganya terhempas ke udara.

[1st Stance: Shark Upbeat](1)

[1. Tinju pembuka yang digunakan untuk mengintrupsi lawan sebelum lawan dapat melancarkan serangan. Hanya bisa digunakan saat jarak musuh dekat dengan pengguna, efek maksimalnya terlihat ketika menghantam anggota tubuh lawan, yang menghasilkan kelumpuhan sementara bila kekuatan fisik korban di bawah pengguna.]

Rudolf, Leo, dan Draco, untuk pertama kalinya merasakan sakit dan takut saat menyadari raga mereka melayang di udara kosong. Lebih parahnya lagi, mereka tidak dapat menggerakkan satu pun anggota badan mereka.

Menyadari para Iblis mulai jatuh berkat gaya gravitasi, Azrael menyilangkan kedua lengannya di depan muka lalu menarik kaki kanannya setinggi perutnya, tanpa peringatan ia menghantam permukaan lantai menggunakan kakinya.

[2nd Stance: Eagle Rage](2)

[2. Tendangan yang bertujuan untuk mengganggu keseimbangan lawan. Biasanya ditandai dengan terciptanya angin di sekeliling pengguna.]

Seketika angin tornado muncul mengitari Azrael, bukannya terganggu, dia hanya back-flip dan keluar dari area angin. Ia melihat musuhnya terperangkap dan menunggu waktu yang pas untuk melanjutkan. Mengamati angin mulai menghilang, tanpa pikir panjang Azrael melesat ke arah para Iblis.

[3rd Stance: Boar Insane](3)

[3. Merupakan serangan yang terdiri atas kombinasi gerakan tangan dan serangan kaki. Diciptakan untuk membuat peluang serta menembus pertahanan musuh.]

Crack! Pow! Slam! Duak! Whush! Brak!

Pukul. Tendang. Tinju. Tendang. Pukul. Tinju. Dia terus mengulangi rangkaian serangan tersebut sembari mengarah bagian ulu hati serta wajah para Iblis. Tanpa menahan diri, ia melakukannya dengan kepala dingin.

Berpikir sudah saatnya menyelesaikan pertempuran, Azrael menangkup kedua lengannya seraya menarik mereka ke belakang. Sebelum Draco, Leo, dan Rudolf, mendarat di lantai, dia langsung mengarahkan sepasang tangannya ke depan.

[4th Stance: Might Lion Roar](4)

[4. Adalah tujuan akhir dari tiga Stance pertama dalam New Improvement Dance of Beast yang dibuat bukan hanya untuk menyerang, melainkan juga untuk mengatur aliran udara tak normal di sekeliling pengguna. Ini sedikit mengerikan karena dasarnya hampir mirip seperti Mach Fist, yang berarti tak dapat diblokir dan hanya bisa dihindari bila ingin selamat.]

Itu merupakan pemandangan yang menakjubkan bagi Rossweisse, Sairaorg dan Yuri. Kumpulan angin yang telah terkumpul di sekitar pergelangan tangan Azrael semenjak ia menggunakan [1st Stance], menimbulkan hembusan luar biasa kencang yang membentuk gambaran rahang singa, kemudian serangan tersebut melesat menuju para Iblis.

KABOOM!

Line Break

Semasa hidupnya, Sun Wukong telah menemukan hal-hal ganjil yang disembunyikan dunia supernatural dari para mortal. Sebagai salah satu anggota "Journey To the West", kejadian mengerikan maupun menegangkan sudah bukan hal biasa baginya.

Namun, untuk pertama kalinya ia merasa kalau pengalaman sebelumnya tidak ada apa-apanya dibandingkan pertemuannya dengan Seha Lee, yang membuka matanya akan kemungkinan lain. Yang sebenarnya mungkin tapi tak ada yang tahu kebenarannya.

"Jadi, kau ini berasal dari dimensi lain?"

Seha tersenyum canggung. "Ya… Begitulah."

Sun Wukong mengelus jenggot berbulunya. "Bisa kau tunjukkan buktinya?"

Seha tidak menjawab, ia hanya berdiri kemudian memejamkan mata. Perlahan namun pasti, pendar biru langit langsung mengitari bagian kepala hingga ujung kuku kakinya. Seiring waktu helai rambutnya pun terayun kesana kemari.

Apollo, yang juga bersama mereka di ruang tamu, bersiul saat merasakan energi dari Seha.

"Dia tidak berbohong Sun Wukong. Energi yang dikeluarkannya sangat berbeda dari yang selama ini aku tahu. Bahkan unsurnya pun unik; yaitu luar angkasa."

Sun Wukong menatap Seha sejenak, berkata.

"Baik, Seha. Sudah cukup."

Dalam kedipan mata pendar yang mengelilingi Seha lenyap seketika, seakan itu tak pernah ada di tempat pertama. Dia membuka mulut.

"Ngomong-ngomong, apa di rumah ini ada seseorang yang bernama Naruto?"

Apollo menautkan alisnya. "Kalau aku bilang ada, kau mau apa?"

Ia tak pernah menduga kalau Seha dapat tersenyum selebar itu.

Line Break

Di balkon rumah, terlihat Kiba tengah menyendiri sambil mengamati tangan kirinya, yang dimana telah dia gunakan untuk menampar penyelamat nyawanya. Perasaan bersalah mendiami hatinya.

Jujur, Kiba kesal pada dirinya saat ini. Bukan, dia memang harus kesal pada dirinya sendiri. Dia tidak seharusnya melampiaskan kemarahannya ke orang lain, terlebih dia berhutang nyawa pada orang yang dimaksud. Lebih buruknya lagi, tanpa tahu malu Kiba seenaknya berada di kediaman Naruto. Menambah perasaan lain yang disebut cemas dalam hatinya.

"Ingin biskuit?"

Menengok ke samping, Kiba melihat Seha datang dengan piring berisi tumpukan biskuit di tangannya.

"Terima kasih."

"Tidak perlu dipikirkan. Boleh aku duduk di sebelahmu?"

"Tentu."

Keheningan melanda situasi Seha dan Kiba. Mengunyah sambil diam merupakan tindakan mereka selama beberapa menit. Sampai akhirnya Seha tidak tahan dan angkat bicara.

"Dia bukan penyimpan dendam."

"Aku tidak mengerti apa maksudmu."

"Dan Naruto paham apa masalahmu."

Kiba terkekeh sinis. "Kau yang bahkan belum pernah berinteraksi dengannya, tahu apa tentang sifatnya?"

"Aku memang belum bertemu Naruto," Seha mengakui, "tapi, bukan berarti aku tidak mengetahui tingkah lakunya. Dia orang baik, percayalah padaku."

"Darimana kau tahu?"

"Aku punya sumber. Tapi itu rahasia."

"Intinya, kau berbohong."

Seha menghela nafas, "Dengar, mau kau percaya atau tidak. Itu urusanmu. Yang jelas, cobalah meminta maaf padanya, lalu jelaskan alasan dibalik sikapmu itu."

Kiba terdiam, perlahan senyum tipis terbentuk di bibirnya.

"Barangkali… Tak ada salahnya mengikuti saranmu."

""Tadaima!""

Mereka berdua terperanjat, tanpa pikir panjang langsung berlari menuju lokasi suara tersebut.

Line Break

"Nah, Yuri-san. Sairaorg. Selamat datang di rumah Naruto!"

Rossweisse mengatakan itu dengan senyum riang di mukanya. Dia berdiri di samping pintu untuk membuka jalan bagi Yuri dan Sairaorg untuk masuk. Tak jauh di belakang mereka, Naruto terkekeh geli mengamati tingkah Rossweisse.

"Kau tidak perlu sampai seperti itu juga, Rossweisse."

Rossweisse menjulurkan lidahnya pada Naruto.

"Dasar serakah."

Naruto memutar bola matanya. "Aku benci diremehkan. Jadi jangan salahkan aku kalau ketiganya kulenyapkan detik itu juga."

"Tapi tetap saja kalau kau merebut bagianku."

Naruto memijit pelipisnya, kemudian menghembuskan napas dan berkata.

"Apa ada sesuatu yang bisa aku lakukan sebagai permintaan minta maaf? Jika sesuai kemampuanku, terus terang saja padaku."

Rossweisse berkedip, senyum lebar tercetak di mukanya. Mengacungkan jarinya ke atas sebelum berseru.

"Jalan-jalan!"

"Oh… oke."

"Yaay!"

"Sebelum aku berganti baju…"

Ada jeda dalam perkataan Naruto, ia mengedarkan pandangan dan mengembangkan senyum saat melihat kehadiran Kiba serta Seha.

"…mungkin aku harus selesaikan urusan ini terlebih dahulu."

Kiba dan Seha saling pandang satu sama lain, mengangguk bersamaan, Kiba berjalan ke depan hingga matanya berhadapan dengan mata remaja pirang. Merasa sedikit bimbang, ia berkata dengan muka ditundukkan.

"Aku… Ingin minta maaf. Atas perbuatan kasarku padamu. Jika memungkinkan, tolong maafkan kesalahanku."

Keheningan menyelimuti mereka berempat, tak ada yang bicara lagi setelah kata-kata Kiba. Bahkan Naruto sendiri hanya diam seraya mengetuk kakinya beberapa kali ke permukaan lantai.

"Aku maafkan."

Kiba tersentak. "Eh? B-Benarkah?"

Naruto mengacungkan dua jarinya. "Tapi dengan dua syarat."

Rossweisse dan Seha melebarkan matanya, sedangkan Kiba sendiri menelan ludah.

"Apa syaratnya?"

"Pertama, karena di Kyoto tak ada seseorang yang memiliki hubungan darah dengan 'Yumi Kiba', maka akan lebih baik salah satu kamar tamu diisi oleh nama yang baru saja kusebut. Kedua, setiap pagi, siang, dan malam, kau akan membantuku di dapur untuk menyiapkan makanan. Tanpa bayaran. Tapi boleh ikut mencicipinya. Apa kau sanggup?"

Tes.

Tes.

Tes.

Satu. Dua. Tiga. Empat. Lalu seterusnya tetes air mata mendarat dari kelopak mata Kiba. Tubuhnya gemetar akan emosi yang memenuhi hatinya. Perlahan senyum tulus tercetak di muka cantiknya.

"Hai!"

Mengangguk puas, Naruto beralih pada Seha.

"Aku yakin kita belum berkenalan sebelumnya."

Seha berseri. "Seha, namaku Seha. Seha Lee. Senang bisa bertemu denganmu Naruto."

Naruto menaikkan alisnya. "Kau tahu namaku dari siapa? Apollo? Wukong-sensei?"

"Sebenarnya ada hal yang ingin kukatakan padamu, sebagai contoh…"

Seha melangkah hingga mulutnya beberapa meter dari telinga Naruto.

"…keberadaan doppelganger dirimu dan another universe."

Thump!

Naruto menyipitkan mata. "Aku tidak suka pembual sepertimu."

Berjalan menjauh darinya, Seha mengeluarkan kristal berwarna biru yang Naruto pernah lihat sebelumnya. Dia melempar itu pada si lelaki manik ombak. Saat ditangkap, sontak kristal tersebut memancarkan cahaya terang sebelum redup, dan sepenuhnya menghilang dari genggaman Naruto.

Seha membulatkan bola matanya. "B-Begitu, jadi kau sudah punya 'batu'mu sendiri."

Dia mengelus dagunya. 'Itu berarti [Space Stone] memang milik 'Naruto'. Tapi bukan 'Naruto' yang ini.'

Naruto melirik ke arah Rossweisse.

"Kau tunggu lah di luar. Aku akan menyusul nanti."

Rossweisse mengangguk dengan semangat.

Kembali pada Seha, Naruto berkata.

"Kita selesaikan urusan kita lain waktu."

Line Break

"Aku tidak pernah ingat kalau aku ingin mengajakmu."

"Dan aku sangat ingat kalau kau butuh tumpangan ke mall."

Menjelang petang hari, terlihat di jalanan kota Kyoto sebuah mobil merek Chevrolet Camaro melaju di antara antrean kendaraan roda sama. Mobil tersebut dikemudikan oleh Apollo, yang terkekeh geli mengetahui Naruto mungkin marah padanya. Di kursi penumpang, Rossweisse dengan sengaja membuka jendela untuk mengamati betapa indahnya pemandangan lingkungan. Rambut peraknya terayun kesana kemari mengikuti arah mata angin. Sinar kebahagiaan terpancar dari matanya.

"Ngomong-ngomong, Naruto."

"Apa?"

"Apa bijak memberikan [Twisted Pill] pada Pendragon?"

Naruto menghela nafas. "Rahasiaku terungkap. Mereka tidak menetap. Menurutmu apa yang harus aku perbuat?"

"Ikat dan siksa yang lelaki. Simpan dan perkosa yang perempuan." Apollo mengatakan itu dengan senyum lebar. "Itu satu dari sekian cara paling efektif, efisien, serta menguntungkan bagi kedua pihak."

"…Benar-benar Yunani sekali saranmu," kata Naruto getir, menggelengkan kepala, "aku tidak serendah itu. Akan lebih baik ingatan mereka tentangku hilang sementara."

Apollo mendengus. "Kau dan sifat menahan dirimu," dia berkedip, "oh ya. Ini hanya pendapatku saja, jika nanti banyak orang tinggal di kediamanmu, apa jumlah kamarnya cukup?"

Naruto berkedip. "Itu mengingatkanku. Soal uang bukanlah masalah, tapi mungkin bagian renovasi dan kerangka ulang rumahnya yang sulit."

Apollo memutar setir ke kanan, mobilnya bergerak menurun hingga menuju parkiran gedung. Dia menyeringai seraya keluar dari mobil, Naruto dan Rossweisse tak jauh berbeda darinya. Mereka melihat pintu lift terbuka dan bergegas masuk.

"Kalau kau tidak keberatan, aku bisa meminta bantuan seseorang yang lihai soal bangunan untuk membantumu."

"Itu memberiku keringanan, terima kasih."

"Meh, santai saja."

Rossweisse mengerutkan kening, merasa aneh dengan sekitarnya.

"Naruto."

"Ya?"

"Ngapain kita disini?"

"Aku ingin mengambil sesuatu yang sudah kubayar. Hanya itu saja."

"Bukan itu yang kumaksud. Maksudku, kenapa ini tidak naik-naik juga?"

"…"

"…"

"HAHAHAHAHAHAHA!"

Rossweisse mendelik ke arah Apollo, yang tertawa terbahak-bahak.

"Apa yang lucu!"

Apollo terdiam, menatap Rossweisse sejenak lalu sekali lagi tertawa terbahak-bahak.

"HAHAHAHAHAHAHA!"

Rossweisse mengerucutkan bibirnya, beralih pada Naruto.

"Fasilitas yang kita masuki ini bernama lift. Ini digunakan untuk memindahkan beberapa orang dalam waktu singkat ke lantai mana pun. Lift biasanya bergerak ke atas maupun sebaliknya. Kita sebagai pengunjung terkadang takkan terasa kalau ini telah bergerak."

"Oh…. "

Apollo menyeka air matanya. "Dengar kata pangeran kuda putihmu itu."

Rossweisse menggeram sebagai responnya, disamping rona merah tipis memunculkan diri di pipinya.

Naruto mengelus keningnya, mulai merasakan nyeri menyerang kepalanya.

Line Break

Jika ada satu kata yang hinggap di benak Rossweisse saat ini, maka itu adalah menakjubkan, keren, dan luar biasa. Semua orang, baik lansia maupun muda, single atau non-single, tampak berjalan kesana kemari dalam pandangannya. Lampu warna-warni dari sebagian toko, orang berkostum makhluk mengerikan yang lewat, serta pameran pakaian trendi tahun sekarang, semua hal yang ada di sekitarnya membuatnya ingin melompat sebisanya akibat rasa gembira berlebihan yang merasuki hatinya.

Sang calon Valkyrie menulis catatan mental untuk berkunjung kemari kalau ada waktu luang.

"...eisse. Rossweisse."

"Eh? Ya?"

Naruto menaikkan alisnya. "Ayo. Kalau kau berdiam diri saja, kau bisa tersesat di antara kerumunan orang banyak."

"Oh. Oke."

Mereka bertiga langsung melangkah di tengah-tengah orang banyak, karena masih baru, secara tak sadar Rossweisse menggenggam erat lengan Naruto. Si pemilik tangan acuh tak acuh dengan tindakan sang gadis berambut perak, lebih memilih mengamati sekitar sebelum tatapannya tertuju pada kios komik. Tanpa pikir panjang ketiganya masuk ke sana, tak sadar kalau ada dua orang berjubah mengekori mereka.

Line Break

"Ini pesananmu, Naruto. Berkualitas dengan cetakan yang sama seperti aslinya."

"Terima kasih Herzlect-san."

Herzlect merupakan pria berusia kepala tiga dengan kaca mata terletak di belahan indra penglihatannya. Nama yang aneh menurut Naruto. Meskipun begitu, itu tidak mengubah fakta kalau pelayanan di tokonya lebih baik dari tempat yang pernah Naruto kunjungi sebelumnya.

Kedua di bawah Akihabara itu pun.

"Kesenanganku, Nak."

Naruto berseri, membuka bungkus plastik lalu mengeluarkan isinya. Di tangannya, ia memegang sebuah buku berukuran sedang berwarna hitam dengan simbol Yin & Yang dilingkari naga putih. Judul yang tertera di buku ialah Acupuncture For Beginner: Insert Forbidden Page - Nabong Needle Ryu Skill.

Herzlect terkekeh di balik kasir. "Itu langka kau tahu, aku saja harus berkeliling Korea dan Cina untuk mendapatkannya."

Naruto membolak-balik bukunya. "Pantas harganya mahal, ada tanda Forbidden rupanya. Tidak mengejutkan bila dilihat materinya."

"Jadi, siapa dua orang yang bersamamu tadi?"

"Hm? Oh. Mereka berdua temanku."

"Ah, begitu rupa–hm? Ngomong-ngomong Naruto, apa kau kenal dua orang berpenampilan aneh di belakangmu?"

"Benarkah?"

Naruto melirik ke arah antonim utara, memicingkan mata ketika melihat dua orang berjubah berdiri delapan puluh meter dari jarak tempatnya. Merasa ada yang tak beres, dia meletakkan buku pesanannya di atas meja sebelum menyerahkan kartu silver pada Herzlect.

"Jika lelaki dan perempuan yang bersamaku tadi berniat membayar, bilang pada mereka gunakan kartu ini."

Tanpa menunggu jawaban, Naruto beralih ke sudut lain dan segera berlari ke luar toko, tak lama kemudian dua orang berjubah langsung mengikutinya.

Line Break

'Sepertinya luck diriku benar-benar rendah bila hal semacam ini terus berlanjut.'

Menit demi menit telah Naruto lewati. Saat ini, dia sedang berada di trotoar yang dimana matahari sudah menyerahkan takhtanya untuk sementara pada bulan. Jujur, dia merasa lega karena tidak melihat orang normal di sekitarnya, menandakan kalau terjadi pertempuran dadakan dirinya tak perlu menahan diri. Berhenti, Naruto berbalik dan back-flip selama beberapa detik saat guntur biru menyambar jalan di hadapannya.

"Sepertinya Göndul tidak asal memilihmu sebagai 'teman' si lemah itu."

Si remaja pirang menyipitkan matanya, perasaannya mengatakan kalau dua orang berjubah di hadapannya berbicara soal Rossweisse. Ingatan tentang semalam berputar di kepalanya.

Naruto, dengan sisi pergelangan baju dilipat, tengah menunggu Göndul menyelesaikan mantra untuk disalurkan ke belati. Selesai, Göndul menghampiri Naruto kemudian menggores lengannya sedikit. Mengangkat belati lalu menjatuhkan tetesan darah ke sebuah mangkuk, sontak mangkuk tersebut memancarkan aura violet, sebelum redup dan meninggalkan dua buah permata berwarna merah.

"Naruto-kun, sebelum kau menelannya, bisa kau berjanji sesuatu padaku?"

"Berjanji apa Göndul-san?"

"Berjanjilah kalau kau akan membuat Rossweisse bahagia."

"Kau bicara seakan kau akan mati saja."

Göndul hanya tersenyum tipis sebagai responnya.

Si lelaki manik ombak berkedip, menghela nafas dan membalas.

"Barangkali akan ada saat-saat dimana aku bisa melukainya, tapi, aku akan mencoba sebisa mungkin untuk mencegah hal semacam itu terjadi, dan menjalankan amanatmu ini dengan baik."

Naruto mendengus. "Yah, setidaknya yang lemah lebih baik daripada yang pecundang. Contoh nyatanya kalian."

Orang jubah kesatu menggertakkan giginya, melempar jubah ke sembarang arah sehingga menampilkan seorang remaja berusia sama seperti Naruto, dengan rambut hitam dan sepasang mata biru elektrik.

"Kau, yang hanya seorang mortal tanpa sopan santun, berani menghina Magni sang putra Dewa Guntur Norse!?"

Naruto memutar bola matanya. "Itu merupakan pertanyaan paling bodoh yang pernah aku dengar. Dan datang dari demigod menjelaskan beberapa hal tentang kecerdasanmu."

Merasa kesal, orang jubah kedua lalu menanggalkan jubahnya, menunjukkan seorang lelaki berumur sama seperti Magni dengan rambut emas dan iris biru elektrik. Dia menatap tajam Naruto.

"Mortal sepertimu tak berhak memiliki sifat seperti itu."

Naruto melipat kedua lengannya di depan dada, tidak takut membalas tatapan Samuel dan berujar.

"Terima kasih atas pujian tak bergunamu. Ngomong-ngomong, bukannya demigod juga termasuk setengah mortal?"

Dalam sekejap kilat biru mengelilingi Magni dan Samuel, memberi tanda kalau keduanya benar-benar marah saat ini. Belum sempat mereka berdua melampiaskan amarah dengan melancarkan serangan pada Naruto, suara seseorang menghentikan aksi mereka.

"Sepertinya sisi manusia membutuhkan sedikit bantuan."

Naruto, Magni, dan Samuel mengalihkan pandangan ke asal suara. Mereka melihat seorang remaja berambut perak, dengan dua iris mata biru serta sepasang sayap mekanik di punggungnya. Remaja ini turun di samping Naruto.

"Perkenalkan; Vali Sitri. Pawn dari Maou Leviathan. Siap membantu."

Seketika Magni dan Samuel kehilangan kulit warna mereka saat melihat kehadiran Vali, tanpa peringatan petir menghantam mereka sebelum lenyap tanpa meninggalkan bekas.

Naruto berkedip, tak tahu harus bereaksi seperti apa dengan kejadian yang baru saja terjadi. Mengamati sayap di punggung Vali, kesimpulan hinggap di otaknya.

"Mereka begitu karena aura… Hakuryuukou, apa aku benar?"

Kedutan tercetak di kening Vali, ia berkata.

"Aku kesal sebetulnya, serius."

"Tidak aneh. Ditakuti merupakan hal wajar untuk seseorang yang kuat."

Vali melirik ke arah Naruto, tersenyum tipis.

"Pengguna Sacred Gear?"

Naruto berkedip, menjawab dengan sedikit kebohongan.

"Begitulah."

Vali terkekeh. "Pantas mereka menyerangmu."

Dia terbang beberapa meter ke langit gelap, memandang Naruto dari ketinggian lalu berujar.

"Kau beruntung aku menemukanmu disaat aku patroli. Nah, selamat tinggal. Jika kita bertemu lagi, aku akan mengundangmu ke pernikahanku dengan Putri dari Fraksi Youkai."

Naruto terdiam, menatap Vali yang melesat ke lokasi lain dengan pandangan sulit diartikan.

"Dasar Iblis aneh."

Line Break

"Banyak juga komik yang kau beli, Rossweisse."

Naruto mengatakan itu saat mereka berada dalam mobil menuju perjalanan pulang.

Rossweisse hanya mengangguk, untuk beberapa alasan matanya memancarkan binar aneh.

Mengerutkan kening, Naruto memutuskan memutar muka ke jendela.

Apollo berdeham dari balik kursi pengemudi.

"Jangan lupa membaca sambil membayangkan gerakan dalam komik itu Rossweisse, agar nanti dapat 'senang'nya."

Jika saja Naruto tak mengubah arah mukanya, pasti dia terkejut melihat betapa merahnya wajah Rossweisse sekarang.

(Meanwhile)

Di kota Kuoh, tepatnya di sebuah ruangan dalam suatu rumah. Terlihat seorang remaja bersurai cokelat tengah fokus menonton berita di TV.

"Pemirsa, kehancuran pabrik tak berpenghuni di kota Kyoto menimbulkan kepanikan di hati warga. Beruntung, tak ada satu pun korban jiwa dalam tragedi aneh ini. Polisi setempat saat ini sedang-"

"Kau sedang nonton apa, Issei?"

Hyoudou Issei mengalihkan pandangan pada seorang laki-laki berambut putih. Laki-laki ini memakai sepasang benda di telinga, semacam anting emas dengan jaket merah menutupi anggota tubuhnya.

Issei tersenyum simpul.

"Hanya berita menarik, Karna."

.

.

.

.

.

T-B-C

.

.

.

.

.

A/N: Sekadar pemberitahuan. Chap depan akan mengandung sedikit... Dark, tapi ini wajib karena arc mendatang penting untuk plot.

Next Time on Kick The Limit

"Lalu, bagaimana caranya kalian berkembang biak tanpa pria?"

Caretaker tersenyum simpul pada Naruto.

"Percaya atau tidak, semenjak lahir Ratu suku Utama itu 'unik' dari lainnya. Itu dikarenakan beliau mempunyai organ tambahan yang kenyataannya menyerupai kemaluan pria."

Line Break

"K-Kau mengenal, Le Fay?"

"Ya. Begitulah. Memangnya kau punya hubungan apa dengannya?"

"Dia putriku!"

Next update:

Kami no Gakuen